Anda di halaman 1dari 11

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Ajar Turunan dengan Menggunakan

Metode Mengajar Representasi Ganda Berbantuan Maple

Wahyu A. Umbaro dan Horasdia Saragih


Laboratorium Teknologi Pengajaran, Universitas Advent Indonesia
Jl. Kol. Masturi No. 288 Parongpong, Bandung INDONESIA 40559
email : horas@dosen.fisika.net

Abstrak
Beberapa metoda mengajar telah diusulkan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
fisika dan matematika. Metode representasi ganda (multiple representations) dianggap sebagai
metode yang paling efektif. Metode ini didisain menyajikan materi ajar secara aljabar, numerik,
dan grafis dalam satu paket. Dalam proses pelaksanaannya, suatu perangkat lunak dibutuhkan
sebagai alat bantu. Maple sebagai suatu perangkat lunak didisain dapat menyajikan suatu
materi ajar matematika secara aljabar, numerik, dan grafis. Oleh karena itu, Maple diharapkan
dapat digunakan sebagai perangkat lunak yang dapat membantu menyajikan materi ajar
matematika pada metode representasi ganda. Telah dilakukan suatu penelitian terhadap
pelaksanaan metode representasi ganda dengan menggunakan perangkat lunak Maple. Populasi
yang digunakan adalah siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) se-kota Semarang tahun
ajaran 2009/2010. Sebanyak 154 siswa digunakan sebagai sampel. Pengaruh penggunaan
metode pengajaran representasi ganda dengan berbantuan Maple terhadap pencapaian hasil
belajar siswa, diinvestigasi. Dari hasil analisis data secara statistik pada tingkat signifikansi
= 0,05, ditemukan bahwa pencapaian siswa yang diajar dengan menggunakan metode
representasi ganda berbantuan Maple lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan
pencapaian siswa kelas kontrol, yaitu kelas yang diajar dengan metode konvensional.

Kata kunci : Hasil Belajar, Turunan, Representasi Ganda, Maple.

1. Pendahuluan
Banyak peneliti telah melaporkan bahwa para siswa memiliki perbedaan gaya belajar
(Kordaki, 2005; Molenje, 2007; Mallet, 2007; Mackie, 2002; Sankey, 2005). Pada pelajaran
fisika dan matematika, guru sering menggunakan banyak simbol untuk mengkomunikasikan ide
dan konsep-konsep. Namun dalam prosesnya antara guru dan siswa masing-masing
mengekspresikan suatu representasi yang sangat berbeda. Misalnya, siswa dapat saja berpikir
bahwa suatu fungsi hanya sebagai suatu rumus aljabar, sementara guru memikirkannya sebagai
suatu objek yang ditransformasikan oleh beberapa operasi, seperti diferensiasi dan integrasi tak
tentu. Siswa yang memiliki keunggulan dalam aljabar akan mengalami kesulitan bahkan gagal
ketika menghadapi persoalan yang solusinya mensyaratkan pada kemampuan grafik, atau
sebaliknya. Hal ini membawa siswa kepada situasi yang membingungkan dan menjadi
penghalang bagi siswa untuk mengerti (Mackie, 2002).
The National Council of Teachers of Mathematics merekomendasikan bahwa setiap
konsep ilmu pasti (fisika atau matematika) harus disajikan dalam bentuk multiple representations
(representasi ganda), yaitu: secara aljabar, secara grafik dan secara numerik (Mallet, 2007).
Representasi ganda sangat dibutuhkan karena masing-masing siswa secara individu memberikan
representasi yang berbeda terhadap konsep yang diajarkan. Metode representasi ganda mampu
melayani kebutuhan masing-masing siswa yang memiliki perbedaan gaya belajar serta mampu
menjembatani perbedaan representasi antara guru dan siswa yang tidak dapat dilakukan oleh
pengajaran konvensional (Mallet, 2007).
Tren terhadap penggunaan teknologi multimedia pembelajaran sebagai basis pengajaran
telah mengalami peningkatan (Sankey, 2005). Saat ini perubahan kurikulum yang

mengintegrasikan penggunaan teknologi dalam pengajaran sedang dilakukan di berbagai negara.


Untuk itu, guru sebagai pengajar harus menguasai teknologi (Powers, 2005). Penggunaan metode
representasi ganda yang berbasis komputer telah diperkenalkan sebagai suatu metode yang
sangat baik untuk memudahkan suatu pengertian. Misalnya, suatu representasi visual sering
digunakan untuk memperbaiki kesalahan komunikasi ketika metode konvensional

gagal

menyampaikan suatu konsep dengan lengkap. Oleh karena itu, suatu strategi pembelajaran
menggunakan representasi ganda yang berbasis komputer mutlak dilakukan (Sankey, 2005).
Metode representasi ganda yang berbasis komputer melalui aplikasi program Maple (selanjutnya
disebut Maple)

telah digunakan sebagai suatu pendekatan baru untuk memperbaiki model

pengajaran konvensional sehingga memberikan kemudahan dalam menginterpretasi modelmodel fisika/matematika dan memperdalam pemahaman konsep terhadap siswa yang memiliki
perbedaan gaya belajar karena Maple mampu menyajikan suatu materi, yaitu: secara aljabar,
secara grafik dan secara numerik (Mallet, 2007; Mackie, 2002; Yerushalmy, 2005). Metode
representasi ganda berbantuan Maple mampu mengembangkan pemikiran dan ide-ide baru bagi
siswa (Yerushalmy, 2005). Siswa jadi lebih aktif untuk berpartisipasi, mampu menganalisis
masalah dengan cara baru (Klincsik, 2003).
Berdasarkan kajian di atas, terkait dengan kebutuhan terhadap pengunaan metode
representasi ganda berbantuan Maple dalam proses belajar-mengajar yang efektif dan efisien,
mengatasi permasalahan pada pengajaran konvensional, mengakomodasi karakteristik siswa
yang memiliki perbedaan gaya belajar serta perbedaan representasi, dan perkembangan teknologi
komputasi pada perangkat lunak maupun pada perangkat keras, maka dibutuhkan suatu bentuk
metode representasi ganda berbantuan Maple sebagai suatu model belajar yang diasumsikan
dapat mengatasi sebahagian permasalahan pembelajaran konvensional. Dengan demikian,

diperlukan suatu bentuk kajian ilmiah melalui suatu bentuk penelitian tentang pengaruh
penggunaan metode representasi ganda berbantuan Maple terhadap pencapaian hasil belajar
siswa.
2. Eksperimen
Representasi Ganda dan Turunan
Sebagaimana telah diuraikan di atas, pengajaran dan pembelajaran fisika dan matematika
sebaiknya diajarkan dan dipelajari secara representasi ganda. Merepresentasi secara ganda
terhadap ide-ide fisika maupun matematika dapat dilakukan dengan suatu tambahan cara
sederhana dari yang konvensional (aljabar) dengan menggunakan suatu grafik dua dimensi.
Misalkan suatu fungsi f(x)=x2 dapat direpresentasikan dalam bentuk grafik dua dimensi pada
koordinat kartesius bidang xy. Dengan menyajikan grafik dua dimensi dari fungsi tersebut akan
meningkatkan atau memperluas pemahaman siswa terhadap fungsi f(x)=x2. Di lain pihak, bila
siswa memiliki kepekaan lebih terhadap gambar dari pada kepekaan terhadap aljabar, maka
merepresentasikan fungsi f(x)=x2 secara grafis pada bidang xy akan memberikan pengertian yang
lebih sempurna dan dapat membangun kemampuan berfikir kritis.
Pada kurikulum Sekolah Menengah Atas, materi turunan fungsi diajarkan pada kelas XI.
Turunan fungsi adalah suatu konsep matematika yang pada kerjanya melakukan suatu manipulasi
terhadap suatu fungsi sehingga kemiringan fungsi tersebut dapat diperoleh secara kuantitatif
pada suatu titik yang dilalui oleh fungsi itu. Untuk mengajarkan materi turunan oleh karenanya
sangat tepat bila disajikan secara representasi ganda. Di samping pengajaran dilakukan secara
aljabar dan numerik (untuk mendapatkan turunan fungsi dan hasil kuantitatifnya), maka
merepresentasikan fungsi dan turunan fungsi yang dimaksud secara visual dalam bentuk grafik,

akan mempertajam pemahaman siswa terhadap pengertian turunan fungsi. Misalkan fungsi
f(x)=sin x akan menghasilkan turunan f(x)=cos x. Secara aljabar dan numerik, nilai f(x) dan
nilai f(x) pada harga x tertentu dapat dihitung. Namun, jika pengajaran hanya sampai pada tahap
itu makna kemiringan yang menjadi konsep turunan menjadi tidak terpaparkan. Untuk memenuhi
kekurangan ini, representasi ganda yang menyajikan grafik dan pemahaman grafik mutlak harus
diberikan. Untuk tujuan tersebut, Maple adalah alat bantu yang sangat berguna. Dengan
menggunakan Maple, grafik fungsi f(x)=sin x dan kemiringannya (turunannya) pada suatu harga
x tertentu dapat dihitung dari fungsi f(x)=cos x dapat dibangun. Pada gambar 1 ditunjukkan
grafik fungsi f(x)=sin x (warna merah) dan kemiringan fungsi tersebut pada titik x=1 (diwakili
oleh garis lurus hijau).

Gambar 1. Grafik fungsi f(x)=sin x (warna merah) dan kemiringannya (diwakili oleh garis lurus hijau) yang
dibangun dengan menggunakan program Maple.

Instrumen, Populasi dan Sampel


Materi ajar turunan dan seperangkat soal telah dirancang untuk dijadikan sebagai
instrumen dalam penelitian ini. Materi ajar turunan disajikan secara representasi ganda dengan
berbantuan Maple. Sebanyak 5 soal digunakan sebagai alat pengumpul data pada pre-test dan
post-test untuk melihat pengaruh pembelajaran representasi ganda yang dilakukan.
Populasi yang diteliti adalah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) kelas XI di
Kota Semarang. Dari sebanyak 16 SMAN yang ada, dipilih secara acak 3 SMAN sebagai sampel
dengan jumlah siswa kelas XI sebanyak 515. Setengah dari jumlah siswa tersebut dipilih secara
acak untuk dijadikan sebagai kelas kontrol yang diajar secara konvensional dan setengah lainnya
dijadikan kelas eksperimen yang diajar dengan representasi ganda.
Sebelum mendapat perlakuan, pengetahuan masing-masing kelas direkam melalui
kegiatan ujian pre-test. Setelah mendapat perlakuan pengajaran, kembali pengetahuan masingmasing kelas direkam melalui ujian post-test.
Analisis Statistik
Analis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS for windows versi
17. Uji Mann-Whitney digunakan sebagai alternatif uji t untuk dua sampel independen yang
tidak terdistribusi normal. Bentuk uji hipotesis yang dilakukan adalah dengan uji hipotesis satu
sisi (one-tailed test) untuk sisi atas dengan hipotesis: Ho

: 1 2 .

3. Hasil dan Diskusi


Didasarkan pada data yang diperoleh dari hasil penelitian untuk kelas eksperimen dan
kelas kontrol pada pre-test, maka didapatkan rata-rata skor dan standar deviasinya seperti
ditunjukan pada tabel 1. Rata-rata skor pre-test kelas eksperimen adalah 16,45 dengan standar
deviasi 9,17, sedangkan nilai minimum dan maksimumnya, masing-masing 0 dan 33. Skor pretest kelas kontrol memiliki rata-rata 9,45 dengan standar deviasi 5,65 dan nilai minimum dan
maksimumnya masing-masing, 0 dan 26.
Tabel 1. Rata-rata dan standar deviasi skor pre-test disertai nilai minimum dan maksimum yang dicapai
oleh kelas kontrol dan eksperimen .
S

Minim
um
Maksimum

Kelas

Eksperimen

84

16,45

9,17

33

Kontrol

70

9,41

5,65

26

Setelah mengetahui kemampuan dri masing-masing kelas melalui skor pre-test langkah
berikutnya adalah member perlakuan terhadap masing-masing kelas di mana kelas eksperimen
mendapatkan perlakuan metode mengajar representasi ganda berbantuan Maple sedangkan kelas
kontrol, mendapatkan perlakuan mengajar konvensional. Kemudian dilakukan post-test dengan
hasil sebagaimana ditunjukan pada tabel 2. Rata-rata skor post-test kelas eksperimen adalah
64,22 dengan standar deviasi 27,54 sedangkan nilai minimum dan maksimumnya adalah 13 dan
100, skor post-test kelas kontrol memilki rata-rata 22,66 dengan standar deviasi 6,93 untuk nilai
minimum dan maksimumnya adalah 6 dan 33.

Tabel 2. Rata-rata dan standar deviasi skor post-test disertai nilai minimum dan maksimum yang dicapai
oleh kelas kontrol dan eksperimen .
Kelas
Eksperimen
Kontrol

N
84
70

x
64,22
22,66

SD
27,54
6,93

Minimum
13
6

Maksimum
100
33

Dari data yang ditunjukan padatabel 1 dan tabel 2 maka terlihat ada peningkatan (gain)
yang terjadi. Peningkatan ini selanjutnya ditunjukan oleh indeks gain pada tabel 3. Pada tabel 3
didapat bahwa gain pada kelas eksperimen adalah 0,48, sedangkan gain pada kelas kontrol
adalah 0,11. Mengacu pada indeks gain, maka peningkatan 0,48 pada kelas eksperimen masuk
pada kategori sedang, sedangkan peningkatan 0,11 pada kelas kontrol masuk pada kategori
rendah.
Tabel 3. Nilai dan indeks gain untuk melihat tingkat perubahan terhadap pencapaian siswa di kelas
kontrol dan kelas eksperimen .

Kelas
Eksperimen
Kontrol

N
84
70

Median Pre
16,5
13

Median Post
56,5
23

gai
n
0,48
0,11

Indeks
sedang
rendah

Ho yang diuji secara statistik pada penelitian ini adalah : tidak ada perbedaan pada
pencapaian siswa pada materi ajar turunan fungsi yang diajar dengan menggunakan metode
representasi ganda berbantuan Maple dibandingkan dengan siswa yang diajar secara
konvensional. Sedangkan, Hipotesa alternatif (Hi) adalah : ada perbedaan pencapaian siswa pada
materi ajar turunan fungsi yang diajar dengan menggunakan metode representasi ganda
berbantuan Maple dibandingkan dengan siswa yang diajar secara konvensional.
Data gain menurut median dan standar deviasinya ditunjukan pada tabel 4. Dari data pada
tabel 4 diperoleh bahwa median gain pada kelas eksperimen lebih tinggi, yaitu : 47 (SD = 21,99)

dibandingkan dengan median gain pada kelas kontrol yaitu 14 (SD = 6,27). Dari hasil analisis
statistik sebagaimana ditunjukan pada tabel 5, bahwa uji Mann-Whitney untuk hipotesis H o:
1 2 terhadap H1 : 1 > 2 memberikan nilai z= -9,195 dengan p-value = 0,000. Untuk uji

satu sisi maka harus dibagi dua menjadi

0,000
0,000 . Karena p-value = 0,000 lebih kecil dari
2

= 0,05 maka Ho : 1 2 ditolak.

Tabel 4. Rata-rata dan standar deviasi gain untuk melihat rata-rata pencapaian dari kedua kelas penelitian
sebagai tolok ukur uji hipotesis.

Kelas

median

SD

Eksperimen

84

47

21,99

Kontrol

70

14

6,27

Tabel 5. Uji Mann-Whitney


Ranks
Clas
Score_gain

Mean Rank

Sum of Ranks

Eksperimen

84

107.54

9033.50

Kontrol

70

41.45

2901.50

Total

154

Test Statisticsa
score_gain
Mann-Whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

416.500
2901.500
-9.195
.000

4. Kesimpulan
Sesuai hasil yang diperoleh menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan nilai p-value =
0,000 yang adalah lebih kecil dari nilai

, maka Ho ditolak. Dengan demikian hasil dari

penelitian ini menunjukan bahwa pembelajaran metode rerpesentasi ganda berbantuan Maple
memiliki hasil yang lebih baik pada materi ajar turunan fungsi dibandingkan dengan yang diajar
dengan metode konvensional. Indeks gain yang mengalami peningkatan terdapat di kelas
eksperimen. Jelas terlihat bahwa penggunaan metode mengajar representasi ganda berbantuan
Maple mampu meningkatkan pencapaian siswa, hal ini disebabkan karena siswa memiliki
pemahaman yang lengkap terhadap materi ajar yang diajarkan.

Daftar Pustaka

Klincsik, M., 2003. Teaching Spline Approximation Techniques Using Maple. ZDM, 35(2), hal.
30-35.
Kordaki, M., 2005. The Role of Multiple Representation Systems in The Enhancement of The
Learner Model in Open Learning Computer Environments. Recent Research
Developments in Learning Technologies, hal. 1-5.
Mackie, D., 2002. Using Computer Algebra to Encourage A Deep Learning Approach to
Calculus. Proceedings of 2nd International Conference on The Teaching of
Mathematics (at the undergraduate level). Greece, 1-6 Juli 2002.
Mallet, D., 2007. Multiple Representations for Systems of Linear Equations via The Computer
Algebra System Maple. International Electronic Journal of Mathematics Education
Vol 2, No. 1. Februari, 2007.
Molenje, L., 2007. High School Mathematics Teachers Use of Multiple Representations When
Teaching Function in Graphing Calculator Environments. Paper of The Annual Meeting
of The North American Chapter of The International Group for The Psychology of
Mathematics Education, University of Nevada. Nevada, USA, 25 Oktober 2007.
Powers, R., & Blubaugh, W., 2005. Technology in Mathematics Education: Preparing Teachers
for The Future. Contemporary Issues in Technology and Teacher Education Vol. 5
(3/4), hal. 254 -270.
Sankey, M., 2005. Multimodal Design and The Neomillenial Learner. Proceedings of OLT 2005
Conference, Brisbane, Australia, 27 September 2005, hal. 251-259.
Yerushalmy, M., 2005. Function of Interactive Visual Representations in Interactive
Mathematical Textbooks. International Journal of Computers for Mathematical
Learning, hal. 217-249.