Anda di halaman 1dari 7

2.

PRE-OPERATIF
Alat-alat ekstraksi untuk gigi sulung rahang atas dan bawah
Beberapa dokter gigi memilih menggunakan instrumen bedah untuk anak-anak seperti instrument
yang digunakan pada dewasa. Bagaimanapun juga, banyak dokter gigi anak dan oral and maxilofacial
surgeons lebih memilih tang ekstraksi anak-anak yang lebih kecil seperti no.150S dan 151S, karena
beberapa sebab :
1. Ukuran tang nya yang lebih kecil lebih memudahkan untuk masuk dalam kavitas oral dari pasien anakanak.
2. Tang ekstraksi yang lebih kecil lebih mudah disembunyikan dalam tangan operator.
3. Bentuk paruh dari tang yang lebih dapat beradaptasi dengan bentuk anatomi gigi sulung.

a. Instrumen untuk pencabutan gigi sulung RA


Tang untuk rahang atas biasanya berbentuk tang biasa yang lurus antara kepala dan badang tang
tersebut, diantaranya :
-

Gigi sulung anterior :

Tang dengan kepala yang lurus dengan badan tang.


-

Gigi sulung posterior:

Tang dengan kepala agak membengkok dari badan tang.


-

Akar gigi :

Tang dengan kepala tang agak tertekuk dan kedua ujung tang saling bertemu.

b. Instrumen untuk pencabutan gigi sulung RB

Berbeda dengan tang untuk rahang atas, pada tang untuk rahang bawah rata rata kepalanya
membentuk sudut 90 terhadap badannya sehingga terlihat seperti bengkok, diantaranya :
- Gigi sulung anterior:

Tang dengan kepala yang sedikit runcing penyerupai capit pada ujungnya.
Gigi sulung posterior :

Tang dengan kepala yang sedikit membulat dibanding tang anterior dan ujungnya terdapat takik.
Akar gigi :

Tang untuk akar ini menyerupai tang untuk gigi posterior namun tidak memiliki takik pada
ujungnya, dan kedua ujung tang ini saling bertemu.
Selain instrumen tang, dalam ekstraksi gigi untuk anak anak juga menggunakan alat bantu seperti bend
atau elevator, dan beberapa instrumen standar untuk pemeriksaan seperti Kaca mulut, sonde, pinset,
injector, ekskavator, cotton roll, betadine cane yg diisi betadin.

3. OPERATIF
Teknik Pencabutan Gigi Sulung
Teknik pencabutan gigi sulung tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Karena pada anak-anak ukuran
gigi dan mulut lebih kecil sehingga tidak memerlukan tenaga yang besar, maka bentuk tang ekstraksinya lebih
kecil dari ukuran dewasa, Harus diingat juga bentuk akar gigi sulung yang menyebar dan kadang-kadang
resorbsinya tidak beraturan dan adanya benih gigi permanen di bawah akar gigi sulung. Seperti juga pada orang
dewasa, pada waktu melakukan tindakan ekstraksi perlu dilakukan fiksasi rahang dengan tangan kiri.

Jika resorbsi akar telah banyak, pencabutan sangat mudah. Namun jika resorbsi sedikit, terutama pada
gigi molar, pencabutan sedikit lebih susah dilakukan apalagi bila terhalang benih gigi permanen di bawahnya.
Pada gigi sulung berakar tunggal, teknik pencabutan dilakukan gerakan rotasi dengan satu jurusan
diikuti dengan gerakan ekstraksi atau penarikan. Pada gigi berakar ganda, gerakan untuk melakukan
pencabutan adalah gerakan luksasi pelan-pelan. Gerakan luksasi dilakukan ke arah buccal dan palatal, serta
diulang dan juga harus hati-hati serta tidak dengan kekuatan yang besar. Gerakan luksasi ini diikuti dengan
gerakan ekstraksi.
Bila pada gambaran rontgen terlihat benih gigi tetap berada pada akar gigi sulung, sebaiknya
pencabutan dilakukan dengan membagi mahkota menjadi dua bagian dan mencabutnya satu demi satu untuk
menghindari terangkatnya benih gigi tetap di bawahnya.
Untuk memastikan visualisasi yang adekuat dan kenyamanan dalam berbagai manipulasi yang didapat
dalam proses pencabutan, kursi gigi harus selalu diposisikan dengan benar. Untuk pencabutan pada rahang atas,
mulut pasien harus sama tingginya dengan bahu dokter gigi dan sudut antara kursi gigi dan bidang horizontal
(lantai) kira-kira 120*.
Dan juga, permukaan oklusal gigi rahang atas harus membentuk sudut 45* dengan bidang horizontal
selama mulut terbuka. Dalam pencabutan gigi rahang bawah, kursi gigi diposisikan lebih rendah, maka sudut
antara kursi dengan bidang horizontal adalah 110*.
Permukaan oklusal dari gigi rahang bawah harus sejajar dengan bidang horizontal saat mulut pasien
terbuka. Posisi dokter gigi yang menggunakan tangan kanan selama ekstraksi dengan menggunakan tang,
berada di depan kanan pasien, dokter gigi yang menggunakan tangan kiri harus berada di depan kiri
pasien.Untuk pencabutan gigi anterior rahang bawah, dokter gigi yang menggunakan tangan kanan harus
berada di depan belakang pasien di sisi kanan, dokter gigi yang menggunakan tangan kiri harus berada di depan
pasien atau dibelakang pasien pada sisi kiri.

4. POST-OPERATIF PENCABUTAN GIGI ANAK

Instruksi pasca ekstraksi gigi


Tujuan utama dilakukannya perawatan postoperatif pasca pencabutan gigi adalah untuk mempercepat
proses penyembuhan dan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya rasa sakit dan pembengkakan.
Setelah dilakukan tindakan bedah atau pencabutan gigi biasanya akan muncul banyak keluhan-keluhan
dari pasien. Hal ini wajar terjadi. Salah satu keluhan yang mungkin terjadi adalah rasa keidaknyamanan. Rasa
ini dapat muncul sebagai akibat adanya rasa sakit yang dialami oleh pasien, dan untuk menghilangkan rasa
ketidaknyamanan pada pasien dapat dilakukan pemberian obat penghilang rasa sakit.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Gigit tampon selama sampai 1 jam


Jangan sering berkumur
Jangan sering meludah
Jangan mempermainkan luka bekas pencabutan gigi dengan lidah atau jari
Jangan menghisap-hisap luka bekas pencabutan (jangan merokok)
Makan pada sisi yang berlawanan
Jangan makan atau minum yang panas
Instruksikan cara minum obat sesuai dengan aturan
Kontrol segera jika ada keluhan baik akibat ekstraksi gigi atau ada alergi obat-obatan

*Obat-obatan
-

Antibiotika
Analgetika
Anti alergi
Anti inflamasi
Multivitamin
Obat kumur
Analgetik antiinflamsi (NSAIDS)
Menurut Laskin (1985) dan Peterson (1998), ada beberapa tindakan postoperatif lain yang harus

dilakukan yaitu sebagai berikut:


1. Istirahat yang cukup.
2. Pasien dianjurkan unuk tidak makan makanan yang keras terlebih dahulu. Pasien haru smakan
makanan yang cair danlembut, terutama pada hari pertama pasca pencabutan gigi. Makanannya
juga tidak boleh terlalu panas. Pasien baru boleh makan beberapa jam setelah pencabutan gigi agar
tidak mengganngu terbentuknya blood clot. Dan jangan mengunyah pada sisi yang baru di cabut.
3. Banyak minum air untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
4. Pasien harus selalau menjaga kebersihan muutnya.
5. Untuk mengurangi rasa sakit dapat digunakan pemberian obat analgesik. Selain dengan pemberian
obat anelgesik pengguanaan aplikasi dingin juga dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya rasa
sakit.
6. Pasien tidak boleh merokok. Karena dapat meningkatkan insiden terjadinya dry socket.

Sedangkan menurut Archer (1975), perawatan postoperatif yang diinstruksikan kepada pasien untuk
mencegah komplikasi adalah sebagai berikut:
a. Biarkan gauze sponge tetap berada di dalam mulut selama 30 menit setelah pencabutan gigi
untuk mengurangi perdarahan.
b. Jangan menggunakan obat kumur selama 6 jam pasca pencabutan, karena dapat menstimulus
terjadinya perdarahan dan dapat mengganggu terbentuknya blood clot.
c. Apabila terjadi perdarahan ringan, kumur-kumur dengan menggunakan air garam yang hangat.
d. Apabila perdarahan terus menerus terjadinya, segera hubungi dokter gigi. Dan selama
menunggu, letakkan soaked tea bag pada area yang mengalami perdarahan, lalu tutup dengan
menggunakan kapas atau kasa, gigit sekitar 20 menit.
e. Gunakan aplikasi panas untuk menghilangkan diskolorisasi yang terjadi.
f. Lakukan pemberian vitamin C dan vitamin B terapi tambahan yang berfungsi untuk membantu
penyembuhan jaringan.
OBAT OBAT PASCA PENCABUTAN GIGI

1. Obat Analgesik
PARACETAMOL 500MG
GOLONGAN

: Generik

INDIKASI

: Menghilangkan rasa sakit & penurun panas.

KONTRA INDIKASI

: Gagal ginjal & hati.

PERHATIAN

: Pasien alkoholik.

EFEK SAMPING

: Reaksi kulit, hematologis, reaksi alergi yang lain.

KEMASAN

: Kotak isi 100 tablet.

DOSIS

: - Dewasa : 3-4 kali sehari :1-2 tablet


Anak
: 6-12 tahun
: - 1 tablet tiap 4 - 6 jam.
- Anak
: 2-5 tahun
: - tablet tiap 4 - 6 jam
PARACETAMOL 120 mg/ 5ml SIRUP
-

INDIKASI

: Mengurangi rasa sakit kepala,sakit gigi dan menurunkan panas.

EFEK SAMPING

: Reaksi hipersensitif, dosis tinggi merusak hati.

DOSIS :
0 1 tahun
1 2 tahun
2 6 tahun
6 9 tahun
9 12 tahun

: sendok takar (2,5 ml)


: 1 sendok takar (5 ml)
: 1 2 sendok takar (5-10 ml)
: 2 3 sendok takar (10-15 ml)
: 3 4 sendok takar (15-20 ml)

KEMASAN

: Botol 60 ml.

2. Obat Antibiotik
AMOXICILLIN

/ 3 4 kali sehari
/ 3 4 kali sehari
/ 3 4 kali sehari
/ 3 4 kali sehari
/ 3 4 kali sehari

KOMPOSISI

: - Tiap kapsul mengandung Amoxicillin Anhidrat 250 mg


- Tiap kaplet mengandung Amoxicillin Anhidrat 500 mg

CARA KERJA OBAT :


Amoxicillin adalah senyawa Penisilina semisintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat
bakterisid, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram positif dan beberapa gram negatif yang patogen.
Bakteri patogen yang sensitif terhadap Amoxicillin antara lain : Staphylococci, Streptococci, Enterococci,
S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H influenzas, E. coli, dan P. mirabiiis. Amoxicillin kurang efefktif terhadap
species Shigella dan bakteri penghasil beta laktamase.
INDIKASI :
Infeksi yang disebabkan oleh kuman-kuman gram positif dan gram negatif yang peka terhadap Amoxicillin,
seperti infeksi pada saluran pernapasan bagian atas, otitis media, bronchitis akut dan kronik, pneumonia
cystitis, urethris, pyelonephritis, gonorhea yang tidak terkomplikasi, infeksi kulit dan jaringan lunak.
DOSIS :
Disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi
- Anak-anak dengan berat badan kurang dari 20 kg : 20-40 mg/kg berat badan per hari dibagi dalam 3
dosis.
- Dewasa dan anak dengan berat badan di atas 20 kg : sehari 750-1500 mg dalam dosis terbagi,
diberikan tiap 8 jam sebelum makan.
- Pada infeksi yang lebih berat digunakan dosis yang lebih besar atau menurut petunjuk dokter.
- Untuk gangguan ginjal dengan kreatinin klirens 10 ml/menit, dosis tidak boleh lebih dari 500 mg
tiap 12 jam.
- Untuk gonorhea yang tidak terkomplikasi
: Dewasa : 3 gram Amoxicillin dosis tunggal.
: Anak-anak pra pubertas : 50 mg/kg BB Amoxicillin + 25 mg /kg BB Probenecid
diberikan bersama dalam dosis tunggal.
PERINGATAN DAN PERHATIAN :
- Penggunaan dosis tinggi dalam jangka lama dapat menimbulkan super infeksi (biasanya disebabkan
Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus, Candida) terutama pada saluran gastro intestinal.
- Pemakaian pada wanita hamil belum diketahui keamanannya dengan pasti.
- Hati - hati pemberian pada wanita menyusui karena dapat menyebabkan sensitifitas pada bayi.
- Pada kasus gonorhea : hati-hati penggunaan pada anak-anak karena probenecid dikontraindikasikan untuk anak-anak dibawah 2 tahun.
- Pengobatan dengan Amoxicillin dalam jangka waktu yang lama harus disertai dengan pemeriksaan
terhadap fungsi ginjal, hati dan darah.
EFEK SAMPING :
- Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urticaria, ruam kulit, angioedema
dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis.
- Kemungkinan reaksi anafilaksi.
KONTRA INDiKASI :
- Penderita yang hipersensitif terhadap Penicillin dan turunannya.
- Bayi baru lahir dimana ibunya hipersensitif terhadap Penicillin atau turunannya.
- Jangan digunakan untuk pengobatan meningitis atau infeksi pada tulang sendi karena Amoxicillin
oral tidak menembus ke dalam cairan cerebrospinal atau sinovial.
INTERAKTIF OBAT :
- Probenecid memperiambat ekskresi Amoxicillin
- Penggunaan bersama-sama allopurinol dapat meningkatkan terjadinya reaksi kulit.
CARA PENYIMPANAN :
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya.
KEMASAN :

- Amoxicillin kapsul 250 mg dus 10 strip @ 10 kapsul No. Reg. GKL 0007113501 A1
- Amoxicillin kapiet 500 mg dus 10 strip @ 10 kaplet No. Reg. GKL 0007113604 A1

2.6 Komplikasi Pada Saat Pencabutan Gigi dan Pasca Pencabutan Gigi
1. Komplikasi Saat Ekstraksi Gigi Sulung dan Penanganannya
Dokter gigi harus yakin dalam pemberian anestesi karena ketika pasien merasa sakit, mungkin sulit
untuk mengembalikan rasa percaya anak ke kondisi normal. Beberapa factor yang membuat pasien anak
mengaspirasi atau menelan benda asing selama perawatan antara lain:
1. Posisi duduk yang miring pada pasien
2. Penglihatan dokter gigi yang terganggu karena pasien membuka mulut lebih kecil
3. Pergerakan pasien yang tidak terduga
Penanganannya adalah dengan cara dokter gigi harus menempatkan dirinya dengan tepat agar mudah
menjangkau alat yang digunakan, memiliki penglihatan yang cukup untuk melakukan tindakan dan mengontrol
kepala pasien. Tangan yang tidak bekerja dari operator ditempatkan pada mulut pasien. Peran dari tangan yang
tidak bekerja adalah untuk mengontrol kepala pasien, untuk menyokong rahang yang sedang dirawat, untuk
meretraksi pipi, bibir, dan lidah, bidang operasi dan untuk palpasi prosessus alveolaris dan gigi yang
bersebelahan dengan gigi yang akan diekstraksi selama prosedur ekstraksi.
2. Komplikasi Pasca Ektraksi Gigi Sulung dan Penanganannya
Komplikasi pasca ekstraksi gigi sulung yang dapat terjadi antara lain sebagai berikut.
1. Fraktur Akar
2. Terjadinya trauma pada benih gigi tetap.
3. Dry Socket
4. Perdarahan