Anda di halaman 1dari 43

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.2. DEMAM BERDARAH DENGUE
2.2.1 Definisi
Demam dengue atau dengue fever (DF) dan demam berdarah
dengue (DBD) atau dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit
infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk
aedes aegypti dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri
sendi yang disertai leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan
diatesis hemoragik (Suhendro, 2006).
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang terutama terdapat
pada anak dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan
biasanya memburuk pada dua hari pertama (Soeparman; 1987; 16).
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang
disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi
mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief
Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419).
Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh
nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai,
dan ruam (Brooker, 2001).
Demam dengue/dengue fever adalah penyakit yang terutama pada
anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam,
nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash)
dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada
pergerakkan bola mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia

ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan. Pada DBD terjadi


perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan
dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang
ditandai oleh renjatan/syok. (Noer, dkk, 1999).

2.2.2 Epidemiologi
Pada tahun 2005, virus dengue dan nyamuk aedes aegypti telah
menyebar di daerah tropis dimana terdapat 2.5 miliar orang berisiko
terkena penyakit ini di daerah endemik (Gubler, 2002).

Secara umum, demam dengue menyebabkan angka kesakitan dan


kematian lebih besar disbanding dengan infeksi arbovirus yang lainnya
pada manusia. Setiap tahun diperkirakan terdapat 50-100 juta kejadian
infeksi dengue yang mana ratusan ribu kasus demam berdarah dengue
terjadi, tergantung dari aktifitas epidemiknya (WHO, 2000).
Depkes RI melaporkan bahwa pada tahun 2010 di Indonesia tercatat
14.875 orang terkena DBD dengan kematian 167 penderita. Daerah yang
perlu diwaspadai adalah DKI Jakarta, Bali,dan NTB.
Timbulnya suatu penyakit dapat diterangkan melalui konsep
segitiga epidemiologik, yaitu adanya agen (agent), host dan lingkungan
(environment)
1.

Agent (virus dengue)


Agen penyebab penyakit DBD berupa virus dengue dari Genus

Flavivirus (Arbovirus Grup B) salah satu Genus Familia Togaviradae.


Dikenal ada empat serotipe virus dengue yaitu Den-1, Den-2, Den-3 dan
Den-4.
Virus dengue ini memiliki masa inkubasi yang tidak terlalu lama
yaitu antara 3-7 hari, virus akan terdapat di dalam tubuh manusia. Dalam
masa tesebut penderita merupakan sumber penular penyakit DBD.
2.

Host
Host adalah manusia yang peka terhadap infeksi virus dengue.

Beberapa faktor yang mempengaruhi manusia adalah :


a.

Umur
Umur adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kepekaan

terhadap infeksi virus dengue. Semua golongan umur dapat terserang


virus dengue, meskipun baru berumur beberapa hari setelah lahir. Saat
pertama kali terjadi epidemi dengue di Gorontalo kebanyakan anak-anak
berumur 1-5 tahun. Di Indonesia, Filipina dan Malaysia pada awal tahun
8

terjadi epidemi DBD penyakit yang disebabkan oleh virus dengue tersebut
menyerang terutama pada anak-anak berumur antara 5-9 tahun, dan
selama tahun 1968-1973 kurang lebih 95% kasus DBD menyerang anakanak di bawah 15 tahun.
b.

Jenis kelamin
Sejauh ini tidak ditemukan perbedaan kerentanan terhadap serangan

DBD dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin (gender). Di Philippines


dilaporkan bahwa rasio antar jenis kelamin adalah 1:1. Di Thailand tidak
ditemukan perbedaan kerentanan terhadap serangan DBD antara laki-laki
dan perempuan, Singapura menyatakan bahwa insiden DBD pada anak
laki-laki lebih besar dari pada anak perempuan.
c.

Nutrisi
Teori nutrisi mempengaruhi derajat berat ringan penyakit dan ada

hubungannya dengan teori imunologi, bahwa pada gizi yang baik


mempengaruhi

peningkatan

antibodi

apabila

gizi

yang

buruk

mempengaruhi penurunan antibodi dan karena ada reaksi antigen pada


tubuh maka terjadi infeksi virus dengue yang berat.
d.

Populasi
Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya

infeksi virus dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan


meningkatkan jumlah insiden kasus DBD tersebut.
e.

Mobilitas penduduk
Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada transmisi

penularan infeksi virus dengue. Salah satu faktor yang mempengaruhi


penyebaran epidemi dari Queensland ke New South Wales pada tahun
1942 adalah perpindahan personil militer an angkatan udara, karena jalur
transportasi yang dilewati merupakan jalur penyebaran virus dengue
(Sutaryo, 2005).

3.

Lingkungan (environment)
Lingkungan yang mempengaruhi timbulnya penyakit dengue

adalah:
a.

Letak geografis
Penyakit akibat infeksi virus dengue ditemukan tersebar luas di

berbagai negara terutama di negara tropik dan subtropik yang terletak


antara 30 Lintang Utara dan 40 Lintang Selatan seperti Asia Tenggara,
Pasifik Barat dan Caribbean dengan tingkat kejadian sekitar 50-100 juta
kasus setiap tahunnya (Djunaedi, 2006).
Infeksi virus dengue di Indonesia telah ada sejak abad ke-18 seperti
yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan
Belanda. Pada saat itu virus dengue menimbulkan penyakit yang disebut
penyakit demam lima hari (viffdaagsekoorts) kadang-kadang disebut
demam sendi (knokkel koorts). Disebut demikian karena demam yang
terjadi menghilang dalam lima hari, disertai nyeri otot, nyeri pada sendi
dan nyeri kepala. Sehingga sampai saat ini penyakit tersebut masih
merupakan problem kesehatan masyarakat dan dapat muncul secara
endemik maupun epidemik yang menyebar dari suatu daerah ke daerah
lain atau dari suatu negara ke negara lain (Hadinegoro dan Sutari, 2002).
b.

Musim
Negara dengan 4 musim, epidemi DBD berlangsung pada musim

panas, meskipun ditemukan kasus DBD sporadis pada musim dingin.Di


Asia Tenggara epidemi DBD terjadi pada musim hujan, seperti di
Indonesia, Thailand, Malaysia dan Philippines epidemi DBD terjadi
beberapa minggu setelah musim ujan.
Periode epidemi yang terutama berlangsung selama musim hujan dan
erat kaitannya dengan kelembaban pada musim hujan.Hal tersebut

10

menyebabkan peningkatan aktivitas vektor dalam menggigit karena


didukung oleh lingkungan yang baik untuk masa inkubasi.

2.2.3 Faktor Risiko


Infeksi virus dengue pada manusia menyebabkan gejala dengan
spektrum luas, berkisar dari demam biasa sampai penyakit perdarahan
yang serius. Pada area endemik, infeksi dengue memiliki gejala klinis yang
tidak spesifik, terutama pada anak-anak. Gejala yang tampak hanya
seperti infeksi virus pada umumnya.
Faktor risiko yang penting dan berpengaruh terhadap proporsi pasien
yang mengalami gejala yang berat selama transmisi endemik di antaranya
strain dan serotipe virus yang menginfeksi, status imunitas dari setiap
individu, usia penderita, faktor genetik dari pasien (WHO, 1997; Gubler,
1998).

2.2.4 Faktor penyebab


Hubungan sehat-sakit dan lingkungan dalam proses terjadinya
penyakit, terdapat beberapa model pendekatan yaitu : 3
1. Model ekologi atau segitiga epidemiologi
Konsep terjadinya penyakit yang digambarkan secara sederhana.
Secara alamiah ketiga faktor berikut ini, induk semang atau manusia
(host), agen (agent) dan lingkungan (environment) ini selalu mengadakan
interaksi yang bersifat dinamis, artinya ketiga faktor tersebut saling
memengaruhi

satu

sama

lain.

Contoh:

Gangguan

keseimbangan

lingkungan dapat terjadi jika faktor lingkungan memberikan kesempatan


kepada agen untuk berkembang sehingga akan merugikan host (bisa
terkena sakit). Jika host daya tahan tubuhnya menurun maka akan
meningkatkan peluang agen untuk mengganggu kesehatan host.

11

Faktor host termasuk faktor intrinsik yang sangat dipengaruhi


oleh

genetik

yang

berhubungan

dengan

meningkat

atau

menurunnya kepekaan individu terhadap penyakit tertentu. Faktor


lainnya seperti umur, jenis kelamin, agama, ras,keturunan,
kepribadian, perilaku, gizi, dan sebagainya.
-

Faktor agen agen dari suatu penyakit biasanya berlokasi pada


lingkungan tertentu. Agen dari lingkungan fisik seperti radiasi sinar
radioaktif ataupun iklim, sedangkan agen dari lingkungan kimia
seperti limbah industri yang mengandung bahan kimia atau
insektisida. Agen biologis berupa vektor, bakteri, virus, dan parasit
lainnya. Agen dalam bentuk makanan seperti makanan basi.

Faktor lingkungan merupakan faktor ekstrinsik terdiri atas


lingkungan fisik (suhu, udara, air, radiasi, tanah), biologis
(tumbuhan

dan

binantang),

sosial

(adat

istiadat),

sistem

perekonomian, politik dan sebagainya. 3


2. Model paradigma hidup sehat (the well being paradigm)
Model ini menggambarkan derajat kesehatan masyarakat yang
dinyatakan pada tingkat derajat atau tingkat baiknya status kesehatan
masyarakat. Pada dasarnya kondisi status kesehatan suatu masyarakat
merupakan suatu spektrum yang luas, yakni terdapat empat spectrum
sebagai berikut ini :

Tahap sehat optimal (stage of optimum health), yaitu kondisi


kesehatan optimal pada fungsi unsur somatik, psikis, dan sosial.

Tahap sehat sub-optimal (stage of sub-optimum health atau


incipient illness), yaitu kondisi kesehatan yang menurun dan ada
gangguan fungsi ringan pada somatik, psikis, dan sosial.

Tahap sakit atau terganggu (stage of over illness atau disability),


yaitu kondisi kesehatan menurun dan terdapat gangguan fungsi
jelas disertai gejala ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas
sehari-hari.

12

Tahap sakit berat mendekati kematian (stage of very serious illness


atau approaching death), yaitu kondisi kesehatan yang sangat
menurun dan telah mengancam eksintensi kehidupan atau vitalitas
seseorang.3
Menurut Hendrik L.Blum terdapat empat faktor utama yang

berinteraksi secara dinamis yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan


perorangan dan masyarakat yakni :
Faktor genetik (keturunan)
Faktor lingkungan, terdiri dari lingkungan sosial-ekonomi, fisik, dan
politik
Faktor perilaku atau gaya hidup pada individu atau masyarakat.
Faktor perilaku ini merupakan faktor yang paling besar dan paling
sulit ditanggulangi, disusul berikutnya oleh faktor lingkungan yang
sulit diatasi juga karena lingkungan sangat dipengaruhi oleh
perilaku manusia.
Faktor

pelayanan

kesehatan

meliputi

jenis,

cakupan,

dan

kualitasnya.3
Lingkungan

Sumber

Penyakit

A. Fisik atau Kimia

Bahan radioaktif

- Alami, nuklir, uranium

~Kanker,mutasi genetik

Sinar matahari

- Alami

~ Kanker kulit

Kebisingan

- Alami atau buatan

~ Ketulian

Vibrasi

- Alat-alat pembangunan

~Vibrasi lokal

- Feses pengidap sakit

- Feses manusia

~ Cacing

dan seluruh
B. Biologi

Mikrobiologi

Tifoid,

disentri

Parasit

13

Vektor

- Genangan air

DBD,

- Non higiens

~Candidiasis,

Malaria

Jamur
Versicolor

C. Sosial-Ekonomi-Budaya

Kelebihan penduduk

Angka

kelahiran

meningkat

~Penyakit infeksi

Kemiskinan

Pengangguran

meningkat

~Keamanan berkurang

Area rawa-rawa

- Sanitasi jelek

~Penyakit infeksi
Tabel 1.1. Hubungan antara Lingkungan, Sumber, dan Penyakit

2.2.5 Etiologi
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus
merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat
rantai tunggal dengan berat molekul 4x10 6 (Suhendro, 2006). Virus ini
termasuk genus flavivirus dari family Flaviviridae. Ada 4 serotipe yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Serotipe DEN-3 merupakan jenis yang
sering dihubungkan dengan kasus-kasus parah. Infeksi oleh salah satu
jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup tetapi tidak
menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehingga seseorang
yang hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4
kali seumur hidupnya.
Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk
Aedes aegypti. Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada
siang hari. Faktor risiko penting pada DHF adalah serotipe virus, dan
faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan predisposisi genetis.
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (diderah

14

perkotaan) dan Aedes albopictus (didaerah pedesaan). Ciri-ciri nyamuk


Aedes aegypti adalah

Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih


Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak
mandi, WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung

air seperti kaleng, pot tanaman, tempat minum burung, dan lain lain.
Jarak terbang 100 meter
Nyamuk betina bersifat multiple biters (mengigit beberapa orang

karena sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat)


Tahan dalam suhu panas dan kelembapan tinggi

2.2.5.1

Faktor parasit

Aedes aegyti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan


ukuran nyamuk rumah, mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik
putih terutama pada kakinya. Morfologi khas yaitu mempunyai gambaran
lyra yang putih pada mesonotumnya. Telur Aedes aegypti mempunyai
dinding yang bergaris-garis dan menyerupai gambaran kain kasa. Larva
Aedes aegypti mempunyai pelana yang terbuka dan gigi sisir yang berduri
lateral.1
Nyamuk betina meletakkan telurnya di dinding tempat perindukannya
1-2 cmn di atas permukaan air. Seekor nyamuk betina dapat meletakkan
rata-rata 100 butir telur tiap kali bertelur. Setelah kira-kira 2 hari telur
menetas menjadi larva lalu mengadakan pengelupasan kulit sebanyak 4
kali, tumbuh menjadi dewasa memerlukan waktu kira-kira 9 hari. 1
Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi
air bersih yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk, biasanya
tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perindukan tersebut
berupa tempat perindukan buatan manusia; seperti tempayan/gentong
tempat penyimpanan air minum, bak mandi, pot bunga, kalngm botol,
drum, ban mobil yang terdapat di halaman rumah atau di kebun yang
berisi air hujan, juga berupa tempat perindukan alamiah; seperti kelopak
daun tanaman (keladi, pisang), tempurung kelapa, tonggak bamby dan
15

lubang pohon yang berisi air hujan. Di tempat perindukan Aedes aegypti
sering kali ditemukan larva Aedes albopictus yang hidup bersama-sama. 1

2.2.5.2

Perilaku nyamuk betina

Nyamuk betina menghisap darah manusia pada siang hari yang


dilakukan baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Pengisapan darah
dilakukan dari pagi sampai petang dengan dua puncak waktu yaitu setelah
matahari terbit (8.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.0017.00). tempat istirahat Aedes aegypti berupa semak-semak atau tanaman
rendah termasuk rerumputan yang terdapat di halaman/kebun/pekarangan
rumah. Juga berupa benda-benda yang tergantung di dalam rumah seperti
pakaian, sarung, kopiah dan lain sebagainya. Umur nyamyk dewasa
betina di alam bebas kira-kira 10 hari, sedangkan di laboratorium
mencapai dua bulan. Aedes aegypti mampu terbang sejauh 2 kilometer,
walaupun umumnya jarak terbangnya dalah pendek yaitu kurang lebih 40
meter.1

2.2.6 Patogenesis
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue sampai saat ini
masih diperdebatkan. Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang
kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya demam
berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue (Suhendro, 2006).
Virus dengue (Aedes aegypti), setelah memasuki tubuh akan melekat
pada monosit dan masuk ke dalam monosit. Kemudian terbentuk
mekanisme aferen (penempelan beberapa segmen dari sehingga
terbentuk reseptor Fc). Monosit yang mengandung virus menyebar ke hati,
limpa, usus, sumsum tulang, dan terjadi viremia (mekanisme eferen).
Pada saat yang bersamaan sel monosit yang telah terinfeksi akan
mengadakan interaksi dengan berbagai system humoral, seperti system
komplemen, yang akan mengeluarkan substansi inflamasi, pengeluaran

16

sitokin, dan tromboplastin yang mempengaruhi permeabilitas kapiler dan


mengaktifasi faktor koagulasi. Mekanisme ini disebut mekanisme efektor.
Selain itu masuknya virus dengue akan membangkitakn respons
imun melalui system pertahanan alamiah (innate immune system), pada
system ini komplemen memegang peran utama. Aktifitas komplemen
tersebut dapat memalui monnosa-binding protein, maupun melaui
antibody. Komponen berperan sebagai opsonin yang meningkatkan
fagositosis, dekstruksi dan lisis virus dengue.
Untuk menghambat laju intervensi virus dengue, interferon dan
interferon berusaha mencegah replikasi virus dengue di intraselular.
Pada sisi lain limfosit B, sel plasma akan merespons melalui pembentukan
antibodi. Limfosit T mengalami ekpresi oleh indikator berbagai molekul
yang berperan sebagai regulator dan efektor.
Limfosit

yang

teraktivasi

mengakibatkan

ekspresi

protein

permukaan yang disebut ligan CD40, yang kemudian mengikat CD40


pada limfosit B, makrofag, sel dendritik, sel endotel serta mengaktivasi
berbagai tersebut. CD40L merupakan mediator penting terhadap berbagai
fungsi efektor sel T helper, termasuk menstimulasi sel B memproduksi
antibodi dan aktivasi makrofag untuk menghancurkan virus dengue.
Infeksi

virus

dengue

menyebabkan

aktivasi

makrofag

yang

memfagositosis kompleks virus-antibodi non netralisasi sehingga virus


bereplikasi di makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue
menyebabkan aktivasi T helper dan T sitotoksik sehingga diproduksi
limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma akn mengaktivasi
monosit sehingga disekresi berbagai mediator radang seperti TNF-, IL-1,
PAF (platelet activating factor), IL-6 dan histamin yang menyebabkan
terjadinya disfungsi endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan
C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi kompleks virus-antibodi yang dapat
mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.

17

2.1.6.1 Penularan Virus Dengue


2.1.6.1.1 Mekanisme Penularan
Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia
dengan manusia. Virus dengue sebagai penyebab demam berdarah
hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Oleh karena itu, penyakit ini
termasuk kedalam kelompok arthropod borne diseases.
Virus dengue berukuran 35-45 nm. Virus ini dapat terus tumbuh dan
berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk. Terdapat tiga faktor yang
memegang peran pada penularan infeksi dengue, yaitu manusia, virus,
dan vektor perantara.
Virus dengue masuk ke dalam tubuh nyamuk pada saat menggigit
manusia yang sedang mengalami viremia, kemudian virus dengue
ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus yang infeksius.
Seseorang yang di dalam darahnya memiliki virus dengue (infektif)
merupakan sumber penular DBD. Virus dengue berada dalam darah
selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam (masa inkubasi instrinsik).
Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan
ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk.
Selanjutnya virus akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh
bagian tubuh nyamuk, dan juga dalam kelenjar saliva. Kira-kira satu
minggu setelah menghisap darah penderita (masa inkubasi ekstrinsik),
nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan
tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu
nyamuk Aedes aegypti yang telah menghisap virus dengue menjadi
penular (infektif) sepanjang hidupnya.
Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit
(menusuk), sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui
saluran alat tusuknya (probosis), agar darah yang dihisap tidak membeku.
18

Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang
lain.
Hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang dapat menularkan virus
dengue.Nyamuk betina sangat menyukai darah manusia (anthropophilic)
dari pada darah binatang. Kebiasaan menghisap darah terutama pada
pagi hari jam 08.00-10.00 dan sore hari jam 16.00-18.00. Nyamuk betina
mempunyai kebiasaan menghisap darah berpindah-pindah berkali-kali dari
satu individu ke individu lain (multiple biter). Hal ini disebabkan karena
pada siang hari manusia yang menjadi sumber makanan darah utamanya
dalam keadaan aktif bekerja/bergerak sehingga nyamuk tidak bisa
menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada satu individu.
Keadaan inilah yang menyebabkan penularan penyakit DBD menjadi lebih
mudah terjadi

2.1.6.1.2 Tempat Potensial Bagi Penularan Penyakit DBD


Penularan penyakit DBD dapat terjadi di semua tempat yang
terdapat nyamuk penularnya. Tempat-tempat potensial untuk terjadinya
penularan DBD adalah :
a. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)
b. Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang
yang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya
pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar.
Tempat-tempat umum itu antara lain :
i. Sekolah
Anak murid sekolah berasal dari berbagai wilayah, merupakan
kelompok umur yang paling rentan untuk terserang penyakit DBD.

19

ii. Rumah Sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya


:
Orang datang dari berbagai wilayah dan kemungkinan diantaranya
adalah penderita DBD, demam dengue atau carier virus dengue.
iii. Tempat umum lainnya seperti :
Hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat-tempat ibadah dan lainlain.
c. Pemukiman baru di pinggiran kota
Karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai
wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier
yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing
lokasi awal.

2.2.7 Klasifikasi
DBD diklasifikasikan berdasarkan derajat beratnya penyakit, secara
klinis dibagi menjadi 4 derajat (Menurut WHO, 1986) :
a.Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan, uji
,trombositopenia dan hemokonsentrasi. tourniquet.
b.Derajat II
Derajat I dan disertai pula perdarahan spontan pada kulit atau
tempat lain.
c. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan daerah rendah (hipotensi), gelisah, cyanosis sekitar mulut,
hidung dan jari (tanda-tanda dini renjatan).
d. Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah
tak dapat diukur.
20

2.2.8 Gambaran Klinis


Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik,
atau dapat berupa demam yang tidak khas, demam, demam berdarah
dengue, atau syndrome syok dengue (SSD).
Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari,
yang diikuti oleh fase kritis selam 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien
sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan
jika tidak mendapat pengobatan yang adekuat (Suhendro, 2006). Bintikbintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang disertai bintik-bintik
perdarahan di farings dan konjungtiva. Penderita juga sering mengeluh
nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk kanan dan nyeri
seluruh perut.
DHF adalah komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa
penderitanya, ditandai oleh :

demam tinggi yang terjadi tiba-tiba

manifestasi perdarahan

hepatomegali/pembesaran hati kadang-kadang terjadi syok manifestasi


perdarahan pada DHF dimulai dari tes torniquet positif dan bintik-bintik
perdarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae ini bisa terlihat di seluruh
anggota gerak, ketiak, wajah dan gusi, juga bisa terjadi perdarahan
hidung,

perdarahan

gusi,

perdarahan

dari

saluran

cerna

dan

perdarahan dalam urin.

2.2.9 Langkah Diagnostik


Diagnosis dari infeksi dengue dapat ditegakkan melalui tes
laboratorium dengan cara mengisolasi virus, mendeteksi sequence RNAspesifik virus dengue dengan tes amplifikasi nukleotida, atau dengan
mendeteksi antibody pada serum pasien (Guzman, 2004).

21

Langkah diagnostik demam dengue dapat dilakukan melalui:


a. Laboratorium
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien
tersangka demam dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin,
hematokrit, jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat
adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.
Diangnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell
culture) ataupun deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR
(Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction), namun karena
teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi adanya
antibody spesifik terhadap dengue berupa antibody total, IgM maupun IgG
lebih banyak.
Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain :

Leukosit

Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemukan


limfositosis relative (>45% dari leukosit) disertai adanya lifosit plasma
biru (LPB) > 15% dari

jumlah total leukosit pada fase syok akan

meningkat.
Trombosit
Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Hematokrit
Kebocoran plasma dibuktikan peningkatan hematokrin

20% dari

hematokrin awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam


Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan AP, APTT, Fibrinogen, D- Dimer atau FDP pada
keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan
darah.
Protein/albumin
22

Dapat terjadi hipoalbuminemia akibat kebocoran plasma


Elektrolit
Sebagai parameter pemantauan pemberian cairan
Serelogi
Dilakukan pemeriksaan serologi IgM dan IgG terhadap dengue, yaitu:
-

IgM muncul pada hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3,

menghilang setelah 60-90 hari


IgG terdeteksi mulai hari ke 14 (infeksi primer), hari ke 2 (infeksi

sekunder).
NS1
Antigen NS1 dapat terdeteksi pada awal demam hari pertama sampai
hari kedelapan. Sensitivitas sama tingginya dengan spesitifitas gold
standart kultur virus. Hasil negatif antigen NS1 tidak menyingkirkan
adanya infeksi virus dengue.
b. Pemeriksaan Radiologis
Pada foto dada didpatkan efusi pleura, terutama pada hematoraks
kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat
dijumpai kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya
dalam posisi lateral dekubitus kanan (pasien tidur pada sisi badan sebelah
kanan). Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan
USG.
Masa inkubasi dalam tubuh mausia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14
hari), timbuk gejala prodormal yag tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri
tulang, belakang dan perasaan lelah.

2.2.10 Diagnosis
Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14
hari), timbul gejala prodormal yang tidak khas, seperti nyeri kepala, nyeri
tulang belakang dan perasaan lelah.
23

Klasifikasi derajat penyakit Infeksi Virus Dengue, dapat dilihat pada


table berikut:

DD/DBD

Derajat

Gejala

Lab

disertasi 2 atau

DD

lebih tanda :

Leukopenia
Serologi
Trombositopenia,
dengue
tdk ada kebocoran
(+)

sakit

kepala,

plasma

nyeri

retro-

Demam

orbital, mialgia,
artralgia
DBD

Gejala diatas, Trombositopenia


ditambah

dgn (<100.000),

uji bendung (+)

ada

bukti

kebocoran

plasma
II

Gejala diatas, Trombositopenia


ditambah

III

dgn (<100.000),

perdarahan

ada

spontan

plasma

Gejala

kebocoran

diatas Trombositopenia

ditambah

(<100.000),

dengan

ada

kegagalan

plasma

sirkulasi
dingin
lembab,

bukti

bukti

kebocoran

(kulit
dan
serta

gelisah)
IV

Syok
disertai

berat Trombositopenia
(<100.000),

bukti
24

dengan

ada

kebocoran

tekanan darah plasma


dan nadi tidak
terukur
Sementara untuk diagnosis Sindrom Syok Dengue (SSD) adalah
ditemukannya semua kriteria di atas untuk DBD disertai kegagalan
sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah
turun (20 mmHg), hipotensi dibandingkan standar sesuai umur, kulit
dingin dan lembab serta gelisah.

2.2.11 Tata Laksana


Protokol dibagi dalam 5 kategori :
1. Protokol 1: Penanganan Tersangka (Probable) DBD Dewasa tanpa
Syok
Protokol

ini

digunakan

sebagai

petunjuk

dalam

pemberian

pertolongan pertama pada penderita DBD atau yang diduga DBD di


Instalasi Gawat Darurat dan juga dipakai sebagai petunjuk dalam
memutuskan indikasi rawat.
Seseorang yang tersangka menderita DBD Unit Gawat Darurat
dilakukan

pemeriksaan hemonglonin (Hb), hematokrin (Ht), dan

trombosit, bila :

Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000,


pasien dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan
ke Poliklinik dalam waktu 24 jam berikutnya (dilakukan pemriksaan
Hb, Ht, leukosit dan trombosit tiap 24 jam) atau bila keadaan

penderita memburuk segera kembali ke Unit Gawat Darurat.


Hb, Ht normal tetapi trombosit , 100.000 dianjurkan untuk dirawat
Hb, Ht meningkat dan tombosit normal atau turun juga dianjurka
untuk dirawat

25

2. Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di


Ruanag Rawat
Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masih
dan tanpa syok maka di ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid
dengan jumlah seperti rumus berikut ini :
Volume cairan kristaloid / hari yang diperkukan, sesuai rumus
berikut :
1500+ (20 x (BB dalam kg
20 )

Setelah pemberian cairan dilakukan dilakukan pemberian Hb, Ht tiap


24 jam:

Bila Hb, Ht meningkan 10-20% dan tombosit < 100.000 jumlah


pemberian cairan tetap seperti rumus diatas tetapi pemantauan

Hb, Ht, trombo dilakukan tiap 12 jam.


Bila Hb, Ht meningkat > 20% dan trombosit <100.000 maka
pemberian cairan sesuai dengan protocol penatalaksanaan DBD

dengan peningkatan Ht >20%.


3. Protokol 3. Penatalaksaan DBD dengan Peningkatan Ht > 20%
Meningkatnya Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami
defisit cairan sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian
cairan adalah dengan memberikan infus cairan kristaloid sebanyak 6-7
ml/kg/jam. Pasien kemudian dipantau setelah 3-4 jam pemberian
cairan. Bila terjadi perbaikkan perbaikan yang ditandai dengan tandatanda hematokrin turun, frekuensi nadi turun tekanan darah stabil,
produksi urin meningkat maka jumlah cairan infuse dikurangimenjadi 5
ml/KgBB/jam. Dua jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan
bila keadaan tetap menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan infuse
dikurangi 3ml/KgBB/jam. Bila dalam pemantauan keadaan tetap
membaik cairan dapat dihentikan24-48 jam kemudian.

26

Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/KgBB/jam


dalam tapi keadaan tetap tidak membaik, yang ditndai dengan Ht dan
nadi meningkat, tekanan nadi menurun < 20 mmHg, produksi urin
menurun, maka kita harus menaikkan jumlah cairan infuse menjadi 10
ml/kgBB/jam. Dua jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan
bila keadaan menunjukkan perbaikkan maka jumlah cairan dikuarangi
menjadi 5 ml/KgBB/jam tetapi bila keadaan tidak menunjukkan
perbaikkan maka jumlaah cairan infuse dinaikkan 15ml/KgBB/jam dan
bila dalam perkembangannya kondisi menjadi memburuk dan didapatkn
tanda-tanda syok maka pasien ditananganisesuai protocol tatalaksana
sindrom syok dengue pada dewasa. Bila syok telah teratasi maka
pemberian cairan dimulai lagi seperti terapi pemberian cairan
4. Protokol 4. Penatalaksaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa
Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa adalah
: perdarahan hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah
diberikan tampon hidung, perdarahan saluran cerna (hematemesis dan
melena atau hematoskesia), perdarahan saluran kencing ( hematuria,
perdarahan otak atau perdarahan sembunyi dengan jumlah perdarahan
sebanyak 4-5 ml/KgBB/jam. Pada keadaan seperti ini jumlah dan
kecepatan pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok.
Pemeriksaan TD, nadi, pernapasan, dan jumlah urin dilakukan sesering
mungkin dengan kewaspadaan Hb, Ht, dan trombosit sebaiknya diulang
setiap 4-6 jam.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris
didapatkan tanda-tanda koagulasi intravaskuler diseminata (KID).
Taranfusi komponen darah diberikan sesuai indikasi. FFP diberikan bila
didapatkan defisiensi factor-faktor pembekuan darah (PT dan aPTT)
yang memanjang), PRC diberikan bila nilai Hb kurang dari 10 g/dl.
Transfusi trombosit hanya diberikan pada pasien DBD yang perdarahan
spontan dan massif dengan jumlah tromboit <100.000/mm 3 disertai atau
tanpa KID
27

5. Protokol 5. Tatalaksanaan Sindrom Syok Dengue pada Dewasa


Bila berhadapan dengan SSD maka hal pertama yang harus diingat
adalah renjatan harus segera diatasi dan oleh karena itu penggantian
cairan dilakukan intravaskuler yang hilang harus segera dilakukan.
Angka kematian SSD 10 kali lipat dibandingakan dengan penderita
DBD tanpa renjatan. Dan renjatan dapat terjadi karena kerelambatan
penderita DBD mendapat pertolongan.
Pada kasus SSD cairan kritaloid adalah pilihan utama yang
diberikan. Penderita juga diberikan O 2 2-4 liter/menit. Pemeriksaan yang
harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL),
hemostalisi, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan klorida, serta
ureum dan kreatinin.
Pada fase awal, cairan kristaloid diguyur sebanyak 10-20ml/kgBB
dan evaluasi 15-30 menit. Bila renjatan telah teratasi ( ditandai dengan
TD sistolik 100mmHg dan tekanan nadi > 20mmHg, frekuensi nadi
<100 x/menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat, dan kulit
tidak pucat srta dieresis 0,5-1 ml/kgBB/jam) jumlah cairan dikurangi 7
ml/kgBB/jam. Biala dalam waktu 60-120 menit keadaan tetap stabil
pemberian cairan menjadi 5ml/kgBB/jam. Bila dam waktu 60-120 menit
keadaan tetap stabil pemberian cairan dikurangi 3 ml/kgBB/jam. Bila
23-48 jam setelag renjatan teratasi tanda-tanda vital, hematokrin tetap
stabil srta dieresis cukup maka pemberian cairan perinfus dihentikan.
Pengawan dini tetap dilakukan tertama dalam 24 jam pertama sejak
terjadi renjatan. Oleh karena itu untuk mengetahui apakah renjatan
telah teratasi dengan baik, diperlukan pemantauan tanda vital,
pembesaran hati, nyeri tekan didaerah hipokondrium kana dan
epigastrium

serta

Pemantauan

DPL

jumlah

dieresis

dipergunakan

(diusahakan

untuk

2ml/kgBB/jam).

pemantauan

perjalanan

penyakit.

28

Bila fase awal pemberian ternyata renjatan belum teratasi, maka


pemberan cairan kristaloid dapat ditingkatkan menjadi 20-30ml/kgBB,
dan kemudian dievaluasi setelah 20-30 menit.
Bila keadaan tetap belum teratasi, maka perhatikan nilai Ht.

Bila Ht meningkat berarti perembesan plasma masih berlangsung


maka pemberian cairan koloid merupakan pilihan.
- Pemberian koloid mula-mula diberikan 10-20ml.kgBB dan
dievaluasi setelah 10-30 menit. Bila keadaan tetap belum
teratasi maka pemantaun cairan dilakukan pemasangan
kateter vena sentral, dan pmberian dapat ditambah hingga
jumlah maksimum 30ml/kgBB ( maksimal 1-1,5/hari) dengan
-

sasaran tekanan vena sentral 15-18cmH2O


Bila keadaan belum teratasi harus diperhatikan dan dilakukan
koreksi

terhadap

gangguan

asam

basa,

elektrolit,

hipoglikemia, anemia, KID, infeksi sekunder.


Bila tekanan vena sentral penderita sudah sesuai dengan
target tetapu renjatan tetap belum teratasi maka dapat

diberikan obat inotropik / vasopresor.


Bila Ht menurun, berarti terjadi perdarahan (internal bleeding)
maka pada penderita diberikan transfuse darah segar 10ml/kgBB
dan dapat diulang sesuai kebutuhan.

2.2.12 Pencegahan
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DBD ialah sebagai berikut :
a) Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh
alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat
sedikit terdapatnya kasus DBD.
b Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan
vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan
penderita viremia sembuh secara spontan.

29

c) Mengusahakan

pemberantasan

vektor

di

pusat

daerah

penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit termasuk pula daerah


penyangga sekitarnya.
d) Mengusahakan

pemberantasan

vektor

di

semua

daerah

berpotensi penularan tinggi.


Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :
1. Menggunakan insektisida.
Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam
berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk
dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik (larvasida).
Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau
pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan
pasir abate ke dalam sarang-sarang nyamuk aedes yaitu bejana
tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm
atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
2.Tanpa insektisida Caranya adalah :
a) Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan
air minimal 1 x seminggu (perkembangan telur nyamuk lamanya
7 10 hari).
b) Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
c) Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol
pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.

2.2.13 Prognosis
Pada DBD/DSS mortalitasnya cukup tinggi

2.3 NYAMUK AEDES AEGYPTI


30

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus


dengue penyebab penyakit demam berdarah. Selain dengue, Aedes
aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan
chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua
daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, Aedes
aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes
albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota.
Mengingat keganasan penyakit demam berdarah, masyarakat harus
mampu mengenali dan mengetahui cara-cara mengendalikan jenis ini
untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah.
Nyamuk Aedes termasuk ke dalam famili Culicidae dengan subfamily
Culicinae. Genus Aedes memilki lebih dari 900 spesies (Kettle 1989).
Secara morfologi nyamuk Aedes aegypti memilki garis putih yang agak
melengkung di bagian thoraksnya sehingga Aedes aegypti dapat
dibedakan dengan nyamuk Aedes albopictus. Selain itu pada tarsus
Aedes aegypti terdapat gelang putih (Christophers 1960).
Nyamuk Aedes aegypti hidup di dalam dan di sekitar rumah dimana
terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan
(Womack 1993). Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia
(antropofilik) dibandingkan darah binatang. Nyamuk ini memiliki kebiasaan
menghisap darah pada jam 08.00-12.00 WIB dan sore hari antara 15.0017.00 WIB. Kebiasaan menghisap darah ini dilakukan berpindah-pindah
dari individu satu ke individu lain (Soegijanto 2006). Dalam hal ini darah
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein dalam proses pematangan
telurnya (Christopers 1960;Clements 2000)
Nyamuk jantan Aedes mempunyai antena yang memilki banyak
bulu, sehingga disebut antena plumose, sedangkan antena nyamuk betina
memilki sedikit bulu yang disebut antena pilose (Christophers 1960).
Nyamuk Aedes lebih menyukai tempat perindukan yang berwarna gelap,
terlindung dari sinar matahari, permukaan terbuka lebar, berisi air tawar
jernih dan tenang (Soegijanto 2006). Tempat perindukan nyamuk (tempat
31

nyamuk meletakkan telur) terletak di dalam maupun diluar rumah. Tempat


perindukan nyamuk juga dapat ditemukan pada tempat penampungan air
alami misalnya pada lubang pohon dan pelepah-pelepah daun (Soegijanto
2006).
Virus dengue yang bereplikasi pada tubuh nyamuk genus
Aedes(A. aegypti dan A. albopictus) Virus dengue berkembang biak
(bereplikasi) dengan baik di dalam tubuh nyamuk dewasa. Soegijanto
(2004) menyatakan bahwa, banyak penelitian yang melaporkan adanya
transovarial transmission (perpindahan virus dari induk ke telur) virus
dengue yang ada dalam tubuh nyamuk betina Ae. aegypti ke dalam telurtelurnya.

32

2.2.1 Siklus Hidup Nyamuk


Aedes aegypti memilki siklus hidup yang sama dengan seragga

1. Telur
Telur Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran 0,5 mm.
Nyamuk Aedes biasanya meletakan telurnya ditempat yang berair
karena di tempat yang keberadaannya kering maka telur akan rusak
dan mati. Stadium telur ini memakan waktu kurang dari 1sampai 2
33

hari. Nyamuk Aedes aegypti akan menghasilkan telur 100 sampai 102
butir setiap kali bertelur.
2. Larva
Larva memerlukan empat tahap perkembangan. Jangka waktu
perkembangan larva tergantung pada suhu, keberadaan makanan,
dan kepadatan larva dalam wadah. Dalam kondisi optimal waktu yang
dibutuhkan sejak telur menetas hingga menjadi nyamuk dewasa
adalah tujuh hari termasuk dua hari masa pupa.
Ada 4 tingkat (instar) larva sesuai dengan pertumbuhan larva
i. Larva instar I berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm.
ii. Larva instar II berukuran 2,5-3,8 mm.
iii. Larva instar III berukuran lebih besar sedikit dari larva instar II.
iv. Larva instar IV berukuran paling besar 5mm.
3. Pupa
Pupa merupaka stadium terakhir dari nyamuk yang berada di
dalam air. Pupa berbentuk koma, gerakan lambat, sering ada di
permukaan air.
sampai

hari.

Stadium pupa memerlukan waktu kurang lebih 1


Nyamuk jantan

dan

betina

dewasa

memilki

perbandingan 1:1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari pupa,


baru kemudian disusul nyamuk betina dan nyamuk jantan tersebut
akan tetap tinggal di dekat sarang nyamuk sampai nyamuk betina
keluar. Setelah nyamuk betina keluar, maka nyamuk jantan akan
langsung mengawini nyamuk betina sebelum betina menghisap darah.

4. Nyamuk Dewasa
Kebanyakan nyamuk dewasa tidak pergi jauh dari air tempat
mereka hidup pada tahapan larva mereka. Waktu mengigit nyamuk
Aedes aegypti lebih banyak pada siang hari daripada malam hari,
34

yaitu antara jam 08.00- 12.00 dan jam 15.00-17.00 (Cahyati &
Suharyo 2006). Hanya nyamuk-nyamuk betina yang menghisap darah
sedangkan nyamuk jantan (dan kadang-kadang juga nyamuk betina)
makan bakal madu dan cairan-cairan tumbuhan lainnya.

Telur nyamuk Aedes aegypti akan menetas menjadi larva dalam waktu
1-2 hari. Tempat yang sesuaii dengan kondisi optimum adalah di dalam air
dengan suhu 20-40 derajat celcius. Sementara Kecepatan pertumbuhan
dan perkembangan larva dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
tempratur, tempat, keadaan air dan kandungan zat makanan yang ada di
dalam tempat perindukan. Pada kondisi optimum larva berkembang
menjadi pupa dalam waktu 4-9 hari, kemudian pupa menjadi nyamuk
dewasa dalam waktu 2-3 hari. Jadi pertumbuhan dan perkembangan dari

35

telur, larva, pupa sampai dewasa memerlukan waktu kurang lebih 7-14
hari.

2.2.2 Morfologi nyamuk aedes aegypti


Ciri-ciri jentik Aedes aegypti
1.

Bentuk siphon besar dan pendek yang terdapat pada abdomen

terakhir
2.

Bentuk comb seperti sisir

3.

Pada bagian thoraks terdapat stroot spine

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti


1.

Bentuk tubuh kecil dan dibagian abdomen terdapat bintik-bintik serta


berwarna hitam.

2.

Tidak membentuk sudut 90

3.

Penyebaran penyakitnya yaitu pagi atau sore

4.

Hidup di air bersih serta kaleng bekas yang bisa menampung air

hujan
6.

Menyebabkan penyakit DBD.

A. Telur Aedes Aegypti


a. Telur
Untuk bertelur, nyamuk betina akan mencari tempat seperti
genangan air atau daun pepohonan yang lembab. Nyamuk betina
meletakan telurnya didinding tempat penampuangan air atau barangbarang yang memungkinkan tergenang di bawah permukaan air.
Telur

akan

diletakan

berpencar

(pada

nyamuk Aedes

oder

36

Anopheles) atau dijejerkan dalam satu baris (contoh nyamuk Culex)


yang bisa mencapai 100-300 telur.
Telur berwarna hitam dengan ukuran 0,8 mm, berbentuk oval
yang mengapung satu persatu pada permukaan air yang jernih, atau
menempel pada dinding tempat penampungan air. Pada umumnya
telur akan menetas menjadi jentik dala waktu 2 hari setelah terendam
air. Stadium jentik umumnya berlangsung 6-8 hari, dan stadium
kepompong berlangsung antara 2-4 hari. Perkembangan dari telur
menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari.

telur nyamuk

b. Larva (jentik)
Larva adalah mahluk yang hidup di air, meskipun demikian untuk
bernafas larva harus menghirup udara secara langsung. Untuk itu,
bagian belakang tubuhnya dilengkapi dengan semacam pipa panjang
hingga menembus permukaan air. Ukuran larva umumnya 0,5
sampai 1 cm, gerakannya berulang-ulang dari bawah keatas
permukaan air untuk bernafas kemudian turun kebawah dan
37

seterusnya serta pada waktu istirahat posisinya hampir tegak lurus


dengan permukaan air.
Ciri khas dari larva Aedes aegypti adalah adanya corong udara
pada segmen terakhir, pada corong udara terdapat pecten dan
sepasang rambut serta jumbae akan dijumpai pada corong udara.
Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya yang penting adalah temperatur, cukup atau
tidaknya bahan makanan dan ada tidaknya binatang lain yang
merupakan predator.

larva kepalanya dibawah air

38

bagian belakang larva yang menyerupai pipa

Mikro organisme merupakan makanan larva. Dengan mengerakan


mulutnya yang menyerupai sikat, air dapat dibuat berpusar, sehingga
mikro organisme dapat masuk ke dalam mulutnya. Pada waktu
bahaya, larva dapat menyelam dan berenang di dalam air. Stadium
larva tergantung dari jenis nyamuk, temperatur air dan makanan
yang didapatkan. Biasanya 4-6 hari.
c.

Pupa
Pupa tidak lagi mensuplai makanan ke dalam tubuhnya (fase

istirahat). Pada stadium ini, pupa bernafas pada permukaan air


dengan menggunakan dua tanduk kecil yang berada pada prothorax.
Pupa juga sewaktu bahaya dapat menyelam di dalam air. Stadium ini
umumnya berlangsung hingga 5-10 hari, setelah itu akan keluar dari
kepompongnya menjadi nyamuk.

39

Pupa Aedes aegypti


d. Nyamuk Dewasa
Setelah lahir (keluar dari kepompong), nyamuk istirahat
untuk sementara waktu. Beberapa saat setelah itu sayap meregang
menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang mencari mangsa
atau darah.

Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap dairan tumbuhan


atau sari bunga untuk keperluan hidupnya, sedangkan yang betina
mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia
dari pada binatang (bersifat antropofilik). Darah (proteinnya)
diperlukan untuk mematangkan telur agar jika dibuahi oleh sperma
nyamuk jantan, dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan perkembangan telur mulai nyamuk mengisap darah
sampa telur dikeluarkan biasanya antara 3-4 hari. (satu siklus
gonotropik). Usia nyamuk Ae. agypti biasanya 2-4 minggu.

40

Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang


hari. Aktifitas mengigit biasanya mulai pagi sampai sore hari, dengan
2 puncak aktifitas antara pkll 09.00-10.00 dan 16.00-17.00. nyamuk
Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali
dalam satu siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan
darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular
penyakit.
Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di
dalam atau kadang-kadang di luar rumah berdekatan dengan tempat
perkembangbiakannya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan
lembab. Di tempat-tempat ini nyamuk menunggu proses pematangan
telurnya.

2.2.3. Faktor virulensi


Terdapat 3 faktor yang berperan dalam penularan infeksi virus
dengue yakni manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Seseorang yang dalam
darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan DBD.
Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan
ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan
41

memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk


termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira satu minggu setelah mengisap
darah penderita nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang
lain (masa inkubasi ekstrinsik).
Dalam mencari sasaran (korban), nyamuk menggunakan indera
penciumannya (Chemical sensors) yang sangat tajam, yang dapat
membaui sasarannya dari jarak 40 m. Cahaya terang sebaliknya dapat
membingungkan nyamuk, sehingga gangguan nyamuk dapat berkurang
bila terdapat cahaya. Begitu lampu dimatikan mulailah nyamuk mencari
sasarannya, terutama yang baunya paling mengundang. Tubuh manusia
memancarkan sebanyak 300-400 beragam zat bau-bauan. Nyamuk akan
tertarik oleh bau-bauan seperti CO2 (karbondioksida), keringat
(karena kandungan lactic acid) dan bakteri yang terdapat pada kulit.
Selain itu temperatur tubuh dan kelembaban kulit mempengaruhi pula
daya ketertarikan nyamuk.
Nyamuk juga dilengkapi dengan sensor penerima panas (Heat
sensors) yang sangat sensitif. Ketika sudah DEKAT dengan sasarannya,
nyamuk diperkirakan berorientasi dengan temperatur yang dikeluarkan
tubuh, sehingga dapat dengan mudah menemukan sasarannya dalam
kegelapan. Indera yang terakhir adalah mata (Visual sensors), yang dapat
membedakan gerakan, terang dan gelap. Orang yang mengenakan
pakaian yang kontras (berbeda) dengan lingkungannya dapat menjadi
sasaran hisapan nyamuk.

Cara nyamuk menghisap darah


1.

42

Nyamuk hinggap dengan ke enam kakinya di atas permukaan kulit.


Lalu belalai akan didekatkan ke permukaan kulit.
2.

Begitu labium (sarung senjata) ditarik, pisau tajam diujung belalai


akan melakukan gerakan maju dan mundur seperti gergaji, untuk
memotong

permukaan

kulit.

Lapisan kulit yang paling luar, yang harus dipotong (dibuka) nyamuk
dikenal dengan nama epidermis. Epidermis berfungsi untuk melindungi
kulit dari pengaruh luar (lingkungan), pada lapisan ini tidak terdapat
pembuluh darah.

43

Begitu terjadi luka, pembuluh darah akan menyempit dan darah akan
membentuk gumpalan yang menutupi luka. Selanjutnya terjadi proses
pembekuan darah (dikenal dengan istilah Hemostasis). Proses ini
penting untuk mencegah terjadinya luka pendarahan yang banyak, yang
dapat mengakibatkan kekurangan darah!!
Untuk mencegah hal tersebut (pembekuan darah), maka salah satu
pipa jarum (labrum) yang terdapat pada belalai akan mengeluarkan
semacam cairan yang mengandung anticoagulants (anti beku), yang
berasal dari dalam perutnya. Selanjutnya belalai akan terus masuk ke
lapisan yang lebih dalam, yaitu lapisan dermis. Di lapisan kulit inilah
terdapat pembuluh darah yang dibutuhkan nyamuk! Pembuluh darah
kapilar
Maka untuk dapat menghisap darah, nyamuk betina harus
mencari (memancing) terlebih dahulu DIMANA letak pembuluh darah
kapilar

dengan

belalainya.

Di lapisan ini belalai terus mencari (memancing) pembuluh darah kapiler


dengan interval waktu 10 detik sampai pembuluh kapiler ditemukan.

44

SOURCE: National Institute of Allergy and Infectious Diseases |


GRAPHIC: By Brenna Maloney and Patterson Clark, The Washington Post
- May 01, 2007

Begitu

ditemukan,

maka

darah

akan

segera

dihisap.

Rata-ratanya dibutuhkan waktu 50 detik untuk memasukan belalai


ke dalam kulit manusia, tanpa ada gangguan, nyamuk akan menghisap
darah selama kira-kira 2,5 menit (2,8 mg darah). Tubuh manusia
mengandung 5-6 liter darah!
Selanjutnya nyamuk akan mencari makan dan berpasangan dan fase di
atas akan terulang.

2.2.4 Tempat perkembang biakan


Menurut Depkes RI (2005), tempat perkembangbiakan utama
vektor demam berdarah yaitu tempat-tempat penampungan air berupa
45

genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana di dalam atau
sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya tidak melebihi jarak
500 meter dari rumah. Nyamuk ini biasanya tidak dapat berkembangbiak
di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Sedangkan
jenis

tempat

perkembangbiakan

nyamuk

Aedes

aegypti

dapat

dikelompokkan menjadi tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan


sehari-hari, seperti drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi dan
ember dantempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari
seperti tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan barangbarang bekas seperti ban, kaleng, botol, plastik. Tempat penampungan air
alamiah seperti lobang pohon, lobang batu, pelepah daun, tempurung
kelapa dan potongan bambu.

2.2.5 Perilaku nyamuk dewasa


Nyamuk setelah menetas akan istirahat di kulit kepompong untuk
sementara waktu, kemudian setelah sayap meregang menjadi kaku,
nyamuk mampu terbang mencari makan. Nyamuk Aedes aegypti jantan
mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya,
sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih
menyukai darah manusia dari pada binatang (antropofilik). Darah
diperlukan untuk mematangkan telur, agar jika dibuahi oleh sperma
nyamuk

jantan

dapat

menetas.

Waktu

yang

diperlukan

untuk

menyelesaikan perkembangan telur mulai darinyamuk mengisap darah


sampai telur dikeluarkan biasanya bervariasi antara 3-4 hari, jangka waktu
ini yang disebut dengan satu siklus gonotropik.
Menurut Depkes RI (2007), berdasarkan kebiasaan nyamuk betina
mencari mangsa di siang hari. Aktifitas menggigit dimulai pada pagi
sampai petang hari, dengan dua puncak aktifitas antara pukul 09.00-10.00
dan 16.00-17.00 tidak seperti nyamuk lain. Aedes Aegypti mempunyai
kebiasaan mengisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu siklus
46

gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian


nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap
darah, nyamuk akan hinggap (beristirahat) di dalam atau di luar rumah
berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Biasanya di tempat
yang agak gelap dan lembab, untuk menunggu proses pematangan
telurnya. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai,
nyamuk betina akan meletakkan telurnya di dinding sedikit di atas
permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam
waktu + 2 hari setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk
betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur di tempat yang
kering (tanpa air) dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu -2 oC sampai
42 oC dan apabila tempat tersebut tergenang air atau kelembabannya
tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat. (Depkes, 2007).
Kemampuan terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter maksimal
100 meter, namun secara pasif karena faktor angin atau terbawa
kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Nyamuk Aedes aegypti dapat hidup
dan berkembang biak sampai ketinggian daerah + 1.000 meter dari
permukaan laut, di atas ketinggian 1 .000 meter tidak dapat berkembang
biak karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah, sehingga
tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk.

2.2.6 Perilaku Makan


Nyamuk betina Aedes aegypti lebih menyukai makan darah
manusia dibandingkan dengan darah hewan, sehingga nyamuk ini
termasuk ke dalam antropofilik. Metode makan yang digunakan oleh
nyamuk betina adalah kapiler feeder, dimana stilet akan menembus kapiler
darah untuk menghisap. Waktu mengigit nyamuk Aedes aegypti lebih
banyak pada siang hari daripada malam hari, yaitu antara jam 08.00-12.00
dan jam 15.00-17.00 (Cahyati & Suharyo 2006).

47

Nyamuk betina akan menghisap darah sampai setidaknya 1-3 hari


setelah terjadinya perkawinan (Mullen dan Durden 2002). Nyamuk jantan
tidak menghisap darah seperti nyamuk betina. Pada proporsi tertentu
nyamuk betina akan menusukkan mulutnya lebih dari satu kali, meskipun
biasanya serangga tidak mudah meninggalkan tusukan yang dibuat
pertama kali dan jika darah tidak terhisap pada menit pertama nyamuk
akan tetap diam beberapa menit hingga darah dari inang terhisap. Pada
keadaan baik nyamuk betina akan menghabiskan waktu 2 sampai 5 menit
untuk menghisap darah (Christophers 1960).

48