Anda di halaman 1dari 9

PRE PLANNING

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK: TERAPI KOGNITIF MENGGUNTING DAN


MENGELOMPOKAN GAMBAR
DI UNIT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA PUCANG GADING SEMARANG

DI SUSUN OLEH :

1. Dika wijayandaru

G3A016005

2. Nafisatun nisa

G3A016049

3. Dwiana agustiningsih

G3A016050

4. Susilo utomo

G3A016051

5. Suyatni

G3A016052

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

A. LATAR BELAKANG
1. Data yang perlu dikaji lebih lanjut
Berdasarkan data pengkajian yang dilakukan selama dua hari dari tanggal 10
Oktober 12 Oktober 2016, pada pukul 10.0013.00 WIB, di Bangsal Flamboyan,
Unit Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucang Gading Semarang, di peroleh data bahwa
ada 6 orang PM perempuan yang tinggal di Bangsal Flamboyan.
Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh mahasiswa praktekan menggunakan SPSMQ
kepada 6 PM yang tinggal dibangsal Flamboyan didapatkan 2 PM mengalami
gangguan kognitif berat dengan presentase 35 %, 3 PM tidak mengalami gangguan
kognitif dengan presentase 50 % dan 1 PM mengalami gangguan gangguan psikiatik
dengan presentase 15 %.
Berdasarkan kondisi itu maka perlu suatu terapi yang dapat mengatasi dan mencegah
terjadinya gangguan kognitif dengan memberikan terapi ketrampilan menggunting dan
mengelompokan gambar. TAKS merupakan suatu bentuk terapi yang dapat diberikan
untuk memfasilitasi PM, agar PM dapat mengikuti dan bisa mengaplikasikan dalam
kegiatan seharihari.
2. Masalah keperawatan
Gangguan kognitif
B. RENCANA KEPERAWATAN
1. Diagnosa Keperawatan
Kerusakan memori b/d penurunan fungsi tubuh akibat penuaan ditandai dengan
mengalami penurunan intelektual
2. Tujuan Umum
Mampu mencegah terjadinya kerusakan memori
3. Tujuan Khusus
1) Mampu meningkatkan fungsi tubuh dengan terapi yang diberikan
2) Mampu melakukan terapi yang diberikan dengan benar
C. RANCANGAN KEGIATAN
1. Topik
: Terapi ketrampilan
2. Metode
: Demonstrasi
3. Media
: Role model
4. Waktu
: 10.00 11.00

5. Setting Tempat

: Ruang Bangsal Flamboyan

=
=
=
=

6. Pengorganisasian Kelompok

Leader
Observer
Fasilitator
PM

Peran
Leader

Tugas
Memimpin pelaksanaan TAK
Memandu pelaksanaan TAK

Fasilitator

Mengarahkan kelayan selama pelaksanaan Dika W.

Observer

TAK
Mengamati pelaksanaan TAK
Menyimpulkan hasil TAK (Penilaian)

7. Kriteria Evaluasi

Pemain
Susilo U.
Nafisa N.
Suyatni
Dwiana A.

a. Struktur
a) Pre planning sudah disiapkan sesuai dengan masalah keperawatan yang ada.
b) Kontrak waktu sudah tepat, mempertimbangkan juga kondisi PM.
c) Media dan alat yang dipilih sudah tepat.
d) Materi TAKS sudah sesuai.
b. Proses
a) Peserta TAKS yang berada di ruangan Bangsal Flamboyan
b) Kegiatan berlangsung di tempat dan waktu yang sudah disepakati.
c) Tersedianya media dan alat.
d) Leader, fasilitator dan observer melakukan kegiatan sampai selesai.
e) 75 100% peserta dapat mengikuti kegiatan sampai selesai.
f) Di akhir kegiatan sudah dievaluasi jalannya kegiatan dan dilakukan kontrak
yang akan datang.

c. Hasil
a)

Kegiatan sudah dilaksanakan selama 45 menit sesuai jadwal.

b)

80 % PM dapat melakukan menggunting gambar

c)

80 % PM dapat melakukan mengelompokan gambar

D. LAMPIRAN LAMPIRAN
Terlampir

Materi
1. Pengertian
Kognisi adalah suatu
kognitif

menjelaskan

tindakan atau proses memahami. Terapi


bahwa

bukan

suatu

peristiwa

yang

menyebabkan kecemasan dan tanggapan maladaptif melainkan


harapan masyarakat, penilaian, dan interpretasi dari setiap peristiwa
ini.

Sugesti

bahwa

perilaku

maladaptif

dapat

diubah

oleh

berhubungan langsung dengan pikiran dan keyakinan orang (Stuart,


2009).
Menggunting adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk melatih motorik halus yang
dilakukan dengan bervaiasi, mulai menggunting mengikuti pola, membuat ketrampilan
menggunting dengan dibentuk sesuai kreatifitas. Mengelompokan gambar merukan
modifasi yang dilakukan untuk melatih kognitif dalam berespon terhadap apa yang
dilihat dan diperintahkan. (Gandasetiawan, 2009)
2. Tujuan terapi kognitif

Menurut Setyoadi, dkk (2011) beberapa mekanisme koping dengan


menggunakan terapi kognitif adalah sebagai berikut:
a. Membantu

klien

dalam

mengidentifikasi,

menganalisis,

dan

menentang keakuratan kognisi negative klien. Selain itu, juga


untuk memperkuat persepsi yang lebih akurat dan mendorong
perilaku yang dirancang untuk mengatasi gejala depresi. Dalam
beberapa penelitian, terapi ini sama efektifnya dengan terapi
depresan.
b. Menjadikan atau melibatkan klien subjek terhadap uji realitas.
c. Memodifikasi proses pemikiran yang salah dengan membantu
klien mengubah cara berpikir atau mengembangkan pola piker
yang rasional.
d. Membentuk kembali pikiran individu dengan menyangkal asumsi
yang maladaptive, pikiran yang mengannggu secara otomatis,
serta proses pikir tidak logis yang dibesar-besarkan. Berfokus pada
pikiran individu yang menentukan sifat fungsionalnya.
e. Menghilangkan sindrom depresi dan mencegah kekambuhan.
Tanda

dan

sistematis

gejala
yaitu

depresi

mengubah

dihilangkan
cara

melalui

berpikir

usaha

maladaptive

yang
dan

otomatis. Dasar pendekatannya adalah suatu asumsi bahwa


kepercayaan-kepercayaan yang mengalami distorsi tentang diri
sendiri, dunia, dan masa depan yang dapat menyebabkan depresi.
Klien menyadari kesalahan cara berpikirnya. Kemudian klien harus

belajar cara merespon kesalahan tersebut dengan cara yang lebih


adaptif. Dengan perspektif kognitif, klien dilatih untuk mengenal
dan menghilangkan pikiran-pikiran dan harapan-harapan negative.
Cara lain adalah dengan membantun klien mengidentifikasi
kondisi negative, mencari alternative, membuat skema yang
sudah ada menjadi lebih fleksibel, dan mencari kognisi perilaku
baru yang lebih adaptif.
f. Membantu menargetkan proses berpikir serta perilaku yang
menyebabkan dan mempertahankan panik atau kecemasan.
Dilakukan dengan cara penyuluhan klien, restrukrisasi jognitif,
pernapasan

rileksasi

terkendali,

umpan

balik

biologis,

mempertanyakan bukti, memeriksa alternative, dan reframing.


g. Menempatkan individu pada situasi yang biasanya memicu
perilaku gangguan obsesif kompulsif dan selanjutnya mencegah
responsnya. Misalnya dengan cara pelimpahan atau pencegahan
respons, mengidentifikasi, dan merestrukturisasi distorsi kognitif
melalui psikoedukasi.
h. Membantu individu mempelajari respons rileksasi, membentuk
hirarki situasi fobia, dan kemudian secara bertahap dihadapkan
pada situasinya sambil tetap mempertahankan respons rileksasi
misalnya dengan cara desensitisasi sistematis. Restrukturisasi
kognitif bertujuan untuk mengubah persepsi klien terhadap situasi
yang ditakutinya.

i. Membantu individu memandang dirinya sebagai orang yang


berhasil bertahan hidup dan bukan sebagai korban, misalnya
dengan cara restrukturisasi kognitif.
j. Membantu mengurangi gejala klien dengan restrukturisasi system
keyakinan yang salah.
k. Membantu mengubah pemikiran individu dan menggunakan
latihan praktik untuk meningkatkan aktivitas sosialnnya.
l. Membentuk kembali perilaku dengan mengubah pesan-pesan
internal.
3. Langkah melakukan terapi kognitif
Menurut Setyoadi, dkk (2011) terapi kognitif dipraktikan diluar sesi
terapi dan menjadi modal utama dalam mengubah gejala. Terapi
berlangsung lebih kurang 12-16 sesi yang terdiri atas:
1. Fase awal (sesi 1-4)
a. Membentuk hubungan terapeutik dengan klien.
b. Mengajarkan klien tentang bentuk kognitif yang salah serta
pengaruhnyan terhadap emosi dan fisik.
c. Menentukan tujuan terapi.
d. Mengajarkan klien untuk mengevaluasi pikiran-pikirn yang
otomatis.
2. Fase pertegahan (sesi 5-12)
a. Mengubah secara berangsur-angsur kepercayaan yang salah.

b. Membantu klien mengenal akar kepercayaan diri. Klien diminta


mempraktikan keterampilann berespons terhadap hal-hal yang
menimbulkan depresi dan memodifikasinya.
3. Fase akhir (13-16)
a. Menyiapkan klien untuk terminasi dan memprediksi situasi
beresiko tinggi yang relevan untuk terjadinya kekambuhan.
b. Mengonsolidasikan pembelajaran melalui tugas-tugas terapi
sendiri.
4. Prosedur pelaksanaan saat terapi
Dalam pelaksanan terapi kognitif menggunakan mengguntig dan mengelompokan
gambar dilakukan dengan prosedur
a. Leader memperkenalkan diri dan fasilator dan observer
b. Leader menjelaskan jenis terapi dan manfaat
c. Fasilatator membagikan kertas yang sudah diberikan pola dan kertas karton
untuk menempelkan sesuai pengelompokan
d. Fasilitator membantu dalam proses terapi dengan memberikan arahan dan
motifasi
e. PM memilih gambar bentuk yang diinginkan, gambar bentuk terdiri dari gambar
yang berukuran kecil sampai besar
f. Fasilitator mengarahkan PM untuk menggunting gambar yang sudah dipilih
tersebut sampai semua gambar habis tergunting
g. Fasilitator mengarahkan untuk menempel gambar pada kertas karton yang telah
disediakan sesuai dengan urutan dari yang terkecil sampai yang terbesar atau
sebaliknya
h. Setelah semua gambar tertempel kemudian mengarahkan PM untuk memotong
kertas kado yang dijadikan sebagai bingkai atau hiasan.
i. Memberikan pujian pada dan bertepuk tangan bersama dengan hasil yang
didapatkan PM .

DAFTAR PUSTAKA

Gandasetiawan, R. Z. (2009). meningkatkan IQ dan EQ melalui latihan


sensomotorik. Jakarta: Libri.
Setyoadi,

dkk.

(2011).

Terapi

Modalitas

Keperawatan

pada

Klien

Psikogeriatrik. Jakarta: Salemba Medika.


Stuart, G.W. (2009). Principle and Practice of Psychiatric Nursing. St Louis:
Mosby.