Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOFISIKA

PUSH-UP

Disusun oleh:
Kelompok 7
Ani Nurhidayati
Hannik Hedayati
Agustina Martha Eristya

13312241014
13312241023
13312244027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

PUSH UP
A. TUJUAN PERCOBAAN
Menghitung gaya reaksi lantai pada telapak tangan ketika seseorang melakukan push-up
B. DASAR TEORI
Ketika seseorang melakukan push-up pada lantai, seperti dalam Gambar 1.

Gambar 1. Gaya pada saat push-up


Tangan orang tersebut menekan pada lantai dengan gaya tertentu. Pada aktivitas ini
berlaku hukum ke III Newton yang berbunyi Ketika dua benda berinteraksi, gaya pada
kedua benda yang berasal dari satu sama lain selalu selalu sama magnitudonya dan
berlawanan arah (Halliday,2005:109). Kemudian menurut Hewitt (2007: 45),
We can call one force the action force, and we can call the other the
reaction force. The important thing is that they are coequal parts of a single
interaction and that neither force exists without the other. Action and reaction
forces are equal in strength and opposite in direction. They occur in pairs,
and they make up a single interaction between two things.
Titik tekan dari pernyataan tersebut adalah gaya pertama disebut gaya aksi dan gaya
yang lain disebut gaya reaksi. Gaya aksi sama besarnya dengan gaya reaksi serta memiliki
arah yang berlawanan. Gaya-gaya tersebut terjadi secara berpasangan dan membuat
interaksi tunggal diantara dua benda dan tidak akan ada satu gaya yang muncul jika tidak
ada gaya lainya. Sehingga menurut hukum ketiga Newton, lantai memberikan reaksi ke
atas dengan gaya yang sama, misalnya F. Gaya reaksi ini bekerja pada orang tersebut .
sehingga dapat dirumuskan debagai berikut:
Faksi = -Freaksi
Dalam gerakan push-up berlaku juga kesetimbangan gaya dan torka. Menurut
Halliday (2005:333), persyaratan agar benda menjadi setimbang adalah:

1. Jumlah vector semua gaya eksternal yang bekerja pada benda harus nol.
2. Jumlah vector semua torsi eksternal yang bekerja pada benda diukur disekitar titik
yang mungkin harus nol (titik kesetimbangan).
Karena manusia termasuk kategori benda tegar, benda tegar adalah benda yang
tidak mengalami perubahan bentuk bila gaya dikerjakan pada benda tersebut. Benda tegar
akan melakukan gerak translasi apabila gaya yang diberikan pada benda tepat mengenai
suatu titik yang disebut titik berat. Titik berat merupakan titik dimana benda akan berada
dalam keseimbangan rotasi( tidak mengalami rotasi) (Giancoli, Douglas C., 2001).
Menurut Davidovits (2008:2), The center of gravity (c.g.) of an erect person with
arms at the side is at approximately 56% of the persons height measured from the soles
of the feet.
Titik tekan dari pernyataan tersebut adalah pusat gravitasi yang menjadi titik
kesetimbangan tubuh manusia dalam posisi tegak kira-kira 56 % dari tinggi orang tersebut
dan diukur dari telapak kaki, sehingga posisinya berada di sekitar pusar. Seperti yang
ditunjukkan pada gambar dibawah ini

Gambar 2. pusat gravitasi manusia


Sumber : Davidovits, 2008 : 2
Dengan menggunakan syarat kesetimbangan torka, kita dapat menghitung gaya
reaksi F. Misalkan massa orang itu adalah m, jarak antara telapak kaki sampai pusat berat
adalah L1, jarak antara telapak kaki sampai telapak tangan adalah L2.

Gaya merupakan suatu besaran yang menyebabkan benda bergerak. Gaya juga bisa
diartikan sebagai dorongan atau tarikan yang akan mempercepat atau memperlambat
gerak suatu benda.Pada aktivitas push up ini gaya-gaya yang bekerja antara lain:
1. Gaya berat
Gaya berat adalah magnitude gaya neto yang diperlukan untuk mencegah benda
mengalami gaya jatuh bebas, yang diukur seseorang di atas permukaan bumi. Berat suatu
benda adalah sama dengan magnitude gaya gravitasi F g pada benda. Besarnya gaya berat
dapat dicari menggunakan persamaan
W
= mg
W
= gaya berat (N)
M
= massa benda (kg)
G
= percepatan gravitasi (m/s2)
2. Gaya normal
Gaya normal (N) adalah gaya yang bekerja pada bidang yang bersentuhan antara
dua permukaan benda, yang arahnya selalu tegak lurus dengan bidang sentuh. Dengan
kata lain ketika benda menekan suatu permukaan, permukaan (bahkan yang terlihat keras
sekalipun) berubah bentuknya dan mendorong benda tersebut dengan gaya normal N yang
arahnya tegak lurus terhadap permukaan.

Gambar 3. Gaya normal

C. METODE PERCOBAAN
a. Tempat dan waktu percobaan
Tempat
: laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
Waktu
: 16 Maret 2016
b. Alat dan Bahan
Alat:
Neraca

Bahan:
Naracoban

Meteran (Alat Pengukur Panjang)

c. Langkah kerja

D. DATA HASIL PERCOBAAN


NO Praktikan

mb

Wb

( kg)
58

(N)
568,4

Ani

L1 (m)
0,975

L2 (m)

Freaksi
(N)

1,18

(m)
0.22

Hannik

43

421,4

0,930

1,29m

2.25

Agustina

48

470,4

0,900

1,09m

0.25

Keterangan :

421,4
254,3
333, 2

469,6
5
303,8
0
388,4
0

mb

: massa benda (kg)

wb

: berat benda (n)

L1

: jarak antara pusar sampai telapak kaki (m )

L2

: mengukur jarak antara telapak tangan penopang sampai telapak kaki (m)

: ketinggian rata-rata terangkatnya tubuh

: 9.8 m/s2

E. ANALISIS DATA
a. Menghitung berat naracoban
Rumus :

1. Ani
wb = mb x g
= 58 x 9,8
= 568,4 N
2. Hannik
wb = mb x g
= 43 x 9,8
= 421,4 N
3. Agustina
wb = mb x g
= 48 x 9,8
= 470,4 N
b. Menghitung gaya reaksi F
= 0
wb . L1 F. L2 = 0
w .L
F= b 1
L2
1. Ani
F=

568,4 x 0,975
1,18
= 469,6 N

2. Hannik
421,4 x 0,930
F=
1,29

= 303,8 N
3. Agustina
470,4 x 0,900
F=
1,09
= 388,4 N
c. Menghitung usaha (W)
1. Ani
W =Fxh
= 469,6 x 0,22
= 103,31 Nm
2. Hannik
W =Fxh
= 303,8 x 0,25
= 75,95 Nm
3. Agustina
W =Fxh
= 388,4 x 0,25
= 97,1 Nm
F. PEMBAHASAN
Percobaan ini berjudul Push-up yang mempunyai tujuan untuk menghitung gaya
reaksi lantai pada telapak tangan ketika seseorang melakukan push-up. Adapun alat dan
bahan yang digunakan neraca dan meteran (alat pengukur panjang). Neraca digunakan
untuk mengukur massa dari praktikan, dan meteran digunakan untuk mengukur panjang
dalam satuan meter. Dalam percobaan ini, meteran digunakan untuk mengukur panjang
antara pusar sampai telapak kaki (m), mengukur jarak antara telapak tangan penopang
sampai telapak kaki (m), dan mengukur ketinggian saat terangkatnya tubuh praktikan
ketika mealakukan push-up.
Prosedur kerja atau langkah percobaan yang dilakukan yaitu pertama menyiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan. Lalu menimbang massa badan dari praktikan,
praktikan yang melakukan percobaan ini ada tiga orang praktikan yang mempunyai massa
badan yang berbeda-beda. Setelah diketahui massa badan dari masing-masing praktikan,
menghitung gaya berat praktikan dengan mengacu pada nilai percepatan gravitasinya
yang digunakan yaitu g = 9,8 m/s 2. Kemudian mengukur jarak antara pusat massa pratikan
yaitu pada pusar sampai telapak kaki, mengukur jarak antara telapak tangan ketika posisi
push-up sampai telapak kaki, lalu melakukan push-up.
Hasil yang diperoleh setelah melkukan percobaan push-up tersebut dapat dilihat
pada tabel.

No
1
2
3

Praktikan
Ani
Hannik
Agustina

mb (kg)
58
43
48

Wb (N)
568,4
421,4
470,4

L1 (m)
0,975
0,930
0,960

L2 (m)
1,18
1,29
1,09

h (m)
0,22
0,25
0,25

F percb.
421,4
254,3
333, 2

Dapat terlihat pada tabel, bahwa ketika massa badan praktikan semakin besar maka
gaya berat yang ditimbulkan juga akan semakin besar. Seperti ditegaskan pada hukum
Newton yang ketiga yang berbunyi, ketika dua benda berinteraksi, gaya pada kedua
benda yang berasal dari satu sama lain selalu selalu sama magnitudonya dan berlawanan
arah (Halliday, 2005:109). Jadi ada dua benda yang berinteraksi disini, yaitu badan dari
praktikan dan lantai yang arahnya berlawanan yang menimbulkan gaya yang selalu sama,
sehingga semakin besar massa badan praktikan, semakin besar juga gaya berat yang
ditimbulkan tetapi dalam arah yang berlawanan. Gaya yang berikan oleh praktikan
terhadap lantai (ke bawah) dinamakan gaya aksi dan lantai juga akan menghasilkan gaya
berlawanan (keatas) dengan besar yang sama yang dinamakan gaya reaksi. Sehingga
didapatkan rumusan,
Faksi = -Freaksi.

Gambar 1. Gaya pada saat push-up


Suatu gaya akan terjadi apabila ada sedikitnya dua benda yang saling berinteraksi
satu sama lain. Pada saat interaksi ini, gaya-gaya selalu berpasangan.
Ketika tangan praktikan menekan ke lantai dengan gaya tertentu maka lantai kan
memberikan reaksi ke atas dengan gaya yang sama, yaitu F. Dalam gerakan push-up
berlaku juga kesetimbangan gaya dan torka. Manusia merupakan kategori benda tegar,
suatu benda tegar akan melakukan gerak translasi apabila gaya yang diberikan pada benda
tepat mengenai suatu titik yang disebut titik berat. Pada kesetimbangan torka memiliki
salah satu ciri yaitu pusat

gaya gravitasi dari suatu benda tegar merupakan titik

kesetimbangan. Karena benda berada dalam kesetimbangan, total torsi terhadap titik apa
pun juga nol. Untuk suatu benda yang berada dalam keseimbangan, baik jumlah gaya

maupun jumlah torsi yang bekerja pada benda secara terpisah menjadi nol. Jika total torsi
tidak nol, benda tidak seimbang dan akan berotasi dalam pengertian total torsi yang tidak
nol beraksi padanya.
Penggunaan pripsip kesetimbangan torsi pada praktikum ini, dapat digunakan untuk
menghitung gaya reaksi lantai pada telapak tangan ketika seseorang sedang push-up.
Perhitungan = 0, atau total torsi adalah nol, maka akan diperoleh

wb . L 1F . L 2=0

karena total torsi adalah nol. Untuk mencari gaya reaksi lantai pada telapak tangan untuk

masing-masing praktikan dapat diperoleh dengan rumus

F=

wb. L1
. Namun pada
L2

praktikum ini, praktikan membandingkan besarnya gaya reaksi yang diperoleh dari
percobaan langsung dengan menggunakan timbangan juga melalui perhitungan. Ketika
menggunakan timbangan, caranya yaitu praktikan berada pada posisi push-up, tetapi kedua
telapak tangan praktikan tidak berada di lantai melainkan berada di atas timbangan.
Timbangan yang digunakan yaitu timbangan manual. Lalu melihat angka yang ditunjuk
pada timbangan ketika berada pada posisi push-up. Setelah itu dihitung, didapatkan hasil
perhitungan F percobaan. Untuk secara perhitungan digunakan rumus,
F=

Wb . L 1
L2

Setelah dilakukan perhitungan, ternyata hasil yang diperoleh sedikit berbeda atau
terdapat perbedaan angka. Perbandingan perbedaan hasil secara percobaan dan
perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut,
Praktikan
Ani
Hannik
Agustina

F percobaan
421,4
254,3
333, 2

F perhitungan
469,6
303,8
388,4

Pada tabel tersebut dapat terlihat perbedaan antara F percobaan dan F perhitungan
dari ketiga praktikan yang melakukan percobaan. Akan tetapi hanya sedikit perbedaan atau
selisih angka antara F percobaan dan F perhitungan. Hal ini dikarenakan, ketika melakukan
push up dengan telapak tangan di atas timbangan, kekuatan menakan berbeda dengan
ketika push up dengan telapak tangan berada di lantai. Dan posisi push up juga berbeda.
Jika dilihat dari massa tubuh praktikan yang berbeda-beda, ani yang memiliki massa tubuh

terbesar yaitu 58 kg juga memiliki F reaksi yang paling besar yaitu 469,6 N. Hal ini juga
dapat teramati pada praktikan Hannik yang memiliki massa tubuh 43 kg, mendapatkan gaya
reaksi paling kecil yaitu 303,8. Hasil tersebut juga membuktikan bahwa ketika gaya yang
diberikan seseorang terhadap sesuatu besar, maka gaya yang diterima oleh seseorang
tersebut juga besarnya sama. Sehingga berlaku hukum Newton yang ketiga yaitu F aksi = F
reaksi yang besarnya sama.
Selain adanya gaya reaksi yang diberikan ketika praktikan memberikan gaya aksi
pada saat posisi push-up, pada praktiikum ini juga dihitung besarnya usaha yang dilakukan
gaya reaksi setiap kali mengangkat tubuh praktikan ketika melakukan push-up sampai
ketinggian tertentu.
Praktikan
h (m)
W (Nm)
Ani
0,22
103,3
Hannik
0,25
75,95
Agustina
0,25
97,1
Dapat terlihat pada tabel di atas bahwa usaha terbesar yang dilakukan F reaksi pada
praktikan Agustina. Padahal jika dilihat dari besarnya massa tubuh dan besarnya F reaksi dari
praktikan, massa tubuh dan F reaksi dari Ani paling besar. Ini karenakan, perbedaan
ketinggina terangkatnya tubuh Ani dan Agustina pada saat push-up. Ketinggian mengangkat
tubuh yang dilakukan Agustina lebih besar daripada Ani. Hal ini menunjukkan bahwa gaya
reaksi lantai pada telapak tangan dan ketinggian terangkatnya tubuh saat push-up
berbanding lurus dengan usaha (W) yang dilakukan oleh praktikan, artinya semakin besar
gaya reaksi lantai pada telapak tangan maka akan semakin besar pula usaha yang harus
dilakukan. Begitu pula dengan semakin tinggi terangkatnya tubuh saat push-up, semakin
besar pula usaha yang harus dilakukan.
G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, gaya reaksi lantai
pada telapak tangan ketika seseorang melakukan push-up dapat dihitung dengan
menggunakan syarat kesetimbangan torka. Besarnya gaya dipengaruhi oleh berat benda
(praktikan), jarak antara pusar sampai telapak kaki (L1), dan jarak antara telapak tangan
penopang sampai telapak kaki (L2) saat seseorang melakukan push-up. Usaha yang
dilakukan praktikan saat push-up dipengaruhi oleh gaya reaksi lantai pada telapak tangan
dan ketinggian rata-rata terangkatnya tubuh.

H. LAMPIRAN
a. Pertanyaan
1. Gaya reaksi F ketika melakukan push-up
a. Ani nurhidayanti
= 421,4 N
b. Hannik hedayati
= 254,3 N
c. Agustina martha eristya
= 333,2 N
2. Hitunglah usaha yang dilakukan gaya reaksi untuk setiap kali mengangkat tubuh
a. Ani nurhidayanti
= 103,3 N
b. Hannik hedayati
= 75,95 N
c. Agustina martha eristya
= 97,1 N
I. DAFTAR PUSTAKA
Davidovits, Paul. 2008. Physics in Biology and Medicine. United Kingdom : Academic
Press Elsevier.
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika. Jakarta : Erlangga.
Halliday , David. 2005. Fisika Dasar Jilid 1 . Jakarta : Erlangga.
Hewitt, Paul G. 2007. Conceptual Integrated Science. USA: Pearson Education.
Young, Hugh D. & Freedman, Roger A. 2002. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.