Anda di halaman 1dari 25

PERHITUNGAN TETESAN INFUS

1.
2.

a) Kalibrasi Tetesan Infus


Micro drip
1 cc = 60 tetes/menit
macro drip
1 cc = 15 tetes/ml (Abbot Lab)
1 cc = 15 tetes/ml ( Mc Graw Lab)
1 cc = 10 tetes/ml (Travenol Lab)
b) Rumus menghitung kecepatan cairan (ml/menit)
Tetes/menit = Jumlah Cairan yang masuk (cc) x 1
cc

Lamanya infus = jumlah cairan yang masuk (cc)


Jumlah tetesan (tts/m) / 1 cc

Misalnya jumlah cairan 500 cc, dengan menggunakan ukuran macro drips (1
cc = 15 tetes) maka berapa waktu absorbsi (jam) jika jumlah tetesan :
8 tetes/menit

15 jam 6 menit

9 tetes/menit

14 jam

10 tetes/menit

12 jam 5 menit

11 tetes/menit

11 jam 36 menit

12 tetes/menit

10 jam 41 menit

13 tetes/menit

10 jam

14 tetes/menit

9 jam

15 tetes/menit

8 jam 33 menit

16 tetes/menit

8 jam

17 tetes/meint

7 jam 35 menit

18 tetes/menit

7 jam

19 tetes/menit

6 jam 57 menit

20 tetes/menit

6 jam 25 menit

21 tetes/menit

6 jam

22 tetes/menit
23 tetes/menit

5 jam 43 menit

24 tetes/menit

5 jam 20 menit

25 tetes/menit

5 jam

26 tetes/menit

4 jam 80 menit

27 tetes/menit

4 jam 62 menit

28 tetes/menit

4 jam 46 menit

29 tetes/menit

4 jam 31 menit

30 tetes/menit

4 jam 16 menit

Prosedur Pemasangan Infus


1. Pengertian Memasang Infus
2

Memasang infus merupakan salah satu cara pemberian terapi cairan dan terapi pengobatan
melalui Intra vena dengan menggunakan prosedur infasif yang dilaksanakan dengan
menggunakan tehnik aseptic.
2. Tujuan Memasang Infus
Mempertahankan atau menganti cairan tubuh yang hilang
Memperbaiki keseimbangan asam basa
Memperbaiki komponen darah
Tempat memasukkan obat atau terapi intra vena
Rehidrasi cairan pada pasien shock
3. Persiapan Pemasangan Infus
a) Persiapan Klien
Cek perencanaan Keperawatan klien
Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
b) Persiapan Alat

Alkohol Spry
Infus Set
IV catheter sesuai ukuran
Pengalas
Infus sesuai pesanan
Toniquet
Sarung tangan bersih
Kapas steril
Plester
Bengkok

4. Prosedur Kerja:
1) Melakukan verifikasi program pengobatan
2) Mencuci tangan
3) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien
3

4) Mengecek tanggal kadaluarsa: infus, selang infus, catheter vena.


5) Menusuk saluran infus dengan benar ( jangan diputar ).
6) Menggantung cairan infus dan mengisi tabung reservoar sebanyak duapertiga bagian
/sebatas tanda hingga tidak ada udara dalam selang.
7) Atur posisi pasien, pasang pengalas, selanjutnya pasang toniquet 5cm dari area insersi.
8) Lakukan tindakan aseptik dengan kapas alkohol 70% dan biarkan selama 15-20 detik
Pertahankan vena pada posisi stabil dengan menekan dan menarik bagian distal vena
yang akan diinsersi dengan ibu jari
Menusuk vena dengan sudut 30 derajat dan lubang jarum menghadap ke atas
9) Setelah dipastikan jarum masuk, turunkan posisi jarum 20 derajat dan tarik mandrin 0,5
cm, masukan catether secara perlahan. Lakukan teknik V saat melepas mandrin dengan
menekan port dan vena lalu segera sambungkan selang infus dengan catheter.

10) Lepas torniquet dan masukan catheter secara perlahan, sambil menarik jarum keluar
11) Alirkan infus, selanjutnya lakukan fiksasi antara sayap dan lokasi insersi tanpa menutup
lokasi insersi
12) Letakkan kapas/gaas steril di atas area insersi.
13) Lepaskan sarung tangan
14) Lakukan fiksasi (plaster ukuran 5x8cm sampai menutup kapas steril.
15) Atur tetesan infus sesuai program dan tulis tanggal pemasangan, kolf, tetesan, jam
habis,dan k/p obat
16) Observasi respon pasien.
17) Bereskan alat dan kembalikan pada tempatnya dalam keadaan bersih
18) Cuci tangan
5. Evaluasi
a) Observasi terhadap kondisi umumvital sign, keluhan nyeri, alergi
b) Observasi kelancaran tetesan dan jumlah tetesan
c) Observasi area insersi (warna kulit / pembengkakan/ sakit)
d) Berikan KIE pada pasien/keluarga bila terjadi ketidaknyamanan

6. Dokumentasi
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon
klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena
yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan

Evidence Based Pemasangan Infus


Pendidikan menekankan penggunaan yang dari produk, pemeliharaan teknik
aseptik, dan stabilisasi kateter selama prosedur penempatan adalah mutlak.
Penggunaan perangkat stabilisasi kateter merupakan perubahan signifikan
dalam praktek pemasangan infus terbaru yang direkomendasikan oleh
Infusion Nurses Society (INS) sebagai Infusion Nursing Standards of Practice
2011.
Stabilisasi merupakan suatu cara digunakan untuk melindungi atau sebagai
foundation yang membuat sesuatu yang kecil kemungkinannya untuk jatuh,
memberi jalan, atau menjadi displaced. Stabilisasi Kateter semakin diakui
sebagai suatu intervensi penting dalam mengurangi risiko flebitis, infeksi,
pergeseran kateter, dan resiko pelepasan kateter. Ketika kateter stabil,
walaupun ada gerakan kateter masuk dan keluar resiko kateter terlepas dari
tangan sangat sedikit kemungkinannya untuk terjadi .
Dari beberapa Studi yang dilakukan dengan memeriksa stabilisasi kateter
telah berfokus terutama pada kateter IV perifer dan kateter sentral perifer
5

dimasukkan (PICCs). Salah satu perubahan untuk tahun 2006 Standar adalah
bahwa Kriteria Praktek sekarang merekomendasikan penggunaan perangkat
stabilisasi kateter diproduksi sebagai disukai daripada metode lain, seperti
kaset steril dan strip bedah. INS tidak mendukung perangkat tertentu.
Kedua masalah kesehatan keselamatan pekerja dan penelitian klinis telah
mendorong perubahan ini. Penjahitan tidak lagi dianjurkan karena risiko
untuk jarum kesehatan penyedia injuries.2 jahitan juga terkait dengan
peningkatan risiko infeksi. Dalam sebuah penelitian acak prospektif, 3 170
pasien dengan PICCs secara acak ditunjuk untuk jahitan atau untuk
penempatan perangkat securement diproduksi. Temuan signifikan termasuk
waktu securement lebih pendek dan infeksi aliran darah lebih sedikit PICC
terkait dalam kelompok menggunakan perangkat securement dipabrikasi;
ada 1 jarum cedera pada kelompok jahitan. Dua studi prospektif dikutip
dalam Standards4, 5 dibandingkan penggunaan tape untuk perangkat
securement dalam stabilisasi kateter IV perifer dan menemukan tingkat
signifikan menurun untuk restart IV dijadwalkan, serta pengurangan secara
keseluruhan dalam komplikasi. Sejak publikasi Standar, Schears6 diringkas
data evaluasi produk dikumpulkan pada penggunaan 1 perangkat
securement tersedia (StatLok,.

tepat Ada beberapa tersedia secara komersial perangkat stabilisasi


diproduksi. Sangat penting bahwa perawat infus membaca dan

menggabungkan arah produsen tertentu untuk digunakan dan frekuensi


penggantian ke dalam prosedur organisasi.

PEMASANGAN INFUS

Pengertian

Memasukkan cairan/obat langsung ke dalam vena dalam jumlah yang banyak


dan dalam waktu yang lama.

Tujuan
a. Memenuhi cairan dan elektrolit bagi pasien yang tidak bisa mengambil
secara oral
b. Memenuhi cairan dan elektrolit tubuh setelah banyak kehilangan cairan,
contohnya : Melalui perdarahan, dehidrasi yang serius.
c. Memberikan nutrisi yang diperlukan oleh tisu untuk proses metabolisme
d. Menyediakan suatu medium untuk p[emberian obat secara intravena

Indikasi

Dehidrasi
Syok
Intoksikasi berat
Pra & Pasca bedah sesuai dengan program pengobatan
Pasien yang puasa (NBM/Nil by Mouth) atau tidak boleh mengambil makanan
atau minuman secara oral
Sebelum transfusi darah
Perlu pengobatan dengan cara infus
Pasien yang memerlukan obat yang dimusnahkan oleh acid hidroklorik atau
obat yang mudah diserap oleh gastrousus

Larutan yang biasa digunakan


a. Larutan nutrisi
Karbohidrat
Dextrose
Levulose
Asam Amino
Aminogen
Aminosol
Travamine
Lipid
Lipomul
b. Larutan Elektrolit
Normal Saline/ Nacl
8

Hartman/ Ringer Lactat


c. Larutan yang meningkatkan volume darah
Serum albumin manusia
Plasma
Isipadu darah

Lokasi Pemasangan Infus


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Vena
Vena
Vena
Vena
Vena
Vena
Vena
Vena

palmar digitalis
sefalika
basalika
antebrakhial medialis
kubitis medialis
temporalis
dorsalis
jugularis

Lokasi pemasangan infus dipilih berdasarkan :


Umur
Lamanya infus (lama/tidak)
Jenis larutan yang digunakan
Keadaan vena
Orang dewasa: Ditangan (Vena Basalika, V. Kubitis medialis, V. Sefalik)
Besar
Jika cedera di bagian tangan bisa digunakan dibagian kaki
Untuk terapi yang lama vena di belakang tangan dan lengan digunakan karena
tidak menghalang pergerakan tangan.
Anak-anak: Vena di temporal kepala, di kaki, dibelakang tangan
Untuk terapi infus yang lama gunakan lokasi yang dari bagian distal dahulu ke
bagian proksimal supaya jika bengkak boleh digunakan
Faktor -faktor yang mempengaruhi aliran infus
1. Jenis cairan
Larutan isotonik bisa diberi dengan tepat berbanding dengan larutan
hipertonis

2. Keperluan pasien
Pasien yang mengalami syok hipolemik memerlukan cairan dengan segera
oleh itu cairan perlu diberi dengan tepat

3. Status / keadaan jantung dan renal


Pastikan tidak ada gangguan di organ-organ ini.

4.

Kedudukan / lokasi jarum


Jika dipasang dekat dengan sendi Bila dibengkokkan ia akan menyekat aliran
cairan .

5. Perubahan dalam posisi jarum


Jika jarum beralih ke jaringan tetesannya lambat/berhenti menyebabkan
tempat tersebut jadi bengkak akibat posisi jarum dekat dengan dinding vena
(lambat) Jika jauh (cepat)

6. Ketinggian botol infus


Terlalu tinggi alirannya cepat
Terlalu rendah alirannya lambat

7.

Potensi jarum
Darah beku yang terdapat pada ujung jarum / bevel akan menyekat aliran
infus

8. Penyempitan vena
Penggunaan balutan (bandage) yang erat / cuff tekanan darah

9. Pembukaan udara.
Tertutup = udara tidak dapat masuk ke dalam botol mengakibatkan tidak ada
tekanan di dalam botol untuk membuat cairan menetes

Perhitungan Tetesan Infus

10

Tts/mnt : Kebutuhan cairan x tetesan dasar


Waktu (Menit)

Tetesan dasar
Mikro : 60 tts/mnt
Makro : 20 tts/mnt

Persiapan Alat:
1. Cairan infus
2. Infuset
3. IV Khateter Jarum infus, Abocath, Wing needle/Butterfly
4. Kapas alkohol
5. Standar infus
6. Turniquit, plaster, gunting,
7. Larutan antiseptic (Bethadine)
8. Papan Spalk (bila perlu)
9. Sarung tangan
10.Perlak kecil/pengalas, nierbekken.

Prosedur

Langkah-langkah

Rasional
11

1. Periksa arahan dokter/pastikan


tentang
adanya
order
pengobatan.
Jenis larutan yang diperlukan
Jumlah cairan yang diperlukan
Sediakan regim menurut waktu
yang ditentukan

Mengurangi resiko terjadinya


kesalahan

2. Pastikan pasien dengan betul dan


beritahu pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan

3. Cuci tangan

4. Atur
peralatan
dalam
bak
instrumen
dan
letakkan
di
samping tempat tidur pasien
5. Periksa
cairan
yang
akan
digunakan
Tanggal kadaluarsa
Kandungan
cairan

Kejernihan,
ada
endapan,
benda asing
Kebocoran
plastik/keretakan
kaca pada botol infus

Mengurangi resiko terjadinya


kesalahan dan penjelasan
yang tepat dapat mengurangi
kecemasan klien serta dapat
memberikan kerjasama

Mengurangi
mikroorganisme

transmisi

Agar
prosedur
dapat
dilakukan secara sistematis

Mencegah terjadinya infeksi


atau timbulnya reaksi tubuh
terhadap cairan

6. Periksa infus set


Tanggal kadaluarsa
Apakah pembungkus set infus
robek ( tdk steril )
7. Siap cairan yang akan diberikan
buka botol infus dan infuset dari
kantongnya,
pertahankan
sterilisasi pada kedua ujung set
Mencegah terjadinya infeksi
12

8. Pasang klem sekitar 2-4 cm di


bawah drip dan pindahkan klem
roll pada posisi off.
9. Lepaskan penutup botol infus
tanpa menyentuh lubangnya lalu
tusukkan set infus kedalam botol
cairan
10.Pasang/gantungkan
pada standar infus

botol

atau timbulnya reaksi tubuh


terhadap cairan

Mencegah bakteri memasuki


ke peralatan infus dan aliran
darah

infus

11.Pencet
drip/penampung
pada
slang infus sehingga cairan masuk
ke drip sampai tanda batas, lalu
buka klem dan alirkan sampai
memenuhi selang. Klem roll ke
posisi off.
12.Hilangkan udara pada slang
dengan cara meluruskan slang
tegak
lurus
dan
menjentik2
dengan ujung jari. Pastikan bahwa
dalam
selang
bersih
dari
gelembung udara.
13.Atur posisi pasien rileks dengan
tangan lurus, letakkan perlak kecil
di bawah tangan.

14.Kaji tempat penusukan vena. Pilih


tempat
distal
vena
yang
digunakan

15.Bila daerah penusukan banyak


rambut,
cukur
atau
gunting
daerah tersebut

Memudahkan
pengaturan
kecepatan aliran dan posisi off
cegah penetesan.

Mempertahankan
larutan

Memudahkan
cairan

kesterilan

pengaliran

Efek
peghisapan
cairan
berpindah masuk ke ruang
drip untuk mencegah udara
masuk ke selang.

Udara
dapat
masuk
ke
pembuluh
darah
dan
menyebabkan emboli
13

16.Pasang turniket di atas vena yang


akan ditusuk 10-12 cm (5-6
inchi)dan anjurkan pasien untuk
menggenggam erat sampai vena
distensi dan tampak dengan jelas.
Bila vena belum tampak, perawat
dapat menepuk-nepuk area vena
sambil
menganjurkan
pasian
membuka
dan
menutup
genggaman sampai vena tampak
jelas.

Memberikan rasa nyaman dan


memudahkan
perawat
bekerja.
Menghindari
terkena darah.

kain/seprei

17.Pasang sarung tangan


Bila terjadi sclerosis atau
kerusakan pada vena, tempat
proksimal dari vena yang
sama masih dapa digunakan
18.Desinfeksi/bersihkan area yang
akan
ditusuk
dengan
kapas
alkohol dengan gerakan sirkular
(satu kali sapuan)
19.Gunakan
tangan
yang
tidak
domonan untuk menekan vena di
bawah daerah penususkan lebih
kurang 1-2 inci
20.Tusukkan abocath pada vena
dengan sudut 300 sejajar dengan
vena. Setelah ujung jarum masuk
vena, rendahkan sudut jarum
hampir sejajar dengan vena
21.Abocath
kemudian
diteruskan
masuk ke vena dan tangan yang
tidak memegang digunakan untuk
mengontrol letak jarum dengan
palapasi vena dari luar. Jika darah
telah memasuki lumen jarum
dorong perlahan2 sampai posisi
tepat. (Satu tangan mendorong
abocath
sampai
menempel
dengan
tempat
penusukan
sementara tangan yang lain
menarik mandarin/stylet ke luar

Rambut merupakan sumber


penyebaran mikroorganisme

Membendung aliran darah


sehingga vena distensi dan
memudahkan vena terlihat
dengan jelas, dapat dipalpasi
dan mudah ditusuk.

14

22.Tahan
abocath
dengan
satu
tangan, lepaskan turniket dengan
cepat hubungkan dengan selang
infus/ three way/stopper.

Menurunkan resiko penularan


terhadap
HIV,
hepatitis,
organisme melalui darah.

23.Lepaskan klem roller dan kepalan


tangan sehingga cairan segera
mengalir.

Membawa
mikroorganisme
menjauhi pusat penusukan

24.Setelah yakin aliran lancar, tutup


area penusukan dengan kasa dan
betadin lalu pasang plaster
25.Atur kecepatan
sesuai order

tetesan

infus

Mencegah bergesernya vena


ketika jarum dimasukkan

26.Lepaskan
sarung
tangan,
bereskan alat dan cuci tangan
27.Catat tindakan perawat secara
singkat dan jelas seperti tanggal
pemasangan, jenis dan jumlah
cairan yang digunakan

Mwmudahkan jarum amsuk ke


vena
dan
meminimalkan
trauma

Jika darah telah berada di


lumen jarum berarti jarum
telah masuk ke vena, karena
pembendungan
dengan
turniket
menyebabkan
tekanan
naik
sehingga
mengakibatkan darah mengisi
lumen jarum.

15

Mengurangi perdarahan dan


mempertahankan
posisi
jarum.

Memungkinkan aliran vena


dan mencegah pembekuan
pada aliran infus

Mempertahankan posisi jarum


dan mencegah infeksi.

Intake cairan dan elektrolit


adekuat

Mengurangi
mikroorganisme

transmisi

Mendokumentasikan
semua
tindakan sebagai tanggung
jawab dan tanggung gugat
perawat.

16

Kewaspadaan
Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus yang baru
Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi
Observasi tanda/reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
Evaluasi

Output urine seimbang dengan intake cairan


Karakteristik urine menunjukkan fungsi ginjal baik
Klien akan mengkomsumsi cairan sesuai dengan program (peroral, terapi
intravena, atau TPN)

Hal-hal yang harus di perhatikan setelah infus terpasang:


1. Senantiasa memeriksa lokasi infus untuk mengesan tanda-tanda infeksi
2. Pastikan infus berjalan lancar
a. Selang tidak ada udara/darah beku di dalamnya yang menghalang
penaliran cairan serta selang tidak terbelit
b. Pastikan pasien tidak menindih selang infus, kedudukan tangan/anggota
yang dipasangi infus dalam posisi yang betul, pada anak2/bayi perlu
dipasangi spalk
3. Pastikan drip chamber tidak kosong senantiasa terisi cairan chamber untuk
menghindari udara masuk kedalam aliran darah
4. Senantiasa memperhatikan tetesan cairan
Kadar tetesan sesuai regim/order
Hindari tetesan terlalu cepat krn dpt menyebabkan masalah pada paruparu dan jantung
Hindari tetesan terlalu lambat krn intake cairan dan elektrolit tidak adekuat
5. Pastikan botol infus tidak kosong
Sediakan botol infus yang baru sesuai dgn regim/order
Tukar botol drip sebelum kosong untuk menghindari udara masuk kedalam
selang. Tukar cairan apabila berada pada leher botol
6. Jika perlu tuliskan waktu dimulai dan diakhiri di botol infus untuk memudahkan
penukarannya (untuk menghindari kejadian botol kosong)
7. Dokumentasikan jenis larutan dan jumlah cairan yang diberikan dalan intake
output chart
8. Memberi penjelasan kepada pasien berkaitan dengan penggunaan infus
Tidak boleh membawa IV drip ke toilet atau berjalan2 tanpa ditemani oleh
perawat untuk menghinbari kejadian back flow darah pada selang
Tidak boleh mengatur tetesan untuk menghindari kejadian berlebihan
cairan yang diperlukan
Tidak boleh tinggikan bagian/anggota yang dipasangi infuslebih dari paras
jantung untuk menghidari kejadian back flow ke selang.
17

9. Memenuhi rasa nyaman dan bantuan aktivitas pasien


Memenuhi personal hygiene
Membantu mobilitas : turun dari tempat tidur, berjalan dsb.
10.Perhatikan tanda2 vital pasien dan komplikasi yang bisa berlaku sewaktu
pasien menerima infus.
Komplikasi yang mungkin terjadi
Reaksi pirogenik terjadi akibat adanya bahan pirogenik di dalam larutan
sewaktu pemasangan infus yang menyebabkan demam
Thromboplebitis Trauma mekanik pada vena atau iritasi bahan kimia
Embolisma udara Terdapat gelembung udara di dalam aliran infus
menyebabkan resiko berbahaya Kematian boleh berlaku
Berlebihan cairan dalam sirkulasi akibat tetesan infus yang terlalu cepat.
Infiltrasi masuknya cairan ke dalam sub kutan.
Cara mengganti cairan
1. Sediakan botol infus yang baru apabila cairan menghampiri leher botol patuhi
teknik aseptic sewaktu mengganti botol
2. Klem aliran infus
3. Kelurkan spitdari botol kosong dan masukkan ke botol yang baru tanpa
menyentuh ujung spit
4. Gantung botol tersebut dengan cepat
5. Buka klem dan hitung kembali tetesan sesuai regim/order
6. pasang label kembali (waktu dimulai dan berakhir sampai jam berapa)
7. Dekomentasikan jumlah larutan yang masuk dan nama larutan yang baru
dalam I/O chart
Menghentikan infus
Dilakukan jika program terapi sdh selesai atau jika lokasi penusukan abocath
bengkan/aliran tidak berjalan lancar

Tutup klem infus spy alirannya berhenti


Buka plaster dan kasa dengan hati2
Pakai glove, letakkan kasa yang steril diatas tempat abocath dan keluarkan
abocath
Tekan tempat tersebut dengan kasa selama 2-3 menit untuk mencegah
perdarahan kmdn plasterkan dengan rapi.

PEMASANGAN TRANSFUSI DARAH

Defenisi:
18

Memasukkan darah yang berasal dari donor ke dalam tubuh klien melalui
vena.

Tujuan :
1. Untuk menggantikan kehilamgam darah yang banyak sewaktu pembedahan
dalam kasus perdarahan
2. Menggantikan kekurangan komponen darah yang spesifik contohnya, Platelet,
RBC, faktor2 pembekuan darah
3. Umtuk memepertahankan dan meningkatkan volume darah dalam sirkulsasi
pada kasus2 syok akibat perdarahan
4. Untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam darah pada kasus anemia
Di lakukan pada:
1. Klien yang kehilangan darah
2. Klien yang penyakit kelainan darah tertentu (misalnya anemia, leukemia)
Komponen-Komponen darah:
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Whole blood Semua komponen darah


Packed red cell/packd cell Plasma yang dikeluarkan dari whole blood
Plasma Hasil pemisahan whole blood
Platelets kandungannya platelets, limfosit dan sedikit plasma
Granulosit Kandungannya WBC, plasma dan sedikit RBC
Albumin Kandungannya albumin, plasma dan human albumin
clotting factor/Faktor pembekuan darah Cryoprecipited anti hemolitik faktor

Peralatan
1. Selain alat-alat yang diberika dalam pemeberian infus
2. Larutan normal saline 0,9%/ Nacl 0,9%
3. Set infus dengan filter
4. IV khateter (Diemeter 18 G/19G)
5. produk darah yang benar
6. Sarung tangan
7. Kapas alkohol
8. plester
9. Nierbekken
10.Format persetujuan pemberian transfusi yang ditandatangani
11.Penghangat darah

Prosedur sebelum transfusi darah


19

1. Dokter
Memberika instruksi
Berapa unit darah tergantung pada keadaan anemia pasien
Tanda tangan format golongan darah (Group cross match)
2. Pasien
Pengambilan darah krg lebih 3 ml untuk tes golongan darah ini bertujuan
untuk tes kesesuaian dara untuk menghindari kejadian aglutinasi dan
hemolisis

3. Perawat
Mengambil sampel darah pasien
Mengisi format pengambila darah dengan lengkap
Mengantar sampel darah ke bank darah/PMI
Komfirmasi darah telah disediakan oleh bank darah/PMI sesuai instruksi
dokter di dalam format.
Prosedur

Langkah Langkah

Rasional

1. Pastikan pasien dengan betul


cek statusnya/panggil namanya

Untuk menghindari resiko terjadinya


kesalahan yang bisa menyebabkan
reaksi yang lebih serius

2. Jelaskan prosedur pada klien.


Tentukan apakah klien pernah
mendapatkan transfusi dan
catatan reaksi, jika ada

Klien yang pernah mendapatkan


transfusi darah pada masa lalu dapat
merasakan ketakutan yang lebih
besar terhadap transfusi

3. Pastikan bahwa klien telah


menandatangani format
persetujuan.

Beberapa institusi memerlukan klien


untuk menandatangani surat
persetujuan sebelum menerima
transfusi komponen darah

4. Suruh klien berkemih atau


kosongkan wadah penampungan
urine

Bila terjadi reaksi transfusi, spesimen


urine yang diambil harus merupakan
urine yang dibentuk setelah
pemberian transfusi

5. Dapatkan data dasar tanda


tanda vital dalam 30 menit

Memastikan suhu, nadi, tekanan


darah, dan pernafasan pra-transfusi
20

sebelum pemberian transfusi


darah. Laporkan adanya
peningkatan suhu pada dokter.

klien dan memungkinakan deteksi


reaksi transfusi dengan
memperhatikan perubahan pada
tanda tanda vital.

6 . Minta klien untuk dengan segera


melaporkan gejala-gejala
berikut : mengigil, sakit kepala,
gatal, kemerahan jika ada.

Gejala gejala ini dapat merupakan


tanda- tanda reaksi transfusi.
Pelaporan dan penghentian transfusi
dengan cepat akan membantu
meminimalkan reaksi

7. Cuci tangan

Mengurangi transmisi mikro


organisme

8. Kenakan sarung tangan sekali


pakai

Mengurangi transmisi patogen darah,


sarung tangan harus dipakai bila
menangani cairan tubuh (CDC,
1987;OSHA, 1991).

9. Buat jalur IV dengan kateter


besar (diameter 18-G atau 19-G)

Memungkinkan infus darah lengkap


dan mencegah hemolisis.

10. Gunakan slang infus yang


memiliki filter.

Filter dapat menyaring debris dan


bekuan darah yang lembut

11. Memberi infus normal saline/Nacl


0,9% sebelum memberi darah
(50 cc)

Mencegah hemolisis sel darah merah

Jangan memeberikan larutan


yang ada kandungan glukosa

Bisa menyebabkan aglutinasi dan


menyekat salur darah

12. Ikuti protokol institusi dalam


mendapatkan produk darah dari
bank darah. Minta darah bila
anda telah siap
menggunakannya.

Darah lengkap atau kemasan sel sel


darah merah harus tetap dalam
lingkungan dingin (10 - 60 C).
letakkan dalam kotak darah yang
berisi es batu.

13. Dengan perawat lain,


indentifikasi kebenaran produk
darah dan klien:

Satu perawat membaca dengan keras


saat perawat lainnya mendengarkan
dan mengecek ulang informasi.

Pemeriksa kompatibilatas
yang tertera pada kantung
darah dan informasi pada
kantung itu sendiri.

Memastikan bahwa golongan ABO,


tipe Rh, dan jumlahnya cocok.

21

Untuk darah lengkap,


pemeriksa golongan ABO, dan
tipe Rh (pada catatan klien)

Periksa ulang produk darah


dengan pesanan dokter.
Periksa tanggal kadaluawarsa
pada kantung.
Periksa darah terhadap
adanya bekuan.

Memastikan bahwa golongan ABO


dan Rh cocok dengan tag
kompabilitas dan kantung darah.

Memastikan komponen darah yang


benar.
Setelah 21 hari, darah hanya
mengandung 70% sampai 80% sel
sel aslinya dan 23 mEq/L kalium.

pemeriksaan di atas perlu di


lakukan di bank darah/PMI
bersama dengan petugas jaga.
Ketika di dalam bangsal/ruangan
perlu dicek lagi(double cek)
dengan perawat lain atau dokter
sebelum darah diberikan ke
pasien.

Antikoagulan, dekstrosa sitrat fosfat


(CPD), ditambahkan ke dalam darah
dan memungkinkan darah disimpan
selama 21 hari. Antikoagulan baru,
adenin dekstrosa sistrat fosfat
(CPD A), memungkinakan
penyimpanan selama 35 hari. Bila
terdapat bekuan, kembalikan darah
ke bank darah.

14. Darah disimpan pada suhu


ruangan kurang lebih 30 menit
setelah dikeluarkan dari kotak
darah dengan cara :

Agar darah yang diberikan sesuai


dengan suhu badan.

Dialirkan pada air kran


Direndam dengan air tetapi
pastikan selang
penyambungnya tidak bocor

15. Dengan perlahan balikkan


kantung darah 1 sampai 2 kali
untuk mencampur sel sel tetapi
tidak digoncang

16. Untuk pemberian darah:

Mencegah sel sel menggumpal,


yang dapat menyumbat pintu bawah
kantung atau menimbulkan bekuan.
Sel darah yang rapuh mungkin akan
rusak bila terbentur filter yang tak
berisi normal salin.
Menyiapkan filter dan selang terisi
22

a. Tusuk unit darah


b. Pencet bilik drip; biarkan filter
terisi darah.
c. Buka klem pengatur dan
biarkan selang infus terisi
darah.
Masukkan darah dan atur kadar
tetesan :
Dimulai dengan kecepatan
aliran yang perlahan 2-5
ml/menit ( 10-15
tetes)dalam 10 menit
pertama
Tambahkan jumlah tetesan
jika tiada tanda-tanda reaksi
transfusi darah, antara 2830 tetes /menit (jumlah
tetesan tergantung pada
keadaan pasien dan jenis
darah yang di berikan)
Tetap bersama klien selama
15 sampai 30 menit masa
transfusi
17.Pantau tanda tanda vital klien:
tiap 5 menit selama 15 menit
pertama : tiap 15 menit selama
satu jam berikutnya; tiap jam
sampai unit darah terinfuskan;
selama satu jam setelah infus
selesai.
18.Atur infus sesuai pesanan dokter.
Kemasal sel sel darah biasanya
diberikan 1 sampai 2 jam
sementara darah lengkap
diberikan 2 sampai 3 jam.
19.Pastikan tidak memberikan obat
melalui aliran transfusi darah

darah
Membantu mempercepat hubungan
dari selang infus yang telah disiapkan
ke kateter IV.
Mengisi slang

Kebanyakan reaksi transfusi terjadi


selama 15 sampai 30 menit transfusi.
Menginfus sejumlah kecil darah pada
awal meminimalkan volume darah
yang terpajan oleh klien, yang
membatasi beratnya reaksi. Tindakan
ini juga memungkinkan tindakan
cepat terhadap reaksi transfusi
Waspadalah terhadap setiap
perubahan tanda tanda vital yang
dapat merupakan tanda awal reaksi
transfusi

Mencegah reaksi obat terhadap


darah.

kecuali pemberian diuretik (lasix)


jika ada instruksi.
Untuk mencegah terjadinya overload
dalam aliran darah.
20. Jika terdapat tanda-tanda reaksi
darah pada pasien :

Meminimalkan reaksi darah yang

23

Maka hentikan transfusi darah


dan ganti dengan Nacl 0,9%dan
beritahu dokter dgn cepat untuk
tindakan selanjutnya
21. Setelah darah diinfuskan , bersih
selang dengan normal salin 0,9%
dan letakkan kantung darah pada
kantung plastik untuk
dikembalikan ke bank darah.

Menginfus sisa darah di dalam selang


IV; normal salin 0,9% mencegah
hemolisis sel sel darah merah

22. Buang semua bahan yang telah


digunakan di tempat yang telah
disediakan. Lepaskan sarung
tangan dan cuci tangan

Mengurangi transmisi mikro


organisme

23. Catat tipe dan jumlah komponen


darah yang diberikan, tanggal
pemberian, waktu dimulai, waktu
habis, dan raspons klien
terhadap terapi darah. Biasanya
digunakan catatan transfusi
terpisah.

Mencatat pemberian komponen darah


dan reaksi klien

24. Teruskan pemerhatian tandatanda vital pasien dan keadaan


pasien

Untuk mengesan reaksi yang lambat

26. Cek hemoglobin setelah 24 jam


pemberian transfusi darah
diberikan kepada pasien

Untuk mengetahui kadar hemoglobin


setelah transfusi apakah ada
perubahan atau tidak

24

25