Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti
kehilangan komponen darah, elemen tak aktual atau kurang nutrisi yang
dibutuhkan untuk pembekuan sel darah, yang mengakibatkan penurunan
kapasitas pengangkut oksigen darah. Anemia adalah keadaan dimana
jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin turun dibawah
normal.(Wong, 2003)
Berdasarkan jumlah sel dan kadar hemoglobin yang merupakan
bagian penting dari sel erytrosit,kelainan sel darah merah (erytrosit)
dibedakan

menjadi anemia bila

jumlah

atau

kadarnya

rendah

dan polycythemia bila jumlahnya meningkat. WHO menetapkan kriteria


diagnosis anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl, kadar
hemoglobin ini biasanya sebanding dengan jumlah erytrosit dan
hematokrit. Sebaliknya, disebut polycythemia bila kadar hemoglobin
lebih dari 18,0 g/dl dan jumlah erytrosit lebih dari 5,5 disertai dengan
peningkatan sel leukosit dan platelet. Dalam laporan pendahuluan ini
penulis akan membahas anemia makrositik
Makrositik berarti ukuran eritrositnya besar. Biasanya karena
proses pematangan eritrositnya tidak sempurna di sumsum tulang. Kalau
eritrosit yang matang, ukurannya akan semakin kecil, tapi karena tidak
matang,

tampaklah

ia

besar.

Penyebabnya

bisa

karena

bahan

pematangannya tidak cukup, misalnya pada defisiensi asam folat dan


vitamin B12. Atau bisa juga karena gangguan hepar, hormonal atau
gangguan sumsum tulang dalam homopoiesis itu sendiri. Produk yang
dihasilkan akibat gangguan ini berupa eritrosit makrositik (MCV > 100fl)
yang mudah pecah. Contoh: anemia megaloblastik .

B. Rumusan Masalah
Pembahasan laporan pendahuluan pada kasus Anemia makrositik
C. Tujuan
a. Tujuan umum
Semoga bermanfaat, dan memberikan ilmu bagi pembaca
b. Tujuan khusus
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah KGD
2. Untuk mengetahui pengertian anemia
3. Untuk mengetahui askep dan penanganan anemia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar
Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Anemia
adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen
darah, elemen tidak adekuat atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk
pembentukan

sel

darah,

yang

mengakibatkan

penurunan

kapasitas

pengangkut oksigen darah dan ada banyak tipe anemia dengan beragam
penyebabnya.(Marilyn E, Doenges, Jakarta, 2002)

Anemia makrositik anemia disertai peningkatan volume rata-rata


(MCV), ukuran rata-rata RBC normal adalah (MCV : 80-100fL dan 7-8,64),
makrositik : MCV > 100fL atau > 9,0
Anemia makrositik merupakan kelainan yang disebabkan oleh
gangguan sintesis DNA dan ditandai oleh sel megalobastik. Kebanyakan
anemia megalobastik disebabkan karena defisiensi vitamin B12 (kobalamin)
dan atau asam folat. Asam folat dan vitamin B12 adalah

zat yang

berhubungan dengan unsur makanan yang sangat penting bagi tubuh. Peran
utama asam folat dan vitamin B12 ialah metabolisme intraseluler. Adanya
defisiensi kedua zat tersebut akan menghasilkan tidak sempurnanya sintesis
DNA pada setiap sel, dimana pembelahan kromosom sedang terjadi.
B. Etiologi
Penyebab anemia makrositik adalah sebagai berikut :
1. Defisiensi Vit B12
a. Asupan kurang ; pada vegetarian
b. Malabsopsi
a) Dewasa
anemia pernisiosa, gastrektomi total/parsial,penyakit Chorns,
parasit,

limfoma

(naomisin,etanol,KCL)
b) Anak-anak : anemia

ususu

halus,

pernisiosa,gangguan

obat-obatan
sekresi,factor

intrinsic lambung dan gangguan reseptor kobalamin di ileum


c. Gangguan metabolisme seluler
Defisiensi enzim,abnormallitas protein pembawa kobalamin
(defisiensi

transkobalamin),

dan

paparan

nitrit

oksida

yang

berlangsung lama.
d. Infeksi cacing pita.
2. Defisiensi Asam Folat
a. Asupan kurang
a) Gangguan nutrisi
Alkoholoisme, bayi premature, orang tua hemodialisis dan
anoreksia nervosa.
b) Malabsopsi

Gastrektomi

parsial,reseksi

usus

halus,penyakit

Crohns,

scleroderma dan obat antikonvulsan.


b. Peningkatan kebutuhan
Kehamilan,anemia

hemolitik,keganasan,hipertiroidisme,

eritropoesis

tidak

yang

efektif

(anemia

serta

pernisiosa,anemia

sideroblastik,leukemia dan anemia hemolitik).


c. Gangguan metabolisme folat
Alkoholisme,defisiensi enzim
d. Penurunan cadangan folat di hati
Alkoholisme,sirosis non alkoholik dan hepatoma.
3. Gangguan metabolisme vitamin B12 dan asam folat.
4. Gangguan sintesis DNA yang merupakan akibat dari proses berikut ini :
a. defisiensi enzim congenital
b. didapat setelah pemberian obat atau sitostatik tertentu.
C. Patofisiologi
Timbulnya megaloblas adalah akibat gangguan maturasi sel karena
terjadi gangguan sintesis DNA sel-sel eritroblast akibat defisiensi asam folat
dan vitamin B12, dimana vitamin B12 dan asam folat berfungsi dalam
pembentukan DNA inti sel dan secara khusus untuk vitamin B12 penting
dalam pembentukan mielin. Akibat gangguan sintesis DNA pada inti eritoblas
ini, maka maturasi ini lebih lambat sehingga kromatin lebih longgar dan sel
menjadi lebih besar Karena pembelahan sel yang lambat. Sel eritoblast
dengan ukuran yang lebih besar serta susunan kromatin yang lebih longgar
disebut sebagai sel megaloblast. Sel megaloblast ini fungsinya tidak normal,
dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang sehingga terjadi eritropoesis
inefektif dan masa hidup eritrosit lebih pendek yang berujung pada terjadinya
anemia.
anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum
(misalnya berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,

4
Defisiensi B12

pajanan toksik, invasi tumor atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik
atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil
samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap
kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan
peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal 1 mg/dl, kadar diatas 1,5
mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi,
(pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia).

Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas

haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk


mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).

D. Pathways Anemia Makrositik


Defisiensi asam
folat

Defisiensi B12
Gang. hemapoetik
Sintesis DNA
Terngangu
Maturasi
sel
lambat

leukopenia
Defresi sistem
Pertahanan
imun
skunder
terganggu
Resiko
infeksi

trombositopenia

Kromatin
longgar tidak
Sel megaloblast
normal
Eritropoesis & masa hidup
eritrosit
pendek
anemia

Aliran darah ke
perifer
jaringan
transport
o2 ke
Metabolisme anaerob

Perubahan
Resiko
kerusakan
sirkulasi
integritas kulit
hipoxia

Kelelahan,
keletihan
Intoleransi
aktifitas

Defisit
perawatan diri

Kurang terpajan
informasi
Kurang
pengetahuan

Hb turun
Oksi hemoglobin turun
Gag. Perpusi jaringan

Perpusi jaringan tidak


efektif
< absorpsi
O2 ke otak
Sakit kepala
Suplai O2
pencernaan
terganggu
Merangsang
Nyeri
Pela nafas
mortilitas
saraf
terganggu
usus
Dipsnea
simpatis
Aliran darah
(nafas
Konstipasi
ke GI
Pola nafas tidak
efektif

regurgitasi
Resiko
cedera

Peristaltik
isi lambung
usus
Mual, muntah,
anorexia
Gang. Nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh

E. Klasifikasi
Menurut penyebabnya anemia makrositik di bagi beberapa Jenis :
1. Anemia Makrosttik karena defisiensi Vitamin B12
a. Penderita yang tidak makan daging hewan atau ikan,telur serta susu
yang mengandung vitamin B12.
b. Adanya malabsorpsi akibat kelaianan pada irgan berikut ini,
a) Kelainan lambung (anemia pernisiosa, kelainan congenital,factor
intrinsic, serta gastrektomi total atau parsial)
b) Kelainan usus (intestinal loop syndrome, tropical sprue dan post
reseksi ileum)
2. Anemia Makositik karena defisiensi asam folat
a. disebabkan oleh makanan yang kurang gizi asam folat,terutama pada
orang tua,fakir miskin,gastrektomi parsial dan anemia akibat hanya
minum susu kambing.
b. Malabsorpsi asam folat karena penyakit usus

c. Kebutuhan yang meningkat akibat keadaan fisiologis (hamil,laktasi


prematuritas) dan keadaan fatologis (anemia hemolitik, keganasan
serta penyakit kolagen).
d. Ekskresi asam folat yang berlebihan lewat usus biasanya terjadi pada
penyakit hati yang aktif atau kegagalan faal jantung.
e. Obat-obatan antikonvulsan dan sitostatik tertentu.
3. Anemia makrositik karena kombinasi defisiensi vitamin B12 dan asam
folat. Merupakan anemia megaloblastik akibat defisiensi enzim congenital
atau pada eritroleukemia
F. Tanda dan Gejala
1. Lemah, letih, lesu dan lelah
2. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
3. Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan
menjadi pucat.Pucat oleh karena kekurangan volume darah dan Hb,
vasokontriksi
4. Takikardi dan bising jantung (peningkatan kecepatan aliran darah)
Angina (sakit dada)
5. Dispnea, nafas pendek, cepat capek saat aktifitas (pengiriman O2
berkurang)
6. Sakit kepala, kelemahan, tinitus (telinga berdengung) menggambarkan
berkurangnya oksigenasi pada SSP
7. Anemia berat gangguan GI dan CHF (anoreksia, nausea, konstipasi atau
diare)
G. Komplikasi
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Gagal jantung,
Kejang.
Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )
Daya konsentrasi menurun
Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun

H. Penatalaksanaan
Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12.
vegetarian dapat di cegah atau di tangani dengan penambahan vitamin per
oral atau melalui susu kedelai yang diperkaya. Apabila defisiensi disebabkan

oleh defek absorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik,dapat diberikan


vitamin B12 dengan injeksi IM.
Pada awalnya, B12 diberikan tiap hari, namun kemudian kebanyakan
pasien dapat ditangani dengan pemberian vitamin b12 100 gram IM tiap
bulan, cara ini dapat menimbulkan penyembuhan dramatis pada pasien yang
sakit berat. Hitung retikulasi meningkat dalam beberapa hari. Manifestasi
neurorologis memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh,apabila terdapat
neuropati berat, paralisis dan inkontinensia, pasien mungkin tidak dapat
sembuh secara penuh.
Untuk mencegah kekambuhan anemia,terapi vitamin B12 harus
diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau
malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
Terapi pengobatan yang biasa digunakan adalah sebai berikut :
1. Terapi suportif
Transfusi bila ada hipoksia dan suspensi trombosit bila trombosotopenia
mengancam jiwa.
2. Terapi untuk defisiensi vitamin B12
Terapi yang biasa digunakan untuk mengatasi terapi defisiensi vitamin
B12 adalah sebagai berikut:
a. Diberikan vitamin B12 100-1000 Ug intramuskular sehari selama dua
minggu,selanjutnya 100-1000 Ug IM setia bulan. Bila ada kelainan
neurologist,terlebih dahulu diberikan setiap dua minggu selama enam
bulan,baru kemudian diberikan sebulan sekali. Bila penderita
sensitive terhadap pemberian suntikan dapat diberikan seara oral
1000 Ug sekali sehari,asal tidak terdapat gangguan absopsi.
b. Transfuse darah sebaiknya di hindari,kecuali bila ada dugaan
kegagaln faal jantung, hipotensi postural,renjatan atau infeksi berat.
Bila diperlukan transfuse darah sebaiknya diberi eritrosit yang di
endapkan.
3. Terapi untuk defisiensi asam folat

Diberikan asam folat 1-5 mg/hari per oral selama empat bulan, asal tidak
terdapat gangguan absopsi.
4. Terapi penyakit dasar
Menghentikan obat-obatan penyebab anemia megaloblastik.

I. Konsep Asuhan Keperawatan Anemia Makrositik


1. Identitas Klien
2. Riwayat Kesehatan
a. RKD (Riwayat Kesehatan Dahulu)
Kemungkinan klien kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung
asam folat, Fe dan vitamin B12
b. RKK (Riwayat Kesehatan Keluarga)
c. RKS (Riwayat Kesehatan Sekarang):
a) Klien terlihat keletihan dan lemah.
b) Muka klien pucat.
c) Mengeliuh nyeri mulut dan lidah.
3. Kebutuhan dasar
a. Aktivitas / Istirahat
a) Keletihan, kelemahan otot, malaise umum
b) Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak
c) Takikardia, takipnea ; dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat
d) Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya
e) Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda tanda
lain yang menunjukkan keletihan
b. Sirkulasi
a) Mulut dan membran mukosa (konjungtiva, faring dan bibir) pucat
b) Pengisian kapiler melambat.
c) Rambut kering, mudah putus
c. Integritas Ego
a) Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis
transfusi darah
b) Depresi
d. Eliminasi
a) Sindrom malabsorpsi
b) Diare
c) Penurunan haluaran urine
e. Makanan / cairan
a) Penurunan masukan diet
b) Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring)
c) Anoreksia

10

d) Adanya penurunan berat badan


e) Membrane mukusa kering,pucat
f) Turgor kulit buruk, kering, tidak elastis
g) Stomatitis
f. Neurosensori
a) Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan
berkonsentrasi
b) Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata
c) Kelemahan, keseimbangan buruk
d) Peka rangsang, gelisah, depresi, apatis
e) Tidak mampu berespon lambat dan dangkal
f) Gangguan koordinasi, ataksia
g. Pernapasan
a) Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
b) Takipnea, ortopnea dan dispnea.

4. Analisa Data
NO

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

11

DS :
Mengeluh sesak
DO :
Hb dibawah normal 1216 mg/dl
Pasien tampak

sesak

RR> dari 24x/menit

HB

Oksihemoglobin

Suplai O2 terganggu

Dipsnea

Pola Nafas Tidak efektif

DS : klien mengeluh

inflamasi, Q : jarang, R :
sekitar pinggang, S : 7, T

Gangguan perpusi

: setiap merubah posisi,

jaringan

P : nyeri karena respon


2

efektif

Gangguan perpusi
HBb

oksihemoglobin

sakit pada pinggang DO :

Pola nafas tidak

jaringan

wajah meringis

DS :
3.

Mengatakan lemas, letih


lesu lunglai, tidak
berdaya
DO :
Tampak lemah
Muka Pucat
Tidak bersemangat

Aliran darah ke perifer

Trasnport O2 ke
jaringan

Metabolisme anaerob

Keletihan, kelelahan

Intoleransi aktivitas
Aliran daraah ke perifer

Intoleransi
Aktivitas

12

transport O2 ke jaringan

Hipoxia

Merangsang saraf

DS : klien mengatakan
mual
DO :
Tampak muntah
Tampak lemah

simpatis

Aliran darah Ke GI

Regurgitasi

Isi lambung naik

Mual, muntah

Anorexia

Gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh
transport O2 ke jaringan

Hipoxia

O2 ke otak menurun

Sakit Kepala

Nyeri

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

HB

13


< absorpsi pencernaan

Mortilitas usus

Konstipasi
Aliran darah ke perifer

transport O2 ke jaringan

Metabolisme anaerob

Kelelahan keletihan

Defisit perawatan diri

Anemia

Kurang terpajan informasi

Kurang Pengetahuan
Gangguan hemapoetik

Leukopenia

Defresi sistem imun

Pertahanan skunder

DS : Mengeluh pusing
dan sakit kepala
DO :
Tampak meringis
kesakitan

terganggu

Resiko tinggi infeksi


Aliran darah ke perifer

penurunan O2 ke

Nyeri

jaringan

Metabolisme anaerob

Keletihan, kelemahan

Intoleransi aktivitas

14


Resiko Cedera

10

DS: mengatakan belum


buang air besar
DO :

Konstipasi

Perut kembung

15

DS : mengatakan belum
mandi
DO :

Defisit perawatan

Klien tampak kotor, bau

diri

tak sedap

DS: mengatakan tidak


tahu tentang penyebab
penyakitnya

Kurang

DO:

pengetahuan

Tampak bingung

16

DS :
Mengatakan jarang
mencuci tangan sebelum

Resiko tingi

makan

infeksi

DO :
Kebersihan tubuh klien
kurang
Klien tidak tahu tentang
pentingnya cuci tangan

DS :
Mengatakan letih, lesu,
tak mampu bergerak

Resiko tinggi

DO:

Cedera

Tampak lemas

5.

Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif b.d penurunan suplai O2 ke jaringan, dipsnea.

17

2.

Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk

3.

pengiriman oksigen/nutrient ke sel.


Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan

4.

kebutuhan.
Ganngguan kebutuhan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anorexia,

5.
6.
7.
8.
9.

mual, muntah
Gangguan rasa nyaman nyeri kepala b.d penuruna suplai O2 ke otak
Konstipasi b.d penurunan mortilitas usus
Defisit perawatan diri b.d keletihan, dan kelemahan
Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi
Risiko tinggi terhadap infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan
hemoglobin leucopenia.

10.

Resiko tinnggi cedera b.d keletihan, dan kelelahan.

18

19

NO Diagnosa
1.

Tujuan

Intervensi

Rasional

Keperawatan
Pola nafas tidak

Tupan : Setelah dilakukan

efektif b.d

tindakan keperawatan 3x 24 jam

1.
2.

1. Untuk mengetahui keadaan unum klien


2. Untuk mengetahui drajat ganggaun yang

Pantau tanda-tanda vital


Monitor usaha pernafasan,
pengembangan dada, keteraturan

terjadi dan menentukan yang intervensi

pernafasan
Berikan posisi semi powler
Ajarkan teknik nafas dalam
Kolaborasi pemberian O2

yang tepat

penurunan suplai O2 pola nafas kembali efektif


ke jaringan dan
dipsnea

Tupen : setelah dilakukan

3.
tindakan keperawatan 1x24 jam 4.
5.
sesak nafas berkurang dengan

3. Untuk meningkatkan ekspansi dada


4. Untuk meningkatkan kenyamanan
5. Untuk memenuhi kebutuhan O2 klien

kriteria hasil:
1. Klien mengatakan sesak nafas
berkurang
2. Dipsnea tidak ada
3. Frekuensi nafas normal
2.

Perubahan
jaringan
penurunan
komponen
yang

perfusiTupan

setelah

dilakukan1. Awasi tanda - tanda vital kaji1.Memberikan

b.dtindakan keperawatan 3x24 jam pengisian

kapiler,

perpusi jaringan adekuat tupen : kulit/membrane


selulersetelah

dulakuakan

tindakan kuku.

mukosa,

informasi

tentang

warna derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan


dasar membantu

menetukan

kebutuhan

intervensi.

diperlukankeperawatan 1x24 jam perfusi2.Tinggikan kepala tempat tidur2.Meningkatkan

ekspansi

paru

dan

20

untuk

pengirimanjaringan meningkat

oksigen/nutrient

sesuai toleransi.

memaksimalkan

ke

oksigenasi

untuk

kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi

sel.

bila ada hipotensi.


KH :
Klien

menunjukkan

perfusi

adekuat, misalnya tanda vital 3.Awasi upaya pernapasan ;


stabil.

3.Gemericik

menununjukkan

auskultasi bunyi napas

jajntung

karena

perhatikan bunyi adventisius.

lama/peningkatan

gangguan

regangan
kompensasi

jantung
curah

jantung. Iskemia seluler mempengaruhi


jaringan

miokardial/

potensial

risiko

infark.
4.Selidiki

keluhan

nyeri4.Termoreseptor jaringan dermal dangkal

dada/palpitasi.
Hindari

penggunaan

karena gangguan oksigen


botol

penghangat atau botol air panas.


Ukur suhu air mandi dengan
thermometer.

21

5.Kolaborasi

pengawasan

pemeriksaan
Berikan

sel

lengkap/packed

hasil 5.Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan

laboraturium. pengobatan /respons terhadap terapi.


darah

merah

produk

darah

sesuai indikasi.
6.Memaksimalkan transport oksigen ke
6.Berikan oksigen tambahan sesuai jaringan.
indikasi.

7.Dapat mengindikasikan gangguan serebral


7.Kaji

untuk

melambat,

respon

verbal karena hipoksia atau difisiensi B12.


mudah

terangsang,agitasi,gangguan
3.

Intoleransi aktivitas Tupan : Setelah dilakukan


b.d

tindakan keperawatan 3x24 jam

memori dan binggung.


1. Kaji kemampuan ADL pasien.

1.Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan


2.Menunjukkan perubahan neurology karena

22

ketidakseimbangan Dapat mempertahankan

- 2.Kaji kehilangan atau gangguan

defisiensi vitamin B12 mempengaruhi

antara suplai oksigen /meningkatkan

keseimbangan, gaya jalan dan

(pengiriman) dan

ambulasi/aktivitas.

kelemahan otot

kebutuhan.

Tupen : setelah dilakukan

3.Manifestasi kardiopulmonal dari upaya

tindakan keperawatan 1x24 jam

jantung dan paru untuk membawa jumlah

dapat meningkatkan toleransi

3. Observasi tanda-tanda vital

aktifitas sederhana

sebelum dan sesudah aktivitas.

keamanan pasien/risiko cedera

oksigen adekuat ke jaringan


-

KH :

4. Meningkatkan istirahat untuk menurunkan

1.melaporkan peningkatan

kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan

toleransi aktivitas (termasuk 4.Berikan lingkungan tenang, batasi regangan jantung dan paru
aktivitas sehari-hari)
-

menunjukkan penuruna
2.tanda intolerasi fisiologis,

pengunjung, dan kurangi suara


bising, pertahankan tirah baring bila 5. Meningkatkan aktivitas secara bertahap
di indikasikan

misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih


dalam rentang normal

sampai normal dan memperbaiki tonus


otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan

5. Gunakan teknik menghemat

harga diri dan rasa terkontrol.

energi, anjurkan pasien istirahat bila


terjadi kelelahan dan kelemahan,
anjurkan pasien melakukan aktivitas
semampunya (tanpa memaksakan

23

diri).
4.

Gangguan

Setealah dilakukan tindakan

1.kaji riwayat nutrisi termasuk

1. Mengidentifikasi defisiensi,menduga

pemenuhan

keperawatan Kebutuhan nutrisi makanan yang di sukai.

kebutuhan nutrisi

terpenuhi

2. Obswerpasi dan catat masukan 2.Mengawasi masukan kalori atau kualitas

kurang dari

KH :

makanan pasien

kekurangan konsumsi makanan.

3.Timbang BB setiap hari.

3 4. Mengawasi penurunan BB,efektivitas

kemungkinan intervensi.

kebutuhan tubuh b.d- 1. Menunujukkan


mual, muntah

peningkatan /mempertahankan

anorexia

berat badan dengan nilai


laboratorium normal.

intervensi nutrrisi

- 2.Tidak mengalami tanda mal


nutrisi.
- 3. Menununjukkan perilaku,

4. Berikan makanan sedikit dan

4.Makanan sedikit dapat menurunkan

prekuensi sering

kelemahan dan meningkatkan pemasukan

perubahan pola hidup untuk

juga mencegah distensi gaster.

meningkatkan dan atau


mempertahankan berat badan
yang sesuai.

5. Observasi dan catat kejadian mual 5.gejala GI dapat menunjukan efek anemia
atau muntah,flatus dan gejala lain

(hipoksia) pada organ.

yang berhubungan.

24

6. Berikan dan Bantu hygiene mulut 6. meningkatkan nafsu makan dan


yang baik sebelum dan sesudah

pemasukan oral,menurunkan pertumbuhan

makan,gunakan sikat gigi halus

bakteri,meminimalkan kemungkinan

untuk penyikatan yang

infeksi.teknik perawatan mulut khusus

lembut.berikan pencuci mulut yang mungkin di perlukan bila jringan rapuh,luka,


di encerkan bila mukosa oral luka. pendarahan dan nyeri berat.
7 7. Konsul pada ahli gizi

7.Membantu dalam membuat rencana diet


untuk memenuhi kebutuhan individu.
meningkatkan efektivitas
programpengobatan termasuk sumber diet
nutrisi yang dibutuhkan.

5.

Gangguan rasa

Setelah dilakuakan tindakan

1.kaji keluhan nyeri, catat intensitas 1. mengetahui keadaan nyeri klien dan

25

nyaman nyeri b.d

6.

keperawatan nyeri hilang

nyeri, karakteristik, lokasi waktu

mempermudah melakukan intervensi

penurunan suplai O2 KH :

2. ajarkan teknik relaksasi dan

ke otak

distrasi

2.mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan

3. kolaborasi pemberian obat

kenyamanan

analgetik

3. untuk mengurangi rasa nyeri

1. Nyeri berkurang
2. Klien tidak meringis

konstipasi atau diare Membuat/kembali pola normal 1.Observasi warna feses,

1.Membantu mengidentifikasi penyebab

berhubungan dengan dari fungsi usus.

/factor pemberat dan intervensi yang tepat.

konsistensi, frekuensi dan jumlah

penurunan mortilitas
usus

2.bunyi usus secara umum meningkat pada


KH: Menunjukkan perubahan

2.Auskultasi bunyi usus

diare dan menurun pada konstipasi

perilaku/pola hidup, yang


diperlukan sebagai penyebab,
factor pemberat.

3.dapat mengidentifikasi dehidrasi,

26

3.Awasi intake dan output

kehilangan berlebihan atau alat dalam

(makanan dan cairan).

mengidentifikasi defisiensi diet


4.membantu dalam memperbaiki konsistensi

4.Dorong masukkan cairan 2500-

feses bila konstipasi. Akan membantu

3000 ml/hari dalam toleransi

memperthankan status hidrasi pada diare

jantung
5.menurunkan distress gastric dan distensi
abdomen
5.Hindari makanan yang
membentuk gas

6.mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan

6.Kaji kondisi kulit perianal dengan


sering, catat perubahan kondisi kulit
atau mulai kerusakan. Lakukan
perawatan perianal setiap defekasi
bila terjadi diare.

7.serat menahan enzim pencernaan dan


mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang

7.Kolaborasi ahli gizi untuk diet

traktus intestinal dan dengan demikian

27

siembang dengan tinggi serat dan

menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai

bulk.

perangsang untuk defekasi.


8.mempermudah defekasi bila konstipasi
terjadi.

8.Berikan pelembek feses, stimulant


ringan, laksatif pembentuk bulk atau
enema sesuai indikasi. Pantau
keefektifan. (kolaborasi)
7.

Defisit perawatan

Setelah dilakukan tindakan

diri b.d kelemahan

keperawatan diahapakan

dan keletihan

pasien bersih denagn KH:


1. Klien tampak segar
2. Klien tampak nyaman

1. Kaji tingakt kebersihan klien

1. untuk mengetahui kebersihan klien dan


menentukan intervensi

2. mandikan klien

2. untuk memberikan kenyamanan dan


kebersihan kepada klien

3. pijat untuk menlancarkan

3. darah dapt mengalir dengan cepat

peredaran
8.

Kurang pengetahuan Setelah

dilakukan

b.d kurang terpajan keperawatan


informasi

dan

tindaknan
1.Berikan informasi tentang anemia1. memberikan dasar pengetahuan sehingga

Pasien mengertispesifik.

memahami

Diskusikan

kenyataanpasien dapat membuat pilihan yang tepat.

tentangbahwa terapi tergantung pada tipeMenurunkan

ansietas

dan

dapat

28

penyakit, prosedur diagnosticdan beratnya anemia.

meningkatkan kerjasama dalam program

dan

terapi

rencana

pengobatan.
2.Tinjau tujuan dan persiapan untuk

KH :

pemeriksaan diagnostic

Pasien

2. ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan

menyatakan

meningkatkan stress, selanjutnya

pemahamannya proses penyakit

meningkatkan beban jantung. Pengetahuan

dan penatalaksanaan penyakit.

menurunkan ansietas.

Mengidentifikasi
penyebab.

factor
3.Kaji tingkat pengetahuan klien

Melakukan

tiindakan

perlu/perubahan

pola

yangdan keluarga tentang penyakitnya


hidup.

3.megetahui seberapa jauh pengalaman dan


pengetahuan klien dan keluarga tentang

4.Berikan penjelasan pada klienpenyakitnya


tentang penyakitnya dan kondisinya4.dengan
sekarang.

mengetahui

penyakit

dan

kondisinya sekarang, klien akan tenang dan


mengurangi rasa cemas

5.Anjurkan

klien

dan

keluarga

untuk memperhatikan diet makanan5.diet dan pola makan yang tepat membantu
nya

proses penyembuhan.

29

6.Minta

klien

dan

keluarga

mengulangi kembali tentang materi6.mengetahui seberapa jauh pemahaman


yang telah diberikan
9.

Resiko tinggi infeksi Setelah

dilakukan

klien

tindakan1. kaji tanda-tanda infeksi

dan

keluarga

serta

keberhasilan dari tindakan yang dilakukan


1. mengetahui sedini mungkin adanya

b.d kelelahan dan

keperawatan infeksi tidak terjasi

keetihan

Dgn KH : tidak ada tanda-tanda2. berikan penkes tentang cuci2. untuk menvegah terjadinya infeksi
infeksi

infeksi
tangan 6 langkah
3.

Resiko tinggi cedera Setelah


10. b.d kelelahan dan
keletihan

menilai

dilakukan

kien

untuk

tindkanmenganti baju 2x sehari

keperawatan resiko cedera tidak1.


terjadi

anjurkan
kaji

aktivitas

yang

dilakukan klien

selalu3.meminimalkan

proses

infeksi

dari

kotornya pakaian
dapat1. untuk mengetahui sejauh mana klien
dapat

melkukan

aktifitas

yang

dapat

Dgn KH : klien tidak tampak 2. berikan penkes kepada keluargaditoleransi


meringis terjadi cedera

untuk

selalu

menjaga

dan2. membantu mencegah terjadinya cedera

membantu klien memnuhi adl


3.

libatkan

perawatan klien

keluarga

untuk3

melibatkan

keluarga

memberikan

dukungan kepada klien agar cepat sembuh.

30

Daftar Pustaka

31