Anda di halaman 1dari 3

Panduan Praktik Klinis

SMF/KSM ILMU BEDAH


BAGIAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK

RSUD KabupatenMimika
TGL/BLN/THN
PENGESAHAN
:

Revisi Ke.

DITETAPKAN OLEH
DIREKTUR RSUD MIMIKA

Dr. Maurits Okoseray, MARS


NIP. 19570530 199003 1 001

FRAKTUR TULANG HIDUNG (ICD X: S 022)


1. Pengertian (Definisi)

Fraktur tulang hidung adalah patah, pecah atau kontinuitas


tulang hidung (os nasale) hilang disertai atau tidak kerusakan
pada septum nasi dan tulang yang berhubungan dengan tulang
hidung. Tidak termasuk di sini fraktur yang mengenai tulang
maksila.

2. Anamnesis

Adanya riwayat trauma yang mengenai hidung. Sering kali


diikuti epistakis dan buntu hidung. Dapat terjadi
pembengkakan dan perubahan bentuk hidung (deformitas)

3. Pemeriksaan Fisik

a. Dapat terlihat adanya udema dan hiperemi pada hidung


bagian tulang rawan.
b. Bila arah tekanan dari samping dapat terlihat deviasi
hidung. Bila tekanan dari depan dan kuat hidung dapat
melesak ke dalam (mendatar/flat).
c. Pada palpasi terdapat nyeri tekan dan terasa krepitasi.
Pada fraktur terbuka tampak luka terbuka pada kulit dan
dapat terlihat fragmen tulang hidung mencuat keluar
(exposed).
d. Dapat ditemukan epistaksis yang masih aktif.
e. Pada rinoskopi anterior setelah pemberian tampon
liodocaine dan dekongestan, dapat dievaluasi ada luka
terbuka pada mukosa rongga hidung atau deviasi pada
septum nasi.

4. Kriteria Diagnosis

1. Nyeri tekan dan terasa krepitasi


2. Tulang hidung fraktur
3. Oedem dan hiperemi

5. Diagnosis

Adanya riwayat trauma yang mengenai hidung. Sering kali


diikuti epistakis dan buntu hidung. Dapat terjadi
pembengkakan dan perubahan bentuk hidung (deformitas).
Dapat terlihat adanya udema dan hiperemi pada hidung bagian
tulang rawan. Bila arah tekanan dari samping dapat terlihat
deviasi hidung. Bila tekanan dari depan dan kuat hidung dapat
melesak ke dalam (mendatar/flat). Pada palpasi terdapat nyeri
tekan dan terasa krepitasi. Pada fraktur terbuka tampak luka
terbuka pada kulit dan dapat terlihat fragmen tulang hidung
mencuat keluar (exposed).
Dapat ditemukan epistaksis yang masih aktif. Pada rinoskopi
anterior setelah pemberian tampon lidocaine dan dekongestan,
dapat dievaluasi ada luka terbuka pada mukosa rongga hidung
atau deviasi pada septum nasi.
Pemeriksaan radiologi tidak banyak membantu terutama bila

tanda klinis tidak mendukung. Bila perlu dikerjakan untuk


tujuan dokumentasi. Dapat dibuat x-foto tengkorak lateral.
Pada orang Indonesia yang tulang hidungnya kecil seringkali
hasil tidak jelas.

6. Diagnosis Banding
7. Pemeriksaan Penunjang

8. Terapi

Fraktur tulang maksila


Pemeriksaan radiologi tidak banyak membantu terutama bila
tanda klinis tidak mendukung. Bila perlu dikerjakan untuk tujuan
dokumentasi. Dapat dibuat x-foto tengkorak lateral. Tulang
hidung orang Indonesia kecil, seringkali hasil tidak jelas.
Reposisi sedapat mungkin dilakukan segera. Bila dilakukan dalam
3 jam trauma memberikan hasil maksimal. Penundaan dapat
dilakukan sampai 3-7 hari bila ada pertimbangan lain yang lebih
membahayakan
Reposisi tertutup
Indikasi: deformitas ringan tanpa kerusakan pada septum nasi.
Dilakukan dengan anestesi lokal yakni dengan memasukkan
kapas yang dibasahi dengan larutan lidocaine 1% yang dicampur
dengan dekongestan (ephedrine 1% atau oximethazoline 0,05%)
ke dalam rongga hidung selama 10-15 menit. Dapat juga
dilakukan dengan penyuntikan lidocaine 1-2 oxymethazoline
dicampur dengan adrenalin 1/100.000 sepanjang dorsum nasi,
lateral dari piramid hidung dan septum nasi bagian bawah.
Alat yang digunakan adalah: spekulum hidung Killian, pinset
hidung, elevator, forsep Asc J Walsham.
Reposisi dilakukan dengan memasukkan elevator yang sudah
dilindungi dengan lapisan kain kasa seteril. Elevator dimasukkan
menyusuri bagian depan atas rongga hidung dengan kedalaman
mendekati daerah deformitas. Elevator diangkat ke depan atau ke
arah berlawanan dari arah deviasi, dari luar jari tangan
mendorong ke arah sebaliknya. Forsep digunakan untuk deviasi
yang lebih berat.
Setelah reposisi dilakukan fiksasi intranasal dengan tampon yang
mengandung antibiotik selama 3-4 hari, dan fiksasi eksternal
dengan plaster (gips kupu-kupu) selama 7-14 hari. Bila fraktur
multipel dan kerusakan juga mengenai septum nasi serta
deformitas yang hebat perlu dilakukan reposisi Ierbuka dengan
anestesi umum.

9. Edukasi
10. Prognosis

11. Tingkat Evidens


12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis
14. Indikator Medis

15. Kepustakaan

KIE terhadap pasien mengenai tindakan yang dilakukan.


Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
I/II/III/IV
A/B/C

dr. Antonius Pasulu,MKes,Sp.THT


a. Fraktur tulang hidung
b. Oedem
c. Hiperemi bagian tulang rawan hidung
1. Bailey BJ. Nasal fracture in: Bailey BJ, Pillsburry III HC.
eds. Head and Neck Surgery - Otolaryngology Vol. I
Philadelphia: JB Lippincott Company. 1993:991-1007.

2. Beekhuis GJ. Nasal fracture in: Paparella NN, Shumrick


DD, Stuckman JL, Meyerhoff WL. eds. Otolaryngology Vol.
III, 3rd ed. Philadelphia, London, Toronto. W13 Saunders,
Co, 1991: 1S2 3-41.

Ketua Komite Medik


dr. Jeanne Rini P, Sp.A, MSc, Ph.D
NIP. 19660222 199102 2 003

Penyusun
dr. Antonius Pasulu,MKes,Sp.THT
NIP. 19770411 200605 1 001