Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I

PERCOBAAN VIII
PEMBUATAN KALIUM TRIOKSALATO ALUMINAT K3Al(C2O4).3H2O

OLEH :
NAMA

: WA ODE UMI KALSUM

STAMBUK

: F1C1 13 034

KELOMPOK

: V (LIMA)

ASISTEN

: ALWAHAB

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kimia anorganik merupakan salah satu cabang ilmu kimia yang secara umum
menggambarkan sifat-sifat umum dari unsur-unsur periodik. Dalam reaksi-reaksi kimia
anorganik maupun organik diperoleh suatu senyawa baru yang merupakan hasil dari
pengompleksan. Senyawa anorganik ketika direaksikan akan membentuk senyawa
kompleks yang ditandai dengan perubahan warna dan endapan berbentuk kristal.
Senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk dari ion logam yang berikatan
dengan ligan secara kovalen koordinasi. Senyawa kompleks dalam pembentukannya
dipengaruhi oleh ligan dan atom pusat. Ligan merupakan salah satu unsur atau senyawa
yang mampu memberikan elektron bebas untuk berikatan sedangkan atom pusat
merupakan unsur yang mampu menyediakan tempat untuk pasangan elektron yang
berikatan. Dalam senyawa kompleks yang bertindak sebagai atom pusat biasannya adalah
golongan atau unsur-unsur transisi sedangkan ligan biasanya terdiri dari senyawa asam
atau air.
Aluminium ditemukan pada tahun 1827. Aluminium berasal dari kata alumen
yang berarti tawar. Di alam aluminium banyak dijumpai dalam bentuk silikat, yaitu
aluminium silikat (KAlSi3O6) dan mineral kriolit (Na 3AlF6). Aluminium silikat dalam
keadaan murni dikenal dengan tanah liat porselin atau kaolin. Sementara itu, aluminium
silikat kurang murni disebut tanah liat.

Aluminium adalah unsur ketiga terbanyak dalam kulit bumi, tetapi tidak
ditemukan dalam bentuk unsur bebas. Walaupun senyawa aluminium ditemukan
paling banyak di alam, selama bertahun-tahun tidak ditemukan cara yang
ekonomis untuk memperoleh logam aluminium dari senyawanya. Aluminium
adalah logam yang sangat reaktif yang membentuk ikatan kimia berenergi tinggi dengan

oksigen. Dibandingkan dengan logam lain, proses ekstraksi aluminium dari batuannya
memerlukan energi yang tinggi untuk mereduksi Al 2O3. Proses reduksi ini tidak semudah
mereduksi besi dengan menggunakan batu bara, karena aluminium merupakan reduktor
yang lebih kuat dari karbon.
Untuk senyawa kompleks, aluminium dapat membentuk senyawa kompleks
oktahedral seperti misalnya kalium trioksalato aluminat dimana dalam senyawa tersebut
aluminium dapat memperlihatkan unsur trivalensi dengan bilangan koordinasi enam.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka diperlukan praktikum mengenai pembuatan
kalium trioksalato aluminat.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang ingin dikaji dalam percobaan ini adalah bagaimana proses
pembuatan kalium trioksalato aluminat K3Al(C2O4).3H2O ?
C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses
pembuatan kalium trioksalato aluminat K3Al(C2O4).3H2O.
D. Manfaat
Manfaat dari percobaan ini adalah agar dapat mengetahui proses pembuatan
kalium trioksalato aluminat K3Al(C2O4).3H2O.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa kompleks merupakan senyawa yang terbentuk dari ion logam


yang berikatan dengan ligan secara kovalen koordinasi. Ikatan koordinasi
merupakan ikatan kovalen dimana ligan memberikan sepasang elektronnya pada
ion logam untuk berikatan. Ikatan ini terjadi ketika ion logam menyediakan orbital
kosong bagi pasangan elektron ligan untuk berkoordinasi (Elmila, 2011).
Pembentukan kompleks dalam pelaksanaan analisis pembentukan banyak
digunakan reaksi-reaksi yang menghasilkan pembentuk kompleks. Suatu ion atau
molekul kompleks terdiri dari satu atom (ion) digabunglah ligan yang terikat erat
dengan atom (ion) pusat itu. Jumlah komponen-komponen ini dalam kompleks
yang stabil nampak mengsimetri yang sangat tertentu, meskipum ini tidak dapat
ditafsirkan dimikroskop konsep valensi yang klasik. Atom pusat ini ditandai oleh
koordinasi, suatu angka bulat, yang menunjukkan ligan yang dapat membentuk
kompleks yang stabil. Kovalen koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang
tersedia ion pusat disebut bulatan koordinasi (Svehla, 1985).
Beberapa senyawa yang dikristalkan dari larutan airnya, kristal ionnya
membentuk hidrat. Hidrat merupakan zat yang rumus molekulnya mengandung
sejumlah molekul air. Pada beberapa kasus molekul air merupakan ligan yang
terikat langsung pada ion logam. Kemungkinan lain untuk membentuk hidrat ialah
bahwa molekul air dapat bergabung dalam posisi tertentu pada kristal padat tetapi
tidak berhubugan dengan kation dan anion tertentu (Petrucci, 1987).
Senyawa kompleks di laboratorium dapat disintesa dengan mereaksikan ligan
yang merupakan suatu basa dan mempunyai pasangan elektron bebas dengan
logam yang merupakan penerima pasangan elektron yang didonorkan oleh ligan.

Berdasarkan banyaknya elektron yang didonorkan oleh ligan maka ligan dapat
diklasifikasikan menjadi ligan monodendat, ligan bidendat dan ligan multidendat.
Ligan monodendat hanya dapat mendonorkan sepasang elektron yang dimilikinya
ke logam. Ligan bidendat dapat mendonorkan dua pasang elektron yang
dimilikinya ke logam, sedangkan banyak elektron yang didonorkan ke logam pada
ligan multidendat. Ligan-ligan multidentat ini pula yang dapat membentuk
struktur kelat dalam kimia koordinasi oleh karena banyaknya pasangan elektron
yang bisa didonorkan ke logam (Saria, 2012).
Kristalisasi atau penghabluran ialah peristiwa pembentukan partikel-pertikel
zat padat di dalam suatu fase homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai
pembentukan partikel padat di dalam uap, seperti dalam pembentukan salju,
sebagai pembekuan (solidification) di dalam lelehan cair. Kristalisasi juga
merupakan proses pemisahan solid-liquid, karena pada kristalisasi terjadi
perpindahan massa solute dari larutan liquid kepadatan murni pada fasa kristal
(Pinalia, 2011).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Percobaan pembuatan kalium trioksalato aluminat dilaksanakan pada hari
Kamis, tanggal 06 November 2014, pukul 07.3010.00 WITA di Laboratorium
Kimia Anorganik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Halu Oleo, Kendari.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas kimia 250 mL dan
500 mL, gelas ukur 100 mL, batang pengaduk, spatula, corong, pipet tetes, neraca
analitik, statif dan klem dan hot plate.
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades, potongan
aluminium foil, KOH 20%, oksalat dihidrat, etanol dan kertas saring.

C. Prosedur kerja
Prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut :

Oksalat dihidrat

serutan Aluminium

-ditimbang sebanyak 1 gram


dimasukkan kedalam gelas kimia
200 mL
ditambahkan
30 mL KOH 20%
dibiarkan
berbuih
(terjadi
pembebasan
gas
H
)
2
didihkan
sambil
diaduk
sampai
semua
aluminium
larut
disaring

- ditimbang 14 gram
- ditambahkan 10 mL
akuades panas sedikit demi
sedikit

- dicampurkan

- diaduk
- disaring
- didinginkan
- ditambahkan 50 mL etanol pada filtratnya
- didinginkan pada air yang mengalir
- didiamkan selama beberapa hari sampai
Hasil Pengamatan
terbentuk kristal
- dicuci kristal yang terbentuk dengan etanol
50%
- dicatat hasilnya

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan

1. Data Pengamatan
NO

PERLAKUAN

HASIL PENGATAN

1 gram aluminium ditambah Aluminium foil larut dan berubah


dengan 30 mL KOH (larutn 1)
warna menjadi abu-abu dan
melepaskan gas H2

disaring

14 gram oksalat hidrat + air


panas (diaduk sampai larut) + Warna keruh
hasil saringan alumnium

Disaring kembali

Terdapat butiran kristal

Setelah disaring ditambah etanol

Warna putih

Didiamkan 2 jam

kristal

Warna larutan menjadi bening

Reaksi :
Al(s) + 3 H2CO2O4(aq)

K3Al (C2O)3. 3 H2O(aq)

Secara Praktik:
Diketahui bahwa berat kristal yang diperoleh dari praktikum adalah 2,66 gram

Secara teori :

Diketahui : m Al = 1 gram
V KOH= 14 gram

M KOH

X X 1000 g/kg
Mr

0,3 X 2,04 g /cm3 X 1000 g /kg


56 g/mol
0,3 X 2,04 g /cm3 X 1000 g /kg
56 g/mol

= 0,01 mol/cm3
= 0,01 mol/mL
Mol KOH

=MxV
= 0,01 x mol/mL x 30 mL
= 0,3 mol
: m K3Al(C2O4)3.3H2O ?

Ditanyakan

Penyelesaian :
mol

= gr/Ar

Mol Al

= 1 gr/27gr mol-1 = 0.03 mol

Mol H2C2O4 = 7 gr/90gr mol-1 = 0.07 mol


Mol KOH

= 14gr/56 gr mol-1 = 0.25 mol

Al (s)

+ KOH (Aq) + 3H2C2O4(Aq)

K3Al(C2O4)3.3H2O(Aq)

Mula: 0.03 mol 0.25 mol

0.07 mol

Rx

0.03 mol

0.03 mol-

0.04 mol

0.03 mol

: 0.03 mol 0.03 mol

Hasil :

0.22 mol

Jadi mol K3Al(C2O4)3.3H2O

= 0.03 mol

Sehingga m K3Al(C2O4)3.3H2O

= mol x Mr
= 0.03 mol x 462 gr/mol

= 13,86 gram
berat praktek
x 100
% Rendamen = berat teori

2,66 gram
x 100
13,86 gram

= 19%
B. Pembahasan
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari suatu ion
logam pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan pasangan
elektron bebasnya kepada ion logam pusat. Donasi pasangan elektron ligan
kepada ion logam pusat menghasilkan ikatan kovalen koordinasi sehingga
senyawa kompleks juga disebut senyawa koordinasi.
Pada percobaan ini dilakukan proses pembuatan senyawa kompleks
kalium trioksalatoaluminat atau K3Al(C2O4)3.H2O. Aluminium adalah logam putih
yang liat. Logam ini berada pada golongan III A.
Serutan aluminium yang dilarutkan dalam aquades hangat serta KOH
menimbulkan buih akibat terbebasnya gas H2 dari reaksi antara aluminium dengan
hidroksi alkali yaitu KOH. Dari reaksi tersebut dicampurkan dngan larutan asam
oksalat tadi. Dari pencampuran tersebut dilakukan penyaringan, dan kemudian
ditambahkan etanol untuk membantu pembentukan Kristal K3Al(C2O4)3.H2O.
Agar jumlah Kristal yang dihasilkan banyak maka didinginkan dengan air. Kristal
yang terbentuk larutan berwarnaberwarna putih.
Pada percobaan ini dilakukan proses pembuatan senyawa kompleks
kalium trioksalato aluminat atau K3Al(C2O4).3H2O. Serutan aluminium yang

dilarutkan dalam aquades hangat serta KOH menimbulkan buih akibat


terbebasnya gas H2 dari reaksi antara aluminium dengan hidroksi alkali yaitu
KOH. Dari reaksi tersebut dicampurkan dngan larutan asam oksalat tadi. Dari
pencampuran tersebut dilakukan penyaringan, dan kemudian ditambahkan etanol
untuk membantu pembentukan Kristal K3Al(C2O4)3.H2O. Agar jumlah Kristal
yang dihasilkan banyak maka didinginkan dengan air. Kristal yang terbentuk
larutan berwarna berwarna putih.
hasil yang diperoleh untuk nilai dari percobaan ini yaitu diperoleh berat
Kristal sebesar 2,66 gram, sehingga rendamen murni yang terhitung adalah 19%,
dan sisa residu yang diperoleh adalah 81% sehingga dapat dikatakan bahwa
percobaan ini tidak berhasil karena jauh dari tingkat kemurnian.

V. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dari hasil pengamatan diperoleh rendamen dari
K3Al(C2O4).3H2O adalah 19% dimana residu yang diperoleh adalah sebanyak
81%, mengakibatkan percobaan yang dilakukan kurang berhasil karena residua
tau zat pengotor lebih banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Elmila, Izza & Fahimah Martak, 2011, Peningkatan Sifat Magnetik Kompleks
Polimer Oksalat [N(C4H9)4][MnCr(C2O4)3] dengan Menggunakan
Kation Organik Tetrabutil Amonium, Jurnal Prosiding Skripsi Kimia
FMIPA, SK-091304
Petrucci H.R. & Summinar, 1987, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern
Edisi Keempat Jilid 3, Jakarta, Erlangga.
Pinalia, Anita., 2011, Kristalisasi Ammonium Perklorat (AP) dengan Sistem
Pendinginan Terkontrol untuk Menghasilkan Kristal Berbentuk Bulat,
Jurnal Teknologi Dirgantara, Vol. 9, (2)
Petrucci H.R. & Summinar, 1987, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern
Edisi Keempat Jilid 3, Jakarta, Erlangga.
Saria, Y., Lucyanti, Nurlisa, H. & Aldes, L., 2012, Sintesis Senyawa Kompleks
Kobalt dengan Asetilaseton, Jurnal Penelitian Sains, Vol. 15, (3C)
Svehla G.,1985, Teks Analisis Kuantitatif Anorganik, Jakarta, Erlangga.