Anda di halaman 1dari 35

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS


(Specific gravity and absorption of fine aggregate)

1. Tujuan Umum dan Sasaran Praktikum


Praktkum ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat menentukan berat
jenis dan penyerapan agregat halus dan agregat sedang
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering-permukaan
jenuh (saturated surface dry = SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat
halus.

2. Terminologi

Berat Jenis
agregat

Berat Jenis (SSD)


perbandingan

Berat Jenis Semu

Penyerapan

: bulk specific gravity adalah perbandingan antara berat


kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi
agregat
dalam keadaan jenuh oada suhu tertentu.
: atau berat jenis kering permukaan jenuh yaitu
agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling
yang isinya sama dengan agregat dalam keadaan jenuh
pada suhu tertentu.
: apparent specific gravity ialah perbandingan antara berat
agregat kering dan berat air suling yang isinya sama
dengan isi
agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu.
: ialah persentase berat air yang dapat diserap pori terhadap
berat agregat kering.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

3. Teori Dasar
Mencari nilai Relative Density dari suatu contoh bahan mentah secara umum dilakukan
dengan menggunakan timbangan, keranjangan baja(steel yard) yang mengacu pada buku acuan
dari sifat fisik dan minerologi fisik (physical mineralogy) (hurlbut and Klein, 1977).
Untuk agregat yang lebih halus digunakan piknometer (pycnometer), selain penggunaan
piknometer ini ada beberapa metode yang bisa menghitung berat jenis agregat halus dan sedang
yakni dengan menggunakan gas jar dan specific gravity bottle.
Karakteristik berat jenis secara umum digunakan dalam perhitungan dalam perhitungan volume
agregat dalam berbagai jenis campuran yang mengandung agregat termasuk beton semen
Portland, aspal beton, dan campuran lain yang secara proporsional atau dianalisis berdasarkan
volume.
Nilai penyerapan digunakan dalam perhitungan perubahan berat agregat karena penyerapan air
oleh pori-pori, disbanding dengan kondisi kering.

4. Prosedur Percobaan
4.1. Peralatan

Timbangan kapasitas 1 kg dengan ketelitian 0,1 gram


Piknometer dengan kapasitas 500ml
Kerucut Terpancung
Batang penumbuk
Saringan No.4
Oven
Pengukur suhu
Talam
Bejana
Air Suling

4.2. Benda Uji


Benda uji adalah agregat yang lewat saringan no.4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara
perempat sebanyak 1000 gram.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4.3. Cara Melakukan

Keringkan benda uji dalam oven, sampai berat tetap. Yang dimaksud berat tetap adalah
keadaan berat benda uji selama 3 kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven
dengan selang waktu 2 jam berturut-turut, tidak akan mengalami perubahan kadar air
lebih besar dari pada 0,1%
Dinginkan pada suhu ruangan, kemudian rendam dalam air selama 24 jam
Buang air dalam perendaman hati-hati, jangan ada butiran yang hilang, tebarkan agregat
diatas talam, keringkan diudara panas dengan cara membalik-balikkan bernda uji.
Lakukan pengeringan sampai terjadi keadaan kering permukaan jenuh.
Periksa keadaan kering-permukaan jenuh dengan mengisikan benda uji kedalam kerucut
terpancung, padatkan dengan batang penumbuk selama 25 kali angkat kerucut
terpancung. Keadaan kering-permukaan jenuh tercapai bila benda penguji runtuh akan
tetapi masih dalam keadaan tercetak.
Segera setelah tercapai keadaan kering-permukaan jenuh masukkan 500 gram benda uji
kedalam piknometer.
Masukkan air suling sampai mencapai 90% isi piknometer, putar sambil diguncang
sampai tidak terlihat gelembung udara didalamnya.
Rendam piknometer dalam air dan ukuran suhu air untuk perhitungan kepada suhu
standar 25C.
Tambahkan air sampai tanda batas
Timbang piknometer berisi air dan benda uji (Bt)
Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven sampai berat tetap, kemudian dinginkan
benda uji.
Setelah benda uji dingin kemudian timbang (Bk)
Tentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian dengan
suhu standar (25C).

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4.4. Perhitungan
a) Berat Jenis (Bulk Specific gravity)

Bk
B+500Bt

b) Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry)


c) Berat Jenis semu (apparent specific gravity)
d) Penyerapan

500
B+500Bt

Bk
B+ BkBt

500Bk
x 100
Bk

Keterangan :
Bk
B
Bt
500

= berat benda uji kering oven (gram)


= berat piknometer berisi air (gram)
= berat piknometer berisi benda uji dalam air (gram)
= berat benda uji dalam keadaan kering-permukaan jenuh (gram)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR


(Specific gravity and absorption of fine aggregate)

1. Tujuan Umum dan Sasaran Praktikum


Praktkum ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat menentukan berat
jenis dan penyerapan agregat kasar
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering-permukaan
jenuh (saturated surface dry = SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat
halus.

2. Terminologi

Berat Jenis
agregat

Berat Jenis (SSD)


perbandingan

Berat Jenis Semu

Penyerapan

: bulk specific gravity adalah perbandingan antara berat


kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi
agregat
dalam keadaan jenuh oada suhu tertentu.
: atau berat jenis kering permukaan jenuh yaitu
agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling
yang isinya sama dengan agregat dalam keadaan jenuh
pada suhu tertentu.
: apparent specific gravity ialah perbandingan antara berat
agregat kering dan berat air suling yang isinya sama
dengan isi
agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu.
: ialah persentase berat air yang dapat diserap pori terhadap
berat agregat kering.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

3. Teori Dasar
Mencari nilai Relative Density dari suatu contoh bahan mentah secara umum dilakukan
dengan menggunakan timbangan, keranjangan baja(steel yard) yang mengacu pada buku acuan
dari sifat fisik dan minerologi fisik (physical mineralogy) (hurlbut and Klein, 1977).
Karakteristik berat jenis secara umum digunakan dalam perhitungan dalam perhitungan volume
agregat dalam berbagai jenis campuran yang mengandung agregat termasuk beton semen
Portland, aspal beton, dan campuran lain yang secara proporsional atau dianalisis berdasarkan
volume.
Berat jenis semu (apparent specific gravity) merupakan bagian relative density dari bahan padat
yang terbentuk dari campuran partikel kecuali pori-pori / rongga udara yang dapat menyerap air.
Nilai penyerapan digunakan dalam perhitungan perubahan berat agregat karena penyerapan air
oleh pori-pori, disbanding dengan kondisi kering.

4. Prosedur Percobaan
4.1. Peralatan

Keranjang kawat ukuran 3,35mm atau 2,36mm (no.6 atau no.8) dengan kapasitas
kira-kira 5 kg
Tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai untuk pemeriksaan. Tempat
ini harus dilengkapi dengan pipa sehingga permukaan air selalu tetap.
Timbangan kapasitas 5 kg dengan ketelitian 0,1 gram
Piknometer dengan kapasitas 500ml
Saringan No.4
Oven
Alat pemisah contoh

4.2. Benda Uji


Benda uji adalah agregat yang lewat saringan no.4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara
perempat sebanyak 5000 gram.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4.3. Cara Melakukan

Cuci sampel untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan lain yang melekat pada
permukaan
Keringkan benda uji dalam oven, sampai berat tetap
Dinginkan sampel pada suhu ruangan selama 1- 3 jam, kemudian timbang dengan
ketelitian 0,3 gram (Bk)
Rendam sampel dalam air pada suhu kamar selama 24 jam.
Keluarkan sampel dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air pada permukaan
hilang (SSD), untuk butiran besar pengeringan harus satu-persatu
Timbang sampel kering permukaan jenuh (Bj)
Timbang sampel didalam keranjang, goncangkan batunya untuk mengeluarkan udara
yang tesekap dan tentukan beratnya didalam air(Ba)

4.4. Perhitungan
e) Berat Jenis (Bulk Specific gravity)

Bk
BjBa

f) Berat jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry)


g) Berat Jenis semu (apparent specific gravity)
h) Penyerapan

Bj
BjBa

Bk
BkBa

BjBk
x 100
Bk

Keterangan :
Bk
Bj
Ba
500

= berat sampel kering oven (gram)


= berat sampel kering-permukaan jenuh (gram)
= berat uji kering permukaan jenuh didalam air (gram)
= berat benda uji dalam keadaan kering-permukaan jenuh (gram)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

PENGUJIAN SETARA PASIR


(SAND EQUIVALENT)

1. REFERENSI
SNI 03 4428 1997 : Metode Uji Bahan Plastis Pasir dengan setara pasir
SNI 03 6889 2002 : Tata cara pengambilan contoh agregat
SK SNI S 04 2417 1989 F : Spesifikasi Agregat sebagai bahan bangunan
Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Litbang Trans PU, April 2005

2. TUJUAN UMUM
Dapat menentukan kandungan bahan plastis agregat berdasarkan nilai kesetaraan
dengan pasir (sand equivalent) untuk bahan campuran beraspal.
3. TUJUAN KHUSUS
a) Memahami pengertian nilai kesetaraan pasir dari agregat halus dan pengaruhnya
terhadap campuran beraspal
b) Dapat melaksanakan pengujian kandungan bahan plastis agregat dengan metode
kesetaraan pasir
c) Dapat menghitung nilai kesetaraan pasir dari agregat yang akan digunakan dalam
campuran beraspal
d) Dapat menggunakan peralatan sesuai prosedurr standar pengujian

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4. DASAR TEORI
Agregat yangdigunakan sebagai bahan jalan harus bersihm bebas dari zat-zat
asing seperti tumbuhan, butiran lunak, gumpalan tanah liat(lempung) atau lapisaan tanah
liat (lempung). Biasanya berada dalam atau melekat pada agregat. Agregat yang kotor
akan memberikan pengaruh jelek pada kinerja perkerasan, seperti berkurangnya ikatan
antar aspal dengan agregat yang disebabkan karena banyaknya kandungan lempung pada
agregat tersebut. Kebersihan agregat sering dapat dilihat secara visual, namun dengan
suatu analisa satringan disertai pencucian agregat akan memberikan hasil yang lebih
akurat tentang bersih atau tidaknya agregat tersebut.
Pengujian setara pasir (sand equivalent test), dilakukan untuk menentukan
perbandingan relative dari bagian bahan yang dapat merugikan (seperti butiran lunak dan
lempung) terhadap bagian bahan agregat yang lolos saringan no.4 . Oleh karena itu nilai
setara pasir agregat untuk pekerjaan campuran beraspal panas, mensyaratkan minimum
50% (spesifikasi umum bidang jalan dan jembatan, Litbang Trans PU, April 2005)
Pengujian serata pasir adalah suatu metode pengujian agregat halus atau pasir
lolos saringan nomor 4 (4,76 mm), menggunakan suatu alat uji cara setara pasir dan
larutan kerja tertentu. Nilai setara pasir adalah perbandingan antara skala pembacaan
pasir terhadap skala pembacaan lumpur pada alat uji setara pasir yang dinyatakan dalam
persen. Bahan plastis adalah bahan yang mengandung lempung atau lanau atau yang
menyerupai lempung atau lanau.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

5. PROSEDUR PRAKTIKUM
A. Peralatan

Sand Equivalent Test app lengkap sesuai spesifikasi SNI 03 4428 1997
Oven pengeringan dapat diatur pada suhu konstan (1105C)
Ayakan standar ukuran lubang ayakan 4,75mm (ayakan no.4)
Stop watch
Cawan, kuas, dan alat bantu lain

B. Bahan

Benda Uji
Agregat hasil sampling dan loloas saringan 4,75mm sebanyak 1500gram.

Larutan Baku
Timbang 454 gram Technical Anhydrous (CaCl2) kemudian larutkan
kedalam 1890ml air suling, saringan dengan saringan watman nomor 12,
kemudian tambahkan 2050 gram ( 1640 ml) USP Glycerine dan 47 gram
(45 ml) formaldehyde (kepekaan 40% isi dalam larutan), kemudian aduk
sampai merata. Dalam praktikan di Lab.Aspal Politeknik Negeri Medan,
seluruh larutan sudah dicampur dalam bentuk satu kesatuan didalam gelas
ukur sebanyak 1000ml

Larutan Kerja
Larutan Baku sebanyak (855ml) dilarutkan kedalam 3780ml air suling

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

6. PROSEDUR PELAKSANAAN PENGUJIAN


a) Ambil benda uji sebanyak 85ml, keringkan di oven pada suhu 1105C sampai
berat tetap, kemudian dinginkan pada suhu ruangan
b) Tera tinggi tangkai penunjuk beban kedalam gelas ukur, kemudia baca skalanya
(a), sampai satu angka dibelakang koma
c) Isi tabung plastic dengan larutan kerja sampai skala 5
d) Masukkan benda uji tadi kedalam tabung plastic, ketuk-ketukan untuk beberapa
saat kemudian diamkan selama 10 menit.
e) Tutup tabung dengan penutup karet atau kayu gabus, kemudian miringkan sampai
hamper mendatar dan kocok dengan tangan (digerakkan secara mendatar
sebanyak 90 gerakan selama 30 detik sejauh 200-250mm
f) Tambahkan larutan kerja dengan cara mengalirkan larutan melalui pipa pengalir,
mulai dari bagian bawah pasir bergerak ke atas, sehingga lumpur yang terdapat
dibagian bawah permukaan pasir naik ke atas lapisan pasir. Kemudian tambahkan
larutan kerja sampai skala 15, lalu diamkan selama 20 menit5detik
g) Baca dan catat skala pembacaan koloid (b), sampai satu angka dibelakang koma
h) Masukkan beban perlahan-lahan sampai permukaan lapis pasir, kemudian baca
skala ( c )
i) Hitung skala pembacaan pasir yaitu ( d ) = ( c ) ( a )
j) Hitung nilai setara pasir ( d/b ) x 100% sampai satu angka dibelakang koma

7. PERHITUNGAN
Nilai Setara Pasir (Sand Equivalent Test) =
Dimana :
d = c a = skala pasir
b = skala lumpur

d
x 100
b

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

KELEKATAN ASPAL
1. REFERENSI

SNI 03 2439 1991, Metode pengujian agregat terhadap aspal


SK SNI M 28 1990 F, Spesifikasi Agregat sebagai bahan bangunan.
Spesifikasi umum bidang jalan dan jembatan Litsbang Trans PU, April 2005

2. TUJUAN
Untuk menentukan persentase kemampuan agrega menahan lapisan aspal yang
melekat pada permukaan agregat setelah mengalami proses perendaman tanpa getaran
selama 16 18 jam.

3. DASAR TEORI
Agregat kasar yaitu butiran agregat yang tertahan diatas saringan No.8 atau
2.36mm ( Asphalt Institute), berfungsi sebagai bahan pengisi campuran aspla beton.
Salah satu persyaratan agregat untuk aspal beton antara lain adalah daya kelekatan
agregat terhadap aspal, yang dipengaruhi oleh sifat permukaan agregat.
Sifat permukaan agregat dibedakan :
Agregat yang suka akan air (Hydrophylic), disebut juga agregat
bermuatan negative. Contohnya batuan silica, dan granit
Agergat yang tidak suka akan air (Hydrophobic), disebut juga agregat
bermuatan positif. Agregat ini paling sesuai untuk bahan perkerasan jalan
dan menunjukkan sifat ketahanan yang tinggi terhadap pemisahan
lapisan tipis aspal
Dalam perendaman filem aspal sangat dipengaruhi oleh suhu dan sifat
penyerapan agregat yaitu hydrophilic dan hydrophobic. Besarnya kemampuan agregat
menahan filem aspal menunjukan besarnya kohesi terhadap aspal. Oleh karena itu,
kemampuannya diukur dengan proses perendaman dalam air dan dilihat persentase
pelepasannya setelah perendaman dalam air pada suhu normal selama 18 jam (SNI03-2439-1991).
Kelekatan agregat terhadap aspal adalah persentase luas permukaan batuan
yang tertutup aspal terhadap keseluruhan luas permukaan batuan yang ditentukan
secara visual. Kelekatan agregat terhadap aspal menurut spesifikasi disyaratkan
minimal 95%.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4. ALAT DAN BAHAN


a) Alat yang digunakan adalah

Timbangan
Gelas Ukur
Ayakan (6,3mm dan 9,5mm)
Sendok
Kompor
Wajan

b) Bahan yang dipakai adalah

Agregat dalam keadaan kering oven sebanyak 100 gram


Aspal Pen.60 sebanyak 5,5gram
Air Suling

5. PROSEDUR PENGUJIAN
1) Siapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan
Bahan yang digunakan telah melalui tahap sampling dan dalam keadaan kering
oven. Kemudian diayak dengan menggunakan ayakan (9,5mm dan 6,3mm)
2) Masukkan split dan agregat kedalam wajan. Lalu timbang masing-masing
sebanyak 100gr
3) Lalu tuangkan aspal yang telah dipanaskan terlebih dahulu, suhunya diatas 100
derajat celcius sebanyak 5,5gr
4) Agregat dan aspal dipanaskan diatas kompor. Dan diaduk sampai seluruh
permukaan butiran agregat terselimuti aspal, lalu dinginkan
5) Pindahkan adukan tersebut kedalam gelas ukur transparan lalu isi dengan air
suling sapai terendam minimal sebanyak 400ml
Catatan : Dalam memasukkan adukan tersebut tidak saling berimpit dan tidak
menempel pada dinding gelas
6) Diamkan selama 16-18 jam, pada suhu ruangan 25 derajat celcius
7) Amati dan perkirakan persentase luas permukaan yang masih terselimuti aspal

PENGUJIAN KEHILANGAN BERAT AKIBAT PEMANASAN


DENGAN THIN-FILM OVEN TEST

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

1. REFERENSI
a) SNI 06 2440 1991 : Metode Pengujian Kehilangan Berat Minyak dan Aspal
dengan cara A
b) SK SNI M 29 1990
c) AASHTO T 47 83
2. TUJUAN UMUM & TUJUAN KHUSUS
TUJUAN UMUM
Pemeriksanaan ini dimaksudkan untuk menetapkan penurunan berat minyak dan
aspal dengan cara pemanasan dan tebal tertentu, yang dinyatakan dalam persen berat
semula dan dan untuk perubahan kinerja aspal akibat kehilangan berat
TUJUAN KHUSUS
a. Dapat memahami prosedur pengujian kehilangan berat dengan pemanasan TFOT
b. Dapat menggunakan peralatan pengujian dengan baik dan benar
c. Dapat melakukan pencatatan dan analisa data pengujian kehilangan berat akibat
pemanasan
d. Dapat menyimpulkan besarnya nilai kehilangan barat dan membandingkan dengan
standar yang digunakan.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

3. TEORI DASAR
Cahaya diketahui mempunyai efek yang merusak pada aspal. Kerusakan yang timbul
sering berasal dari sinar matahari, yang mungkin akan merusak molekul aspal, dibantu oleh
faktor air dan cairan pelarut lainnya. Kerusakan molekul dengan cara ini dinamakan
fotooksidasi. Untungnya, sinar yang merusak ini hanya dapat mempengaruhi beberapa lapis
molekul pada laposan atas aspal. Oleh karena itu fotooksidaso dianggap kecil pengaruhnya
apabila dilihat dari tebal aspal secara keseluruhan. Namun, proses diatas tidak bias diabaikan
dalam kontribusinya terhadap proses pengerusakan akibat cuaca pada lapisan permukaan
tipis aspal pada agregat.
Efek pelapukan mungkin tidak terlalu signifikan, kecuali pada permukaan yang sangat
tipis. Fenomena yang terjadi ketika aspal dipanaskan dan kemudian didinginkan kembali
pada suhu ruangan, dimana pengerasan (hardening) akan berlanjut terus tergantung pada
proses oksidasi dan penyinaran. Proses pengerasan ini berlangsung lebih cepat pada beberapa
jam pertama dan kemudian berangsur-angsur berkurang. Sesudah kira-kira setahun, tingkat
pengerasan ini bisa diabaikan.
Di Indonesia, prosedur yang tersedia untuk mengevaluasi durabilitas material aspal
adalah Thin Film Oven Test (TFOT), dengan melakukan pembatasan evaluasi hanya pada
beberapa karakteristik aspal, seperti kehilangan berat (loss on heating) dan penetrasi,
daktilitas dan titik lembek setelah kehilangan berat.

Karakteristik campuran, khususnya mengenai durabilitas, sabgat tergantung pada


karakteristik lapisan tipis aspal. Pada pengujiam ini, suatu sampel tipis dipanaskan dalam
oven selama periode tertentu, dan karakteristik sampel sesudah dipanaskan kemudian
diperiksa untuj meneliti indikasi adanya proses pengerasan atau proses pelapukan dari
material aspal.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4. ALAT DAN BAHAN


Alat :
Alat yang digunakan adalah
a) Oven yang dilengkapi dengan :
Pengatur suhu untuk memanasi benda uji sampai (1631)C
Pinggan logan berdiameter 25 cm, menggantung dalam oven pada poros
vertical dan berputar dengan kecepatan 5-6 putaran/menit
Cawan logam atau gelas berbentuk silinder dengan dasar yang rata.
Ukuran dalam : Diameter 35mm dan Tinggi 15mm
b) Timbangan dengan ketelitian 0,001
Bahan :
Bahan yang digunakan adalah aspal pen 60

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

5. PROSEDUR PELAKSANAAN
a) Proses Penyiapan Sampel
Tuangkan cairan aspal kedalam cawan logam, apabila aspal dalam
keadaan dingin, aspal harus dipanaskan agar dapat dituangkan kedalam
cawan. Caranya adalah letakkan cawan persegi diatas kompor gas, isi
cawan dengan pasir dengan tebal 2cm, letakkan wadah berisi aspal
diatas pasir tersebut, hidupkan kompor dan tunggu sampai aspal mencair
lalu matikan.
Tuangkan aspal cair tersebut kedalam cawan logam berbentuk silinder
(500,5) gram.
Letakkan cawan berisi aspal tersebut didalam ruangan, agar terhindar dari
sinar matahari dan hujan.
b) Proses Pengujian Sampel
Letakkan sampel diatas pinggan setelah oven mencapai suhu (1631)C
Tunggu sampel dipanaskan didalam oven selama 5 jam sampai dengan 5
jam 15 menit
Setelah 5 jam, keluarkan sampel dari oven dan dinginkan sampel pada
suhu ruangan
Setelah dingin timbang sampel dengan ketelitian 0,01 gram
Lakukan percobaan tersebut pada sampel kedua

6. PERHITUNGAN DAN PELAPORAN


Penurunan berat (%) =

BENDA UJI I=

AB
X
A

49,0949,00
X
49,09
= 0,18

100%

100%

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

BENDA UJI II

46,9846,90
X
46,98

100%

= 0,17

7. KESIMPULAN DAN SARAN


I.
Kesimpulan
Dilakukan pengujian kehilangan berat aspal dengan metode Thin Film
Oven Test (TFOT) di Laboratorium Aspal Jurusan Teknik Sipil, Politeknik
Negeri Medan pada tanggal 30 September 2015, pukul 14.00 WIB, dan dengan
suhu ruangan 28C.
Dari data pemeriksaan kehilangan berat aspal pen 60 dengan metode Thin
Film Oven Test (TFOT) diperoleh rata-rata persen kehilangan berat aspal adalah
0,18%.
Kehilangan berat aspal maksimum yang diizinkan adalah 0,80%. Jadi,
dengan demikian,aspal hasil pengujian dalam range aman dan ASPAL SESUAI
STANDAR YANG BERLAKU.
Pengujian Kehilangan Berat Aspal < Spesifikasi Max Kehilangan Berat Aspal
0,18% < 0,80%
II.

Saran

Pada saat akan meng-oven benda uji aspal didalam cawan silinder,
pastikan oven sudah mencapai suhu 163 C. Jika tidak, tunggulah oven mulai
menaikkan suhu sampai 163 C, setelah suhu oven mencapai163 C, masukkan
benda uji kedalam oven dan catat waktu saat itu juga.
Daripada itu juga perhatikan selesai dioven, kemudian setelah 5 jam keluarkan benda uji
dari oven yang jauh dari air dan sinar matahari. Biarkan aspal mencapai suhu ruangan

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

PEMERIKSAAN PENETRASI BAHAN-BAHAN BITUMEN


(Penetration of Bituminous Materials)
1. TUJUAN UMUM
Praktikum ini memberikan pengertian dan kemampuan dasar kepada
mahasiswa untuk dapat menentukan nilai penetrasi aspal sebagai salah satu
parameter karakteristik selama aspal
2. TERMINOLOGI
PEN
kedalaman

: Singkatan dari Nilai Penetrasi yang didefenisikan sebagai

Tembus (dalam ratusan cm) jarum standar dengan berat


standar pada
material aspal, pada rentang waktu standar dan dalam
suhu standar
Stainless Steel
: Bahan baja anti karat, yang dipilih sebagai bahan
dasar jarum
penetrasi. Bahan ini dipilih untuk menghindari atau
paling tidak
meminimalisir terjadinya korosi pada jarum penetrasi,
yang senantiasa
terendam air. Hal tersebut karena, korosi pada jarum
penetrasi
sesungguhnya akaan merancukan hasil pengujian
penetrasi, karena
adanya gesekan tambahan antara jarum dan material
aspal.
Duplo
: Istilah yang menyatakan bahwa sampel yang diuji
adalah dua (ganda)
dan dipersiapkan, dibuat dan dijaga pada kondisi yang
sama
Waterbath : Bak air/bejana yang memilki perangkat pengatur suhu
yang daoat
mempertahankan suhu dengan ketelitian yang relative
tinggi dan
dipergunakan sebagai tempat menyiman sampel yang
akan diuji.
Suhu Ruang : Temperatur ruangan rata-rata, 25C

3. TEORI DASAR

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Aspal adalah material termoplastik yang secara bertahap mencair,


sesuai dengan pertambahan suhu dan berlaku sebaliknya pada pengurangan
suhu. Namun demikian perilaku / respon material aspal tersebut terhadap
suhu pada prinsipnya membentuk suatu spectrum /beragam, tergantung dari
komposisi unsur-unsur penyusunnya.
Dari sudut pandang rekayasa (engineering), ragam dari komposisi
unsur penyusun aspal biasanya tidak ditinjau lebih lanjut, untuk
menggambarkan karakteristik ragam respon material aspal tersebut
diperkenalkan beberapa parameter, yang salah satunya adalah nilai PEN
(Penetrasi). Nilai ii menggambarkan kekerasan aspal pada suhu standar 25C,
yang diambil dari pengkuran kedalaman penetrasi jarum standar, dengan
beban standar (50 gr / 100gr), dalam rentang waktu yang juga standar (5
detik)
British Standard (BSI) membagi nilai penetrasi tersebut menjadi 10
macam, dengan rentang nilai PEN 15 s/d PEN 450, sedangkan AASHTO
mendefinisikan niai PEN 40-50 sebagai nilai PEN untuk material aspal
terkeras dan PEN 200-300 untuk material aspal terlembek/terlembut.
4. PROSEDUR PRAKTIKUM (AASHTO T 49-89 : 1990)
4.1.

Peralatan
1) Alat penetrasi yang dapat menggerakan pemegang jarum naik turun
tanpa gesekan dan dapat mengukur penetrasi sampai 0,1mm
2) Pemegang jarum seberat (47,5 0,05 gram) yang dapat dilepas
dengan mudah dan alat penetrasi untuk peneraan
3) Pemberat sebesar (500,05) gram dan (1000,05) gram masingmasing dipergunakan untuk pengukuran untuk pengukuran penetrasi
dengan beban 100 gram dan 200 gram
4) Jarum penetrasi dibuat dari stainless steel mutu 44C atau HRC 54HRC 60. Ujung jarum harus berbentuk kerucut terpancung
5) Cawan contoh terbuat dari logam atau gelas berbentuk silinder
dengan dasar yang rata-rata berukuran sebagai berikut :
Penetrasi
< 200
200-300

Diameter
55 mm
70 mm

Dalam
35mm
45 mm

6) Bak perendam ( waterbath) terdiri dari bejana dengan isi tidak kurang
dari 10 liter dan dapat menahan suhu tertentu dengan ketelitian lebih
kurang 0,1C. bejan dilengkapo denga n pelat dasar berlubang-

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

lubang, terletak 50mm diatas dasar bejana dan tidak kurang dari 100
mm diatas dasar bejana dan tidak kurang dari 100 mm dibawah
permukaan air dalam bejana
7) Tempat air untuk benda uji ditempatkan dibawah alat penetrasi
8) Tempat tersebut mempunyai isi tidak kurang dari 350 ml, dan tidak
tinggi yang cukup untuk merendam benda uji tanpa bergerak
9) Pengukur waktu
10)
Untuk pengukuran penetrasi dengan tangan diperlukan
stopwatch dengan skala pembagian terkecil 0,1 detik atau kurang dan
kesalahan tertinggi 0,1 detik per detik. Untuk pengukuran penetrasi
dengan alat otomatis, kesalahan alat tersebut tidak boleh melebihi 0,1
detik
11)
Thermometer
4.2.

4.3.

Penyiapan Sampel
Panaskan contoh perlahan-lahan serta aduklah hingga cukup cair untuk
dapat dituangkan. Pemanasan contoh untuk ter tidak lebih dari 60C
diatas titik lembek, dan untuk bitumen tidak lebih dari 90C diatas titik
lembek. Waktu pemanasan tidak boleh melebihi 30 menit. Aduklah
perlahan-lahan agar udara tidak masuk kedalam contoh
Setelah contoh cair merata, tuankan kedalam tempat contoh dan
diamkan hingga dingin. Tinggi contoh dalam tempat tersebut tidak
kurang dari angka penetrasi ditambah 10 mm. buatlah dua benda uji
(duplo)
Tutuplah benda uji agar bebas dari debu dan diamkan pada suhu
ruangan selama 1 1,5 jam untuk benda uji kecil dan 1,5 2 jam untuk
benda besar.
Pengujian Penetrasi
Letakkan benda uji dalam tempat air yang kecil dan masukkan tempat
air tersebut kedalam bak perendam yang telah berada pada suhu
yang ditentukan. Diamkan dalam bak tersebut selama 1 - 1,5 jam
unutuk benda uji kecil dan 1,5 2 jam untuk benda uji besar.
Periksalah pemegan jarum agar jarum dapat dipasang dengan baik
dan bersihkan jarum penetrasi dengan toluene atau pelarut lain
kemudian keringkan jarum tersebut dengan lap bersih dan pasanglah
jarum pada pemegang jarum
Letakkan pemberat 50 gram diatas jarum untuk memperoleh beban
sebesar (1000,1) gram
Pindahkan tempat air dari bak perendam kebawah penetrasi

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Turunkan jarum perlahan-lahan sehingga jarum tersebut menyentuh


permukaan benda uji. Kemudian aturlah angka 0 diarloji penetrometer
seingga jarum penunjuk berimpit dengannya
Lepaskan pemegan jarum dan serentak jalankan stopwatch selama
jangka waktu (50,1 detik)
Putarlah arloji penetrometer dan bacalah angka penetrasi yang
berimpit dengan jarum penunjuk. Bulatkan hingga angka 0,1 mm
terdekat.
Lepaskan jarum dari pemegang jarum dan siapkan alat penetrasi
untuk pekerjaan berikutnya
Lakukan pekerjaan diatas tidak kurang dari 3 kali untuk benda uji yan
sama dengan ketentuan setiap titik pemeriksaan dan tepi dinding
berjarak lebih dari 1 cm

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4.4.
Perhitungan dan Pelaporan
Nilai penetrasi dinyatakan sebagai rata-rata dari sekurang-kurangnya dari 3
pembacaan dengan ketentuan bahwa hasil-hasil pembacaan tidak
melampaui ketentuan dibawah ini :
Hasil Penetrasi
0-49
50-149
150-190
200
Toleransi
2
4
6
8
Apabila perbedaan antara masing-masing pembacaan melebihi tolerasni,
pemeriksaan harus diulangi

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

PEMERIKSAAN TITIK LEMBEK ASPAL DAN TER


(Softening Point of Asphalt and Tar in Ethylene Glycol - Ring and Ball)

1. Tujuan Umum
Praktkum ini memberikan pengertian dan kemampuan dasar kepada mahasiswa untuk
dapat menentukan nilai suhu titik lembek aspal
Setelah selesai melakukan praktikum ini, diharapkan mahasiswa :

Mengerti prosedur pengujian secara esensial


Mampu mengukur / menentukan nilai / suhu titik lembek aspal

2. Terminologi

Duplo

Ring & Ball

: istilah yang menyatakan bahwa sampel yang diuji adalah ganda dan
dipersiapkan, dibuat dan dijaga pada kondisi yang sama.
: istilah umum yang digunakan untuk menyatakan jenis praktikum ini (
pemeriksaan titik lembek aspal dan ter), karena peralatan utama yang
digunakan adalah seperangkat cincin kuningan dan bola baja

3. Teori Dasar
Aspal adalah material termoplastik yang secara bertahap mencair, sesuai dengan
pertambahan suhu dan berlaku sebaliknya pada pengurangan suhu. Namun demikian
perilaku/respon material aspal tersebut terhadap suhu pada prinsipnya membentuk suatu
spectrum/beragam, tergantung dari komposisi unsur-unsur penyusunnya.
Percobaan ini diciptakan karena pelembekan (softening) bahan-bahan aspal dan ter, tidak
terjadi secara sekejap pada suhu tertentu, tapi lebih merupakan perubahan gradual seiring
penambahan suhu. Oleh sebab itu, setiap prosedur yang dipergunakan di-adapt untuk
menentukan titik lembek aspal atau ter, hendaknya mengikuti sifat dasar tersebut, artinya
penambahan suhu pada percobaan hendaknya berlangsung secara gradual dalam jenjang yang
halus.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Metode Ring and Ball yang umumnya diterapkan pada bahan aspal dan ter ini, dapat
mengukur titik lembek bahan semi-solid sampai solid
4. Prosedur Percobaan
4.1. Peralatan
Cincin Kuningan
Bola baja berdiameter 9,53mm dan berat 3,45gr-3,55gr
Dudukan benda uji, lengkap dengan pengarah bola baja dan plat dasar yang
mempunyai jarak tertentu.
Bejana gelasa tahan pemanasan mendadak berdiamter dalam 8,5 dengan tinggi
12cm
Thermometer
Penjepit
Alat pengarah bola
4.2. Penyiapan Sampel

Panaskan contoh aspal perlahan-lahan sambil diaduk terus menerus hingga cair merata.
Pemanasan dan pengadukan dilakukan perlahan-lahan agar gelembung-gelembung udara
cepat keluar.
Setelah cair merata tuanglah contoh kedalam dua buah cincin. Suhu pemanasan aspal
tidak melebihi 56C diatas titik lembeknya dan untuk aspal tidak melebihi 111C diatas
titik lembeknya
Panaskan dua buah cincin sampai mencapai suhu tuang contoh, dan letakkan kedua
cincin diatas pelat kuningan yang telah diberi lapisa campuran talk dan sabun
Tuang contoh kedalam dua buah cincin, diamkan pada suhu kurang-kurangnya 8C
dibawah titik lembeknya sekurang-kurangnya 30 menit
Setelah dingin ratak permukaan contoh dalam cincin dengan pisau yang telah dipanaskan.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Gbr 1. Aspal sudah diratakan dicincin


4.3 Pengujian Titik Lembek

Pasang dan aturlah benda uji diatas kedudukan dan letakkan pengarah bola diatasnya.
Kemudian masukkam seluruh peralatan tersebut kedalam bejana gelas.

Gbr 2. Cincin dan dudukannya

Gbr 3. Cincin sudah dipasang didudukannya


Isilah bejana dengan air suling baru, dengan suhu 5C sehingga tinggi permukaan air
berkisar antara 101,6mm-108mm. Gunakan es batu lalu masukkan es batu kedalam
bejana yang berisikan air suling agar suhu air suling mencapai 5C. Masukkan es batu
kedalam air suling sekurang-kurangnya 1 jam sebelum pengujian
Letakkan thermometer yang sesuai untuk pekerjaan ini diantara kedua benda uji (kurang
lebih dari 12,7mm dari tiap cincin)
Periksalah dan aturlah jarak antara permukaan pelat dasar benda uji sehingga menjadi
25,4mm

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Letakkan bola-bola baja yang bersuhu 5C diatas dan ditengah permukaan masingmasing benda uji yang bersuhu 5C menggunakan penjepit dengan memasang kembali
pengarah bola.

Gbr 4. Benda Uji didalam air suling dgn suhu 5C, dan siap dipanaskan

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Panaskan bejana sehingga kenaikan suhu menjadi 5C permenit. Kecepatan pemanasan


rata-rata dari awal dan akhir pekerjaan ini. Untuk 3 menit pertama perbedaan kecepatan
pemanasan tidak boleh melebihi 0,5C

Gbr 5. Suhu terakhir saat bola-bola dan aspal sudah menyentuh plat.
4.4. Perhitungan dan Pelaporan
Laporakan suhu pada saat setiap bola menyentuh pelat dasar. Laporkan suhu titik lembek
bahan bersangkutan dari hasil pengamatan rata-rata dan bulatkan sampai 0,5C terdekat untuk
setiap percobaan ganda (duplo).
Catatan :

Apabila kecepatan pemanasan melebihi ketentua maka pekerjaan diulangi


Apabila dari suatau pekerjaan duplo perbedaan suhu dalam 6 melebihi 1C maka
pekerjaan diulangi

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

INDEKS KEPIPIHAN DAN KELONJONGAN


(Flakiness and Elongation Index)

1. TUJUAN UMUM
Praktikum ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat menentukan
indeks kepipihan dan indeks kelonjongan agregat.
2. TERMINOLOGY
Crushing Plant

Fraksi Agregat
Gradasi
Interlocking

: Mesin penghancur batuan untuk mendapatkan agregat


dengan ukuran yang dikehendaki
: Kumpulan agregat yang memilih karakteristik sama
: Variasi diameter agregat dengan pola tertentu
: Sifat saling mengunci antar agregat yang sangat
dipengaruhi oleh bentuk agregat dan variasi diameter

3. DASAR TEORI
Pada batuan alam maupun hasil crushing plant terdapat fraksi-fraksi agregat yang
memiliki berbagai macam bentuk British Standard Instition (BSI), (2997)membagi bentukbentuk agregat dalam enam kategori, yaitu bulat (rounded)), tidak beraturan (irregular),
bersudut(angular), pipih (flaky), lonjongan (elongated), pipih dan lonjongan (flaky and
elongated).
Kategori bulat, tidak beraturan, dan bersudut untuk keperluan tertentu dikelompokan
dalam satu kategor, yaitu berdimensi seragam (equdimesional atau cuboidal). Suatu
agregat dkatakan pipih, lonjong, pipih dan lonjong atau berdimensi seragam ditentukan
berdasarkan perbandingan antara diameter terpendek, terpanjang dan rata-ratanya.
Sebagai ilustrasi, untuk sebuah agregat berbentuk balok maka diameter terpendek adalah
tebalnya, diameter terpanjan adalah panjangnya dan diameter rata-rata adalah tebalnya
BSI menentukan jika perbandingan antara rata-rata diameter dengan diameter
terpanjang kurang dari 0,55 maka bentuk agregat tersebut adalah lonjong sedangkan jika
perbandingan antara diameter terpendek dengan rata-rata diameter kurang dari 0,60 maka
bentuk agregat tersebut adalah pipih.

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

4. PERALATAN PRAKTIKUM
Alat yang digunakan praktikum adalah :
a) Saringan dengan urutan diameter 63,0mm ; 50,00m : 37,5mm : 28,0mm :
14,0mm : 10mm : dan 6,3mm.
b) Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram
c) Oven dilengkapi pengatur suhu (1105C)
d) Wadah agregat sebanyak jumlah saringan\
5. PENYIAPAN SAMPEL
Saring sebanyak kurang lebih 5000gram sampel dalam urutan saringan yang
telah disediakan
Pisahkan atau singkirkan sampel yang tertahan pada saringan 63,0mm dan yang
lolos saringan 6,3mm. Berat sisa sampel yang digunakan dinyatakan sebagai M1
gram
Sampel yang tertahan pada setiap saringan dimasukkan dalam masing-masing
wadah yang ditandai sesuai dengan diameter masing-masing saringan
Cuci masing-masing sampel dan keringkan dengan oven hingga beratnya tetap.
Yakinkan bahwa tidak ada agregat yang hilang
Kemudian timbang sampel yang tertahan di tiap saringan dan hitung
persentasenya terhadap M1
Pengukuran kepipihan dan kelonjongan dilakukan per fraksi dan hanya fraksi
yang memiliki persentase berat lebih besar atau sama dengan 5 %. Jumlah berat
total fraksi yang memiliki persentase berat lebih besar atau sama dengan 5%
dinyatakan sebagai M2.

6. PENGUJIAN KEPIPIHAN
Ambil salah satu fraksi yang telah memenuhi syarat, yaitu persentase tertahan
lebih besar atau sama dengan 5%
Lewatkan dengan tangan setiap butir agregat pada Alat Pengujian Kepipihan
sesuai dengan ukurannya
Butir agregat yang agak sulit lewat dapat dicoba dengan sisi lain, diputar atau
dengan sedikit paksaan
Pisahkan butiran yang dapat lewat dengan yang tidak dapat lewat dan masingmasing ditimbang
Lakukan hal yang sama untuk fraksi lainya yang memiliki persentase berat lebih
besar atau sama dengan 5%.
Total jumlah sampel yang lewat dinyatakan sebagai M3
7. PENGUJIAN KELONJONGAN

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


JurusanTeknikSpil
Jl. Almamater No. 1 Kampus USU 20115, Indonesia
Telp. (061) 8210371, 8211235, 8215951, 8210436 Fax. (061) 8215845
http://www.polmed.ac.idemail:polmed@polmed.ac.id, info@pomed.ac.id

Secara umum prosedur pengerjaannya sama dengan untuk uji kepipihan, yaitu :
Ambil salah satu fraksi yang telah memenuhi syarat, yaitu persentase tertahan
lebih besar atau sama dengan 5%
Lewatkan dengan tangan setiap butir agregat pada alat penguji kelonjongan
sesuai dengan ukurannya
Butir agregat yang agak sulit lewat dapat dicoba dengan sisi lan diputar atau
dengan sedikit paksaan
Pisahkan butiran yang dapat lewat dengan yang tidak dapat lewar dan masingmasing ditimbang
Lakukan hal yang sama untuk fraksi lainnya yang memiliki persentase berat lebih
besar atau sama dengan 5%
Total jumlah sampel yang tertahan dinyatakan sebagai M3E

8. PERHITUNGAN DAN PELAPORAN


Indeks Kepipihan dihitung dengan rumus :
Indeks Kepipihan (%) =

M3E
X 100
M2

Indeks Kelonjongan dihitung dengan rumus :


Indeks Kelonjongan (%) =

M3E
X 100
M2