Anda di halaman 1dari 16

1.

1 Pusat Pertanggungjawaban
1.1.1 Pengertian Pusat Pertanggungjawaban
Suatu pusat pertanggungjawaban dibentuk untuk mencapai salah satu atau beberapa
tujuan. Tujuan suatu pusat pertanggungjawaban secara individual diharapkan dapat
membantu pencapaian tujuan suatu organisasi sebagai suatu keseluruhan sehingga tercapai
keselarasan tujuan. Aktivitas suatu ousat pertanggungjawaban dapat dihubungkan ke dalam
hubungan masukan, proses, keluaran, dan tujuan. Suatu pusat pertanggungjawaban
menggunakan masukan (input) untuk diproses menjadi keluaran (output) dalam rangka
mencapai tujuan dengan menggunakan investasi (aktiva atau modal).
Masukan adalah sumber-sumber ekonomi yang digunakan ke dalam proses, seperti:
sumber daya bahan, sumber daya manusia, sumber daya kapasitas dan fasilitas, serta sumber
daya lainnya. Proses adalah pengolahan atau pengerjaan masukan menjadi keluaran. Keluaran
adalah produk atau hasil suatu pusat pertanggungjawaban. Keluaran atau produk dapat
digolongkan ke dalam: (1) barang, jika berwujud, dan (2) jasa, jika tidak berwujud. Keluaran
suatu suatu pusat pertanggungjawaban mungkin dijual kepada pihak luar (eksternal)
organisasi atau mungkin dikonsumsi oleh oihak dalam (internal) organisasi yaitu oleh pusat
pertanggungjawaban lainnya.
Struktur pengendalian manajemen memfokuskan pada berbagai jenis pusat
pertanggungjawaban. Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh
seorang manajer yang bertanggungjawab atas aktivitas yang dilakukan unit tersebut yang
didefinisikan oleh Anthony Vijay (2000:128) adalah sebagai berikut A responsibility center
is an organization unit that headed by a manager by manager who is responsible for its
activities.
Pusat pertanggungjawaban yang merupakan bagian atau unit organisasi yang
dipimpin oleh seorang manajer terhadap unit yang dipimpinnya. Setiap pusat
pertanggungjawaban mempunyai wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan
yang ditetapkan oleh organisasi yang bersangkutan.
Anderson dan Sollenderger (1992:102) menyatakan bahwa pusat pertanggungjawaban
adalah tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai manajer yang bertanggungjawab terhadap
aktivitasnya. Manajer unit tersebut juga mengendalikan biaya dan pendapatan.
A responsibility center (1) is any organization unit where management control exist
over incurring cost or generating revenue. Organizational unit maybe departement,
plants, divitions, subsidiaries, gropp, or an entire organizational. (2) is any
organizational that has a spesific manager responsibilty for activities.

Dengan demikian, sebuah unit atau bagian dalam perusahaan dapat dikategorikan
sebagai pusat pertanggungjawaban bila unit tersebut mempunyai wewenang, tugas dan
tanggung jawab yang jelas sehingga dapat diukr kinerja dari unit organisasi tersebut.
Unit kerja dalam suatu organisasi selain dapat efisien juga harus efektif sebab salah
satu syarat penting organisasi adalah mengahasilkan laba. Pengendalian manajemen adalah
suatu proses dimana manajemen menjamin bahwa organisasi telah melaksanakan strateginya
dengan efektif dan efisien. Dalam hal ini efektivitas diukur berdasarkan kaitan antara
keluaran (output) pusat pertanggungjawaban dengan tujuan atau target yang ditetapkan.
Sedangkan efisiensi adalah perbandingan keluaran dengan masukan (input) pusat
pertanggungjawaban.
Pusat pertanggungjawaban dalam organisasi juga diciptakan manajemen puncak agar
tidak kewalahan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dengan cara menugaskan manajer yang
ada dibawahnya untuk menangani wilayah yang menjadi tanggungjawabnya.
Seperti yang dikemukakan oleh Hansen & Mowen (2000:62) yang diterjemahkan oleh
Ancella A. Hermawan dalam bukunya Akuntansi Manajemen, bahwa :
Pusat pertanggungjawaban (responsibility center) merupakan suatu segmen bisnis
yang manajernya bertanggungjawab terhadap pengaturan kegiatan-kegiatan tertentu.
Pendapat tersebut didukung oleh Supriyono (2000:326) dalam bukunya Sistem
Pengendalian Manajemen, yang menyatakan bahwa :
Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh seorang
manajer yang bertanggung jawab atas aktivitas-aktivitas pusat
pertanggungjawabannya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pusat pertanggungjawaban merupakan
bagian dari suatu organisasi yang didalamnya terdapat berbagai kegiatan yang membutuhkan
suatu masukan berupa sumber daya yang digunakan, yang dapat diukur dengan uang untuk
diproses sehingga menghasilkan suatu keualaran yang dapat berupa barang atau jasa, yang
semuanya itu menjadi tanggungjawab manajer yang bersangkutan.
1.1.2 Jenis-jenis Pusat Pertanggungjawaban
Dalam suatu organisasi, penentuan daerah pertanggungjawaban dan manajer yang
bertanggungjawab dilaksanakan dengan menetapkan pusat-pusat pertanggungjawaban,
seperti yang dikemukakan oleh Hansen & Mowen (2000:63) yang diterjemahkan oleh
Ancella A. Hermawan dalam bukunya Akuntansi Manajemen, ada empat jenis pusat
pertanggungjawaban dalam suatu organisasi, antara lain sebagai berikut :

1. Pusat biaya (cost center), yaitu suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya
bertanggungjawab hanya terhadap biaya.
2. Pusat pendapatan (revenue center), yaitu suatu pusat pertanggungjawaban yang
manajernya bertanggungjawaban hanya terhadap penjualan.
3. Pusat laba (profit center), yaitu suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya
bertanggungjawab hanya terhadap pendapatan maupun biaya.
4. Pusat investasi (investment center), yaitu suatu pusat pertanggungjawaban yang
manajernya bertanggungjawab hanya terhadap pendapatan, biaya, dan investasi.
Selanjutnya penulis tidak akan membahas semua jenis pusat pertanggungjawaban
tersebut, penulis hanya akan membahas mengenai pusat laba dan pusat investasi karena
sesuai dengan materi yang dipresentasikan.
1.2 Pusat Laba
1.2.1 Pengertian Laba
Laba atau profit merupakan indikasi kesuksesan suatu badan usaha dengan mengukur
efektivitas dan efisien. Walaupun tidak semua perusahaan menjadikan profit sebagai tujuan
utamanya tetapi dalam mempertahankan usahanya memerlukan laba. Laba merupakan bagian
dari ikhtisar keuangan yang memiliki banyak kegunaan dalam berbagai konteks, laba pada
umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, penentuan kebijakan pembayaran
deviden, pedoman investasi, dan pengembalian keputusan.
Pengertian laba menurut Syahrul dkk (2000:666) dalam bukunya kamus istilahistilah Akuntansi, adalah sebagai berikut :
1. Laba adalah perbedaan positif sebagai hasil penjualan produk-produk dan jasa-jasa
dengan harga yang lebih tinggi daripada biaya untuk menghasilkannya.
2. Laba adalah perbedaan antara harga jual dan harga beli dari suatu komoditi atau surat
berharga apabila harga jual lebih tinggi.
Sedangkan, pengertian laba menurut Sofyan Syafri Harahap (2004:288) dalam bukunya
Teori Akuntansi, yaitu sebagai berikut :
Laba adalah naiknya nilai equity dari transaksi yang sifatnya insidental dan bukan
kegiatan utama entity dan dari transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entity selama
satu periode tertentu kecuali yang berasal dari atau investasi dari pemilik.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa laba merupakan hasil dari
pengurangan antara pendapatan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan guna memperoleh
tercapainya laba yang maksimum. Dalam kenyataannya pusat laba tidak diukur kinerjanya
dengan laba saja. Tanpa menghubungkan laba dengan investasi yang digunakan untuk

mengahasilkan laba, kinerja pusat laba tidak akan tercermin dari ukuran kinerja tersebut.
Oleh karena itu, pusat laba dan pusat investasi pada dasarnya sama. Kedua tipe pusat
pertanggungjawaban tersebut diukur kinerjanya dari kemampuan dalam menghasilkan laba
dari investasi yang ditanamkan dalam pusat pertanggungjawaban tersebut.
1.2.2 Jenis-jenis Laba
Laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan menimbulkan beberapa jenis laba yang
ada dalam perhitungan laba rugi. Menurut Sofyan Syafri Harahap (2000:58) dalam bukunya
Teori Akuntansi Lapaoran Keuangan, jenis-jenis laba dalam kaitanya dengan perhitungan
laba rugi, terdiri dari :
1.
2.
3.
4.

Laba kotor,
Laba operasional,
Laba sebelum pajak,
Laba setelah pajak atau laba bersih.

Jenis-jenis laba tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :


1. Laba kotor
Laba kotor adalah pendapatan dikurangi harga pokok penjualan.
2. Laba operasional
Merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas yang termasuk rencana perusahaan kecuali
ada perubahan besar dalam perekonomian, yang diharapkan akan tercapai setiap
tahun. Oleh karena itu, angka ini menyatakan perusahaan untuk hidup dan mencapai
laba yang pantas sebagai balas jasa kepada pemilik modal.
3. Laba sebelum pajak
Merupakan laba operasi ditambah hasil biaya diluar operasi biasa. Bagi pihak-pihak
tertentu dalam hal pajak, angka ini adalah yang terpenting karena jumlah ini
menyatakan laba yang pada akhirnya dicapai perusahaan.
4. Laba setelah pajak atau laba bersih
Merupakan laba setelah dikurangi pajak. Laba bersih dipindahkan ke dalam perkiraan
laba ditahan (retained earning). Dan perkiraan laba ditahan ini akan diambil sejumlah
tertentu untuk dibagikan sebagi deviden kepada pemegang saham.

1.2.3 Pengukuran Laba


Konsep laba yang paling tepat untuk pelaporan operasi kuangan perusahaan terutama
ditentukan oleh tujuan para penerima ikhtisar data akuntansi dan konsep laba tersebut dapat
pula diukur dengan didasarkan pada tiga jenis pendekatan (approach).

Menurut Eldon S. Hendriksen (2000:332) yang diterjemahkan oleh Marianus Sinaga


dalam bukunya Teori Akuntansi, bahwa :
Pengukuran laba yang didasarkan pada tiga jenis pendekatan (approach) yaitu konsep
laba pada tingkat struktural, tingkat interpretasif, dan tingkat perilaku.
Ketiga pengukuran laba tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Konsep pengukuran laba pada tingkat struktural adalah konsep pengukuran laba yang
didasari atas konsep laba akuntansi, FASB statement of accounting concept No. 1
menganggap bahwa laba akuntansi merupakan pengukuran yang baik atas prestasi
perusahaan dan bahwa laba akuntansi dapat digunakan dalam prediksi arus kas yang
akan datang.
2. Konsep pengukuran laba pada tingkat interpretatif, menyadarkan pemikiran atas
keterkaitan laba dengan modal pemilik. Dalam hal ini laba diakui sebagai suatu
kenaikan bersih dalam kekayaan.
3. Konsep pengukuran laba pada tingkat perilaku, menghubungkan laba dengan proses
keputusan para investor dan kreditor, reaksi harga surat berharga di pasar yang
terorganisasi terhadap pelaporan laba, keputusan pengeluaran modal dari manajemen,
dan reaksi umpan balik manajemen dan para akuntan.
1.2.4 Pengertian Pusat Laba
Laba merupakan salah satu tujuan perusahaan didirikan dan laba tersebut harus dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Laba diperoleh dari divisi-divisi dapat
dikelompokkan menjadi pusat laba dan pengertian dari pusat laba itu sendiri dapat dijelaskan
sebagai berikut.
Menurut Hansen & Mowen diterjemahkan oleh Ancella A.Hermawan (2005:65)
dalam bukunya Akuntansi Manajemen pengertian pusat laba adalah sebagai berikut :
Pusat laba adalah suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya
bertanggungjawab terhadap pendapatan maupun biaya.
Sedangkan Menurut Supriyono (2000:333) dalam bukunya Sistem Pengendalian
Manajemen pengertian pusat laba adalah :
Pusat laba adalah suatu pusat pertanggungjawaban dalam suatu organisasi yang
kinerja manajernya dinilai atas dasar selisih pendapat dengan beban biayanya dalam
pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pusat laba merupakan pusat
pertanggungjawaban yang dinilai atas dasar selisih pendapatan dengan beban atau biaya

dalam suatu organisasi yang menjadi tanggungjawab seorang manajer. Sehingga pusat laba
dapat mengukur efisiensi dan efektivitas dalam suatu perusahan, termasuk penentuan harga
transfer.
1.2.5 Manfaat Pusat Laba
Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pusat laba merupakan pusat
pertanggungjawaban dan dinilai atas dasar selisih pendapatan dengan biaya dalam suatu
organisasi yang menjadi tanggungjawab seorang manajer mempunyai manfaat pusat laba agar
pusat laba tersebut menjadi efektif.
Menurut Robert N.Anthony & Vijay Govindarayan (2002:170) diterjemahkan oleh
Kurniawan Tjakrawala dalam bukunya Sistem Pengendalian Manajemen, manfaat pusat
laba diantaranya sebagai berikut :
1. Kualitas keputusan dapat meningkat karena keputusan tersebut dibuat oleh para
manajer yang paling dekat dengan titik keputusan.
2. Kecepatan dari pengambilan keputusan operasional dapat meningkat karena tidak
perlu mendapat persetujuan terlebih dahulu dari kantor pusat.
3. Manajemen kantor pusat bebas dari pengambilan keputusan harian sehingga dapat
berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih baik.
4. Karena pusat-pusat laba serupa dengan perusahaan yang independen, maka pusat laba
memberikan tempat pelatihan yang sempurna baik manajemen umum.
5. Kesadaran laba dapat ditingkatkan karena para manajer yang bertanggungjawab atas
laba akan selalu mencari cara untuk meningkatkan labanya.
6. Pusat laba memberikan informasi yang siap pakai bagi manajemen puncak mengenai
profitabilitas dari komponen-komponen individual perusahaan.
7. Karena keluaran yang dihasilkan telah siap, maka pusat laba sangat responsif terhadap
tekanan untuk meningkat kinerja kompetitifnya.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pusat laba sangat bermanfaat guna
kelangsungan sebuah organisasi atau perusahaan tersebut. Manfaat yang dapat diambil dari
pusat laba tersebut adalah bahwa dengan adanya manfaat tersebut manajemen puncak
ataupun manajer dapat meningkatkan kinerja kerjanya lebih baik.
1.2.6 Permasalahan Pada Pusat Laba
Selain manfaat yang diperoleh tadi, pusat laba dapat menimbulkan beberapa masalah.
Menurut Robert N.Anthony & Vijay Govindarayan (2000:171) diterjemahkan oleh

Kurniawan Tjakrawala dalam buknya Sistem Pengendalian Manajemen, permasalahan


pada pusat laba diantaranya sebagai berikut :
1. Pengembalian keputusan yang terdesentralisasi akan memaksa manajemen puncak
untuk lebih mendapat laporan pengendalian manajemen dan bukan wawasan
pribadinya atas suatu operasi sehingga mengakibatkan hilangnya pengendalian.
2. Jika manajemen kantor pusat lebih mampu dan memiliki informasi yang lebih baik
daripada manajer pusat laba pada umumnya, maka kualitas keputusan yang diambil
pad tingkat unit akan berkurang.
3. Persediaan dapat meningkat karena adanya argumen-argumen mengenai harga
transfer yang sesuai, pengalokasian biaya umum yang tepat dan kredit untuk
pendapatan yang sebelumnya dihasilkan secara bersamasama oleh dua atau lebih
untuk bisnis.
4. Unit-unit organisasi yang pernah bekerja bersama sebagai unit fungsional akan saling
berkompetisi satu sama lain. Peningkatan laba untuk satu manajer dapat berarti
pengukuran bagi manajer yang lain.
5. Divisionalisasi dapat mengakibatkan biaya tambahan karena adanya tambahan
manajemen, pegawai dan pembukuan yang dibutuhkan serta mengakibatkan duplikasi
tugas di setiap pusat laba.
6. Para manajer umum yang kompeten mungkin saja tidak ada dalam organisasi
fungsional karena tidak adanya kesempatan yang cukup bagi untuk mengembangkan
kompetensi manajemen umum.
7. Karena ingin melaporkan laba yang tinggi, manajer pusat laba dapat lalai
melaksanakan penelitian dan pengembangan, program-program pelatihan, ataupun
perawatan.
8. Tidak ada sistem yang sangat memuaskan untuk memastikan bahwa optimalisasi laba
dari masing-masing pusat laba akan mengoptimalkan laba perusahaan secara
keseluruhan.
1.3 Efektivitas Pusat Laba
1.3.1 Pengertian Efektivitas
Sebuah peusahaan mempunyai tujuan untuk menghasilkan laba yang maksimal yang
dapat dikatakan efektif bagi perusahaan tersebut. Untuk mencapai laba yang maksimal
tersebut dituntut adanya kinerja yang baik dan bertanggungjawab atas aktivitas dalam suatu
organisasi perusahaan.
Menurut Supriyono (2000:330) dalam bukunya Sistem Pengendalian Manajemen,
pengertian efektivitas adalah sebagai berikut :

Efektivitas adalah hubungan antara keluaran pusat pertanggungjawaban dengan


tujuannya, efektif berarti melaksanakan sesuatu yang benar.
Sedangkan Menurut Charles T.Horngren, Srikant M.Datar, George Foster (2005:405)
diterjemahkan oleh Desi Adhariani dalam bukunya Akuntansi Biaya: Penekanan
Manajerial, pengertian efektivitas adlah sebagai berikut :
Efektivitas adalah tingkat pencapaian tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, efektivitas yang apabila diterapakan
pada laba merupakan kemampuan laba perusahaan untuk benar-benar menjadi kontribusi
yang berarti bagi pencapaian tujuan perusahaan. Dengan kata lain, efektivitas laba merupakan
maksimalisasi laba dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan yang dituangkan kedalam
suatu pusat pertanggungjawaban.
1.3.2 Pengukuran Efektivitas Pusat Laba
Pengukuran efisiensi suatu pusat pertanggungjawaban masa kini dengan masa lalu
mempunyai kebaikan karena dapat diketahui perkembangan efisiensi setiap periode
akuntansi. Berdasarkan pendapat diatas semakin besar kontribusi keluaran suatu pusat
pertanggungjawaban terhadap pencapaian tujuan perusahaan semakin efektif kegiatan
pertanggungjawaban tersebut.
Menurut Eldon S.Hendrikson (2000:144) yang diterjemahkan oleh Marianus Sinaga
dalam bukunya Teori Akuntansi, mengemukakan bahwa :
Apabila modal yang dipakai adalah konstan dari tahun ke tahun, maka angka laba itu
sendiri akan berguna sebagai pengukur efektivitas pusat laba. Laba dari tahun berjalan
dapat dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan harus dianalisis apakah laba setiap
tahun telah mencapai, melebihi, atau kurang dari sasaran yang telah ditentukan.
Pengukuran efektivitas pusat laba ini dapat dijadikan alat untuk mengukur efektif atau
tidaknya efektivitas pusat laba tersebut terhadap penetapan harga transfer yang apabila
hasilnya positif, maka pusat laba tersebut dapat dikatakan efektif, dan apabila hasilnya
negatif, maka pusat laba tersebut dapat dikatakan tidak efektif.
Semakin banyak kontribusi dari apa yang dihasilkan pusat pertanggungjawaban
terhadap tujuan dari pusat laba yang dihasilkan semakin efektiflah unit tersebut. Jadi, bila
diterapkan pada pusat laba, maka konsep efektivitas dapat diuraikan seperti berikut :
efektivitas pusat laba adalah kemampuan pusat laba untuk menjadi kontribusi yang berarti

bagi pencapaian tujuan perusahaan. Dengan kata lain, efektivitas pusat laba merupakan
maksimalisasi laba dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan.
Namun, laba yang diperoleh perusahaan tidak terlepas dari pajak penghasilan atas
laba dengan dibebani pajak penghasilan atas laba dan nilai laba perusahaan akan menjadi
berkurang. Pihak manajemen biasanya telah memperhitungkan hal tersebut, maka pihak
manajemen mempunyai cara-cara untuk bisa mencapai efektivitas pusat laba ini dan salah
satu cara yang ditempuh adalah dengan menetapkan harga tranfer.
1.4 Pusat Investasi
1.4.1 Pengertian Investasi
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No. 13 paragraf 03 mendefinisikan investasi
sebagai berikut :
Investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan
kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalty,
deviden, dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau untuk manfaat lain bagi
perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan perdagangan.
Selanjutnya definisi menurut Mulyadi (2001:284) yaitu Investasi adalah pengkaitan
sumber-sumber dana dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba di masa yang akan
datang.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa investasi adalah pengadaan atau
pembelian barang dengan tujuan untuk dipergunakan secara aktif dalam operasi perusahaan
atau sebagai penggerak kegiatan produksi. Sekali investasi diputuskan maka perusahaan akan
terikat pada jangka panjang di masa yang akan datang yang sudah dipilih dan tidak mudah
disampingi. Oleh karena itu, investasi mengandung resiko dan ketidakpastian.

1.4.2 Klasifikasi Investasi


Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No. 13 paragraf 4, investasi dibagi
menjadi dalam dua golongan, yaitu :
1. Investasi Jangka Pendek
Investasi jangka pendek (investasi lancar) adalah investasi yang dapat segera
dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama tahun atau kurang dari satu tahun.
Umumnya investasi dilakukan dalam bentuk saham, obligasi, hipotek, sertifikat
deposito dan surat-surat berharga lainnya.

2. Investasi Jangka Panjang


Investasi Jangka Panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari satu
tahun atau lebih dari satu periode akuntansi. Umumnya investasi jangka panjang
dilakukan dalam bentuk saham, obligasi, property, dan harta yang tidak bergerak
lainnya.
Menurut Mulyadi (2001:284) membagi investasi menjadi empat golongan, yaitu :
1. Investasi yang tidak menghasilkan laba (non profit invstment)
Investasi jenis ini timbul karena adanya peraturan pemerintah atau karena syaratsyarat kontrak yang telah disetujui, yang mewajibkan perusahaan untuk
melaksanakannya tanpa mempertimbangkan laba atau rugi.
2. Investasi yang tidak dapat diukur labanya (non measurable profit investment)
Investasi ini dimaksudkan untuk menaikan laba, namun laba yang diharapkan akan
diperoleh perusahaan dengan adanya investasi ini sulit untuk dihitung secara teliti.
3. Investasi dalam penggantian perlengkapan (replacement investment)
Investasi jenis ini meliputi pengeluaran untuk penggantian mesin dan perlengkapan
yang ada. Dalam pemakaian mesin dan perlengkapan, pada suatu saat akan terjadi
biaya operasi mesin dan perlengkapan menjadi lebih besar dibandingkan dengan biaya
operasi jika mesin itu diganti dengan yang baru, atau produktivitasnya tidak lagi
mampu memenuhi kebutuhan. Pada saat ini operasi dengan menggunakan mesin dan
perlengkapan yang ada menjadi tidak ekonomis lagi.
4. Investasi dalam perluasan usaha (expansion investment)
Investasi jenis ini merupakan pengeluaran untuk menambah kapasitas produksi atau
operasi menjadi lebih besar dari pada sebelumnya.

1.4.3 Pengertian Pusat Investasi


Pusat investasi menurut Halim, Abdul, dkk (2009) adalah suatu pusat
pertanggungjawaban dalam suatu oraganisasi untuk menilai kinerja para manajernya
berdasarkan pada laba yang diperoleh dan dihubungkan dengan dana investasi.
Pusat investasi menurut Robert N.Anthony Vijay Govindarajan (2005) adalah pusat
pertanggungjawaban yang prestasi manajernya dinilai berdasarkan laba yang dihasilkan
dengan investasi yang ditanamkan pada pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pusat investasi mengatur investasi guna
mencapai laba yang seoptimal mungkin dan setiap pusat investasi mempunyai seorang
manajer utama serta bertanggungjawab atas setiap unit kegiatan atau program yang terjadi

didalam semua divisi yang dipimpinnya. Kemudian secara periodik manajer tersebut akan
bertanggungjawab hasil kerjanya kepada pimpinan perusahaan.
Para manajer pusat dapat menilai prestasi yang telah dicapai oleh masing-masing
manajer. Berdasarkan inforasi dan model analisis yang digunakan manajer tersebut berupaya
mencari jawaban jika hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan
sebelumnya. Pada umumnya dilakukan dengan suatu model pengukuran kinerja.
Pengukuran kinerja pusat investasi merupakan perluasan dari pengukuran kinerja
pusat laba. Pengukuran kinerja ini diperlukan karena suatu divisi yang memperoleh laba
tinggi tidak berarti mempunya kinerja yang baik jika laba tersebut dihubungkan dengan
investasi yang digunakan untuk menghasilka laba tersebut. Disini prestasi manajer dinilai atas
laba dan investasi yang diperlukan untuk memperoleh laba.
Tujuan pengukuran prestasi suatu pusat investasi adalah :
1. Menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai
investasi yang digunakan oleh manajer divisi dan memotivasi mereka untuk
melakukan keputusan yang tepat.
2. Mengukur prestasi divisi sebagai kesatuan usaha yang berdiri sendiri.
3. Menyediakan alat perbandingan prestasi antar divisi untuk penentuan alokasi sumber
ekonomi.
Informasi dari pusat investasi dapat digunakan memotivasi manajer divisi dalam :
1. Menghasilkan laba yang memadai dengan wewenang mengambil keputusan tentang
sumber ekonomi dan fasilitas fisik yang digunakan.
2. Mengambilkan keputusan untuk menambah investasi bila investasi tersebut
memberikan kembalian (return) yang memadai.
3. Mengambil keputusan untuk melepas/ mengurangi investasi yang tidak memberikan
kembalian (return) yang memadai.
1.4.4 Ukuran Kinerja Investasi
Pengembangan model ukuran-ukuran kinerja dan spesifikasi struktur penghargaan
merupakan isu utama dalam organisasi yang didesentralisasi. Karena tolak ukur kinerja dapat
mempengaruhi perilaku para manajer, pemilihan tolak ukur dapat mendukung tingginya
keserasian tujuan. Dua tolak ukur evaluasi kinerja untuk pusat investasi adalah Economic
Value Added (EVA) dan Return On Investment (ROI)
a. Economic Value Added
Istilah EVA pertamakali dipopulerkan oleh G. Benet Stewart & Joel M.Stern.
EVA merupakan suatu metode untuk menentukan apakah perusahaan telah

menciptakan nilai ekonomis yang diatas atau dibawah dari biaya modal yang dimiliki
perusahaan dalam pengoperasian kekayaan yang dimilikinya.
Dalam hal investasi, EVA mampu mendorong manajer berpikir dan bertindak
yaitu memilih investasi yang memaksimumkan pengembalian dengan biaya modal
yang minimum sehingga nilai perusahaan bisa ditingkatkan (misalnya para pemegang
saham). Selain itu, faktor biaya modal yang terdapat dalam EVA mendorong manajer
untuk berhati-hati dalam menentukan kebijakan struktur modal perusahaannya.
EVA merupakan laba operasi setelah pajak dikurang total biaya modal tahunan. Jika
EVA lebih dari nol, maka perusahaan telah terjadi nilai tambah ekonomis. Jika EVA
kurang dari nol, maka perusahaan belum berhasil menciptakan nilai tambah
ekonomis, karena laba bersih operasional tidak dapat memenuhi harapan para
penyandang dana, yaitu para penanam modal tidak mendapatkan pengembalian yang
sebanding dengan investasi yang ditanamkan dan kreditur hanya mendapat bunga
sedangkan pokok pinjaman belum dikembalikan atau dikembalikan sebagian saja.
Jika EVA sama dengan nol menunjukkan posisi impas yang berarti perusahaan hanya
mampu menghasilkan laba yang cukup untuk memenuhi kewajibannya pada
penyediaan dana baik kreditur dan pemegang saham. EVA adalah metode untuk
mengukur kinerja atau prestasi manajer pusat investasi. Di sisi lain, EVA mempunya
keunggulan dan keterbatasan, antara lain :
Keunggulan :
1. EVA mudah dihitung dan mudah dipahami.
2. EVA menggambarkan arus kas perusahaan yang sebenarnya yang memfokuskan
penilaiannya pada nilai tambah dengan mengikut sertakan beban biaya modal
sebagai konsekuensi investasi, yang tak dilakukan pada pendekatan akuntansi
tradisional.
3. EVA mengurangi terjadinya kesalahan dalam pengambilan kesimpulan atas
kondisi perusahaan yang sesungguhnya, karena adanya pertimbangan penanaman
modal atas faktor risiko dan hasil diperoleh berupa deviden dan bunga.
4. EVA membantu para penyandang dana untuk mendapatkan penghasilan yang
maksimal.
5. Penilaian kinerja dengan menggunakan EVA menyebabkan perhatian manajemen
sesuai dengan keputusan pemegang saham sehingga para manajer akan berpikir
dan bertindak seperti yang dipikirkan oleh para penyandang dana, yaitu :
pemegang saham dan kreditur untuk memilih investasi yang memaksimalkan
tingkat pengembalian dan meminimalkan tingkat biaya modal sehingga nilai
perusahaan dapat dimaksimalkan.

6. Metode EVA memiliki arti sekalipun dihitung secara mandiri tanpa memerlukan
data pembanding seperti data historis perusahaan atau standar perusahaan.
Keterbatasan :
1. Metode EVA adalah sulit untuk meghitung biaya modal, membutuhkan sumber
daya (waktu, tenaga) yang besar untuk mendasarkan perhitungan biaya modal dan
jika terjadi kesalahan perhitungan biaya modal akan mengurangi manfaat EVA.
2. Perhitungan EVA memerlukan estimasi atas biaya modal dan estimasi ini sulit
dilakukan untuk perusahaan yang belum go-public, dengan menggunakan estimasi
tersebut dapat menyebabkan kesalahan dalam perhitungan biaya modal.
3. EVA sulit diterapkan pada perusahaan yang beroperasi pada negara yang kondisi
perekonomian tidak stabil dengan tingkat suku bunga yang berfluktuasi.
4. EVA hanya mengukur hasil akhir dan tidak mengukur aktivitas (seperti tingkat
loyalitas konsumen dan tingkat retensi konsumen) perusahaan sehingga nilai suatu
perusahaan merupakan akumulasi EVA selama umur perusahaan tersebut.
5. Masih banyak perusahaan yang mengukur kinerja investasi perusahaan yang
bersifat jangka pendek sehingga selalu metode EVA bukan menjadi pengukuran
kinerja investasi.
6. EVA adalah ukuran kinerja investasi berdasarkan pada peristiwa yang sudah
terjadi.
Rumus perhitungan EVA adalah :
EVA = Laba operasi setelah pajak (rata-rata tertimbang biaya modal x total modal yang
dipakai).
b. Return On Investment
Salah satu indikator tingkat profitabilitas yaitu Return on Investment (ROI),
yang merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, sebagai
pengembalian dari setiap Rp. 1 investasi yang dilakukan dalam aktiva usaha. Semakin
besar laba yang dicapai semakin tinggi ROI.
Keberhasilan usaha adalah perolehan pendapatan atau laba yang diperoleh
suatu perusahaan. Keampuan perusahaan dalam menghasilkan laba digambarkan oleh
Return on Investment (ROI).
Bagi perusahaan pada umumnya, masalah Return on Investment (ROI) adlah
hal penting dari masalah laba, karena laba yang besar bukan merupakan jaminan
bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Dengan demikian, yang

harus diperhatikan oleh perusahaan tidak hanya bagaimana untuk memperoleh laba
saja tetapi bagimana cara untuk mempertinggi Return on Investment (ROI).
Analisis ROI dalam analisa keuangan mempunya arti yang sangat penting
sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif),
yang digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan yang akan dilakukan oleh bagian
atau divisi.
Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ROI merupakan
ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan suatu tingkat keuntungan bersih
dengan menggunakan keseluruhan aktiva yang tersedia dalam perusahaan tersebut.
ROI merupakan salah satu rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan
dengan kemampuan investasi yang ditanamkan dalamoperating assets yang digunakan
untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian rasio ini mengubungkan
keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (net operating income) dengan
jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan dari
operasi tersebut (net operating assets). Disisi lain, ROI mempunya keunggulan dan
keterbatasan, antara lain :
Keunggulan :
1. Mudah menghitungnya karena angka diambil dari laporan laba rugi dan laporan
neraca.
2. Mudah dipahami. Semakin besar angka ROI, semakin baik kinerja unit bisnis atau
divisi dan semakin disukai oleh penanam modal atau calon penanam modal.
3. Mendorong manajer untuk memfokuskan pada hubungan antara penjualan, beban,
dan investasi.
4. Mendorong manajer untuk meningkatkan penjualan dengan meningkatkan
keahlian penjualan dan fasilitas penjualan.
5. Mendorong manajer untuk meningkatkan efisiensi biaya perusahaan.
6. Mendorong manajer untuk meningkatkan efektivitas pengguna aktiva operasi.
Keterbatasan :
1. Ada beberapa cara menghitung tingkat pengembalian investasi atau return on
investment sehingga sulit untuk menentukan angka ROI yang akan digunakan
sebagai standar untuk mengukur kinerja perusahaan.
2. ROI tidak menghitung laba menurut nilai waktu dari uang, sehingga hal ini
menyebabkan keputusan yang diambil kurang tepat.
3. Manajer pusat investasi cenderung menolak investasi yang bisa menurunkan ROI
pusat pertanggungjawabannya, walaupun akan meningkatkan profitabilitas
perusahaan secara keseluruhan.
4. Manajer pusat investasi hanya berfokus pada laba dan ROI pada jangka pendek
tanpa memperhatikan kepentingan jangka panjang.

Rumus perhitungan ROI adalah :


ROI = Laba Operasi/Rata-rata Aktiva Operasi (laba operasi/penjualan) x (penjualan/ratarata aktiva operasi)
Atau
ROI = Margin x Perputaran
1.4.5 Bentuk Pusat Investasi
Bentuk pusat investasi adalah kantor pusat perusahaan atau unit bisnis strategis
maupun divisi yang diberi wewenang atau kebijakan maksimum dalam menetukan keputusan
operasi yang tidak hanya berjangka pendek, tetapi juga tingkat (besarnya) dan tipe (jenisnya)
investasi.
Masalah yang timbul pada pusat investasi adalah berkaitan dengan pengukuran dan tolok
ukur prestasi pusat investasi :
a. Pada umumnya tujuan manajer unit usaha adalah memperoleh laba yang memuaskan
dari investasi yang ditanamkan.
b. Laba yang diperoleh berasal dari modal yang ditanam untuk memperoleh laba
tersebut.
c. Makin besar modal yang ditanam belum tentu makin besar pula labanya.

DAFTAR PUSTAKA
Robert N. Anthony Vijay Govindarajan. 2005. Management Control System. Jakarta:
Salemba Empat
Halim, Abdul, dkk. 2009. Sostem Pengendalian Manajemen. Jogjakarta: UPP STIM
YKPN