Anda di halaman 1dari 7

PARADIGMA POSTMODERN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Matakuliah Metodologi Penelitian Non-Positif

Oleh:
Dian Surya Ayu Fatmawati

(166 020 30 1111 015)

MAGISTER ILMU AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

PARADIGMA POSTMODERN

1. Pendahuluan
Pendekatan dalam penelitian kualitatif, merupakan sebuah upaya untuk mencari,
menemukan, atau memberi dukungan akan kebenaran yang relatif, dimana suatu model
biasanya dikenal dengan

paradigma. Muhadjir dalam bukunya Metode

Penelitian Kualitatif (2000:236) bahwa benang merah pola fikir


modern antara lain: yang rasionalistik, yang fungsionalis, yang
interpretif, dan yang teori kritis: yaitu dominannya rasionalitas.
Makalah ini akan membahas lebihh lanjut tentang konsep dari
paradigm postmo.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah focus penelitian postmo?
b. Apakah yang dimaksud The Great Interpreter?
c. Bagaimakah Pendekatan Yang Digunakan

Dalam

Paradigma

Postmo?
3. Pembahsan
a. Fokus Postmo
Paradigma Postmo yang dibahas dalam makalah ini muncul pertama kali di
lingkungan gerakan arsitektur. Arsitektur modern berorientasi pada
fungsi

struktur;

sedangkan

arsitektur

posmo

berupaya

menampilkan makna simbolik dari konstruksi dan ruang. Muhadjir


(2000:237) berpendapat bahwa Posmo bukan menolak rasionalitas
tetapi

tidak

membatasi

rasionalitas

pada

yang

linier,

tidak

membatasi pada yang standar termasuk yang divergen, horizontal,


dan

heterarkhik

tetapi

lebih

menekankan

pada

pencarian

rasionalitas

aktif

kreatif.

Bukan

mencari

dan

membuktikan

kebenaran, melainkan mencari makna perspektif dan problematis;


logika yang digunakan adalah logika unstandard menurut Borghert
(1996), logika discovery menurut Muhadjir (1982), atau logika
inquiry menurut Conrad (1993).
Tata berfikir spesifik yang dianut paradigm posmo yakni:

kontradiksi,

kontroversi, paradoks, dan dilematis. Paradigma ini lebih melihat realitas sebagai
suatu problematis, sebagai selalu yang perlu di inquired, yang selalu perlu didiscovered, sebagai sebuah kontroversial. Bukannya harus tampil ragu, melainkan
harus memaknai dan selanjutnya in action. Ber-action sesuai dengan indikator jalan
benar. Dalam indikator yang benar, dipertanyakan absolut itu dimana? Bagi para
sekuler: benar absolut adalah benar secara universal, benar berdasarkan keteraturan
semesta. Sedangkan keteraturan semesta sampai millenium ketiga pun masih banyak
yang belum terungkap. Beberapa waktu belakangan baru saja teramati bagaimana
suatu galaksi terbentuk, baru saja teridentifikasi DNA sebagai intinya gen yang
diturunkan, dengan diketemukannya struktur setiap sesuatu dapat dikembangkan
tiruan

berupa

polimer

dan

lainnya.

Bagi

yang

religius,

benar

absolut hanya diketahui Allah. Manusia berupaya mengungkap dan memanfaatkan


keteraturan semesta untuk kemaslahatan manusia.
Posmo dengan logika dan rasionalitas berupaya untuk in action berkelanjutan.
Segala yang problematis, yang beragam, yang kontradiksi perlu dipecahkan secara
cerdas untuk menemukan jalan menuju kebenaran Ilmiah. Muhadjir (2000)
memilahkan ilmu menjadi empat yakni:

Temuan

laboratory
Temuan fikir cerdas manusia, umumnya
Temuan rekayasa teknologi
Temuan rekayasa social
Pada era modern, baik positivist maupun postpositivist, para ahli terpusat pada

basic and advanced research yang umumnya lewat eksperimen

upaya membangun kebenaran dengan mencari tata hubungan rasional-logis, baik


secara linier pada positivist, maupun secara kreatif (divergen, lateral, holographik,
dan lain-lain) pada postpositivistik. Pada era Postmodern para ahli tidak mencari
hubungan rasional-integratif, melainkan menemukan secara kreatif kekuatan
momental dari berbagai sesuatu yang saling independen dan dapat dimanfaatkan.
Akhir era postposivist menampilkan pemikiran sistematik, sedang awal berfikir
postmodern perlu mulai mengembangkan pemikiran sinergik.Berfikir sistemik
sekaligus sinergik dapat dilakukan dalam paradigma postmodern.
b. The Great Interpreter
Beberapa pemikir terus berupaya memperbaiki cara memperbaiki kebenaran
epistemologiik. Dedukasi spekulatif dikritik, diperbaiki dengan induktif empiric
analitik. Dari berpikir deduktif spekulatif, diperbaiki menjadi empiric analitik,
diperbaiki menjadi holistic empiric dari grass root, diperbaiki dengan membangun
konstruk teori yang berkeadilan, dan akhirnya menyambut tuntutan percepatan
perubahan diperlukan kita menjadi The Great Interpreter. Siapa kita itu?Grass
root, ilmuwan, atau siapa?
Pada era posmo, sosok masa depan sebagai produk invensi manusia dalam
basic research dan produk inovasi manusia dalam membuat rekayasa teknologi dan
rekayasa sosial menjadi semakin sulit digambarkan. Sosok teknologi dan sosok

kehidupan manusia harus secara aktif kita interpreti dan kita harus selalu kreatif
mendekonstruk paradigm pemikiran kita.Kita sebagai individu dan terutama
sebagai kesatuan kehidupan manusia perlu mengembangkan karakteristik posmo
dalam berilmu pengetahuan.
c. Pendekatan Postmo (Pendekatan Dekonstruktif)
Muhadjir (2000) mengguakan istilah yang dapat saling dipertukarkan,
yakni postmodern dan dekonstruksi. Berpikir posmo pada hakikatnya adalah berpikir
dekonstruksi, demikian juga sebaliknya. Pendekatan yang digunakan, adalah
pendekatan dekonstruksi karena karakteristik teoretik metodologik paling dasar dan
esensial

dari

postmodern,

poststruktural

dan

postparadigmatik

adalah

mendekonstruksi. Berikut Pendekatan dekonstruktif dalam paradigm Postmo:


1) Daniel Bell : Masyarakat Pasca- Industri
Berkembangnya pendekatan postmodern memang berangkat dari kenyataan
perkembangan iptek yang luar biasa cepatnya dengan dampaknya pada ekonomi,
sosial, dan politik yang akhirnya terjadi pergeseran orientasi budaya manusia
masyarakat pascaindustri. Bell membagi masyarakat menjadi 3 bagian, yaitu:
a) Struktur sosial (menyangkut sistem ekonomi, teknologi, okupasional)
b) Polity (mengatur distribusi kekuasaan dan penyelesaian konflik kepentingan
kelompok dan individu)
c) Budaya (wadah ekspresi simbolisme dan makna)
2) Culture Shift Inglehart
Inglehart memilahkan materialist values dan postmaterialist values. Tujuantujuan

berikut

dipandang

sebagai

ekspresi

atau

aktualisasi

materialist/

postmaterialist value.
a) Materialist Values (klater pertama) : ketertiban nasional, stabilitas harga,
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, memiliki militer yang kuat, stabilitas
ekonomi dan kriminalitas minim.

b) Postmarialist Values (klaster kedua) : hak bicara rakyat atas keputusan


pemerintah, hak kebebasan bicara, hak bicara atas dunia kerjanya dan
lingkungan masyarakatnya, membuat kota dan desanya lebih nyaman,
membuat kehidupan masyarakat lebih ramah, dan lebih menghargai ide
daripada uang
3) Charles Handy : The Age of Unreason
The Age of Unreason (1991) merupakan buku tulisan Charles handy. Handy
berfokus terhadap kasus-kasus kecil dengan pemaknaan kreatif tak terduga.
Pemikiran ini menjadikan pemikiran orang, prediksi orang tentang kasusnya diakui
benar, sedangkan cara pemikiran dan prediksinya tidak lazim. Sifat kreatif tidak
terduga, pandangan bahwa kita adalah pencipta masa depan, dan ciptaan kita
itupun tidak dapat kita perkirakan, itulah sekian sifat dari postmodernisme.
4) Poststrukturalis Derrida
Jacques Derrida (1930) dikenal sebagai tokoh dekontruksi studi sastra yang
pertama. Dalam jangka panjang studi sastra hanya mengenal strukturalisme
positivistic (linguistic modern) dari Ferdinand de Saussere. Bagi Derrida symbol
ataupun tanda itu bersifat arbriter, pemknaannya tidak bersifat logosentris.
Postmodern merajut implikasi poststrukturalis dalam 3 core, yaitu : pencerahan
ilmu (kebenaran), aesthetic (keindahan) dan moralitas (kebaikan).
5) Postmodernisme Loytard
Jean- Francois Loytard (1942) dikenal sebagai tokoh yang pertama kali
mengenalkan konsep postmodernisme dalam filsafat.Istilah postmodern sudah
lama dipakai dalam dunia arsitektur. Dominasi luar biasa dari technoscience dalam
kebudayaan, melewati kebutuhan manusia.Sehingga technoscience memperburuk
krisis kemanusiaan, demikian Loytard

6) Postparadigmatik
Logika paradigmatic menggunakan alur tata fikir sekaligus : baik yang linier,
yang lateral, yang divergen, dan konvergen, juga menggunakan telaah substantive
dan instrumentatif, juga tata fikir logic lainnya.
4. Simpulan
5. Benang merah pola fikir modern antara lain: yang rasionalistik, yang fungsionalis, yang
interpretif, dan yang teori kritis: yaitu dominannya rasionalitas.

DAFTAR PUSTAKA
Borgherts, Donald M. 1996. The Encyclopedia of Philosophy Supplement. New York:
Simon & Schuster Macmillan.
Conrad, C., et al. 1993. Qualitative Research in Higher Education. Needham Heights MA:
Giun Press.
Muhadjir, Noeng, (2000), Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta:
Pakesarasin