Anda di halaman 1dari 5

2.

7 DESAIN GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN


Dalam proses menentukan desain gigi tiruan sebagian lepasan berlaku prinsip
umum yang penting. Dokter gigi perlu mengetahui selengkap-lengapnya kondisi
umum dan kondisi rongga mulut pasien yang akan menerima protesa. Dokter ggi juga
harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai macam-macam bentuk, serta
indikasi dan fungsi dari masing-maasing komponen gigi tiruan sebagian lepasan
seperti cengkram, konektor, bentuk sadel dan macam dukungan (Gunadi, 1991)
Rencana pembuatan desain merupakan tahap yang sangat penting dan sangat
mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu perawatan gigi geligi tiruan. Desain
yang tepat dapat meminimalisir trjadinya kerusakan jaringan dalam rongga mulut
yang seharusnya tidak terjadi dan tidak dapat dipertanggung jawabkan (Gunadi,
1991)
Prinsip pembuatan desain pada gigi tiruan dengan krangka logam dan terbuat dai
resin akrilik tidaklah jauh berbeda, tahapannya adalah sebagai berikut (Gunadi,
1991):
1.
2.
3.
4.

Tahap 1 : Menentukan kelas dari masing-masing daerah tidak bergigi (Sadel)


Tahap 2 : Menentukan macam dukungan dari setiap sadel.
Tahap 3 : Menentukan macam Penahan
Tahap 4 : Menentukan macam konektor

A. Tahap I Menetukan kelas dari masing-masing daerah tidak bergigi


Daerah tidak bergigi dalam satu lengkung rahang dapat berbeda-beda baik
dari hal macamnya, jumlah, panjang dan letaknya. Hal ini akan mempengaruhi
rencana pembuatan desain gigi tiruan sebagian lepasan yang meliputi pemilihan
dukungan, sadel maupun konektornya. Menurut applegate, daerah tak bergigi

(DTG) dapat dibagi atas enam kelas yang berbeda pula indikasi protesanya (IP)
(Gunadi, 1991).
1. Kelas I :
a. DTG : Berupa Sadel Berujung Bebas (free end) pada kedua sisi.
b. IP
: Protesa Lepasan, dua sisi (bilateral) dan dengan perluasan
basis ke distal.
2. Kelas II :
a. DTG : Berupa sadel berujung bebas (free end) pada satu sisi.
b. IP
: Protesa Lepasan, dua sisi dan dengan perluasan basis ke
distal.
3. Kelas III :
a. DTG : Berupa sadel tertutup (paradental), kedua gigi tetangganya
kuat tetapi tidak mempu memberikan dukungan sepenuhnya.
b. IP
: Protesa lepasan, dua sisi dengan dukungan dari gigi.
4. Kelas IV :
a. DTG : Berupa sadel tertutup dan melewati garis tangah.
b. IP
: Protesa cekat atau lepasan, dua sisi
5. Kelas V :
a. DTG : Berupa sadel tertutup dan gigi tetangga bagian depan tidak
kuat menerima dukungan.
b. IP
: Protesa lepasan dua sisi.
6. Kelas VI :
a. DTG : Berupa sadel tertutup dan kedua gigi tetangganya kuat.
b. IP
: Protesa cekat atau lepasan, satu sisi dukungan dari gigi.
B. Tahap II Menentukan Macam Dukungan dari Setiap Sadel
Bentuk dari daerah tidak bergigi ada dua macam,, yaitu terbuka atau berujung
bebas (free end) dan tertutup (paradental). Sesuai dengan macam daerah tak
bergigi macam sadel juga terbagi menjadi sadel tertutup dan sadel terbuka atau
berujung bebas. (Gunadi, 1991)
Untuk dukungan dari sadel paradental terdapat tiga pilihan yang dapat
digunakan, yaitu dukungan dari gigi, mukosa dan kombinasi (gigi san mukosa).
Dukungan dari sadel terbuka atau berujung bebas hanya memiliki dua pilihan,
yaitu dukungan dari mukosa dan kombinasi (Gunadi, 1991).

Untuk menentukan dukugan terbaik untuk gigi tiruan sebagian lepasan ada
beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan agar hasil yang didapat lebih
maksimal. Faktor tersebut antara lain adalah faktor jaringan pendukung, panjang
sadel, jumlah sadel dan keadaan rahang yang akan dipasang protesa (Gunadi,
1991).
1. Keadaan Jaringan Pendukung
Bila jarigan gigi sehat, maka sebaiknya dukungan berasal dari gigi, tetapi bila
keadaan gigi sudah meragukan, maka dukungan berasal dari mukosa. Dukungan
untuk sadel berujung bebas sebainya berasal dari mukosa untuk mencegah beban
kunyah yang tidak sembang antara gigi dan mukosa, meskipun dukungan
kombinasi memungkinkan bila jaringan gigi masih sehat dan meskipun susah,
tetapi harus diusahakan agar tekanan kunyah tetap seimbang (Gunadi, 1991).
2. Panjang Sadel
Apabila gigi tetangga masih kuat maka sadel yang digunakan adalah sadel
yang pendek dan dukungan berasal dari gigi. Namun, bila gigi tetangga tidak kuat
maka sadel dibuat panjang dan dukungan berasal dari mukosa (Gunadi 1991)
3. Jumlah Sadel
Untuk rahang dengan jumlah sadel multipel perlu diperhatikan keadaan gigi
tetangga dan mukosa. Pada rahang atas dianjurkan dukungan berasal dari mukosa
dan desain yang tidak terlalu komplek (Gunadi, 1991)
4. Keadaan Rahang
Untuk rahang bawah dukungan sebaiknya berasal dari gigi, mengingat
kecilnya perluasan mukosa pada rahang bawah, sedangkan untuk rahang atas
dianjurkan menggunakan dukungan dari mukosa apabila gigi tetangga tidak kuat
(Gunadi 1991).

Untuk gigi tiruan dengan kerangka logam dukungan sebaiknya berasal dari gigi,
mengingat bentuk konektornya yang berbentuk batang , sehingga tekanan kunyah
yang disalurkan ke jaringan mukosa lebih besar. Berbeda dengan gigi tiruan dengan
kerangka resin yang konektornya brupa plat yang permukaannya lebih luas, sehingga
kerusakan jaringan mukosa karena tekanan kunyah yang berlebih dapat dikurangi
(Gunadi, 1991)
C. Tahap III Menentukan Jenis Penahan (Retainer)
Ada dua macam cengkram gigi geligi tiruan, yaitu penahan langsung (Direct
Retainer) yang berhubungan langsung dengan gigi pendukung dan penahan tidak
langsung (Indirect Retainer) yang bekerja pada basis (Gunadi 1991).
Untuk menentukan penahan yang akan dipilih maka yang perlu diperhatikan adalah :
a. Dukungan dari sadel
Dukungan dari sadel berkaitan dengan indikasi dari macam cengkram yang akan
digunakan dan gigi penyangga yang ada dan diperlukan.
b. Stabilisasi gigi tiruan
Stabilisasi gigi tiruan berhubungan dengan jumlah dan macam gigi penduung
yang ada dan diperlukan
c. Estetika
Estetika berhubungan dengan bentuk atau tipe cengkram serta lokassi dari gigi
pendukung.
D. Tahap IV Menentukan Jenis Konektor

Konektor yang dipakai pada protesa resin berbentuk plat, sedangkan pada gigi
tiruang dengan kerangka logam bentuk konektor dapat bervariasi dan dipilih sesuai
indikasinya dan kadang digunakan lebih dari satu konektor (Gunadi, 1991).
Pada kasus gigi tiruan berujung bebas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk
menentukan konektor yang dipakai, yaitu :
1. Perlu diusahakan adanya penahan tidak langsung.
2. Desain cengkram dibuat agar tekanan kunyah pada gigi penahan jadi
seminimal mungkin.
3. Sandaran oklusal diletakkan menjauhi daerah tak bergigi
4. Dilakukan pencetakan ganda, agar keseimbangan beban kunyah antara gigi
dan mukosa dapat tercapai
5. Perlu dipertimbangkan kemungkinan perlunya pelapisan atau penggantian
basis di kemudian hari, dan hal ini harus mudah untuk dilakukan.

Gambar. Desain gigi tiruan sebagian lepasan kelas 1 (Bilateral Free End)
modifikasi 1 rahang atas (http://dokumen.tips/documents/desain-gigi-tiruansebagian-lepasan-578ba2a8cebff.html)