Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan
berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam
istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
Para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan
tentang kepribadian. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon
W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50
definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang
dilakukannya, akhirnya Gordon menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang
dianggap lebih lengkap.
Gordon berpendapat bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri
individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian
adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai
suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam
upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional,
frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan
tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Kepribadian bersifat unik, dimana unik yang dimaksud adalah bahwa kualitas
perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu
lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya
konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang
saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau
perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Pada referat kali ini akan membahas tentang teori kepribadian berdasarkan
beberapa ahli, yaitu Sigmund Freud dan Erik Erikson serta derivat-derivatnya. Dan
mencari hubungan antar teori kepribadian tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sigmund Freud
Peran penting dari ketidaksadaran beserta insting-insting seks dan agresi yang
ada didalamnya dalam pengaturan tingkah laku, menjadi temuan monumental Freud.
Sistematik yang dipakai Freud dalam mendeskripsi kepribadian menjadi tiga pokok
yaitu: struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian.
2.1.1 Struktur Kepribadian
Kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran: sadar, prasadar, dan tak sadar. Pada
tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni: id, ego dan
super-ego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama tetapi melengkapi
gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya.
A. Tingkat Kehidupan Mental
1. Sadar (Conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat
tertentu. Menurut Freud hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental
(fikiran, persepsi, perasaan, dan ingatan) yang masuk ke kesadaran
(consciousness).
2. Prasadar (Preconscious)
Prasadar disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat
kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar. Pengalaman
yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi
dicermati, akan dipindahkan ke daerah prasadar.
3. Tak Sadar (Unconscious)
Tak sadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan
menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus
Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi
itu adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls, dan
drives yang dibawa dari lahir, dan pengalam-pengalaman traumatik (biasanya
pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah tak
sadar.
B. Wilayah Pikiran
1. Id (Das Es)
2

Id adalah sistem kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari id ini


kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua
aspek psikologi yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada
dan beroperasi dalam daerah tak sadar, mewakili subjektivitas yang tidak
pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk
mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari
struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle),
yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Pleasure
principle diproses dengan dua cara :
a. Tindak Refleks (Refleks Actions)
Reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata dipakai
untuk pemuasan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan.
b. Proses Primer (Primary Process)
Reaksi membayangkan sesuatu yang dapat mengurangi atau
menghilangkan tegangan, dipakai untuk menangani stimulus kompleks,
seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan
khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id
tidak mampu menilai atau membedakan mana yang benar dan mana yang
salah.
2. Ego (Das Ich)
Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita sehingga
ego mengikuti prinsip realita (reality principle), usaha memperoleh kepuasan
yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda
kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan
kebutuhan.
Ego adalah pelaksana dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama
; pertama, memilih stimulus mana yang hendak direspon dan atau insting
mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua,
menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan
tersedianya peluang yang resikonya minimal. Ego sesungguhnya bekerja untuk
memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan
memperoleh energi dari id.
3. Superego (Das Ueber Ich)
Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang
beroperasi memakai prinsip idealistik (idialistic principle) sebagai lawan dari
3

prinsip kepuasan id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari
ego, dan seperti ego, ia tak punya sumber energinya sendiri. Akan tetapi,
superego berbeda dari ego dalam satu hal penting. Superego tak punya kontak
dengan dunia luar sehingga tuntutan superego akan kesempurnaan pun
menjadi tidak realistis.
Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip yakni suara hati
(conscience) dan ego ideal. Freud tidak membedakan prinsip ini secara jelas
tetapi

secara

umum,

suara

hati

lahir

dari

pengalaman-pengalaman

mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita
tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal
berkembang dari pengalaman mendapatkan imbalan atas perilaku yang tepat
dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya dilakukan.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan,
menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun
baru dalam fikiran. Ada tiga fungsi superego ; (1) mendorong ego
menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan moralistik, (2) merintangi
impuls id terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan
standar nilai masyarakat, (3) mengejar kesempurnaan.
2.1.2 Dinamika Kepribadian
Dalam dinamika kepribadian, Freud menjelaskan tentang adanya tenaga
pendorong (cathexis) dan tenaga penekanan (anticathexis). Kateksis adalah
pemakaian energi psikis yang dilakukan oleh id untuk suatu objek tertentu untuk
memuaskan suatu naluri, sedangkan antikataeksis adalah penggunaan energi psikis
(yang berasal dari id) untuk menekan atau mencegah agar id tidak memunculkan
nalurinaluri yang tidak bijaksana dan destruktif. Id hanya memiliki kateksis,
sedangkan ego dan superego memiliki antikateksis, namun ego dan superego juga bisa
membentuk objek kateksis yang baru sebagai pengalihan pemuasan kebutuhan secara
tidak langsung, masih berkaitan dengan asosiasiasosiasi objek pemuasan kebutuhan
yang diinginkan oleh id.
Tingkat kehidupan mental dan wilayah pikiran mengacu pada struktur atau
komposisi kepribadian. Sehingga Freud mengusulkan sebuah dinamika atau prinsip
motivasional untuk menerangkan kekuatan-kekuatan yang mendorong tindakan
manusia. Bagi Freud, manusia termotivasi untuk mencari kesenangan serta
4

menurunkan ketegangan dan kecemasan. Motivasi ini diperoleh dari energi psikis dan
fisik dari dorongan-dorongan dasar yang mereka miliki.
1. Insting sebagai Energi Psikis
Insting adalah perwujudan psikologi dari kebutuhan tubuh yang
menuntut pemuasan misalnya insting lapar berasal dari kebutuhan tubuh
secara fisiologis sebagai kekurangan nutrisi, dan secara psikologis dalam
bentuk keinginan makan. Hasrat, atau motivasi, atau dorongan dari insting
secara kuantitatif adalah energi psikis dan kumpulan enerji dari seluruh insting
yang dimiliki seseorang merupakan enerji yang tersedia untuk menggerakkan
proses kepribadian.
Energi insting dapat dijelaskan dari sumber (source), tujuan (aim),
obyek (object) dan daya dorong (impetus) yang dimilikinya :
a) Sumber insting adalah kondisi jasmaniah atau kebutuhan. Tubuh menuntut
keadaan yang seimbang terus menerus, dan kekurangan nutrisi misalnya
akan mengganggu keseimbangan sehingga memunculkan insting lapar.
b) Tujuan insting adalah menghilangakan rangsangan kejasmanian, sehingga
hal yang tidak mengenakkan yang timbul karena adanya tegangan yang
disebabkan oleh meningkatnya energi dapat ditiadakan. Misalnya, tujuan
insting lapar (makan) ialah menghilangkan keadaan kekurangan makan,
dengan cara makan.
c) Obyek insting adalah segala aktivitas yang menjadi perantara keinginan
dan terpenuhinya keinginan itu. Jadi tidak hanya terbatas pada bendanya
saja, tetapi termasuk pula cara-cara memenuhi kebutuhan yang timbul
karena insting itu. Misalnya, obyek insting lapar bukan hanya makanan,
tetapi meliputi kegiatan mencari uang, membeli makanan dan menyajikan
makanan itu.
d) Pendorong atau penggerak insting adalah kekuatan insting itu, yang
tergantung kepada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan. Misalnya, makin
lapar orang (sampai batas tertentu) penggerak insting makannya makin
besar.
2. Jenis-Jenis Insting
a. Insting Hidup (Life Instinct)
Insting hidup disebut juga Eros adalah dorongan yang menjamin survival
dan reproduksi, seperti lapar,haus dan seks. Bentuk energi yang dipakai
oleh insting hidup itu disebut libido. Walaupun Freud mengakui adanya
bermacam-macam bentuk insting hidup, namun dalam kenyataannya yang
paling diutamakan adalah insting seksual (terutama pada masa-masa
5

permulaan, sampai kira-kira tahun 1920). Dalam pada itu sebenarnya


insting seksual bukanlah hanya untuk satu insting saja, melainkan
sekumpulan insting-insting, karena ada bermacam-macam kebutuhan
jasmaniah yang menimbulkan keinginan-keinginan erotis.
b. Insting Mati (Death Instinct)
Insting mati disebut juga insting-insting merusak (destruktif). Insting ini
berfungsinya kurang jelas jika dibandingkan dengan insting hidup,
karenanya tidak begitu dikenal. Akan tetapi adalah suatu kenyataan yang
tak dapat dipungkiri, bahwa tiap orang itu pada akhirnya akan mati juga.
Inilah yang menyebabkan Freud merumuskan bahwa Tujuan semua hidup
adalah mati. Suatu derivatif insting mati yang terpenting adalah dorongan
agresif. Sifat agresif adalah pengrusakan diri yang diubah dengan obyek
subtitusi.
Insting hidup dan insting mati dapat saling bercampur, saling
menetralkan. Makan misalnya merupakan campuran dorongan makan dan
dorongan destruktif, yang dapat dipuaskan dengan menggigit, mengunyah dan
menelan makanan.
3. Kecemasan
Kecemasan (anxiety) adalah variabel penting dari hampir semua teori
kepribadian. Kecemasan sebagai dampak dari konflik yang menjadi bagian
kehidupan yang tak terhindarkan, dipandang sebagai komponen dinamika
kepribadian yang utama. Kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan
individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat
mempersiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Biasanya reaksi individu terhadap
ancaman ketidaksenangan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau
takut. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang mengamankan ego
karena memberi sinyal ada bahaya di depan mata.
Kecemasan akan timbul manakala orang tidak siap menghadapi
ancaman. Hanya ego yang bisa memproduksi atau merasakan kecemasan.
Akan tetapi, baik id, superego, maupun dunia luar terkait dalam salah satu dari
tiga jenis kecemasan: realistis, neurotis dan moral. Ketergantungan ego pada
id menyebabkan munculnya kecemasan neurosis, sedangkan ketergantungan
ego pada superego memunculkan kecemasan moral, dan ketergantungannya
pada dunia luar mengakibatkan kecemasan realistis.
a. Kecemasan Realistis (Realistic Anxiety)
Takut kepada bahaya yang nyata ada di dunia luar. Kecemasan ini
6

menjadi asal dari timbulnya kecemasan neurotis dan kecemasan moral.


b. Kecemasan Neurotis (Neurotic Anxiety)
Ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima dari orang tua
atau figur penguasa lainnya kalau seseorang memuaskan insting dengan
caranya sendiri, yang diyakininya bakal menuai hukuman. Hukuman
belum tentu diterimanya, karena orang tua belum tentu mengetahui
pelanggaran yang dilakukannya, dan misalnya orang tua mengetahui juga
belum tentu menjatuhkan hukuman. Jadi, hukuman dan figur pemberi
hukuman dalam kecemasan neurotis bersifat khayalan.
c. Kecemasan Moral (Moral Anxiety)
Kecemasan ini timbul ketika orang melanggar standar nilai orang
tua. Kecemasan moral dan kecemasan neurotis tampak mirip, tetapi
memiliki perbedaan prinsip yakni : tingkat kontrol ego pada kecemasan
moral orang tetap rasional dalam memikirkan masalahnya sedangkan pada
kecemasan neurotis orang dalam keadaan distres terkadang panik
sehingga mereka tidak dapat berfikir jelas.
4. Mekanisme Pertahanan Ego
Freud

mengartikan

mekanisme

pertahanan

ego

(ego

defense

mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah


kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi
tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau
diredakan.
Mekanisme pertahanan ego merupakan mekanisme yang rumit, adapun
mekanisme yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari ada tujuh macam, yaitu:
a. Identifikasi (Identification)
Cara mereduksi tegangan dengan meniru atau mengidentifikasikan
diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasratnya
dibanding dirinya. Diri orang lain diidentifikasi tetapi cukup hal-hal yang
dianggap dapat membantu mencapai tujuan diri. Terkadang sukar
menentukan sifat mana yang membuat tokoh itu sukses sehingga orang
harus mencoba mengidentifikasi beberapa sifat sebelum menemukan mana
yang ternyata membantu meredakan tegangan. Apabila yang ditiru sesuatu
yang positif disebut Introyeksi.
Mekanisme pertahanan identifikasi umumnya dipakai untuk tiga
7

macam tujuan, yaitu:


i.

Merupakan cara agar dapat memperoleh kembali sesuatu (obyek)

ii.
iii.

yang telah hilang.


Untuk mengatasi rasa takut.
Melalui identifikasi orang memperoleh informasi baru dengan

mencocokkan khayalan mental dengan kenyataan.


b. Pemindahan/Reaksi Kompromi (Displacement/Reactions Compromise)
Ketika obyek kateksis asli yang dipilih oleh insting tidak dapat
dicapai karena ada rintangan dari luar (sosial, alami) atau dari dalam
(antikateksis) insting itu direpresi kembali ke ketidaksadaran atau ego
menawarkan kateksis baru, yang berarti pemindahan enerji dari obyek satu
ke obyek yang lain, sampai ditemukan obyek yang dapat mereduksi
tegangan.
Proses mengganti obyek kateksis untuk meredakan ketegangan,
adalah kompromi antara tuntutan insting id dengan realitas ego, sehingga
disebut juga reaksi kompromi. Ada tiga macam reaksi kompromi, yaitu :
i.

Sublimasi adalah kompromi yang menghasilkan prestasi budaya

ii.

yang lebih tinggi, diterima masyarakat sebagai kultural kreatif.


Subtitusi adalah pemindahan atau kompromi dimana kepuasan

iii.

yang diperoleh masih mirip dengan kepuasan aslinya.


Kompensasi adalah kompromi dengan mengganti insting yang
harus dipuaskan. Gagal memuaskan insting yang satu diganti
dengan memberi kepuasan insting yang lain.

c. Represi (Repression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan antikateksis untuk
menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, fikiran) yang dapat
menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran.
d. Fiksasi dan Regresi (Fixation and Regression)
Fiksasi adalah terhentinya perkembangan normal pada tahap
perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar
sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang terlalu kuat. Orang
memilih untuk berhenti (fiksasi) pada tahap perkembangan tertentu dan
menolak untuk bergerak maju, karena merasa puas dan aman ditahap itu.
Frustasi, kecemasan dan pengalaman traumatik yang sangat kuat
pada tahap perkembangan tertentu, dapat berakibat orang regresi, yaitu
8

mundur ke tahap perkembangan yang terdahulu, dimana dia merasa puas


disana.
Perkembangan kepribadian yang normal berarti terus bergerak
maju atau progresif. Munculnya dorongan yang menimbulkan kecemasan
akan direspon dengan regresi. Orang yang puas berada ditahap
perkembangan tertentu disebut fiksasi. Progresi yang gagal membuat orang
menarik diri atau regresi
e. Proyeksi (Projection)
Proyeksi adalah mekanisme mengubah kecemasan neurotis atau
moral menjadi kecemasan realistis, dengan cara melemparkan impulsimpuls internal yang mengancam dipindahkan ke obyek di luar, sehingga
seolah-olah ancaman itu terproyeksi dari obyek eksternal kepada diri orang
itu sendiri.
f. Introyeksi (Introjection)
Introyeksi adalah mekanisme pertahanan dimana seseorang
meleburkan sifat-sifat positif orang lain ke dalam egonya sendiri.
Misalnya, seorang anak yang meniru gaya tingkah laku bintang film
menjadi introyeksi, kalau peniruan itu dapat meningkatkan harga diri dan
menekan perasaan rendah diri, sehingga anak itu merasa lebih bangga
dengan dirinya sendiri. Pada usia berapapun, manusia bisa mengurangi
kecemasan yang terkait dengan perasaan kekurangan dengan cara
mengadopsi atau melakukan introyeksi atas nilai-nilai, keyakinankeyakinan, dan perilaku orang lain.
g. Pembentukan Reaksi (Reaction Formation)
Tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan
yang

menimbulkan

kecemasan

dengan

impuls

atau

perasaan

lawan/kebalikannya dalam kesadaran, misalnya benci diganti cinta, rasa


bermusuhan diganti dengan ekspresi persahabatan. Timbul masalah
bagaimana membedakan ungkapan asli suatu impuls dengan ungkapan
pengganti reaksi formasi : bagaimana cinta sejati dibedakan dengan cintareaksi formasi. Biasanya reaksi formasi ditandai oleh sifat serba
berlebihan, ekstrim, dan kompulsif
2.1.3 Perkembangan Kepribadian
9

Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap


infantil (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap
infantil yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian, terbagi menjadi tiga
fase, yakni fase oral, fase anal, dan fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan
terutama oleh perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual
infantil. Perkembangan insting seks berarti perubahan kateksis seks, dan
perkembangan biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat
kepuasan seksual (erogenus zone)
a. Fase Oral (Usia 0 1 tahun)
Fase oral adalah fase perkembangan yang berlangsung pada tahun
pertama dari kehidupan individu. Pada fase ini, daerah erogen yang paling
penting dan peka adalah mulut, yakni berkaitan dengan pemuasan
kebutuhan dasar akan makanan atau air. Stimulasi atas mulut seperti
mengisap, bagi bayi merupakan tingkah laku yang menimbulkan
kesenangan atau kepuasan.
b. Fase Anal (Usia 1 2/3 tahun)
Fase ini dimulai dari tahun kedua sampai tahun ketiga dari
kehidupan. Pada fase ini, fokus dari energi libidal dialihkan dari mulut ke
daerah dubur serta kesenangan atau kepuasan diperoleh dengan tindakan
mempermainkan atau menahan faeces (kotoran) pada fase ini pulalah anak
mulai diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihan oleh orang tuanya
melalui toilet training, yakni latihan mengenai bagaimana dan dimana
seharusnya seorang anak membuang kotorannya.
c. Fase Falis (Usia 2/3 5/6 tahun)
Fase falis (phallic) ini berlangsung pada tahun keempat atau
kelima, yakni suatu fase ketika energi libido sasarannya dialihkan dari
daerah dubur ke daerah alat kelamin. Pada fase ini anak mulai tertarik
kepada alat kelaminnya sendiri, dan mempermainkannya dengan maksud
memperoleh kepuasan. Pada fase ini masturbasi menimbulkan kenikmatan
yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual anak
kepada orang tuanya yang mengawali berbagai pergantian kateksis obyek
yang penting. Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya
oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiety (pada laki-laki)
dan penis envy (pada perempuan). Oedipus complex adalah kateksis obyek
10

seksual kepada orang tua yang berlawanan jenis serta permusuhan


terhadap orang tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya (ingin
memiliki perhatian lebih dari ibunya) dan menyingkirkan ayahnya,
sebaliknya anak perempuan ingin memiliki ayahnya dan menyingkirkan
ibunya.
d. Fase Laten (Usia 5/6 12/13 tahun)
Fase ini pada usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mengalami
periode peredaan impuls seksual. Menurut Freud, penurunan minat seksual
itu akibat dari tidak adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh
perkembangan biologis. Jadi, fase laten lebih sebagai fenomena biologis,
alih-alih bagian dari perkembangan psikoseksual. Pada fase ini anak
mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasan libido
dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang intelektual, atletik,
keterampilan, dan hubungan teman sebaya. Dan pada fase ini anak menjadi
lebih mudah mempelajari sesuatu dan lebih mudah dididik dibandingkan
dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa pubertas).
e. Fase Genital
Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam
diri remaja.Sistem endokrin memproduksi hormon-hormon yang memicu
pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder (suara, rambut, payudara, dll),
dan pertumbuhan tanda seksual primer. Pada fase ini kateksis genital
mempunyai sifat narkistik : individu mempunyai kepuasan dari
perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan orang lain diingkan
hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan
jasmaniah. Pada fase ini, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek diluar,
seperti : berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta
lain jenis, perkawinan dan keluarga.
2.2 Erik Erikson
Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang saling
berurutan sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap bergantung pada hasil tahapan
sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap krisis ego adalah pentingnya bagi
individu untuk dapat tumbuh secara optimal. Ego harus mengembangkan
kesanggupan yang berbeda untuk mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari
11

masyarakat. Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erik


Erikson:
1) Trust versus Mistrust (Lahir-18 bulan)
Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan
dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan anaknya, sang anak
akan

mengembangkan

kemampuan

untuk

dapat

mempercayai

dan

mengembangkan asa (hope). Jika krisis ego ini tidak pernah terselesaikan,
individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam membentuk rasa percaya
dengan orang lain sepanjang hidupnya, selalu meyakinkan dirinya bahwa
orang lain berusaha mengambil keuntungan dari dirinya.
2) Autonomy versus Shame and Doubt (18 bulan-3 tahun)
Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas
tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya untuk
mengontrol keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan
yang kasar. Mereka melatih kehendak, tepatnya otonomi. Harapan idealnya,
anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa banyak
kehilangan pemahaman awal mereka mengenai otonomi, inilah resolusi yang
diharapkan. Apabila anak tidak berhasil melewati fase ini, maka anak tidak
akan memiliki inisiatif yang dibutuhkan pada tahap berikutnya dan akan
mengalami hambatan terus-menerus pada tahap selanjutnya.
3) Initiative versus Guilt (3-5 tahun)
Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan
melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan
membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena
takut berbuat salah. Anak memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak
mau mengembangkan harapan-harapan ketika ia dewasa. Bila anak berhasil
melewati masa ini dengan baik, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah
memiliki tujuan dalam hidupnya.
4) Industry versus Inferiority (5-13 tahun)
Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan
kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik.
Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat
memecahkan masalah dan bangga akan prestasi yang diperoleh. Keterampilan
ego yang diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak yang tidak mampu
12

untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa yang diraih
teman-teman sebaya akan merasa inferior.
5) Identity versus Identity Confusion (13-21 tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis
seperti orang dewasa sehingga tampak adanya kontraindikasi bahwa di lain
pihak anak dianggap dewasa tetapi di sisi lain dianggap belum dewasa. Tahap
ini merupakan masa standarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam
bidang seksual, umur dan kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber
perlindungan dan nilai utama mulai menurun. Adapun peran kelompok atau
teman sebaya tinggi. Apabila anak tidak sukses pada fase ini, maka akan
membuat anak mengalami krisis identitas, begitupun sebaliknya.
6) Intimacy versus Isolation (21-40 tahun)
Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi
dengan orang lain secara lebih mendalam. Ketidakmampuan untuk
membentuk ikatan sosial yang kuat akan menciptakan rasa kesepian. Bila
individu berhasil mengatasi krisis ini, maka keterampilan ego yang diperoleh
adalah cinta.
7) Generativity versus Stagnation (40-60 tahun)
Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai
balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan
sesuatu yang dapat memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan.
Ketidakmampuan untuk memiliki pandangan generatif akan menciptakan
perasaan bahwa hidup ini tidak berharga dan membosankan. Bila individu
berhasil mengatasi krisis pada masa ini maka ketrampilan ego yang dimiliki
adalah perhatian, sedangkan bila individu tidak sukses melewatinya maka
akan merasa bahwa hidupnya tidak berarti.
8) Ego Integrity versus Despair (60 tahun ke atas)
Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa
lalu dan melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu
terasa menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan
tujuan hidup yang telah dikejar selama bertahun-tahun. Apabila individu
sukses melewati faase ini maka akan timbul perasaan puas akan diri,
sedangkan apabila mengalami kegagalan dalam melewati tahapan ini akan
menyebabkan munculnya rasa putus asa.
13

2.3 Alfred Adler (Psikologi Individual)


Struktur Kepribadian, manusia adalah mahluk sosial dan makhluk individual.
Pokok-Pokok Teori Adler, Individualitas sebagai pokok persoalan, Pandangan
Teleologis: Finalisme Semu, Dua Dorongan Pokok, yaitu dorongan kemasyarakatan,
dorongan keakuan, Rasa Rendah Diri dan Kompensasi pendorong bagi segala
perbaikan dalam kehidupan manusia, Gaya Hidup adalah prinsip yang dipakai
landasan untuk memahami tingkah laku seseorang, Diri yang Kreatif adalah
penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku.
2.4 Carl Gustav Jung
Konsep-konsep Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung ada tiga macam, yaitu
Personality Function, Psyche adalah merupakan gabungan atau jumlah dari
keseluruhan isi mental, emosional dan spiritual seseorang, dan Self adalah
Kepribadian Total (total personality) baik Kesadaran maupun Bawah Sadar. Ia
memandang manusia sangatlah unik karena mempunyai begitu banyak Kepribadian
yang beragam antara individu satu dengan individu lainnya. Jung membedakan istilah
antara Ambang Sadar (Subconscious) dan Bawah Sadar (Unconscious).
2.5 Burrhus Frederick Skinner (Psikologi Behaviorisme )
Struktur kepribadian, Teknik mengontrol perilaku adalah sebagai berikut:
1. Pengekangan Fisik ( physical restraints )
2. Bantuan Fisik (physical aids)
3. Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions)
4. Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions)
5. Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses)
6. Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement).
7. Menghukum Diri Sendiri (self punishment).
Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas:
1. Perilaku yang alami (innate behavior),
2. Perilaku Operan (operant behavior),
Dinamika Kepribadian, terdiri dari Kepribadian dan Belajar, Tingkah laku Kontrol
Diri, Stimulan Aversif. Dua jenis pengkondisian, yaitu: Kondisioning Klasik
(Classical Conditioning) dan Kondisioning Operan (Operant Conditioning).
2.6 Hubungan Antar Teori Kepribadian

14

Masing-masing dari teori kepribadian jelas mencoba menonjolkan aspek yang


berbeda-beda terutama secara definisi, dan disusun untuk menjawab tantangan
permasalahan yang berbeda. Suatu teori ini dapat menguntungkan apabila diterapkan
pada masalah yang tepat, disamping tetap memakai teori-teori lainnya sebagai
pembanding sehingga keputusan profesional yang diambil oleh seorang psikolog dan
psikiater dapat dipertanggung jawabkan. Namun, sesungguhnya dari berbagai definisi
yang diajukan para ahli sedikitnya terdapat lima persamaan yang menjadi ciri bahwa
definisi itu adalah definisi kepribadian, sebagai berikut :
1. Kepribadian bersifat umum; kepribadian menunjuk kepada sifat umum
seseorang baik secara pikiran, kegiatan, dan perasaan, yang berpengaruh
terhadap keseluruhan tingkah lakunya.
2. Kepribadian bersifat khas; kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat
individu yang membedakan dia dengan orang lain, semacam tanda tangan atau
sidik jari psikologik, bagaimana individu berbeda dengan yang lain.
3. Kepribadian berjangka lama; kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat
individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalau terjadi
perubahan biasanya bersifat bertahap atau akibat merespon suatu kejadian
yang luar biasa.
4. Kepribadian bersifat kesatuan; kepribadian diapakai untuk memandang diri
sebagai unit tunggal, struktur atau organisasi internal hipotetik yang
membentuk suatu kesatuan.
5. Kepribadian bisa berfungsi baik atau buruk; kepribadian adalah cara
bagaimana orang berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang
baik, kepribadiannya sehat dan kuat atau tampil sebagai kepribadian yang sakit
dan lemah yang berarti kepribadiannya menyimpang, ciri kepribadian sering
dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa orang senang dan
mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi
sekedarnya.

15

BAB III
KESIMPULAN
Teori psikoanalisis Sigmund Freud menyatakan kepribadian dipandang
sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem yakni id, ego dan
superego. Ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta
membentuk suatu totalitas. Pada manusia terdapat lima fase atau tahapan
perkembangan yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Lima
fase tersebut adalah fase oral, fase anal, fase falis, fase laten dan fase genital.
Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang saling
berurutan sepanjang hidup. Delapan tahap tersebut yaitu Trust versus Mistrust (Lahir18 bulan), Autonomy versus Shame and Doubt (18 bulan-3 tahun), Initiative versus
Guilt (3-5 tahun), Industry versus Inferiority (5-13 tahun), Identity versus Identity
Confusion (13-21 tahun), Intimacy versus Isolation (21-40 tahun), Generativity versus
Stagnation (40-60 tahun), dan Ego Integrity versus Despair (60 tahun ke atas). Dan
beberapa teori dari ahli lainnya seperti Alfred Adler, Carl Gustav Jung, dan Burrhus
Frederick Skinner.
16

Masing-masing dari teori kepribadian jelas mencoba menonjolkan aspek yang


berbeda-beda terutama secara definisi, dan disusun untuk menjawab tantangan
permasalahan yang berbeda. Suatu teori ini dapat menguntungkan apabila diterapkan
pada masalah yang tepat, disamping tetap memakai teori-teori lainnya sebagai
pembanding sehingga keputusan profesional yang diambil oleh seorang psikolog dan
psikiater dapat dipertanggung jawabkan

DAFTAR PUSTAKA
Saddock, B.J, V.A Saddock, and P. Ruiz. 2015. Kaplan & Sadocks - Synopsis of
Physiciatry 11st Edition. Wolters Kluwer Health

17