Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Kedokteran Keluarga
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya memandang
penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya
menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya.3
Kriteria pelayanan kesehatan yang harus terpenuhi untuk mewujudkan keadaan sehat
diantaranya adalah tersedianya pelayanan kesehatan (available), tercapai (accesible),
terjangkau (afordable), berkesinambungan (continue), menyeluruh (comprehensive), terpadu
(integrated), dan bermutu (quality).3 Kedokteran keluarga memiliki kekhususan yaitu :3
1. Komprehensif dalam ilmu kedokteran, dalam arti tidak membatasi disiplin
ilmu kedokteran tertentu.
2. Komprehensif dalam pelayanan kesehatan.
3. Sasarannya adalah individu yang bermasalah atau yang sakit, namun di
samping menganalisis fungsi organ tubuh secara menyeluruh, juga fungsi
keluarga.
4. Disusun secara komunal, sehingga setiap dokter dapat memanfaatkan sesuai
kebutuhan.
5. Bersifat universal terhadap manusia dan lingkungan.
B. Diare Anak
DEFINISI
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau
lebih cair dari biasanya terjadi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Diare akut adalah buang air
besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja, dengan frekuensi lebih dari tiga kali atau
lebih sering dari biasanya dalam 24 jam dan berlangsung lebih dari 14 hari. Pada bayi yang
minum ASI sering frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali per hari, keadaan ini masih
bersifat fisiologis atau normal. Selama berat badan bayi meningkat normal maka tidak
tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya
perkembangan saluran cerna (7)
4

ETIOLOGI
Selama 2 dekade, penelitian menunjukkan karakteristik dari diare akut. Pada awal
1970 agen penyebab dapat diidentifikasi dalam 15-20% episode diare. Sekarang, dengan
semakin berkembangnya teknik diagnostik, dapat ditemukan agen penyebab dalam 60-80%.3
Sebagian besar penyebab infeksi diare adalah Rotavirus, disamping virus lainnya seperti
Norwalk Like Virus, Enteric Adenovirus, Astovirus, dan Calicivirus. Beberapa patogen
bakteri seperti Salmonella, Shigella, Yersinia, Campylobacter, dan beberapa strain khusus
E.Coli. Beberapa parasit yang sering menyebabkan diare meliputi Giardia, Crytosporidium,
dan Entamoeba Histolytica (8).
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu : infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama pada anak. Infeksi enteral meliputi :
Infeksi bakteri : Vibrio, E coli, Salmonela, Shigella, Campylobacter, Yersinia,

aeromonas dan sebagainya.


Infeksi Virus : Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, astovirus dan lain-lain.
Infestasi parasit : Cacing (ascaris, Trichiuris, Oxyuris), Protozoa ( E.

Histolytica, Giardia lambia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans).


b. Infeksi paraenteral yaitu : infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan
seperti

Otitis

media

akut

(OMA),

Tonsilofaringitis,

Bronkopnemonie,

Enchepalitis dan sebagainya.


2. Faktor Malabsopsi
a. Malabsobsi karbohidrat
b. Malabsobsi lemak
c. Malabsobsi protein
3. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas, walaupun jarang menimbulkan diare terutama pada
anak besar.(7,8)
PATOFISIOLOGI
Secara umum, diare disebabkan karena 2 hal, yaitu gangguan pada proses absorbsi atau
pada proses sekresi. Diare akibat gangguan absorpsi yaitu volume cairan yang berada di kolon
lebih besar daripada kapasitas absorbsi. Terdapat gangguan pada usus halus atau kolon yang
mengakibatkan terjadinya penurunan pada proses absorpsi atau peningkatan proses sekresi. Diare
juga dapat terjadi akibat gangguan motilitas, inflamasi dan imunologi.8

Diare akibat gangguan absorpsi atau diare osmotik dapat disebabkan karena : a)
Konsumsi magnesium hidroksida, sehingga menurunkan fungsi absorpsi usus; b) Defisiensi
sukrase-isomaltase; c) Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada
usus halus bagian proksimal akan bersifat hipertonis dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat
adanya perbedaan tekanan osmotik antara lumen usus dan darah, maka pada segmen jejunum
yang bersifat permeabel, air akan mengalir ke arah lumen hehunum, dan air akan terkumpul di
dalam lumen usus. Na akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul
cairan intraluminal yang besar dengan kadar Na yang normal.8
Diare akibat malabsorpsi umum biasanya disebabkan akibat kerusakan sel (yang secara
normal akan menyerap Na dan air) daoat disebabkan oleh infeksi virus atau kuman, seperti
Salmonella, Shigella atau Campylobacter. Dapat juga disebabkan akibat inflamatory bowel
disease idiopatik, toksin, atau obat-obatan tertentu. Gambaran karakteristik penyakit yang
menyebabkan malabsorpsi usus halus adalah atrofi villi.8
Diare akibat gangguan sekresi atau diare sekretorik dapat terjadi karena hiperplasia
kripta, luminal secretagogues, dan blood-borne secretagogeus. Hiperplasia kripta umumnya akan
menyebabkan atrofi villi. Pada luminal secretagogues, sekresi lumen dipengaruhi oleh
enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu
bentuk dihidroxyl, serta asam lemak rantai panjang. Pada blood-borne secretagogeus, diare
umumnya disebabkan karena enterotoksin E. Coli atau Cholera.8
Diare akibat gangguan peristaltik disebabkan karena adanya perubahan motilitas usus
yang akan berpengaruh terhadap absorpsi. Baik peningkatan ataupun penurunan motilitas,
keduanya dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan yang pada akhirnya dapat menuebabkan diare. Diare akibat hiperperistaltik pada anak
jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon iritable
pada bayi.8
Diare akibat inflamasi dapat terjadi akibat hilangnya sel-sel epitel dan kerusakan tight
junction, sehingga menyebabkan air, elektrolit, mukus dan protein menumpuk di dalam lumen.
Biasanya diare akibat inflamasi berkaitan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare
sekretorik. Bakteri enteral patogen akan mempengaruhi struktur dan fungsi tight junction,
menginduksi sekresi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade inflamasi. Efek
infeksi bakterial pada tight junction akan mempengaruhi susunan anatomis dan fungsi absorpsi

dan perubahan susunan protein. Penelitian oleh Berkes J dkk. 2003 menunjukkan bahwa
peranan bakteri enteral patogen pada diare terlerak pada perubahan barrier tight junction oleh
toksin atau produk kuman yaitu perubahan pada cellular cytoskeleton dan spesifik tight junction.
Pengaruh dari salah satu atau kedua hal tersebut akan menyebabkan terjadinya hipersekresi
klorida yang akan diikuti oleh natrium dan air.8
Diare yang terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I, III dan
IV. Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan IgE dan alergen makanan. Reaksi tipe
III misalnya pada penyakit gastroenteropati, sedangkan reaksi tipe IV terdapat pada Coeliac
disease dan protein loss enteropaties. Mediator-mediator kimia hasil dari respon imun akan
menyebabkan luas permukaan mukosa berkurang akibat kerusakan jaringan, merangsang sekresi
klorida diikuti oleh natrium dan air.8
DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis diare, dapat dilakukan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesa
Cara mendiagnosis pasien diare adalah dengan menentukan tiga hal berikut : 1)
Persistensinya; 2) Etiologi; 3) Derajat dehidrasi. Hal-hal ini dapat diketahui melalui
anamnesa yang terperinci.7
Untuk menentukan persistensinya, perlu ditanyakan kepada orang tua pasien, sudah
berapa lama pasien menderita diare. Apakah sudah lebih dari 14 hari atau belum, sehingga
nantinya dapat ditentukan apakah diare pada pasien termasuk diare akut atau diare kronik.
Hal ini berkaitan dengan tatalaksana diare yang berkaitan dengan penyulit ataupun
komplikasi dari diare tersebut.7
Untuk menentukan etiologi, diagnosis klinis diare akut berdarah hanya berdasarkan
adanya darah yang dapat dilihat secara kasat mata pada tinja. Hal ini dapat ditanyakan pada
orang tua pasien maupun dilihat sendiri oleh dokter. Pada beberapa episode Shigellosis, diare
pada awalnya lebih cair dan menjadi berdarah setelah 1-2 hari. Diare cair ini dapat sangat
berat dan menimbulkan dehidrasi. Seringkali disertai demam, nyeri perut, nyeri pada rektum,
dan tenesmus.7
Untuk menentukan derajat dehidrasi dapat dilakukan dengan anamnesis yang teliti,
terutama pada asupan peroral, frekuensi miksi/urin, frekuensi serta volume tinja dan muntah

yang keluar. Tanyakan juga apakah pasien sudah pernah periksa dan apakah pasien
mengkonsumsi obat tertentu sebelumnya.7
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa hal-hal sebagai berikut : berat badan, suhu tubuh,
frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tandatanda untama dehidrasi seperti kesadaran, rasa haus dan turgor kulit abdomen, serta tandatanda tambahan lainnya seperti ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata cowong atau tidak,
ada atau tidaknya air mata, keadaan bibir, mukosa dan lidah. 8,9,10 Karena seringnya defekasi,
anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama makin asam akibat banyaknya asam laktat
yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus.9
Pernapasan yang cepat dan dalam merupakan indikasi adanya asidosis metabolik. Bising
usus yang lemah atau tidak ada dapat ditemukan pada keadaan hipokalemi. Dilakukan juga
pemeriksaan pada ekstremitas berupa capillary refill untuk menentukan derajat dehidrasi
yang terjadi.8

DERAJAT DEHIDRASI
Derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan :
a. Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003
Simptom

Minimal atau

Dehidrasi

Dehidrasi Berat,

tanpa dehidrasi,

Ringan-Sedang,

Kehilangan BB >

Kehilangan BB

Kehilangan BB

9%

Kesadaran

<3%
Baik

3%-9%
Normal, lelah,

Apatis, letargi,

Denyut jantung

Normal

gelisah, irritable
Normal-

tidak sadar
Takikardia,

meningkat

bradikardia pada

Normal-melemah

kasus berat
Lemah, kecil, tak

Normal-cepat
Sedikit cowong

teraba
Dalam
Sangat cowong

Kualitas nadi
Pernapasan
Mata

Normal
Normal
Normal

Air mata
Mulut dan lidah
Cubitan kulit

Ada
Basah
Segera kembali

Berkurang
Kering
Kembali < 2

Tidak ada
Sangat kering
Kembali > 2

Capillary refill

Normal

detik
Memanjang

detik
Memanjang,

Ekstremitas

Hangat

Dingin

minimal
Dingin, mottled,

Kencing

Normal

Berkurang

sianotik
minimal

b. Penentuan derajat dehidrasi berdasarkan MTBS (Managemen Terpadu Balita Sakit)


Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda

DEHIDRASI BERAT

berikut :
Letargis atau tidak sadar.
Mata cekung
Tidak bisa minum atau malas minum.
Cubitan kulit perut kembalinya lambat.
Terdapat dua atau lebih dari tanda-tada

DEHIDRASI RINGAN/SEDANG

berikut :
Gelisah, rewel/marah.
Mata cekung.
Haus, minum dengan lahap.
Cubitan kulit di perut kembalinya lambat.
Tidak cukup tanda-tanda untuk

TANPA DEHIDRASI

diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat


atau ringan/sedang.
c. Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995

10

Penilaian
Lihat :

Keadaan umum

Baik, sadar.

*Gelisah, rewel

*Lesu, lunglai
atau tidak sadar

Mata

Normal

Cekung

Sangat cekung
dan kering.

Air mata

Ada

Tidak ada

Sangat kering

Mulut dan lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Rasa haus

Minum biasa,

*Haus, ingin

*Malas minum

tidak haus

minum banyak

atau tidak bisa


minum

Periksa :
Turgor kulit

Kembali cepat

*Kembali lambat

*Kembali sangat

Hasil

Tanpa dehidrasi

Dengan dehidrasi

lambat
Dehidrasi berat

ringan-sedang

bila ada1 tanda *

bila ada 1 tanda *

ditambah 1 atau

ditambah 1 atau

lebih tanda lain.

lebih tanda lain


Rencana Terapi B

Rencana Terapi C

pemeriksaan :

Terapi :

Rencana Terapi A

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Pemeriksaan tinja rutin merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan pada diare kronik.
Hal yang dinilai pada pemeriksaan tinja adalah pada pemeriksaan makroskopis dinilai
konsistensi, warna, apakah terdapat lendir, apakah terdapat darah, dan baunya. Pada
pemeriksaan mikroskopis, dinilai hitung leukosit, eritrosit, parasit dan bakteri. Pada
pemeriksaan kimia, dinilai pH, clinitest, dan elektrolit (Na, K, HCO3). Pemeriksaan darah
juga perlu dilakukan. Pemeriksaan laboratorium lainnya juga dapat dilakukan seperti serum
VIP, gastrin, cortisol apabila pasien diduga menderita diare sekretorik. Dapat pula dilakukan
analisis gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit.8,9,10

11

Biopsi usus halus dilakukan jika pasien dengan diare yang tidak dapat dijelaskan,
anemia defisiensi Fe yang tidak dapat dijelaskan yang mungkin menggambarkan absorbsi Fe
yang buruk dan defisiensi absorbsi kalsium.
TATALAKSANA
Pengobatan diare kronik ditujukan terhadap penyakit yang mendasari. Sejumlah obat anti
diare dapat digunakan pada diare kronik, seperti:11,12
1. Loperamid : 4 mg dosis awal kemudian 2 mg setiap diare. Dosis maksimum 16 mg/hari
2. Dhypenoxylat dengan atropin: diberikan 3-4 kali per hari
3. Klonidin: beta2 adrenergik agonis yang menghambat sekresi elektrolit intestinal, diberikan
dengan dosis 0,1-0,2 mg/hari selama 7 hari. Bermanfaat pada pasien dengan diare sekretori,
kriptospdidiosis.
4. Octretide: suatu analog somatostatin yang menstimulasi cairan intestinal dan absorbsi
elektrolit, menghambat sekresi melalui pelepasan peptida gastrointestinal. Dapat dgunakan
untuk diare sekretori yang disebabkan oleh VIPoma, AIDS dan tumor carcinoid. Dosis efektif
50 mg- 250 mg subkutan 3x sehari.
5. Cholestiramin: garam empedu yang mengikat resin berguna untuk pasien diare sekunder
karena garam empedu akibat reseksi intestinal/penyakit ileum. Dosis 4 gr , 1-3 kali perhari.
Salah satu komplikasi diare yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Untuk mencegah
dehidrasi dapat dilakukan pemberian air tajin, kuah sayur atau kuah sop. Apabila sudah
terjadi dehidrasi, pasien sesegera mungkin dibawa ke petugas kesehatan untuk mendapatkan
pengobatan yang cepat dan tepat, yaitu dengan pemberian oralit.7
A. Berikut ini adalah tatalaksana rehidrasi sesuai dengan derajat dehidrasi :
1. Tatalaksana Rehidrasi pada Pasien Diare Tanpa Dehidrasi :
RENCANA TERAPI A
UNTUK MENGOBATI DIARE DI RUMAH
(Pencegahan Dehidrasi)
GUNAKAN CARA INI UNTUK MENGAJARI IBU :
-

Teruskan mengobati anak diare di rumah.

Berikan terapi awal bila terkena diare.


MENERANGKAN EMPAT CARA TERAPI DIARE DI RUMAH
1. BERIKAN ANAK LEBIH BANYAK CAIRAN DARIPADA BIASANYA UNTUK

12

MENCEGAH DEHIDRASI
-

Gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan, seperti oralit, makanan yang cair (seperti
sup, air tajin) dan kalau tidak ada air matang gunakan larutan oralit untuk anak, seperti
dijelaskan di bawah ( Catatan : jika anak berusia kurang dari 6 bulan dan belum makan
makanan padat, lebih baik diberi oralit dan air matang daripada makanan cair.

Berikan larutan ini sebanyak anak mau, berikan jumlah larutan oralit seperti di bawah.

Teruskan pemberian larutan ini hingga diare berhenti.


2. BERI TABLET ZINC

Dosis zinc untuk anak-anak :


Anak di bawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari.
Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari.

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari diare.

Cara pemberian tablet zinc :


Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI atau oralit. Untuk anakanak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan di dalam air matang atau
oralit.
3. BERI ANAK MAKANAN UNTUK MENCEGAH KURANG GIZI

Teruskan ASI.

Bila anak tidak mendapatkan ASI, berikan susu yang biasa diberikan. Untuk anak kurang
dari 6 bulan atau belum mendapat makanan padat, dapat diberikan susu.

Bila anak 6 bulan atau lebih atau telah mendapat makanan padat :

Berikan bubur, bila mungkin campur dengan kacang-kacangan, sayur, daging atau ikan.
Tambahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur setiap porsi.
Berikan sari buah atau pisang halus untuk menambahkan kalium.
Berikan makanan yang segar. Masak dan haluskan atau tumbuk makanan dengan baik.
Bujuklah anak untuk makan, berikan makanan sedikitnya 6 kali sehari.
Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti, dan berikan porsi makanan tambahan
setiap hari selama 2 minggu.

13

4. BAWA ANAK KEPADA PETUGAS KESEHATAN BILA ANAK TIDAK MEMBAIK


DALAM 3 HARI ATAU MENDERITA SEBAGAI BERIKUT :
-

Buang air besar lebih sering.

Muntah terus-menerus.

Rasa haus yang nyata.

Makan atau minum sedikit.

Demam.

Tinja berdarah.
5. ANAK HARUS DIBERI ORALIT DI RUMAH APABILA :

Setelah mendapat Rencana Terapi B atau C.

Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare memburuk.

Memberikan oralit kepada semua anak dengan diare yang datang ke petugas kesehatan
merupakan kebijakan pemerintah.

2. Tatalaksana Rehidrasi pada Pasien Diare dengan Dehidrasi Ringan-Sedang


RENCANA TERAPI B
UNTUK MENGOBATI DIARE DI RUMAH
( Pengobatan dehidrasi ringan-sedang)
Pada dehidrasi rinngan-sedang, Cairan Rehidrasi Oral diberikan dengan pemantauan yang
dilakukan di Pojok Upaya Rehidrasi Oral selama 4-6 jam. Ukur jumlah rehidrasi oral
yang akan diberikan selama 4 jam pertama.
umur

Lebih dari 4

Berat badan
Dalam ml

bulan
< 6 Kg
200-400

4-12 bulan

12 bulan-2

2-5 tahun

6 - < 10 Kg
400-700

tahun
10 - < 12 Kg
700-900

12-19 Kg
900-1400

Jika anak minta minum lagi, berikan.


-

Tunjukkan kepada orang tua bagaimana cara memberikan rehidrasi oral

14

Berikan minum sedikit demi sedikit.


Jika anak muntah, tunggu 10 menit lalu lanjutkan kembali rehidrasi oral pelan-pelan.
Lanjutkan ASI kapanpun anak meminta.
-

Setelah 4 jam :

Nilai ulang derajat dehidrasi anak.


Tentukan tatalaksana yang tepat untuk melanjutkan terapi.
Mulai beri makan anak di klinik.
-

Bila ibu harus pulang sebelum selesai rencana terapi B

Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah.
Berikan oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dijelaskan dalam Rencana Terapi
A.
Jelaskan 4 cara dalam Rencana Terapi A untuk mengobati anak di rumah.

Berikut ini adalah komposisi dari Oralit Baru yang direkomendasikan oleh WHO dan
UNICEF untuk diare akut non-kolera pada anak :
Oralit Baru Osmolaritas Rendah
Natrium
Klorida
Glucose, anhydrous
Kalium
Sitrat
Total Osmolalitas

Mmol/Liter
75
65
75
20
10
245

Ketentuan pemberian Oralit Baru :


a. Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru.
b. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang, untuk persediaan 24 jam.
c. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar, dengan ketemtuan sebagai
berikut :
- Untuk anak berumur < 2 tahun : berikan 50-100 ml tiap kali BAB.
- Untuk anak 2 tahun atau lebih : berikan 100-200 ml tiap BAB.

15

d. Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa larutan harus
dibuang
3. Tatalaksana Rehidrasi pada Pasien Diare dengan Dehidrasi Berat
RENCANA TERAPI C
UNTUK MENGOBATI DIARE DI RUMAH
(Penderita dengan dehidrasi berat)
Ikuti arah anak panah. Bila jawaban dari pertanyaan adalah YA, teruskan ke kanan. Bila TIDAK,
teruskan ke bawah.

Apakah saudara
dapat
menggunakan
cairan IV
secepatnya

- Beri cairan IV segera. Bila penderita bisa


minum, beri oralit ketika cairan IV dimulai.
Beri 100ml/KgBB cairan RL (NaCl atau
Ringer Asetat jika tidak tersedia RL) sebagai
berikut :
Bayi < 1 tahun : pemberian pertama 30
ml/Kg dalam 1 jam. Kemudian 70ml/Kg
dalam 5 jam.
Anak 1-5 tahun : : pemberian pertama 30
ml/Kg dalam 30 menit. Kemudian 70ml/Kg
dalam 2 1/2jam.
- Ulang jika denyut nadi masih lemah atau
tidak teraba.
- Nilali kembali dalam 1-2 jam -> rehidrasi
belum tercapai -> percepat tetesan.
- Berikan oralit (5 mg/KgBB/jam) bila
penderita bisa minum.
- Setelah 6 jam (bayi) atau 3 jam (anak), nilai
kembali. Pilih rencana terapi.

YA

T
I
D
A
K

Apakah terdapat terapi


IV terdekat (dalam 30
menit)?

TIDAK

Kirim penderita untuk terapi IV.


YA

Bila penderita dapat minum, sediakan oralit dan


tunjukkan cara memberikan nya selama perjalanan.

16

Apakah saudara dapat


menggunakan pipa nasogastrik
untuk dehidrasi?

YA

Mulai rehidrasi mulu dengan oralit


melalui pipa nasogatrik atas mulut.
Berikan 20ml/Kg/jam selama 6 jam.
(total 120ml/Kg).
Nilai tiap 1-2 jam :

TIDAK

Bila muntah atau perut kembung,,


berikan cairan pelan-pelan.
Bila rehidrasi tak tercapai setelah 3
jam, rujuk untuk mendapat terapi IV.
Setelah 6 jam, nilai kembali dan pilih
rencana terapi

Segera rujuk anak untuk


rehidrasi melalui nasogatrik atau
IV

Catatan :
Bila mungkin, amati penderita sedikitnya 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan bahwa
ibu dapat menhaga pengembalian cairan yang hilang dengan memberi oralit.
Bila umur anak di atas 2 tahun dan kolera baru saja berjangkit di daerah saudara, pikirkan
kemungkinan kolera dan berikan antibiotik yang tepat secara oral setelah anak sadar.

B. Dukungan Nutrisi
Makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak
sehat untuk mengganti nutrisi yang hilang serta mencegah agar tidak terjadi gizi buruk. Pada
diare berdarah, nafsu makan akan berkurang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan
fase kesembuhan. ASI tetap diteruskan selama terjadinya diare cair akut maupun pada diare
akut berdarah dan diberikan dengan frekuensi lebih sering dari biasanya. Anak umur 6 bulan

17

ke atas ebaiknya mendapat makan seperti biasanya. 1 Bila anak berumur 4 bulan atau lebih
dan sudah mendapatkan makanan lunak atau padat, makanan ini harus diteruskan.8
C. Suplementasi Zinc
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut terbukti mengurangi lama dan beratnya
diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu
makan anak.7,8,10
Dosis Zinc
Umur
< 6 bulan
> 6 bulan

Dosis
10 mg (1/2 tablet)/ hari
20 mg (1 tablet)/ hari.

Efek pemberian zinc terhadap diare adalah dengan menjaga integritas usus melalui
pengaktivan enzim superoxide dismutase (SOD) Zinc juga berperan sebagai antioksidan yang
merupakan stabilisator intramolekular, mencegah pembentukan ikatan disulfida, dan
berkompetisi dengan Cu dan Fe. Selain itu, Zinc juga mampu untuk menghambat sintesis
Nitric Oxide (NO). Zinc juga berperan dalam penguatan sistem imun, yaitu dalam modulasi
sel T dan sel B. Peranan zinc juga terlihat dalam aktivasi limfosit T dan menjaga keutuhan
epitel. Semua kegunaan inilah yang mendukung dilakukannya pemberian zinc dalam
tatalaksana diare akut.7,8,10
D. Antibiotik Selektif
Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut, karena sebagian besar diare infeksi
disebabkan oleh rotavirus yang bersifat self limited dan tidak dapat dibunuh oleh antibiotik. 7,8
Pemberian antibiotik dilakukan atas indikasi yaitu pada diare berdarah dan kolera.7,8,10
Pada disentri diberikan antibiotika oral selama 5 hari yang masih sensitif terhadap
Shigella menurut pola kuman setempat. Dahulu semua kasus disentri pada tahap awal diberi
antibiotika kotrimoksazol dengan dosis 5-8mg/KgBB/hari. Namun saat ini telah banyak
strain Shigella yang resisten terhadap amplisilin, amoksisilin, mentronidazol,tetrasiklin,
golongan aminoglikosida, kloramfenikol, sulfonamid, dan kotromoksazol sehingga WHO
tidak merekomendasikan penggunaan obat tersebut. Obat pilihan untuk pengobatan disentri
berdasarkan WHO 2005 adalah golongan Quinolon seperti siprofloksasin dengan dosis 30-

18

50mg/KgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari. Pemantauan dilakukan setelah 2 hari
pengobatan, dilihat apakah ada perbaikan tanda-tanda seperti tidak adanya demam, diare
berkurang, darah dalam feses berkurang dan peningkatan nafsu makan. Jika tidak ada
perbaikan, maka amati adanya penyulit, hentikan pemberian antibiotik sebelumnya dan
berikan antibiotik yang sensitif terhadap Shigella berdasarkan area.7
E. Edukasi orang Tua
Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk kembali segera jika ada demam, tinja berdarah,
muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau minum
belum membaik selama 3 hari.7
Indikasi rawat inap pada penderita diare akut berdarah adalah malnutrisi, usia kurang dari
satu tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya dehidrasi dan disentri yang
datang sudah dengan komplikasi.7
KOMPLIKASI
Komplikasi dari diare yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat atau muncul pada
saat dilakukan terapi rehidrasi diantaranya adalah gangguan elektrolit berupa hipernatremia,
hiponatremia, hiperkalsemia, dan hipokalemia. Apabila upaya rehidrasi oral mengalami
kegagalan, dapat terjadi kejang yang disebabkan karena hipoglikemi, hiperpireksia,
hipernatremi atau hiponatremi.8
PENCEGAHAN
Upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara mencegah penyebaran kuman
patogen penyebab diare, dengan cara : pemberian ASI yang benar, memperbaiki penyiapan
dan penyimpanan makanan pendamping ASI, penggunaan air bersih yang cukup,
membudayakan kebiasaan mecuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum
makan, penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga, dan
membuang tinja bayi yang benar.8
Selain itu, upaya pencegahan diare juga dapat dilakukan dengan meningkatkan daya
tahan tubuh dengan cara pemberian ASI paling tidak sampai 2 tahun, meningkatkan nilai gizi

19

makanan pendamping ASI dan memberi makan dalam jumlah yang cukup untuk
memperbaiki status gizi anak, dan dilakukannya imunisasi campak.8
Salah satu upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian probiotik dalam
waktu yang panjang terutama untuk bayi yang tidak minum ASI. Perbiotik adalah
mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi yang menunjang kesehatan melalui
terciptanya keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Pada sistematik review yang
dilakukan Komisi Nutrisi ESPGHAN (Eropean Society of Gastroenterology Hepatology and
Nutrition) pada tahun 2004, didapatkan laporan-laporan yang berkaitan dengan peran
probiotik untuk pencegahan diare.8

EDUKASI ORANG TUA


Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk kembali segera jika ada demam, tinja berdarah,
muntah berulang, makan / minum sedikit, sangat haus, diare semakin sering, atau belum
membaik dalam tiga hari. Indikasi rawat inap pada penderita diare akut berdarah adalah
malnutrisi, usia kurang dari satu tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya
dehidrasi dan disentri yang datang sudah dengan komplikasi.
Probiotik
Probiotik adalah mikroorganisme hidup, yang jika diberikan dalam jumlah yang
adekuat akan memberi keuntungan menyehatkan pada individu.(10)
Pada saluran cerna manusia, probiotik menginduksi kolonisasi dan dapat tumbuh
secara in situ di lambung, duodenum dan ileum. Pada epitel ileum manusia, mikroorganisme
ini dapat menginduksi aktivitas immunomodulatory, termasuk pengambilan CD4+ T Helper

20

cells. Probiotik menginduksi sistem imun, produksi musin, down regulation dari respon
inflamasi, sekresi bahan antimikroba, pengaturan permeabilitas usus, mencegah perlekatan
bakteri patogen pada mukosa, stimulasi produksi immunoglobulin dan mekanisme probiotik
lainnya. (10)
Dosis probiotik yang dianjurkan adalah 10 pangkat 7 hingga 10 pangkat 9.
Rekomendasi dari Mitsuoka untuk bakteri Lactobacillus memang sekitar 10 pangkat 6. Jika
kita memberikan kurang dari itu, maka proses keseimbangan tidak tercapai yang berarti tidak
bisa disebut probiotik. Oleh karena itu, preparat probiotik Lactobacillus umumnya diberikan
pada dosis 10 pangkat 7 hingga pangkat 9.