Anda di halaman 1dari 18
KEMENTERIAN PERTANIAN qn BADAN KARANTINA PERTANIAN JALAN HARSONO RM NOMOR 3 RAGUNAN, PASAR MINGGU JAKARTA 12550 SHE GEDUNG E Lt. 1, §, 7 TELEPON/FAKSIMILI (021) 7816484, 7816483, 7816482, 7816481 Website: http://mww.karantina.deptan.go.id Email : infokarantina@deptan.go.id KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 144/Kpts/KR.110/L/01/2016 TENTANG PEDOMAN PEMANTAUAN DAERAH SEBAR HAMA PENYAKIT HEWAN KARANTINA (HPHK) TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa kebijaksanaan karantina dan pembatasan lalu lintas media pembawa diatur berdasarkan penggolongan hama penyakit hewan karantina dan pemetaan hama penyakit hewan karantina (HPHK); b. bahwa pemetaan hama penyakit hewan karantina sebagaimana dimaksud pada butir a. dapat diperoleh melalui kegiatan pemantauan dengan melakukan pengamatan status dan situasi HPHK; c, bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian tentang Pemantauan Daerah Sebar HPHK; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3482); 2. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2014 jo Undang- undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84); 3.Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 161, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4002); 4, Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 85); 5. Peraturan Menteri Nomor 43/Permentan/OT.140/9/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Standar Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian; 6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian; 7.Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian. 8. Keptusan Menteri Pertanian Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis - Jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa. MEMUTUSKAN MENETAPKAN : PEDOMAN PEMANTAUAN DAERAH SEBAR HAMA PENYAKIT HEWAN KARANTINA (HPHK) TAHUN 2016; KESATU : Pemantauan Daerah Sebar HPHK dilakukan melalui kegiatan Pengamatan Status dan Situasi HPHK; KEDUA : Pedoman Pemantauan Daerah Sebar HPHK Tahun 2016 sebagaimana tercantum pada Lampiran 1 sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan Keputusan ini; KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan apabila terdapat kekeliruan dan/atau perubahan lingkungan strategis schingga mengakibatkan pedoman ini kurang sesuai, akan diperbaiki sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 2016 KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN Ir, Banun Harpini, MSc NIP. 19601019 198503 2 001 Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth: 1. Menteri Pertanian; Para Pejabat Eselon I Lingkup Kementerian Pertanian; Para Pejabat Eselon II Lingkup Badan Karantina Pertania: Para Kepala Balai Besar/Balai/Stasiun Karantina Pertanian di Seluruh Indonesia. Fit Lampiran I Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 144/Kpts/KR.110/L/01/2016 ‘Tanggal: 29 Januari 2016 PEDOMAN PEMANTAUAN DAERAH SEBAR HAMA PENYAKIT HEWAN KARANTINA (HPHK) TAHUN 2016 BABI PENDAHULUAN A, Latar Belakang Badan Karantina Pertanian melalui Unit Pelaksana Teknisnya di seluruh Indonesia berperan aktif dalam upaya mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya hama penyakit hewan karantina (HPHK). Berdasarkan Pasal 76 ayat (1) PP No 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan, bahwa kebijaksanaan karantina dan pembatasan lalu lintas media pembawa diatur berdasarkan penggolongan hama penyakit hewan karantina dan pemetaan hama penyakit hewan karantina. Pemetaan tersebut akan menggambarkan status suatu negara, area, atau tempat yang diperoleh melalui kegiatan pengamatan. Adapun pengamatan adalah merupakan bagian dari tindakan karantina 8 P. Berdasarkan Pasal 11 PP No 82 Tahun 2000 bahwa selain pengamatan dilakukan di tempat pemasukan selama media pembawa diasingkan untuk mengamati timbulnya gejala Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), pengamatan juga memiliki makna mengamati situasi hama penyakit hewan karantina pada suatu negara, area, atau tempat. Pengamatan terhadap situasi HPHK dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu secara langsung dan/atau secara tidak langsung. Pengamatan secara langsung dilakukan di tempat pemasukan, tempat pengeluaran, instalasi karantina, tempat transit, dan diatas alat angkut.Pengamatan secara tidak langsung dilakukan ditempat lainnya dengan melibatkan atau memperoleh informasi dari pihak yang berwenangdalam kegiatan tersebut. Berdasarkan Permentan No 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian, maka UPTKP menyelenggarakan fungsi yaitu Pelaksanaan Pemantauan Daerah Sebar HPHK. Fungsi pemantauan UPTKP tersebut selanjutnya dilaksanakan dengan melakukan pengamatan status dan situasi HPHK pada area dimana UPTKP berada. Pengamatan status dan situasi HPHK dilakukan secara tidak langsung, dengan memperoleh informasi dari instansi berwenang yaitu Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner, dan Dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan di Propinsi, Kabupaten dan/atau Kota. Dengan dilaksanakannya kegiatan pengamatan ini, maka kegiatan pemantauan daerah sebar HPHK dengan metode pengambilan sampel tidak dilakukan. Informasi status dan situasi HPHK yang telah diperoleh selanjutnya diverifikasi dan dikompilasi dalam bentuk Peta Status dan Situasi HPHK yang akan dilakukan pembaharuan setiap tahunnya. Dengan adanya peta status dan situasi HPHK di Indonesia, kebijakan pencegahan penyebaran HPHK di dalam wilayah negara Republik Indonesia diharapkan akan menjadi lebih optimal. B. Maksud danTujuan Maksud Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan bagi Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian (UPTKP) dalam melaksanakan pemantauan daerah sebar HPHK. Tujuan Pedoman ini disusun dengan tujuan agar pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. C. Ruang Lingkup Ruang lingkup pedoman ini meliputi pelaksanaan pemantauan, metode pengumpulan dan penyajian informasi, serta penyusunan laporan. D. Pengertian Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan: 1. Area adalah daerah dalam suatu pulau, pulau, atau kelompok pulau di qalarh negara Republik Indonesia yang dikaitkan dengan pencegahan penyebaran hama dan penyakit hewan karantina; 2. Daerah bebas adalah kondisi suatu daerah berdasarkan pengamatan dalam kurun waktu tertentu tidak ditemukan agen penyakit dan/atau tidak pernah dilaporkan adanya kasus penyakit hewan; 3. Daerah tertular adalah kondisi suatu daerah dimana di daerah tersebut sedang berjangkit penyakit hewan; 4.Dinas adalah instansi Pemerintah Daerah yang menyelenggarakan fungsi kesehatan hewan dan/atau kesehatan masyarakat veteriner di Propinsi, Kabupaten/Kota; 5.Kasus adalah kejadian penyakit yang terbukti secara klinik, epidemiologik, dan/atau laboratorik; 6. Laboratorium veteriner adalah laboratorium pemerintah yang ruang lingkup pengujiannya meliputi pengujian kesehatan hewan dan/atau kesehatan masyarakat veteriner, dan ditunjuk untuk melakukan tugas Ppengujian, penyidikan dan upaya penanggulangan penyakit hewan dengan menggunakan metode uji yang standar; 7.Pemantauan Daerah Sebar HPHK adalah tindakan pengamatan untuk mengetahui status dan situasi suatu HPHK pada suatu area, sebagai salah satu bahan penetapan kebijaksanaan karantina dan pembatasan jalulintas media pembawa HPHK; 8, Petugas karantina hewan adalah Medik Veteriner dan/atau Paramedik Veteriner yang diberi tugas melaksanakan tindakan karantina; 9.Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian (UPTKP) adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Badan Karantina Pertanian, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Badan Karantina Pertanian. BAB IT PELAKSANAAN PEMANTAUAN Pelaksanaan pemantauan melalui kegiatan pengamatan status dan situasi HPHK diharapkan dapat berjalan optimal. Oleh karena itu, perlu ditetapkan tujuan dari pemantauan ini serta kesiapan pelaksanaannya antara lain meliputi pelaksana pemantauan, jenis HPHK yang dilakukan pemantauan, tahapan pelaksanaan pemantauan, petugas pelaksana pemantauan, waktu pelaksanaan, serta penganggaran. A. Maksud dan Tujuan Pemantauan a, Maksud: 1. Mgmperoleh informasi status dan situasi HPHK pada area di dalam \ Negara Republik Indonesia;dan 2. Memetakan status dan situasi HPHK di Indonesia. b. Tujuan: ‘Tersusunnya peta status dan situasi HPHK di Indonesia. B, Pelaksana Pemantauan 1. Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani (PKHKehani) sebagai unit penyusun kebijakan pemantauan daerah sebar HPHK; 2. Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian (UPTKP) sebagai unit penanggungjawab pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK. . Jenis HPHK yang dilakukan Pemantauan Sebagai dukungan dan tindak lanjut Badan Karantina Pertanian terhadap Rumusan Rapat Kerja Nasional Badan Karantina Pertanian ‘Tahun 2016, pemantauan daerah sebar HPHK yang dilakukan melalui kegiatan pengamatan status dan situasi HPHK tahun anggaran 2016 difokuskan pada scluruh HPHK Golongan II, sebagaimana diatur dalam Kepmentan Nomor: 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa. D. Tahapan Pelaksanaan Pemantauan ts Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani menyusun dan menetapkan pedoman pemantauan serta mendistribusikannya ke UPTKP; Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian membentuk tim pemantauan dengan menunjuk satu orang medik veteriner di UPTKP sebagai penanggung jawab (Ketua Tim) kegiatan dengan anggota yang terdiri dari medik veteriner dan atau paramedik veteriner yang berasal dari UPTKP serta berasal dari instansi terkait; . Tim pemantauan pada masing-masing UPTKP melakukan perjalanan dinas ke Dinas Propinsi, Kabupaten dan Kota wilayah setempat untuk memperoleh informasi status dan situasi HPHK. Tim pemantauan yang berada pada satu regional Balai Besar Veteriner (BBV) dan Balai Veteriner (BV), melakukan perjalanan bersama (kolektif) ke BBV/BV serta Perguruan Tinggi atau lembaga penelitian untuk memperoleh informasi status dan situasi HPHK. Cakupan informasi yang diamati adalah: a) Data temuan Gejala Klinis; b) Data hasil uji Lab Pasif, c) Data Surveilans; d) Data Hasil Penelitian. Khusus untuk data hasil penelitian, pengumpulan informasi dilakukan dari Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, dan/atau Balai Besar Veteriner (BBV) dan Balai Veteriner (BV) yang mewilayahi regional setempat. Seluruh data yang diperoleh oleh tim adalah data resmi sepanjang tahun 2015. Tim melakukan tabulasi, verifikasi, dan analisis kualitatif terhadap data informasi status dan situasi HPHK yang telah diperoleh. . Salah satu UPTKP yang berada dalam satu regional menyelenggarakan workshop pemetaan HPHK tahap pertama dengan menghadirkan peserta dari seluruh UPTKP se-regional. 10. ay 12. 13. 14, 15. Selanjutnya, salah satu UPTKP lainnya menyelenggarakan workshop pemetaan HPHK tahap kedua dengan menghadirkan peserta seluruh UPTKP se-regional, BBV/BV, Dinas terkait, dan Perguruan Tinggi setempat yang memiliki riset/penelitian tentang status dan situasi penyakit hewan. Pada tahapan ini, menghadirkan narasumber dari PKH Kehani; Hasil workshop tahap pertama dan tahap kedua dilaporkan kepada PKH = Kehani_— melalui. ~—alamat_— email: pusatkhkehani@pertanian.go.id dan nurcahyo@pertanian.go.id; Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani menyelenggarakan Workshop Nasional Pengamatan HPHK dengan menghadirkan seluruh ketua Tim dari UPTKP dan perwakilan instansi terkait yang memiliki tugas dan fungsi surveilans penyakit hewan; Ketua tim melaporkan hasil keikutsertaan dalam kegiatan workshop pengamatan HPHK kepada Pimpinan di UPTKP; Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani melaporkan hasil workshop Pengamatan HPHK kepada Kepala Badan Karantina Pertanian; Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani menindaklanjuti hasil workshop pengamatan HPHK dengan menyusun Peta HPHK serta merumuskan kebijakan perkarantinaan dan pembatasan lalu lintas media pembawa HPHK. . Petugas Pelaksana Pemantauan Petugas pelaksana pemantauan adalah Tim Pemantauan Daerah Sebar HPHK di UPTKP, dengan kualifikasi mampu dan memahami kaidah dasar epidemiologi veteriner. Tim ditetapkan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Kepala UPTKP. d F, Waktu Pelaksanaan Pemantauan Daerah Sebar HPHK melalui kegiatan pengamatan status dan situasi HPHK oleh UPTKP, dilakukan setelah Pedoman Pemantauan ditetapkan oleh Kepala Badan Karantina Pertanian. Agenga tentative rangkaian kegiatan pemantauan tahun anggaran 2016 adalah sebagai berikut: No. Kegiatan Perkiraan Waktu (2015) 1. |Perjalanan Tim Pemantauan UPTKP | Februari-April untuk pengumpulan informasi status dan situasi HPHK 2. | Workshop Pemetaan HPHK Tahap I Mei-Juni Workshop Pemetaan HPHK Tahap I | Juni-Juli 4, | Workshop Pemetaan HPHK oleh Pusat |Akhir Juli Regionalisasi UPTKP adalah sebagai berikut: a. UPTKP di regional Pulau Jawa dan Madura ‘Terdiri dari 9 UPTKP yaitu: BBKP Tanjung Priok, BBKP Soekarno Hatta, BBKP Surabaya, BKP Kelas I Semarang, BKP Kelas II Cilegon, BKP Kelas II Yogyakarta, SKP Kelas I Bandung, SKP Kelas I Cilacap, dan SKP Kelas II Bangkalan. Untuk UPTKP Regional Jawa, Workshop Tahap Pertama diselenggarakan oleh UPTKP sesuai dengan regionalisasi Balai Veteriner. b, UPTKP di regional Pulau Sumatera ‘erdiri dari 14 UPTKP yaitu: BBKP Belawan, BKP Kelas I Padang, BKP Kelas I Pekanbaru, BKP Kelas I Jambi, BKP Kelas I Batam, BKP Kelas I Palembang, BKP Kelas I Lampung, BKP Kelas II Medan ,BKP Kelas I Tanjung Pinang, BKP Kelas Il Pangkal Pinang, SKP Kelas I Banda Aceh, SKP Kelas I Bengkulu, SKP Kelas I Tanjung Balai Asahan, SKP Kelas II Tanjung Balai Karimun. Untuk UPTKP Regional Sumatera, Workshop Tahap Pertama diselenggarakan oleh UPTKP sesuai dengan regionalisasi Balai Veteriner. c. UPTKP di regional Pulau Kalimantan Terdiri dari 7 UPTKP yaitu: BKP Kelas I Pontianak, BKP Kelas I Banjarmasin, BKP Kelas I Balikpapan, BKP Kelas II Tarakan, BKP Kelas II Palangkaraya, SKP Kelas I Samarinda, SKP Kelas I Entikong. d. UPTKP di regional Pulau Sulawesi dan Maluku Terdiri dari 9 UPTKP yaitu: BBKP Makassar, BKP Kelas I Manado, , BKP Kelas II Palu, BKP Kelas II Gorontalo, BKP Kelas II Ternate, BKP Kelas Il Kendari, SKP Kelas I Parepare, SKP Kelas 1 Ambon, SKP Kelas Il Mamuju. e. UPTKP di regional Bali dan Nusa Tenggara Terdiri dari 5 UPTKP yaitu: BKP Kelas I Denpasar, BKP Kelas I Mataram, BKP Kelas I Kupang, SKP Kelas I Sumbawa Besar, SKP Kelas Il Ende; {, UPTKP di Regional Papua dan Papua Barat ‘Terdiri dari 6 UPTKP yaitu: BKP Kelas I Jayapura, SKP Kelas I Merauke, SKP Kelas I Sorong, SKP Kelas I Biak, SKP Kelas I Timika, SKP Kelas II Manokwari. Pelaksana workshop tahap pertama dan tahap kedua masing-masing diselenggarakan oleh salah satu UPTKP se-regional sebagai berikut: No. Regional Pelaksana Pelaksana Workshop Tahap1 | | Workshop Tahap II T. [Jawa dan Madura | BKP II Yogyakarta BBKP Sockarno Hatta 2. | Sumatera SKP I Aceh, BKPT BKP Il Pangkal Pinang Pekanbaru, BKP I Lampung 3. | Kalimantan BKPII Palangkaraya | BKP I Balikpapan 4, | Sulawesi dan BKP Il Ternate SKP I Pare Pare Maluku 5. | Bali dan Nusa BKP I Mataram BKP I Denpasar Tenggara 6. | Papua dan Papua | SKPI Sorong BKP I Jayapura Barat G. Penganggaran Anggaran yang digunakan sesuai Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) Badan Karantina Pertanian dan masing-masing UPTKP Tahun Anggaran 2016. Terhadap kebutuhan anggaran, UPTKP dapat melakukan revisi anggaran Pemantauan untuk disesuakan dengan tahapan pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan dalam pedoman ini. BAB IIL METODE PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN INFORMASI Kegiatan pengumpulan informasi dilakukan melalui kegiatan perjalanan dinas. Adapun kegiatan penyajian informasi dilakukan pada saat workshop pemetaan HPHK tahap pertama dan tahap kedua yang dilaksanakan oleh UPTKP. a. Pengumpulan Informasi Metode pengumpulan informasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan Participatory Epidemiology (PE). Format kuesioner yang dipergunakan adalah sebagaimana terlampir pada Lampiran 2, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pedoman ini. Kuesioner tersebut dipergunakan pada saat Tim Pengamatan melakukan perjalanan dinas pengumpulan informasi. Untuk menggali informasi yang lebih mendalam, Tim dapat melakukan PE dengan metode Focus Group Discussion (FGD) atau In Depth Interview (IDI). Dengan demikian, tim perlu menyusun pertanyaan yang terperinci dan bersifat terbuka guna memperdalam informasi yang akan diperoleh. Metode FGD atau IDI dapat digunakan pada saat workshop tahap pertama dan tahap kedua. b. Penyajian Informasi Setelah melakukan pengumpulan informasi, tim menyusun matrik pencegahan risiko keluarnya HPHK sebagaimana terlampir pada Lampiran 3 serta menyusun peta matrik HPHK sebagaimana dimaksud pada Lampiran 4. BABIV LAPORAN HASIL PENGAMATAN STATUS DAN SITUASI HPHK Analisis data disajikan secara kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan jenis data yang diperoleh. Data diekspresikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk prevalensi dan insidensi, serta dalam bentuk peta status dan situasi HPHK yang memuat keterangan lokasi keberadaan penyakit. Laporan disusun dan dicetak pada kertas ukuran A4, diketik dengan huruf Arial 12 spasi 1,5, dengan sistematika sebagai berikut: * Ringkasan = BabI Pendahuluan, berisi: - Latar Belakang - Maksud dan Tujuan = Bab II Tinjauan Pustaka (Berisi tentang ulasan potensi penyebaran penyakit dan pentingnya pemetaan penyakit hewan) * Bab III Materi dan Metode, berisi: - Kuesioner yang dipergunakan = Metoda Diskusi (FGD/IDI) « Bab IV Pembahasan, beri: - Menguraikan hasil pengamatan status dan situasi HPHK (dilengkapi dengan ekspresi data dalam bentuk tabel dan grafik serta peta status dan situasi HPHK); - Menguraikan dinamike status dan situasi HPHK serta potensi/ancaman penyebaran HPHK yang diprediksi dapat terjadi); - Merekomendasikan langkah-langkah manajemen risiko untuk meminimalisir kemungkinan penyebaran HPHK. = Bab V Kesimpulan (sesuai dengan tujuan) * Daftar Pustaka Lampiran (Daftar hadir koordinasi dengan instansi terkait, hasil rekomendasi workshop yang menghadirkan instansi terkait di wilayah masing-masing UPT). Laporan disampaikan secara elektronik ke alamat email: pusatkhkehani@pertanian.go.id dan nurcahyo@pertanian.go.id i BAB VIL PENUTUP Pedoman Pemantauan Daerah Sebar HPHK Badan Karantina Pertanian Tahun Anggaran 2016 ini merupakan acuan dan pedoman dalam melakukan pengamatan status dan situasi HPHK oleh UPTKP. Pedoman ini bersifat dinamis dan sewaktu-waktu dapat disempurnakan apabila terjadi perubahan dan perkembangan teknologi serta Ingkungan strategis. KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN Ir/Banun Harpini, MSc NIP. 19601019 198503 2 001 12 Lampiran 2 Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor; 144/Kpts/KR.110/L/01/2016 ‘Tanggal: 29 Januari 20 MATRIK INFORMASI STATUS DAN SITUASI HPHK TAHUN 2016 Kabupaten/Kota: Provinsi: Periode Waktu yang Diamati: No. | Jenis Informasi Status dan Situasi HPHK Keterangan ‘Sumber HPHK |__Data Gejala Klinis (GK) ii Lab Pasif Data Hasil Surveilans Lokasi Data Informasi Ditemukan| Tidak & | Jenis Uji & Jenis Uji & Jenis Tokasi GK di... Ditemukan Jumlah Jumlah Positif. | Jumlah Negatif Negatif Lokasi asal Lokasi Pos Negatif dar ‘Surveilans Lampiran 3 Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor: 144/Kpts/KR.110/L/01/2016 ‘Tanggal: 29 Januari 2016 MATRIK PENCEGAHAN RISIKO KELUARNYA HPHK Nama UPTKP: Wo. | Status dan Situasi|Jonis Media] Namadan | PotensiHPHK | Alat Angkut | Langkah Manajemen Risiko sebagai upaya 'HPHK diLokasi | Pembawa yang | Status HPHK | yang dapat Keluar | dan Jalur Pencegahan Keluarnya HPHK Pemantauan Dilakukan | Area Tujuan | melalui Media | yang dilalui Pengeluaran Pembawa dari Media Area Asal ke Area Pembawa ane Cony ‘Yang akan ditingkatkan Tujuan dari Area Asal ke Area Tuj T. | Contoh: Contohi Anjing | Contoh: Contoh: Rabies | Contoh: Contoh: Contoh: Kasus Rabies pada Jakarta Pesawat 1, Pemeriksaan 1.Peningkatan koordinasi Anjing dan KLB Rabies (Bebas) Udara: Dari |” Dokumen dan ‘dan pengawasan pada Manusia di Bandara Fisikc terhadap pengeluaran Kabupaten Ketapang Supadioke | 2. Pengujian titer barang bawaan Kalimantan Barat Bandara antibody protektit | _penumpang dan kargo; Soekarno- 2.Mengusulkan Hatta dilalcakannya pelarangan sementara terhadap pengeluaran HPR dari Kalimantan barat. Lampiran 4 KeputusanKepalaBadanKarantinaPertanian Nomor: 144/Kpts/KR.110/L/01/2016 ‘Tanggal: 29 Januari 2016 PETA MATRIK HAMA PENYAKIT HEWAN KARANTINA Regional Sumatera rai ay ae Hama Penyakit Hewan Karantina fa, Sapidan Kerbau b. Unggas 1, | Aceh c. Karnivora d. Kambing dan Domba je. Babi 2,_| Sumatera Utara sd.adst 3,_| Sumatera Barat 4,_| Pekanbaru 5._| Jambi 6, _| Bangka Belitung 7,_| Sumatera Selatan 8. | Bengkulu 9._| Lampung 10. | Kepulauan Riaw a, Batam . Tanjung Pinang ¢. Tanjung B Karimun Regional Jawa dan Madura No. Propinst Hewan ‘Hama Penyakit Hewan Karantina T._| Jawa Tengah ja. Sapidan Kerbau b. Unggas jc. Karnivora Jd. Kambing dan Domba je, Babi 2,_| Jawa Timur ‘sadadst 3._| DIY dan Surakarta 4._| Banten 5._| DKI Jakarta 6._| Jawa Barat Regional Kalimantan No. Propinsi Hewan Hama Penyakit Hewan Karantina 1, | Kalimantan Barat a, Sapidan Kerbau b. Unggas jc. Karnivora 4. Kambing dan Domba e. Babi 2._| Kalimantan Tengah sdadst 3._| Kalimantan Selatan 4, | Kalimantan Timur 3._| Kalimantan Utara Regional Bali dan Nusa Tenggara No. Propinsi Hewan Hama Penyakit Hewan | Karantina T. [Bali fa. Sapidan Kerbau b. Unggas ©. Karnivora id. Kambing dan Domba e. Babi 2._| Nusa Tenggara Barat sidadst a. Pulau Lombok . Pulau Sumbawa 3._[ Nusa Tenggara Timur a. Kupang D. Pulau Flores ©. PulauLembata Regional Sulawesi dan Maluku Hama Penyakit Hewan No. Propinsi Hewan een a. Sapidan Kerbau b, Unggas 1. | Sulawesi Selatan ©. Karnivora 4. KambingdanDomba e. Babi 2._| Sulaviesi Barat edadst 3._| Sulawesi Tengah 4._| Gorontalo 5._| Sulawesi Utara 6. _| Sulawesi Tenggara 7._{ Maluku 8._| Maluku Utara Regional Papua Hama Penyakit Hewan No. Propinsi Hewan pet T. | Papua aa fa. SapidanKerbau b. Unggas ©. Karnivora 4. KambingdanDomba fe. Babi 2. | Papua Barat sdadst