Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ASUHAN NEONATUS
(Asuhan Neonatus Adaptasi BBL terhadap Pencegahan
Infeksi dan Rawat Gabung)

KELOMPOK 2 :

ENDANG
WENI SILVIA RAHMI

Dosen Pembimbing :
Elmispendrya Gusna, S.SiT, M.Keb

PRODI DIII KEBIDANAN


STIKES PIALA SAKTI
PARIAMAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Mempelajari serta memahami tentang adaptasi bayi baru lahir sangatlah
penting untuk memantau perkembangan dan kesehatan tubuh bayi baru lahir
karena perubahan-perubahan yang akan terjadi.
Lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam
bulan pertama kehidupan. Beberapa fungsi yang semula dilakukan oleh plasenta
sewaktu bayi berada di dalam rahim yang akan mengalami perubahan sesudah
lahir antara lain :
1. Perubahan respirasi
2. Perubahan sistem sirkulasi (kardiovaskuler)
3. Sistem pengaturan suhu dan metabolisme
Yang perlu dipantau pada bayi yaitu : suhu tubuh dan lingkungan, tanda
tanda vital, berat badan, perawatan kulit, pakaian serta perawatan tali pusat.
Dewasa ini penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian terjadi
dalam periode neonatal. Oleh karena itu, upaya pembinaan kesehatan bayi
dimulai dari pemenuhan kebutuhan primer akan menyebabkan kelainan-kelainan
yang dapat berakibat fatal bagi bayi. Misalnya hipotermi pada BBL yang
selanjutnya menyebabkan hipoksemia dan hipoglikemia. Dan yang tidak kurang
pentingnya adalah pencegahan terhadap infeksi-infeksi yang dapat terjadi melalui
tali pusat pada waktu memotong tali pusat.
Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal
adalah periode rentan akan banyak hal, seperti infeksi dan pengaturan tubuhnya,
terutama pada bayi yang beratnya rendah saat melahirkan. Sehingga perlu
pemberian ASI atau PASI yang mencukupi untuk membantu bayi dalam keadaan

sehat dan menurunkan angka kematian bayi. Manajemen yang baik pada waktu
masih dalam kandungan, selama persalinan, segera sesudah melahirkan dan
pemantauan dan perkembangan selanjutnya dan menghasilkan bayi yang sehat.
B. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini yaitu :
1. Tujuan khusus:
Memenuhi tugas mata kuliah asuhan kebidanan neonatal, BBl, dan balita
2. Tujuan Umum:
a. Memberi pengetahuan tentang adaptasi bayi baru lahir.
b. Memberi pengetahuan tentang pencegahan infeksi pada neonatus, bayi,
dan balita.
c. Memberi pengetahuan tentang rawat gabung
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Bagaimana adaptasi bayi baru lahir?
2. Bagaimana cara pencegahan infeksi pada neonatus, BBL, dan balita?
3. Apa yang di maksud dengan rawat gabung?
D. Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu:
1. Dapat menambah pengetahuan tentang adaptasi bayi baru lahir.
2. Dapat menambah pengetahuan tentang pencegahan infeksi pada neonatus,
bayi, dan balita.
3. Dapat menambah pengetahuan tentang rawat gabung.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan Di Luar Uterus


Penelitian menunjukan bahwa, 50% kematian bayi dalam periode
Neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan
bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang
mengkibatkan cacat seumur hidup, bahkan kemtian. Misalnya karena hipotermi
akan menyebabkan hipoglikemia dan akhirnya akan dapat terjadi kerusakan otak.
Pencegahan merupakan hal yang terbaik yang harus menyesuaikan diri dari
kehidupan intrauterine dapat bertahan baik karena periode neonatal merupakan
periode yang paling kritis dalam fase pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Proses adaptasi fisiologis yang dilakukan bayi baru lahir perlu diketahui dengan
baik oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, yang selalu memberikan pelayanan
kesehatan bagi ibu, bayi dan anak.
Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyesuaian fungsional
neonatus dari kehidupan di dalam uterus. Kemampuan adaptasi fungsional
neonatus dari kehidupan di dalam uterus kekehidupan di luar uterus.Kemampuan
adaptasi fisiologis ini di sebut juga homeostasis.Bila terdapat gangguan adaptasi,
maka bayi akan sakit.
Tabel Mekanisme Hemostatis/Adaptasi Bayi Baru Lahir
Sistem
Repirasi / sirkulasi
Pernafasanvolunter
Alveoli
Vaskularisasi paru
Resistensi paru
Intake oksigen
Pengeluaran CO2
Sirkulasi paru

Intrauterin
Belum berfungsi
Kolaps
Belum aktif
Tinggi
Dari plasenta ibu
Di plasenta
Tidak berkembang

Ekstrauterin
Berfungsi
Berkembang
Aktif
Rendah
Dari paru bayi sendiri
Di paru
Berkembang banyak

Sirkulasi sistematik Resistensi prifer


Denyut jantung
Rendah
Lebih cepat
Saluran Cerna
Absorbsi nutrien
Belum aktif
Kolonisasi kuman Belum
Feses
Mekoneum
Enzim pencernaan Belum aktif

Resistensi prifer
Tinggi
Lebih lambat
Aktif
Segera
<hari ke-4, fases biasa
Aktif

Homeostasis adalah kemampuan mempertahankan fungsi-fungsi vital,


bersifat dinamis, di pengaruhi oleh tahap pertumbuhan dan perkembangan,
termasuk masa pertumbuhan dan perkembangan intrauterin. Masa neonatus lebih
tepat jika di pandang sebagai masa adaptasi dari kehidupan ekstrauterin dari
berbagai sistem. Pada bayi kurang bulan, terdapat berbagai ganguan mekanisme
adaptasi. Adaptasi segera setelah lahir meliputi adaptasi fungsi-fungsi vital
(sirkulasi, respirasi, susunan saraf pusat, pencernaan dan metabolisme).
Homeostasis neonatus ditentukan oleh keseimbangan antar maturitas dan status
gizi.
1. Sistem Pernafasan
Perkembangan sistem pulnomer terjadi sejak masa embrio, tepatnya
pada umur kehamilan24 hari. Pada umur kehamilan umur 4 hari ini bakal
paru-paru terbentuk. Pada umur kehamilan ke 26-28 hari kedua bronchi
membesar. Pada umur kehamilan 6 minggu terbentuk segmen bronchus. Pada
umur kehgami8lan 12 minggu terjadi defresiensi lobus. Pada umur kehamilan
24 minggu terbentuk alveolus. Pada umur kehamilan 28 minggu terbentuk
surfaktan. Pada umur kehamilan 34-36 minggu struktur paru-paru matang,
artinya paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem alveoli. Selama dalam
uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah
bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.

Rangsangan gerakan prtama terjadi krena tekana mekanik dari toraks


sewaktu melalui jalan lahir (Stimulasi mekanik), penurunan Pa O 2 dan
kenaikan Pa CO2 merangsang komoreseptor yang terletak disinus karotikus
(stimilasi kimiawi), rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di
dalam uterus (Stimulasi sensorik) dan refleks deflasi hering breur.
Pernafasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit
pertama sesudah lahir. Respirasi neonatus besarnya pernafasan diafragmatik
dan abdominal.
2. Suhu Tubuh
Terdapat empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari
bayi baru lahir kelingkunganya.
a. Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ketubuh benda di sekitarnya
yang kontak langsung dengan tubuh bayi. (Pemindahan panas dari tubuh
bayi ke objek lain melalui kontak langsung). Contoh hilangnya pans
tubuh bayi secara konduksi, ialah menimbang bayi tanpa alas timbangan,
tangan dpenolong yang dingin memegang bayi baru lahir, menggunakan
stetoskop dingin untuk pemeriksaan bayi baru lahir.
b. Konveksi
Panas hilang dari bayi ke udara sekitanya yang sedang bergerak
(jumlah pans yang hilang tergantung pad kecepatan dan suhu udara).
Contoh hilanya panas tubuh bayi secara konveksi, ialah membiarkan atau
menempatkan bayi baru lahir dekat jendela, membiarkan bayi baru lahir
diruangan yang terpasng kipas angin.
c. Radiasi
Panas di pancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya
kelingkungan yang lebih dingin (Pemindahan panas anatar dua objek
yang mempunyai suhu berbeda). Contoh bayi mengalami kehilangan
panas tubuh secara radiasi, ialah bayi baru lahir di biarkan dalam ruangan

dengan Air onditioner (AC) tanpa di berikan pemanas(Radiant Warmer),


bayi baru lahir dibiarkan keadaan telanjang, bayi baru lahir di tidurkan
berdekatan dengan ruangan yang dingin, misalnya dekat tembok.
d. Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada
kecepatan dan kelembababan udara (perpindahan panas dengan cara
merubah cairan menjadu uap). Evaporasi di pengaruhi oleh jumlah panas
yang di pakai tingkat kelembaban udara, aliran udar yang melewati
apabila bayi baru lahir di biarkan suhu kamar 250C, maka bayi akan
kehilangan panas melalui konveksi, radiasi dan evaporasi 200
perkilogram berat badan (Perg BB), sedangkan yang di bentuk hanya satu
persepuluhnya.
Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, antar lain
mengeringkan bayi secara seksama, menyelimuti bayi dengan selimut
atau kain bersih, kering dan hangat, menutup bagian kepala bayi,
menganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusukan bayinya.
3. Metabolisme
Luas permukaan tubuh neonatus, relatif lebih luas dari tubuh orang
dewasa sehingga metabolisme basal per kg BB akan lebih besar. Bayi baru
lahir harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sehingga energi
diperoleh dari metabolisme karbojidrat dan lemak.
Pada jam-jam pertama energi di dapatkan dari perubahan kerbohidrat.
Pada hari kedua, energi berasal dari pembakaran lemak. Setelah mendapat
susu kuranglebih pada hari keenam, pemenuhan kebutuhan energi bayi 60%
di dapatkan dari lemak dan 40% dari karbohidrat.
4. Peredaran Darah
Fetus janin menerima oksiogen dan makanan dari plasenta, maka
seluruh darah ftus harus melalui plasenta. Semua darah tercampur, antara
darah yang di reoksigenisasi dan plasenta dan darah yang telah

dideoksigenisasi ketika meninggalkan fetus untuk masuk kedalam plasenta.


Fungsi paru-paru di jalnkan oleh plasenta. Fetus tidak mempunyai sirkulasi
pulmoner seperti sirkulasi pada orang dewasa. Pemberian darah secara
terbatas mencapai paru-paru, hanya cukup untuk makan dan poertumbuhan
paru-paru itu sendiri.
Fetus in utero mempunyai sirkulasi yang jelas berlainan dari
kehidupan

setelah

lahir.

Darah

yang

sudah

di

reogsigenasasikan

meninggalkan plasenta melalui satu-satunyavena umblika. Vena umblika


berjalan di dalam tali pusat keumblikus dan dri sana ada vena kecil yang
berjalan keporta hepatis. Hampir tidak ada darah masuk kedalam hati sebab
vena umblika berlangsung bersambung dengan vena kava inferior melalui
sebuah pembuluh besar, yang disebut duktus venosus. Setelah berada di
dalam vena kava inverior, darah berjalan keatas dan mencapai atrium kanan.
Sebagin besar darah bukan masuk kedalam ventrikel kanan (sebagaiman
sirkulai pada orang dewasa), bukan masuk atrium kiri, tetapi melalui lubang
vetal yang hanya untuk sementara ada di dalam septum interatrial, yang di
sebut foramen ovale.
Setelah mencapai atrium kiri, darah masuk melalui ketup mitral
kedalam ventrikal kiri. Kontraksi vetrikal kiri mendorong darah masuk
kedalam aorta asendens. Dari sini sebagian besar darah didistribusikan ke
jantung, otak dan anggot atas.
Paru-paru dalam masa fitus tidak aktif dan hanya mendapa sedikit
darah. Sebagian besar darah dalam arteri pulmonaris disalurkan langsung
kedalam aorta melalui sebuah arteri besar berotot yang di sebut duktus
arterious yang bergabung dengan aorta dekat akhir lengkungan aorta (aorta
terosika desendens). Dengtan demikian sebagian besar darah yang telah
dideoksigenisasi yang melalui duktus arterious dan sebagian kecil darh yang
berisi oksigen, mencapainya melalui lengkungan aorta.

Setelah bayi lahir, paru akan berkembang mengakibtkan tekanan


arteriol dalam paru menurun. Tekanan dalam jantung kanan turun, sehingga
tekanan jantung kiri lebih besar daripada jantung kanan yang mengakibatkan
menutupnya feromen ovale secara fungsional. Hal ini terjadi pada jam-jam
pertama setelah kelahiran oleh karena tekanan dalam paru turun dan tekana
dalam aorta desendens naik serta edi sebabkan olehg rangsangan biokimia
(PaO2 yang naik) dan duktus arterius berobilitrasi.
Aliran darah paru pada hgari pertama ialah 4-5 liter permenit/m 2
(gessner, 1965). Aliran darah sistolik pada hari pertama rendah, yaitu 1,96
liter permenit/m2 dan bertambah pertama pada hari kedua dan ketiga (3,54
liter/m2) karena penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah pada waktu lahir
di pengaruhi oleh jumlah darah yang melalui transfusi plasenta dan pada jamjam pertama sedikit6 menurun, untuk kemudian naik lagi dan menjadi
konstan kira-kira 85/40 mmHg.
5. Keseimbangan Air Dan Fungsi Ginjal
Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar
natrium relatif lebih besar dari kalium karena ruangan ekstraseluler luas.
Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah nefron masih belum
sebanyakorang dewasa, ketisdak seimbangan luas permukaan glamerulus dan
volume tubulus proksimal, serta renal blood flow relatif kurang bila di
bansingkan dengan orang dewasa.
6. Imonoglobulin
Pada neonatus tidak terdapat sel plasma pada sum-sum tulang, lamina
propia ilium serta apendiks. Palsenta merupakan sawar sehingga fetus bebas
dari antigen dan strees imunologis. Pada bayi baru lahir hanya terdapat gama
globulin G, sehingga imunologi dari ibu dapat melalui plasenta karena berat
molekulnya kecil. Tetapi bila ada infeksi yang dapat melalui plasenta (lues,
toksoplasma, herpes simpleks dan lain-lain), reaksi imunologis dapat terjadi
dengan pembentukan sel plasma dan anti body gamma A, Gdan M.

7. Traktus Digestivus
Traktus digestivus relatif lebih berat dn lebih panjang di bandingkan
orang dewasa. Pada masa neonatus, traktus digestivus manegandung zat-zat
yang berwarna hitam kehijauan yang terdiri dari mukopolosakarida dan di
sebut mekonium. Pengeluaran mekonium biasanya dalam 10 jam pertama dan
dalam 4 hari biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna biasa. Enzim
dalam traktus digestivus biasanya sudah terdapat pada neonatus kecuali
amilase pankreas.
8. Hati
Segera setelah lahir, hati menunjukan perubahan kimia dan
morfologis, yaitu kenaikan kadar protein serta penurunan lemak dan
glikogen. Sel sel hemopoetik juga mulai berkurang, walaupun memakan
waktu agak lama. Enzim hati belum aktif benar pada waktu bayi baru lahir,
daya ditoksifikasi hati pada neonatus juga belum sempurna, contohnya
pemberian obat kloramfenikol dengan dosis lebih dari 50 mgt/kg BB / hari
dapat menimbulkan grey baby syndrome.
9. Keseimbangan Asam Basa
Derajat kesamaan (pH) darah pada waktu lahir rendah, karena
glikolisis anaerobik. Dalam 24 jam neunatus telah mengkompensi asidosis.
B. Pencegahan Infeksi
Menurut laporan kelompok kerja WHO pada bulan april 1994, dari 8,1
juta kematian bayi di dunia, 48% diantaranya adalah kematian neonatal. Sekitar
60% diantarnya merupakan kematian bayi berumur kurang dari 7 hari serta
kematian bayi berumur lebih dari 7 hari akibat gangguan prinatal. Sekitar 42%
kematian neonatal di sebabkan oleh infeksi seperti tetanus neonatrum, sepsis,

meningitis, pneumonia dan diare. Pada kematian neonatal di sebabkan oleh


karena infeksi, dua pertigananya dengan proses persalinan.
Pencegahan infeksi merupakan penata laksanaan awal ayang harus
dilakukan pada bayi baru lahior karen bayi barhu lahir sangat rentang terhadap
infeksi. Pada saat penanganan bayi baru lahir, pastikan penolong untuk
melakukan tindakan pencegahan infeksi pada bayi baru lahir, adalah sebagai
berikut :
1.

Mencuci tangan secara seksama sebeluym danm setelah melakukan kontak


dengana bayi.

2.

Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum di
mandikan.

3.

Memastikan semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat
telad disinfeksikan tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet
penghisap, pakai yang bersih dan baru. Jangan pernah menggunakan bola
karet penghisap untuk lebih dari satu bayi.

4.

Memastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang


digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih

5.

Memastikan bahwa timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan


benda-benda lainya yang akan bersentuhan dengan bayia dalam keadaan
bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali setelah digunakan)

6.

Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama payudaranya dengan


mandi setiap hari(puting susu tidak boleh disabun)

7.

Membersihkan muka, pantat dan tali pusat bayi baru lahir dengan air bersih,
hangat dan sabun setiap hari

8.

Menjaga bayai dari orang-orang yang menderita infeksi dan memastikan


orang yang memegang bayi sudah cuci tangan sebelumnya.

10

Upaya ini yang dapat dilakukan untuk menjegah terjadinya infeksi pada
bayi baru lahir adalah :
1. Pencegahan infeksi pada tali pusat
Upaya ini di lakukan dengan cara merawat tali pusat yang berarti
menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing, kotoran
bayi atau tanah. Pemakaian popok bayi diletakan disebelah bawah talib pusat.
Apabila tali pusat kotor, cuci luka tali pusat dengan air bersih yang mengalair
dengan sabun, segera di keringkan dengan kain kasa kasa kering dan di
bungkus dengan kasa tipis yang steril dan kering. Dilarang membubuhkan
atau mengoleskan ramuan, abu dapur dan sebagainya pada luka talu pusat,
sebab akan menyebabkan infeksi dan tetanus yang dapat berakhir dengan
kematian neonatal. Tanda-tanda infeksi tali pusat yang harus di waspadai
antara lain kulit seklitar tali pusat berwarna kemerahan, ada pus / nanah dan
berbau busuk. Mengawasi dan segera melaporkan kdokter jika pada tali pusat
di temukan perdarahan, pembengkakan, keluar cairan, tampak merah atau
bau busuk.
2. Pencegahan infeksi pada kulit
Beberapa cara yang di ketahui yang dapat mencegah terjadinya
infeksi pada kulit bayi baru lahir atau penyakit infeksi lain adalah meletakan
bayi di dada ibu agar terjadi kontak kulit langsung ibu dan bayi, sehingga
menyebabkan terjadi kolonisai mikroorganisme yang ada di kulit dan saluran
pencernaan bayi dengan mikroorganissme ibu yang cendrung bersifat
nonpatogen, serta adanya zat antibodi bayi yang sudah terbentuk dan
terkandung dalam air susu ibu.
3. Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir
Cara mencegah infeksi pada mata bayi baru lahir adlah merawat mata
bayi baru lahir dengan mencuci tangan terlabih dahulu, membersihkan kedua
mata sgera setelah lahir dengan kapas atau sapu tangan halus dan bersih yang

11

telah di bersihkan dengan air hangat. Dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir,
berikan salep obat tetes mata untuk mencegah oftalmia neonatrum (tetrasklin
1%, Eritrosmin 0,5% atau Nitras Argensi 1%), biarkan obat tetap pada mata
bayi dan obat yang ada di sekitar mata jangan di bersihkan. Setelah selesai
merawat mata bayi, cuci tangan kembali. Keterlambatan memberikan salep
mata, misalnya bayi baru lahir diberi saleb mata setelah 1 jam setelah lahir,
merupakan sebab tersaring kegagalan upaya pencegahan infeksi pada mata
bayi baru lahir.
4. Imunisasi
Pada daerah resiko tinggi infeksi tuberkulosis, imunisasi BCG harus
di berikan pada bayi segera setelah lahir. Pembewrian dosisi pertama tetesan
polio di anjurkan pada bayi segera setelah lahir atau pada umur 2 minggu.
Maksud pemberian imunisasi polio secara dini adalah untuk meningkatkan
perlindungan awal. Imunisai Hepatitis B sudah merupakan program nasional,
meskipun pelaksanaanya di lakukan secara bertahap. Pada daerah resiko
tinggi, pembewrian imunisai Hepatitis B di anjurkan pada bayi segera setelah
lahir.
C. Rawat Gabung
Adalah satu cara perawatan ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak
dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruang, kamar atau tempat
bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya. Dengan kata lain, rawat
gabung adalah sistem perawatan ibu dan bayi bersama-sama atau pada tempat
yang berdekatan sehingga memungkinkan sewaktu-waktu atau setiap saat ibu
tersebut dapat menyusui bayinya. Menurut sifatnya, rawat gabung di bedakan
menjadi dua, yakni :
1. Rawat gabung kontinu, yaitu bayi berada di samping ibu terus menerus
2. Rawat gabung intermiten, yaitu bayi hanya sewaktu-waktu saj bersam ibu,
misalnya pada saat bayi akan menetek saja.

12

Tujuan rawat gabung secara umum adalah membina hubungan


emosuonala antara ibu dan bayi, meningkatkan penggunaan air susu ibu (ASI),
pencegahan infeksi dan pendidikan kesehatan bagi ibu. Dengan rawat gabung ibu
dapat menyusui bayinya sedini mungkin, kapan saja, dimana saja bayi
membutuhkanya. Ibu dapat melihat dan memahami cara perawataan bayi secara
benar yang dilakukan oleh petugas, ibu mempunyai pengalaman dalam merawat
bayinya sendiri selagi ibu masih dirumah sakit, dapat melibatkan suami secara
aktif untuk membantu ibu dalam menyusui bayinya secara baik dan benar, ibu
mendapat kehangatan emosional/batin karena selalu kontak dengan bayinya.
Syarat bayi baru lahir bisa dilakukan rawat gabung, antara lain bayi lahir
spontan baik persentasi kepala maupun bokong. Apabila bayi lahir dengan
tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks
mengisap baik, tidak ada tanda-tanda infeksi dan lain-lain. Apabila bayi lahir
secara seksio sesaria dengan pembiusan umum, rawat gabung dilakukan setelah
ibu sadar dan bayi tidak mengantuk, 4-6 jam setelah oprasi selesai. Syarat), umur
kehamilan lebih dari atau sama dengan 2500 gram, tidak terdapat tanda infeksi
intrapartum, bayi dan ibu dalam keadaan sehat.
Rawat gabung tidak di9perbolehkan pada bayi yang sangat prematur, bayi
dengan berat lahir kurang dari 200 gram, bayi dengan se4psis, bayi dengan
ganguan nafas, bayi denga cacat bawaan berat atau ibu dengan infeksi berat
(antara lain Tuberkulosisi, Sepsis). Bayi baru lahir tidak boleh dilakukan rawat
gabung, apabila keadaan ibu atau keadaan bayi tidak memungkinkan. Kontra
indikasi rawat gabung dari keadaan ibu, antara lain status kardiorrespirasi tidak
normal (ibu dengan decompensatio cordis tingkat III di anjurkan untuk
menyusui), pascaeklampsi kesadaran belum baik, infeksi akut (tuberklosis aktif),
hepatitis, HIV / AIDS, citomegalovirus (CMV), herpes, kanker payudara dan
psikosis. Kontra indikasi rawat gabung dari keadaan bayi, antara lain bayi
kejang/kesadaran menurun, penyakit jantung/pengawasan intensif serta bayi
dengan cacat bawaan tidak mampu menetek.

13

Pelaksanaan rawat gabung, bisa dilakukan di poliklinik kebidanan, di


ruang bersalin, di ruang perawatan serta di poliklinil anak. Kegiatan rawat
gabung di ruang bersalin bisa dilakukan apabila memenuhi beberapa kriteria
berikut ini : nilai APGAR lebih dari 7, berat badan lahir 2500-4000 gram, usia
kehamilan 37 sampai denga 42 minggu, bayi lahir spontan, tidak ada infeksi
intrapartum, ibu sehat, tidak ada komplikasi persalinan pada ibu dan bayi, tidak
ada kelainan bawaan berat. Kegiatan rawat gabung di ruang bersalin, antara lain
dalam setengah jam setelah lahir bayi segera di susukan, ibu di berikan
penyuluhan tentang ASI dan rawat gabung, persiapan ibu dan bayi keruang
perawatan .
Kegiatana rawat gabung keruang perawatan, yakni meletakan bayi dalam
books bayi disamping tempat tidur ibu, mengawasi keadaan umum bayi, catat
dalam status. Bayi boleh menetek setiap kali, tidak boleh diberi susu botol, jika
ada indikasi medis pemberian susu formula, berikan dengan pipet, sendok,
cangkir atau naso gastrik tube (NGT), memantau ibu menetek bayi, penyuluhan
sebelum ibu dan bayi pulang. Kegiatan rawat gabung di poliklinik anak, yakni
menimbang berat badan, memeriksa payudara dan proses laktasi, mengkaji
makanan bayi, memeriksa keadaan ASI, penyuluhan makanan dan perawatan
bayi, memberikam jadwal makanan bayi, pemerikasaan bayi oleh dokter sert
amemberikan imunisasi sesuai jadwal.
Model pengaturan ruangan untuk mendukung kegiatan rawat gabung,
antara lain satu kamar untuk satu ibu dan satu bayi, satu kamar untuk empat
sampai lima ibu dan kamar disebelah untuk bayi. Bayi bisa di tarik oleh ibu tanpa
ibu keluar kamar, beberapa ibu dalam satu kamar, bayi dikamar lain yang disekat
dengan kaca, ibu dan bayi pada satu tempat tidur, boks bayi disamping tempat
tidur ibu.
Rawat gabung memberikan banyak menfaat bagi ibu dan bayi yaitu:
Manfaat rawat gabung dari aspek fisik antara lain mengurangi kemungkiinan
infeksi silang dari pasien lain atau petugas, dengan menyusui dini kolostrum

14

dapat memberikan kekebala, ibu dapat dengan mudah mengetahui perubahanperubahan yang terjadi pada bayinya karena setiap saat dapat melihat bayinya.
Manfaat dari aspek fisiologis antara lain bayi banyak mendapatkan nutrisi secara
fisiologis dan mebantu proses involusi uterus. Manfaat dari aspek psikologis
adalah terjalin lekat akaibat sentuhan badaniah antara ibu dan bayinya, bayi
merasa aman dan terlindungi. Manfaat dari aspek edukatif antara lain ibu
mempunyai pendidikan dan pengalaman yang berguna sehingga mempu
menyusui serta merawat bayinya. Manfaat dari aspek ekonomi antara lain adanya
penghematan anggaran dan pengeluaran untuk pembelian susu buatan. Manfaat
dari aspek medis antara lain menurunkan terjadinya infeksi nosokomialn
menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.
Keuntungan dari kegiatan rawat gabung, antara lain menggalakan
pemakaian ASI, hubungan emosional ibu dan bayi lebih dini dan dekat, ibu dapat
segera melaporkan keadaan bayi aneh pada bayi, mengurangai ketergantungan
ibu pada petugas dan meningkatkan percaya diri, ibu bisa belajar merawat bayi,
ibu dapat bertukar pengalaman dengan ibu lain, resiko infeksi silang dan
nosokomial berkurang, sehingga petugas bisa melakukan tugas lain.
Kerugian dari kegiatan rawat gabung, antara lain kemungkinan ibu
kurang istirahat, bisa salah memberikan makanan kepada karena pengaruh orang
lain, pada ibu yang kurang menjaga kebersihan diri, bayi dan ibu akan mudah
sakit, bayi dapat terkena infeksi dari perngunjung , serta kadang ada hambatan
tehnis dan fasilitas pelaksanaan.

15

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Rawat gabung adalah suatu system perawatan dimana bayi beserta ibunya
dirawat dalam satu unit. Dalam pelaksanaannya bayi harus berada disamping ibu
sejak segera setelah lahir samapai pulang. Fasilitas Rawat Gabung adalah hak
seorang ibu , dengan adanya rawat gabung ini hubungan ibu dan bayinya akan
semakin erat dan bayi bisa merasakan kasih sayang dari ibunya. Ibu dapat
menyusui bayinya sedini mungkin kapan saja dibutuhkan, ibu dapat melihat dan
memahami cara perawatan bayi yang benar seperti yang dilakukan oleh petugas,
ibu mempunyai pengalaman dalam merawat bayinya sendiri selagi ibu masih di
rumah sakit dan yang lebih penting lagi, Ibu memperoleh bekal keterampilan
merawat bayi serta menjalankannya setelah pulang dari rumah sakit. Pada Rawat
Gabung inisiasi dini dan pemberian ASI Eksklusif adalah hal yang harus di
mengerti setiap ibu.
B. Saran
Jika ada kesalahan dan kekeliruan pada makalah ini maka kami meminta
kritik maupun saran yang membangun dari pembaca agar bias lebih baik
kedepannya.

16

DAFTAR PUSTAKA

Farrer, Helen. 1999. Perawatan Maternitas (Maternity Care). Jakarta: EGC.


Maryam, A. 2003. Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi dan Anak Balita.
Makassar: UIT.
Prawirohardo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Mappiwali, Asrul. 2008. Rawat Gabung (Rooming In). Makassar: FK
UNHAS.
.Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Makassar: YAPMA.
Cakul obsgyn, FKUI , Kamar bersalin dan rawat gabung Sutjiningsih, Petunjuk ASI

17

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang..............................................................................................................1
B. Tujuan..........................................................................................................................2
C. Rumusan Masalah........................................................................................................2
D. Manfaat........................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan Di Luar Uterus..................................3
1. Sistem Pernafasan....................................................................................................4
2. Suhu Tubuh..............................................................................................................5
3. Metabolisme.............................................................................................................6
4. Peredaran Darah.......................................................................................................6
5. Keseimbangan Air Dan Fungsi Ginjal......................................................................8
6. Imonoglobulin..........................................................................................................8
7. Traktus Digestivus....................................................................................................9
8. Hati...........................................................................................................................9
9. Keseimbangan Asam Basa.......................................................................................9
B. Pencegahan Infeksi.......................................................................................................9
1. Pencegahan infeksi pada tali pusat.........................................................................11
2. Pencegahan infeksi pada kulit................................................................................11
3. Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir........................................................11
4. Imunisasi................................................................................................................12
C. Rawat Gabung............................................................................................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................................16
B. Saran..........................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA

ii
18

KATA PENGANTAR

Dengan kebesaran allah swt. yang maha pengasih lagi maha penyayang,
penulis panjatkan rasa puji syukur atas hidayah-nya, yang telah melimpahkan rahmat,
nikmat, dan inayah-nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah Asneo .
Adapun Makalah Asneo ini telah penulis usahakan dapat disusun dengan
sebaik mungkin dengan mendapat bantuan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan
makalah ini dapat diselesaikan secara tepat waktu. untuk itu penulis tidak lupa untuk
menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
penulis dalam penulisan makalah ini.
Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaikbaiknya, penulis tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari
segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.
oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi pembaca
yang bermaksud untuk memberikan kritik dan saran kepada penulis agar penulis
dapat memperbaiki kualitas makalah ini.
Penulis berharap semoga Makalah Asneo ini bermanfaat, dan pelajaranpelajaran yang tertuang dalam makalah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya
oleh para pembaca.
Pariaman, Oktober 2016

Penulis

i
19

Anda mungkin juga menyukai