Anda di halaman 1dari 4

Panduan Praktik Klinis

SMF/KSM ILMU BEDAH


BAGIAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK

RSUD KabupatenMimika
TGL/BLN/THN
PENGESAHAN:

Revisi Ke.

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR RSUD MIMIKA

Dr. Maurits Okoseray, MARS


NIP. 19570530 199003 1 001

TUMOR RONGGA HIDUNG (ICD X: C 30/ D 14)


1. Pengertian (Definisi)

2. Anamnesis

Semua tumor jinak maupun ganas yang berasal dari rongga


hidung dan/atau sinus paranasal.
Gejala dini tidak khas. pada stadium lanjut tergantung asal
tumor dan arah perluasannya.
1. Gejala hidung:
Buntu hidung unilateral dan progresif, terutama pada
tumor di rongga hidung. Buntu bilateral bila terjadi
pendesakan ke sisi lainnya. Sekret hidung bervariasi.
Purulen dan berbau bila ada infeksi. Sekret yang
bercampur darah atau ada epistaksis menunjukkan
kemungkinan keganasan. Rasa nyeri di sekitar hidung
dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus
Rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat
infiltrasi tumor ganas.
2. Gejala lokal masing - masing sinus:
Sinus maksila
Pertumbuhan tumor lebih lanjut dapat menyebabkan:
a. Pembengkakan pipi.
b. Pembengkakan palatum durum.
c. Geraham atas goyah, mal-oklusi gigi.
d. Gangguan mata bila tumor masuk orbita (pendesakan
bola mata).
Sinus ethmoid.
a. Masuk ke orbita melalui lamina papirasea, mendesak
bola mata, terjadi diplopi, dan penurunan visus.
b. Pendesakan ke arah depan menyebabkan benjolan
pada pangkal hidung.
Sinus frontal
a. Pendesakan ke depan menyebabkan benjolan pada
dahi.
b. Ke orbita menyebabkan diplopi, gangguan visus.
Sinus sphenoid
a. Pertumbuhan ke arah nasofaring, benjolan terlihat pada
rinoskopi posterior.
b. Pendesakan ke retrobulbair, menyebabkan prostrusio
bulbi, penurunan visus, dan gangguan gerakan bola
mata.

3. Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi terhadap dahi, mata, pipi, geraham dan palatum.


2. Palpasi terhadap tumor yang tampak dan kelenjar leher

(bila ada).
3. Rinoskopi anterior untuk mengevaluasi tumor di dalam
rongga hidung.
4. Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke
nasofaring. Pemeriksaan THT lainnya menurut
keperluan.
4. Kriteria Diagnosis

5. Diagnosis

1.
2.
3.
4.

Polip
Buntu hidung
Sekret yang bercampur darah atau ada epistaksis.
Rasa nyeri terus-menerus dan progresif.

1. Anamnesis yang cermat terhadap keluhan-keluhan di


atas.
2. Pemeriksaan
3. Inspeksi terhadap dahi, mata, pipi, geraham dan
palatum.
4. Palpasi terhadap tumor yang tampak dan kelenjar leher
(bila ada).
5. Rinoskopi anterior untuk mengevaluasi tumor di dalam
rongga hidung.
6. Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke
nasofaring. Pemeriksaan THT lainnya menurut
keperluan.
Pemeriksaan penunjang (pemeriksaan radiologi)
1. X-foto posisi Water: untuk melihat perluasan tumor di
dalam sinus maksila. dan sinus frontal. Kranium
lateral : untuk melihat ekstensi ke fosa kranii
anterior/media.
2. CT SCAN: untuk mengetahui lebih tepat perluasan
tumor.
Biopsi:
Biopsi dengan forsep Blakesley dilakukan pada tumor yang
tampak.
Tumor di dalam sinus maksilaris dibiopsi dengan fungsi
melalui meatus nasi inferior. Untuk tumor kecil di dalam
rongga sinus maksila atau rongga hidung dapat dilakukan
menggunakan antroskopi atau endoskopi nasal. Tumor jinak
langsung dilakukan pembedahan. Kecurigaan terhadap
keganasan. bila perlu dapat dilakukan potong beku.

6. Diagnosis Banding

7. Pemeriksaan Penunjang

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Granuloma piogenik
Polip koanal
Polip angiomatosa
Kista nasofaringeal
Kordoma
Karsinoma
Penyebab lain dari nasal obstruction
Penyebab lain dari epistaxis, baik sistemik maupun
local.
i. Penyebab lain dari proptosis atau pembengkakan
rongga mata.
1. Pemeriksaan radiologi
X-foto posisi Water: untuk melihat perluasan tumor di
dalam sinus maksila. dan sinus frontal. Kranium lateral :
untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/media.
CT SCAN: untuk mengetahui lebih tepat perluasan

tumor.
2. Biopsi:
Biopsi dengan forsep Blakesley dilakukan pada tumor
yang tampak.
Tumor di dalam sinus maksilaris dibiopsi den-an
pungsi melalui meatus nas inferior. Untuk tumor kecil
di dalam rongga sinus maksila atau rongga hidung dapat
dilakukan menggunakan antroskopi atau endoskopi nasal.
Tumor jinak langsung dilakukan pembedahan.
Kecurigaan terhadap keganasan, bila perlu dapat
dilakukan potong beku.
8. Terapi

Tumor jinak:
Pembedahan.
Beberapa macam pembedahan antara lain:
1. Rinotomi lateral
2. Caldwell-Luc
3. Pendekatan trans palatal
Tumor ganas:
Pembedahan:
- Reseksi:
- Rinotomi lateral
- Maksilektomi partial/total
- Dapat dengan kombinasi eksenterasi orbita
- Paliatif: mengurangi besar tumor (debulking), sebelum
radiasi.
- Radiasi:
- Dilakukan bila operasi kurang radikal atau residif.
- Pra bedah pada tumor yang radio sensitif (misal:
tumor sangat besar/inoperable. metastasis jauh,
kombinasi dengan radiasi).
- Kemoterapi: sebagai terapi tambahan pada pembedahan
dan radiasi.

4. Edukasi
5. Prognosis

KIE terhadap pasien mengenai tindakan pembedahan


Tumor Jinak
Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

Tumor Ganas
Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

: dubia ad malam
: dubia ad malam
: dubia ad malam

6. Tingkat Evidens

I/II/III/IV

7. Tingkat Rekomendasi
8. Penelaah Kritis
9. Indikator Medis

10. Kepustakaan

A/B/C
dr. Antonius Pasulu,MKes,Sp.THT
Tumor jinak
Tumor ganas

1. Miller RH. Neoplasms of the nose and paranasal sinuses.


In: Ballenger JJ. ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear,
Head and Neck. 14''' ed. Philadelphia, London: Lea &
Febiger, 1991: 109-18.
2. Krespi YP, Levine TM. Tumors of the nose and paranasal
sinuses. In: Paparella NN, Shumrick DD. Stuckman JL,
Meyerhoff WL, eds. Otolaryngology 3` d ed. Vol. III, Head
and Neck. Philadelphia, London, Toronto, WB Saunders,
Co, 1991:1938-58.

3. Myers EN, Carrau RL. Neoplasms of the nose and


paranasal sinuses. In: Bailey BJ and Pillsburry III HC.
eds. Head and Neck Surgery - Otolaryngology Vol. II
Philadelphia: JB L ippi ncott Company. 1993:1091-109.
4. Lane M, Donovan DT. Neoplasms of the head and neck.
In: Calabresi P, Schein PS. eds. Medical Oncology. 2nd ed
New York: Mc Graw Hill, Inc. 1993:565-92.

Ketua Komite Medik


dr. Jeanne Rini P, Sp.A, MSc, Ph.D
NIP. 19660222 199102 2 003

Penyusun
dr. Antonius Pasulu,MKes,Sp.THT
NIP. 19770411 200605 1 001