Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Jumlah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu disebut

dengan curah hujan (presipitasi). Presipitasi hujan akan mempengaruhi proses


yang ada di dalamnya. Pengukuran hujan tersebut sangat berguna dalam proses
perencanaan pembangunan bendung, karena pembangunan akan berjalan dengan
lancar apabila adanya data pengukuran hujan tersebut. Rain guage digunakan
untuk mengukur banyaknya curah hujan, dimana curah hujan dapat diukur dalam
jam, hari, bulan, dan jugatahun.Variasi curah hujan dan juga besarnya presipitasi
rata-rata dapat diketahui secara makasimal apabila tempat tersebut dipasang alatalat penakar hujan dengan jumlah yang banyak.
Tinggi atau rendahnya air yang jatuh kepermukaan bumi (jumlah hujan)
dalam satuan waktu disebut dengan intensitas curah hujan. Analisis curah hujan
ini dilakukan untuk memprediksi kejadian hujan di setiap tempat dan waktu
tertentu.
Selain itu terdapat curah hujan desain yaitu untuk mengetahui curah hujan yang
terjadi pada periode tertentu. Data curah hujan sangat berguna untuk mengatur air
irigasi, terdapat beberapa metode yang digunakan untuk menghitung analisis
curah hujan desain diantaranya metode Log Person III, metode gumbel dan
metode distribusi normal. Setelah melakukan proses dengan metode tersebut maka
hasil yang diperoleh dari metode tersebut dibuat dalam kurva Intensity - DurationFrequency (IDF Curve) dimana IDF tersebut digunakan untuk mengetahui
intensitas, durasi, kedalaman, dan juga frekuensinya.

1.2 TujuanPraktikum
Adapun tujuan daripraktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi dari analisis curah hujan desain.
2. Menghitung analisis curah hujan dengan menggunakan metode gumbel,
metode log person III, dan metode distribusi normal.
3. Mengetahui cara membuat kurva IDF (Intensity-Duration-Frequency).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Presipitasi
Presipitasi merupakan semua hasil perubahan bentuk uap air yang turun ke

permukaan bumi dari atmosfir yang pada umumnya perubahan tersebut berbentuk
curah hujan (rainfall), gerimis (drizzle), selimut es (glaze), salju (snowfall), hujan
es (hail), hujan es, selimut es (glaze), dan salju (sleet). Presipitasi adalah faktor
utama yang mengendalikan proses daur hidrologi di suatu DAS. Beberapa
karakteristik yang dapat mempengaruhi produk akhir suatu hasil perencanaan
pengolahan DAS. Besar kecilnya presipitasi, waktu berlangsungnya hujan, dan
ukuran disaat intensitas hujan yang terjadi, baik secara sendiri maupun dengan
kombinasi maka hal tersebut dapat mempengaruhi kegiatan dalam sebuah
pembangunan. Terjadinya hujan karena adanya perpindahan massa suatu air basah
ke tempat yang lebih tinggi sebagai respon adanya beda tekanan udara antara dua
tempat yang memiliki perbedaan pada ketinggiannya. Adapun tiga faktor utama
mekanisme berlangsungnya hujan sebagai berikut :
1.

Kenaikan masa uap air ke tempat yang lebih tinggi sampai saatnya atmosfer
menjadi jenuh

2.

Terjadinya kondensasi atas partikel - partikel uap air di dalam atmosfer

3.

Partikel-partikel uap air tersebut bertambah besar sejalan dengan waktu


untuk kemudian akan jatuh ke bumi dan permukaan laut akibat adanya
gravitasi (Asdak, 2004).
Hal terpenting dalam pembuatan rancangan yang berhubungan dengan curah

hujan adalah distribusi curah hujan itu sendiri. Distribusi curah hujan berbedabeda sesuai dengan jangka waktu yang ditinjau, yaitu curah hujan tahunan (jumlah
curah hujan dalam satu tahun), curah hujan bulanan (jumlah curah hujan dalam
satu bulan), curah hujan dalam harian (jumlah curah hujan dalam 24 jam), curah
hujan perjam. Harga-harga yang diperoleh ini dapat digunakan untuk menentukan
kemungkinan dikemudian hari dan akhirnya untuk perancangan sesuai dengan
tujuan yang dimaksud ( Sophia, 2016).

2.2

Analisis Frekuensi
Analisis Frekuensi yaitu penetapan hujan dan banjir rancangan/rencana

berdasarkan analisis statistik data hujan dan debit yang tersedia. Untuk
mendapatkan curah hujan rencana untuk keperluan desain, dilakukan analisis
frekuensi terhadap data curah hujan harian maksimum. Hasil dari analisis
frekuensi ini adalah curah hujan dengan beberapa periode ulang sesuai dengan dua
cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. (Mawiti, dkk. 2015)

2.2.1

Analisis Frekuensi Secara Langsung


Analisis frekuensi secara langsung dapat dilakukan dengan dua metode

yaitu :
1) Analisis Frekuensi berdasarkan interval kedalaman hujan (Depth Interval),
metode ini digunakan jika data yang ada cukup banyak (misal data harian).
Prosedur yang harus dilakukan :
1. Tentukan banyaknya kelas interval, batas bawah (a), dan batas bawah
(b) berdasarkan data kedalaman hujan.
a. Banyaknya kelas ditentukan berdasarkan persamaan k = 1 + 3.322
log n.
b. Besar kelas/ panjang kelas interval ditentukan berdasarkan
persamaan c=

, dimana Xn dan Xi masing masing adalah

nilai data terbesar dan nilai data terkecil.


2. Hitung jumlah data pada masing masing kelas interval ( ai < p bi =
mi).
3. Hitung frekuensi (F) dimana F (ai < p bi ) = mi/n dengan n adalah
jumlah data kedalaman hujan.
4. Hitung periode ulang T = 1/F.
5. Analisis Frekuensi berdasarkan ranking kedalaman hujan (Depth
Ranking), metode ini digunakan jika data yang ada tidak banyak (misal
data bulanan). Prosedur yang harus dilakukan adalah:
(1). Rangkingkan data hujan bulanan berurut dari besar ke kecil
(2). Hitung frekuensi (F) terlampaui dimana F ( P > Pr ) = r/(n+1) dengan
r adalah nilai rangking dan n adalah jumlah data kedalaman hujan

(3). Hitung periode ulang T = 1/F ( Sophia, 2016)

2.2.2 Analisis Frekuensi Secara Tidak Langsung


Secara tidak langsung analisis frekuensi dilakukan terhadap curah hujan
harian maksimum, cara dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:

Metode Log Person III

Metode Gumbel

Metode Weduwen

Metode Normal

Metode Log Normal

Metode analisis distribusi frekuensi yang sering digunakan dalam bidang


hidrologi :
Distribusi Normal
Distribusi Log Normal
Distribusi Log Person III
Distribusi Gumbel ( Asdak, 2004)
Secara tidak langsung analisis frekuensi dilakukan terhadap curah hujan
harian maksimum, dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu :
1) Metode Gumbel
Menurut Gumbel, curah hujan untuk periode ulang tertentu (TR) dihitung
berdasarkan persamaan berikut :
XTR = + (

) Sx

Besarnya koefisisen koefisien diatas dihitung dengan persamaan berikut:


YTR = -ln ( ln(

))

=1( )

Sx =

Dimana :
XTR

= Curah hujan dengan periode ulang TR (mm)

= Curah Hujan rata rata (mm)

TR

= Periode ulang

Sn = Konstanta berdasarkan jumlah data yang dianalisis

=Standar Deviasi dari data X

Gambar 1 . Tabel LA-1 Metode Gumbel Reduced Mean (Yn)


(Sumber: Sri Harto, 2007)

Gambar 2 . Tabel LA-2 Metode Gumbel Reduced Standard Deviation (Sn)


(Sumber: Sri Harto, 2007)

2) Metode Log Person III


Analisis frekuensi dengan menggunakan metode log person III dilakukan
dengan persamaan berikut :
Log XTR = Log X +(KTR x S Log X)
Besarnya koefisien koefisien diatas dihitung dengan persamaan berikut :
Log X =

( )2

SLogX =

( )3

Cs = (1)(2)(

3
)

XTR = Anti log XTR


Dimana :
XTR

= Curah hujan dengan periode ulang TR (mm)

= Curah hujan rata rata (mm)

TR

= Periode ulang

KTR

= Faktor frekuensi berdasarkan periode ulang TR ( Tabel LA- 4)

Cs

= Koefisien kemiringan , digunakan untuk mencari besarya harga KTR

= Jumlah data hujan yang ditinjau

SLogX = Standar Deviasi dari log X ( Sophia, 2016)

Gambar 3 . Tabel LA-4 Nilai K Untuk Distribusi Log Pearson III


(Sumber: Sri Harto, 2007)

Gambar 4. Tabel LA-5 Metode Distribusi Normal Nilai Variabel Reduksi Gauss
(Sumber: Sri Harto, 2007)

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Berikut ini adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum adalah
sebagai berikut:
1.

Alat-alat tulis seperti pulpen, pensil, penggaris, dll

2.

Data Curah Hujan harian dari tahun 1998 sampai 2012

3.

Kalkulator

4.

Laptop

5.

Modul praktikum hidrologi

3.2 Metode Pelaksanaan


Berikut ini adalah langkah kerja yang harus dilakukan dalam praktikum adalah
sebagai berikut:
1.

Alat tulis seperti pensil atau pulpen disiapkan dan kalkulator juga disiapkan
untuk menghitung

2.

Tabel jumlah curah hujan yang ada di data curah hujan dari tahun 1998
sampai tahun 2012 ditentukan dan dijumlahkan tiap bulannya dan rataratanya juga dihitung

3.

Pada tabel jumlah curah hujan harian, ditentukan bulan mana saja yang
menjadi bulan hujan kering yang ditandai dengan warna hijau dengan data
jumlah curah hujan kurang dari 100 mm (< 100 mm)

4.

Modul praktikum hidrologi dibuka dengan topik Presipitasi pada halaman 17


sampai dengan halaman

5.

Data curah hujan maksimum Rencana/Desain disusun ke dalam tabel dengan


periode ulang (TR) 2, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100. Masing-masing
data yang didapatkan menggunakan Metode Log Person III, Metode Gumbel
dan Metode Distribusi Normal

6.

Intensitas hujan dihitung dengan menggunakan Metode Mononobe ke dalam


tabel untuk curah hujan Rencana/Desain hasil analisis frekuensi Metode Log
Person III, Metode Gumbel dan Metode Distribusi Normal.

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM
4.1 Hasil
Tabel 4.1.1. Tabel Curah Hujan Bulanan
Rata-rata tabel curah hujan bulanan secara keseluruhan adalah 3491.002083
Tahu

Ja

Fe

22

55

27

23

29

28

55

25

44

22

26

24

32

19

31

36

40

44

22

32

25

21

38

30

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Mar

Ap

Ma

Ju

35
492

394

Se
Jul Aug p

27

28

38

334 9

166

21
312

133

84

Nov

36

25

543

125 86

33

11
256

275 4

52

19

18

34

360.768611
468

391 1
159.332638

200

174 9
271.310069

579

215 4
305.913888

459

294 9

19
257

183.225694
119

48

36

24

24
196

73

10

10

18

320

513 4
153.459027

227

281 8

20
243

154.422916
185

33

32

19

25

18
373

42

224

330 7

16

208.941666

100

179 98

57

85

249

332 7

225

47

43

28

61

185

403

473

478

33
224

46

55
166

14
88

111 13

12

12

29
478

203

216.50625
193.604166

72

31

82

31
338

Rata-rata

26

41
470

De

22

50
298

Oc

300

117 23

20

78

96

12

29

449

279 7
243.189583

323

374 3

2010

2011

2012

57

40

27

22

23

33

21
547

17
412

215 4

192

31
339

263

213 79

71

45

52

14

30

38
204

379.154166
561

270 7

370

354

471

518

16
129

48

42

16

245.65

212.0875

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

Rata-rata tabel curah hujan maksimum secara keseluruhan adalah 491.191498


Tahu
n
1998

Fe

Ma

Ap

Ma

Ju

Jan b

Jul

Sep Oct v

Rata-Rata

22

56

31

31

42

34

26

39

35

37

48

Au

No

36

46

De

37.168055
1999

23

17

28

20

15

2000

33

30

26

36

45

28

23

22

15

56

32

40

23

20.3
32.637037

2001

46

32

40

45

25

37

23

28

31

69

42

04
38.034848

2002

37

33

30

22

2003

31

21

21

41

18
22

34

40

61

48

26

22

34.575
27.314583

2004

26

24

23

32

25

2005

19

32

26

23

17

2006

36

40

18

26

19

28

23

19

28

33

30

21

25.275

28

39

24.01875
29.386071

2007

30

39

18

56

2008

33

17

35

31

2009

34

33

22

30

18

31

30

27

42

58

46

53

43

44

34

36.125

47

51

32.125
36.994444

2010

45

34

65

33

37

39

2011

29

22

33

31

24

23

53

27

55

78

78

42

44

23

27

35

26

48.820833

33
2012

17

38

30

52

17

35

98

45

Tabel 4.1.2. Tabel Curah Hujan Maksimum


(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)
4.2

Perhitungan Curah Hujan dengan Periode Ulang TR Menggunakan


Metode Gumbel

4.2.1 Hasil
Tabel 4.2.1.1 Tabel Rata-Rata Curah Hujan
Tahun

Rata-Rata Maks

1998

37.168

1999

20.3

2000

32.637

2001

38.035

2002

34.575

2003

27.315

2004

25.275

2005

24.019

2006

29.386

2007

36.125

2008

32.125

2009

36.994

2010

48.821

2011

27.158

2012

41.259

Rata-Rata 32.7461
Stdev

7.4187

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

Tabel 4.2.1.2 Tabel Hasil Perhitungan


TR

YTR

0.366512921 -0.143334391

XTR
31.68274586

27.1575

1.499939987 0.967215351

39.92157504

10

2.250367327 1.702495912

45.37639685

15

2.673752092 2.117334991

48.45396121

20

2.970195249 2.407794679

50.60879288

25

3.198534261 2.63152485

52.26857866

30

3.384294493 2.813535659

53.61886123

50

3.901938658 3.320731587

57.38159284

75

4.310784111 3.721324819

60.35347163

100

4.600149227 4.004849331

62.45685334

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

4.2.2

Perhitungan
Perhitungan nilai curah hujan dengan periode ulang TR 2

= + (
)

1
= ln { ln (
)}

Dimana :
= Rata-rata CH maks tahunan(mm)
XTR = curahhujandenganperiodeulang TR (mm)
TR = periode ulang
Sx = standar deviasi
Yn = konstanta berdasarkan data = 0,5128
Sn = konstanta berdasarkan data = 1,0206
Dengan keterangan nilai Yn = 0,5128 dan nilai Sn = 1,0206 untuk 15

tahun berdasarkan tabel Reduced Mean (Yn) dan Reduced Standard Deviatian
(Sn) untuk metode Gumbel.
21

= ln { ln (

)} =0.366512921

0,3665129210,5128

= 32.7461 + (

1,0206

) 7.4187 = 31.68274586mm

4.3 Perhitungan Curah Hujan dengan Periode Ulang TR Menggunakan


Metode Log Pearson III
4.3.1 Hasil
Tabel 4.3.1.1 Tabel Rata-Rata Curah Hujan
Tahun

Rata-Rata Maks

Log X

1998

37.16805556

1.570169842

1999

20.3

1.307496038

2000

32.63703704

1.513710724

2001

38.03484848

1.580181691

2002

34.575

1.538762189

2003

27.31458333

1.43639458

2004

25.275

1.402691164

2005

24.01875

1.380550402

2006

29.38607143

1.46814153

2007

36.125

1.557807856

2008

32.125

1.506843136

2009

36.99444444

1.56813651

2010

48.82083333

1.688605188

2011

27.1575

1.433889788

2012

41.259375

1.615522645

Rata-Rata 32.74609991

1.504593552

stdev

7.418694432

0.099964856

Skewness

0.351985301

-0.213283127

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

Tabel 4.3.1.2 Tabel Pencarian Nilai KTR


TR (Periode Ulang)

Nilai KTR

0.033

0.85

10

1.238

15

1.3853

20

1.5326

25

1.68

30

1.733

50

1.945

75

2.0615

100

2.178
(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

Tabel 4.3.1.3 Tabel Hasil Perhitungan


Tr

KTR

Log XTR

XTR

0.033

1.507892392

32.20270788

0.85

1.589563679

38.86544811

10

1.238

1.628350043

42.49619472

15

1.3853

1.643074867

43.96173931

20

1.5326

1.65779969

45.47782538

25

1.68

1.67253451

47.04727885

30

1.733

1.677832647

47.6247432

50

1.945

1.699025196

50.00635461

75

2.0615

1.710671102

51.36545056

100

2.178

1.722317008

52.76148465

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

4.3.2
4.3.2.1

Perhitungan
Perhitungan nilai KTR
Perhitungan nilai KTR merupakan interpolasi berdasarkan tabel LA-4

(Nilai K Untuk Distribusi Log-Pearson III) dengan menggunakan alat hitung


kalkulator.
4.3.2.2 Perhitungan nilai curah hujan

log = log
+ ( log )

Dimana :

log =rata-rata log curah hujan maksimum

= Faktor frekuensi berdasarkan periode ulang


log = standar deviasi dari log x

log = log
+ ( log )
log = 1.504593552 + (0,033 0.099964856)
log = 1.507892392
= log
= (1.507892392)
= 32.20270788 mm
4.4 Perhitungan Curah Hujan dengan Periode Ulang TR Menggunakan
Metode Distribusi Normal

4.4.1 Hasil
Tabel 4.4.1.1 Tabel Rata-Rata Curah Hujan

Tahun

Rata-Rata Maks

1998

37.16805556

1999

20.3

2000

32.63703704

2001

38.03484848

2002

34.575

2003

27.31458333

2004

25.275

2005

24.01875

2006

29.38607143

2007

36.125

2008

32.125

2009

36.99444444

2010

48.82083333

2011

27.1575

2012

41.259375

Rata-Rata 32.74609991
stdev

7.418694432

Skewness

0.351985301

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

Tabel 4.4.1.2 Tabel Hasil Perhitungan


TR

KT

XTR

32.74609991

0.84

38.97780323

10

1.28

42.24202878

15

1.46

43.57739378

20

1.64

44.91275878

25

1.7083

45.41945561

30

1.7766

45.92615244

50

2.05

47.95442349

75

2.19

48.99304071

100

2.33

50.03165793

(Sumber : Hasil Praktikum, 2016)

4.4.2

Perhitungan

4.4.2.1 Perhitungan nilai KT


Perhitungan nilai KT merupakan interpolasi berdasarkan tabel LA-5 (Nilai
Variabel Reduksi Grauss Untuk Metode Distribusi Normal) dengan menggunakan
alat hitung kalkulator.
4.4.2.2 Perhitungan nilai curah hujan dengan periode ulang 25
= +
Dimana :

KTR = Faktor frekuensi


= rata-rata curah hujan maksimum
S = standar deviasi

XTR = 32.74609991 + (0 7.418694432) = 32.74609991

4.5 Grafik
4.5.1 Grafik Metode Distribusi Normal

4.5.2 Grafik Metode Gumbel

4.5.3 Grafik Metode Log Person III

Shinta Atilia Diatara


240110150028
BAB V
PEMBAHASAN

5.1

Pembahasan
Pada praktikum hidrologi teknik kali ini praktikan menganalisis frekuensi

terhadap data curah hujan desain dan juga membuat kurva Intensity-DurationFrequency (IDV curve). Analisis frekuensi curah hujan dilakukan dengan dua
cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Analisis frekuensi secara
tidak langsung dilakukan dengan menggunakan metode Gumbel, metode Log
Pearson III dan metode distribusi normal. Untuk melakukan ketiga metode diatas
maka praktikan menggunakan data rata-rata curah hujan maksimal tahunan dari
tahun 1998 sampai tahun 2012.
Hal pertama yang dilakukan untuk menganalisis frekuensi curah hujan
maksimum maka praktikan terlebih dahulu menentukan bulan basah untuk setiap
tahun. Kemudian praktikan menghitung nilai rata-rata curah hujan maksimum dari
tahun 1998 sampai tahun 2012. Setelah dihitung praktikan mendapatakn hasil
nilai rata-rata curah hujan maksimum dari tahun 1998 sampai tahun 2012 adalah
sebesar 33.
Pada praktikum kali ini untuk menganalisis frekuensi curah hujan
maksimum praktikan menngunakan metode Gumbel terlebih dahulu. Kemudian
menggunakan metode log Pearson III dan yang terakhir metode distribusi normal.
Ke tiga metode tersebut mempunyai persamaan yang berbeda-beda. Metode yang
pertama digunakan adalah metode gumbel dimana dalam metode gumbel
perhitungan durasi hujan dalam periode ulang sangat bergantung pada nilai Xt
dan durasi dari curah hujan tersebut. Praktikan akan mengolah data curah hujan
maksimum tersebut untuk menghasilkan data periode ulang 2, 5, 10, 15, 20, 25,
30, 50, 75 dan 100 tahun. Setelah dilakukan perhitungan praktikan mendapatakan
hasil bahwa nilai rata-rata curah hujan mengalami penurunan dari waktu 5 menit
yaitu 57,36 mm sampai waktu 720 menit yaitu 2,09 mm. Penurunan tersebut bisa
saja terjadi karena semakin lama waktu hujan maka akan semakin kecil pula nilai
curah hujan yang turun.

Setelah menggunakan metode gumbel praktikan menggunakan metode log


person III untuk menentukan nilai periode ulang 2, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 50, su75
dan 100 tahun. Pada dasarnya metode gumbel dan metode log personIII hampir
sama yang membedakan adalah rentang jumlah nilai nya relatif lebih kecil
daripada metode gumbel. Setelah dialakukan percobaan pada metode log
personIII

ternyata metode tersebut dinilai lebih akurat dibandingkan dengan

metode gumbel.
Metode terakhir yang digunakan dalam penganalisisan curah hujan desain
adalah metode distribusi normal. Setelah dilakukakan percobaan ternyata data
yang dihasilkan hampir sama dengan metode gumbel dan metode log person III,
yang membedakan adalah rentang angka yang dihasilkan lebih kecil daripada
metode log personIII.
Dari data yang telah diperoleh praktikan dapat disimpulkan bahwa hasil data
yang diperoleh dari ketiga metode tersebut tidak jauh berbeda. Untuk hasil data
yang diperoleh metode gumbel memiliki hasil yang lebih tinggi sedangakan
metode distribusi normal memiliki hasil yang lebih rendah dari metode yang ada
tersebut.
Kurva Intensity-Duration-Frequency (IDV curve), menunjukan jika nilai
perhitungan akan meningkat ke arah periode ulang yang semakin besar dan akan
menurun ke arah lama waku yang semakin besar. Dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi lama waktu hujan terjadi, maka curah hujannya akan semakin
sedikit sedangkan semakin sedikit lama waktu hujan, maka curah hujannya akan
semakin

banyak.

Redno Pebrina S.
240110150015
5.1

Pembahasan
Pada praktikum hidrologi teknik kali ini membahas menegenai analisis curah

hujan desain menggunakan data dari tahun 1998 tahun 2012. Data tersebut pada
praktikum sebelumnya sudah dihitung rata rata setiap bulan curah hujannya
sehingga pada praktikum ini praktikan langsung mencari rata rata,stdev dan juga
periode ulang sampai 100 tahun.
Untuk menghitung curah hujan harian maksimum, dapat menggunakan dengan
tiga metoda, yaitu yang pertama metode Gumbel, hasil rata-rata dari rata-rata
maksimum adalah 32,67 dan stdev (standar deviasi) adalah 7,67. Perhitungan curah
hujan untuk periode ulang didapatkan dari nilai XTR atau curah hujan dalam kurun
waktu 100 tahu adalah 31,57; 40,08; 45,72; 48.90;51,13; 52,85;54,24;58,13;61,20
dan 63,38. Pencarian curah hujan untuk periode ulang tertentu menggunakan metode
gumbel yaitu menggunakan data yang sudah ada yaitu curah hujan rata- rata,
konstanta berdasarkan jumlah data yang dianalisis, standar deviasinya, dan waktu
periode ulang.
Metode yang kedua adalah distribusi normal, hasil rata rata dari rata-rata
maksimum dan stdev(standar deviasi) yang didapatkan juga sama. Perhitungan curah
hujan dengan periode ulang (XT ) menggunakan nilai rata-rata maksimum ,
simpangan baku atau sama dengan standar deviasi, dan faktor frekuensi dimana
nilainya untuk berbagai periode ulang yang sudah tersedia dalam tabel nilai variabel
reduksi Gauss. Pada tabel nilai variabel reduksi Gauss terdapat nilai peluang dan
faktor frekuensi berdasarkan periode ulang. Jadi, untuk mencari perkiraan nilai yang
diharapkan dengan periode ulang tahunan haruslah menggunakan tabel variabel
reduksi Gauss.
Metode yang ketiga adalah metode log person III. Hasil yang didapatkan
menggunakan metode untuk nilai rata- rata dan stdev (standar deviasi) adalah sama.
Namun, dalam metode ini diperlukan data skewness, nilai skewness rata rata
maksimum adalah 0,3 dan nilai skewness Log x atau nilai logaritma rata rata
maksimum adalah -0,2. Dalam metode ini menggunakan Log x yaitu nilai logaritma
rata- rata maksimum. Koefisien koefisien yang digunakan untuk metode ini adalah
curah hujan rata- rata, periode ulang, koefisien kemiringan, digunakan untuk mencari

besarnya harga faktor frekuensi berdasarkan periode ulang, standar deviasi, dan
jumlah data yang ditinjau. Untuk mendapatkan nilai K diperoleh dari tabel periode
ulang dan persentase peluang terlampaui.
Berdasarkan ketiga metode diatas untuk analisis frekuensi terhadap curah
hujan harian mendapatkan hasil yang sama, tetapi langkah langkah dan
penggunaan data datanya berbeda. Tujuan dari melakukan analisis ini sendiri
adalah untuk mendapatkan curah hujan rencana untuk keperluan desain. Analisis
frekuensi dapat diartikan sebagai suatu cara untuk memprediksi suatu besaran curah
hujan dimasa yang akan datang dengan menggunakan data curah hujan dimasa yang
lalu berdasarkan suatu pemakaian distribusi frekuensi. Dalam setiap metode yang
telah digunakan, curah hujan maksimum selalu digunakan karena diperlukan untuk
mengetahui seberapa tinggi atau lebatkah kejadian hujan yang terjadi diwilayah yang
sedang diteliti, sehingga dapat diketahui berapa seharusnya kapasitas tampung yang
ideal bagi suatu drainase, sehingga nantinya tidak terjadi luapan di wilayah tersebut.
Curah hujan maksimum sendiri dapat diartikan sebagai curah hujan tertinggi yang
terjadi dan biasanya diambil curah hujan tertinggi dalam satu bulan. Dalam
perencanaan suatu saluran drainase data curah hujan maksimum yang digunakan
adalah curah hujan maksimum ketika terjasu bulan basah.
Untuk hasil akhir masing- masing analisis frekuensi dibutuhkan kurva IDF
untuk menunjukkan seberapa besar intensitas hujan dalam suatu kurun waktu dimana
air tersebut terkonsentrasi. Besarnya intensitas curah hujan sangat diperlukan untuk
perhitungan debit banjir. Praktikum dapat bermanfaat untuk perkiraan banjir yang
bisa terjadi dan bisa di cegah dari hasil yang telah didaptkan.

Prayoeda Iskandar
240110150026
5.2

Pembahasan
Pada praktikum kali ini praktikan melakukan perhitungan mengenai analisis

curah hujan desain. Dalam analisis curah hujan desain (Rn) praktikan dapat
mendistibusi curah hujan yang berbeda-beda sesuai dengan waktu yang diamati,
dalam pengamatan waktu ini dapat dikelompokan dalam tiga kelompok yaitu curah
hujan tahunan (jumlah curah hujan dalam satu tahun), curah hujan bulanan (jumlah
curah hujan dalam satu bulan), dan curah hujan harian (jumlah curah hujan dalam 24
jam). Perlunya desain dalam analisis curah hujan yaitu untuk mendapatkan curah
hujan yang sesuai dengan rencana. Untuk mendapatkan curah hujan rencana dalam
keperluan desain praktikan perlu mendapatkan data curah hujan tahunan, bulanan
maupun harian sesuai dengan frekuensi yang didapatkan, hasil data didapatkan
dengan melakukan analisis frekuensi terhadap data curah hujan harian maksimum.
Hasil dari analsisi frekuensi curah hujan dengan bebarapa periode ulang sesuai
dengan kebutuhan desainnya. Analisis frekuensi curah hujan dapat dilakukan dengan
2 caya, yaitu langsung dan tidak langsung.
Analisis frekuensi curah hujan secara tidak langsung dilakukan terhadap curah
hujan maksimum. Cara ini dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu Metode
Gumbel, Metode Log Person III serta Metode Distribusi Normal. Analisis frekuensi
curah hujan secara tidak langsung dilakukan terhadap curah hujan maksimum. Cara
ini dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu Metode Gumbel, Metode Log Person
III serta Metode Distribusi Normal. Pada Metode Gumbel, curah hujan untuk periode
ulang (XTR) 2, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan persamaan .
Dalam menghitung curah hujan dengan periode ulang (XTR), yang harus dilakukan
adalah mencari terlebih dahulu nilai curah hujan rata-rata maksimumnya (),
kemudian cari nilai YTR, kemudian cari nilai standar deviasi dari data (Sx), yaitu
dengan menggunakan Microsoft Excel dengan formula (=STDEV (data rata-rata
curah hujan maksimum)). Lalu hitung nilai Yn serta Sn(tabel yang menunjukkan nilai
Reduced Mean / Yn) (tabel yang menunjukkan nilai Standard Deviation / Sn)pada n =
10 (karena dari tahun 2001 sampai tahun 2010). Maka didapatlah nilai curah hujan
pada periode ulang (XTR) 2, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 dengan

menggunakan persamaan Metode Gumbel (XTR) (terdapat pada Bab Tinjauan


Pustaka).
Pada Metode Log Person III, curah hujan untuk periode ulang (XTR) 2, 5, 10,
15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan persamaan. Dalam menghitung curah
hujan dengan periode ulang (XTR), yang harus dilakukan adalah mencari terlebih
dahulu nilai Log X pada data curah hujan maksimum di tiap tahunnya. Kemudian
cari S

Log x

yaitu nilai standar deviasi dari Log X, dengan menggunakan Microsoft

Excel, gunakan formula (=STDEV (data curah hujan maksimum Log X)).
Pada Metode Distribusi Normal, curah hujan untuk periode ulang (XTR) 2, 5,
10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan persamaan). Dalam menghitung
curah hujan dengan periode ulang (XTR), yang harus dilakukan adalah mencari
terlebih dahulu nilai curah hujan rata-rata maksimumnya (). Kemudian, cari nilai S,
yaitu simpangan baku (standar deviasi) pada data curah hujan maksimum, yaitu
dengan menggunakan Microsoft Excel dengan formula (=STDEV (data rata-rata
curah hujan maksimum)). Setelah itu, cari nilai KT, yaitu faktor frekuensi/faktor
probabilitas dimana nilainya berbagai untuk berbagai periode ulang yang sudah
tersedia dalam tabel nilai variabel reduksi Gauss .Maka didapatlah nilai curah hujan
pada periode ulang (XT) 2, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 dengan
menggunakan persamaan Metode Distribusi Normal (XT)
Setelah didapatkan semua nilai curah hujan pada periode ulang (TR) 2, 5, 10,
15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan ketiga metode tersebut, dibuatlah tabel
yang menunjukkan perbedaan nilai curah hujan pada periode ulang (TR) tertentu).
Setelah dibandingkan nilainya pada tiap-tiap metode, terdapat perbedaan nilai yang
ada di ketiga metode tersebut. Pada metode Log Person III dan metode Distribusi
Normal terdapat kesamaan dalam hal besar nilai curah hujan walaupun terdapat
selisih (rentang selisih 1 sampai 2). Namun, pada metode Gumbel, terdapat selisih
yang tidak terlalu besar, yaitu rentang selisih 1 15. Hal tersebut menunjukkan
bahwa dalam menghitung besar curah hujan pada periode ulang (TR) tertentu dapat
menggunakan ketiga metode tersebut walaupun terdapat perbedaan hasil yang
sedikit di antara ketiganya.

ristina sitanggang
240110150009
5.1

Pembahasan
Pada Praktikum yang telah kami lakukan kali ini yaitu tentang analisis curah

hujan wilayah. Praktikum ini untuk mengetahui hubungan curah hujan dengan
rencana kegiatan irigasi dan drainase. Pada praktikum kali ini kita akan menganalisis
curah hujan desain. Analisisini diperlukan untuk memprediksi suatu besaran jurah
hujan di masa yang akan datang. Data hidrologi yang dianalisis diasumsikan tidak
tergantung independent terdistribusi secara acak dan bersifat stokastik yaitu memiliki
peluang. Analisis frekuensi ini didasarkan pada sifat statistik data kejaduian yang
telah lalu untuk memperoleh probabilitas besaran hujan di masa yang akan datang
dengan anggapan bahwa sifat statistik kejadian hujan di masa akan datang akan
masih sama dengan sifat statistik kejadian hujan masa lalu. akan praktikan gunakan
prediksi curah hujan di amasa yang akan datang adalah daerah cieureum cisomang
cialengka ciiherang.
Data curah hujan yang akan praktikan gunakan untuk pendugaan curah hujan
ke depannya adalah data curah hujan selama 10 tahun yaitu dari tahun 2001 hingga
tahun 2010 ntuk menganalisis curah hujan yang akan datang ada dua -ara yang
digunakan yaitu secara langsung dan tidak langsung. Dalam praktikum kali ini kita
akan menggunakan penggunaan secara tidak langsung dengan menggunakan data
curah hujan maksimum. Cara yang dapat dilakukan dengan menggunakan tiga
metode yaitu.Pert metode distribusi, metode gumbel dan metode log person III .
Distribusi Log-Pearson Tipe III banyak digunakan dalam analisis hidrologi, terutama
dalam analisis data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum) dengan nilai
ekstrem. Bentuk komulatif dari distribusi Log-Pearson Tipe III dengan nilai
variatnya X apabila digambarkan pada kertas peluang logaritmik (logarithmic
probability paper)
Dalam praktikum ini kita akan menghitung curah hujan bulanan dari data
tersebut. Dari data ini kita dapat menentukan bulan basah dan bulan kering dari data
tersebut. Dalam praktikum kali ini kita hanya akan menggunakan data bulan basah
yaitu data curah hujan yang lebih dari dari 100mm. ;ntuk bulan kering kita dapat
menandakannya untuk menghindari kekeliruan. Dari data yang diperoleh adalah
bulan kering selama januari 2001 sampai dengan Desember 2010 sampel data curah

hujan wilayah dapat dilihat pada BAB IVhasil 4.1. Setelah itu kita juga dapat
menentukan curah hujan maksimal dari data yang diperoleh hujan malksimal adalah
jumlah curah hujan tertinggi yang terjadi dalam suatu bulanan untuk memprediksi
besaran curah hujan di masa mendatang kita hanya akan menggunakan curah hujan
maksimal ketika tejadi pada bulan basah maka curah hujan maksimal ketika terjadi
bulan kering dapat praktikan kosongkan.
Setelah itu kita ddapat merata-ratakan curah hujan maksimal dari bulan januari
sampai dengan desember selama tahun 2001 sampai 2010 sebagai data yang
digunakan untuk metode penugasan data hujan. Tabel data curah hujan maksimal
dapat dilihat pada BAB IV Selang utnya kita adpat merata-rata kan lagi rata-rata
curah hujan maksimal dari datadiatas sebagai data untuk ketiga metode tersebut .nilai
rata-rata yang diperoleh praktikan yaitu .selanjutnya praktikan juga menghitung
standar devisiasi data rata-rata curah hujan maksimal tersebut untuk ketiga metode
tersebut. Standar devisiasi yang kami dapat adalah C.; ntuk metode distribusi normal
kita juga dapat menghitung faktor frekuensi dan prakiraan nilai yang diharapkan
terjadi pada periode ulang 20 tahunan. faktor frekuensi untuk setiap periode ulang
tahunan didapat dari tabel nilai Periode ulang yang digunakan untuk ketiga metode
ini adalah 2, 5, 10, 15, 25, 75 ntuk periode ulang tahun yang tidak terdapat pada
tabel kita dapat menggunakan hasil yang diperoleh dari data yang didapat dari hasil.

Jihan Fitriyani
240110150023
5.5 Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas mengenai Analisis Curah Hujan Desain.
Analisis curah hujan desain (Rn) adalah besarnya curah hujan yang direncanakan
akan terjadi pada kurun waktu tertentu. Hal tersebut harus dapat dibedakan antara
pengertiannya dengan hujan terbesar. Hujan terbesar (absolut maksimum) akan
terjadi kapan saja dan tidak akan ada hujan yang lebih besar dari hujan terbesar.
Hujan rencana tidaklah sebesar hujan absolut maksimum. Hujan rencana diharapkan
akan terjadi pada jangka waktu tertentu dan sulit untuk diprediksi, artinya pada suatu
jangka waktu tersebut hujan ini akan terjadi lagi. Misalnya hujan 15 tahun, adalah
hujan yang akan terjadi pada tiap-tiap 15 tahun sekali, demikian pula untuk hujan 30
tahun, 45 tahun dan 100 tahun. Angka-angka tersebut diatas (15, 30, 45, 100) disebut
periode ulang (return period).
Untuk mendapatkan curah hujan rencana untuk keperluan desain, maka
dilakukan dengan cara analisis frekuensi terhadap data curah hujan harian
maksimum. Hasil dari analisis frekuensi ini adalah curah hujan dengan beberapa
periode ulang sesuai dengan kebutuhan desain. Frekuensi hujan adalah besaran
kemungkinan suatu besaran hujan disamai atau dilampaui. Sebaliknya, periode ulang
adalah waktu hipotetik dimana hujan dengan suatu besaran tertentu akan disamakan
atau dilampaui. Analisis frekuensi curah hujan dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Pada percobaan kali ini, analisis
frekuensi curah hujan dilakukan dengan cara tidak langsung.
Analisis frekuensi curah hujan secara tidak langsung dilakukan terhadap
curah hujan maksimum. Analisis frekuensi curah hujan maksimum merupakan
prosedur memperkirakan frekuensi suatu besaran curah hujan maksimum rencana
melalui penerapan distribusi frekuensi. Cara tersebut dapat dilakukan dengan tiga
metode, yaitu Metode Gumbel, Metode Log Person III dan Metode Distribusi
Normal. Pada Metode Gumbel, curah hujan untuk periode ulang (XTR) 2, 5, 10, 15,
20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan persamaan yang tercantum pada bab dasar
teori modul ( halaman 18 ). Dalam menghitung curah hujan dengan periode ulang
(XTR), yang harus dilakukan adalah mencari terlebih dahulu nilai rata - rata curah
hujan maksimumnya (), kemudian cari nilai YTR, kemudian mencari nilai standar
deviasi dari data (Sx), yaitu dengan menggunakan Microsoft Excel dengan formula
(=STDEV (data rata-rata curah hujan maksimum)). Lalu mencari nilai Yn serta Sn

dengan melihat tabel LA-1 (tabel yang menunjukkan nilai Reduced Mean / Yn) dan
tabel LA-2 (tabel yang menunjukkan nilai Reduced Standard Deviation / Sn) pada n
= 15 (karena dari tahun 1998 sampai tahun 2012). Maka didapatlah nilai curah hujan
pada periode ulang (XTR) 2, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 dengan
menggunakan persamaan Metode Gumbel (XTR).
Pada Metode Log Person III, curah hujan untuk periode ulang (X TR) 2, 5, 10,
15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan persamaan yang tercantum pada Bab
dasar teori (pada halaman 19). Dalam menghitung curah hujan dengan periode ulang
(XTR), yang harus dilakukan adalah mencari terlebih dahulu nilai Log X pada data
curah hujan maksimum di tiap tahunnya (pada tahun 1998, 1999, dst). Kemudian
cari S

Log x

yaitu nilai standar deviasi dari Log X, dengan menggunakan Microsoft

Excel, gunakan formula (=STDEV (data curah hujan maksimum Log X)). Kemudian
cari Cs yaitu nilai koefisien kemiringan yang nantinya digunakan untuk mencari
besarnya harga KTR. Nilai Cs ( Koefisien G pada Tabel LA-4 ), yaitu -0,2. Setelah itu
didapatlah nilai KTR pada setiap periode ulangnya (TR).
Pada Metode Distribusi Normal, curah hujan untuk periode ulang (XTR) 2, 5,
10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 menggunakan persamaan yang tercantum pada
Bab Dasar Teori (pada halaman 20). Dalam menghitung curah hujan dengan periode
ulang (XTR), yang harus dilakukan adalah mencari terlebih dahulu nilai curah hujan
rata-rata maksimumnya (). Kemudian, cari nilai S, yaitu simpangan baku (standar
deviasi) pada data curah hujan maksimum, yaitu dengan menggunakan Microsoft
Excel dengan formula (=STDEV (data rata-rata curah hujan maksimum)). Setelah itu,
cari nilai KT, yaitu faktor frekuensi/faktor probabilitas dimana nilainya berbagai
untuk berbagai periode ulang yang sudah tersedia dalam tabel nilai variabel reduksi
Gauss (tabel LA-5). Maka didapatlah nilai curah hujan pada periode ulang (XT) 2, 5,
10, 15, 20, 25, 30, 50, 75 dan 100 dengan menggunakan persamaan Metode
Distribusi Normal (XT).

Sopa Samrotul Paujah


240110150005
5.1

Pembahasan
Pada praktikum kali ini praktikan membahas mengenai presipitasi yaitu

menganalisis curah hujan desain.Analisis curah hujan ini bertujuan untuk


mendapatkan curah hujan rencana untuk keperluan desain, dilakukan analisis
frekuensi tehadap datacurah hujan harian maksimum.Hasil dari analisis frekuensi ini
adalah curah hujan dengan beberapa metode ulang sesuai dengan kebutuhan desain.
Pada praktikum kali ini analisis curah hujan menggunakan cara tidak langsung yaitu
dengan tiga metode yaitu metode distribusi normal, metode gumbel, metode log
person III. Data yang digunakan yaitu curah hujan bulanan pada tahun 1998 sampai
dengan 2012.
Praktikum kali iniyang dilakukan oleh praktikan pertama kali yaitu menghitung
curah hujan wilayah. Dari hasil pengamatan diperoleh nilai dari bulan kering dimana
nilai tersebut kurang dari 100 ditandai dengan warna biru pada tabel 1.curah hujan
wilayah, bulan kering banyak atau sering terjadi dibulan Mei, Juni, Juli, Agustus,
September dan Oktober setiap tahunnya. Akan tetapi ada pengecualian pada tahun
1998 dan tahun 2010 tidak terjadi bulan kering.tahun dengan paling sedikit bulan
kering yaitu pada tahun 2001, dimana bulan kering hanya terjadi pada bulan
Agustus. Kedua yaitu menghitung curah hujan maksimal diperoleh data nilai rata
rata disetiap tahunnya, dimana curah hujan maksimal yaitu pada tahun 2010 dengan
jumlah rata-rata 49 karena pada bulan ini tidak terjadi bulan kering.
Selanjutnya menganalisis curah hujan dengan tiga metode diatas dengan
menggunakan perode ulang 2, 5,10, 20, 25, 30,50,75, dan 100 . Pertama yaitu
menggunakan metode distribusi normal diperoleh nilai rata rata dari rata- rata maks
curah hujan maksimal yaitu sebesar 32,67 dengan standardeviasi sebesar 7,67.
Diperoleh juga data KTdimana nilai tersebut diproleh berdasarkan periode ulang
yang sudah tersedia dalam tabel nilai variable reduksi Gauss.Nilai yang dihasilkan
adalah perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang T tahunan (X T),
nilai tersebut meningkat setiap periode ulang.Dapat lihat juga tabel mononobe
metode distribusi normal dan juga dibuktikan pada grafik.
Kedua metode yang digunakan yaitu metode gumbel. Pada metode ini diperoleh
nilai konstanta berdasarkan jumlah data yang dianalisis yaitu nilai Yn dan Sn,

dimana nilai Yn yang diperoleh sebesar 0,5128 dan nilai Sn yaitu sebesar 1,0206.
Namun pada metode ini harus dicari nilai K dan nilai Ytr .nilai XT yang dihasilkan
dari metode Gumbel lebih besar dari metode sebelumnya, dapat dibuktikan juga pada
tabel mononobe pada tabel mononobe metode Gumbel dan juga dapat dilihat pada
grafik. Ketiga yaitu menggunakan metode Log person III dimana metode ini harus
dihitung nilai skewness, nilai skewness yang diperoleh sebesar 0,3. Samadengan
metode lainnya metode inipun menghasilkan nilai yang meningkat tiap periode
ulangnya.
Dari hasil analisis curah hujan dengan menggunakan metode distribusi normal,
metode gumbel dan metode log person III untuk masing masing periode ulang
diperoleh hasil yang tidak jauh berbeda, akan tetapi pada metode gumbel
menunjukan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode
distribusi normal dan metode log person III. Hasil perhitungan menggunakan tiga
metode tersebut. Metode distribusi normal menghasilkan nilai hasil perhitungan
yang lebih rendah

jika dibandingkan menggunakan metode log person III dan

metode gumbel. Perbedaan nilai perhitungan makin besar kearah periode ulang yang
lebih besar.

Shinta Atilia Diatara


240110150028
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini yaitu:
1. Analisis frekuensi curah hujan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara
langsung dan secara tidak langsung
2. Analisis frekuensi curah hujan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
menggunakan tiga metode, yaitu metode Gumbel, metode Log Pearson III
dan metode distribusi normal.
3. Data yang dihasilkan ketiga metode tersebut memiliki nilai yang hampir
sama namun metode gumbel memiliki rentang angka paling tinggi sedangkan
metode distribusi normal memiliki rentang angka yang paling rendah.
4. Nilai curah hujan dalam ketiga metode tersebut akan semakin kecil seiring
bertambahnya durasi curah hujan yang turun dan akan semakin besar seiring
bertambahnya jumlah periode
5. Lama waktu dan intensitas hujan mempunyai hubungan yang berbanding
terbalik. Dimana semakin lama durasi hujan terjadi, maka semakin sedikit
intensitas hujannya.

6.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya
1. Praktikan sebaiknya praktikum memahami materi terlebih dahulu agar pada
prosesnya tidak mengalami banyak kendala.
2. Praktikan sebaiknya mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
pada praktikum dengan baik sebelum memulai praktikum.

Redno Pebrina S.
240110150015
6.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari praktikum kali ini adalah:

1.

Ada 3 cara untuk analisis curah hujan, yaitu metode Gumbel, metode Log
person III, dan metode distribusi Normal.

2.

Dalam setiap penggunaan metode membutuhkan curah hujan maksimum.

3.

Analisis curah hujan bertujuan untuk untuk mendapatkan curah hujan rencana
untuk keperluan desain.

4.

Metode yang paling membutuhkan banyak data atau koefisien adalah metode
Log Person III

5.

Kurva IDF bertujuan untuk mengetahui seberapa besar intensitas hujan dalam
suatu kurun waktu.

6.

Analisis intensitas hujan bisa digunakan untuk prediksi banjir dan mencegah
banjir terjadi.

6.2

Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah:

1.

Praktikan memahami proedur praktikum sebelum memulai praktikum

2.

Praktikan mempersiapkan alta yang diperlukan dalam praktikum.

3.

Praktikan memperhatikan penjelasan asisten dosen yang sedang dijelaskan


supaya tidak ada kesalahan dalam pelaksanaan praktikum.

Jihan Fitriyani
240110150023
6.1

Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini adalah :

1. Analisis hujan desain memperhitungkan besarnya curah hujan dengan periode


ulang tertentu yang akan terjadi pada suatu daerah.
2. Analisis frekuensi curah hujan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara
langsung dan secara tidak langsung.
3. Analisis frekuensi secara tidak langsung dilakukan terhadap curah hujan harian
maksimum, yaitu prosedur memperkirakan frekuensi suatu besaran curah hujan
maksimum rencana melalui penerapan distribusi frekuensi.
4. Analisis curah hujan menggunakan tiga metode, yaitu Metode Gumbel,
Metode Log Person III dan Metode Distribusi Normal.
5. Yang digunakan dalam perhitungan curah hujan maksimum adalah data bulan
basah, bukan bulan kering yang ditandai dengan nilai curah hujan kurang dari
100 mm (< 100 mm).

6.2

Saran
Saran pada praktikum kali ini adalah :

1.

Praktikan harus mempersiapkan terlebih dahulu apa yang akan di praktikan.

2.

Mempelajari materi sebelumnya agar tidak teralu banyak kendala

3.

Selama praktikum menjaga ketertiban dan tetap kondusif

4.

Tidak mengganggu temannya 1 sama lain.

Prayoeda Iskandar
240110150026
6.1

Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada praktikum kali ini adalah :

1. Analisis hujan desain/rencana memperhitungkan besarnya curah hujan dengan


periode ulang tertentu yang akan terjadi pada suatu daerah
2. Analisis curah hujan secara tidak langsung digunakan tiga metode, yaitu
Metode Gumbel, Metode Log Person III serta Metode Distribusi Normal
3. Analisis frekuensi curah hujan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara
langsung dan secara tidak langsung.
4. Analisis curah hujan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan tiga
metode, yaitu Metode Gumbel, Metode Log Pearson III dan Metode Distribusi
Normal.
5. Yang digunakan dalam perhitungan curah hujan maksimum adalah data bulan
basah, bukan bulan kering yang ditandai dengan nilai curah hujan kurang dari
100 mm (< 100 mm).

6.2

Saran
Adapun saran dari praktikum kali ini :

1.

Praktikan harus menguasi terlebih dahulu materi

2.

Praktikan disarankan harus benar-benar teliti dalam menghitung nilai curah


hujan desain/rencana dengan tiga metode (Metode Gumbel, Metode Log
Person III dan Metode Distribusi Normal) agar didapatkan hasil yang akurat.

Kristina sitanggang
240110150009
6.1

Kesimpulan
Kesimpulan dari pelaksanaan praktikum ini yaitu:

1.

Praktikan dapat menentukan bulan basah untuk setiap tahun data empat
stasiun.

2.

Praktikan dapat mengetahui nilai curah hujan harian maksimum dan rata
ratanya tiap tahun data empat stasiun.

3.

Praktikan dapat menganalisa frekuensi terhadap curah hujan harian maksimum


dengan tiga metode, yaitu:
a.

Metode Gumbel, dengan rumus:

b. Metode log person III

c. Metode Distribusi Normal, dengan rumus:


X T = X + K T S
4. Praktikan dapat memprediksi suatu besaran curah hujan di masa yang akan
datang dalam waktu lama.

6.2

Saran
Saran untuk praktikum kali ini yaitu supaya setiap praktikan teliti dalam

mengitung data supaya data hasil yang diperoleh lebih akurat.

Sopa Samrotul Paujah


240110150005
6.1

Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini adalah:

1.

Hasil perhitungan curah hujan dengan menggunakan metode Gumbel


menghasilkan nilai lebih besar dibandingkan dengan metode log person III dan
metode distribusi normal

2.

Perbedaan nilai perhitungan dari tiga metode menunjukan bahwa makin besar
kearah periode ulang yang lebih besar.

3.

Hasil perhitungan menggunakan tiga metode tersebut. Metode distribusi


normal menghasilkan nilai hasil perhitungan yang lebih rendah
dibandingkan menggunakan metode log person III dan metode gumbel.

6.5 Saran
Saran pada praktikum kali ini adalah:
1. Praktikan lebih serius saat praktikum berlangsung
2. Praktikan dapat memahami materi apa yang dipraktikumkan
3. Lebih teliti saat melakukan perhitungan

jika

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, Chay. 2004. Hidrologi dan Pengolahan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press
Dwiratna, Sophia. 2016. Penuntun Praktikum Hidrologi Teknik. Jatinangor: Fakultas
Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran
Harto, Sri. 2007. Distribusi Frekuensi ( Perencanaan Saluran Drainase Bag III).
Terdapat pada : https://mtnugraha.wordpress.com/2009/07/05/distribusifrekuensi-perencanaan-saluran-drainase-bag-iii/ (Diakses pada tanggal 28
Oktober 2016 pukul 20.00 WIB).
Mawiti,

dkk.
2015.
Analisis
Frekuensi.
Terdapat
pada
http://dokumen.tips/documents/analisis-frekuensi-5597991f11fb1.html
(Diakses pada tanggal 30 Oktober 2016 pukul 21.00 WIB)