Anda di halaman 1dari 29

Case Report Session

PENERAPAN KLINIK SANITASI DI PUSKESMAS PAUH

Oleh:
DWI RIZKI FADHILAH
1210313026

Preseptor:
dr. Edison, MPH

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
Kebijakan nasional dalam upaya penyehatan lingkungan seperti tercantum
dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) diarahkan untuk
mendukung pemberantasan penyakit berbasis lingkungan yang menjadi prioritas
nasional dan pengendalian pencemaran lingkungan yang berdampak terhadap
kesehatan masyarakat sebagai bagian dari upaya pembangunan dan komitmenkomitmen yang berkelanjutan. Salah satu tujuan Pemerintah Kabupaten/Kota
yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan adalah membebaskan penduduk dari
penularan atau transmisi penyakit dengan cara menghilangkan sumber penyakit,
melakukan penyehatan lingkungan, dan meningkatkan perilaku hidup sehat
penduduk serta memberikan kekebalan terhadap serangan penyakit.1,2
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan sampai saat ini masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Masalah kesehatan berbasis lingkungan
disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memadai baik kualitas maupun
kuantitasnya serta perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah sehingga
mengakibatkan penyakit-penyakit berbasis lingkungan muncul, seperti: diare,
ISPA, malaria, DBD, TBC, yang masih mendominasi 10 penyakit terbesar
puskesmas dan merupakan pola penyakit utama di Indonesia3
Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat, puskesmas merupakan
ujung tombak yang paling depan di wilayah kerjanya. Salah satu fungsi
puskesmas yang penting adalah mengembangkan dan membina kemandirian
masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan yang timbul, mengembangkan
kemampuan dan kemauan masyarakat baik berupa pemikiran maupun
kemampuan yang berupa sumber daya. Oleh sebab itu diperkenalkan dan

dikembangkan suatu alternatif pemecahan masalah kesehatan lingkungan yaitu


klinik sanitasi3. Klinik sanitasi sebagai salah satu pelayanan di puskesmas yang
mengintegrasikan antara upaya kuratif, promotif, dan preventif, yang mempunyai
peran antara lain sebagai pusat informasi, pusat rujukan fasilitator di bidang
kesehatan lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan4. Kegiatan klinik sanitasi
ini dibagi menjadi 2 yaitu dalam dan luar gedung, di antara keduanya kegiatan
dalam gedung adalah kegiatan yang utama yang harus dilakukan sebelum
kegiatan luar gedung.
Mengingat begitu pentingnya Program Klinik Sanitasi dalam mencapai
indikator kesehatan masyarakat maka penulis ingin menyusun makalah tentang
Pelaksanaan Program Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh sebagai bentuk evaluasi
bagi Puskesmas Pauh sendiri sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih
baik di masa yang akan datang, serta dapat menjadi perbandingan bagi puskesmas
lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah pelaksanaan program klinik sanitasi serta pencapaiannya di
Puskesmas Pauh?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Mengetahui tentang pelaksanaan program klinik sanitasi dan
pencapaiannya di Puskesmas Pauh.
Tujuan Khusus
Mengetahui program kesehatan lingkungan di Puskesmas Pauh
Mengetahui program klinik sanitasi dan pelaksanaannya di Puskesmas
Pauh.
Mengetahui pencapaian program klinik sanitasi di Puskesmas Pauh.
Mengetahui permasalahan dalam pelaksanaan program klinik sanitasi
di Puskesmas Pauh.

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk dari
berbagai literatur dan laporan Puskesmas Pauh, analisis, dan diskusi bersama
pemegang program kesehatan lingkungan di Puskesmas Pauh.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyakit Berbasis Lingkungan
Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah keadaan lingkungan yang
optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan
yang optimal pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan antara lain: perumahan,
pembuangan kotoran manusia, penyediaan air bersih, pembangunan sampah,
pembuangan air kotor dan pencemaran. ruang lingkup tersebut harus dijaga untuk
mengoptimumkan lingkungan hidup manusia agar menjadi media yang baik
untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di
dalamnya5.
Penyakit berbasis lingkungan merujuk pada penyakit yang memiliki akar atau
hubungan yang erat dengan satu atau lebih komponen lingkungan pada sebuah
ruang masyarakat tersebut bertempat tinggal atau beraktivitas dalam jangka waktu
tertentu. Penyakit tersebut bisa dicegah atau dikendalikan, kalau kondisi
lingkungan yang berhubungan atau diduga berhubungan dengan penyakit tersebut
dihilangkan1
Patogenesis penyakit berbasis lingkungan dapat dituangkan dalam empat
simpul. Simpul satu adalah sumber penyakit, yaitu virus, bakteri, parasit, dll.
Simpul kedua adalah komponen lingkungan yang menjadi media transmisi
penyakit tersebut, baik berupa udara, air, maupun binatang vektor. Simpul ketiga
adalah penduduk dengan berbagai variabel kependudukan, baik dari segi
pendidikan, kepadatan, perilaku, dll. Simpul keempat adalah penduduk yang
dalam keadaan sehat atau sakit setelah mendapat paparan komponen lingkungan6

Kejadian penyakit adalah hasil dari hubungan interaktif manusia dengan


agen penyakit. Dalam hal ini kejadian penyakit dapat dibagi tiga, yaitu: kejadian
akut (gejala khas dan umumnya dirawat), subklinik (gejala tidak khas, tapi
dengan pemeriksaan tampak bahwa kelompok ini sedang sakit), dan subtle atau
samar (gejala tidak khas, baik secara laboratorium, maupun klinis. Muncul
sewaktu-waktu dalam bentuk KLB). Kejadian penyakit juga dipengaruhi oleh
simpul kelima, yaitu variabel iklim, topografi, temporal, dan suprasistem, seperti
keputusan politik seperti kebijakan makro yang dapat mempengaruhi semua
simpul6.
2.2 Klinik Sanitasi
Klinik sanitasi adalah suatu upaya/kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan
kesehatan antara promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk
yang beresiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan
masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas
puskesmas bersama masyarakat yang dapat dilakukan secara pasif dan aktif di
dalam dan di luar puskesmas4.
Klinik sanitasi juga merupakan wahana masyarakat untuk mengatasi masalah
kesehatan lingkungan dan masalah penyakit berbasis lingkungan dengan
bimbingan, penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas puskesmas. Klinik

sanitasi bukan sebagai unit pelayanan yang berdiri sendiri, akan tetapi sebagai
bagian integral dari kegiatan puskesmas dalam melaksanakan program ini
bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektoral yang ada di wilayah kerja
puskesmas7.
Klinik sanitasi juga merupakan kegiatan wawancara mendalam dan
penyuluhan yang bertujuan untuk mengenal masalah lebih rinci, kemudian
diupayakan yang dilakukan oleh petugas klinik sanitasi sehubungan dengan
komunikasi penderita/pasien yang datang ke puskemas7.
Klinik sanitasi diharapkan dapat memperkuat tugas dan fungsi puskesmas
dalam melaksanakan pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit berbasis
lingkungan dan semua persoalan yang ada kaitannya dengan kesehatan
lingkungan, khususnya pengendalian penyakit berbasis lingkungan, guna
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat7.
Pelaksanaan program klinik sanitasi menjaring pasien/klien di puskesmas
dengan keluhan penyakit berbasis lingkungan dan lingkungan yang tidak sehat
sebagai media penularan dan penyebab penyakit yang dialami oleh masyarakat
selanjutnya dilaksanakan konseling dan kunjungan lapangan atau kunjungan
rumah untuk mencari jalan keluar akibat masalah kesehatan lingkungan dan
penyakit berbasis lingkungan yang muncul di masyarakat7.
Terdapat beberapa pengertian yang harus dipahami dalam pelaksanaan
program
klinik sanitasi selain dari pengertian klinik sanitasi, yaitu3:
Pasien Klinik Sanitasi
Penderita penyakit berbasis lingkungan yang datang ke puskesmas yang
kemudian dirujuk oleh dokter ke ruang klinik sanitasi atau yang

ditemukan di lapangan baik oleh petugas medis/paramedis maupun


petugas survei.
Klien Klinik Sanitasi
Masyarakat yang datang ke puskesmas atau yang menemui petugas
klinik sanitasi namun bukan sebagai penderita penyakit, tetapi untuk
berkonsultasi tentang masalah yang berkaitan dengan penyakit berbasis
lingkungan/kesehatan lingkungan.
Bengkel Sanitasi
Suatu ruangan atau tempat yang dipergunakan untuk menyimpan
peralatan pemantauan dan perbaikan kualitas lingkungan.
Ruang Klinik Sanitasi
Suatu ruangan atau tempat yang dipergunakan oleh Sanitarian/Tenaga
Kesling/Tenaga Pelaksana kegiatan Klinik Sanitasi untuk melakukan
fungsi penyuluhan, konsultasi, konseling, pelatihan perbaikan sarana
sanitasi dan sebagainya.
5. Konseling
Kegiatan wawancara mendalam dan penyuluhan yang bertujuan untuk
mengenal masalah lebih rinci kemudian diupayakan pemecahannya yang
dilakukan oleh petugas klinik sanitasi sehubungan dengan konsultasi
penderita/pasien yang datang ke puskesmas7.
6. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah adalah kegiatan sanitarian/tenaga kesling/tenaga
pelaksana klinik sanitasi untuk melakukan kunjungan ke rumah untuk
melihat keadaan lingkungan rumah sebagai tindak lanjut dari kunjungan
penderita atau klien ke ruang klinik sanitasi8.

2.2.1. Tujuan Klinik Sanitasi


Klinik sanitasi mempunyai tujuan yaitu sebagai berikut:
Tujuan Umum
Meningkatkan derajat masyarakat melalui upaya preventif, kuratif, dan
promotif yang dilakukan secara terpadu, terarah, dan terus-menerus7.
b. Tujuan Khusus7
1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat (pasien dan
klien serta masyarakat di sekitarnya) akan pentingnya lingkungan
sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat.
2.

Masyarakat

mampu

memecahkan

masalah

kesehatan

yang

berhubungan dengan kesehatan lingkungan.


3. Terciptanya keterpaduan lintas program-program kesehatan dan lintas
sektor terkait, dengan pendekatan penanganan secara holistik
terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan.
4. Untuk menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan dan
meningkatkan

penyehatan

lingkungan

melalui

pemberdayaan

masyarakat.
5. Meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit-penyakit berbasis
lingkungan melalui Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) secara
terpadu
2.2.2 Sasaran Klinik Sanitasi
Pelaksanaan program klinik sanitasi mengarah pada suatu sasaran yang
ditentukan, yaitu7:
Penderita penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan
yang datang ke puskesmas.

Masyarakat umum (klien) yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan


yang datang ke puskesmas.
Lingkungan penyebab masalah bagi pasien/klien dan masyarakat sekitarnya.
2.2.3 Strategi Operasional Klinik Sanitasi
Beberapa strategi operasional agar program klinik sanitasi dapat mencapai tujuan
yang telah ditetapkan, antara lain7:
1. Pemajanan masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat
dan mengatasi dengan upaya promotif, preventif, dan rehabilitatif secara
terpadu dan berkesinambungan.
2. Masalah dalam tiap puskesmas tidaklah sama, baik antar lingkungan
ataupun antar kelurahan oleh sebab itu harus dipahami secara benar
mengenai peta masalah kesehatan yang berkenaan dengan kesehatan
lingkungan, agar penanganannya menjadi lebih spesifik dan berorientasi
pada hasil.
3. Membuat skala prioritas penanganan masalah kesehatan lingkungan
dengan mempertimbangkan segala sumber daya yang ada, karena sulit
untuk menangani semua masalah yang ada dalam waktu bersamaan, baik
luas wilayahnya maupun jenis penyakitnya.
4. Dilaksanakan secara terpadu dan bekerjasama dengan lintas program dan
lintas sektor di wilayah kerja puskesmas.
5. Menumbuh kembangkan peran serta masyarakat memalui kelembagaan
yang sudah ada seperti: PKK, LSM, LKMD.
6. Mengutamakan segi penyuluhan, bimbingan teknis dan pemberdayaan
untuk menciptakan kemandirian masyarakat, penyuluhan juga dilakukan
dengan pemberian contoh dan keteladanan.

7. Mengupayakan dukungan dan dengan meningkatkan swadaya masyarakat


termasuk swasta selain sumber dana dari pemerintah.
2.2.4 Kegiatan Klinik Sanitasi
Kegiatan klinik sanitasi dilaksananakan di dalam gedung dan di luar gedung
Puskesmas4:
1. Dalam Gedung
a. Pasien (penderita penyakit berbasis lingkungan) dan Klien (pengunjung
bukan penyakit berbasis lingkungan)
Semua pasien/klien datang berobat ke puskesmas melalui prosedur
pelayanan seperti: mendaftar di loket, selanjutnya akan mendapat kartu
status, diperiksa oleh petugas medis/paramedis di puskesmas (dokter, bidan,
perawat). Apabila diketahui pasien/klien menderita penyakit berbasis
lingkungan maka yang bersangkutan dirujuk ke ruang klinik sanitasi. Pada
ruang klinik sanitasi pasien/klien diberikan penyuluhan dan bimbingan
teknis, petugas mewawancarai pasien tentang penyakit yang diderita
dikaitkan

dengan masalah kesehatan lingkungan. Selanjutnya

hasil

wawancara dicacat dalam Kartu Status Kesehatan Lingkungan. Kemudian


petugas klinik sanitasi melakukan konseling tentang penyakit yang diderita
pasien dalam hubungannya dengan lingkungan.
Petugas juga membuat janji dengan pasien dan keluarganya apabila
diperlukan untuk melakukan kunjungan rumah untuk melihat langsung faktor
resiko penyakit yang dialami pasien tersebut. Setelah konseling di ruang
klinik sanitasi, pasien dapat mengambil obat di apotik puskesmas (loket obat)
kemudian pasien diperbolehkan pulang.

Kegiatan lain di dalam gedung yaitu secara rutin petugas klinik sanitasi
menyampaikan segala permasalahan, cara penyelesaian masalah, hasil
monitoring/evaluasi dan perencanaan klinik sanitasi dalam Mini Lokakarya
Puskesmas yang melibatkan seluruh penanggungjawab kegiatan dan
dilaksanakan satu bulan sekali. Dengan demikian diharapkan seluruh petugas
puskesmas mengetahui pelaksanaan kegiatan Klinik Sanitasi dapat dilakukan
secara integritas dalam lintas program.
2. Luar Gedung
a. Kunjungan rumah (sebagai tindak lanjut kunjungan pasien/klien ke
Puskesmas)
Kunjungan rumah/lokasi dilakukan oleh petugas dengan membawa hasil
analisa keadaan lingkungan pasien/klien klinik sanitasi yang merupakan
lanjut dari kesepakatan antara petugas klinik sanitasi dengan pasien/klien
yang datang ke Puskesmas. Kunjungan rumah ini untuk mempertajam
sasarannya karena pada saat kunjungan petugas telah memiliki data pasti
adanya sarana lingkungan bermasalah yang perlu diperiksa dan fakor-faktor
perilaku yang berperan besar dalam proses terjadinya masalah kesehatan
lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan.
Pada kunjungan tersebut dapat mengambil partisipasi perawat dari
puskesmas pembantu atau bidan desa, dan kader kesehatan lingkungan untuk
melakukan pengecekan fisik/klinis atas penyakit yang telah diobati tersebut
(semacam kegiatan Perawatan Kesehatan Keluarga). Petugas klinik sanitasi
membawa kartu status kesehatan lingkungan/register yang telah diisi saat
kunjungan pasien ke ruang klinik sanitasi di puskesmas sebelumnya.

Untuk keperluan monitoring/surveilans, dalam kunjungan ini petugas


klinik sanitasi mengisi kartu indeks lingkungan perilaku sehat, selanjutnya
kartu ini secara berkala (1-3 bulan) diisi oleh kader atau bidan di desa. Pada
kunjungan

ke

lapangan

petugas

klinik

sanitasi

mengajak

kader

kesehatan/kesehatan lingkungan, kelompok pemakai air, PKK, dan


berkonsultasi/melibatkan LSM, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan pihak
terkait lainnya. Dengan maksud agar masyarakat turut berperan aktif
memecahkan masalah kesehatan yang timbul di lapangan mereka sendiri.
Diharapkan jika suatu saat timbul masalah penyakit berbasis lingkungan yang
sejenis, mereka dapat menyelesaikan sendiri masalah tersebut. Petugas klinik
sanitasi maupun petugas kesehatan lain yang mendampinginya dapat
memberikan penyuluhan kepada pasien/klien dan keluarganya serta tetanggatetanggga pasien tersebut.
Pada kunjungan rumah tangga petugas klinik sanitasi bekerjasama
dengan lintas program dan lintas sektor, apabila dibutuhkan perbaikan atau
pembangunan

sarana

sanitasi

dasar

dengan

biaya

besar,

(seperti

pembangunan sistem perpiaaan) yang tidak terjangkau oleh masyarakat


setempat, petugas klinik sanitasi melalui puskesmas dapat mengusulkan
kegiatan tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk
ditindaklanjuti. Jika masalah di lapangan belum dapat terpecahkan, maka
dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi. Bila diperlukan koordinasi di
Kabupaten/Kota, maka puskesmas dapat meminta bantuan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.

BAB 3
ANALISIS SITUASI

3.1. Gambaran Umum Puskesmas Pauh


3.1.1 Keadaan Geografis
Wilayah kerja Puskesmas Pauh terletak di Kecamatan Pauh, pada 0 0 58
Lintang Selatan, 1000 21 11 Bujur Timur sebelah timur pusat Kota Padang yang
terdiri dari 9 (sembilan) kelurahan. Dengan luas wilayah 146,2 km 2, terdiri dari
60% dataran rendah dan 40% dataran tinggi. Curah hujan 471 mm/bulan,
temperatur antara 280 310 C dengan batas wilayah sebagai berikut:9
Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Solok
Sebelah Barat berbatas dengan Wilayah kerja Puskesmas Andalas (Padang
Timut)
Sebelah Utara berbatas dengan Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Koto
Tangah
Sebelah Selatan berbatas dengan sebagian Wilayah kerja Puskesmas Lubuk
Kilangan.

Gambar 3.1. Peta wilayah kerja Puskesmas Pauh


3.1.2. Keadaan Demografi
Berdasarkan data dari Kantor Kecamatan Pauh Kota Padang tahun 2015
yang dipublikasikan pada tahun 2015 jumlah Penduduk Kecamatan Pauh adalah
sebanyak 65.515 jiwa dengan jumlah KK RT sebanyak 169 dan RW 50 dengan
rata-rata anggota keluarga 4 orang serta kepadatan penduduk 489/km2.
Tabel 3.1. Jumlah penduduk Kecamatan Pauh menurut Kelurahan tahun 20159
No.
Kelurahan
Jumlah KK Jumlah Jiwa RT RW
1.
Pisang
2618
7924
23
7
2.
Binuang Kp Dalam
1650
6016
25
6
3.
Piai Tangah
1309
5074
18
8
4.
Cupak Tangah
1978
7917
26
7
5.
Kapalo Koto
2126
7577
20
6
6.
Koto Luar
2349
8362
18
5
7.
Lambung Bukit
1124
3579
15
4
8.
Limau Manis Selatan
2938
13005
12
3
9.
Limau Manis
1546
6061
12
4
Jumlah
17638
65515
169
50
3.2 Program Kesehatan Lingkungan
Pengawasan kualitas air bersih di wilayah kerja Puskesmas Pauh
dilakukan setiap bulannya melalui kegiatan inspeksi sanitasi sarana air bersih
yang sejalan dengan kegiatan survey perumahan dan lingkungan.
Berdasarkan data yang telah dihimpun dari pembina wilayah sebagian besar
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pauh yaitu sebanyak 58%
menggunakan sumur gali dengan pompa sebagai sumber air bersihnya,
berdasarkan indikator persentae penduduk yang terakses air bersih yang
memenuhi syarat kesehatan maka dapat dilihat pada grafik berikut:9

Grafik 3.1 Persentase Penduduk yang Terakses Air Bersih Tahun 2015

Dari grafik diatas terlihat bahwa persentase penduduk yang terakses air
bersih yang memenuhi syarat di wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah
sebanyak 83% sementara targetnya adalah 80%, pada 3 kelurahan telah
mencapai target.9
Inspeksi sanitasi terhadap sarana air bersih ini merupakan pengawasan
rutin yang dilakukan terhadap sarana sumber air bersih masyrakat. Hasil
inspeksi sanitasi terhadap sarana air bersih seperti terlihat pada grafik di
bawah ini.9

Grafik 3.2 Persentasse Tingkat Risiko Pencemaran Sarana Air Bersih Hasil
Inspeksi Sanitasi di Puskesmas Pauh Tahun 2015

Dari hasil inspeksi sanitasi yang dilakukan terlihat bahwa sarana dengan
tingkat resiko amat tinggi adalah SGL (sumur gali), kemudian sarana dengan
tingkat resiko tinggi adalah PMA (Perlindungan Mata Air), sarana dengan
tingkat resiko sedang adalah sumur gali dengan pompa kemudian sarana
dengan tingkat resiko rendah adalah PDAM/BPSPAM dan sumur bor.9
Sama halnya dengan sarana air bersih lain, DAMIU juga menjadi objek
pengawasan dan pembinaan secara rutin setiap bulannya. Jumlah DAMIU
yang ada wilayah kerja Puskesmas Pauh tahun 2015 adalah sebanyak 48 buah
yang tersebar di semua kelurahan di kecamatan Pauh, berikut hasil inspeksi
sanitasi DAMIU tersebut:9

Grafik 3.3 Hasil Inspeksi Sanitasi Depot Air Minum Isi Ulang di Wilayah Kerja
Puskesmas Pauh Tahun 2015

Dari grafik terlihat bahwa dari 48 DAMIU yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Pauh, 13 diantaranya tidak memenuhi syarat, karena berdasarkan
hasil inspeksi sanitasi memiliki tingkat resiko tinggi atau amat tinggi. Melalui
kegiatan survey perumahan dan lingkungan yang rutin dilakukan setiap
bulannya maka pengawasan terhadap mutu lingkungan hidup masyarakat
dapat terpantau secara periodik, tabel berikut menjabarkan hasil survey
tersebut.9
Tabel 3.2 Survey Perumahan dan Lingkungan di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Tahun 2015
NO. KELURAHAN
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
RUMAH
RUMAH
DIPERIKSA MEMENUHI SYARAT
1
Cupak Tangah
1119
147
103
2
Binuang Kp Dalam
695
112
76
3
Pisang
1190
198
123
4
Piai Tangah
575
95
56
5
Koto Luar
1358
181
96
6
Limau Manis
662
258
188
7
Limau Manis Selatan 1633
76
55
8
Kapalo Koto
775
134
97
9
Lambung Bukit
470
75
46
Puskesmas
8477
1276
840

Dari hasil survey perumahan yang telah dilakukan dapat diketahui


capaian indikator program seperti yang tertera dalam grafik di bawah ini9
Grafik 3.4 Persentase Rumah Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun
2015

Dari hasil survey perumahan dan lingkungan diperoleh data pengelolaan


sampah dan limbah yang dilakukan oleh masyarakat.9
Tabel 3.3 Pengelolaan Sampah dan Limbah di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Tahun 2015
No. Kelurahan
Pengelolaan Sampah
Pengelolaan Limbah
TPS/DKP
Dibakar
Ditimbun
Tertutup
Terbuka
1
Cupak Tangah
198
323
12
75
394
2
Binuang Kp Dalam
117
354
35
132
3
Pisang
115
226
12
267
4
Piai Tangah
207
75
15
186
5
Koto Luar
156
404
2
142
360
6
Limau Manis
81
437
5
207
242
7
Limau Manis Selatan 595
45
5
148
343
8
Kapalo Koto
247
199
79
337
9
Lambung Bukit
291
8
11
351
Puskesmas
1797
2354
32
724
2612
Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar masyarakat masih
menerapkan sistem pembakaran dalam pengelolaan sampah. Selain dari
masalah sampah dan limbah, sarana sanitasi dasar lain yang masih menjadi

masalah tinja atau kotoran manusia seperti yang terlihat pada grafik dibawah
ini9
Grafik 3.5 Persentase Penduduk yang Menggunakan Jamban Sehat di Wilayah
Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2015

Dari grafik diatas terlihat bahwa cakupan persentase penduduk yang


menggunakan jamban sehat adalah 43,9%.9
Tabel 3.4 Jumlah Pasien yang Dirujuk ke Klinik Sanitasi Tahun 2015
No. Penyakit Berbasis Lingkungan Jumlah Kasus
Jumlah yang Dirujuk
ke Klinik Sanitasi
1.
Diare
784
5
2.
ISPA
5928
2
3.
Demam Berdarah
97
3
4.
TB Paru
69
5.
Cacingan
11
6.
Keracunan Makanan
1
7.
Scabies
58
13
Puskesmas
6948
23
Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah pasien dengan penyakit berbasis
lingkungan yang dirujuk ke klinik sanitasi masih sangat sedikit yaitu
sebanyak 23 orang pasien atau 0,03%. Tahun sebelumnya belum ada target
kegiatan, tapi untuk tahun 2016 target kunjungan ke klinik sanitasi adalah
10% dari semua kasus penyakit berbasis lingkungan9.

Jenis tempat-tempat umum (TTU) yang ada di wilayah kerja Puskesmas


Pauh tidak begitu beragam, yaitu berupa sarana ibadah, sarana pendidikan,
sarana pelayanan kesehatan, salon dan pangkas rambut, seperti yang tertera
pada tabel berikut9
Tabel 3.5 Distribusi Tempat-Tempat Umum di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Tahun 2015
No.
Kelurahan
Jenis dan Jumlah Tempat Umum
Sarana
Sarana
Sarana
Pangkas
Ibadah
Pendidikan Yankes
Salon
1
Cupak
11
5
1
3
2
Tangah
8
6
0
1
3
Binuang
15
6
1
1
4
Kp Dalam
8
3
1
0
5
Pisang
14
9
0
0
6
Piai Tangah 12
8
2
1
7
Koto Luar
12
9
1
0
8
Limau
10
6
0
1
9
Manis
8
3
1
0
Selatan
Limau
Manis
Kapalo
Koto
Lambung
Bukit
Puskesmas
98
55
7
7
Dari data tabel diatas terlihat jumlah tempat-tempat umum yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah sebanyak 178, target pengawasan
tempat-tempat umum adalah 100% artinya semua TTU tersebut harus
dikunjungi selama 1 tahun, ternyata tidak semua dapat dikunjungi9.
Dari kegiatan pengawasan dan pembinaan tempat-tempat umum
diperoleh cakupan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat seperti yang
terlihat pada grafik dibawah ini9

Salon
3
1
3
1
1
1
0
1
0

11

Grafik 3.6 Persentase Tempat-Tempat Umum Memenuhi Syarat di Wilayah Kerja


Puskesmas Pauh Tahun 2015

Dari grafik diatas terlihat bahwa hanya 79,8% TTU yang memenuhi
syarat di wilayah kerja Puskesmas Pauh sedangkan target cakupan TTU yang
memenuhi syarat adalah 85%9.
Ada cukup banyak jenis TPM yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pauh
seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut9
Tabel 3.6 Distribusi Tempat Pengolahan Makanan (TPM) Menurut Kelurahan di
Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2015
No. Kelurahan
Jumlah dan Jenis TPM
RM/Rest
IRTP
Warkop
Makanan
Jajanan
1
Cupak Tangah
23
3
6
26
2
Binuang Kp. Dalam
6
3
4
3
3
Pisang
2
1
2
2
4
Piai Tangah
0
0
1
4
5
Koto Luar
2
5
1
4
6
Limau Manis Selatan 4
2
1
4
7
Limau Manis
1
1
2
5
8
Kapalo Koto
7
0
2
7
9
Lambung Bukit
0
0
2
1
Puskesmas
45
15
21
56

Dari tabel diatas terlihat bahwa ada 137 Tempat Pengolahan Makanan
(TPM) di wilayah kerja Puskesmas Pauh, pengawasan dan pembinaan
dilakukan pada semua TPM, artinya cakupan pengawasan 100%9.
Dari hasil pengawasan dan pembinaan TPM dapat diketahui indikator
cakupan program seperti pada grafik dibawah ini9.
Grafik 3.7 Persentase Tempat Pengolahan Makanan (TPM) Memenuhi Syarat di
Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2015

Dari grafik diatas terlihat bahwa cakupan TPM yang memenuhi syarat di
wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah 83,2%, sedangkan target cakupan
adalah 75%9

BAB 4
PEMBAHASAN
Klinik sanitasi adalah suatu upaya/kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan
kesehatan antara promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk
yang beresiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan
masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas
puskesmas bersama masyarakat yang dapat dilakukan secara pasif dan aktif di
dalam dan di luar puskesmas4.
Untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan di Puskesmas, semua
pasien/klien yang datang berobat melalui prosedur pelayanan seperti: mendaftar
di loket, selanjutnya akan mendapat kartu status, diperiksa oleh petugas
medis/paramedis di puskesmas (dokter, bidan, perawat). Apabila diketahui
pasien/klien menderita penyakit berbasis lingkungan maka yang bersangkutan
dirujuk ke ruang klinik sanitasi. Pada ruang klinik sanitasi pasien/klien diberikan
penyuluhan dan bimbingan teknis, petugas mewawancarai pasien tentang
penyakit yang diderita dikaitkan dengan masalah kesehatan lingkungan4
Dari tabel terlihat bahwa jumlah pasien dengan penyakit berbasis
lingkungan yang dirujuk ke klinik sanitasi masih sangat sedikit yaitu sebanyak 23
orang pasien atau 0,03%. Tahun sebelumnya belum ada target kegiatan, tapi untuk
tahun 2016 target kunjungan ke klinik sanitasi adalah 10% dari semua kasus
penyakit berbasis lingkungan, tetapi puskesmas boleh memilih kasus penyakit
yang menjadi skala prioritas, berdasarkan kesepakatan dengan Pimpinan
Puskesmas Pauh kasus penyakit berbasis lingkungan yang menjadi prioritas
dirujuk ke klinik sanitasi adalah: diare, DBD, malaria, filariasis, cacingan,
keracunan makanan, TB Paru dan skabies, menurut data yang diperoleh dari poli

umum jumlah kasus tersebut selama tahun 2015 adalah 1020 kasus, sehingga
target kunjungan ke klinik sanitasi untuk tahun 2016 adalah 102 pasien.
Petugas juga membuat janji dengan pasien dan keluarganya apabila
diperlukan untuk melakukan kunjungan rumah untuk melihat langsung faktor
resiko penyakit yang dialami pasien tersebut. Setelah konseling di ruang klinik
sanitasi, pasien dapat mengambil obat di apotik puskesmas (loket obat) kemudian
pasien diperbolehkan pulang4. Sistem ini juga sudah diberlakukan di Puskesmas
Pauh. Namun pada pelaksanaan alur rujukan pasien penyakit berbasis lingkungan
masih belum optimal. Hal ini disebabkan karena petugas medis/paramedis
(dokter, bidan, perawat) yang melakukan pemeriksaan lupa merujuk pasien
penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi. Untuk mengoptimalkan alur
rujukan pasien penyakit berbasis lingkungan salah satu solusi yang bisa
diterapkan adalah dengan menempelkan media informasi mengenai alur rujukan
ke klinik sanitasi dan penyakit yang menjadi prioritas untuk dirujuk.
Untuk masalah kesehatan lingkungan terdapat beberapa program-program
kesehatan lingkungan, diantaranya:
Inspeksi Sanitasi Depot Air Minum Isi Ulang di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Dari grafik terlihat bahwa dari 48 DAMIU yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Pauh, 13 diantaranya tidak memenuhi syarat, karena berdasarkan
hasil inspeksi sanitasi memiliki tingkat resiko tinggi atau amat tinggi.
Sehingga pengawasan dan pembinaan terhadap DAMIU perlu lebih
diintensifkan

lagi

mengingat

produk

yang

dihasilkannya

langsung

dikonsumsi oleh masyarakat tanpa pengulahan lebih lanjut. Permasalahan


utama yang dijumpai saat melakukan pengawasan adalah banyak DAMIU
yang masih enggan memeriksakan sendiri air olahannya ke Laboratorium

Kesehatan dan bahkan tak banyak DAMIU yang mau mengurus Sertifikat
Laik Hygiene ke Dinas Kesehatan Kota Padang, kebanyakan alasannya
adalah biaya pemeriksaan labor yang cukup mahal dan tidak mau repot
dengan birokrasi pengurusan surat menyurat.
Pengelolaan Sampah dan Limbah di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Dari tabel terlihat bahwa sebagian besar masyarakat masih menerapkan
sistem pembakaran dalam pengelolaan sampah. Hal ini disebabkan karena
jangkauan fasilitas yang disediakan oleh DKP masih kurang walaupun
penerapan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014 tentang sampah telah
diberlakukan, demikian juga dengan pengelolaan limbah rumah tangga,
karena faktor geografis kecamatan Pauh yang dikelilingi oleh saluran air
maka bagi masyarakat membuang limbah langsung ke badan air masih
menjadi hal yang lumrah.
Penduduk yang Menggunakan Jamban Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh
Dari grafik diatas terlihat bahwa cakupan persentase penduduk yang
menggunakan jamban sehat adalah 43,9% masih jauh dari target yang
ditetapkan untuk tahun 2015 yaitu sebesar 75%. perlu pendekatan yang lebih
intensif lagi dalam upaya merubah perilaku masyarakat untuk berhenti buang
air besar sembarangan, kondisi yang umum terjadi di wilayah kerja
Puskesmas Pauh adalah dimana penduduk langsung membuang kotoran/tinja
ke saluran air yang banyak berada di sekitar pemukiman tanpa melalui septic
tank.

Tempat-tempat Umum di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh

Dari tabel diatas terlihat jumlah TTU yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Pauh adalah sebanyak 178, target pengawasan tempat-tempat
umum adalah 100% artinya semua TTU tersebut harus dikunjungi selama satu
tahun, ternyata tidak semua dapat dikunjungi. Tempat ibadah seperti mushala
kebanyakan dibuka saat waktu maghrib hingga subuh, sehingga tidak bisa
dilihat kondisi dalam sarana tersebut, juga rumah sakit yang ada di wilayah
kerja Puskesmas tidak menjadi wewenang sanitarian dalam melakukan
pengawasannya.
TTU yang memenuhi syarat di wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah
79,8% sedangkan target cakupan TTU yang memenuhi syarat adalah 85%,
sehingga pengawasan dan pembinaan TTU dapat lebih diintensifkan
kedepannya.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Rujukan pasien dengan penyakit berbasis lingkungan masih belum optimal
pelaksanaannya di Puskesmas Pauh
Inspeksi sanitasi terhadap DAMIU didapatkan 48 DAMIU yang ada di wilayah
kerja Puskesmas Pauh, 13 diantaranya tidak memenuhi syarat.
Masyarakat membuang limbah langsung ke badan air masih menjadi hal yang
lumrah
Pengelolaan sampah masyarakat di Puskesmas Pauh masih banyak yang dibakar.
5.2 Saran
Membuat media informasi mengenai alur rujukan sanitasi di ruang balai
pengobatan
Menambah bahan-bahan peraga dalam pelaksanaan konseling di klinik sanitasi
Puskesmas Pauh
Alat-alat untuk turun ke lapangan agar lebih ditambah

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. Dasar dasar Penyakit Berbasis Lingkungan , Jakarta: Rajawali
Press;2011.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Survei Kesehatan Nasional: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004
Substansi Kesehatan, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI;2005
Depkes RI. Panduan Konseling Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas.
Jakarta;2001.
Depkes RI. Rencana Strategi Lingkungan Sehat. Jakarta;2005
Notoatmodjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. PT. Rineka Cipta,
Jakarta;2007

Jalaluddin. Analisis Pola Penyakit Berbasis Lingkungan. Makasar. Program


Pascasarjana FKM UNHAS;2004
Depkes RI. Pedoman Teknis Klinik Sanitasi Untuk Puskesmas. Jakarta;2000
Depkes RI. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
Untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita. Jakarta;2002

Puskesmas Pauh. Laporan Bulanan Kesehatan Pekerja Puskesmas Pauh


2015. Padang: Puskesmas Pauh;2015