Anda di halaman 1dari 20

Step 7

1. Faktor apa saja yang mempengaruhi tinggi


rendahnya fertilitas ?
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang
wanita atau kelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi
yang lahir hidup. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk.
Istilah fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari
rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan; misalnya berteriak, bernafas,
jantung berdenyut, dan sebagainya.
Baguoes Mantra,Ida.2010.Demografi Umum.Pustaka Pelajar,Jakarta

A. faktor demograf

struktur umur
o

Fertilitas

cukup

stabil

hingga

seorang

perempuan

mencapai usia 35 tahun. Sesudah itu, terjadi penurunan


fertilitas secara bertahap. Saat menginjak usia 40 tahun,
o

fertilitas menurun drastis.


Oleh karena itu sangat penting bagi perempuan yang
mendekati usia 35 tahun dan belum pernah hamil, untuk
segera mencari perhatian medis. Hal tersebut menjadi
mendesak bagi perempuan yang kian mendekati usia 40
tahun.

struktur perkawinan
umur kawin pertamasemakin muda umur perkawinan makin
panjang masa reproduksinyabanyak anak yang dilahirkan
(hubungan negative)

paritas

disrupsi perkawinan

proporsi yang kawin

B. faktor non demograf

keadaan ekonomi penduduk


menurut H. Leibensteinanak dilihat dari segi kegunaan
(utility) dan biaya (cost)kegunaan ialah memberikan kepuasan,
dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam
kegiatan berproduksi serta merupakan sumber yang dapat
menghidupi orang tua di masa depanbiaya/ pengeluaran,
untuk membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai anak
tersebut. Apabila ada kenaikan pendapatan, aspirasi orang tua
akan berubah. Orang tua menginginkan anak dengan kualitas
yang baikbiaya naikbiaya membesarkan anak lebih besar
daripada kegunaannyafertilitas turun

Menurut Gary Beckermenganggap anak sebagai barang


konsumsi

tahan

lamaapabila

pendapatan

naik

maka

banyaknya anak yang dimiliki juga bertambah (hubungan positif)


ada pendapat yang mengatakan bahwa jumlah penduduk yang
besar

adalah

sangat

menguntungkan

bagi

pembangunan

ekonomi, tapi ada pula yang berpendapt bahwa justru penduduk


yang kecil/sedikit dapat mempercepat proses pembangunan
ekonomi kea rah yang lebih baik

tingakat pendidikan
Bondan Supraptilah et.al. dengan menggunakan data Survei
Fertilitas

Mortalitas

Indonesiahubungan

antara

tingkat

pendidikan dan fertilitas berbeda dari satu daerah ke daerah


lainnya

perbaikan status perempuanwanita yang mengurus rumah


tangga saja cenderung untuk mempunyai anak lebih banyak
sedangkan wanita yang bekerja mempunyai anak yang lebih
sedikit

urbanisasi dan industralisasi

Sumber : Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi FE UI

Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas


Menurut Ida Bagoes Mantra (2004), terdapat sejumlah
faktor yang dapat mempengaruhi fertilitas yang dibedakan
atas faktor-faktor demograf dan faktor-faktor non demograf.
Faktor-faktor demograf antara lain: struktur atau komposisi
umur, status perkawinan, umur kawin pertama, keperidian
atau fekunditas, dan proporsi penduduk yang kawin. Faktorfaktor non demograf antaranya keadaan ekonomi penduduk,
tingkat pendidikan, perbaikan status wanita, urbanisasi dan
industrialisasi. Faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh
secara langsung ataupun tidak langsung terhadap fertilitas.

Davis dan blake (1956 dalam Ida Bagoes Mantra,2004)


memperinci pengaruh faktor sosial melalui 11 variable
antara yang dikelompokkan sebagai berikut:
a. Variable-variabel yang mempengaruhi hubungan kelamin
Umur memulai hubungan kelamin (kawin)
Selibat permanen, yaitu proporsi perempuan yang tidak
pernah mengadakan hubungan kelamin
Lamanya masa reproduksi yang hilang karena
perceraian, perpisahan atau ditinggal pergi oleh suami,
dan suami meninggal dunia.
Abstinensi sukarela
Abstinensi karena terpaksa (impotensi, sakit, berpisah
sementara yang tidak dapat dihindari.
Frekuensi hubungna seks.
b. Variabel-variabel yang mempengaruhi kemungkinan
konsepsi
Kesuburan dan kemandulan yang disengaja
Menggunakan atau tidak menggunakan alat kontrasepsi.
(cara kimiawi dan cara mekanis atau cara-cara lain
(seperti metoda ritma dan senggama terputus))
Kesuburan atau kemandulan yang disengaja.
c. Variable-variabel yang mempengaruhi selama kehamilan
dan kelahiran dengan
Kematian janin karena faktor-faktor yang tidak disengaja
Kematian janin karena faktor-faktor yang disengaja
Variabel-variabel tersebut dapat menimbulkan akibat
positif (+) dan negatif (-) terhadap fertilitas. Akibat yang
ditimbulkan
variabel
tersebut
berbeda-beda
antara
masyarakat yang satu dengan lainnya.Misal pada suatu
masyarakat, variabel 1 memiliki akibat positif karena pada
daerah tersebut usia kawin mudanya tergolong rendah, pada
daerah lain yang memiliki tingkat usia kawin muda tinggi, hal
ini akan menimbulkan akibat negatif.

2. Apa saja indikator dan cara mengukur dari


fertilitas?
Cara pengukuran fertilitaS.
Pengukuran fertilitas kumulatif mengukur jumlah rata-rata anak
yang telah dilahirkan oleh seorang perempuan hingga mengakhiri
batas usia subur.
Pengukuran fertilitas tahunan (vital rates) mengukur jumlah
kelahian pada tahun tertentu dihubungkan dengan jumlah

penduduk yang mempunyai risiko untuk melahirkan pada


tahun tersebut.
Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D
Macam macam pengukuran fertilitas tahunan
A. Tingkat fertilitas kasar / CBR (Crude Birth Rate)
Banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000
penduduk pada pertengahan tahun
Rumus :
CBR =

xk

Pm

a. CBR

: Crude Birth Rate atau tingkat kelahiran kasar

b. B

: jumlah kelahiran pada tahun tertentu

c. Pm

: penduduk pertengahan tahun

d. K

: bilangan konstan yang biasanya 1000

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D


Kebaikan : Perhitungan ini sederhana, karena hanya memerlukan
keterangan tentang jumlah anak yang dilahirkan dan jumlah
penduduk pada pertengahan tahun.
Kelemahan : Tidak memisahkan penduduk laki-laki dan penduduk
perempuan yang masih kanak-kanak dan yang berumur 50 tahun
ke atas. Jadi angka yang dihasilkan sangat kasar.
Sumber : Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi FE UI
B. Tingkat fertilitas umum / GFR (General Fertility Rate)

Membandingkan

jumlah

kelahiran

dengan

jumlah

penduduk

perempuan usia subur (15- 49 tahun)


Rumus :

GFR =

xk

Pf (15-49)

a. GFR

: tingkat fertilitas umum

b. B

: jumlah kelahiran

c. Pf (15- 49)

: jumlah penduduk perempuan umur 15-49

tahun pada pertengahan tahun


Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D

Kebaikan : Ukuran ini lebih cermat daripada CBR karena hanya


memasukkan wanita yang berumur 15-49 tahun atau sebagai
penduduk yang exposed to risk.
Kelemahan : Ukuran ini tidak membedakan risiko melahirkan dari
berbagai kelompok umur, sehingga wanita yang berumur 40 tahun
dianggap memiliki risiko melahirkan yang sama besarnya dengan
wanita yang berumur 25 tahun.
Sumber : Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi FE UI
C. Tingkat fertilitas menurut umur/ ASFR (Age Spesific Fertility Rate)
Membandingkan jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur tertentu (i)
dengan

jumlah

perempuan

pertengahan tahun.
ASFRi =

Bi
pfi

x k

kelompok

umur

tersebut

(i)

pada

a. ASFR

: tingkat kelahiran untuk kelompok umur

b. Bi

: jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i

c. Pfi

: jumlah perempuan kelompok i pada pertengahan

tahun
d. K

: angka konstan = 1000

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D


Kebaikan : Ukuran lebih cermat dari GFR karena sudah membagi
penduduk yang exposed to risk ke dalam berbagai kelompok umur.
Dengan ASFR dimungkinkan pembuatan analisis perbedaan
fertilitas menurut berbagai karakteristik wanita. Dengan ASFR
dimungkinkan dilakukannya studi fertilitas menurut kohor. ASFR ini
merupakan dasar untuk perhitungan ukuran fertilitas dan reproduksi
selanjutnya (TFR, GFR, dan NRR).
Kelemahan : Ukuran ini membutuhkan data yang terinci yaitu
banyaknya kelahiran untuk tiap kelompok umur. Sedangkan data
tersebut belum tentu ada di tiap Negara/ daerah, terutama di
Negara yang sedang berkembang. Jadi pada kenyataannya sukar
sekali mendapat ukuran ASFR. Tidak menunjukan ukuran fertilitas
untuk keseluruhan umur 15-49 tahun.
Sumber : Dasar-Dasar Demografi, Lembaga Demografi FE UI
D. Tingkat fertilitas menurut urutan kelahiran (Birth Order Specific Fertility
Rate)
Untuk mengukur tingggi rendahnya fertilitas suatu negara.
BOSFR = Boi

xk

Pf (15- 49)
a. BOSFR

: tingkat fertilitas menurut ukuran kelahiran

b. BOi

: jumlah kelahiran urutan ke I

c. Pf (15-49)

: jumlah perempuan yang berumur 15 49

pertengahan tahun
d. K

: angka konstan = 1000

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D


Macam macam pengukuran fertilitas kumulatif
1. Tingkat fertilitas total / TFR (Total Fertility Rate)
Jumlah kelahiran hidup laki- laki dan perempuan tiap 1000
penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya dengan
catatan :
a. Tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum
mengakhiri masa reproduksinya.
b. Tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada periode
waktu tertentu.

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D


2. Gross reproduction rates/ GRR (Gross Reproduction Rates)
Jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan
sepanjang masa reproduksi dengan catatan tidak ada seorang
perempuan

yang

meninggal

sebelum

reproduksinya, seperti tingkat fertilitas total.

mengakhri

masa

Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D


3. Net reproduction rates / NRR (Net Reproduction Rates)
Jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah kohor
hipotesis dari 1000 perempuan dengan memperhitungkan
kemungkinan

meninggalkan

perempuan-perempuan

itu

sebelum mengakhiri masa reproduksinya.


Angka ini memperhitungkan kemungkinan bayi perempuan
meninggal sebelum mencapai masa reproduksinya
asumsi yang dipakai adalah bayi perempuan tersebut
mengikuti pola fertilitas dan mortalitas ibunya.
Sumber : Demografi Umum, Prof. Ida Bagoes Mantra,
Ph.D

3. Dampak dari tingginya fertilitas?

Pertumbuhan penduduk yang cepat akan mempengaruhi kehidupan

bangsa Indonesia, antara lain terhadap :


a) Pendidikan
Masalah pendidikan yang timbul antara lain : daya tampung sekolah
tidak sepadan dengan minat bersekolah, adanya ketidakseimbangan
antara perbandingan penduduk yang bersekolah dengan penduduk usia
sekolah.
b) Pelayanan kesehatan
Kebutuhan akan pelayanan kesehatan akan meningkat, berarti juga
diperlukan tambahan dan peningkatan jumlah tenaga medis dan
fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit dan tempat tidur
bagi orang sakit.
c) Masalah lapangan kerja

Pertambahan penduduk memerlukan tambahan lapangan kerja. Apabila


kesempatan kerja tidak dapat disediakan sesuai dengan angkatan
kerja, maka akan terjadilah pengangguran diantara anak-anak muda
dengan segala akibat negatifnya dalam masyarakat.
d) Kehidupan sosial ekonomi
Pertambahan penduduk yang cepat yang tidak seimbang dengan
peningkatan

produksi

akan

mengakibatkan

kegelisahan

dan

ketegangan sosial ekonomi dengan segala akibatnya, antara lain :


- Keluarga kurang mampu membayar uang sekolah bagi anaknya
- Banyaknya anak akan menyulitkan penyediaan tempat tinggal yang
-

layak
Jumlah dana yang semula disediakan untuk membiayai pendidikan
anak-anak terpaksa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok,

akibatnya anak-anak tidak memperoleh pendidikan yang memadai.


Setiap pertambahan penduduk konsekuensinya menambah

permintaan kebutuhan hidup


Masalah perumahan pada saat ini sangat mendesak, baik dalam hal

mutu maupun jumlah perumahan.


e) Lingkungan hidup
Pertambahan
penduduk
dan
kepadatan

penduduk

dapat

mengakibatkan pencemaran lingkungan yang merupakan gangguan pula


terhadap keseimbangan alam seperti polusi udara, pencemaran tanah
dan

kebisingan,

hasil-hasil

buangan,

dan

limbah

yang

tidak

ditanggulangi. Sampah yang bertimbun mempunyai dampak negative


berupa pemandangan dan bau yang tidak sedap dan membawa kuman
penyakit.
(Prof.Dr.Rustam Mochtar.1998.Sinopsis Obstetri Jilid 2.Jakarta:EGC)
Hubungan fertilitas dengan keadaan ekonomi penduduk
Fertilitas merupakan tingkat kesuburan usia produktif untuk menghasilkan suatu
keturunan (dalam hal ini adalah anak), tentunya hal ini nantinya akan sangat
berhubungan erat dengan hidup dan kehidupan manusia tentang apa dan

bagaimana mereka melakukan pemenuhan kebutuhan hidup (taraf kebutuhan


ekonomi) untuk melangsungkan jenisnya. Karena setiap keluarga telah memiliki
suatu tujuan tertentu untuk bereproduksi, serta telah memiliki suatu usaha dan
pandangan tentang pemikiran bahwa mereka akan mampu atau tidak untuk
memenuhi kebutuhan hidup dari segi ekonomi untuk kelangsungan hidup
anggota keluarganya.

Hubungan fertilitas dengan sosial budaya


Fertilitas merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
karena dalam kehidupan sehari-hari (dalam suatu komunitas sosial budaya
tertentu) apabila seseorang dikatakan mandul (infertil), orang yang bersangkutan
akan memiliki rasa beban dan tertekan dalam hidupnya, karena merasa bahwa
dirinya tidak bisa menghasilkan keturunan yang nantinya dengan adanya
keturunan itu, suatu keluarga akan melakukan suatu kegiatan atau prosesi
upacara kebudayaan sesuai dengan tata sosial budaya yang berlaku di
tempat mereka tinggal dan hidup.

Hubungan fertilitas dengan kesehatan reproduksi


Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk dijaga pada masa-masa usia
produktif, hal ini dikarenakan alat reproduksi yang sehat sangat berhubungan
dengan tingkat fertilitas seseorang, walaupun dalam beberapa orang
diketemukan kasus infertil. Pada dasarnya reproduksi yang sehat akan
melahirkan generasi yang sehat pula, sehingga tingkat kesuburan
(fertilitas) seseorang sangat terpengaruh dengan hal ini, karena akan
dapat menghasilkan keturunan yang baik.

Hubungan fertilitas dengan pekerjaan


Tingkat kesuburan (fertilitas) juga sangat dipengaruhi oleh pekerjaan seseorang,
karena hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup seseorang.
Tentunya ada beberapa pekerjaan yang mendatangkan risiko-risiko tertentu
yang akan membuat seseorang tersebut menjadi mandul (infertil) atau
daya kesuburanya menurun. Dalam hal inilah seseorang akan mengalami
suatu kedaan yang sulit, karena di satu sisi manusia harus memenuhi kebutuhan
hidup, tetapi di satu sisi dalam menjalankan pekerjaan yang mereka lakukan,
mereka harus menanggung risiko yang bahkan mungkin sangat berat untuk
sebagian orang yaitu kemandulan (infertil), karena faktor-faktor dari pekerjaan
yang dia lakukan.

Hubungan fertilitas dengan kependidikan


Pendidikan adalah suatu upaya pengembangan daya pemikiran seseorang
untuk menghasilkan suatu generasi yang berkualitas. Tentunya dalam hal ini
sangat berkaitan dengan tingkat kesuburan manusia itu sendiri untuk
menghasilkan keturunan yang lebih baik dan untuk menghasilkan generasi yang
lebih baik pula. Melalui pendidikan inilah manusia akan mengetahui
pentingnya kesuburan, dan kesehatan reproduksi untuk dapat
menghasilkan keturunan, guna kelangsungan hidup jenisnya untuk
menghindari kepunahan.

Hubungan fertilitas dengan kependudukan


Masalah kependudukan merupakan masalah yang paling mendasar dalam suatu
negara, hal ini sangat berkaitan dengan angka fertilitas penduduk suatu negara
untuk menghasilkan keturunan, sehingga apabila laju pertumbuhan penduduk
disini tidak dikendalikan dengan baik, tentunya akan membawa dampak yang
buruk bagi suatu negara, karena dapat dimungkinkan terjadi peledakan
penduduk dimana perekonomian negara tidak akan sebanding dengan
jumlah penduduk yang semakin bertambah akibat pertumbuhan penduduk
yang sangat cepat, akan mengakibatkan bencana nasional, seperti : kelaparan,
angka penganguran yang tinggi, tindak kriminal yang tinggi, dan lain-lain.

Hubungan fertilitas dengan PUS (Pasangan Usia Subur)


Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan (dalam hal ini terdiri dari laki-laki
dan perempuan) yang telah menginjak usia subur guna melangsungkan
reproduksi untuk memperoleh keturunan. Pada saat ini sangat penting
mengetahui tingkat kesuburan masing-masing pasangan untuk mendapatkan
keturunan yang baik demi kelangsungan hidupnya dikemudian hari. Tingkat
kesuburan seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti :
kelengkapan organ-organ reproduksi, pola konsumsi yang baik, serta aktifitas
atau kegiatan hidup sehar-hari, misalnya seperti bekerja. Untuk itulah pada
Pasangan Usia Subur ini tentunya memiliki masa tingkat kesuburan yang baik
untuk menghasilkan keturunan. Tetapi dalam hal ini pada beberapa negara
menjadi permasalahan yang Sangat berarti, karena di negara yang memiliki
jumlah penduduk usia muda yang berarti (tinggi) akan berdampak buruk, yaitu
dengan terjadinya peledakan penduduk, yang juga akan berdampak buruk pula
pada segala aspek bidang kependudukan dalam negara yang bersangkutan.

4. Bagaimana cara SDKI di lakukan ?


sumber data fertilitas
Sensus penduduk/cacah jiwa
Suatu proses keseluruhan dr pengumpulan, pengolahan, penyajian, &
penilaian data penduduk yg menyangkut ciri2 demografi, sosial ekonomi,
& lingkungan hidup. Sensus penduduk mempunyai ciri khas individual,
universal, diselenggarakan serentak di seluruh negara, & periodik.
Regristrasi penduduk
Pengumpulan data baru yg mencatat kejadian2 kependudukan yg terjadi
setiap saat, spt kelahiran, kematian, mobilitas penduduk, perkawinan,
perceraian, perubahan pekerjaan, yg dpt tjd setiap saat tdk dpt terjaring di
dlm sensus penduduk.
Survei penduduk
Hasil sensus penduduk & registrasi penduduk mempunyai keterbatasan,
yg hanya menyediakan data statistik kependudukan, & kurang
memberikan informasi ttg sifat & perilaku penduduk setempat. Utk
mengatasi keterbatasan ini, perlu dilaksanakan survei penduduk yg
sifatnya lbh terbatas & informasi yg dikumpulkan lbh luas & mendalam.
Biasanya survei penduduk ini dilaksanakan dgn sistem sampel atau dlm
btk studi kasus.
(Prof.Ida Bagus Mantra, Ph.D.2008.Demografi
Umum.Yogyakarta:Pustaka Pelajar)

5. Bagaimana penyediaan data dan informasi hasil


penelitian survey?
Tahapan sensus di Indonesia
1. Pemerintah memberi mandat pd Badan Pusat Statistik utk
melakukan sensus, lalu BPS menyiapkandraft pertanyaan
2. Melatih petugas sensus utk mendapatkan data sensus
dengan draft yang nanti dibawa
3. Membagi wilayah dlm wilayah pencacahan(wilcah)
4. Wilcah dibedakan antara wilcah pedesaan dan wilcah
perkotaan
5. Pencacahan dilaksanakan dg sistem aktif(mendatangi RT dg
membawa draft pertanyaansensus) pd hariH(tgl30 Juni)
6. Juga melaksanakan PODES (pencacahan potensi desa) &
pemetaan desa.
7. Hasil sensus diolah oleh BPS dan diumumkan

8. Juga dilakukan sensus khusus berdasar sampel, misal:


sensus pertanian, , sensus industri, survei angkatan kerja
nasional, , dll
http://www.depkes.go.id/en/downloads/profil/merauke/drajatkesehatan.
txt

6. Target- target RPJMN(rencana pembangunan jangka


menengah nasional ) yang berhubungan dengan
FERTILITAS?

Sasaran Strategis (2010-2014)


Untuk mencapai penurunan laju pertumbuhan
penduduk menjadi 1,1 persen, Total Fertility Rate
(TFR) menjadi 2,1 dan NRR = 1, maka sasaran
yang harus dicapai pada tahun 2014 adalah
sebagai berikut:
1) Meningkatnya CPR (cara modern) dari 57,4
persen (SDKI 2007) menjadi 65 persen.
2) Menurunnya kebutuhan ber-KB tidak terlayani
(unmet need) dari 9,1 persen (SDKI 2007)
menjadi sekitar 5 persen dari jumlah
pasangan usia subur.
3) Meningkatnya
usia
kawin
pertama
perempuan dari 19,8 tahun (SDKI 2007)
menjadi sekitar 21 tahun.
4) Menurunnya ASFR 15-19 tahun dari 35 (SDKI
2007) menjadi 30 per seribu perempuan.
5) Menurunnya kehamilan yang tidak diinginkan
dari 19,7 persen (SDKI 2007) menjadi sekita
15 persen.

6) Meningkatnya peserta KB Baru pria dari 3,6


persen menjadi sekitar 5 persen;
7) Meningkatnya kesertaan ber-KB pasangan
usia subur (PUS) pra S dan KS1 anggota
kelompok usaha ekonomi produktif dari 80
persen menjadi 82 persen dan pembinaan
keluarga menjadi sekitar 70 persen.
8) Meningkatnya partisipasi keluarga yang
mempunyai anak dan remaja dalam kegiatan
pengasuhan
dan
pembinaan
tumbuh
kembang anak melalui kelompok kegiatan
Bina Keluarga Balita (BKB) dari 3,2 juta
menjadi 5,5 juta keluarga balita dan Bina
Keluarga Anak dan Remaja (BKR) dari 1,5 juta
menjadi 2,7 juta keluarga remaja.
9) Menurunnya disparitas TFR, CPR, dan unmet
need antar wilayah dan antar sosial ekonomi
(tingkat pendidikan dan ekonomi).
10) Meningkatnya
keserasian
kebijakan
pengendalian
penduduk
dengan
pembangunan lainnya.
11) Terbentuknya BKKBD di 435 kabupaten dan
kota.
12) Meningkatnya jumlah klinik KB yang
memberikan pelayanan KB sesuai SOP
(informed consent) dari 20 persen menjadi 85
persen.
http://www.bkkbn.go.id/materi/Documents/Materi%20Rakernas
%202012/Narasi_arah%20kebijakan%20dan%20strategi
%202013.pdf
7. pola-pola fertilitas ?
Pola Fertilitas menurut umur
Angka kelahiran (yaitu fertilitas, dan bukan fekunditas)
dimulai dari nol kira-kira pada umur 15 tahun, kemudian
memuncak pada umur mendekati 30 tahun, sesudah itu
menurun sampai nol lagi kira-kira pada umur 49 tahun.
Puncak umur yang sebenarnya maupun angka penurunan
sesudah puncak tersebut untuk masing-masing penduduk

maupun di dalam lingkungan penduduk itu sendiri ternyata


berbeda.
Perbedaan
itu
tergantung
dari
kebiasaan
perkawinan, sterilitas, praktik keluarga berencana, maupun
faktor-faktor lain. Walaupun demikian perbedaan fertilitas itu
lebih sering terjadi di dalam tingkat kurva ini, dan bukan
dalam bentuk umum yang senantiasa konstan untuk setiap
penduduk maupun dari waktu ke waktu.
Pola Fertilitas Menurut Perkawinan
Semua ukuran fertilitas yang telah diuraikan dapat
memberikan hasil perhitungan yang menyesatkan apabila
angka perkawinan ternyata abnormal. Apabila karena
beberapa alasan tertentu. Perkawinan untuk sementara waktu
tertunda, dan kemudian disebabkan karena banyak fertilitas
terjadi lebih awal di dalam perkawinan, maka jumlah kelahiran
akan menurun, yang kemudian diikuti pula dengan kenaikan
yang merupakan kompensasi dengan syarat bahwa fertilitas
perkawinan total tetap konstan. Demikian pula apabila
perkawinan secara temporer malah agak dipercepat, jumlah
kelahiran akan meningkat, yang kemudian menurun lagi.
fluktuasi jangka pendek yang disebabkan oleh perkawinan ini
hendaknya dapat disingkirkan dengan meneliti fertilitas
perkawinan, dan bukan fertilitas semua wanita. Di kebanyakan
negara lebih dari 90% kelahiran terjadi sebagai hasil ikatan
perkawinan dan sisanya dapat dihitung secara terpisah.
Salah satu pola fertilitas yang umum ialah lamanya angka
fertilitas yang menunjukkan jumlah kelahiran oleh 1000
wanita selama 0, 1, 2, ...dst tahun sesudah perkawinan. Pola
tersebut dapat di hiting dengan cara membagi kelahiran oleh
ibu dari pada lamanya perkawinan X dengan jumlah
perkawinan X perkawinan X rahun sebelumnya untuk nilai X =
0,1, 2, ..., dst.
Pola Fertilitas Khusus Menurut Paritas
Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan program
keluarga berencana yang semakin pesat telah cenderung
menyebabkan perhatian semakin ditunjukkan ke arah
pembentukan jumlah keluarga yang terakhir. Gangguan
ekonomi dan soosial memang dapat mempengaruhi kelahiran
selama satu jangka waktu tertentu, tetapi bagaimanapun
jumlah keluarga yang dikehendaki akhirnya akan dapat
dicapai, dan bahwa penduduk akan mengarah kepada
frekuensi distribusi tertentu menurut besarnya keluarga.

Jumlah kelahiran pertama, kedua, ketiga dan seterusnya per


1000 wanita yang berumur 15-49 tahun.
Sumber Pustaka:
A.H. Polard.1984.Demograf Teknik.Bina Aksara:Jakarta
Ida
Bagoes
Mantra.1956.Demograf
Umum.Pustaka
Pelajar:Yogyakarta
_____.2011.Fertilitas
Penduduk.
diunduh
dari
http://widyaastuti-agrittude.blogspot.com/2011/11/fertilitaspenduduk.htmldiakses pada tanggal 16 Juli 2012

8. Cara mengendalikan angka kelahiran?


a. Menurunkan tingkat kelahiran, melalui usaha langsung dan tak
langsung. Secara langsung melalui kegiatan penyebar-luasan dan
penyediaan

sarana

Keluarga

Berencana

(KB)

serta

usaha

meningkatkan pengetahuan dan praktek KB. Usaha tidak langsung


melalui usaha mendorong keluarga melaksanakan NKKBS (Norma
Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera).
b. Menurunkan tingkat kematian, terutama anak-anak melalui bidang
kesehatan, pangan dan gizi, pendidikan, perumahan, penyediaan air
bersih dan kesehatan lingkungan.
c. Meningkatkan

taraf

hidup,

yaitu

meningkatkan

umur

rata-rata

penduduk Indonesia.
d. Penyebaran penduduk dan tenaga kerja yang serasi dan seimbang,
melalui

transmigrasi,

pembangunan

daerah,

kota

dan

desa,

pembangunan sarana perhubungan, dan pemerataan pembangunan.


Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan
hilangnya kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu
pula diharapkan akan meningkatkan tingkat pendidikan yang akan
merubah pola pikir dalam bidang kependudukan.
Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju
pertumbuhan yang tidak terkontrol, maka diharapkan masyarakat
umum secara sukarela turut mensukseskan gerakan keluarga
berencana.

Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi


Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki
kepadatan penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju
pengangguran akibat tidak sepadan antara jumlah penduduk
dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan
pangan tidak diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah
diharapkan mengusahakan swasembada pangan agar tidak
ketergantungan dengan daerah lainnya.
http://organisasi.org/cara_untuk_mengatasi_mengurangi_ledakan_penduduk_
dan_laju_pertumbuhan_penduduk_ilmu_kependudukan_biologi
Upaya pemerintah dalam mengatasi masalah fertilitas adalah sebagai berikut:
1. Pelayanan program Keluarga Berencana (KB) yaitu suatu program pemerintah
yang dapat mengubah pandangan masyarakat dari pro natalis menjadi anti natalis. Hal
ini ditujukan untuk mengendalikan jumlah penduduk serta menciptakan seorang anak
yang berkualitas.
2. meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan seperti
dicanangkannya program pendidikan wajib sembilan tahun dan pemberian
bantuan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Dengan dilaksanakannya
program ini ditujukan untuk menekan perkawinan di usia muda, karena semakin
tinggi pendidikan seseorang maka tingkat fertilitas dapat ditekan.
3. dicanangkannya kembali program pemerintah mengenai mobilitas penduduk
seperti transmigrasi, urbanisasi, imigrasi, dan lain sebagainya. Program ini juga
dapat membantu menekan tingginya tingkat fertilitas melalui partisipasi kerja
khususnya bagi para wanita. Semakin meningkatnya kebutuhan ekonomi keluarga dan
adanya keinginan untuk mengaktualisasikan diri dan adanya peluang besar kepada
wanita untuk masuk ke dunia kerja sehingga semakin banyak wanita yang ingin
memiliki anak sedikit.