Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM FARMASETIKA

JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

LAPORAN TEKNOLOGI SEDIAAN 1


PERCOBAAN

TABLET KONVENSIONAL
(MULTIVITAMIN)
FORMULA

ACIDIVIT TABLET MULTIVITAMIN

OLEH:
NAMA

: NIMA NURMAGFIRAH

NIM

: 70100111054

KELAS

: FARMASI B

KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN

: UMMU KALSUM

SAMATA-GOWA
2013

FORMULA TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI PADAT (TEKNO I)


I. Judul Formula Asli : Tablet Multivitamin
II. Rancangan Formula
1. Nama Produk
2. Jumlah Produk
3. Tanggal Formulasi
4. Tanggal Produksi
5. No. Registrasi
6. No. Batch
7. Komposisi

: ACIDIVIT Tablet
: 30 Tablet
: 02/05/2013
: 02/05/2014
: DBL 1309279012301 A2
: B 312025
: Tiap 300 mg tablet mengandung
- Vitamin A
25 mg
- Vitamin C
40 mg
- Vitamin D
0,05 mg
- Kalsium Stearat
1%
- Amylum Maydis
10%
- Amilum Maydis
15%
- Beta Karoten
0,1%
- Kalsium Silikat
ad 300 mg

III.Master Formula
Diproduksi

Tanggal

Tanggal

Oleh
PT. ION

Formulasi

Produksi

FARMA
Kode Bahan
01-VA
02-VC
03-VD3
04-KSE

02/05/2013

02/05/2014

Nama Bahan
Vitamin A
Vitamin C
Vitamin D3
Kalsium Stearat

05-KSL
06-AM
07-AMS
08-BK

Kalsium Silikat
Amylum Maydis
Amylum Maydis
Beta Karoten

Kegunaan
Zat Aktif
Zat Aktif
Zat Aktif
Pelicin
Pemanis
Pengisi
Pengikat
Penghancur
Pewarna

Dibuat Oleh

Disetujui

Nima

Ummu

Nurmagfirah
Perdosis
25 mg
40 mg
0,005 mg
2 mg

Kalsum
Perbatch
0,75 g
1,2 g
0,00015 g
0,06 g

109,795 mg
20 mg
3 mg
0,2 mg

3,29 g
0,6 g
0,09 g
0,006 g

IV. Alasan Pembuatan Produk


Vitamin dan beberapa mineral penting untuk metabolisme. Vitamin
merupakan senyawa organic yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil
untuk mempertahankan kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor

untuk enzim metabolisme. Asupan vitamin yang kurang dapat terjadi


sebagai akibat asupan makanan yang tidak mencukupi, gangguan absorbs
vitamin dan meningkatnya kebutuhan tubuh. Tambahan vitamin diperlukan
pada keadaan-keadaan tertentu untuk mencegah terjadinya defisiensi
vitamin. Sedangkan multivitamin adalah nutrisi esensial dan non-esensial
bagi tubuh, berfungsi mencegah kekurangan vitamin dan mineral tubuh.
(Syarief, 2007;769-770).
Signifikansi defisiensi vitamin A, C dan D dalam kesehatan masyarakat
telah didefenisikan ulang sejak tahun 1970-an dengan mengikutsertakan
asosiasi yang mungkin terkait dengan kematian lebih dari satu juta anak
kecil setiap tahunnya di seluruh dunia. Antara 125 juta dan 250 juta anak
usia prasekolah berisiko untuk mengalami defisiensi vitamin A, C dan D
(Gibney, 2005;236).
Antioksidansia yang banyak digunakan sebagai food supplement adalah
vitamin A, C dan E, flavanoid, senyawa selen (Se) dan seng (Zn) dll.
Defisiensi vitamin A tidak sering terjadi dan terutama timbul pada diet
yang kurang bervariasi; secara sekunder pada devisiensi protein
(kwashiorkor) dan bila resorpsi terganggu. Bila terjadi kekurangan vitamin
A di dalam hati masih mencukupi untuk 7 sampai 8 bulan. Namun anakanak yang baru lahir tidak memiliki cadangan ini, sehingga risiko
malnutrisi dan kebutaan meningkat. Kebutuhan sehari-hari adalah 1.0004.000 IU bagi anak-anak, 4.000-5.000 IU bagi orang dewasa 5.000-6.000
IU ( Tjay, 2010;848-849)
Defisiensi vitamin C gejala yang paling umum berupa scorbut
(sariawan), gejala lainnya adalah pendarahan sekitar mata dan paha juga
gusi dan di bawah kulit yang disebabkan oleh hilangnya ikatan kolagen
serta mudah rusaknya pembuluh kapiler (Tjay, 2010;856)
Defisiensi vitamin D menyebabkan berkurangnya resorpsi Ca dan P
yang penting sekali bagi kerangka. Akibatnya adalah jaringan tulang
diganti oleh tulang rawan yang lenbih lunak, mudah bengkok dan
menyebabkan deformasi setempat. Pada anak-anak perkembangan

kerangkanya terhenti dan terjadilah rachitis atau penyakit Inggris dengan


cirri kaki bengkok (X-legs atau O-legs) (Tjay, 2010;863).
Untuk mengatasi defisiensi dari vitamin A, C dan D tersebut maka
formulasi dilakukan dalam bentuk tablet dengan pertimbangan zat-zat aktif
yang merupakan antioksidan. Selain itu dengan keuntungan yang dimiliki
oleh tablet, dimana tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki
sifat pencampuran kimia, mekanika, stabilitas mikrobiologi yang paling
baik serta mudahnya dimodifikasi dalam berbagai bentuk sesuai dengan
kebutuhan.Formulasi multivitamin ini mengandung zat aktif berupa
vitamin A, vitamin C dan Vitamin D itu sendiri untuk mengatasi penyakitpenyakit yang timbul dari defesiensinya masing-masing. Hal yang
melatarbelakangi

pemilihan

ketiga

vitamin

tersebut

beradasarkan

seringnya ditemukan penyakit dari defisiensi ketiganya pada anak-anak.


Dan hal tersebutlah yang menjadi keunggulan dari formulasi Acidivit
Dengan melihat pemerian zat aktif dari multivitamin ini dalam
Martindale The Complete Drug Reference Thirty-Sisth Edition. yakni
vitamin D3, dimana pemeriannya

berbentuk serbuk kristal agak

kekuningan, vitamin C merupakan antioxidant agent yang tidak tahan


terhdadap pemanasan maka formulator memilih metode kering dalam
proses pembuatan tablet ini. Granulasi kering merupakan teknik dengan
proses pengompakkan komponen-komponen tablet dengan mesin pencetak
yang terdiri atas punch dan die (Lachman, 2008;687)
Alasan Penambahan Bahan
1. Vitamin A (Zat Aktif)
Vitamin A adalah lipofil, maka berperan penting untuk melindungi
asam lemak jenuh dalam membrane sel terhadap oksidasi tertama pada
anak-anak atau usia prasekolah (Tjay, 2010;845)
Kebutuhan vitamin A meningkat pada anak-anak dan dibutuhkan
sekitar 5.000 unit vitamin A (Syarief, 2007;782)
Karena berperan penting dalam kesehatan mata anak-anak usia
prasekolah (Gibney, 2005;236).
2. Vitamin C (Zat Aktif)
Karena Vitamin C mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Pada
keadaan normal tampak kenaikan kadar vitamin C dalam darah setelah

diabsorbsi.Ekskresi melaui urin dalam bentuk utuh dan garam


sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang
ginjal 1,4 mg% (Syarief, 2007;778).
Karena perannya sebagai antioksidan yang melindungi jaringan
terhadap kerusakan oksidatif oleh radikal bebas (Tjay, 2010; 844).
untuk pencegahan infeksi mukosa pada mulut dan lambung bagi anakanak usia prasekolah (Gibney, 2005;236).
3. Vitamin D2 (Zat Aktif)
Vitamin D2 merupakan vitamin D tertua (1921) yang banyak
digunakan dalam sediaan multivitamin (Tjay, 2010;863).
Karena proses absorbs vitamin D2 sama dengan vitamin C, mereka
terabsorbsi pada usus (Syarief, 2007;784).
Karena perannya dalam pertumbuhan tulang dan gigi bagi anak-anak
usia prasekolah (Gibney, 2005;236).
4. Kalsium Silikat (Pengsisi)
Karena zat aktif yang digunakan adalah antioxidant agent, dimana
antioxidant agent tersebut memiliki banyak inkampatibilitas terhadap
excipient. Maka melihat data uraian excipient hanya kalium silikat
(yang berperan sebagai pengisi) yang tidak memiliki inkampatibilitas
terhadap zat-zat aktif (Rowe, 2009;101).
Karena Kalsium silikat dapat meningkatkan kohesifitas antar partikel
serbuk sehingga memberikan kekompakan dan daya tahan tablet
(Voight, 1994;166)
Karena tidak mengganggu bioavaibilitas, colour compatible dan nontoksik (Lachman, 2008;698)
5. Kalsium Stearat (Pelicin)
Karena zat aktif yang digunakan adalah antioxidant agent, dimana
antioxidant agent tersebut memiliki banyak inkampatibilitas terhadap
excipient. Maka melihat data uraian excipient hanya kalium stearat
(yang berperan sebagai pelicin) yang tidak memiliki inkampatibilitas
terhadap zat-zat aktif, sementara rasanya yang manis juga membuatnya
sebagai pemanis (Rowe, 2009;103).
Karena merupakan anti lekat dengan ukuran partikelnya halus dan titik
lebur yang cukup tinggi (Lachman, 2008;703).
Karena daya alirnya mampu menjadi pertimbangan dalam formulasi
(Voight, 1994;166).

6. Amylum Maydis (Pengikat dan Penghancur).


Karena zat aktif yang digunakan adalah antioxidant agent, dimana
antioxidant agent tersebut memiliki banyak inkampatibilitas terhadap
excipient. Maka melihat data uraian excipient hanya Amylum Maydis
(yang

berperan

inkampatibilitas

sebagai
terhadap

penghancur)
zat-zat

yang

aktif

tidak
yang

memiliki
digunakan.

Inkampatibilitasnya hanya pada oxidant agents (Rowe, 2009;695)


Karena mempunyai kemampuan sebagai pengikat dengan sifat perekat
pada larutannya (Lachman, 2008;702)
Makin kuat kerja bahan pengikat maka diperlukan bahan penghancur
yang lebih efektif. Bahan penghancurnya yang umum digunakan
adalah amilum, alginat dan selulosa (Voigt, 1994;155).
7. Beta Karoten (Pewarna)
Karena bahan-bahan untuk formulasi multivitamin ini cenderung putih
kekuningan, maka untuk mempertegas warna, diberikanlah beta
karoten ini seseuai dengan kegunanaan dan pemeriaannya pada
Martindale The Extra Pharmacopoeia (Reynolds, 1989;1257).
Karena dapat menutupi warna dari campuran bahan yang agak pucat
dengan warna jingga yang dimilikinya (Lachman, 2008;704)
Karena beta kareton salahsatu zat pewarna alami yang tidak
menimbulkan efek samping bagi pencernaan (Tjay, 2010;848).
V. Uraian Bahan
1. Vitamin A (Sweetman, 2009;1278)
Nama Resmi
: RETINOL
Nama Lain
: Vitamin A, Antixeropthalmic, Axerophtholum
Rumus Molekul : C20H30O
Berat Molekul
: 286,5
Rumus Bangun :

Pemerian

: Kuning terang, padat merah berminyak saat

Kelarutan

membeku atau memadat. Tidak berbau tengik.


: Dalam bentuk cair larut dalam air dan dalam
glycerol. Sangat larut dalam kloroform dan eter.

Larut dalam alcohol dehidrat dan dalam minyak


sayur. Dalam bentuk padat agak tidak larut dalam
Penyimpanan
Farmakokinetik

air. Dapat diencerkan dengan minyak goreng.


: Dalam wadah kedap udara. Jauhkan dari cahaya.
: Vitamin A diabsorbsi semua melaui usus halus
dan kadarnya dalam plasma mencapai puncak
setelah 4 jam, tetapi absorbs dosis besar vitamin
A kurang efisien karena sebagian akan keluar

Kestabilan

melalui tinja.
: Vitamin A diketahui dapat rusak dengan cepat
oleh paparan sinar ultraviolet dan cahaya
matahari dapat menyebabkan degradasi dengan

cepat.
Indikasi
: Keratomalansia, hemeralopia, xerophthalmia
Kontra Indikasi : Efek Samping
: Inkampatibilitas :
Dosis
: 25 mg - 45 mg (anak-anak umur 1-10 tahun)
Kegunaan
: Zat aktif (bagi defisiensi vitamin A)
2. Vitamin C (DIRJEN POM, 1979;57)
Nama Resmi
: ACIDUM ASCORBICUM
Nama Lain
: Vitamin C,
Rumus Molekul : C6H8O6
Berat Molekul
: 112, 13
Rumus Bangun :

Pemerian
Kelarutan

: Serbuk hablur licin; putih; bau khas.


: Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter.1
bagian larut dalam 50 bagian etanol, 1 bagian
larut dalam 25 etanol 95%. 1 bagian larut dalam

Penyimpanan

20 bagian propylene glycol.


: Dalam wadah tertutup air, terlindung dari cahaya
dan panas.

Farmakokinetik

: Vitamin C mudah diabsorbsi melalui saluran


cerna. Pada keadaan normal tampak kenaikan
kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorbsi.
Kadar dalam leukosit dan trombosit lebih besar
daripada dalam plasma darah dan eritrosit.
Distribusinya luas keseluruh tubuh dengan kadar
tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot
dan jaringan lemak. Ekskresi melaui urin dalam
bentuk utuh dan garam sulfatnya terjadi jika
kadar dalam darah melewati ambang rangsang

Kestabilan

ginjal 1,4 mg%


: Dapat dengan cepat teroksidasi oleh media
alkalis, maksimal pH stabil adalah 5,4 dan tidak

Indikasi
Kontra Indikasi

stabil terhadap cahaya.


: Defisiensi vitamin C
: Hiperkromatosis,
talasemia

Efek Samping

sidebrolastik (dalam dosis besar)


: Hemokromatosis, hipervitaminosis,

Inkampatibilitas

dan

anemia
gangguan

system digestiv
: Terhadap golongan alkali, ion metal ringan,
terutama temabaga dan besi, methena amin,
phenylpherine hydrochloride, pyrilamine maleat,
salisilamid, natrium nitrat, natrium salisilat,

Dosis
Kegunaan

theobromin salisilat dan pikotamide.


: 40 mg 45 mg (anak-anak umur 1-10 tahun)
: Antioksidan (zat aktif)

3. Vitamin D2 (Sweetman, 2009;1281)


Nama Resmi
: ERGOCALCIFEROL
Nama Lain
: Vitamin D2, Viosterol, Irradiated Ergosterol
Rumus Molekul : C28H44O
Berat Molekul : 396,7
Rumus Bangun :

Pemerian

Putih

atau

hampir putih, kristal


putih,

serbuk

kristal

agak kekuningan. Sensitive terhadap air, panas dan


Kelarutan

cahaya.
: Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam
alkohol, larut dalam minyak lemak. Tidak stabil

Penyimpanan

pada pelarut yang mudah menguap.


: Dalam wadah kedap udara pada suhu 20 80.

Jauhkan dari cahaya.


Farmakokinetik : Absorbsi vitamin D melalui saluran cerna cukup
baik. Dalam sirkulasi, vitamin D diikat oleh globulin yang khusus dan selanjutnya disimpan
pada lemak tubuh untuk waktu yang lama dengan
massa paruh 19-25 jam. 25-hidroksikolekalsiferol
(25-HCC) mempunyai afinitas yang lebih besar
terhadap protein pengikat sehingga massa paruh
Kestabilan

dapat mencapai 19 hari.


: Vitamin D dapat mengikat dengan kuat ke plastik
yang

Indikasi

dapat

signifikan.
: Defisiensi

mengakibatkan
vitamin

hipoparatiroidisme,

D,

kerugian

yang

hipokalsemia

pada

pencegahan

dan

terapi

hiperparatiroid sekunder akibat gagal ginjal


Kontra Indikasi : Hiperkalsemia, pengapuran.
Efek Samping : Meningkatkan reaksi toksik vitamin D
Inkampatibilitas :
Dosis
: 0,005 mg (anak-anak umur 1-10 tahun)
Kegunaan
: Antirachitic (gangguan metabolism vitamin D),
Antifungi (Anti jamur).
4. Kalsium Silikat (Rowe, 2009;101)
Nama Resmi
: CALCII SILICATE

Nama Lain

: Kalsium Silikat, Calcium hydrosilicate, Calsium

Rumus Molekul
Berat Molekul
Rumus Bangun

Polysilicate, Calcium Salt.


: CaSiO3
: 116,2
:

C
a
S
i
O

Pemerian
: Berwarna putih tidak berbau
Kelarutan
: Tidak larut dalam air tetapi larut dalam HCl
Penyimpanan
: Dalam wadah kedap udara. Jauhkan dari cahaya.
Inkompabilitas
: Range
: ad 100%
Kegunaan
: Pengisi
5. Kalsium Stearat (Rowe, 2009;103)
Nama Resmi
: CALCII STEARICUM
Nama Lain
: Kalsium Stearat, Kalsium distiarate, Kalsium
Rumus Molekul

Oktadekanoat.
: C36H70CaO4

Berat Molekul

: 607, 3

Rumus Bangun

Pemerian

: Serbuk putih kekuning-kuningan hingga putih

Kelarutan

berbau khas dan manis.


: Praktis tidak larut dalam etanol 95%, eter,
kloform, aseton dan air. Larut dalam piridin
panas. Hampir larut dalam mineral oil dan

Penyimpanan

alkohol panas
: Dalam wadah tertutup rapat. Simpan di tempat

Range

kering.
: 1% sebagai pelicin

Inkompatibilitas : Kegunaan
: Pelincin dan Pemanis
6. Pati Jagung (Rowe, 2009;688-695)
Nama Resmi
Nama Lain
Berat Molekul
Rumus Molekul
Rumus Bangun

: AMYLUM MAYDIS
: Pati jagung, amilum maydis
: : (C6H10O5)n dimana n = 3001000
:

Pemerian

: Serbuk halus; putih; tidak berbau; tidak berasa

Kelarutan

:Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam


etanol dingin (96%P). Pati membengkak seketika
dalam air 5-10% pada suhu 378 .Pati menjadi
larut dalam air panas pada suhu di atas
suhugelatinisasi. Pati parsial larut dalam dimetil

Range

sulfoksida dan dimetilformamida


: Pati harus disimpan dalam wadah kedap udara di
tempat yang sejuk, tempat kering.
: 15% sebagai penghancur

Inkompabilitas

: Pati tidak kompatibel dengan zat pengoksidasi

Penyimpanan

kuat. Berwarna senyawa inklusi terbentukdengan


yodium.
Kestabilan

: Pati kering stabil jika dilindungi dari kelembaban


tinggi.

Pati

adalah

dianggap

kimiadan

mikrobiologis lembap pada kondisi penyimpanan


normal.Solusi pati atau pasta secara fisik tidak
stabil

dan

mudahdimetabolisme

oleh

mikroorganisme, mereka karenanya harus baru


disiapkan bila digunakan untuk granulasi basah.

Kegunaan

: Pengisi dan penghancur

7. Beta Karoten (Reynolds, 1989;1257)


NamaResmi
: BETA CAROTEN
Nama Lain
: Vitamin A, all-trans--carotene,

bis-(2,6,6-

RumusMolekul
BeratMolekul
RumusBangun

trimethylcyclobexene)
: C40H56
: 536,9
:

Pemerian
Kelarutan

: Kristal merah kecoklatan hingga violet kecoklatan.


: Tidak larutdalam air, asamdan alkalis. Larut dalam
kloroform

dan

karbondisulfida,

hexane,

dan

minyak sayur. Praktis tidak larut dalam metyl


Penyimpanan
Indikasi
Kontra Indikasi
Kestabilan

alkohol dan alkohol.


: Dalam wadah kedap udara, terhindar dari cahaya.
: : : Vitamin A diketahui dapat rusak dengan cepat oleh
paparan sinar ultraviolet dan cahaya matahari
dapat menyebabkan degradasi dengan cepat.

Range
: 0,1% untuk pewarna.
Inkampatibilitas : Terhadap agen pengoksidasi
Kegunaan
: Coloring Agent
VI. Perhitungan Bahan
1. Perdosis
- Vitamin A
- Vitamin C
- Vitamin D
-

Kalsium Stearat

= 25 mg
= 40 mg
= 0,005 mg
1
= 100 x 200 mg = 2 mg

Amylum Maydis

15
= 100

x 200 mg = 3 mg

Amylum Maydis

10
= 100

Beta Caroten

0,1
= 100

Kalsium Silikat

2. Perbatch
- Vitamin A
- Vitamin C
- Vitamin D
- Kalsium Stearat
- Amylum Maydis
- Amylum Maydis
- Beta Caroten
- Kalsium Silikat
VII. Cara Kerja
1. Disiapkan alat
2.
3.
4.
5.

x 200 mg = 20 mg
x 200 mg = 0,2 mg

= 200 mg (25 + 40 + 0,005 + 2+


3+20+0,2) mg
= 200 mg 90,205 mg
= 109,795 mg
= 30 x 25 mg = 750 mg = 0,75 g
= 30 x 40 mg = 1200 mg = 1,2 g
= 30 x 0,005 mg = 0,15 mg = 0,00015 g
= 30 x 2 mg = 60 mg = 0,06 g
= 30 x 3 mg = 90 mg = 0,09 g
= 30 mg x 20 mg = 600 mg = 0,6 g
= 30 x 0,2 mg = 6 mg = 0,006 g
= 30 x 109,795 mg= 3293,85 mg = 3,29 g
dan ditimbang bahan-bahan yang akan

digunakan
Dihaluskan bahan yang menggumpal
Dicampur zat aktif, pengikat, dan pengisi menjadi Satu
Dibuat slug campuran dengan punch diameter 13 20 mm
Digiling kasar Slug, kemudian granul diayak dengan ayakan

mesh no.16
6. Dilakukan evaluasi granul
7. Ditimbang granul, dihitung fase luar yang dibutuhkan
8. Dicampur dan di cetak dengan punch diameter 13 mm
9. Dilakukan evaluasi tablet
10. Tablet dikemas dengan pengemas yang sesuai (blister)

Daftar Pustaka
Ansel, H.C., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta; UI-Press. 1989
http://idkf.bogor.net/yuesbi/eDU.KU/edukasi.net/Kesehatan/Bahan.Pewarna/mate
ri3.html. Bahan Pewarna dalam Produk Makanan. Diakses
5 Mei 2013.
J. Gibney, Michael, dkk. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta; Penerbit Buku
Kedokteran-ECG. 2005
Lachman, dkk. Teori dan Praktek Farmasi Industri Ed III jilid II. Jakarta; UIPress. 1989
Reynolds. Martindale The Extra Pharmacopoeia Twenty-ninth Edition. London;
Pharmaceutical-Press. 1989
Rowe, Raymond C, dkk. Handbook of Pharmaceutical excipients sixth edition.
Great Britain; RPS Publishing. 2009
Rowe, Raymond C, dkk. Handbook of Pharmaceutical excipients fifth edition.
Great Britain; RPS Publishing. 2006
Syarif, Amir, dkk. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Gaya Baru. 2007
Sweetman, Sean.C. Martindale The Complete Drug Reference Thirty-Sisth
Edition. London; Pharmaceutical-Press. 2009
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. Obat-Obat Penting, Edisi Keenam. Jakarta :
PT. Elex Media Komputindo. 2010.
Voight. R. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendari
Noerono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1994

Lampiran 1
Brosur ACIDIVIT Tablet Multivitamin

Lampiran 2
Etiket ACIDIVIT Tablet Multivitamin

Lampiran 3
Wadah ACIDIVIT Tablet Multivitamin