Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Imunisasi dasar merupakan suatu upaya untuk menjaga kesehatan
dimasa depan karena pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan
cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih
murah dibandingkan dengan mengobati seseorang apabila telah jatuh sakit
dan harus dirawat di rumah sakit. Dengan imunisasi, anak akan
mendapatkan suatu keamanan untuk terhindar dari penyakit infeksi
berbahaya, oleh karena itu mereka memiliki kesempatan beraktifitas,
bermain dan belajar tanpa terganggu masalah kesehatan. Keberhasilan
upaya imunisasi telah terbukti dapat menyelamatkan jiwa manusia dari
penyakit infeksi berat seperti polio, difteri, pertusis, tetanus, campak,
hepatitis, dll, dikatakan oleh Hegar, Ketua Umum PP-IDAI.
Data terakhir WHO, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa
per tahun akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, misalnya:
batuk rejan 294.000 (20%), tetanus 198.000 (14%), campak 540.000
(38%). Di Indonesia sendiri, UNICEF mencatat sekitar 30.000-40.000
anak di Indonesia setiap tahun meninggal karena serangan campak, ini
berarti setiap dua puluh menit seorang anak Indonesia meninggal karena
campak. Ratih mengemukakan, Saat ini pemberian imunisasi untuk
masyarakat dilakukan di tempat-tempat pelayanan kesehatan seperti rumah

sakit, klinik bersalin, puskesmas, posyandu, dan praktek dokter swasta.


Setiap tahun dilayani imunisasi rutin kepada sekitar 4,5 juta (4.485.000)
anak usia 0-1 tahun (diberikan vaksin BCG satu kali, polio empat kali,
DPT/HB tiga kali dan campak pada usia 9 bulan satu kali).
Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, Penyakit yang
Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) masih merupakan penyebab
kematian dan kecacatan anak, upaya penting yang dapat dilakukan yaitu
pemutusan mata rantai penularan penyakit pada anak maupun orang-orang
disekitarnya. Sekitar lima persen kematian pada anak balita diakibatkan
oleh PD3I. Karena itu, upaya imunisasi sangat penting dilakukan untuk
menekan angka kesakitan dan kematian tersebut menurut Soedjatmiko.
Imunisasi tentu perlu mendapatkan dukungan penuh dari semua
pihak, termasuk masyarakat. Karena, sampai saat ini masih dijumpai
sejumlah tantangan dalam pemberian imunisasi, antara lain pemahaman
orang tua yang masih kurang di sebagian kalangan masyarakat, informasi
yang salah terkait imunisasi, kendala geografis, sampai jadwal imunisasi
yang terlambat. Masyarakat juga perlu lebih cermat dan berhati-hati dalam
menyikapi berbagai informasi terkait imunisasi, misalnya menyikapi
kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berat, menurut Komisariat
Nasional KIPI.
Pemberian imunisasi dasar merupakan suatu program pemerintah
yang harus dilaksanakan, dalam hal ini peran orang tua sangat penting

khususnya yaitu seorang ibu. Ibu mempunyai tanggung jawab penuh


terhadap kehidupan anak termasuk dalam memberikan imunisasi dasar
kepada anak. Banyak factor yang dapat mempengaruhi status kelengkapan
imunisasi dasar pada anak, sehingga program imunisasi di masyarakat
tidak berjalan dengan lancar, yaitu factor perilaku dan factor non perilaku.
Dimana factor perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh factor predisposisi,
pemungkin dan pendorong, dalam factor predisposisi salah satunya
meliputi sikap, dimana sikap itu dipengaruhi oleh motivasi, terutama yaitu
motivasi instrinsik yang didalamnya meliputi pekerjaan itu sendiri,
prestasi yang diraih, pengakuan orang lain, keinginan ingin maju dan
tanggung jawab. Dari tanggung jawab itulah timbul suatu kesadaran
sehingga secara otomatis menuntut seseorang untuk berpikir dan
melakukan sesuatu hal yang menjadi kewajibannya, dalam hal ini sebagai
seorang ibu harus bertanggung jawab kepada anaknya dengan memenuhi
semua kebutuhan anak pada asuh, asih dan asah (Soetdjiningsih, 2012 :
14).
Salah satu kebutuhan asuh pada anak yang harus dipenuhi yaitu
perawatan kesehatan dasar yang meliputi pemberian imunisasi. Jadi,
seorang ibu diharapkan sadar akan kebutuhan anaknya sehingga ibu
mempunyai tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan anaknya
tersebut. Rasa tanggung jawab inilah yang akan mempengaruhi perilaku
ibu. Berdasarkan studi pendahuluan di Desa Bintoro Kecamatan Patrang
cakupan imunisasi dasar sebesar 68% pada bulan Januari 2013, dimana
persentase tersebut didapatkan dari 202 balita yang berumur 12-24 bulan

dengan jumlah balita yang mendapatkan imunisasi lengkap sebanyak 136


balita dan 66 balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Oleh
karena itulah, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai motivasi intrinsik,
sehingga berpeluang untuk mempengaruhi ibu terhadap pemberian
imunisasi kepada anak. Dengan hal itulah, peneliti mengambil judul
penelitian yaitu Hubungan Tanggung Jawab Ibu dengan Kelengkapan
imunisasi Dasar pada Balita Usia 12-24 bulan di Desa Bintoro Kecamatan
Patrang Kabupaten Jember.
Pelaksanaan imunisasi harus dilakukan sesuai dengan program,
karena dengan pemberian imunisasi yang terlambat mengakibatkan
efektifitas dari imunisasi tersebut berkurang karena penyakit sudah
menjangkit terlebih dahulu di dalam tubuh sang bayi. Dampak imunisasi
jika tidak lengkap yaitu penyakit akan mudah menyerang, ada efek
samping dan mudah tertular orang yang sakit. Oleh karena itulah,
diharapkan untuk para ibu sadar akan tanggung jawabnya dalam
memenuhi

semua

kebutuhan

tumbuh

kembang

anak

khususnya

kebutuahan fisik biomedis (asuh) yang salah satunya meliputi perawatan


kesehatan dasar yaitu dalam pemberian imunisasi kepada anak.
1.2. Rumusan Masalah
Dari yang telah diuraikan di atas, peneliti merumuskan masalah Adakah
hubungan tanggung jawab ibu dengan kelengkapan imunisasi pada balita
usia 12-24 bulan di Desa Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui adanya hubungan tangung jawab ibu dengan
kelengkapan imunisasi dasar pada balita usia 12-24 bulan di Desa
Bintoro Kecamatan Patrang Kabupaten Jember.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1.
Mengidentifikasi tanggung jawab

ibu

dalam

pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi


1.3.2.2.
Mengidentifikasi kelengkapan imunisasi dasar pada
balita usia 12-24 bulan
1.3.2.3.
Menganalisis hubungan tanggung jawab ibu dengn
kelengkapan imunisasi dasar pada balita usia 12-24 bulan
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi peneliti
Dengan penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pembelajaran untuk mengetahui hubungan tanggung jawab ibu
dengan kelengkapan imunisasi dasar pada balita usia 12-24 bulan.
1.4.2. Bagi petugas kesehatan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan suatu
wacana

dalam

memberikan

suatu

masukan

untuk

dapat

merencanakan program kerja selanjutnya didalam menangani


masalah minimnya cakupan imunisasi dasar lengkap.
1.4.3. Bagi masyarakat
Dengan penelitian ini dimaksudkan sebagai suatu informasi atau
wawasan dalam menumbuhkan motivasi bagi orang tua khususnya
seorang ibu dalam memberikan imunisasi dasar lengkap kepada
bayi.
1.4.4. Bagi Institusi Kesehatan
Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan suatu data untuk
penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan hubungan tanggung

jawab ibu dengan kelengkapan pemberian imunisasi dasar pada


balita usia 12-24 bulan.