Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekonomi kerakyatan sebetulnya bukanlah gagasan baru di Indonesia. Gagasan
ekonomi kerakyatan sejatinya lebih tua dibandingkan dengan umur bangsa Indonesia sendiri.
Namun belakangan ini, gagasan ekonomi kerakyatan menjadi sangat populer dan terus
menjadi perbincangan di berbagai kalangan masyarakat. Bagaimana tidak, gagasan ekonomi
kerakyatan seolah baru bangkit dari kubur ketika reformasi dilakukan. Sebab, pada saat Orde
Baru, Soeharto lebih suka menggunakan sistem yang lebih menjanjikan pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi, yaitu ekonomi kapitalis. Kondisi itu juga menyebabkan koperasi
sebagai manifestasi ekonomi kerakyatanpun sangat lambat perkembangannya. Sayangnya
lagi, era Reformasi tidaklah menjamin ekonomi kerakyatan dapat dijalankan dengan mulus.
Karena demokrasi politik pada era Reformasi justru lebih banyak melibatkan perusahaan
kapitalis dalam kegiatan perekonomian. Berbagai fenomena dan gambaran diatas, tentunya
tidaklah dapat dibiarkan begitu saja. Sebab itu, kiranya kita perlu kembali melihat sistem
ekonomi kerakyatan dan koperasi secara lebih mendalam, mulai dari substansi, sejarah, ide
dan gagasan serta manifestasinya.
Globalisasi dan perubahan tatanan perekonomian dunia yang sedemikian cepat harus
dengan cermat diamati untuk diantisipasi setepat dan sedini mungkin. Oleh karena itu, dunia
usaha harus disiapkan dan mempersiapkan diri menghadapi kecenderungan global ke arah
perekonomian pasar bebas yang masih akan terus bergulir. Oleh karena itu, kualitas sumber
daya manusia, kemampuan manajerial, dan kemampuan kewirausahaan perlu ditingkatkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang yang menafsirkan dan memandang bahwa
kewirausahaan adalah identik dengan apa yang dimiliki dan dilakukan oleh usahawan atau
wiraswasta. Pandangan tersebut kurang tepat karena jiwa dan sikap kewirausahaan tidak
hanya dimiliki oleh usahawan, namun juga oleh setiap orang yang berpikir kreatif dan
bertindak inovatif
Harapan untuk diterima di dunia kerja tentunya tidaklah keliru, namun tidak dapat
dipungkiri bahwa kesempatan kerja pun sangat terbatas dan tidak berbanding linear dengan
lulusan lembaga pendidikan baik dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Oleh sebab itu
semua pihak harus terus berpikir dan mewujudkan karya nyata dalam mengatasi kesenjangan
antara

lapangan

kerja

dengan

lulusan

institusi

pendidikan.

Kesenjangan ini merupakan penyebab utama peningkatan angka pengangguran.


Sedangkan pengangguran adalah salah satu permasalahan pembangunan yang sangat kritis
khususnya di negara Indonesia termasuk di daerah-daerah di pelosok nusantara. Salah satu
solusinya adalah dengan mencetak lulusan lembaga pendidikan yang memiliki potensi untuk
mengembangkan keterampilannya menjadi usaha mandiri. Selain menjadi solusi bagi dirinya,
seringkali usaha mandiri ini mendatangkan berkah bagi orang lain yang direkrut sebagai
karyawan ataupun buruh pada usaha yang dirintisnya. Adapun alasan-alasan seseorang
tertarik

untuk

berwirausaha

adalah

sebagai

berikut:

a. Alasan keuangan, untuk mencari nafkah, kaya, pendapatan tambahan


b. Alasan sosial, untuk memperoleh gengsi/status untuk dapat dikenal, dihormati
c.

dan bertemu orang banyak

d. Alasan pelayanan, memberi pekerjaan pada masyarakat


e. Alasan pemenuhan diri, untuk menjadi mandiri, lebih produktif dan untuk
menggunakan kemampuan pribadi.
Semua alasan itulah yang mendorong seseorang untuk melakukan terobosan dan
memilih berwirausaha. Namun demikian pada prakteknya tidaklah mudah memulai suatu
usaha. Rasa takut yang berlebihan akan kegagalan dan kerugian seringkali menghantui jiwa
seseorang ketika akan memulai usahanya. Keberanian untuk memulai merupakan modal
utama yang harus dimilki seseorang untuk terjun dalam dunia usaha. Namun itu saja tidak
cukup, keberanian tanpa disertai perhitungan dan kemampuan berwirausaha seringkali
menjerumuskan kita ke dalam situasi kegagalan yang berkepanjangan.

1.2. Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud dengan kewirausahaan?
b. Bagaimana cara untuk menumbuhkan kewirausahaan?
c. Apa saja keuntungan dan kerugian berwirausaha?
d. Apa yang dimaksud dengan ekonomi kerakyatan?
e. Apa saja ciri-ciri sistem ekonomi kerakyatan?
f. Bagaimana cara untuk menumbuhkan kepedulian terhadap ekonomi kerakyatan?

2.3. Tujuan Makalah

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Mengetahui apa yang dimaksud dengan kewirausahaan


Mengetahui cara untuk menumbuhkan kewirausahaan
Mengetahui keuntungan dan kerugian berwirausaha
Mengetahui apa yang dimaksud dengan ekonomi kerakyatan
Mengetahui apa saja ciri-ciri sistem ekonomi kerakyatan
Mengetahui cara untuk menumbuhkan kepedulian terhadap ekonomi
kerayatan

BAB II

PEMBAHASAN
2.1

Definisi Kewirausahaan
Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang
dijadikan dasar dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari
kewirausahaan menurut drucker (1959) adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang
baru dan berbeda melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif demi terciptanya peluang.
Banyak orang, baik pengusaha maupun yang bukan pengusaha meraih sukses karena
memiliki kemampuan kreatif dan inovatif. Proses kreatif dan inovatif tersebut biasanya
diawali dengan munculnya ide-ide dan pemikiran-pemikiran untuk menciptakan sesuatu yang
baru dan berbeda. Sedangkan dalam organisasi perusahaan, proses kreatif dan inovatif
dilakukan melalui kegiatan penelitan dan pengembangan untuk meraih pangsa pasar. Baik
ide, pemikiran, maupun tindakan kreatif tidak lain adalah untuk menciptakan nilai tambah
barang dan jasa yang menjadi sumber keunggulan untuk dijadikan peluang. Jadi,
kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambahan dipasar
melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda, seperti:
1.
2.
3.
4.

Pengembangan teknologi.
Penemuan pengetahuan ilmiah.
Perbaikan produk barang dan jasa yang ada.
Menemukan cara-cara baru untuk mendapatkan produk yang lebih banyak dengan
sumber daya yang lebih efisien.

Kemampuan kewirausahaan secara alamiah dapat tumbuh melalui pendidikan dan


pengalaman. Kewirausahaan memang tidak bersifat tekstual, melainkan kontekstual. Oleh
karena itu, ada pendapat bahwa untuk menjadi wirausahawan yang sukses perlu pandai
bergaul, disiplin, dan tidak ada kata terlambat untuk menjadi seorang wirausahawan.
Sehubungan dengan itu, kemampuan kewirausahaan dapat ditempuh melalui program
pelatihan manajerial magang, pendididkan ketrampilan, dan paket belajar mandiri. Untuk
mempermudah dan memperluas akses dan pangsa pasar, akses teknologi, dan informasi,
pemerintah juga perlu untuk secara terus-menerus menata sistem pembiayaan yang membuka
akses seluas-luasnya kepada calon wirausahawan yang potensial.
Kewirausahaan merupakan fungsi dari pengembangan sumber daya manusia sejak
masih anak-anak hingga dewasa, dan berkembang sejalan dengan berbagai pengalaman dan
dorongan yang ada. Oleh karena itu, pengembangan secara simultan perlu dilakukan dari
berbagai sektor, baik pendidikan, pengembangan lingkungan usaha yang mendukung,
maupun berbagai upaya dalam pembinaan dan pengembanngan. Dalam hal ini, beberapa
kebijakan pemerintah dalam pengembangan usaha yang relevan bagi pengembangan
kewirausahaan antara lain mencakupi:

1.

Penumbuhan iklim usaha yang kondusif dalam aspek pendanaan, persaingan, prasarana,
informasi, kemitraan, dan perlindungan.

2.

Pembinaan, pengembangan, pemasaran, SDM, dan teknologi.


Dapat ketahui untuk menghasilkan wirausaha-wirausaha baru tidak dapat dipaksakan,
akan tetapi harus berasal dari kemauan sendiri dan didukung oleh faktor eksternal,
karena itu kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong tumbuhnya wirausaha-wirausaha
baru adalah:
1. Pendidikan dan pelatihan, baik secara formal ditingkat sekolah menengah sampai
perguruan tinggi maupun pendidikan non-formal. Pendidikan dijadikan pemicu
atau triggering event yang dapat memotivasi para remaja untuk menjadi wirausahawirausaha baru. Pendidikan non-formal dapat dilaksanakan melalui pendirian
inkubator bisnis, yaitu lembaga pelatihan kewirausahaan, di beberapa negara seperti
di Thailand, Vietnam pendirian inkubator bisnis menyebar sampai ketingkat daerah.
2. Menyederhanakan perizinan pendirian perusahaan baru.
3. Menyederhanakan prosedur perkreditan untuk pendirian perusahaan-perusahaan baru.
4. Memfasilitasi calon-calon wirausaha akses kepada hasil-hasil penelitian baik dari
universitas maupun lembaga-lembaga lain dan informasi khususnya informasi
pemasaran.

2.2

Fungsi dan Peran Wirausaha


Fungsi dan peran wirausaha dapat dilihat melalui dua pendekatan, yaitu secara mikro
dan makro. Secara mikro wirausaha memiliki dua peran, yaitu sebagai penemu (innovator)
dan perencana (planner). Sebagai penemu, wirausaha menemukan dan menciptakan sesuatu
yang baru, seperti produk, teknologi, cara, ide, organisasi, dan sebagainya. Sebagai
perencana, wirausaha berperan merancang tindakan dan usaha baru, merencanakan strategi
usaha yang baru, merencanakan ide-ide dan peluang dalam meraih sukses, menciptakan
organisasi perusahaan yang baru, dan lain-lain. Secara makro peran wirausaha adalah
menciptakan kemakmuran, pemerataan kekayaan, dan kesempatan kerja yang berfungsi
sebagai mesin pertumbuhan perekonomian suatu negara.

2.3

Modal dan Strategi dalam Kewirausahaan


Dalam kewirausahaan, modal tidak selalu identik dengan modal yang berwujud
(tangible) seperti uang dan barang, tetapi juga modal yang tidak berwujud (intangible) seperti
modal intelektual, modal sosial, modal moral, dan modal mental yang dilandasi agama.
Secara garis besar, modal kewirausahaan dapat dibagi ke dalam empat jenis, yaitu:
1.
Modal Intelektual
Modal intelektual dapat diwujudkan dalam bentuk ide-ide sebagai modal utama yang
disertai pengetahuan, kemampuan, keterampilan, komitmen, dan tanggung jawab sebagai
modal tambahan. Ide merupakan modal utama yang akan membentuk modal lainnya. Dalam
kewirausahaan, kompetensi inti (core competency) adalah kreativitas dan inovasi dalam
rangka menciptakan nilai tambah untuk meraih keunggulan dengan berfokus pada
pengembangan pengetahuan dan keunikan, ketrampilan, pengetahuan, dan kemampuan
merupakan kompetensi inti wirausaha untuk menciptakan daya saing khusus agar memiliki
posisi tawar-menawar yang kuat dalam persaingan.
2.

Modal Sosial dan Moral


Modal sosial dan moral diwujudkan dalam bentuk kejujuran dan kepercayaan, sehingga
dapat terbentuk sebuah kerjasama. Seorang wirausaha yang baik biasanya memiliki etika
wirausaha seperti: (1) kejujuran, (2) memiliki integritas, (3) menepati janji, (4) kesetiaan, (5)
kewajaran, (6) suka membantu orang lain, (7) menghormati orang lain, (8) warga negara yang
baik dan taat hukum, (9) mengejar keunggulan, dan (10) bertanggung jawab. Dalam konteks
ekonomi maupun sosial, kejujuran, integritas, dan ketepatan janji merupakan modal sosial
yang dapat menumbuhkan kepercayaan dari waktu ke waktu.
3.

Modal Mental
Modal mental adalah kesiapan mental berdasarkan landasan agama, diwujudkan dalam
bentuk keberanian untuk menghadapi risiko dan tantangan.
4.

Modal Material
Modal mateial adalah modal dalam bentuk uang atau barang. Modal ini terbentuk
apabila seseorang memiliki jenis-jenis modal diatas.
Dalam konsep strategi pemasaran terdapat istilah bauran pemasaran (marketing mix) yang
dikenal dengan 4P, yaitu:
(1) Barang dan jasa (product)
(2) Harga (price)
(3) Tempat (place)
(4) Promosi (promotion)

Dalam kewirausahaan, 4P tersebut ditambahkan satu P, yaitu probe (penelitian dan


pengembangan) sehingga menjadi 5P. Dalam riset pemasaran, probe selalu ditambahkan di
awal sehingga urutan bauran pemasaran menjadi:
(1) Probe (penelitian dan pengembangan)
(2) Product (barang dan jasa)
(3) Price (harga)
(4) Place (tempat)
(5) Promotion (promosi)
Penelitian dan pengembangan dalam kewirausahaan merupakan strategi utama karena
memiliki keterkaitan dengan kreativitas dan inovasi. Di dalamnya tercakup penelitian dan
pengembanngan produk, harga, tempat, dan promosi. Wirausaha berkembang dan berhasil
karena memiliki kemampuan penelitian dan pengembangan yang memadai sehingga tercipta
barang-barang yang bernilai dan unggul di pasar.
2.4

Menumbuhkan Semangat Kewirausahaan


Pada dasarnya setiap orang memiliki peluang yang sama besar untuk bisa menjadi
seorang pelaku usaha. Namun sayangnya tidak semua orang berani mengasah bakat dan
minat mereka, sehingga wajar bila ada sebagian orang yang telah berhasil menjadi pengusaha
sukses dan sebagian lainnya masih ada juga yang belum berani untuk menjalankan usaha.
Ketakutan untuk memulai dan ketakutan untuk mencoba menjadi kendala utama bagi
sebagian orang sehingga mereka memilih mengurungkan niatnya untuk menjadi pengusaha
sukses. Jadi jika ingin menjadi seorang wirausahawan yang sukses dibutuhkan mental
pemberani untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan tersebut serta tekad yang kuat untuk
menumbuhkan jiwa kewirausahaan di dalam diri masing-masing. Berikut ini ada beberapa
cara untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di dalam diri seseorang, yaitu:
1.

Tekad yang kuat untuk memulai


Ibarat sebuah bangunan gedung yang menjulang tinggi, tekad kuat untuk memulai
usaha menjadi pondasi dasar yang perlu ditanamkan agar bangunan tersebut bisa berdiri
dengan kokoh. Salah besar jika seseorang menganggap modal utama memulai usaha adalah
kucuran dana yang berlimpah. Sebab, dengan tekad dan keyakinan yang kuat dalam diri
seseorang, permasalahan modal dana yang terbatas pun akan terpecahkan dengan berbagai
solusi yang bisa didapatkan. Jadi, singkirkan pikiran-pikiran negatif yang melintas di benak
seseorang yang ingin membangun usaha dan manfaatkan sumber daya yang ada di sekitar
kita untuk merintis sebuah usaha. Mulailah dari bakat dan minat yang dimiliki. Ketika
berpikir menjadi seorang entrepreneur, seseorang tidak perlu takut dan bingung untuk
memilih ide bisnis yang paling sesuai dengan diri masing-masing. Mulailah dari hal-hal yang
dicintai, misalnya saja memanfaatkan hobi atau bakat didalam bidang tertentu sebagai
peluang usaha. Meskipun mengawali bisnis dari sesuatu yang kecil, namun jika ditekuni
dengan sepenuh hati maka tidak menutup kemungkinan bila hobi atau bakat tersebut bisa
menghasilkan untung jutaan setiap bulannya.

2.

Fokus dan konsisten


Untuk bisa menjadi entrepreneur sukses memang tidak mudah. Terkadang memakan
waktu yang cukup lama, serta tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga wajar adanya
bila banyak pelaku usaha yang akhirnya menyerah di tengah jalan sebelum akhirnya mereka
meraih kesuksesannya. Karenanya, tentukan fokus utama dalam menjalankan usaha dan
teruslah tingkatkan pengetahuan serta skill yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan fokus
yang telah ditentukan. Jangan pernah berhenti berkarya sebelum akhirnya berhasil meraih
impian.
3.

Belajarlah dari kisah para pengusaha sukses


Terkadang para pemula butuh motivasi dari seseorang yang sudah berpengalaman di
bidang dunia usaha. Dengan belajar dari kisah perjalanan para pengusaha sukses yang
dulunya pernah jatuh bangun dalam menjalankan usahanya, para pemula bisa termotivasi
untuk berani mengalahkan ketakutannya dan semakin terdorong untuk segera memulai
sebuah usaha. Selain itu, bisa juga memperbanyak pengetahuan di bidang bisnis dan
mempelajari strategi-strategi bisnis yang pernah digunakan para pengusaha besar dalam
meraih kesuksesannya.
4.

Paksa diri sendiri dan lakukan sekarang juga


Langkah terakhir inilah yang perlu dipraktekan sekarang juga. Tak jarang bila
seseorang perlu dipaksa agar Ia berani untuk mencoba. Karena itulah, paksa diri sendiri untuk
berani melawan ketakutan dalam memulai usaha dan bergeraklah sekarang juga. Lebih baik
berani belajar dari kegagalan yang dialaminya daripada tidak belajar sama sekali. Jadi,
mulailah sekarang juga dan raihlah sebuah kesuksesan itu.
2.5

Menumbuhkan Mental Wirausaha


Berikut ini ada beberapa cara untuk menumbuhkan mental wirausaha, yaitu:
1.
Melalui Komitmen Pribadi
Jiwa wirausaha ditandai dengan adanya komitmen pribadi untuk dapat mandiri,
mencapai sesuatu yang diinginkan, menghindari ketergantungan pada orang lain,
agar lebih produktif dan untuk memaksimalkan potensi diri.

Anda dapat memprogram ulang diri anda untuk sukses melalui deklarasi tertulis,
bahwa pikiran perasaan, ucapan dan tindakan anda akan selalu diperbaiki kearah yang lebih
baik.
2.

Melalui Lingkungan dan Pergaulan yang Kondusif


Dorongan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dapat berasal dari lingkungan
pergaulan teman, family, sahabat, karena mereka dapat berdiskusi tentang ide
wirausaha, masalah yang dihadapi dan cara-cara mengatasinya. Sehingga
mempunyai semangat, kemampuan dan pikiran untuk menaklukan cara berfikir
lamban dan malas.

3.

Melalui Pendidikan dan Pelatihan


Keberanian untuk membentuk jiwa wirausaha juga didorong oleh guru atau dosen
disekolah atau lembaga pelatihan. Mereka memberikan mata pelajaran
kewirausahaan yang praktis dan menarik sehingga membangkitkan minat siswa
untuk berwirausaha.

4.

Karena Keadaan Terpaksa


Banyak orang yang sukses karena dipaksa oleh keadaan. Mungkin pada awalnya
tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi karena usahanya yang
keras, tidak gampang menyerah dan berputus asa,sehingga akhirnya menjadi
wirausaha yang sukses.

2.6

Karakteristik Wirausaha
Persepsi umum wirausaha memperluas karakteristik, seperti tingginya kebutuhan
yang dipenuhi, keinginan untuk mengambil risiko yang moderat, percaya diri yang kuat, dan
kemauan berbisnis.
KEBUTUHAN AKAN KEBERHASILAN
Psikologi mengakui bahwa tiap orang berbeda dalam tingkat kebutuhan akan
keberhasilannya. Orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang rendah, terlihat
puas dengan status yang dimilikinya. Pada sisi yang lain, orang dengan tingkat kebutuhan
keberhasilan yang tinggi senang bersaiing dengan standar keunggulan dan memilih untuk
bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan padanya.
KEINGINAN UNTUK MENGAMBIL RISIKO
Risiko yang diambil oleh
wirausaha didalam memulai dan menjalankan bisnisnya berbeda-beda. Dengan
menginvestasikan uang miliknya, mereka mendapat risiko keuangan. Jika mereka
meninggalkan pekerjaannya mereka mempertaruhkan kariernya. Tekanan dan waktu yang
dibutuhkan untuk memulai dan menjalankan bisnisnya juga mendatangkan risiko bagi
keluarganya. Dan wirausaha yang mengidentifikasikan secara teliti kegiatan bisnis yang
istimewa, menerima risiko fisik sebagaimana mereka menghadapi kemungkinan terjadi
kegagalan.
PERCAYA DIRI
Orang yang memiliki keyakinan pada diri sendiri merasa dapat
menjawab tantangan yang ada di depan mereka. Mereka mempunyai pemahaman atas segala
jenis masalah yang mungkin muncul. Penelitian menunjukkan bahwa banyak wirausaha yang
sukses adalah orang yang percaya pada dirinya sendiri, yang mengakui adanya masalah di
dalam peluncuran perusahaan baru, tapi mempercayai kemampuan dirinya untuk mengatasi
masalah tersebut.
KEINGINAN KUAT UNTUK BERBISNIS
Banyak wirausaha memperhatikan
tingkat keingintahuannya yang dapat disebut sebagai keinginan kuat untuk berbisnis dengan
tujuan apapun, menciptakan ketabahan, dan kemauan untuk bekerja keras.[5]
Selain ciri-ciri yang telah disebutkan, karakteristik penting yang lain dari seseorang
yang bersemangat kewirausahaan dan bersemangat inovasi mungkin dapat ditambahkan dan
ditemukan sendiri oleh seseorang berdasarkan kisah ataupun pengalaman yang dijumpai.
Berdasarkan beberapa karakteristik seseorang yang bersemangat kewirausahaan sebagaimana

telah diuraikan sebelumnya, ada beberapa catatan penting saat menggambarkan


seorangentrepreneur. Pada dasarnya seorang individu yang berjiwa dan bersemangat
kewirausahaan adalah seorang individu yang inovatif, kreatif, dan berani melakukan sesuatu
yang tidak dipikirkan oleh orang lain. Ia terbang lebih tinggi dalam pemikiran, dalam cara
memandang sesuatu, ataupun dalam mengambil
tindakan dibandingkan masyarakat atau orang-orang di sekitarnya. Rasio atau jumlah mereka
bervariasi dengan adanya perbedaan lingkungan dan kebudayaan. Bahkan sering dijumpai,
meskipun salah satu ciri entrepreneur adalah kreatif, ternyata tidak semua orang yang kreatif
dapat berkembang menjadi seseorang yang bersemangat kewirausahaan dan menjadi seorang
inovator. Di sinilah tampak betapa pentingnya membangun lingkungan yang memberi
keleluasaan bagi berkembangnya semangat kewirausahaan dan inovasi. Semangat
kewirausahaan dan inovasi adalah dua hal yang saling berkait karena inovasi sendiri
merupakan fungsi spesifik kewirausahaan.
g.

Keuntungan dan Kerugian Berwirausaha


Keuntungan dan kerugian berwirausaha identik dengan keuntungan dan kerugian pada
usaha kecil milik. Berikut beberapa keuntungan dan kerugian berwirausaha:
1.
Keuntungan Berwirausaha
a)
Otonomi. Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausaha menjadi
seorang bos yang penuh kepuasan.
b)
Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi. Tantangan awal atau perasaan
bermotivasi yang tinggi merupakan hal yang menggembirakan, peluang untuk
mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan sangat memotivasi
wirausaha.
c)
Kontrol finansial. Wirausaha memiliki kebebasan untuk mengelola keuangan dan
merasa kekayaan sebagai milik sendiri.
2.
Kerugian Berwirausaha
Disamping beberapa keuntungan seperti di atas, dalam berwirausaha juga terdapat beberapa
kerugian, yaitu:
a)
Pengorbanan personal. Pada awalnya, wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama
dan sibuk. Sedikit sekali waktu yang tersedia untuk kepentingan keluarga ataupun berekreasi
karena hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
b)
Beban tanggung jawab. Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik
pemasaran, keuangan, personal, maupun pengadaan dan pelatihan.
c)
Kecilnya margin keuntungan dan besarnya kemungkinan gagal. Karena wirausaha
menggunakan sumber dana miliknya sendiri, maka margin laba atau keuntungan yang
diperoleh akan relatif kecil.[6]
2.
Ekonomi Kerakyatan
a.
Definisi Ekonomi Kerakyatan
Pengertian ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi
rakyat. Dimana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan ekonomi atau usaha yang

dilakukan oleh rakyat dengan secara swadaya mengelola sumberdaya ekonomi apa saja yang
dapat diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya disebut sebagai Usaha Kecil dan
Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian, peternakan, kerajinan, makanan, dan
lain sebagainya yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Sistem ekonomi kerakyatan atau sistem ekonomi pancasila ini secara umum dapat
diartikan sebagai sistem ekonomi yang memadukan ideologi konstitusional (Pancasila dan
UUD 1945) bangsa Indonesia dengan sistem ekonomi campuran (Sistem Ekonomi Pasar
Terkelola) yang diwujudkan melalui kerangka demokrasi ekonomi serta dijabarkan dalam
langkah-langkah ekonomi yang berpihak pada masyarakat dan pemberdayaan seluruh
masyarakat, yang ditujukan untuk mewujudkan tercapainya masyarakat yang adil dan
makmur.[7]
Berdasarkan hal itu, makna ekonomi kerakyatan mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
a.
Dasar demokrasi ekonomi, dimana produksi dikerjakan oleh semua dan untuk semua,
di bawah pemilikan anggota masyarakat.
b.
Kemakmuran masyarakat menjadi utama, bukan kemakmuran sekelompok orang.
c.
Perekonomian harus disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan.
d.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang
banyak harus dikuasai oleh negara.
e.
Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalam bumi Indonesia harus dikuasai
oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.[8]
Dalam TAP MPR NO.XVI / 1998 ditegaskan tentang perlunya penerapan sistem
ekonomi kerakyatan yang berpihak pada upaya-upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.
Pemberdayaan ekonomi rakyat dianggap urgen, bukan saja karena ketertinggalan sektor
ekonomi menengah dan besar, tetapi juga karena ketimpangan ekonomi dan kesenjangan
sosial antara keduanya sudah terlalu besar, sehingga menimbulkan kecemburuan
sosial.Kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terlalu besar dan sulit ditoleransi ini menjadi
masalah paling serius dihadapi bangsa Indonesia pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.
Sistem ekonomi Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan yang mampu mewujudkan
demokrasi dalam tatanan ekonomi nasional. Sistem nilai atau ideologi suatu bangsa akan
menentukan sistem ekonomi melalui bekerjanya lembaga-lembaga ekonomi yang dibentuk
oleh masyarakat. Ideologi ekonomi kerakyatan merupakan himpunan gagasan yang menjadi
landasan bagi tindakan-tindakan ekonomi warga masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya,
dan secara bersama mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Dengan
demikian, yang mewujudkan perekonomian Indonesia yang demokratis adalah tumbuhnya
kemampuan rakyat untuk mengendalikan atau mengawasi jalannya perekonomian. Oleh
karena itu, untuk memberdayakan perekonomian rakyat, kedaulatan harus dikembalikan
kepada rakyat, karena hanya dengan kedaulatan rakyat itulah ekonomi kerakyatan dapat
diselenggaarakan. Penerapan sistem ekonomi kerakyatan, yaitu sistem demokratis dan benarbenar sesuai dengan sistem nilai bangsa Indonesia, memberikan peluang yang lebih besar dan
lebih tepat bagi bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.

Pemberdayaan ekonomi kerakyatan juga merupakan bagian integral dalam mewujudkan


ketahanan nasional di bidang ekonomi. Gempuran ekonomi global harus diimbangi dengan
penguatan pondasi ekonomi dalam negeri. Oleh karenanya, sistem ekonomi kerakyatan harus
diperkuat dengan keberpihakan pemerintah dalam memberdayakan ekonomi rakyat. Dengan
ekonomi rakyat yang tangguh, ketahanan nasional di bidang ekonomi bisa diwujudkan.
Pelajaran yang sangat penting dalam masa krisis ekonomi adalah pentingnya
mengintegrasikan nilai keadilan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keinginan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam era reformasi bahwa perekonomian
dibangun berlandaskan sistem ekonomi kerakyatan. Komponen utama sistem ekonomi
kerakyatan adalah sumberdaya manusia sebagai konsumen, sebagai tenaga kerja, dan sebagai
pengusaha serta sumberdaya alam dan lingkungan hidup termasuk tanah, air dan udara dan
lingkungan tempat manusia melakukan aktivitasnya. Dengan demikian sistem Ekonomi
Kerakyatan merupakan tatanan ekonomi yang memberi kesempatan kerja dan berusaha
seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mencapai peningkatan kesejahteraan secara merata
dan berkeadilan.
Ciri-ciri sistem ekonomi kerakyatan secara normatif berupa kebijakan Nasional adalah:
1.
Penegakan prinsip keadilan dan demokrasi ekonomi, disertai kepedulian terhadap yang
lemah. Sistem ekonomi tersebut harus memungkinkan seluruh potensi bangsa, baik sebagai
konsumen, sebagai pengusaha maupun sebagai tenaga kerja tanpa membedakan suku, agama
dan gender dan mendapatkan kesempatan, perlindungan dan hak untuk memajukan
kemampuannya dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan partisipasinya secara aktif dalam
berbagai kegiatan ekonomi termasuk dalam memanfaatkan serta memelihara kekayaan alam
dan lingkungan hidup;
2.
Pemihakan, pemberdayaan dan perlindungan terhadap yang lemah oleh semua potensi
bangsa, terutama pemerintah sesuai dengan kemampuannya. Pemerintah melaksnakannya
melalui langkah langkah yang ramah pasar, penaggulangan kemiskinan dan pemberdayaan
Koperasi, Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (KUMKM) termasuk petani dan nelayan kecil,
harus menjadi prioritas, khususnya pemeritah daerah;
3.
Pemberdayaan kegiatan ekonomi kerakyatan sangat terkait dengan upaya
menggerakkan ekonomi pedesaan, melalui pembangunan prasarana dalam mendukung
4.
pengembangan keterkaitan desa-kota sebagai bentuk jaringan produksi dan distribusi
yang saling menguntungkan;
5.
Pemanfaatan dan penggunaan lahan dan sumber daya alam lainnya seperti hutan, laut,
air mineral dilaksanakan secara adil, transparan dan produktif dengan mengutamakan hakhak rakyat setempat.
6.
Penciptaan iklim usaha yang sehat dan intervensi yang ramah pasar dengan
menciptakan pasar yang kompetitif untuk mencapai efisiensi yang optimal. Hubungan
kemitraan antara usaha besar dan KUMKM harus berlandaskan kompetensi bukan belas
kasihan.[9]
Secara konkret upaya peningkatan ekonomi masyarakat harus dilakukan dalam
berbagai program pembangunan lintas bidang dan sektor. Pembangunan ekonomi kerakyatan
di perkotaan dan perdesaan antara lain usaha industri rumah tangga dan kerajinan,

perdagangan barang dan jasa yang berskala mikro dan kecil, merupakan bagian inti dari
pembangunan sistem ekonomi kerakyatan.
Tujuan yang diharapkan dari ekonomi kerakyatan, yaitu:
1.
Mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi.
2.
Meningkatkan efisien perekonomian secara nasional.
3.
Mendorong pertumbuhan secara merata dalam hal pendapatan rakyat.
b.

Ekonomi Kerakyatan Sebagai Standar Etika Bisnis Indonesia


Ekonomi kerakyatan sebagai standar etika bisnis untuk sistem perekonmian di
Indonesia mengandung beberapa prinsip, yaitu:
1.
Perhatian utama pada yang lemah, bukan yang kuat.
2.
Aktivitas perekonomian yang bermoral (menurut standar etika bisnis yang berllaku
umum).
3.
Sistem perekonomian yang demokratis (dari, oleh, dan untuk semua masyarakat).
4.
Pencapaian keadilan dalam peran dan hasil usaha perekonomian.
Pada prinsipnya, perekonomian seharusnya mengangkat martabat manusia melalui
kegiatannya. Tujuan-yujuan ekonomi yang semata-mata mengesampingkan martabat manusia
berarti mengurangi pemaknaan kegiatan ekonomi itu sendiri. Ekonomi kerakyatan
menghindari penjajahan dari pihak satu kepada pihak yang lainnya, juga menghindari
kemapanan dan kemakmuran yang dinikmati oleh pihak tertentu diatas
ketidakberdayaan dan keserbakekurangan dari pihak lainnya. Disamping itu, ekonomi
ekonomi kerakyatan juga merupakan ideologi yang berfungsi sebagai pembelajaran untuk
meningkatkan solidaritas dan kebersamaan dalam bidang ekonomi.
Ekonomi kerakyatan mempunyai prinsip demokratis yang mengisyaratkan bahwa seluruh
lapisan masyarakat harus memiliki tingkat perekonomian yang baik. Semua orang seharusnya
mempunyai kehidupan dan penghidupan yang baik dan layak.
c.
Pilar-pilar Ekonomi Kerakyatan
Revrisond Baswir menyebutkan beberapa pilar demokratisasi ekonomi, yaitu:
a)
Peranan vital negara (pemerintah). Sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 33 ayat 2 dan 3
UUD 1945, negara memainkan peranan yang sangat penting dalam sistem ekonomi
kerakyatan. Peranan negara tidak hanya terbatas sebagai pengatur jalannya roda
perekonomian. Melalui pendirian Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu untuk
menyelenggarakan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak, negara dapat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan
berbagai kegiatan ekonomi tersebut. Tujuannya adalah untuk menjamin agar kemakmuran
masyarakat senantiasa lebih diutamakan daripada kemakmuran orang seorang, dan agar
tampuk produksi tidak jatuh ke tangan orang seorang, yang memungkinkan ditindasnya
rakyat banyak oleh segelintir orang yang berkuasa.
b)
Efisiensi ekonomi berdasar atas keadilan, partisipasi, dan keberlanjutan. Tidak benar
jika dikatakan bahwa sistem ekonomi kerakyatan cenderung mengabaikan efisiensi dan
bersifat anti pasar. Efisiensi dalam sistem ekonomi kerakyatan tidak hanya dipahami dalam

perspektif jangka pendek dan berdimensi keuangan, melainkan dipahami secara


komprehensif dalam arti memperhatikan baik aspek kualitatif dan kuantitatif, keuangan dan
non-keuangan, maupun aspek kelestarian lingkungan. Politik ekonomi kerakyatan memang
tidak didasarkan atas pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas, melainkan atas keadilan,
partisipasi, dan keberlanjutan.
c)
Mekanisme alokasi melalui perencanaan pemerintah, mekanisme pasar, dan kerjasama
(kooperasi). Mekanisme alokasi dalam sistem ekonomi kerakyatan, kecuali untuk cabangcabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak,
tetap di dasarkan atas mekanisme pasar. Tetapi mekanisme pasar bukan satu-satunya. Selain
melalui mekanisme pasar, alokasi juga didorong untuk diselenggaran melalui mekanisme
usaha bersama (koperasi). Mekanisme pasar dan koperasi dapat diibaratkan seperti dua sisi
dari sekeping mata uang yang sama dalam mekanisme alokasi sistem ekonomi kerakyatan.
d) Pemerataan penguasaan faktor produksi. Dalam rangka itu, sejalan dengan amanat
penjelasan pasal 33 UUD 1945, penyelenggaraan pasar dan koperasi dalam sistem ekonomi
kerakyatan harus dilakukan dengan terus menerus melakukan penataan kelembagaan, yaitu
dengan cara memeratakan penguasaan modal atau faktor-faktor produksi kepada segenap
lapisan anggota masyarakat. Proses sistematis untuk mendemokratisasikan penguasaan
faktor-faktor produksi atau peningkatan kedaulatan ekonomi rakyat inilah yang menjadi
substansi sistem ekonomi kerakyatan.
e)
Pola hubungan produksi kemitraan, bukan buruh-majikan. Pada koperasi memang
terdapat perbedaan mendasar yang membedakannya secara diametral dari bentuk-bentuk
perusahaan yang lain. Di antaranya adalah pada dihilangkannya pemilahan buruh-majikan,
yaitu diikutsertakannya buruh sebagai pemilik perusahaan atau anggota koperasi. Karakter
utama ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi pada dasarnya terletak pada
dihilangkannya watak individualistis dan kapitalistis dari wajah perekonomian Indonesia.[10]
d.

Prospek dan Tantangan Perekonomian Rakyat


Para pengamat ekonomi sering kali melontarkan kritik terhadap pelaksanaan
pembangunan ekonomi Indonesia yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan, karena dengan
begitu perekonomian rakyat cenderung akan terabaikan.
Upaya untuk memberdayakan ekonomi rakyat, khususnya koperasi dan UKM (Usaha Kecil
dan Menengah), dimaksudkan agar mereka mampu berkembang menjadi usaha yang tangguh
atau mandiri dan memperkuat struktur perekonomian nasional. Ini merupakan tantangan
sekaligus prospek yang amat baik dan harus diperjuangkan. Di pihak lain, untuk melengkapi
tantangan dan prospek tersebut, beberapa kendala yang dihadapi yang dihadapi UKM dan
koperasi antara lain adalah:
(1) lemahnya akses dan perluasan pasar; (2) lemahnya akses permodalan; (3) akses yang
terbatas dalam pemanfaatan informasi dan teknologi; serta (4) pembentukan jaringan kerja
atau usaha yang lemah.
Kendala tersebut perlu segera diatasi guna menghadapi tantangan yang makin berat
dalam era investasi dan perdagangan bebas dicirikan oleh makin ketatnya persaingan antara
pelaku ekonomi. Melalui paradigma baru, pembangunan diharapkan tidak lagi terjadi
pemusatan aset ekonomi produktif pada segelintir orang atau golongan. Sebaliknya,

paradigma baru ini dimaksudkan untuk memperluas aset ekonomi produktif di tangan rakyat;
meningkatkan partisipasi dan advokasi rakyat dalamproses pembangunan; berkembangnya
basis ekonomi wilayah di tingkat kabupaten dan pedesaan; meluasnya kesempatan usaha bagi
koperasi dan UKM; dan pemerataan serta keadilan bagi rakyat dalam menikmati hasil-hasil
pembangunan. Semuanya itu mencirikan bahwa prospek pemberdayaan ekonomi rakyat
dalam era reformasi dan perdagangan bebas menjadi sangat penting. Oleh karena itu,
pemberdayaan ekonomi rakyat perlu menumbuhkan iklim usaha yang kondusif dan bersamasama masyarakat dan dunia usaha itu sendiri membangun pembinaan dan pengembangan.
Beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian adalah pendanaan, perizinan usaha,
persaingan, prasarana, informasi, kemitraan, kewirausahaan, dan perlindungan. Sementara
itu, kecenderungan perekonomian yang kian terbuka akibat globalisasi ekonomi dan pasar
bebas akan menimbulkan tantangan-tantangan baru bagi ekonomi kerakyatan ini. Dalam
sistem ekonomi terbuka dan persaingan bebas yang cukup ketat, hanya usaha yang memiliki
akses terhadap faktor produksi yang akan berpeluang untuk bertahan atau memenangkan
pertandingan dalam persaingan pasar bebas. Akibat yang paling pahit adalah bahwa ekonomi
kerakyatan menjadi semakin tercerai-berai ditengah terpaan gelombang globalisasi tersbut.
Dengan kenyataan ini, pengembangan ekonomi kerakyatan berarti harus meniscayakan
adanya reorientasi strategi pembangunan yang memihak kepada rakyat banyak, atau
setidaknya memberi peluang kepada sebagian besar rakyat untuk terlibat dalam proses
pembangunan ekonomi tersebut, sehingga mereka berkesempatan menikmati hasil atas
keterlibatannya secara layak. Hal ini berarti memerlukan suatu pemberdayaan ekonomi
rakyat dengan tujuan memperbesar kemampuannya dalam melakukan aktivitas ekonomi.
Dengan demikian, kebijakan yang ada memang harus memihak pada ekonomi rakyat dalam
rangka memperkuat posisinya untuk bersaing di pasar yang kian terbuka tersebut.
e.

Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan


Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya masyarakat dengan mendorong,
memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya, dan upaya untuk
mengembangkannya. Keberdayaan masyarakat adalah unsur dasar yang memungkinkan suatu
masyarakat bertahan hidup, dan dalam pengertian yang dinamis: mengembangkan diri dan
mencapai kemajuan. Memberdayakan masyarakat berarti meningkatkan harkat dan martabat
lapisan masyarakat yang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan
keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan
masyarakat. Berikut ini ada beberapa strategi untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan,
yaitu:
1)
Demokrasi ekonomi diarahkan untuk menciptakan struktur ekonomi atau konstruksi
bangunan ekonomi agar terwujudnya pengusaha menengah yang kuat dan besar jumlahnya.
Di sisi lain terbentuknya keterkaitan dan kemitraan yang paling menguntungkan antara
pelaku ekonomi yang meliputi usaha kecil, menengah dan koperasi, usaha besar swasta dan
badan usaha milik negara yang saling memperkuat untuk mewujudkan demokrasi ekonomi
dan efisiensi yang berdaya saing tinggi.
2)
Kedaulatan ekonomi harus tetap dihormati agar harkat, martabat dan citra ekonomi
rakyat dapat disejajarkan dengan ekonomi usaha besar swasta dan badan usaha milik negara,

tanpa dijadikan objek balas jasa atau belas kasihan. Dengan demikian kedaulatan ekonomi
rakyat harus benar-benar ditempatkan pada prioritas utama dalam kehidupan ekonomi,
sehingga peran dan partisipasi ekonomi rakyat selalu mendapatkan perhatian dan kesempatan
yang seluas-luasnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan
lainnya. Tujuannya agar pelaku ekonomi rakyat mampu profesional dan memenuhi
standardisasi global.
3)
Benteng ekonomi harus disusun melalui master plan ekonomi kerakyatan yang berbasis
sosial budaya dengan tetap memperhatikan keseimbangan pertumbuhan, pemerataan dan
keseimbangan stabilitas perekonomian rakyat dalam upaya mengatasi kesenjangan ekonomi
antara golongan kapitalis dan nonkapitalis (golongan ekonomi lemah). Di samping itu
sekaligus mampu membentengi/memproteksi pergerakan ekonomi global yang mau tidak
mau, suka tidak suka sudah memasuki sistem dan tatanan perekonomian bangsa ini. Karena
itulah diperlukan nilai-nilai perjuangan/jiwa wirausaha sejati yang berbasiskan kerakyatan.
4)
Kemandirian ekonomi diarahkan untuk bertumpu dan ditopang oleh kekuatan sumber
daya internal yang dikelola dalam suatu sistem ekonomi. Dengan kata lain kegiatan ekonomi
dilaksanakan dari rakyat, oleh rakyat dan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat,
sehingga ekonomi bangsa ini tidak lagi tergantung pada kekuatan-kekuatan ekonomi di luar
ekonomi rakyat itu sendiri. Tentu diharapkan peranan pemerintah (eksekutif), legislatif, dan
yudikatif agar dapat memberikan kemudahan, keringanan dan peluang seluas-luasnya baik
dari akses modal, akses pasar, teknologi, jaringan usaha dan keamanan dalam iklim usaha
sebagai upaya mempercepat kemandirian ekonomi rakyat.[11]
C.

PENUTUP

KESIMPULAN
Untuk memajukan ekonomi kerakyatan di Indonesia dapat diwujudkan dengan salah
satu kegiatan usaha. Kewirausahaan (entrepreneurship) sendiri adalah kemampuan kreatif
dan inovatif yang dijadikan dasar dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses.
Jadi, kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambahan dipasar
melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda, seperti:
Pengembangan teknologi, penemuan pengetahuan ilmiah, perbaikan produk barang dan jasa
yang ada.
Dalam kewirausahaan, modal tidak selalu identik dengan modal yang berwujud (tangible)
seperti uang dan barang, tetapi juga modal yang tidak berwujud (intangible) seperti modal
intelektual, modal sosial, modal moral, dan modal mental yang dilandasi agama. Secara garis
besar, modal kewirausahaan dapat dibagi ke dalam empat jenis, yaitu: modal Intelektual,
modal sosial dan moral, modal mental, modal mateial.
Pada dasarnya setiap orang memiliki peluang yang sama besar untuk bisa menjadi
seorang pelaku usaha. Namun sayangnya tidak semua orang berani mengasah bakat dan
minat mereka, sehingga wajar bila ada sebagian orang yang telah berhasil menjadi pengusaha
sukses dan sebagian lainnya masih ada juga yang belum berani untuk menjalankan usaha.
Ketakutan untuk memulai dan ketakutan untuk mencoba menjadi kendala utama bagi

sebagian orang sehingga mereka memilih mengurungkan niatnya untuk menjadi pengusaha
sukses. Jadi jika ingin menjadi seorang wirausahawan yang sukses dibutuhkan mental
pemberani untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan tersebut serta tekad yang kuat untuk
menumbuhkan jiwa kewirausahaan di dalam diri masing-masing. Berikut ini ada beberapa
cara untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di dalam diri seseorang, yaitu: tekad yang kuat
untuk memula, fokus dan konsisten, belajarlah dari kisah para pengusaha sukses, paksa diri
sendiri dan lakukan sekarang juga. Persepsi umum wirausaha memperluas karakteristik,
seperti tingginya kebutuhan yang dipenuhi, keinginan untuk mengambil risiko yang moderat,
percaya diri yang kuat, dan kemauan berbisnis.
Sedangkan pengertian ekonomi kerakyatan sendiri adalah sistem ekonomi yang
berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat. Dimana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai
kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat dengan secara swadaya mengelola
sumberdaya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya
disebut sebagai Usaha Kecil dan Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian,
peternakan, kerajinan, makanan, dan lain sebagainya yang ditujukan terutama untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya.
Untuk memajukan ekonomi kerakyatan perlu diadakannya pemberdayaan,
pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya masyarakat dengan mendorong,
memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya, dan upaya untuk
mengembangkannya. Keberdayaan masyarakat adalah unsur dasar yang memungkinkan suatu
masyarakat bertahan hidup, dan dalam pengertian yang dinamis: mengembangkan diri dan
mencapai kemajuan. Memberdayakan masyarakat berarti meningkatkan harkat dan martabat
lapisan masyarakat yang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan
keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan
masyarakat.

[1] Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kias dan Proses Menuju Sukses.
Jakarta: Salemba Empat. Hal 2
[2] Chamim Asykuri Abd, dkk. 2003. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:
Diktilitbang PP Muhammadiyah. Hal 343-344
[3] Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kias dan Proses Menuju Sukses.
Jakarta: Salemba Empat. Hal 5-6
[4] http://SOPERA ( Solidaritas Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Aceh ).html
[5] Carlos W. Moore, dkk. 2000. Kewirausahaan Manajemen Usaha Kecil, Jakarta: Salemba
Empat. Hal 9-10
[6] Lambing Peggy, Charles R. Kuehl. 2002. Entrepreneurship. New Jersey: Prentice Hall,
Inc. Hal 19-20
[7] http://www.scribd.com/doc/38347271/Makalah-Ekonomi-Kerakyatan
[8] Chamim Asykuri Abd, dkk. 2003. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:
Diktilitbang PP Muhammadiyah. Hal 326-327

[9] Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun
2004, Penerbit Sinar Grafika hal 52-53
[10] http://www.scribd.com/doc/38347271/Makalah-Ekonomi-Kerakyatan
[11] http://pujiirahayuu.blogspot.com/2012/04/tugas-3-peranan-ekonomi-kerakyatan.htm

Beri Nilai