Anda di halaman 1dari 11

JOURNAL READING

Nonoperative Treatment With Antibiotics Versus


Surgery for Acute Nonperforated Appendicitis
in Children
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Bedah
RSUD RAA. Soewondo Pati

Disusun oleh :
Ricky Zafirianto

12116505

Ainun Nafis Dwi Ramadani

30101206565

Pembimbing :
dr. Widi Antono, Sp.B, M.Kes.

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2016

Terapi Non-Operasi dengan Antibiotik


Dibandingkan dengan Pembedahan pada
Apendisitis Akut Non-Perforasi pada Anak-Anak
ABSTRAK
Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kelayakan dan
keamanan pengobatan nonoperatif apendisitis akut nonperforasi
berupa
pemberian antibiotik pada anak-anak.
Metode : Sebuah penelitian dengan rancangan pilot RCT dilakukan untuk
membandingkan pengobatan nonoperatif dengan antibiotik versus operasi
(apendiktomi) untuk apendisitis akut pada anak-anak. Pasien dengan pencitraan
yang dikonfirmasi apendisitis akut nonperforasi yang biasanya harus dilakukan
apendiktomi emerjensi diacak baik terhadap pengobatan dengan antibiotik atau
operasi. Follow-up dilakukan selama 1 tahun.
Hasil : Lima puluh pasien yang terlibat; 26 diacak mendapatkan pengobatan
operasi dan 24 mendapatkan pengobatan nonoperatif dengan antibiotik. Semua
anak dalam kelompok operasi memiliki histopatologi yang sudah dikonfirmasi
apendisitis akut, dan tidak ada komplikasi yang signifikan pada kelompok ini.
Dua dari 24 pasien dalam pengobatan nonoperatif mendapatkan apendiktomi dari
jarak waktu pertama mendapatkan antibiotik primer dan satu pasien setelah 9
bulan mengalami apendisitis akut berulang. Enam pasien lainnya menjalani
apendiktomi karena nyeri abdominal berulang (n=5) atau pengobatan parenteral
(n=1) selama periode follow-up, tidak ada dari 6 pasien ini mengalami apendisitis
terbukti dari pemeriksaan histopatologi.
Kesimpulan : Dua puluh dua dari 24 pasien (92%) yang diobati dengan antibiotik
memiliki resolusi awal dari gejala. Dari jumlah 22, hanya 1 pasien (5%)
mengalami kekambuhan apendisitis akut selama periode follow-up. Secara
keseluruhan, 62% pasien tidak medapatkan apendiktomi selama periode followup. Studi ini menunjukkan bahwa pengobatan nonoperatif apendisitis akut pada
anak-anak adalah layak dan aman dan bahwa penyelidikan lebih lanjut
pengobatan nonoperatif dijamin keabsahannya.
Kata kunci: antibiotik, apendisitis, anak-anak, RCT, pembedahan

Latar belakang
Apendisitis akut adalah penyakit yang paling umum membutuhkan
pembedahan emergensi pada anak-anak. Secara tradisional, standar pengobatan
untuk apendisitis akut adalah apendiktomi. Namun demikian, ada perhatian yang
sedang berkembang pada pengobatan nonoperatif untuk apendisitis akut
nonperforasi yaitu dengan pemberian antibiotik. Beberapa penelitian RCT telah
dilakukan pada orang dewasa dan penelitian-penelitian ini sudah disubjektifkan
untuk penelitian meta-analisis. Data yang dihasilkan menunjukkan bahwa
pengobatan antibiotik bisa menjadi cara pengobatan yang efektif untuk orang
dewasa dengan apendisitis akut nonperforasi dan bahwa mendekati 75% dari
pasien tidak membutuhkan apendiktomi sama sekali, baik selama permulaan
penyakit atau selama tahun pertama dari follow-up. Nanum demikian, sebuah
review dari Cochrane menyimpulkan bahwa penelitian-penelitian dengan design
RCT dibutuhkan untuk dilakukan.
Pada anak-anak, meskipun terdapat beberapa penelitian dari pengobatan
awal konservatif untuk apendisitis perforasi, data dari pengobatan konservatif
untuk apendisitis akut nonperforasi pada anak-anak hanya sedikit. Satu-satunya
penelitian pembanding yang dipublikasikan adalah retrospektif dan belum jelas
kriteria diagnostik dan pengobatannya. Dengan catatan, belum ada penelitian RCT
yang menginvestigasi pengobatan untuk apenditis akut nonperforasi pada anakanak.
Sebagai pembukaan ke penelitian RCT besar yang menginvestigasi
keberhasilan pengobatan apendisitis akut nonperforasi pada anak-anak, kami
merancang sebuah penelitian dengan design pilot RCT untuk menginformasikan
rancangan penelitian kami. Tujuan dari penelitian ini untuk (1) mengevaluasi
kelayakan dari perekrutan anak-anak dengan apendisitis akut kepada sebuah RCT
yang membandingkan pengobatan nonoperatif dengan apendiktomi, (2)
mengevaluasi keamanan dari pengobatan nonoperatif dengan antibiotik untuk
apendisitis nonperforasi pada anak-anak, dan (3) menghasilkan data untuk
keberhasilan penelitian selanjutnya.
METODE
Rancangan Penelitian
Penelitian ini membandingkan pengobatan nonoperatif (antibiotik) dengan
tindakan operasi untuk apendisitis akut nonperforasi pada anak-anak. Diagnosis
dilakukan dengan cara kombinasi dari gejala klinis dan pencitraan. Semua anak
menjalani scan ultrasound abdominal, dan CT scan yang dilakukan ketika terdapat

ketidakpastian diagnostik. Umur, jenis kelamin, durasi gejala, suhu tubuh, dan
protein C-reaktif, sel darah putih, dan konsentrasi neutrofil dicatat.
Partisipan
Semua anak yang berumur antara 5 dan 15 tahun dengan diagnosis klinis
apendisitis akut yang sebelum penelitian sudah direncanakan untuk apendiktomi,
termasuk appendicolit, adalah memenuhi syarat. Kriteria eksklusi adalah (1)
kecurigaan apendisitis perforasi berdasarkan pada peritonitis general; (2) sebuah
massa appendiceal, yang didiagnosa dengan pemeriksaan klinis dan/atau
pencitraan; atau (3) pengobatan nonoperatif sebelumnya dari apendisitis akut.
Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Astrid Lindgren Childrens Hospital, Karolinska
University Hospital, Stockholm, Sweden. Rumah sakit ini adalah satu-satunya
rumah sakit dengan pelayanan bedah anak yang berjarak antara area the greater
Stockholm dan melayani populasi dengan jumlah mendekati 2,5 juta penduduk.
Intervensi
Pendaftaran dalam penelitian ini adalah setelah dokter bedah membuat diagnosis
apendisitis akut, semua pasien dan keluarganya menerima informasi tertulis dan
oral mengenai penelitian, dan semua pasien dan keluarganya disediakan inform
konsen tertulis untuk berpartisipasi. Anak-anak dengan apendisitis akut
nonperforasi secara acak dialokasikan baik untuk apendiktomi maupun
pengobatan dengan antibiotik. Semua pasien yang dialokasikan untuk dilakukan
pembedahan menerima antibiotik profilaksis yaitu 20 mg/kg metronidazole.
Antibiotik lanjutan kelompok ini tergantung pada keparahan apendisitis dalam
persetujuan dengan praktek kelembagaan. Kasus dengan apendisitis simple atau
phlegmonous tidak menerima antibiotik lanjutan, pasien dengan apendisitis
gangren menerima 24 jam intravena trimethoprim/sulfametoxazol/metronidazole,
dan pasien dengan apendisitis perforasi menerima paling sedikit 3 hari intravena
trimethoprim/sulfametoxazol/metronidazole, tergantung pada perjalanan klinis.
Cara perlakuan dari dokter bedah (open atau laparoskopi) tidak ditetapkan di
dalam protokol penelitian. Anak-anak yang dialokasikan untuk pengobatan
antibiotik diberi intravena meropenem (10 mg/kg x 3 per 24 jam) dan
metronidazole (20 mg/kg x 1 per 24 jam) untuk paling sedikit 48 jam. Ketika anak
secara klinis sudah bisa dengan baik mempunyai toleransi untuk menerima obat
secara oral, pengobatan diubah ke oral ciprofloxacin (20 mg/kg x 2 per 24 jam)
dan metronidazole (20 mg/kg x 1 per 24 jam) untuk 8 hari lainnya. Protokol
menetapkan bahwa anak-anak harus dipuasakan untuk 24 jam pertama, tetapi pada

praktisnya, kami menemukan ini sulit diterapkan karena anak-anak secara klinis
baik dan menuntut untuk minum dan makan lebih awal. Kriteria untuk
membebaskan adalah sama untuk kedua kelompok perlakuan, yaitu mereka yang
afebris selama 24 jam, dengan atau tanpa antibiotik oral, adekuat pereda nyeri
dengan analgesik oral, menolerir diet ringan, dan gerakan.
HASIL
Hasil primer adalah proporsi dari anak-anak pada masing-masing
kelompok yang mengalami resolusi gejala tanpa komplikasi yang signifikan.
Hasil ini dipilih karena bisa diterapkan untuk kedua kelompok pengobatan dan
komplikasi yang signifikan dilihat sepanjang masa rawat inap di rumah sakit lebih
dari 7 hari, pembentukan abses, kebutuhan untuk apendiktomi selama 2 hari pada
kelompok antibiotik, apendisitis berulang selama 3 bulan, dan negatif
apendiktomi. Hasil sekunder diukur pada saat pengacakan sampai pembebasan
dari penelitian, komplikasi (infeksi luka, diare, dst), dan apendisitis berulang
selama 1 tahun dari pengcakan. Untuk memonitor anak-anak yang direkrut ke
dalam penelitian dan untuk pengumpulan data, semua partisipan dilihat di luar
klinik pada 4 sampai 6 minggu setelah pembebasan dari penelitian, dengan
follow-up lebih lanjut pada 3 dan 12 bulan setelah pengacakan. Karena kami
menemui kesulitan-kesulitan mendapatkan pasien untuk kembali ke klinik pada 1
tahun setelah pengacakan, kami menerima interview telepon dengan salah satu
orang tua pasien selama 1 tahun follow-up. Tujuan spesifik dari follow-up 1 tahun
ini adalah untuk mengidentifikasi episode berulangnya apendisitis dan anak-anak
yang mendapatkan apendiktomi karena gejala berulang atau permintaan pasien di
rumah sakit lain. Sebagai hasil, selama 1 tahun semua pasien mengikuti
penelitian. Total biaya dari pengobatan dihitung secara pragmatis, sebagai cara
penukaran biaya berbeda antara negara dan sistem. Total jumlah per partisipan
dihitung sebagai biaya per hari dari perawatan rumah sakit, biaya dari penggunaan
ruangan operasi, dan biaya untuk intravena dan antibiotik oral untuk kelompok
pengobatan nonoperatif.
Ukuran Sample
Karena ini adalah penelitian pilot, kami tidak melakukan kekuatan kalkulasi.
berdasarkan pada banyaknya kasus mendekati 400 kasus dan mengestimasikan
perekrutan 1/3 dari kasus yang bisa dimasukkan ke dalam penelitian, kami
bertujuan untuk memasukkan 50 pasien dengan jarak periode 6 bulan.

Randomisasi
Alokasi grup (rasio 1:1) dibuat berdasarkan berat badan pada saat penelitian
menggunakan kriteria berikut: umur (5-10 tahun atau 11-15 tahun), jenis kelamin
(laki-laki atau perempuan), dan durasi gejala (<48 atau >-48 jam). semua faktor
disamakan berat badannya. pengacakan dilakukan dengan menggunakan program
computer-based randomization (Simin v 6.0; Institue of Child Health, London),
dilakukan rangkaian pengacakan.
Blinding
Karena ini adalah penelitian yang membandingkan pembedahan dan pengobatan
nonoperatif dengan antibiotik, tidak dipertimbangkan kemungkinan atau
kepantasan untuk mem-blind-kan pasien, orang tua, atau dokter bedah.
Metode Statistik
Data dipresentasikan sesuai dengan proporsi partisipan atau median (range), data
dibandingkan menggunakan test Mann-Whitney U atau Fisher jika
memungkinkan, menggunakan IBM SPSS Statistik version 22. percobaan ini
berdasarkan pada CONSORT.
Persetujuan Etika
Disetujui oleh Reginal Ethics Review Board (referensi No. 2011/1234-31/4)
RESULT
Penelitian dibuka pada 7 Februari 2012, dan perekrutan partisipan terakhir
pada 17 Februari di tahun yang sama. Satu tahun follow-up diakhiri pada 25
Oktober 2013. selama periode penelitian, 225 anak dengan diagnosis klinis
apendisitis sebelum diadakan penelitian dilakukan apendiktomi sesuai dengan
peraturan institusi. Total dari 174 tidak diikutkan ke dalam penelitian karena
alasan pada tabel 1. Sebagai tambahan untuk mendefinisikan kriteria eksklusi dan
pertidaksetujuan untuk berpartisipasi, 2 anak dieksklusi berdasarkan pada
penemuan CT scan, satu dengan suspek tumor karsinoid di apendiks dan satu
dengan apendisitis atau diverkulitis Meckel yang tidak bisa dibedakan. Secara
keseluruhan, 52 dari 129 anak (40%) yang orangtuanya diberi pertanyaan apakah
mereka akan menyetujui anaknya dalam penelitian. Setelah persetujuan untuk
berpastisipasi, ada kegagalan dari program randomisasi komputer berefek pada 1

kasus (anak ini tidak dimasukkan ke dalam penelitian) dan 1 kasus orang tua
karena alasa pada tabel 1. Sebagai tambahan untuk mendefinisikan kriteria
eksklusi dan pertidaksetujuan untuk berpartisipasi, 2 anak dieksklusi berdasarkan
pada penemuan CT scan, satu dengan suspek tumor karsinoid di apendiks dan satu
dengan apendisitis atau diverkulitis Meckel yang tidak bisa dibedakan. secara
keseluruhan, 52 dari 129 anak (40%) yang orangtuanya diberi pertanyaan apakah
mereka akan menyetujui anaknya dalam persetujuan penelitian. Setelah
persetujuan untuk berpastisipasi, ada kegagalan dari program randomisasi
komputer berefek pada 1 kasus (anak ini tidak dimasukkan ke dalam penelitian)
dan 1 kasus orang tua menarik diri dari persetujuan untuk berpartisipasi setelah
alokasi pengobatan. Anak ini dikeluarkan dari penelitian. Untuk mengganti
sample yang keluar, partisipan tambahan direkrut untuk mencapai target sebanyak
50 sampel.
Partisipan memiliki karakteristik demografi serupa dan masuk baik ke
anak-anak yang orang tuanya menolak berpartisipasi dan untuk anak-anak yang
tidak diundang untuk berpartisipasi (Tabel 1) kecuali proporsi anak dengan durasi
gejala kurang dari 48 jam secara signifikan lebih rendah pada kelompok peserta
yang tidak ditawarkan untuk berpartisipasi dalam penelitian. Alasan untuk ini
adalah jelas, meskipun ada kemungkinan bahwa ahli bedah merasa bahwa ada
yang lebih jelas perlu melakukan operasi usus buntu pada anak-anak dengan
gejala yang lebih lama. Kelompok operasi dan kelompok antibiotik memiliki
demografi yang sama dan masuk karakteristik (Tabel 2). Semua pasien memiliki
setidaknya 1 pemeriksaan USG, 1 mempunyai scan ultrasound kedua, dan 4
memiliki CT scan setelah ultrasound scan awal. Alasan untuk pemeriksaan ulang
itu, dalam semua kasus, bahwa apendisitis tidak terlihat pada pemeriksaan awal.
HASIL UTAMA
Semua anak diacak untuk operasi laparoskopi apendiktomi dengan teknik 3-port.
pemeriksaan histologi mengkonfirmasi diagnosis apendisitis akut dalam semua
kasus (yaitu, tidak ada apendisitis negatif, 21 apendisitis phlegmonous, 3
apendisitis gangren, dan 2 apendisitis perforasi), dan tidak ada komplikasi yang
signifikan dalam kelompok ini.
Semua anak diacak untuk pengobatan nonoperatif dengan antibiotik menerima
antibiotik per protokol. Dua dari anak-anak ini memiliki komplikasi yang
signifikan. Satu anak menjalani apendiktomi awal pada hari ke-2, karena gejala
telah gagal diperbaiki; makroskopik appendix normal telah disingkirkan dan anak
memiliki diagnosis limfadenitis mesenterika. Pemeriksaan histologi apendisitis
adalah normal. Pasien ini telah memiliki pemindaian ultrasound yang tidak
meyakinkan dan CT scan sugestif apendisitis dengan struktur pengukuran tubular

9 sampai 10 mm. Laporan akhir tentang CT scan ini (dilakukan setelah operasi)
diubah menjadi penyelidikan negatif. Seorang anak kedua kembali ke unit gawat
darurat pada hari ke-9 setelah pengacakan dengan sakit perut sedang setelah
antibiotik sukses sebagai awal pengobatan sesuai dengan protokol penelitian.
USG memindai memperlihatkan tanda-tanda peradangan yang sedang
berlangsung, dan awalled-off apendisitis perforasi ditemukan pada saat
laparoskopi. Hasil primer adalah serupa dalam setiap kelompok kelompok
[apendisitis 26/26 (100%) vs kelompok pengobatan nonoperatif 22/24 (92%); P =
0,23].

HASIL SEKUNDER
Selama masa follow-up 1 tahun, tidak ada komplikasi kecil atau signifikan
pada kelompok operasi apendiktomi. Pada kelompok pengobatan nonoperatif,
tidak ada komplikasi minor. Namun, 1 anak menjalani apendiktomi untuk
pemeriksaan secara histopatologi mengkonfirmasi apendisitis akut berulang 9
bulan setelah randomisasi dan 1 anak asimptomatik menjalani (secara
histopatologi normal) apendiktomi sesuai permintaan orangtua. Lebih lanjut 5
anak kembali dengan nyeri perut ringan dan menjalani laparoskopi apendiktomi di
dokter bedah dan kebikjasanaan orangtua. Semua memiliki variasi fibrosis tapi
tidak ada peradangan. Dalam semua kasus, gejala diperbaiki setelah operasi. Oleh
karena itu, setelah 1 tahun foloow-up, 15 dari 24 anak (62%) dari randomisasi
yang mendapatkan pengobatan antibiotik tidak menjalani apendiktomi.
Dua belas anak memiliki diagnosis appendicolith pada pencitraan, 7 dari
26 pada kelompok apendiktomi dan 5 dari 24 pada kelompok pengobatan
nonoperatif (P = 0,74). Dari 5 anak dengan appendicolith pada kelompok
pengobatan nonoperatif, 3 menjalani apendiktomi (tidak seperti kegagalan utama,
1 karena apendisitis akut berulang, 1 karena gejala berulang tanpa apendisitis, dan
1 atas permintaan orang tua). Demikian, pada kelompok pengobatan nonoperatif,
2 anak dengan appendicolith tidak menjalani apendiktomi dalam waktu 1 tahun
follow-up, dan dari total 9 yang telah menjalani operasi apendiktomi, hanya 3
memiliki appendicolith pada pencitraan di presentasi awal.
Waktu dari pengacakan ke pembebasan aktual pulang ke rumah dihitung
untuk setiap peserta. Median waktu secara signifikan lebih pendek pada kelompok
operasi [34,5 (16,2-95,0) jam] daripada kelompok pengobatan nonoperatif [51,5
(29,9-86,1) jam] (P =0,0004). Meskipun demikian, biaya untuk awal rawat inap
secara signifikan lebih rendah untuk kelompok pengobatan nonoperatif [30732
(18,980- 63.863) SEK] dibandingkan kelompok operasi [45805 (33,042-94,638)
SEK] (P <0,0001).

Total biaya pengobatan, termasuk biaya pasien yang menjalani operasin


apendiktomi selama masa follow-up, mirip pada kedua kelompok pengobatan
nonoperatif 34.587 (19,120-146.552) SEK vs operasi 45.805 (33,042-94,638)
SEK] (P = 0,11).

DISKUSI
Dalam penelitian RCT pilot ini membandingkan pengobatan nonoperatif
dengan pengobatan antibiotik dan operasi apendiktomi apendisitis akut
nonperforasi pada anak-anak, kami telah menunjukkan bahwa pengobatan
nonoperatif layak dan aman. Secara keseluruhan, 40% keluarga yang diminta
untuk berpartisipasi diterima dan terdaftar, menunjukkan bahwa pengobatan
nonoperatif adalah suatu ketertarikan untuk pasien dan keluarga mereka. Kami
menganggap itu mungkin bahwa di masa depan percobaan acak pada anak-anak,
tingkat persetujuan ini bisa diperbaiki, seperti selama penelitian kami tidak dapat
memberikan orang tua bukti keselamatan atau kemanjuran antibiotik saja
sedangkan studi masa depan akan memiliki bukti tersebut dari studi pilot ini. Atas
dasar tersebut tingkat rekrutmen dicapai, kami percaya RCT masa depan akan
layak.
Meskipun studi pilot ini tidak memadai untuk mendeteksi perbedaan
dalam keberhasilan pengobatan, hasil data berguna untuk menginformasikan
penelitian di masa depan. Seperti yang didefinisikan, pengobatan yang efektif
dicapai pada 100% dan 92% pada operasi dan kelompok pengobatan nonoperatif.
Pada kelompok pengobatan nonoperatif, hanya 2 dari 24 pasien gagal memenuhi
kriteria untuk hasil akhir primer. Salah satu dari mereka memiliki limfadenitis
mesenterika, yang berarti gagal untuk merespon antibiotik, karena kondisi ini
pasien tidak membaik dengan pengobatan antibiotik. Yang lain kembali setelah
resolusi awal gejala dengan antibiotik dan ditemukan memiliki apendisitis
perforasi.
Pertimbangan penting bagi dokter bedah dan orang tua setelah sukses
pengobatan nonoperatif apendisitis akut adalah pada lampiran. Dalam studi ini,
kami tidak menawarkan interval apendiktomi rutin. Manfaat potensial dari
pengobatan nonoperatif adalah menghindari apendiktomi (dan anestesi umum
terkait) sama sekali. Agar manfaat ini diwujudkan, tingkat apendisitis berulang
harus rendah dan diterima baik oleh dokter bedah dan orang tua. Dalam penelitian
ini, ada satu kasus secara histologi terbukti apendisitis berulang selama periode
follow-up (5%). Namun, 6 anak lebih lanjut menjalani apendiktomi dalam 1 tahun
masa follow-up untuk alasan lain selain apendisitis akut berulang termasuk salah

satunya adalah permintaan orangtua. Karena ini adalah uji coba pilot strategi
pengobatan baru (antibiotik untuk apendisitis pada anak-anak), kami secara bebas
berkaitan dengan indikasi untuk operasi apendiktomi selama masa follow-up
diantara anak-anak pada kelompok pengobatan nonoperatif. Ada kemungkinan
bahwa pasien dalam kelompok ini tidak akan menjalani operasi jika mereka
mempunyai gejala di luar peraturan penelitian. Hal ini berkontribusi terhadap
tingginya tingkat operasi selama masa follow-up dan menimbulkan pertanyaan
penting tentang apakah ada pengobatan yang tepat untuk usus buntu pada anakanak yang berhasil dipulangkan ke rumah setelah pengobatan nonoperatif.
Karena pengobatan nonoperatif dipertimbangkan setara dengan
apendiktomi, beberapa percaya bahwa panjang rawat inap serupa. Dalam pilot
study ini, panjang pasca-pengacakan rawat inap lebih lama untuk anak-anak pada
kelompok pengobatan nonoperatif dibandingkan anak-anak yang menjalani
operasi apendiktomi. Sebuah penjelasan yang mungkin untuk ini adalah bahwa
kami ditetapkan minimal 48 jam intravena antibiotik dalam protokol kami. Di
masa depan, dimungkinkan untuk mengurangi durasi ini tanpa mempengaruhi
khasiat. Selama analisis data terkait waktu ini, menjadi jelas bahwa penundaan
yang signifikan antara pengacakan dan operasi akan berdampak pada waktu dari
pengacakan untuk pembebasan dan karena itu berpotensi mempengaruhi
penafsiran dari ukuran hasil ini. Penundaan antara pengacakan dan operasi dapat
terjadi karena beban kerja rumah sakit dan / atau saat presentasi, sebagai biasanya
apendiktomi tidak lagi dilakukan sepanjang malam. Median waktu antara
pengacakan dan operasi dalam penelitian ini adalah 5,8 jam tapi dengan range 0,826,2 jam. Ini faktor yang harus dipertimbangkan secara hati-hati dalam RCT
selanjutnya. Meskipun biaya keseluruhan adalah serupa antara 2 perlakuan
kelompok, biaya pengobatan rawat inap awal secara signifikan lebih tinggi pada
kelompok operasi. Dengan demikian, penerimaan tambahan untuk berulang gejala
dalam kelompok pengobatan nonoperatif yang signifikan penentu biaya dalam
kelompok ini. Analisis efektivitas biaya harus dilakukan sebagai bagian dari studi
di masa depan. Meskipun jumlah pasien yang diobati secara nonoperatif adalah
kecil, tidak ada masalah keamanan baik selama masuk akut atau selama masa
follow-up dan uji coba ini memberikan bukti bahwa pengobatan nonoperatif
apendisitis akut adalah tidak aman. karena ini adalah uji coba percontohan dengan
ukuran sampel yang relatif kecil, khasiat data yang dihasilkan harus ditafsirkan
dengan hati-hati. Hal yang paling penting, kami tidak merekomendasikan
pengobatan nonoperatif apendisitis akut sederhana di semua anak sampai
penelitian khasiat skala besar lebih lanjut telah lengkap. Pilot study ini
menunjukkan bahwa apendisitis akut nonperforasi pada anak-anak dapat aman
diobati dengan antibiotik dan itu akan sesuai dan layak untuk melanjutkan ke

serupa yang lebih besar, RCT untuk menentukan kemanjuran pengobatan


nonoperatif dalam populasi.