Anda di halaman 1dari 13

PERAN INDONESIA DALAM DEWAN

KEAMANAN PBB
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Makalah ini secara garis besar membahas tentang peranan Indonesia selama menjabat
sebagai dewan keamanan PBB di tahun 2006 khususnya terhadap mencuatnya fokus dunia
terhadap isu nuklir di Iran di mana isu tersebut telah menjadi perbincangan hangat baik tata
sistem perpolitikan global dan DK PBB sendiri.
Sikap keras AS menentang nuklir Iran disertai pro kontra negara-negara besar seperti
Rusia, China membawa Indonesia turut dalam pembahasan mengenai permasalahan tersebut dan
menjadi agenda penting dalam kesempatan sidang DK PBB.
Meskipun demikian Iran menegaskan bahwa penggunaan nuklir di negaranya adalah
demi tujuan perdamaian di tegaskan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad di hadapan Majelis
Umum PBB (General Asembly of the United Nation) pasca pernyataan Presiden AS George W.
Bush 25 Februari 2005 kepada pihak Amerika maupun Eropa untuk melakukan penghentian
aktivitas nuklir di Iran.
Perkembangan nuklir Iran mampu menjadikan ketengangan di Timur Tengah dan
eksistensi Israel khususnya sebgai sekutu AS di Timur Tengah. Sebagai negara yang pernah tiga
kali memegang mandat DK PBB 1973, 1995, dan 2006 Indonesia tentunya harus menengahi
konflik tersebut dengan cermat mengingat dipertimbangkannya kedekatan emosional negara kita
dengan negara Iran yang cukup erat di mana mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam
ditambah keterlibatan Indonesia dalam oragnisasi-organisasi seperti OPEC dan OKI di mana Iran
termasuk ke dalam anggotanya. Selain itu kebutuhan Indonesia akan pasokan nuklir dalam
pengembangan teknologinya dari negara Iran sendiri, membuat negara kita harus berhati-hati
dalam pengambilan keputusan dalam DK PBB terkait nuklir Iran. Ini terlihat dalam setiap

resolusi-resolusi yang dikeluarkan dan diubah di sela pembahasan politik luar negeri dalam DK
PBB.
Dalam pemaparan dari uraian di atas cukuplah menarik bagi kita untuk mengulas lebih
lanjut mengenai tindakan-tindakan yang diambil Indonesia dalam mensikapi konflik
pertentangan pelaksanaan maupun pengembangan nuklir di Iran kaitannya dengan pro kontra
negara-negara besar di dunia seperti AS, Rusia, dan China dan terkait posisi Indonesia dalam DK
PBB dengan tetap mengedepankan solidaritas dengan Iran dalam rangka kepentingan
nasionalnya.
1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana peranan Indonesia dalam mensikapi konflik pro dan kontra pengembangan nuklir
di Iran terkait peranan Indonesia sebagai DK PBB dan Indonesia harus tetap menjaga
kesolidaritasannya dengan negara Iran.
Pertimbangan-pertimbangan apa saja yang dimasukan dalam resolusi-resolusi yang
dikeluarkan Indonesia terkait perkembangan nuklir di Iran, peranan Indonesia sebagai DK PBB
dengan tetap mengabdi pada kepentingan nasional negaranya.
Apa dan bagaimana bentuk dari politik luar negeri Indonesia selama menjabat menjadi DK
PBB dan menyelesaikan konflik yang berkecamuk di kancah Internaisonal.

1.3

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana politik luar negeri Indonesia dan tindakan yang dicapai
dalam mensikapi pro kontranya pengembangan nuklir di Iran terkait peranan Indonesia dalam
DK PBB 1973, 1995, dan 2006 dalam mengedepankan tujuan keamanan dunia, solidaritas
dengan negara-negara dunia khususnya dalam kasus ini Iran dan tetap mengabdi pada
kepentingan nasional negara kita tercinta yaitu Indonesia.
Dari : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14861/1/09E01291.pdf Diunduh : Pada sabtu, tanggal 19 November 2011,
pukul 08.26 WIB dengan sedikit perubahan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peran Indonesia di PBB

Keterlibatan Indonesia dalam PBB pertama kali pada masa Presiden Soekarno di mana
Indonesia membutuhkan banyak dukungan dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru
digenggamnya selain itu terjunnya Indonesia ke dalam PBB merupakan salah satu wujud upaya
untuk mempertahankan kedamaian dunia. Upaya tersebut dibuktikan dengan masuknya
Indonesia dalam DK PBB sebanyak tiga kali di tahun 1974-1975, 1995-1996, 2006-2008.
Pasca kemerdekaannya 17 Agustus 1945 Indonesia masih sering berseteru kepada negara
kolonialisme nya yaitu belanda. Pada Tahun 1947 Belanda melancarkan agresi militernya ke
Indonesia dan untuk pertama kalinya PBB mulai memainkan peranannya di Indonesia dan
menerapkan pasal 39 bab ke VII Piagam PBB untuk mengambil tindakan tegas terhadap aksi
Belanda. 21 Januari 1946 Republik sosialis Ukraina mengajukan surat ke DK PBB bahwa
Inggris telah melakukan pelanggaran menggunakan raykat Jepang untuk menindas bangsa
Indonesia Threat to the Maintance of International Peace and Security.
Dapat ditarik garis besarnya bahwa sebelum masuknya Indonesia ke PBB sebenarnya
eksistensi Indonesia dari tangan kolonialisme telah menjadi pembahasan PBB. Indonesia sempat
keluar dari PBB pada 20 Januari 1965 dengan mengirimkan surat kepada Sekretaris Jendral PBB
atas rasa keberatan masuknya Malaysia sebagai DK PBB yang mana pada saat itu terjadi
pertentangan dari pihak Indonesia terhadap tindakan Malaysia untuk menyatukan Malaya,
Brunei, Sabah, Sarawak menjadi Federasi Malaysia. Tindakan Malaysia dianggap oleh Indonesia
sebagai kolonialisme dan imperialisme bentuk baru dari boneka Inggris tersebut. Keluarnya
Indonesia dari PBB membuatnya terkucilkan dari pergaulan Internasional hingga pada masa
kepemimpinan Presiden Soeharto Indonesia merubah haluan negaranya dari konfrontasi ke
kooperasi dengan mengembalikan Indonesia ke dalam ranah organisasi internasional PBB.
Perubahan tersebut guna perbaikan citra bangsa Indonesia di kancah Internasional serta
memperbaiki tata pembangunan perekonomian Indonesia yang terpuruk pasca kepemimpinan
Presiden Soekarno. Masuknya Indonesia kembali ke PBB menyebabkan pro dan kontra dari
negara luar seperti Inggris yang menyatakan keluarnya Indonesia dari DK PBB tidak beralasan
apabila mempermasalahkan masuknya Malaysia ke dalam DK PBB dengan menggunakan alasan
yang sepihak dan bukan karena keadaan yang luar biasa sehingga tidak bertentangan dengan
ketentuan pasal 23.

Peristiwa tersebut kedepannya selalu akan menjadi pertimbangan bagi bangsa Indonesia
dalam melaksanakan politik luar negerinya. Hingga pada tahun 1974-1975 Indonesia dipercaya
memegang mandat sebagai DK PBB, selanjutnya tahun 1995-1996 dan terbaru tahun 2006-2008.
Dalam tiap tahapan-tahapan periodenya Indonesia menghadapi tantangan yang beragam dalam
lingkung sistem perpolitikan Internasional yang akan dijabarkan pada bahasan selanjutnya.

2.1.1 Periode 1974-1975


Indonesia diberikan kesempatan untuk membuktikan peranannya sebagai DK PBB pada
periode ini. Perbaikan citra bangsa Indonesia menjadi fokus pula di kawasan Asia Tenggara
dibuktikan pula dengan penghapusan konfrontasi dengan Malaysia yang telah berlarut-larut.
Namun kedepannya Indonesia harus lebih memfokuskan diri terkait konflik yang tengah
berkecamuk di Timur Tengah dalam menjaga keamanan selaku posisinya dalam DK PBB.
Indonesia menyadari kapasitasnya sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di
dunia dan memiliki kedekatan emosional yang tinggi terhadap negara-negara luar khususnya di
kawasan Timur Tengah untuk itu Indonesia mengambil langkah dalam mengetengahi konflik
Arab-Israel, serta konflik Palestina-Israel.
Selain itu peran Indonesia dalam DK PBB terus berkelanjutan mendukung terciptannya
perdamaian di Timur Tengah khususnya dalam upaya memberikan kemerdekaan bagi rakyat
Palestina dalam membentuk negara Palestina yang berdaulat, langgeng dan hidup berdampingan
secara damai dengan Israel.
Tahun 1967 dan 1973 Indonesia mengeluarkan Resolusi DK-PBB NO. 242 dan DK-PBB
338 yang secara garis besar berisi Pengembalian tanpa syarat semua wilayah Arab yang
diduduki Israel dan pengakuan-pengakuan atas hak sah rakyat Palestina untuk menentukan
nasibnya sendiri serta mendirikan negara di atas tanah airnya sendiri dengan Al-Quds dan AsSharif (Jerusalem) sebagai ibukotanya.

Dari : www.bappenas.go.id/get-file-server/node/6197/ Diunduh : Pada sabtu, tanggal 19 November 2011, pukul 14.49 WIB
dengan sedikit perubahan.

Resolusi tersebut sengaja dibentuk sebagai upaya Indonesia dalam menciptakan perdamaian di
Timur Tengah serta menyambut baik resolusi-resolusi yang dikeluakan oleh OKI, Konfrensi

Perdamaian Madrid 1991, OSLO 1993, Sharm Al Sheikh 1999, Inisiatif Perdamaian Liga Arab
2002, serta Peta Jalan Perdamaian yang digagas oleh AS, Rusia, PBB, Uni Eropa diharapkan
mampu mengembalikan perdamaian di Timur Tengah secara utuh.
Indonesia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel terkhusus bidang instansi
pemerintahan maupun simbol kenegaraan dengan tetap mengijinkan hubungan bisnis dan rakyat.
Menyikapi serangan Israel di Qana, dan Lebanon Selatan Indonesia mengutuk tindak kriminal
Israel yang dianggap sudah di luar batas kemanusiaan. Tindakan Israel yang telah menyerang
rakyat sipil merupakan pelanggaran dalam aturan peperangan dan telah melanggar Hukum
Internasional yang telah ditetapkan. Tindakan tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusiaan secara universal.
2.1.2 Periode 1995-1996
Terpilihnya Indonesia untuk kedua kalinya dalam DK PBB periode 1995-1996
merupakan kepercayaan yang telah diberikan oleh negara-negara luar dan harus dilaksanakan
semaksimal mungkin tugas dan tanggung jawabnya oleh Indonesia. Pada periode tersebut
Indonesia sedang berada pada masa Orde baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.
Keterlibatan Indonesia kedua kalinya dalam DK PBB bertepatan dengan berakhirnya masa
perang dingin di mana telah terjadi perubahan-perubahan tatanan perpolitikan internasional
termasuk perubahan percaturan pada peranan-peranan PBB itu sendiri yang awal mula
terbentuknya PBB terfokus pada peperangan kini beralih fokus pada perdamaian dunia.
Fokus Indonesia sebagai DKK PBB pun mengarah pada penyelesaian sengketa antar
wilayah di berbagai kawasan dunia seperti Asia, Eropa, Amerika. Termasuk kawasan Timur
Tengah seperti konflik antar kelompok di Afganistan, Konflik Israel dan Lebanon di dataran
tinggi Goland, serta pembahasan konstelasi politik Irak dan Kuwait. Secara umum pada periode
1995-1996 Indonesia lebih memfokuskan diri dalam penyelesaian konflik dan sedang
berkecamuk di Timur Tengah.
2.1.3 Periode 2006-2008
Pada tahun 2006 Indonesia mendapat perolehan 158 suara dari total 192 negara di dunia
yang menjadi anggota PBB dan memiliki hak untuk memilih. Kala itu Duta Besar RI Besar
Rezhar Ishar Jennie begitu berantusias menyambut kembali Indonesia sebagai DK PBB untuk

ketiga kalinya dan langsung memberikan selamat kepada para kolega di Majelis Umum PBB
setelah sebelumnya Indonesia pernah memegang mandat di tahun 1974 dan 1995.
Terkait pasca perang dingin perpolitikan dunia semakin antisipasi terhadap
perkembangan nuklir yang telah merenggut jutaan nyawa manusia pada perang tersebut.
Termasuk perlunya berantisipasi pada perkembangan nuklir di masa yang akan datang. Untuk itu
PBB mengkategorikan negara-negara pengembang nuklir untuk terus diawasi khususnya Iran
dan Korea Utara yang sampai saat ini terus memajukan perkembangan nuklirnya. Selama 20062008 DK PBB mengeluarkan resolusi terkait nuklir Iran, Indonesia pun mendapat agenda wajib
dalam pembuatan isi serta sanksi terkait nuklir Iran. Disini lah pertimbangan-pertimbangan yang
cukup berat harus di putuskan Indonesia terkait tugasnya sebagai DK PBB dan pengabdiannya
terhadap kepentingan & tujuan nasionalnya harus dipertaruhkan demi kebaikan bersama.

2.2 Politik Luar Negeri RI Terhadap Krisis Nuklir Iran dalam DK PBB
Perkembangan nuklir Iran telah lama menjadi perbincangan panas di ranah DK PBB.
Lima negara tetap DK PBB dan Sepuluh negara DK tidak tetap PBB serta merta ikut melakukan
pembahasan dalam setiap keputusan-keputusan DK PBB yang dibentuk, walhasil terbentuklah
DK PBB 1737, 1747 dan 1803 di mana resolusi-resolusi tersebut berisikan sanksi tegas terhadap
pengembangan nuklir di Iran.
Sebelum pembentukan resolusi DK PBB 1737 tahun 23 Desember 2006, Badan Tenaga
Atom Internasional ( IAEA ) menyatakan bahwa proses perkembangan teknologi nuklir di Iran
bersifat cendrung tertutup dan tidak transparan. Hal tersebut membuat AS tidak mampu
mempercayai Iran sepenuhnya dan terlebih pasca peristiwa revolusi Iran. AS mengganggap Iran
merupakan negara yang fundamentalis lalu AS segera menarik dukungan pengembangan
nuklirnya di Iran sejak saat itu, meskipun tak lama kemudian tahun 1900 China dan Rusia
membantu mengembangkan kembali aktivitas riset nuklir Iran. 15 negara DK PBB melayangkan
resolusi DK PBB 1737 berisi sanksi untuk segera menghentikan aktivitas nuklirnya di mana
Indonesia pada waktu pembentukan resolusi tersebut belum menjabat sebagai DK PBB.
Memasuki tahun 2007 Indonesia kembali menjabat dalam DK PBB untuk kedua kalinya
dan berpartisipasi dalam kelanjutan dari pembentukan resolusi DK PBB 1747 Pada 24 Maret
2007 masih tentang sanksi tegas nuklir di Iran. Posisi Indonesia saat itu menyetujui

dilayangkannya resolusi tersebut dikarenakan beberapa butir-butir alasan yang telah


dipertimbangkan seperti garis besar pemikiran Hassan Wirajuda yang kala itu menjabat sebagai
Menteri Luar negeri mengatakan bahwa Resolusi 1747 lebih mendorong terwujudnya solusi
damai bagi Iran yang memang sudah lama diupayakan oleh Indonesia, bahkan antara pihak
Indonesia dan Iran selalu melakukan konsultasi sepanjang proses pembentukan resolusi tersebut
di New York .
Dalam proses pembentukan resolusi 1747 negara Qatar maupun Afrika Selatan yang
noktabenenya mantan ketua GNB memilih opsi yang sama dengan Indonesia untuk menyetujui
draft resolusi 1947. Dino Patti Djalal memahami posisi Indonesia yang ikut menyetujui draft
resolusi 1747 dikarenakan beberapa pertimbangan sebagai berikut :
Pertama, Dukungan Indonesia terhadap resolusi 1747 tidak berarti merubah prinsip Indonesia
yakni mendukung hak Iran untuk mengembangkan energi nuklir selama untuk tujuan damai dan
kepentingan sipil bukan militer.
Kedua, Negara Qatar yang menduduki posisi sebagai DK tidak tetap PBB sebagai perwakilan
Timur Tengah sekali pun tetap melakukan dukungan persetujuan terhadap resolusi 1747.
Artiannya beberapa negara-negara di Timur tengah sendiri menghawatirkan perkembangan
nuklir yang begitu signifikan di Iran dan mengharapkan agar Indonesia turut menyetujui resolusi
tersebut. Bahkan kepercayaan masyarakat internasional pun begitu lemah terhadap program
nuklir yang dibentuk Iran meskipun kita mempercayai niat baik Iran. IAEA sebagai badan
Internasional yang berkecimpung di bidang urusan energi nuklir damai masih belum mau
memberikan jaminan resmi bahwa program nuklir Iran benar-benar untuk tujuan perdamaian.
Direktur Jenderal IAEA Mohamed EI Baradaei menyatakan belum bisa mengambil kesimpulan
yang akurat dalam permasalahan ini selama perkembangan nuklir di Iran masih bersifat tertutup
dan tidak transparan. Ini menjadi salah satu dari beberapa pertimbangan yang cukup sulit
sebenarnya bagi Indonesia untuk melakukan dukungan nuklir terhadap negara Iran sendiri.
Ketiga, apapun keputusan yang dilayangkan Indonesia, resolusi 1747 akan tetap gol karena
lima negara pemilik veto DK PBB seperti AS, Inggris, Perancis, Rusia dan China sudah bulat
memajukan rancangan resolusi tersebut.
Resolusi 1747 yang dibentuk oleh 15 negara DK PBB termasuk Indonesia didalamnya
segera dilayangkan kepada Iran. Salah satu yang menjadi alasan mengapa Indonesia akhirnya

setuju terhadap bentuk resolusi tersebut agar Indonesia berpartisipasi didalam proses
perancangannya sehingga dapat memasukan unsur-unsur politis dan strategis dalam
pemodifikasian, membuat lebih konstruktif, berimbang, serta memberikan peluang bagi Iran
untuk kembali merundingkan persoalan nuklir tersebut ketimbang Indonesia menolak resolusi
dan berdiam diri tanpa mampu menghalangi terbentuknya resolusi tersebut.
Pada tahun 2008 DK PBB kembali merancang resolusi 1803 yang secara garis besar
berupa pemberatan sanksi kepada Iran dalam masalah program pengayaan uranium,
pembangunan reaktor nuklir, Larangan berpergian bagi pejabat Iran, Perluasan pembekuan aset
negara Iran, larangan pemroduksian barang yang kurang dari satu manfaat, kredit eksport,
pemantauan keuangan dan pemeriksaan barang atas pesawat dan kapal Iran. Namun pada saat
proses pembentukan resolusi tersebut Indonesia memilih keputusan yang cerdas untuk bersikap
abstain keputusan tersebut diambil untuk meminimalisir pergolakan yang terjadi di dalam negeri
kita dan memperbaiki citra kita dalam jalinan diplomatik dengan negara Iran sendiri khususnya
diakhir masa jabatan Indonesia sebagai DK PBB tidak tetap di tahun 2008. Itulah beberapa
resolusi-resolusi yang dihasilkan Indonesia selama menjabat sebagai DK PBB dalam
menanggapi persoalan nuklir di Iran dan selanjutnya kita akan mengulas jalinan bilateral
Indonesia dengan Iran pada masa pra dan pasca dikeluarkan resolusi-resolusi yang membawa
negara tersebut.
2.2.1 Politik Luar negeri Indonesia terhadap Iran dan Timur Tengah
Prof. Drs. Muhammad Rizza Sihbudi sebagai peneliti utama bidang perkembangan
politik internasional mengklasifikasikan fase keterkaitan hubungan kedekatan RI-Iran sebagai
negara penghasil minyak terbesar setelah Arab Saudi pasca revolusi Islam Iran 1979 yaitu :
Fase pertama antara tahun 1979-1988 di mana Indonesia menjaga jarak dengan Iran
diakibatkan dampak revolusi Iran akan berpengaruh bagi negara Indonesia mengingat penduduk
negara kita mayoritas muslim dan cukup banyak pengakuan para pemuda bangsa yang
mengagumi peristiwa tersebut. Indonesia semakin menjaga jarak dan bersifat netral pada konflik
Irak-Iran (1980-1988 ), konflik Arab Saudi-Iran, konflik Riyad-Teheran, dan tragedi Mekkah
( 1987) guna menjaga hubungan baik dengan negara-negara tersebut di mana rakyat Indonesia
lebih pro kepada Arab Saudi kala itu.

Terjadinya sebuah masa transisi bagi perpolitikan Iran pasca perubahan politiknya sendiri,
berakhirnya perang Irak-Iran, dan wafatnya Imam Khomeini, serta naiknya kaum moderat di
bawah pimpinan Akbar Hashemi Rafsanjani, terusirnya selogan ekspor revolusi Iran cukup
mendorong arus politik dalam maupun luar negeri Iran. Terbukti pada Juni 1990 Menteri
Perdagangan Arifin Siregar mengunjungi Iran atas undangan dari Menteri Perdagangan Iran
Abdol Husein dalam membahas misi perdagangan, September 1990 Kepala Badan Atom
Nasional Dr Amrollahi menghadiri seminar tentang proyek nuklir negara-negara berkembang di
Jakarta, pada bulan yang sama Penasihat Presiden Iran Alireza Maoyeri berkunjung ke Jakarta
untuk menyampaikan pesan kepada Presiden Soeharto untuk berkunjung ke Iran, dua bulan
kemudian Menteri perdagangan Iran berkunjung ke Indonesia dalam rangka perpanjangan MOU
Counter Trade, dan masih banyak lagi sejumlah menteri Indonesia yang melakukan lawatan ke
Iran seperti menteri perdagangan, menteri luar negeri dalam rangka mempererat jalinan bilateral
kedua negara tersebut pasca revolusi Iran. Hal tersebut menunjukan bahwa kedekatan Indonesia
dengan Iran pasca revolusi Islam Iran bisa dikatakan begitu Intens.
Terkait politik luar negeri Indonesia terhadap nuklir Iran Indonesia bersiakap netral dan
mendukung Iran mengembangkan teknologi nuklirnya dengan tujuan perdamaian. Iran telah
menandatangani NPT dalam kepemilikan hak untuk mengembangkan teknologi nuklir sehingga
dianggap memiliki hak yang seharusnya sama pula dengan negara-negara lainnya yang
melakukan

pengembangan

teknologi

nuklir.

Indonesia

selalu

memfokuskan

status

pengembangan nuklir Iran sebagai pertimbangan dalam masalah keamanan dan perdamaian.
Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selalu menyerukan pentingnya dialog terkait
nuklir Iran untuk tidak menerapkan hard power dalam penyelesain masalah yang justru semakin
memperburuk keadaan seperti kasus Palestina dan Irak yang kunjung tidak ditemukan jalan
keluarnya. Dengan tetap meningkatkan rasa nasionalitasnya Indonesia tidak membabibuta
mendukung teknologi nuklir Iran namun masih terus melakukan pertimbangan agar tidak terjadi
salah langkah.
Adapun faktor lingkungan domestik di dalam negeri Indonesia sendiri turut
mempengaruhi politik luar negeri Indonesia terutama dalam pengambilan keputusan resolusi DK
PBB 1747 dan 1803 terkait nuklir di Iran di mana terjadi penolakan dari organisasi-organisasi
Islam HTI, NU, ICMI dan lain sebagainya menganggap bahwa politik luar negeri Indonesia telah
mengabaikan realitas terhadap keadilan Iran dan kedaulatan Palestina padahal UUD 1945 telah

menyebutkan untuk menjamin kemerdekaan bagi setiap bangsa dan penjajahan di atas dunia
harus dihapuskan. ICMI menambahkan sangat disesalkan tindakan Indonesia menyetujui resolusi
1747 yang artiannya Indonesia tidak mempertimbangkan aspirasi negara-negara OKI dan dapat
menghadirkan ancaman baru bagi ketegangan wilayah di timur Tengah. Penolakan yang
dilakukan sebagian besar massa Islam di Indonesia menjadi pembelajaran kedepannya bagi
pemerintah kita sehingga tidak dapat dipungkiri jika jumlah mayoritas muslim di negara kita
turut mempengaruhi dalam pengambilan kebijakan terkait permasalahan di Timur tengah bila
kita memflashback ke belakang kedekatan emosional bangsa kita turut berpengaruh baik itu
sejarah masuknya Islam di Indonesia ketika abad ke 10 hingga abad ke 13 yang menjadikan
bangsa kita memiliki rasa keterikatan yang kita ketahui bahwa negara-negara Timur Tengah
dikenal dalam kaitannya dengan aspek negara Islam .
Dan dalam pelaksanaan politik luar negerinya setiap negara tidak dapat mengabaikan
kepentingan nasionalnya yang mana politik luar negeri adalah cerminan politik dalam negeri
sebuah negara itu sendiri. Berkaitan dengan kasus pengembangan nuklir Iran kepentingan
Indonesia terhadap negara tersebut tentu saja masih diharapkan, Indonesia berniat membangun
teknologi nuklir dengan Iran sebagai partnernya selain dari pada negara-negara maju seperti AS,
Eropa ataupun China. Selanjutnya peningkatan jalinan bilateral dengan negara Iran semakin
intens pada tahun 2007 Januari hingga Oktober nilai perdagangan kedua negara tersebut
mencapai 347.835,1 Dollar AS dan nilai impor sebesar 61.619,4 Dollar AS.
Dukungan Indonesia terhadap resolusi 1747 kala menjabat sebagai DK PBB sempat
mendapat protes keras dari pihak eksekutif dan legislatif Indonesia yang juga oleh wakil rakyat
( parlemen ) langsung menggunakan hak interpelasinya. Fraksi PKS menyesalkan dukungan
Indonesia terhadap resolusi 1747 yang menurut mereka resolusi tersebut semakin memperkuat
posisi Israel di Palestina dan Lebanon karena pasokan senjata pejuang perang kedua negara
tersebut berasal dari Iran.
M C Ricklefs, 1981, A History of Modern Indonesia, London : The Macmillan Press., Hal. 3.

Menurut Hilman Rosyad Syihab yang menjabat sebagai Fraksi PKS dan anggota komisi I
DPR RI bahwa resolusi 1747 hanya akan memberikan legitimasi kepada Amerika Serikat (AS)
untuk memperlemah kekuatan militer Iran sebelum melakukan intervensi terhadap pimpinan
Mahmoud Ahmadinejad, hal tersebut terjadi serupa kepada Irak dengan reolusi DK PBB menjadi
senjata awal bagi AS memperlemah militer Irak sebelum invansi 2003. DK PBB juga tidak mau

memberikan sanksi bagi program nuklir Israel yang pada kenyataannya negara tersebut telah
mengakui pengembangan dan kepenggunaan nuklir di negaranya yang mencapai 3.000 huu ledak
nuklir dan karena ketidaktegasan sanksi tersebut Israel semakin percaya diri mempertahankan
kebijakan kolonialnya di atas tanah Arab. Karenanya keputusan pemerintah untuk
menandatangani resolusi 1747 merupakan pengabaikan kerealitasan negara Iran yang telah
diperlakukan tidak adil dan kedaulatan Palestina semakin terancam padahal pembukuan UUD
1945 telah menjamin kemerdekaan bagi setiap bangsa dan menyatakan bahwa penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan.
Faktor eksternal yang menjadi pertimbangan politik luar negeri Indonesia berupa
hubungan bilateral kedua belah negara yaitu antara Indonesia dengan Iran tidak mengalami
halangan yang begitu berarti dan terjalin erat sejak era Soekarno hanya saja ketika Revolusi
Islam Iran 1979 sempat terjadi kerenggangan dan pasca peristiwa tersebut jalinan kedua belah
negara kembali normal termasuk di beberapa organisasi internasioanl layaknya OPEC dan OKI.
Sikap netral dan berdiri sendiri tetap diupayakan Indonesia dalam menjaga nama baik dengan
negara-negara dunia ke-3, kesamaan sejarah dan nasib menjadikan bangsa Indonesia lebih respek
terhadap negara-negara di Timur Tengah. Serta tidak adanya tekanan dari pihak Rusia, China, AS
dan sekutunya memberi keleluasaan bagi Indonesia untuk bersikap sama terhadap negara-negara
lain.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Krisis nuklir di Iran membawa permasalahan tersebut ke dalam ranah DK PBB di mana
negara tersebut bersikukuh untuk tetap melanjutkan riset pengembangan teknologi nuklirnya dan
mengikutsertakan negaranya dalam keanggotaan kepemilikan nuklir. Hal tersebut semakin
memperuncing permasalahan antara negara AS sebagai ketua PBB yang bertanggung jawab
dalam bidang keamanan ( security ) dan perdamaian ( peace ) terhadap negara Iran. IAEA
sebagai badan pengawas atom internasional menyatakan bahwa Iran tidak mau bersikap
transparan dan terbuka dalam pengembangan riset nuklirnya membawa kasus nuklir Iran ke
dalam ranah PBB.

Posisi Indonesia yang saat itu tengah menjabat sebagai DK PBB periode 2006-2008 bisa
dikatakan berada pada dilema yang begitu pelik di satu sisi Indonesia dituntut kepartisipasian
dalam penindakan tegas nuklir Iran dan di sisi lain terdapat ikatan emosional yang begitu erat
antara Indonesia dengan Iran apabila mengingat persamaan sejarah bangsa Indonesia yang
banyak dipengaruhi oleh keberadaan negara-negara di Timur Tengah.
Kecermatan Indonesia dalam menyelesaikan ketegangan nuklir antara Iran membuat
Indonesia harus bersikap ganda terkait pembuatan resolusi DK PBB no. 1747 dan 1803 yang
memberikan sanksi tegas terhadap pengembangan nuklir di negara tersebut. Sikap ganda tersebut
dipengaruhi oleh faktor pro dan kontra dari dalam negeri berupa penolakan sebagian masyarakat
Indonesia terhadap resolusi tersebut yang menginginkan bangsa Indonesia untuk tidak
mengabaikan rasa rasionalitas terhadap kedaulatan Iran dan Palestina sesuai dengan UUD 1945
telah menyebutkan untuk menjamin kemerdekaan bagi setiap bangsa dan penjajahan di atas
dunia harus dihapuskan. Oleh sebab itu kedepannya dalam memaksimalkan peranan Indonesia
dalam DK PBB maupun peranan bagi rakyatnya pemerintah Indonesia harus tetap
mempertimbangkan setiap aspirasi yang diinginkan oleh rakyatnya agar penyebaran setiap
kebijakan-kebijakan mampu selaras dan sejalan antara rakyat dengan pemerintah. Adapun
kepentingan Indonesia di bidang ekonomi dan terutama di bidang teknologi dalam
pengembangan nuklir di Indonesia dan Iran menjadi salah satu negara penyokong bagi Indonesia
Terakhir faktor eksternal juga masuk ke dalam pertimbangan politik luar negeri Indonesia dalam
menjalankan amanatnya di DK tidak tetap PBB maupun jalinan bilateral Indonesia-Iran sehingga
diharapkan eksistensi Indonesia tetap terjalin dengan baik dengan negara dunia ketiga dan di
mata internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Rudy, May (1993) . Administrasi Dan Organisasi Internasional. Bandung : PT Rafika Aditama.
Astrid (2011) . Sejarah Perang-Perang Besar Di Dunia. Yogyakarta : Familia Pustaka Keluarga.
Bixby, Asgar (1993) . Timur Tengah Di Kancah dunia. Bandung : Sinar Baru Algesindo Bandung
Permana, Dana (2009) . Politik Luar Negeri Indonesia Dan Dewan Keamanan PBB. Melalui :

M C Ricklefs (1981) . A History of Modern Indonesia, London : The Macmillan Press.