Anda di halaman 1dari 18

CASE BASED DISCUSSION

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Bedah
Di RSUD RAA Soewondo Pati

Disusun oleh:
Amanda Syifa Salma Widanti
30101206578
Pembimbing :
dr. Khozin Hasan, Sp.BO

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2016

BAB I
1

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS

Nama

: Tn. M

Umur

: 63 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Gembong RT 1 No.15

Agama

: Islam

Tgl masuk RS

: 26 Agustus 2016

No.CM

: 127836

II.

ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada saat pasien datang ke poli orthopedi
RSUD.RAA.Soewondo Pati tanggal 26 Agustus 2016 pukul 11.00.
A. Keluhan Utama
: Nyeri punggung bagian bawah.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
:
Lokasi

: punggung bagian bawah

Kronologis

: Pasien mengatakan 7 tahun yang lalu pernah jatuh

Keluhan lain

: tidak ada

C. Riwayat Penyakit Dahulu


:
Riwayat keluhan serupa
: disangkal
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat Alergi Obat dan Makanan : disangkal
Riwayat DM
: disangkal
D. Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat keluhan serupa
Riwayat Hipertensi
Riwayat DM

: disangkal
: disangkal
: disangkal

E. Riwayat Pribadi, Sosial dan Ekonomi


Pasien bekerja sebagai buruh tani, sehari-hari bekerja lebih banyak mengangkat hasil
pertanian. Pola makan terkontrol. Pasien berobat menggunakan BPJS PBI.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
2

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

Status gizi

: Normoweight

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Radiologi

V.

ASSESMENT

Dx Klinis
1. Spondylolisthesis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan fisiologi vertebra


Kolumna vertebralis merupakan poros tulang rangka tubuh yang memungkinkan untuk
beregrak. Columna vertebralis terbentang dari cranium sampai ujung os coccygis. Kolumna
vertebralis melindungi medulla spinalis, menyangga berat tubuh, dan merupakan sumbu bagi
3

tubuh yang untuk sebagian kaku dan untuk sebagian lentur, serta berfungsi sebagai poros untuk
kepala berputar.2
Kolumna vertebralis terdiri dari 33 vertebra yang teratur dalam 5 daerah, tetapi hanya
24 dari jumlah tersebut ( 7 vertebra cervicalis, 12 vertebra thorakalis, dan 5 vertebra lumbalis)
yang dapat digerakan pada
orang

dewasa.

dewasa

ke

sacralis

Pada

orang

lima

vertebra

melebur

untuk

membentuk os sacrum dan


keempat

vertebra

coccygea

melebur untuk membentuk os


coccygis.

Korpus

vertebra

berangsur menjadi lebih besar


ke

ujung

vertebralis,

kaudal

kolumna

dan

kemudian

berturut-turut menjadi makin


kecil ke ujung os coccygis.
Perbedaan

structural

ini

berhubungan dengan keadaan


bahwa daerah lumbal dan sakral
menanggung beban yang lebih
besar daripada servikal dan
torakal. Lengkung torakal dan sakrokoksigeal mencekung ke arah ventral. Sedangkan servikal
dan lumbal mencekung ke arah dorsal. 2
Vertebra dari berbagai daerah berbeda dalam ukuran dan sifat khas lainnya, dan
vertebra dalam satu daerah pun satu dengan yang lain memperlihatkan perbedaan yang lebih
kecil. Vertebra yang khas terdiri dari corpus vertebra dan arcus vertebra. Corpus vertebrae
adalah bagian ventral yang memberi kekuatan pada kolumna vertebralis dan menanggung berat
tubuh. Corpus vertebrae terutama dari vertebra thorakalis IV ke kaudal berangsur bertambah
besar supaya dapat memikul beban yang makin berat. Arcus vertebrae adalah bagian dorsal
vertebra yang terdiri dari pediculus dan lamina arcus vertebra. Pediculus adalah taju pendek
yang kokoh dan menghubungkan lengkung pada corpus vertebrae; incisura vertebralis
merupakan torehan pada pediculus arcus vertebrae. Incisura vertebralis superior dan incisura
4

vertebralis inferior pada vertebra-vertebra yang bertetangga membentuk sebuah foramen


intervertebalis. Pediculus menjorok kearah dorsal untuk bertemu dengan dua lempeng tulang
yang lebar dan gepeng, yakni lamina arcus vertebra. Arcus vertebra dan permukaan dorsal
corpus vertebra membatasi foramen vertebrale. Foramen vertebrale berurutan pada kolumna
vertebralis yang utuh membentuk canalis vertebralis yang berisi medulla spinalis, meningens,
jaringan lemak, akar saraf dan pembuluh darah. 2

Tujuh

prossesus menonjol dari arcus

vertebra : 2

Prosessus spinosus menonjol dari tempat


persatuan

kedua

lamina

dan

pada prosessus spinosus vertebra

bertumpang di sebelah dorsal


di

bawahanya.
Dua prosessus transversus menonjol kea rah dorso lateral dari tempat persatuan

pediculus dan lamina arcus vertebra.


Prosessus articularis superior dan inferior, masing-masing terdapat di kanan dan kiri
juga berpangkal pada tempat persatuan pediculus dan lamina.
Sendi-sendi kolumna vertebralis terdiri dari sendi-sendi korpus vertebralis, sendi-sendi

arcus vertebralis, sendi kraniovertebralis, sendi kostovertebralis dan sendi sacro-iliaca. Sendi
korpus vertebralis

termasuk jenis sendi kondral (simfisis) yang dirancang untuk

menangguang beban dan kekuatan. Permukaan vertebra-vertebra berdekatan yang bersendi


memperoleh hubungan melalui sebuah discus dan ligamentum. Setiap discus intervertebralis
terdiri dari annulus fibrosus yang terbentuk dari lamel-lamel fibrokartilago yang teratur
konsentris mengelilingi nucleus pulposus yang berkonsistensi jeli. Antara vertebra servikalis I
5

(atlas) dan II (axis) tidak terdapat diskus intervertebralis. Ketebalan diskus intervertebralis di
berbagai daerah berbeda satu dari yang lain; diskus intervertebralis yan paling tebal terdapat di
daerah lumbal dan yang paling tipis di daerah torakal sebelah kranial. 2
Facet join
(articulation
zygapophysealis)

adalah

persendian kecil yang menghubungkan tulang


vertebra dengan yang lainnya. Sendi faset
merupakan sendi diartrosis yang membolehkan
tulang

belakang

bergerak.

Oleh

karena

kelenturan kapsul sendi, tulang belakang mampu


bergerak dalam batas wajar dengan arah yang
berbeda-beda. 2

2.2

Spondylolisthesis
2.2.1
Definisi
Kata spondylolisthesis berasal dari

bahsa Yunani yang terdiri atas kata spondylo yang berarti tulang belakang (vertebra) dan
listhesis yang berarti bergeser. Maka spondilolistesis adalah suatu pergeseran korpus
vertebrae (biasanya kedepan) terhadap korpus vertebra yang terletak dibawahnya. Umumnya
terjadi pada pertemuan lumbosacral (lumbosacral joints) dimana L5 bergeser (slip) diatas S1,
akan tetapi hal tersebut dapat terjadi pula pada tingkat vertebra yang lebih tinggi. 3
Umumnya diklasifikasikan ke dalam lima bentuk : kongenital atau displastik, isthmus,
degeneratif, traumatik dan patologis. Banyak kasus dapat diterapi secara konservatif. Meskipun
demikian, pada individu dengan radikulopati, klaudikasio neurogenik, abnormalitas postural
dan cara berjalan yang tidak berhasil dengan penanganan non-operatif, dan terdapatnya
6

pergeseran yanf progresif, pembedahan dianjurkan. Tujuan pembedahan adalah untuk


menstabilkan segmen spinal dan dekompresi elemen saraf jika dibutuhkan.
2.2.2

Epidemiologi
Spondilolistesis mengenai 5-6 % populasi pria, dan 2-3 % wanita. Karena gejala yang

diakibatkan olehnya bervariasi, kelainan tersebut sering ditandai dengan nyeri pada bagian
belakang (low back pain), nyeri pada paha dan tungkai. Sering penderita mengalami perasaan
tidak nyaman dalam bentuk spasme otot, kelemahan dan ketegangan otot betis. Meskipun
demikian, banyak penelitian menyebutkan bahwa terdapat predisposisi kongenital dalam
terjadinya spondilolistesis dengan prevalensi sekitar 69 % pada anggota keluarga yang terkena.
Lebih lanjut, kelainan ini juga berhubungan dengan meningkatnya insidensi spina bifida
sacralis.3
Kira-kira 82 % kasus isthmic spondilolistesis terjadi di L5-S1. 11,3 % terjadi di L4-L5.
Kelainan kongenital seperti spina bifida occulta berkaitan dengan munculnya isthmic
spondilolistesis. 3
Degenarative spondilolistesis terjadi lebih sering seiring bertambahnya usia. Vertebra
L4-L5 terkena 6-10 kali lebih sering dibanding lokasi lainnya. Sakralisasi L5 sering terlihat
pada degenerative spondilolistesis L4-L5. Tipe ini biasanya muncul 5 kali lebih sering pada
wanita dibanding pria, dan sering pada usia lebih dari 40 tahun.
Spondilolistesis kongenital (tipe displastik) terjadi 2 kali lebih sering pada wanita
dengan permulaan gejala muncul pada usia remaja. Tipe ini biasanya terjadi sekitar 14-21 %
dari semua kasus spondilolistesis.
2.2.3

Etiologi dan Klasifikasi


Etiologi spondylolistesis adalah multifaktorial. Predisposisi kongenital tampak pada

spondilolistesis tipe 1 dan 2, dan postur, gravitasi, tekanan rotasional dan stres/ tekanan
konsentrasi tinggi pada sumbu tubuh berperan penting dalam terjadinya pergeseran tersebut.
Terdapat 5 tipe utama spondilolistesis :4
a. Tipe I disebut dengan spondilolistesis displastik (kongenital) dan terjadi akibat kelainan
kongenital. Biasanya pada permukaan sacral superior dan permukaan L5 inferior atau
keduanya dengan pergeseran vertebra L5. 4
b. Tipe II, istmhik atau spondilolitik, dimana lesi terletak pada bagian isthmus atau pars
interartikularis, mempunyai angka kepentingan klinis yang bermakna pada individu di
bawah 50 tahun. Jika defeknya pada pars interartikularis tanpa adanya pergeseran tulang,
keadaan ini disebut dengan spondilolisis. Jika satu vertebra mengalami pergeseran kedepan
dari vertebra yang lain, kelainan ini disebut dengan spondilolistesis. Tipe II dibagi dalam
tiga subkategori :
7

Tipe IIA yang kadang-kadang disebut dengan lytic atau stress spondilolistesis dan
umumnya diakibatkan oleh mikro-fraktur rekuren yang disebabkan oleh
hiperekstensi. Juga disebut dengan stress fraktur pars interarticularis dan paling

sering terjadi pada laki-laki.


Tipe IIB umumnya juga terjadi akibat mikro-fraktur pada pars interartikularis.
Meskipun demikian, berlawanan dengan tipe IIA, pars interartikularis masih tetap

intak, akan tetapi meregang dimana fraktur mengisinya dengan tulang baru. 4
Tipe IIC sangat jarang terjadi dan disebabkan oleh fraktur akut pada bagian pars
interartikularis. Pencitraan radioisotop diperlukan dalam menegakkan diagnosis
kelainan ini.

c. Tipe III, merupakan spondilolistesis degenerative, dan terjadi sebagai akibat degenerasi
permukaan sendi vertebra. Perubahan pada permukaan sendi tersebut akan mengakibatkan
pergeseran vertebra ke depan atau ke belakang. Tipe spondilolistesis ini sering dijumpai
pada orang tua. Pada tipe III, spondilolistesis degenerative pergeseran vertebra tidak
melebihi 30 %.
d. Tipe IV, spondilolistesis traumatic, berhubungan dengan fraktur akut pada elemen posterior
(pedikel, lamina atau permukaan/ facet) dibandingkan dengan fraktur pada bagian pars
interartikularis.
8

e. Tipe V, spondilolistesis patologik, terjadi karena kelemahan struktur tulang sekunder akibat
proses penyakit seperti tumor atau penyakit tulang lainnya.

2.2.4

Patofisiologi
Sekitar 5-6 % pria dan 2-3 % wanita mengalami spondilolistesis. Pertama sekali

tampak pada individu yang terlibat aktif dengan aktifitas fisik yang berat seperti angkat besi,
senam dan sepak bola. Pria lebih sering menunjukkan gejala dibandingkan dengan wanita,
terutama diakibatkan oleh tingginya aktivitas fisik pada pria. Meskipun beberapa anak-anak
dibawah usia 5 tahun dapat mengalami spondilolistesis, sangat jarang anak-anak tersebut
didiagnosis dengan spondilolistesis. Spondilolistesis sering terjadi pada anak usia 7-10 tahun.
Peningkatan aktivitas fisik pada masa remaja dan dewasa sehari-hari mengakibatkan
spondilolistesis sering dijumpai pada remaja dan dewasa. Spondilolistesis dikelompokkan ke
dalam lima tipe utama dimana masing-masing mempunyai patologi yang berbeda. Tipe
tersebut antara lain tipe displastik, isthmic, degenerative, traumatic dan patologik.
Spondilolistesis displastik merupakan kelainan kongenital yang terjadi karena malformasi
lumbosacral joints dengan permukaan sendi yang kecil dan inkompeten. Spondilolistesis
displastik sangat jarang terjadi, akan tetapi cenderung berkembang secara progresif, dan sering
berhubungan dengan deficit neurologis berat. Sangat sulit diterapi karena bagian elemen
posterior dan prosessus transversus cenderung berkembang kurang baik, meninggalkan area
permukaan kecil untuk fusi pada bagian posterolateral.
Spondilolistesis displastik terjadi akibat defek arkus neural, seringnya pada sacrum
bagian atas atau L5. Pada tipe ini, 95 % kasus berhubungan dengan spina bifida occulta.
Terjaid kompresi serabut saraf pada foramen S1, meskipun peregserannya minimal.
Spondilolistesis

isthmic

merupakan

bentuk

spondilolistesis

yang

paling

sering.

Spondilolistesis isthmic (juga sering disebut spondilolistesis spondilolitik) merupakan kondisi


yang paling sering dijjumpai dengan angka prevalensi 5-7 %. Fredericson et al menunjukkan
bahwa defek spondilolistesis biasanya didapatkan pada usia 6-16 tahun, dan pergeseran
tersebut sering lebih cepat. Ketika pergeseran terjadi, jarang berkembang progresif, meskipun
suatu penelitian tidak mendapatkan hubungan antara progresifitas pergeseran dengan terjadinya
gangguan diskus intervertebralis pada usia pertengahan. Telah dianggap bahwa kebanyakan
spondilolistesis isthmic tidak bergejala, akan tetapi insidensi timbulnya gejala tidak diketahui.
Secara kasar 90 % pergeseran isthmus merupakan pergeseran tingkat rendah (low grade :
9

kurang dari 50 % yang mengalami pergeseran) dan sekitar 10 % bersifat high grade (lebih dari
50 % yang mengalami pergeseran).
Sistem grading untuk spondilolistesis yang umum dipakai adalah system grading
Meyerding untuk menilai beratnya pergeseran. Kategori tersebut didasarkan pengukuran jarak
dari pinggir posterior korpus vertebra superior hingga pinggir posterior korpus vertebra inferior
yang terletak berdekatan dengannya pada foto rontgen lateral. Jarak tersebut kemudian
dilaporkan sebagai panjang korpus vertebra superior total :

Grade 1 adalah 0-25 %


Grade 2 adalah 25-50 %
Grade 3 adalah 50-75 %
Grade 4 adalah 75-100 %
Spondiloptosis lebih dari 100 %

Faktor biomekanik sangat penting perannya dalam perkembangan spondilolisis


menjadi spondilolistesis. Tekanan / kekuatan gravitasional dan postural akan menyebabkan
10

tekanan yang besar pada pars interartikularis. Lordosis lumbal dan tekanan rotasional
dipercaya berperan penting dalam perkembangan defek litik pada pars interartikularis dan
kelemahan pars interartikularis pada pasien muda. Terdapat hubungan antara tingginya
aktivitas selama masa kanak-kanak dengan timbulnya defek pada pars interartikularis.
Pada Tipe degenerative, instabilitas intersegmental terjadi akibat penyakit diskus
degenerative atau facet arthropaty. Proses tersebut dikenal dengan spondilosis. Pergeseran
tersebut terjadi akibat spondilosis progresif pada 3 kompleks persendian tersebut. Umumnya
terjadi pada L4-5, dan wanita usia tua yang umumnya terkena. Cabang saraf L5 biasanya
terkena akibat stenosis resesus lateralis sebagai akibat hipertrofi ligament atau permukaan
sendi.
Pada Tipe traumatic, banyak bagian arkus neural yang terkena / mengalami fraktur,
sehingga menyebabkan subluksasi vertebra yang tidak stabil. Spondilolistesis patologis terjadi
akibat penyakit yang mengenai tulang, atau berasal dari metastasis atau penyakit metabolic
tulang, yang menyebabkan mineralisasi abnormal, remodeling abnormal serta penipisan bagian
posterior sehingga menyebabkan pergeseran (slippage). Kelainan ini dilaporkan terjadi pada
penyakit Pagets, tuberculosis tulang, Giant cell Tumor dan metastasis tumor. 4

2.2.5

Gambaran Klinis
Gambaran klinis spondilolistesis sangat bervariasi dan bergantung pada tipe pergeseran

dan usia pasien. Selama masa awal kehidupan, gambaran klinisnya berupa low back pain yang
biasanya menyebar ke paha bagian dalam dan bokong, terutama selama aktivitas tinggi. Gejala
jarang berhubungan dengan derajat pergeseran (slippage), meskipun sangat berkaitan dengan
instabilitas segmental yang terjadi. Tanda neurologis berhubungan dengan derajat pergeseran
dan mengenai system sensoris, motoric dan perubahan reflex akibat dari pergeseran serabut
saraf. Progresifitas listesis pada individu dewasa muda biasanya terjadi bilateral dan
berhubungan dengan gambaran klinis/fisik berupa :5

Terbatasnya pergerakan tulang belakang


Tidak dapat memfleksikan panggul dengan lutut yang berekstensi penuh
Hiperlordosis lumbal dan thorakolumbal
Hiperkifosis lumbosacral junction
Kesulitan berjalan
Pemendekan badan jika terjadi pergeseran komplit (spondiloptosis)

11

Pasien dengan spondilolistesis degenerative biasanya pada orang tua dan muncul
dengan nyeri tulang belakang (back pain), radikulopati, klaudikasio neurogenic atau gabungan
beberapa gejala tersebut. Pergeseran tersebut paling sering terjadi pada L4-5 dan jarang terjadi
L3-4. Gejala radikuler sering terjadi akibat stenosis resesus lateralis dan hipertrofi ligamen atau
herniasi diskus. Cabang akar saraf L5 sering terkena dan menyebabkan kelemahan otot
ekstensor halluces longus. Penyebab gejala klaudikasio neurogenic selama pergerakan adalah
bersifat multifactorial. Nyeri berkurang ketika pasien memfleksikan tulang belakang dengan
duduk. Fleksi memperbesar ukuran kanal dengan menegangkan ligamentum flavum,
mengurangi overriding lamina dan pembesaran foramen. Hal tersebut mengurangi tekanan
pada cabang akar saraf, sehingga mengurangi nyeri yang timbul. 5
2.2.6

Diagnosis
Diagnosis ditegakan dengan gambaran klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

radiologis.
1. Gambaran Klinis
Nyeri punggung (back pain) pada regio yang terkena merupakan gejala khas. Umunya nyeri
yang timbul berhubungan dengan aktivitas. Aktivitas membuat nyeri makin bertambah
buruk dan istirahat akan dapat menguranginya. Spasme otot dan kekakuan dalam
pergerakan tulang belakang merupakan ciri yang spesifik. Gejala neurologis seperti nyeri
pada bokong dan otot hamstring tidak sering terjadi kecuali jika terdapatnya bukti
subluksasi vertebra. Keadaan umum pasien biasanya baik dan masalah tulang belakang
umumnya tidak berhubungan dengan penyakir atau kondisi lainnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Postur pasien biasanya normal, bilamana subluksasio yang terjadi bersifat ringan. Dengan
subluksasio berat, terdapat gangguan bentuk postur. Pergerakan tulang belakang berkurang
karena nyeri dan terdapatnya spasme otot. Penyangga badan kadang-kadang memberikan
rasa nyeri pada pasien, dan nyeri umumnya terletak pada bagian dimana terdapatnya
pergeseran/keretakan, kadang nyeri tampak pada beberapa segmen distal dari level/tingkat
dimana lesi mulai timbul. Ketika pasien dalam posisi telungkup (prone) di atas meja
pemeriksaan, perasaan tidak nyaman atau nyeri dapat diidentifikasi ketika palpasi dilakukan
secara langsung diatas defek pada tulang belakang. Nyeri dan kekakuan otot adalah hal
yang sering dijumpai. Pada banyak pasien, lokalisasi nyeri disekitar defek dapat sangat
mudah diketahui bila pasien diletakkan pada posisi lateral dan meletakkan kaki mereka
keatas seperti posisi fetus. Defek dapat diketahui pada posisi tersebut. Pemeriksaan
neurologis terhadap pasien dengan spondilolistesis biasanya negative. Fungsi berkemih dan
12

defekasi biasanya normal, terkecuali pada pasien dengan sindrom cauda equine yang
berhubungan dengan lesi derajat tinggi.
3. Pemeriksaan Radiologis
Foto polos vertebra merupakan modalitas pemeriksaan awal dalam diagnosis spondilosis
atau spondilolistesis. X ray pada pasien dengan spondilolistesis harus dilakukan pada posisi
tegak/berdiri. Film posisi AP, Lateral dan oblique adalah modalitas standard dan posisi
lateral persendian lumbosacral akan melengkapkan pemeriksaan radiologis. Posisi lateral
pada lumbosacral joints, membuat pasien berada dalam posisi fetal, membantu dalam
mengidentifikasi defek pada pars interartikularis, karena defek lebih terbuka pad aposisi
tersebut dibandingkan bila pasien berada dalam posisi berdiri. Pada beberapa kasus tertentu
studi pencitraan seperti bone scan atau CT scan dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.
Pasien dengan defek pada pars interartikularis sangat mudah terlihat dengan CT scan. Bone
scan (SPECT scan) bermanfaat dalam diagnosis awal reaksi stress/tekanan pada defek pars
interartikularis yang tidak terlihat baik dengan foto polos. Scan positif menunjukkan bahwa
proses penyembuhan tulang telah dimulai, akan tetapi tidak mengindikasikan bahwa
penyembuhan yang definitive akan terjadi. CT scan dapat menggambarkan abnormalitas
pada tulang dengan baik, akan tetapi MRI sekarang lebih sering digunakan karena selain
dapat mengidentifikasi tulang juga dapat mengidentifikasi jaringan lunak (diskus, kanal dan
anatomi serabut saraf ) lebih baik dibandingkan dengan foto polos. 5

13

14

2.2.7

Penatalaksanaa

n
Terapi

pada

spondilolistesis
dapat

dilakukan dengan

dua

cara
operative

non

yaitu
dan

operative.

Pemilihan terapi pada pasien tergantung dari usia pasien, tipe subluksasi dan gejala yang
dialami oleh pasien. Tujuan dari terapi adalah menghilangkan nyeri yang dirasakan pasien dan
memperkuat serta stabilisasi vertebra. Prinsip terapi pada spondilolistesis adalah apabila
spondilolistesis yang ringan tanpa gejala, tidak diperlukan terapi tertentu. Apabila muncul
gejala yang masih ringan, terapinya biasanya diberikan latihan agar tidak terjadi kekakuan
vertebra dan penggunaan brace untuk stabilisasi vertebra. Namun, jika gejala yang timbul berat
dan lebih penting lagi apabila sampai mengganggu aktivitas pasien, maka operasi menjadi
pilihan terbaik.
1. Konservatif (Non operatif)
Terapi konservatif terdiri dari istirahat (rest), penyangga eksternal ke bagian vertebra yang
terkena defek, terapi medikamentosa dan fisioterapi. Penyangga eksternal biasanya
menggunakan brace.
Modifikasi gaya hidup
15

Sangatlah penting untuk mengedukasi pasien dengan spondilolistesis mengenai


kondisi mereka dan bagaimana untuk meminimalisasi gejala yang dialami serta
mencegah terjadinya progresi dari subluksasi tersebut. Langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut :
Mengurangi atau tidak melakukan aktifitas yang menyebabkan nyeri
Bed rest selama episode nyeri akut
Menjaga berat badan agar tidak overweight
Membatasi gerakan lumbar
Penyangga eksternal (bracing)
Brace merupakan hal yang penting dalam terapi konservatif. Tujuan penggunaan
brace adalah untuk stabilisasi vertebra, mencegah terjadinya progresifitas dari
subluksasi yang telah terjadi. Dalam beberapa kasus brace juga terbukti mengurangi
nyeri dan spasme otot.
Terapi medikamentosa
Medikasi diberikan untuk mengurangi rasa nyeri, proses inflamasi dan spasme otot.
Analgesik digunakan untuk mengurangi nyeri, muscle relaxants digunakan untuk
mengurangi spasme otot serta NSAID atau steroid untuk mengurangi proses
inflamasi.
Fisioterapi
Fisioterapi menggunakan variasi modalitas seperti ultrasound, stimulasi elektrik,
pemijatan dan termal terapi untuk membantu mengurangi spasme otot. Latihan
stabilitas vertebra juga bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan fleksibilitas.
Perlu diingat bahwa latihan ini apabila dilakukan pada fase akut dapat semakin
merusak bagian yang sedang mengalami inflamasi.
Ultrasound
Ultrasound adalah sebuah cara yang sangat efektif untuk menstimulasi
penyembuhan jaringan. Gelombang suara dapat meningkatkan sirkulasi ke
area yang mengalami kerusakan, dan membantu merilekskan otot
sekitarnya. Cara ini sangat mendatangkan keuntungan bagi pasien dengan
spondilolistesis yang telah menyebabkan iritasi pada jaringan disekitarnya.
Terapi termal hangat
Terapi termal hangat berguna untuk meningkatkan sirkulasi dan
merilekskan jaringan otot sekitar.
Kompres es
Kompres es biasanya digunakan pada 72 jam inisal dari terjadinya injuri
untuk mengurangi inflamasi dan menghilangkan nyeri.
TENS
Transcutaneous electrical nerve stimulation membantu menghilangkan
nyeri. Biasanya digunakan terutama untuk nyeri yang teradiasi.
16

Angka keberhasilan terapi non-operatif sangat besar, terutama pada pasien muda. Pada
pasien yang lebih tua dengan pergeseran ringan (low grade slip) yang diakibatkan oleh
degenerasi diskus, traksi dapat digunakan dengan beberapa tingkat keberhasilan. Salah satu
tantangan adalah dalam terapi pasien dengan nyeri punggung hebat dan menunjukkan
gambaran radiografi abnormal. Pasien tersebut mungkin memiliki penyakit degenerative
pada diskus atau bahkan pergeseran ringan (low grade slip, <25%), dan biasanya nyeri yang
terjadi tidak sesuai dengan pemeriksaan fisik dan gambaran radiografi. Nyeri punggung
merupakan masalah kesehatan utama dan penyebab disabilitas yang paling sering. Adalah
sangat penting untuk mempertimbangkan factor tingkah laku dan psikososial yang berperan
dalam timbulnya disabilitas pada pasien tersebut.
2. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan hanya direkomendasikan bagi pasien yang sangat simtomatis yang tidak
berespon dengan perawatan non-bedah dan dimana gejalanya menyebabkan suatu
disabilitas. Tujuan terapi adalah untuk dekompesi elemen neural dan immobilisasi segmen
yang tidak stabil. Umumnya dilakukan dengan eliminasi pergerakan sepanjang permukaan
sendi (facet joints) dan diskus intervertebralis melalui arthrodesis (fusi). Indikasi intervensi
bedah (fusi) pada pasien dewasa adalah :
Tanda neurologis - radikulopaty (yang tidak berespon dengan terapi konservatif).
Klaudikasio neurogenik.
Pergeseran berat ( High grade slip >50 %)
Pergeseran tipe I dan tipe II, dengan bukti adanya instabilitas, progresifitas listesis,

2.2.8

dan kurang berespon dengan terapi konservatif.


Spondilolistesis traumatic.
Spondilolistesis iatrogenic.
Listesis tipe III (degenerative) dengan instabilitas berat dan nyeri hebat.
Deformitas postural dan abnormalitas gaya berjalan (gait).

Komplikasi
Progresifitas dari pergeseran dengan peningkatan tekanan ataupun penarikan pada

saraf spinal, bisa menyebabkan komplikasi. Pada pasien yang membutuhkan penanganan
dengan pembedahanuntuk menstabilkan spondilolistesis, dapat terjadi komplikasi seperti nerve
root injury (<1%), kebocoran LCS (2-10 %), kegagalan melakukan fusi (5-25 %), infeksi dan
perdarahan dari prosedur pembedahan (1-5 %). Pada pasien yang perokok, kemungkinan untuk
terjadinya kegagalan pada saat fusi ialah (>50%). Pasien yang berusia lebih muda memiliki
resiko yang lebih tinggi untuk menderita spondilolistesis isthmic atau kongenital yang lebih
progresif. Radiografi serial dengan posisi lateral harus dilakukan setiap 6 bulan untuk
mengetahui perkembangan pasien ini. 6
17

2.2.9

Prognosis
Pasien dengan fraktur akut dan pergeseran tulang yang minimal kemungkinan akan

kembali normal apabila fraktur tersebut membaik. Pasien dengan perubahan vertebra yang
progresif dan degenerative kemungkinan akan mengalami gejala yang sifatnya intermiten.
Resiko untuk terjadinya spondilolistesis degenerative meningkat seiring dengan bertambahnya
usia, dan pergeseran vertebra yang progresif terjadi pada 30% pasien. Bila pergeseran vertebra
semakin progresif, foramen neural akan semakin dekat dan menyebabkan penekanan pada
saraf, ha lini akan membutuhkan dekompresi. 6

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Sistem Muskuloskeletal. In : Buku Ajar Ilmu Bedah. 2 nd ed. Jakarta
: EGC; 2005. p. 835.
2. Moore KL, Agur AMR. Anatomi Klinis Dasar. Hipokrates : Jakarta; 2002.
3. Spondylolisthesis.
Available
at
http://my.clevelandclinic.org/disorders/back_pain/hic_spondylolisthesis.aspx.

:
Accessed

on

November, 23rd 2013.


4. Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. Williams &
Wilkins : USA; 1999.
5. Vokshoor A, Keenan MAE. Spondylolisthesis, Spondylolysis, and Spondylosis. Available at :
http://emedicine.medscape.com/article/1266860-overview. Accessed on November, 23rd 2013.
6. Spondylolisthesis. Available at : http://www.spine-health.com/video/spondylolisthesissymptoms-and-causes-video. Accessed on November, 23rd 2013.

18