Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan keadaan seseorang sehat, baik secara mental,
fisik, sosial maupun spiritual yang memungkinkan seseorang untuk produktif
secara sosial maupun ekonomis. Permasalahan kesehatan yang sering
dihadapi salah satunya nyeri, nyeri pada gigi.
Nyeri bukan merupakan sebuah penyakit namun, sebuah penunjuk
adanya gangguan jaringan. Nyeri terbagi menjadi beberapa macam : nyeri
ringan dan nyeri hebat.
Faktor yang dapat menyebabkan nyeri tidak hanya fisiologis saja,
tetapi juga psikis misalnya pada emosi bisa menyebakan nyeri pada kepala.
Nyeri menjadi permasalahan umum pada kesehatan masyarakat yang dapat
diatasi dengan menggunakan obat analgesik. Analgesik berdasarkan cara
kerjanya dibedakan menjadi analgesik narkotik dan analgesik non narkotik,
dimana penggunaanya berdasarkan skala nyeri.
Untuk mengatasi rasa nyeri ringan, dapat digunakan obat analgesik
non narkotik misalnya golongan NSAID. Obat golongan NSAID paling
mudah didapatkan karena dapat dibeli tanpa resep dokter, walaupun
penggunaan obat golongan NSAID harus sesuai aturan pakai yang
dianjurkan. Sedangkan penggunaan analgesik narkotik biasa digunakan untuk
nyeri hebat misalnya post operasi, kanker dimana untuk mendapatkannya
harus dengan resep dokter.
Analgetika atau obat penghalang

nyeri adalah zat-zat yang

mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.


Analgesik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang
dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang
melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri) .

Penggunaan analgesik non narkotik susah untuk dikontrol karena obat


tersebut mudah diperoleh termasuk golongan obat bebas, tanpa disadari
penggunaan dapat menimbulkan efek samping yaitu; gangguan lambungusus, kerusakan hati dan ginjal, dan juga reaksi alergi pada kulit. Bahkan di
beberapa Negara ada beberapa obat analgesik non narkotik sangat ketat diatur
penggunaan dan pemberiannya, baik itu kepada anak dibawah 14 tahun dan
ibu hamil. Bahkan ada beberapa masyarakat yang tetap mengkonsumsi obat
analgesik non narkotik dengan zat aktif yang sama (Ganiswarna, S.G. 1995).
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan observasi dengan
mencatat

semua

jenis

obat

analgesik

non

narkotik,

lalu

peneliti

menggolongkan semua obat yang telah disurvei. Obat analgesik non narkotik
yang ada di Rumah Sakit Bhayangkara biasa di gunakan untuk meredakan
nyeri pasca pencabutan gigi. Obat analgesik non narkotik golongan NSAID
yang biasa digunakan adalah asam mefenamat, kalium diklofenak, natrium
diklofenak,

aspirin,

ibuprofen,

ketoprofen,

piroksikam,

tenoksikam,

fenklofenak.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang
Frekuensi

Penggunaan

Analgesik

Non

Narkotik

di

Rumah

Sakit

Bhayangkara.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat identifikasi masalah
sebagai berikut:
1. Berapa sering penggunaan obat analgesik non narkotik yang digunakan di
Rumah sakit Bhayangkara periode Januari sampai Juni 2012 ?
2. Obat analgesik non narkotik apa saja yang paling sering digunakan di
Rumah sakit Bhayangkara periode Januari sampai Juni 2012.
C. Batasan Masalah
Untuk menghindari perluasan masalah maka peneliti membatasi
masalah yang diteliti yaitu:
1. Obat analgesik non narkotik oral yang dikeluarkan dengan resep dikamar
obat umum Rumah Sakit Bhayangkara perode Januari sampai Juni 2012.

2. Obat analgesik non narkotik yang diteliti adalah obat analgesik golongan
NSAID.
3. Penelitian dilakukan pada resep rawat jalan di kamar obat umum Rumah
Sakit Bhayangkara.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah di atas maka
masalah yang akan di teliti adalah bagaimana frekuensi penggunaan obat
analgesik non narkotik di Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya periode
Januari sampai Juni 2012.
E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui golongan dan jenis obat analgesik non narkotik oral
yang dikeluarkan dengan resep di kamar obat umum Rumah Sakit
Bhayangkara Palangkaraya Periode Januari sampai Juni 2012.
F. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan dan pengadaan obat
analgesik non narkotik di Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya.
2. Sebagai informasi bagi masyarakat dan pembaca tentang obat yang
digunakan untuk meredakan nyeri.
3. Sebagai tambahan pengetahuan khususnya bagi peneliti.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Obat
1. Definisi
Obat adalah obat jadi yang merupakan sediaan atau paduan bahanbahan termasuk produk biologi dan kontrasepsi, yang siap digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan dan peningkatan kesehatan. (Anonim, 2010. No. 1010 tentang
registrasi obat)
a. Obat jadi, adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam
bentuk serbuk, tablet, pil, kapsul, supositoria, cairan, salep, atau bentuk
lainnya yang secara teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau
buku resmi lain yang di tetapkan pemerintah.
b. Obat paten, yaitu jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama
pembuat yang diberi kuasa dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik
yang memproduksinya.
c. Obat baru, yaitu obat-obat yang berisi zat, baik yang berkhasiat maupun
tidak berkahsiat maupun tidak berkhasiat seperti lapisan, pengisi,
pelarut, pembantu atau komponen lain yang belum dikenal sehingga
tidak diketahui khasiat dan kegunaannya.
d. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau
campuran dari bahan tersebut yang secara turun

temurun telah

digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan

sesuai dengan

norma yang berlaku di masyarakat. ( Permenkes Nomor 006 Tahun


2012 Tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional)
e. Obat esensial, yaitu obat yang paling banyak dibutuhkan untuk layanan
kesehatan masyrakat dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN) yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan R.I.

f. Obat generik, yaitu obat dengan nama resmi yang ditetapakan dalam FI
untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
2. Penggolongan obat
a. Penggolongan obat berdasarkan cara kerjanya dalam tubuh, yaitu:
1) Lokal: obat yang bekerja pada jaringan setempat, seperti pemakaian
topikal.
2) Sistemik: obat yang di distribusikan ke seluruh tubuh, seperti tablet
analgetik (Syamsuni,2005:48).
b. Menurut

Permenkes

No.

949/Menkes/Per/VI/2000

tentang

penggolongan obat.
1) Narkotik (obat bius atau daftar O = opium) merupakan obat yang di
perlukan dalam bidang pengobatan dan Iptek serta dapat
menimbulkan ketergantungan dan ketagihan (adiksi) yang sangat
merugikan masyrakat dan individu apabila digunakan tanpa
pembatasan dan pengawasan dokter; misalnya candu/opium,
morfin, petidin, metadon, dan kodein.
2) Psikotropika (obat berbahaya) merupakan obat yang mempengaruhi
proses mental, merangsang atau menenangkan, mengubah pikiran/
perasaan/

kelakuan

seseorang:

misalnya

golongan

ekstasi,

diazepam, dan barbital/luminal.


3) Obat keras (daftar G=geverlijk = berbahaya) adalah semua obat
yang
a) Memiliki takaran/dosis maksimum (DM) atau yang tercantum
dalam daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah;
b) Diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan
garis tepi hitam dan huruf K yang menyentuh garis tepinya
c) Semua obat baru, kecuali dinyatakan oleh pemerintah (Depkes
RI) tidak membahayakan
d) Semua sediaan parentral/injeksi/infus intravena

4) Obat bebas terbatas (daftar W = waarscchuwing = peringatan)


adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam
bungkus aslinya dari produsen atau pabrik obat itu, kemudian
diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam
serta diberi, tanda lingkaran bulat berwarna biru
a)

P No. 1 : Awas! Obat Keras, bacalah aturan pakainya


Contoh : bodrex

b) P No. 2 : Awas! Obat Keras, hanya untuk kumur jangan ditelan


Contoh : Betadin kumur
c)

P No. 3 : Awas! Obat keras, hanya untuk bagian luar badan


Contoh : Albothyl

d) P No. 4 : Awas! Obat keras, hanya untuk dibakar


Contoh : Serbuk mengandung scopolamine
e)

P No. 5 : Awas! Obat keras, tidak boleh ditelan


Contoh : Dulcolax suppositoria

f)

P No. 6 : Awas! Obat Wasir, jangan ditelan


Contoh : Faktu suppositoria

5) Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas dan tidak
membahayakan si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan;
diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam
3. Rute penggunaan obat
Rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan obat yang
masuk ke dalam tubuh. Sehingga merupakan penentu keberhasilan terapi
atau kemungkinan timbulnya efek yang merugikan. Rute pemberian obat
dibagi 2, yaitu enteral dan parenteral:
a) Jalur Enteral
Jalur enteral berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal
(GI), seperti pemberian obat melalui sublingual, bukal, rectal, dan oral.
Pemberian melalui sublingual, bukal, rectal, dan oral. Pemberian
melalui oral merupakan jalur pemberian yang paling murah, paling
mudah, dan paling aman. Kerugian dari pemberian melalui jalur

enteral adalah absorpsinya lambat, tidak dapat diberikan pada pasien


yang tidak sadar atau tidak dapat menelan. Kebanyakan obat diberikan
pada pasien melalui jalur ini, selain alasan diatas juga alasan
kepraktisan dan tidak menimbulkan rasa sakit. Bahkan dianjurkan jika
obat dapat diberikan melalui jalur ini dan tidak untuk berkepentingan
emergensi (obat segera berefek), obat harus diberikan secara enteral
(Priyanto,2010).
b) Jalur Parenteral
Parenteral berarti tidak melalui enteral. Termasuk jalur parenteral
transdermal (topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat ke dalam
trekea menggunakan endotrakeal tube), dan inhalasi. Pemberian obat
melalui jalur ini dapat menimbulkan efek sistemik atau local (Priyanto,
2010).
B. Nyeri
1. Definisi
Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak dan
yang berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Nyeri merupakan
suatu perasaan pribadi dan ambang toleransi nyeri berbeda-beda setiap
orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni pada 44-45C (Anief,
1995:9).
Nyeri dapat merupakan gejala dari hampir semua penyakit. Walau
pun kadang-kadang sangat menyiksa, nyeri sangat berharga sebagai
petunjuk untuk membantu diagnosis dan sebagai peringatan tentang
adanya sesuatu yang tidak beres pada tubuh (Goeswin agoes dan Mathilda,
1989 : 252).
2. Mekanisme nyeri
Pada
dengan

jaringan

katalisator

yang

enzym

rusak

membran

pospolipase

akan

pospolipid
membentuk

sel
asam

arachidonat. Dan selanjutnya asam arachidonat ini dengan bantuan


enzyme cyclooksigenase akan membentuk substansi nyeri berupa
prostaglandin (PGE-2,PGD-2, PGF-PGI-2) (yang akan mempengaruhi

reseptor prostaglandin yang terdapat pada saraf sensoris perife dan


medullaspinalis) dan thromboxane. Dan ternyata Prostaglandin E-2 yang
mempunyai peran utama pada mekanisme nyeri inflamasi yang
mendukung terjadinya aktivasi nosiseptor secara langsung berupa
sensitisasi pada neuron primer aferen. Dengan demikian menghambat
enzyme cyclo oksigenase ( COX-1 dan COX-2 ) dan menghambat reseptor
prostanoid adalah penting untuk mengurangi nyeri inflamasi.

Lipid Membran
Gluko kortikoid

Fosfolipase
Lipoksigenase
Asam Arakidonat

Leukotrien

Analgetik antipiretik
Endoperoksid

Prostasiklin

Prostaglandin E

Prostasiklin F2

Tronboksan A2

Keterangan
Artinya menghambat

Gambar 1. Mekanisme Analgetik (Anonim, 2011)


3. Jenis nyeri
a. Nyeri ringan yaitu : sakit gigi, kepala, otot pada infeksi virus, nyeri pada
waktu haid, keseleo.
b. Nyeri ringan yang menahun, seperti rematik dan artreosis dan terdapat
reaksi radang pada sendi.
c. Nyeri yang hebat,yaitu nyeri organ dalam (lambung, usus), kolik pada
penyakit batu ginjal dan empedu.

d. Nyeri yang hebat menahun, misalnya kanker, kadang-kadang rematik


dan neuralgia (Anief,1995:10).
4. Penanganan rasa nyeri
Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat dilawan dengan
beberapa cara, yakni:
a. Menghalangi terbentuknya ransangan pada reseptor nyeri perifer
dengan analgetika perifer.
b. Menghalangi

penyaluran ransangan saraf-saraf sensoris, misalnya

dengan anestetika lokal.


c. Blockade pusat nyeri di SSP dengan anlgetika sentral (narkotika) atau
dengan anestetika umum.
Pada pengobatan nyeri dengan analgetika, factor-faktor psikis turut
memegang peranan seperti sudah diuraikan di atas, misalnya kesabaran
individu dan daya mencekal nyerinya. Obat-obat dibawah ini dapat
digunakan sesuai jenis nyerinya (Anief,1995.11).
C. Analgetik
1. Definisi
Analgetika atau obat penghalang

nyeri adalah zat-zat yang

mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran


(Tan Hoan Tjay.2002:293). Analgetik diberikan kepada penderita untuk
mengurangi rasa nyeri yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang
mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui suatu nilai ambang tertentu
(nilai ambang nyeri) (Anonim.2013).
2. Penggolongan analgetik
Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika dibagi dalam dua
kelompok besar, yakni:
a. Analgetika perifer (non-narkotik) yang terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
1) Derivate Asam Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau
aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat

10

luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai


prototip, obat ini merupakan

standar dalam menilai efek obat

sejenis. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik kadar


plasma perlu dipertahankan antara 250-300 mcg/ml. Kadar ini
tercapai dengan dosis aspirin oral 4 gram per hari untuk orang
dewasa. Pada penyakit demam reumatik, aspirin masih tetap belum
dapat digantikan oleh obat NSAID yang lain dan masih dianggap
sebagai standard dalam studi perbandingan penyakit arthritis
rheumatoid (Ganiswarna, 1995).
2) Derivat Asam propionat
Berbeda dengan obat NSAID lainnya, fenbufen merupakan
suatu pro-drug. Jadi fenbufen sendiri bersifat inaktif dan metabolit
aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki paruh waktu
10 jam sehingga cukup diberikan satu atau dua kali sehari. Absorpsi
obat melalui lambung baik, dan kadar puncak metabolit aktif dicapai
dalam 7,5 jam. Efek samping obat ini sama seperti obat NSAID lain.
Pemakaian pada penderita tukak lambung harus berhati-hati. Pada
gangguan ginjal, dosis harus dikurangi. Dosis untuk indikasi
penyakit reumatik sendi adalah dua kali 300 mg sehari dan dosis
penunjang satu kali sehari 600 mg sebelum tidur (Ganiswarna,
1995).
3) Derivat Asam Fenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik; sebagai antiinflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan aspirin.
Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada terapi
arthritis rheumatoid dan osteoatritis. Asam mefenamat terikat sangat
kuat pada protein plasma. Dengan demikian interaksi terhadap
terhadap obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek samping
terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dyspepsia dan gejala
iritasi lain terhadap mukosa lambung. Pada orang usia lanjut efek
samping diare hebat lebih sering dilaporkan. Efek samping lain yang

11

berdasarkan hipersensitivitas ialah eritem kulit bronkokonstriksi.


Anemia hemolitik pernah dilaporkan. Dosis asam mefenamat pernah
dilaporkan adalah

2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedang dosis

meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 200-400 mg sehari


(Ganiswarna, 1995).
4) Derivate pirazolon
Fenilbutazon diabsorpsi dengan cepat dan sempurna pada
pemberian per oral. Kadar tertinggi di capai dalam waktu 2 jam.
Dalam dosis terapi, 98 % fenilbutazon terikat pada protein plasma
protein mungkin hanya 90%. Waktu paruh 50-65 jam (Ganiswarna,
1995).
5) Derivat Oksikam
Obat ini merupakan salah satu AINS dengan struktur baru
yaitu oksikam. Waktu paruh dalam plasmalebih dari 45 jam sehingga
dapat diberikan hanya sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat
dilambung; terikat 99% pada protein plasma. Obat ini menjalani
siklus enterohepatik. Kadar taraf mantap di capai sekitar 7-10 hari
dan kadar plasma kira-kira sama dengan kadar dicairan synovial
(Ganiswarna, 1995).
6) Derivat Asam Fenilasetat
Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlansung cepat dan
lengkap. Obat ini terikat 99% pada protein plasma dan mengalami
efek lintas awal (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh
singkat yakni 1-3 jam, diklofenak diakumulasi di cairan sinovia
yang menjelaskan efek terapi disendi jauh lebih panjang dari waktu
paruh obat tersebut (Ganiswarna,1995).
7) Derivat Asam Asetat-inden/indol
Absorpsi indometasin setelah pemberian oral cukup baik; 9299% indometasin terikat pada protein plasma. Metabolismenya
terjadi di hati. Indometasin diekskresi dalam bentuk dalam bentuk

12

asal maupun metabolit melalui urin dan empedu. Waktu paruh


plasma kira-kira 2-4 jam (Ganiswarna, 1995).
b. Analgesik opioid
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat
seperti opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek
farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk
meredakan atau menghilangkan nyeri. Yang termasuk golongan obat opiod
ialah: Obat yang berasal dari opium-morfin, senyawa semisintetik morfin,
senyawa sintetik yang berefek seperti morfin (Ganiswarna, 1995).
1) Morfin
Morfin menyebabkan suhu badan turun akibat aktivitas otot
yang menurun, vasodilatasi perifer dan penghambatan mekanisme
neural di SSP. Kecepatan metabolism dikurangi oleh morfin.
Hiperglikimia timbul tidak tetap akibat penglepasan adrenalin yang
menyebabkan glikogenolisis.Setelah pemberian morfin volume urin
berkurang, disebabkan merendahnya laju filtrasi glomerulus, alir
darah ginjal, dan pelepasan ADH. Hipertiroidisme dan infusiensi
adrenokortial

meningkatkan

kepekaan

orang

terhadap

morfin

(Ganiswarna, 1995).
2) Meperidin
Absorpsi

meperidin

setelah

cara

pemberian

apapun

berlangsung baik. Akan tetapi kecepatan absoprsi mungkin tidak


teratur setelah suntikan IM. Kadar puncak dalam plasma biasanya
dicapai dalam 45 menit dan kadar yang dicapai sangat bervariasi antar
individu. Setelah pemberian secara oral, sekitar 50% obat mengalami
metabolism lintas pertama dan kadar maksimal tercapai dalam 1 2
jam (Ganiswarna, 1995).
3) Metadon
Setelah suntikan metadon subkutan ditemukan kadar dalam
plasma yang tinggi selama 10 menit pertama. Sekitar 90% metadon
terikat protein plasma. Metadon diabsorpsi secara baik oleh usus dan

13

dapat ditemukan dalam plasma setelah 30 menit secara pemberian


oral; kadar puncak dicapai setelah 4 jam (Ganiswarna, 1995).
D. Gambaran umum Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya
Rumah Sakit Polri adalah bagian integral dari pusat kedokteran dan
kesehatan kepolisian Negara Republik Indonesia yang mempunyai fungsi
memberi pelayanan kesehatan dan mendukung operasional kesamaptaan
anggota POLRI.
Berdasarkan Surat keputusan Menteri Panglima Angkatan Kepolisian
R.I. Nomor:11/SK/AK/1964 tanggal 28 oktober 1964, dibentuklah Struktur
Organisasi Direktorat Kesehatan AKRI, yang didalamnya terdapat Rumah
Sakit Angkatan Kepolisian. RS Bhayangkara beralamatkan di JL. A. Yani 22
Palangka Raya dan type Rs yaitu tingkat IV. Pada saat ini Rumkit Bhayangkara
Palangka Raya memiliki Instalasi rawat inap anak (kelas 2), Instalasi rawat
inap dewasa(VIP, kelas 1, kelas 2, kelas 3, ruang watah, rawat bersalin (VIP
dan kelas 3), laboratorium, IGD, Instalasi bedah, Instalasi radiologi, kamar
bedah, fisioterapi, Instalasi Farmasi Rumah Sakit di bagi menjadi 2 yaitu:
kamar obat anggota, kamar obat umum, rekam medik, KIA (Kesehatan Ibu dan
Anak), poli umum, poli gigi, dan Pusat Pelayanan Terpadu.
Khusus struktur organisasi bagian kefarmasian di bawahi oleh seorang
Apoteker dan didampingi oleh seorang Asisten Apoteker sebagai Penanggung
Jawab kamar obat. Untuk kamar obat memiliki sembilan orang tenaga farmasi
berstatuskan PHL (Pekerja Harian Lapangan). Masing-masing tenaga farmasi
ini memiliki tanggung jawab seperti

Penanggung Jawab Stock Opname,

Pembantu Umum Stock Opname, Penanggung Jawab Laporan Kamar Obat,


Kamar Obat Dinas melayani Anggota POLRI, PNS POLRI, serta pegawai
TKK (Tenaga Kerja Kontrak), Kamar Obat Umum melayani pasien umum,
ASKES (ALKES), Penanggung jawab Logistik Kamar Obat, Penanggung
Jawab Pemesanan Obat (Amprah), Penanggung Jawab Arsip Data Resep, dan
Penanggung Jawab Narkotika dan Psikotropika.

14

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Bhayangkara Palangka Raya di kamar obat umum pada tanggal 11 30
Maret 2013.
B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah retrospektif, yaitu
data yang diambil setelah peristiwa terjadi atau setelah pelayanan resep
dilakukan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan penelitian
retrospektif adalah penelitian yang berusaha melihat ke belakang (backward
looking), artinya pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah
terjadi (Notoadmodjo, 2002:27).
Penelitian ini dilakukan setelah pelayanan resep obat analgesik non
narkotik di Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya pada periode Januari
Juni 2012.
C. Populasi dan Sampel
1.

Populasi
Populasinya adalah resep obat yang masuk ke apotek Rumah
Sakit Bhayangkara Palangka Raya periode Januari-Juni 2012.

2.

Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah resep yang mencantumkan obat
analgesik non narkotik di kamar obat umum pasien rawat jalan dengan
jumlah sampel 634 resep Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya
periode Januari-Juni 2012.
Teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan purposive
sampling. Purposive sampling adalah teknik sampling yang didasarkan
pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri,

14

15

berdasarkan cirri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui


sebelumnya (Notoadmodjo, 2002:88)
D. Teknik Pengumpulan Data
Dokumentasi merupakan pengumpulan data dengan cara mengambil
data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli tersebut dapat berupa
gambar, tabel, atau daftar periksa dan film documenter (A. azis Alimul
Hidayat, 2007 : 88).
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini adalah teknik analisis kuantitatif
yang mengolah data berbentuk angka.
Hasil analisis secara deskriptif dengan menggunakan tabulasi dan
histogram sebagai dasar komparasi (perbandingan) antara skor yang diperoleh
untuk melihat penggunaan obat analgesik non narkotik di Rumah Sakit
Bhayangkara Palangkaraya periode Januari-Juni 2012 serta digunakan rumus
persentase sebagai berikut (Sugiyono, 2002:212).

P=
Keterangan

%
: P = Presentase
F = Frekuensi
n = responden

100% = Bilangan tetap

16

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit
Bhayangkara Palangka Raya adalah 634 resep pasien. Berdasarkan jenis
kelamin pasien laki-laki 321 resep (50,63%) dan perempuan 313 resep
(49,36%). Frekuensi penggunaan tertinggi untuk laki-laki terjadi pada bulan
Februari yaitu 84 resep dan terendah pada bulan April yaitu 17 resep,
sedangkan perempuan frekuensi penggunaan tertinggi pada bulan Januari
yaitu sebanyak 97 resep dan frekuensi terendah terjadi pada bulan April 19
resep. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penggunaan obat analgesik non narkotik berdasarkan jenis
kelamin pasien Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya
periode Januari sampai Juni 2012
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Jumlah
Persen
Berdasarkan

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
83
97
84
68
59
51
17
19
38
37
40
41
321
313
50,63
49,36

penggolongan

usia,

pasien

yang

Total
180
152
110
36
75
81
634
100
paling

banyak

menggunakan obat obat analgesik non narkotik adalah dewasa dengan jumlah
464 resep (73,18 %) dan yang paling sedikit adalah bayi dengan jumlah 7
resep (1,10 %) hasil dapat dilihat pada Tabel 2

16

17

Tabel 2. Penggunaan obat Analgesik non narkotik berdasarkan


golongan usia pasien Rumah Sakit Bhayangkara Palangka
Raya periode Januari sampai Juni 2012.
Golongan usia
Bayi (1-24 bulan )
Anak-anak (2-13 tahun)
Remaja (13-18 tahun)
Dewasa (18-65 tahun)
Geriatri (diatas 65 tahun)
Jumlah

Jumlah
7
111
22
464
30
634

Presentase (%)
1,1
17,5
3,4
73,1
4,8
100

Hasil penelitian retrospektif yang saya lakukan dalam periode Januari


sampai Juni 2012 menunjukan fluktuatif frekuensi penggunaan analgetik non
narkotik yaitu pada bulan Januari dan Februari, sedangkan pada bulan April
peresepan obat analgetik non narkotik frekuensinya sangat jarang, seperti
dapat dilihat pada tabel 1.
80
70

As. Mefenamat

60

As. Asetil Salisilat

50

Meloxicam

40

Piroxicam

30

Na. diklofenak

20

Ibuprofen

10

Kalium diklofenak

0
Januari Februari

Maret

April

Mei

Juni

Gambar 2. Frekuensi penggunaan obat analgesik non narkotik di RS


Bhayangkara Palangka Raya per bulan
Penggunaan obat analgesik non narkotik berdasarkan zat aktif, yang
paling banyak digunakan adalah As. Mefenamat yaitu sebanyak 191 resep
(30,12%) dan paling sedikit adalah kalium diklofenak yaitu 9 resep (1,41%).
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.

18

Tabel 3. Frekuensi penggunaan obat analgesik non narkotik


berdasarkan zat aktif di RS Bhayangkara Palangka Raya
periode Januari sampai Juni 2012
No
1
2
3
4
5
6
7

Zat aktif
As. Mefenamat
Na. diklofenak
Ibuprofen
Meloxicam
Piroxicam
As. Asetil salisilat
Kalium diklofenak
Jumlah

Jumlah R/
191
181
150
65
24
14
9
634

Persen(%)
30,1
28,5
23,7
10,2
3,8
2,2
1,4
100

B. Pembahasan
Nyeri merupakan persepsi yang kompleks, yang rasanya dapat
bervariasi antara satu orang dengan yang lainya, meskipun penderita
mengalami cedera atau penyakit yang sama. Pada keadaan yang parah,
nyeri dapat mengganggu produktivitas atau kenyamanan hidup. Saat ini
nyeri menjadi gangguan universal, menarik perhatian dan biaya yang
besar, dan menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan untuk dapat
memberikan solusi yang tepat untuk penanganannya. Tujuan penanganan
atau terapi nyeri adalah menghilangkan rasa nyeri yang menyebabkan
perasaan tidak nyaman pada pasien agar bisa menjalani aktivitas secara
normal dan mencapai kualitas hidup yang baik. Obat analgesik non
narkotik merupakan salah satu terapi farmakologi yang lazim digunakan
untuk penanganan nyeri ringan sampai sedang dan penggunaannya sangat
bervariatif.
Pada penelitian ini, peneliti akan membahas frekuensi penggunaan
obat analgesik non narkotik pasien rawat jalan di RS Bhayangkara yang
merupakan Rumah sakit pemerintah dan dikelola POLRI tapi tidak hanya
melayani anggota POLRI saja tapi juga melayani pasien umum.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah retrospektif,
yaitu data yang diambil setelah peristiwa terjadi atau setelah pelayanan
dilakukan. Penelitian ini adalah peneletian yang berusaha melihat ke
belakang (backward locking), artinya pengumpulan data ini dimulai dari

19

efek atau akibat yang telah terjadi yaitu setelah resep analgesik non
narkotik diberikan kepada pasien.
Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Purposive sampling. Dimana teknik sampling di dasarkan pada suatu
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri
atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya, ciri-ciri dalam
penelitain ini adalah resep yang terdapat obat analgesik non narkotik yang
sudah diketahui berdasarkan observasi yang dilakukan sebelum penelitian.
Dari 5.836 total resep yang diperoleh dari bulan Januari sampai Juni 2012
diperoleh 634 resep analgesik non narkotik (10,86%). Hal ini menunjukan
penggunaan resep analgesik non narkotik tidak terlalu banyak.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit Bhayangkara mempunyai dua sub
unit pelayanan farmasi yaitu kamar obat umum dan kamar obat dinas.
Dalam penelitian ini, peneliti memilih kamar obat umum karena banyak
pasien umum yang berobat ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya,
sehingga bisa dijadikan sebagai sampel dalam penelitian.
Dari 634 resep obat analgesik non narkotik terdapat penggunaan
tertinggi pada laki-laki sebanyak 321 resep (50,63%) dan perempuan 312
resep (49,36%), ini menunjukan berdasarkan jenis kelamin tidak terdapat
perbedaan yang signifikan dalam penggunaan obat analgesik non narkotik
serta tidak berpengaruh pada pemberian analgesik non narkotik, karena
kerja obat tersebut tidak berhubungan dengan sistem hormonal melainkan
bekerja pada enzim dan reseptor yang sama.
Untuk penggunaan obat analgesik non narkotik berdasarkan usia,
tertinggi pada pasien dewasa yaitu sebanyak 464 resep (73,18%) dan
terendah pada pasien bayi dengan jumlah 7 resep (1,10%). Penggunaan
obat analgesik non narkotik, lebih banyak pada orang dewasa karena pada
orang dewasa penggunaan analgesik non narkotik ditujukan sebagai pereda
nyeri contohnya, rematik, sakit gigi, nyeri luka dan pasca operasi.
Sedangkan pada bayi tujuan penggunaan analgetik non narkotik terutama
yang paling banyak adalah paracetamol sebagai penurun panas

20

(antipiretik). Paracetamol merupakan analgetik yang mempunyai sifat


antipiretik paling tinggi dibandingkan analgetik lain, penggunaanya
sebagai analgetik pada dewasa biasanya hanya untuk nyeri-nyeri ringan
sepeti nyeri kepala. Dalam pemilihan terapi menggunakan analgetik ada
beberapa faktor yang harus dipertimbangkan salah satunya usia dan
kondisi kesehatan pasien (misalnya pasien dengan penurunan fungsi
ginjal), karena pada usia balita (bayi) pembentukan dan fungsi fisiologis
tubuh dan organ-organ belum sempurna, sedangkan pada dewasa (usia <
50 thn) sistem fisiologis berfungsi secara optimal, serta pada usia > 50 thn
(lansia) sudah terjadi penurunan fungsi organ sehingga dalam pemilihan
terapi harus dilakukan secara hati-hati.
Obat Analgesik non narkotik yang paling sering digunakan pada
periode Januari sampai Juni 2012 adalah As. Mefenamat sebanyak 191
resep (30,12%) dan paling rendah kalium diklofenak 9 resep (1,41%).
Penggunaan asam mefenamat paling banyak di poli gigi dengan tujuan
mengurangi rasa nyeri pada setelah pencabutan gigi. Sedangkan Kalium
Diklofenak digunakan untuk rasa nyeri yang dirasakan pasien pasca
pencabutan gigi.
Sampai saat ini terapi nyeri merupakan terapi utama jika pasien
mengalami nyeri simptomatik dari beberapa keadaan patologis maupun
nyeri yang memang merupakan tanda adanya sebuah gangguan jaringan
yang dialami. Jika pasien merasakan nyeri, tidak diperbolehkan menunda
pemberian analgetik sesuai dengan skala nyerinya, karena perasaan nyeri
selain dapat mempengaruhi kondisi psikologis pasien juga dapat
menyebabkan perubahan pada sistem syaraf yang akan mengurangi respon
pasien terhadap analgesik. Jenis nyeri yang berespon baik terhadap obat
analgesik non narkotik adalah nyeri nosiseptik. Nyeri nosiseptik
merupakan nyeri yangperifer berasal: kulit, tulang, sendi, otot, jaringan
ikat (zulliesikawati.online.2013).

21

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Penggunaan obat analgesik non narkotik di Rumah Sakit Bhayangkara
Palangka Raya periode Januari-Juni 2012.
1.

Berdasarkan zat aktif obatnya asam mefenamat 191 resep (30,1%),


natrium diklofenak 181 resep (28,5%), ibuprofen 150 (23,6%),
meloxicam 65 resep (10,2%), piroxicam 24 resep (3,7%), asam asetil
salisilat 14 resep (2,2%), kalium diklofenak 9 resep (1,41%).

2.

Berdasarkan jenis kelamin penggunaan analgesik non narkotik di Rumah


Sakit Bhayangkara Palangka Raya tertinggi adalah laki-laki sebanyak 321
resep (50,63%) dan terendah 313 resep (49,36%) obat analgesik non
narkotik tidak berpengaruh pada sistem hormonal.

3.

Berdasarkan golongan usia penggunaan obat analgesik non narkotik di


Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya paling tinggi adalah dewasa
464 resep (73,1%) dan terendah bayi 7 resep (1,1%) resep yang diberikan
diluar golongan NSAID.

B. Saran
1. Sebagai bahan pertimbangan perencanaan dan pengadaan obat analgesik
non narkotik di RS Bhayangkara Palangka Raya.
2. Dapat dilakukan penelitian dengan periode berikutnya sehingga dapat
diketahui frekuensi penggunaan analgesik non narkotik periode berikutnya
3. Dapat dilakukan penelitian frekuensi obat analgesik
golongan obat lain.

21

non narkotik