Anda di halaman 1dari 45

Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Perpustakaan untuk

Efektivitas dan Efisiensi Fungsi pada Perpustakaan Universitas X


Andy Febrico Bintoro (91160810)
1. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Saat ini perpustakaan tengah mengalami tekanan perubahan yang sangat
besar (Holman, 1989; Delgadillo dan Lynch, 1999). Perpustakaan sebagai jantung
suatu institusi (Lindauer, 1998; Malhan, 2008), tidak lagi menyandang gelar
tersebut akibat perkembangan teknologi sehingga salah satu dampaknya adalah
dana yang diterima juga semakin menurun (Hernon dan Whitman, 2001; Grimes,
1998). Di sisi yang lain, jumlah publikasi yang terbit setiap tahunnya meningkat
drastis (Youngen, 1998; Torres-Salinas dan Moed, 2009) dan harganya semakin
meningkat pula (Burnam, 1998). Hal ini mengharuskan pustakawan semakin
cermat dalam melakukan pembelian koleksi (Pierce, 1978; Dickstein dan Mills,
2000). Di sisi yang lain, pustakawan semakin turun jumlahnya (Bowler, 1984;
Croneberger, 1989; Osa, 2002), padahal tugas dan tanggung jawab pustakawan
di era ini semakin besar (Wilson, 1995; Buttlar dan Garcha, 1998; Brewer, 1998)
yang menuntut sumber daya yang semakin besar pula. Akibatnya perpustakaan
sulit untuk berubah karena sulitnya mencari waktu untuk berpikir strategis ke
depan (Miller dan Benefiel, 1998).
Akibat lainnya yang ditimbulkan adalah banyak perpustakaan yang
melakukan outsourcing yang kerap kali membuat kualitas informasi yang
diberikan menurun (Benaud dan Bordeianu, 1998). Walaupun tidak melakukan
outsourcing, memilih koleksi yang tepat untuk pengguna sangatlah susah di era
massive information saat ini (Bell dan Kardon, 1998; Hurd dkk., 1999). Target
pengerjaan katalog yang cukup besar juga menyebabkan pustakawan terburuburu dalam mengerjakan sehingga informasi terkait katalogisasi seperti subjek,
kualitasnya cenderung menurun (Gerhard dkk., 1998). Masalah keterbatasan
sumber daya juga mengakibatkan hal-hal yang seharusnya diukur untuk
menjamin kualitas pelayanan menjadi terabaikan (Hernon dan Altman, 2010).
Tidak adanya pengukuran kualitas dalam perpustakaan cenderung menurunkan
produktivitas suatu perpustakaan (Poll dan Boekhorst, 2007) sehingga isu
pengukuran kualitas merupakan bagian penting dalam perpustakaan (Nitecki,
1996). Keterbatasan pustakawan di bagian referensi juga mengakibatkan
pencarian data yang diminta oleh mahasiswa untuk referensi yang tidak ada di
perpustakaan menjadi sangat lama seiring pertambahan permintaan referensi
(Zhu dan Zhang, 1998).
Penggunaan sistem informasi adalah jawaban singkat bagaimana untuk
dapat tetap bertahan di tengah era perubahan saat ini dalam bidang apapun
(Laube dan Zammuto, 2003), termasuk perpustakaan (Ferguson dan Bunge,
1997). Tujuan utama penggunaan sistem informasi di perpustakaan adalah untuk
melakukan otomasi proses manual (Saffady, 1999). Namun otomasi saja sudah
tidak dapat menjawab kebutuhan suatu organisasi di era ini (Brancheau dan
Wetherbe, 1987; Venkatraman, 2005). Perpustakaan perlu menjadikan sistem
informasi sebagai strateginya untuk bertahan (Supriyanto dan Muhsin, 2008)
dengan berfokus pada penggunanya (Andaleeb dan Simmons, 1998; Clougherty,
1998; Ma dan Zhang, 1999). Perpustakaan memerlukan sistem cerdas (business
intelligence) untuk dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensinya (Heckart,
1998; Lancaster dan Warner, 2001). Efektivitas yang dimaksud bisa berupa
peningkatan keakuratan data (Richardson, 1998), keakuratan pemilihan koleksi
(White dan Crawford, 1998), kepuasan pelanggan (Stamatoplos dan Mackoy,
1998; Bao, 1998), dll. Efisiensi yang dimaksud dapat berupa penyusutan
birokrasi pemesanan (Neville dkk., 1998), peningkatan kecepatan pencarian
1

informasi (Goldberg dan Womack, 1999), peningkatan kecepatan berbagai


evaluasi (Seaman dkk., 1999; Jordy dkk., 1999), penyusutan penggunaan sumber
daya, dll.
Lebih jauh, sistem informasi perpustakaan dapat berperan sebagai control
dalam budgeting (Billings, 1998). Penggunaan sistem informasi dengan
melibatkan semua pemangku kepentingan dalam perpustakaan juga dapat
menghemat anggaran dalam jumlah yang sangat besar terutama dalam
pembelian koleksi yang tidak sesuai dengan kebutuhan penggunanya (Schwartz,
1998; Stebelman dkk., 1999). Koneksi dengan perpustakaan lain terutama dalam
hal berbagi koleksi juga dapat dilakukan untuk penghematan biaya dan isu ini
dimungkinkan mudah dilakukan dengan perkembangan sistem informasi (Zhu
dan Zhang, 1998; Koren, 2004).
Penelitian yang dilakukan penulis adalah untuk mengetahui bagaimana
sistem informasi perpustakaan UX dapat sesuai dengan kebutuhan dan apa saja
yang diperlukan agar sistem ini dapat dijalankan dengan baik.
1.2.
Tujuan Studi
Penelitian ini dikategorikan sebagai explanatory research karena
digunakan untuk memahami sistem yang ada pada Perpustakaan UX saat ini dan
merancang collective intelligence untuk efektivitas penggunaan anggaran pada
bagian pengadaan Perpustakaan UX.
Berdasarkan hal tersebut, maka main research question yang diangkat
adalah bagaimanakah membuat desain sistem informasi untuk mendukung
keefektifan dan keefisienan fungsi pada sistem informasi Perpustakaan
Universitas X?
Beberapa mini research questionjuga dibuat untuk menjawab main
research question yaitu:
1. Bagaimana proses bisnis pada Perpustakaan UX saat ini?
2. Bagaimana sistem informasi perpustakaan yang digunakan oleh
Perpustakaan UX saat ini?
3. Apa permasalahan yang ada dalam sistem informasi Perpustakaan
UX saat ini?
4. Bagaimana desain sistem yang sesuai untuk mendukung efektivitas
dan efisiensi fungsi padaPerpustakaan UX?
1.3.
Manfaat Studi
Manfaat penelitian ini bersifat applied research karena bertujuan untuk
memecahkan masalah terkait business intelligence pada sistem informasi
Perpustakaan UX. Hasil akhir penelitian ini dapat memberikan masukan bagi
organisasi khususnya perpustakaan yang ada untuk dapat membantu
pengambilan keputusan belanja anggaran dan meningkatkan performa kerja.
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini:
1. Bagi organisasi serupa
Memberikan saran dan rekomendasi pada organisasi khususnya
perpustakaan sebagai bahan pertimbangan untuk menyelesaikan masalah
serupa dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengukuran yang ada.
2. Bagi organisasi secara umum
Menambah wacana bagaimana penerapan collective intelligence untuk
mendukung business intelligence dalam suatu organisasi sehingga dapat
menjadi referensi penerapan dalam bidang lainnya.
3. Bagi pembaca
Menambah pengetahuan dan referensi pembaca akan topikcollective
intelligence dan business intelligence khususnya untuk penerapan dalam
sistem informasi perpustakaan.
4. Bagi penulis

Menerapkan hal-hal yang telah didapat penulis baik dalam perkuliahan


Teknik Informatika dan Magister Akuntansi khususnya ke dalam suatu
kasus riil.Manfaat lainnya adalah untuk mendukung kerja penulis sebagai
junior programmer pada Perpustakaan UX.
1.4.
Ruang Lingkup Penelitian
Peneliti melakukan penelitian pada Perpustakaan UX. Ruang lingkup
penelitian ini dibatasi pada analisis dan perancangan sistem informasi
Perpustakaan UX. Hal-hal yang perlu diteliti adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan standar kerja dan pengambilan keputusan dalam
Perpustakaan UX.
1.5.
Organisasi Penulisan
Organisasi penulisan dari penelitian ini dibuat secara sistematis agar
mudah dipahami. Berikut adalah sistematika penulisan dalam penelitian ini:
1. Bab I: Pendahuluan
Bab ini memberikan gambaran umum penelitian yang dilakukan
penulis.Bab ini meliputi latar belakang topik yang diambil, tujuan
penelitian, manfaat studi, ruang lingkup penelitian, dan organisasi
penulisan buku.
2. Bab II: Landasan Teori
Bab ini berisi teori yang digunakan dalam pembahasan mini research
question untuk menjawab main research question. Teori yang dibahas
antara lainintelligence, business intelligence, collective intelligence,
library information system, dan sebagainya.
3. Bab III: Desain Studi
Bab ini berisi bagaimana penulis melakukan penelitian untuk
mendapatkan data yang diperlukan dalam menjawab main research
question.
4. Bab IV: Gambaran Umum Badan Usaha
Bab ini berisi gambaran umum, struktur organisasi, job description, proses
bisnis, dan sistem informasi perpustakaan yang digunakan Perpustakaan
UX saat ini untuk menjawab mini research question poin satu hingga tiga.
5. Bab V: Analisis dan Pembahasan
Bab ini berisi analisis dan pembahasan masalah yang ada untuk
diselesaikan menggunakan teori yang telah diberikan dan menjawab main
research question.
6. Bab VI: Konklusi, Implikasi, dan Rekomendasi
Bab ini berisi ringkasan hasil penelitian yang mengulas analisis dan
dampak penelitian dan memberikan kesimpulan dan rekomendasi yang
dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut.
2. DASAR TEORI
2.1.
Library Information System
2.1.1. Pengertian Perpustakaan

Tidak ada yang benar-benar mendefinisikan apa itu perpustakaan, karena


saat ini dan sepanjang zaman, perpustakaan banyak mengalami redefinisi (Greer
dkk, 2007). Tujuan perpustakaan didirikan, secara umum adalah untuk
menyimpan dokumen atau ilmu pengetahuan tertuang lainnya secara teratur
dimana Maxwell (2006) menyebutnya sebagai tempat suci namun merupakan
institusi sekuler.Perpustakaan sebagai gudang pengetahuan, menyalurkan
budaya dan pengetahuan yang ada dari generasi sebelumnya ke generasi saat
ini dan dari generasi sekarang ke generasi berikutnya. Lebih jauh, tujuan
perpustakaan yang relevan dengan keadaan saat ini adalah menyediakan
informasi dalam berbagai bentuk media untuk membantu penggunanya

menemukan apa yang dia inginkan termasuk untuk kebutuhan pendidikan,


pengembangan personal, atau untuk kesenangannya (Koontz dan Gubbin, 2010).
Agar dapat mencapai tujuannya, maka perpustakaan memiliki tiga tugas
utama, yaitu menghimpun sumber daya buku dan nonbuku sebagai sumber
informasi, mengolah serta merawatnya, dan memberikan layanan informasi ini
kepada yang mencari (Supriyanto dan Muhsin, 2008). Jika demikian,
perpustakaan tidak identik dengan gedung yang memiliki rak-rak buku dan
memberikan layanan peminjaman buku saja, namun bisa berupa hal-hal lainnya
asalkan memenuhi tugas dan tujuan tersebut. Tidak berbeda jauh, Kao (2001)
membagi tugas perpustakaan dalam dua bagian besar, yaitu jasa teknis dan jasa
publik. Jasa teknis mengacu pada fungsi untuk mengumpulkan dan mengolah
sumber daya yang ada, sedangkan jasa publik mengacu pada tugasnya untuk
memberikan informasi yang dibutuhkan pada penggunanya. Jasa teknis dalam
perpustakaan meliputi pengadaan, perbaikan buku, dan klasifikasi (membuat
katalog). Jasa publik merupakan layanan yang bersentuhan langsung dengan
pengguna seperti referensi, sirkulasi, layanan indent, jasa fotokopi, pengusulan
buku, peminjaman antar perpustakaan, dan sebagainya.
2.1.2. Pengertian Sistem Informasi

Menurut Iivari (2004), sistem informasi merupakan sistem yang tujuannya


menyediakan penggunanya informasi yang dibutuhkan untuk mendukung
aktivitas mereka. Untuk dapat mengambil keputusan atau menyelesaikan suatu
masalah, informasi menjadi hal yang penting.Informasi berbeda dengan data.
Data diilustrasikan sebagai bahan baku untuk menghasilkan informasi,
sedangkan informasi merupakan fakta atau kesimpulan yang memiliki arti dalam
suatu konteks tertentu (Oz, 2009) hasil pengolahan dari data yang memiliki nilai
tambah (Stair dkk, 2010). Untuk itulah sistem informasi sangat dibutuhkan.
Sistem informasi terdiri dari data, perangkat keras, perangkat lunak,
telekomunikasi, pengguna, dan prosedur (Oz, 2009). Elemen-elemen tersebut
saling berhubungan untuk menerima masukan, memprosesnya, menyimpan,
atau menampilkan hasil pengolahan, serta menyediakan mekanisme umpan
balik terhadap infomasi yang dihasilkan (Stair dkk, 2010).
Kadangkala sistem informasi disebut juga sebagai sistem informasi
manajemen (Stahl, 2008). Bidang ini didirikan dengan menggabungkan banyak
bidang keilmuan seperti bisnis, manajemen, teknologi, riset operasi, teori
organisasi, dan sebagainya. Saat ini pengertian hal ini lebih diarahkan pada
bagaimana menggunakan teknologi yang ada untuk mengoptimalkan sumber
daya yang dimiliki.
Menurut Shelly dan Rosenblatt (2012), ada lima komponen penyusun
sistem informasi:
Hardware, merupakan keseluruhan perangkat keras atau fisik yang
dibutuhkan dalam suatu sistem informasi
Software, merupakan program yang mengatur perangkat keras dan
menghasilkan keluaran yang dibutuhkan
Data, merupakan bahan dasar yang nantinya dapat diolah menjadi
informasi
Processes, merupakan fungsi bisnis atau kegiatan yang dilakukan
pengguna (people) untuk mencapai tujuan tertentu
People, disebut juga stakeholder yang memiliki kebutuhan akan
sistem informasi
Melihat tujuannya yang sangat penting dalam organisasi, maka informasi
yang diberikan oleh sistem informasi haruslah informasi yang bernilai dan baik.
Ada sebelas kriteria informasi yang baik menurut Stair dkk (2010):

Accessible, informasi harus bisa diakses dan didapatkan dengan


mudah oleh pihak yang memiliki otoritas atasnya sehingga dapat
menjawab kebutuhannya.
Accurate, tidak ada kesalahan dalam pengolahannya sehingga
hasilnya benar.
Complete, informasi yang dihasilkan harus dapat memuaskan
penggunanya, menjawab semua kebutuhannya (tidak ada bagian
yang hilang atau perlu mencari lagi).
Economical, tidak memerlukan biaya yang besar untuk
menghasilkannya.
Flexible, dapat digunakan untuk banyak hal, tidak hanya menjawab
satu kebutuhan saja.
Relevant, sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Reliable, informasi harus dapat dipercaya walaupun hal ini berarti
data-data yang dikumpulkan juga harus dengan metode yang
benar.
Secure, tidak boleh dilihat oleh orang yang tidak memiliki otoritas.
Simple, mudah dipahami oleh yang menggunakan dan tidak
kompleks atau terlalu detil karena akan semakin membingungkan
bagi penggunanya.
Timely, informasi dapat tersedia pada waktu yang dibutuhkan oleh
pengguna.
Verifiable, informasi harus dapat dicek kebenarannya.

2.1.3. Mengapa Perlu Ada Sistem Informasi Perpustakaan

Perkembangan teknologi terutama Internet menyebabkan jumlah


informasi yang beredar semakin banyak bahkan meningkat secara eksponensial
(Rescher, 2006), apalagi didukung perkembangan web 2.0 yang memungkinkan
setiap orang dapat menghasilkan kontennya sendiri.Namun demikian,
bertambahnya jumlah informasi ini tidak diimbangi dengan penggunaan
informasi yang ada dengan maksimal (Jakobson dan Pathak, 2000).Hal ini
merupakan kesempatan sekaligus ancaman bagi perpustakaan.Kesempatan
yang ada adalah dengan banyaknya informasi yang tersedia di era digital,
perpustakaan sebagai penyedia informasi dapat memanfaatkan hal ini untuk
melebarkan sayapnya.Perpustakaan dapat memberikan informasi yang jauh
lebih lengkap kepada penggunanya dari era-era sebelumnya.Jika pengguna
mungkin hanya memiliki akses ke informasi yang ada di Internet, maka
perpustakaan memiliki akses informasi di Internet dan koleksi-koleksi yang
dimilikinya. Di sisi yang lain, jika perpustakaan tidak mampu masuk dalam dunia
digital juga, maka orang-orang akan segera beralih dan melupakan
perpustakaan. Saat ini anak-anak atau generasi digital (1980-an ke atas) lebih
menyukai pencarian informasi melalui Internet daripada perpustakaan (Quigley,
2004).Akibatnya jumlah siswa atau pencari informasi lainnya yang mengunjungi
perpustakaan juga semakin berkurang (Jurkowski, 2010).
Peluang perpustakaan dalam menyediakan informasi sebenarnya jauh
lebih besar daripada Internet itu sendiri.Perpustakaan pada umumnya berisi
koleksi buku atau jurnal penelitian yang keabsahannya lebih dapat
dipertanggungjawabkan daripada informasi-informasi yang beredar di Internet
yang kadangkala tidak jelas kualifikasi penulisnya (Weintraub, 2006).Namun
dalam hal ini, perpustakaan perlu mengedukasi masyarakat bahwa layanannya
lebih baik dalam menyediakan informasi yang akurat dan bagaimana menilai
kualitas, validitas, dan akurasi informasi yang ada di Internet.Klein (2000) dalam
penelitiannya menemukan bahwa mahasiswa strata pertama memeliki standar
akurasi informasi di Internet yang sangat rendah dibandingkan dengan
5

pascasarjana.Jika mahasiswa yang edukasinya sudah tinggi saja masih


menerapkan standar rendah pada akurasi informasi di Internet, apalagi jenjangjenjang pendidikan di bawahnya.
Sistem informasi perpustakaan mengacu pada solusi-solusi yang
diterapkan oleh perpustakaan untuk menjawab kebutuhan internal dan
penggunanya
yang
semakin
kompleks
(Kochtanek
dan
Matthews,
2002).Penggunaan sistem informasi perpustakaan diharapkan mampu
memberikan informasi yang lebih kepada penggunanya dan tidak hanya sekedar
untuk mempercepat proses manajemen saja (Lancaster dan Sandore, 1997).
Untuk itu perpustakaan juga perlu mengikuti perkembangan teknologi yang
terjadi sehingga dapat dimanfaatkan untuk menunjang tujuannya.Selain
penggunaan teknologi, perpustakaan juga diharapkan mampu menyediakan user
interface yang baik sehingga pengguna mampu menggunakan layanan dengan
baik pula (Hariri dan Narouzi, 2011).
2.1.4. Membangun Sistem Informasi Perpustakaan

Membuat sistem informasi perpustakaan dapat dilakukan dengan metode


apapun (Bourne dan Hahn, 2003), namun sistem yang dibuat setidaknya
memiliki tiga spesifikasi (Hirshon, 1983).Pertama, fungsi-fungsi utama
perpustakaan (pengadaan, pengolahan, sirkulasi, dan referensi) perlu berdasar
pada satu data yang diambil dari satu database fungsional. Kedua, antar fungsi
ini terjadi sinkronisasi dan interaktif antar satu dengan yang lain seperti proses
transfer data dari bagian pengadaan ke pengolahan. Ketiga, data yang disimpan
dalam database harus benar-benar dapat menjawab kebutuhan perpustakaan
tersebut, namun data primer yang harus ada adalah kelengkapan bibliografi
buku.
Hal yang tidak boleh dilupakan dalam membangun sistem informasi
perpustakaan selain desain sistem itu sendiri adalah peningkatan kemampuan
sumber daya manusia yang menjalankan sistem tersebut (Kirkpatrick, 1998).
Pustakawan harus terus memperbarui ilmunya dalam hal penggunaan sistem
informasi jika ingin tetap bertahan dalam era perubahan yang terjadi.
2.1.5. OAI-PMH

OAI-PMH (Open Archives Initiative Protocol for Metadata Harvesting)


merupakan protokol yang digunakan untuk membagikan metadata atau
mengambil metadata dari suatu entitas yang berhubungan dengan bibliografi
(Foulonneau dan Andre, 2008). OAI-PMH pertama kali diluncurkan Januari 2001
(Sompel dan Lagoze, 2002) dan saat ini hampir digunakan di semua software
perpustakaan dan bibliografi besar. Protokol ini biasanya digunakan oleh
repository, penerbit, atau perpustakaan digital (Witt, 2010). OAI-PMH biasanya
digunakan oleh suatu institusi selain untuk membagikan metadata yang dimiliki,
juga untuk mengambil data (harvest) dalam jumlah record yang sangat besar.
Bentuk keluarannya adalah dalam bentuk XML (Extended Markup Language)
yang telah terstandarisasi sesuai dengan ketentuan yang ada (Brody dkk., 2003).
Dalam akuntansi, OAI-PMH hampir sama dengan XBRL (Extended Business
Reporting Language) yang digunakan untuk menstandarisasi laporan keuangan.
Dengan penggunaan OAI-PMH dalam perpustakaan, maka halangan untuk
mendapatkan informasi yang luas akan semakin rendah (Congia dkk., 2004).
Dengan kata lain, penggunaan OAI-PMH akan memudahkan perpustakaan yang
satu dengan yang lain untuk dapat melakukan pertukaran informasi secara
cepat, efisien, dan hasilnya dapat berupa sesuatu yang real time.
2.2.
Business Intelligence
2.2.1. Intelligence

Tidak ada pandangan yang jelas tentang definisi dari intelligence


(Sigelman dan Rider, 2009). Merriam-Webster mendefinisikan intelligence
sebagai the ability to learn or understand or to deal with new or trying
6

situations atau the ability to learn or understand or to deal with new or trying
situations. World English Dictionary mendefinisikannya sebagai the capacity
for understanding atau ability to perceive and comprehend meaning.The
American Heritage Dictionary mendefinisikannya sebagai the capacity to
acquire and apply knowledge atau disamakan dengan kata pikiran.
Walaupun pandangan tentang hal ini berbeda-beda dan tidak ada bentuk
baku, namun ada beberapa kesamaan dalam definisi-definisi yang diberikan. Hal
ini kemudian yang menyebabkan banyak pakar menyerah dalam memberikan
definisi, namun mengikuti garis besar dari arti kata ini.Esensi dari intelligence
adalah menggunakan informasi yang secara kolektif ada pada diri seseorang
untuk mencapai tujuannya (Das, 1984).Sternberg (1992) mengaitkan intelligence
dengan mempertanyakan dan menyelesaikan masalah, dimana kedua hal
tersebut merupakan bagian dari intelligence.Intelligence juga berhubungan
dengan pengalaman, sehingga jika seseorang tidak dapat mendefinisikannya
secara umum, maka kata intelligence sendiri perlu digabungkan dengan kata
lainnya sebagai pembeda antara intelligence yang dimaksud seseorang dengan
intelligence yang dimaksud orang lainnya (Montagu, 1999). Misalnya jika
seseorang susah dalam mengartikan kata intelligence sendiri, maka mungkin
seseorang dapat mendefinisikan lebih baik kata business intelligence, emotional
intelligence, spiritual intelligence, atau turunan intelligence lainnya.
2.2.2. Pengertian Business Intelligence

Business intelligence merupakan arsitektur dan integrasi operasional yang


menyediakan komunitas bisnis kemudahan mengakses (Moss dan Atre, 2003)
dan mengeksploitasi data bisnis (Loshin, 2003). Di satu sisi ada yang menolak
keras definisi business intelligence yang mengatakannya sebagai produk atau
sistem (Moss dan Atre, 2003), di sisi yang lain ada yang menyamakan hal ini
(Utley, 2008; Withee, 2010). Hal ini mendorong Miller dkk (2006) mendefinisikan
business intelligence secara sederhana sebagai mendapatkan informasi yang
tepat kepada orang yang tepat pada saat yang tepat. Dalam hal ini penulis tidak
mempermasalahkan definisi, namun yang menjadi inti adalah business
intelligence meningkatkan performa manajemen (Williams dan Williams, 2007)
dengan menyediakan informasi yang dibutuhkan.
Secara umum, business intelligence merupakan istilah umum yang
mengkombinasikan arsitektur, alat, database, analisis, aplikasi, dan metodologi
(Raisinghani (2004) dalam Turban, 2007) untuk menghasilkan informasi yang
dibutuhkan. Secara umum business intelligence memiliki empat komponen
utama, yaitu data warehouse yang merupakan sumber data, business analytics
untuk menganalisa data warehouse, business performance management untuk
memonitor performa, dan user interface untuk visualisasi (Turban dkk, 2007).
2.2.2.1.

Data Warehouse

Data warehouse merupakan tempat yang dikhususkan untuk menyimpan


data historis dan data saat ini (Turban dkk, 2007) agar dapat tersedia untuk
membantu pengambilan keputusan (Ponniah, 2011). Dalam hal ini data
warehouse mencerminkan kebutuhan perusahaan akan informasi apa saja yang
dibutuhkan atau berpotensi dibutuhkan untuk membantu pengambilan
keputusan. Istilah data warehouse mengacu pada tempat menyimpan data,
sedangkan data warehousing mengacu pada proses mendapatkan dan
menyimpan data. Data warehousing berbeda dengan database atau suatu
produk untuk manajemen data, melainkan gabungan dari banyak teknologi
(Ponniah, 2011) yang memungkinkan untuk mencapai tujuan tertentu atau
menyediakan informasi tertentu. Dengan demikian istilah data warehouse juga
bukan saja mengacu pada data-data yang hanya dimiliki oleh perusahaan
tersebut saja, melainkan juga data-data dari pihak luar yang disimpan entah

dalam satu database yang sama atau dalam arsitekur komputer yang berbedabeda, namun intinya informasi-informasi ini harus dapat dengan mudah diakses.
Tujuan data warehouse menurut Kimball dan Ross (2002) adalah
memudahkan informasi yang dimiliki oleh perusahaan dapat diakses dengan
mudah, menyediakan informasi secara konsisten, memudahkan penggunanya
mendapatkan atau menggabungkan data tertentu, menjaga konsistensi data,
dan menjaga kredibilitas data. Saat ini data warehousing menjadi salah satu
strategi perusahaan untuk menghimpun data yang heterogen untuk mendukung
OLAP (OnLine Analytical Process) yang merupakan salah satu bentuk analisis
bisnis (Jarke dkk, 2003).
2.2.2.2.

Business Analytics

Business analytics merupakan istilah yang digunakan untuk menjabarkan


secara luas aplikasi dan teknik untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis,
dan menyediakan akses data untuk membantu pengguna menghasilkan
keputusan yang baik (Turban dkk, 2007).
Fungsi dari analisis bisnis adalah untuk memberikan laporan atau bentuk
analisis lainnya yang menyediakan suatu informasi ata pengetahuan agar dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh pengambil keputusan menciptakan
strategi (Laursen dan Thorlund, 2010).Karena fungsinya adalah memberikan
hasil analisis, berarti teknik pelaporan dalam hal ini juga perlu diperhatikan.
Disinilah data visualization menjadi penting. Data visualization mengacu pada
teknik dan aplikasi yang membantu visualisasi atau interpretasi terhadap hasil
analisis.
2.2.2.3.

Business Performace Management

2.2.2.4.

Business Intelligence Saat Ini

Business Performance Management secara sederhana dapat berarti


bagaimana melakukan pengukuran dan analisis terhadap apa yang telah
dilakukan perusahaan. Paladino (2011) menyatakan bahwa salah satu prinsip
penting jika perusahaan ingin meningkatkan performanya adalah dengan
melakukan manajemen pengetahuan, termasuk bagaimana kita menjaga dan
mengukurnya. Dalam hal ini peran BPM sangat diperlukan bukan saja bagaimana
suatu perusahaan dapat mengukur performanya namun bagaimana hal ini dapat
dijadikan sumber untuk menciptakan pengetahuan berikutnya yang lebih baik.
Manajemen performa bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, Wyatt
dalam Pulakos (2009) menemukan bahwa hanya 30% pekerja saja yang
merasakan performanya meningkat dengan menggunakan sistem ini. Hal ini
dikarenakan tidak adanya tujuan yang jelas, umpan balik yang baik, dan
penggunaan teknologi secara efektif. Ada berbagai metodologi yang dapat
dilakukan seperti menggunakan Balanced Scorecard, namun hal ini juga tidak
menjamin keberhasilan sebuah sistem. Pada akhirnya, semua tergantung pada
bagaimana perusahaan mampu mengeksekusikan strateginya dengan
melibatkan semua entitas yang terkait, namun tidak berarti perusahaan harus
mengabaikan begitu saja angka 30% peningkatan karena angkanya terkesan
rendah.
Saat ini, penggunaan dan pengembangan business intelligence lebih
mengarah pada real-time, mengikuti perubahan kondisi pasar yang juga cepat
(Felden dkk, 2010). Real-time business intelligence mengacu pada business
intelligence yang dapat memberikan masukan pada pembuat keputusan kapan
pun saat pembuat keputusan memerlukannya (Sabherwal, 2011). Operational
business intelligence di lain pihak merupakan business intelligence yang hanya
mengacu pada operasional saja tanpa memperhatikan pengungkapan
(visualisasi) atau perencanaan ke depan (Linden dkk, 2010). Visualisasi
memegang peranan penting karena tidak didasarkan pada statistik atau bentuk
matematika, namun pada ilustrasi grafis yang memudahkan pemahaman secara
8

cepat (Kudyba dan Hoptroff, 2001). Bukan berarti pada era dimana visualisasi
memegang peranan penting, operational business intelligence sudah tidak
digunakan lagi. Operational business intelligence tetap dijalankan karena pada
proses inilah informasi dibuat, namun agar hasilnya lebih mudah dipahami maka
hasilnya dibentuk ulang atau dihubungkan dengan sistem visualisasi. Apapun
bentuknya, business intelligence tidak didasarkan pada sumber yang statis
(Thierauf, 2001).
2.2.3. Tujuan Business Intelligence

Tujuan utama dari business intelligence adalah untuk menyediakan


knowledge worker alat dan metodologi yang dapat membantu mereka membuat
keputusan yang efektif dan cepat (Vercellis, 2011). Keputusan yang efektif
bergantung pada kemampuan pembuat keputusan (Maciarello, 2006) dan
ketersediaan informasi yang baik (Scholtes dkk, 2003). Business intelligence
dalam hal ini lebih mengarah pada bagaimana pemakainya dapat
mengandalkannya dalam memberikan informasi. Dalam pengambilan keputusan,
bukan saja data-data sekarang yang diperhitungkan, melainkan juga analisis
terdahulu dan juga masa depan. Hal ini berarti business intelligence bukanlah
suatu sistem yang menyediakan data-data yang relevan pada saat ini saja,
melainkan juga dapat menyediakan informasi tentang masa lalu bahkan prediksi
masa datang. Pada akhirnya, business intelligence adalah untuk menyelesaikan
masalah bisnis (Janus, 2008).
2.2.4. Business Intelligence bagi Organisasi

Business intelligence memberikan dampak yang sangat besar bagi


perusahaan saat ini (Knight dkk, 2011). Business intelligence menjadi sesuatu
yang penting saat ini karena beberapa faktor, yaitu banyaknya data yang ada,
pengambilan keputusan menjadi semakin kompleks, perlunya segera mengambil
keputusan, dan perkembangan teknologi yang memungkinkan hal ini (Sabherwal
dan Becerra-Fernandez, 2010). Murahnya teknologi membuat media
penyimpanan data menjadi semakin murah sehingga semakin banyak data yang
disimpan oleh perusahaan (Marsch dan Fetwels, 2011) untuk menunjang data
warehouse mereka. Estimasi yang ada menyatakan bahwa total data yang
dikumpulkan bisnis dari pelanggannya di tahun 2010 saja melebihi total semua
data yang dikumpulkan pada tahun-tahun sebelumnya (Anderson dan Simester,
2011). Di satu sisi, banyaknya data yang ada merupakan potensi banyaknya
informasi yang dapat ditarik dari data-data ini (Loshin, 2003), namun
menimbulkan kesulitan dalam pengolahannya.Waktu dan sumber daya menjadi
semakin banyak untuk menangani hal-hal ini sehingga diperlukan suatu sistem
yang dapat menangani hal ini, yaitu business intelligence.Bukan masalah
banyaknya data yang penting (Whitehorn, 1999), namun informasi dan
pengetahuan yang menjadi tujuannya.Jika perusahaan dapat memanfaatkan hal
ini, maka hal ini dapat menjadi faktor kompetitif yang membedakan perusahaan
dengan pesaing lainnya (Groysberg, 2011).
Bukan saja keputusan menjadi semakin kompleks (Amason, 1998), namun
juga keputusan mengandung banyak komplikasi sehingga perlu analisis yang
detil (Kendrick, 2012). Perusahaan dalam hal ini tidak dapat mengandalkan
hanya data statistik saja (Gilboa, 2010) untuk mereduksi ketidakpastian yang
ada (Vermeulen dan Curseu, 2008), namun juga menganalisis dari berbagai
faktor yang mempengaruhi. Business intelligence dalam hal ini mengolah dan
menyediakan data sehingga menjadi informasi yang dibutuhkan untuk
menunjang keputusan yang kompleks ini. Hasil olehan business intelligence
dapat digunakan untuk mengembangkan ide pengambil keputusan (Gibcus dan
Hoesel, 2008) sehingga tidak hanya terkungkung pada sesuatu yang senpit saja.
Otomatis kecepatan pengambilan keputusan juga menjadi penting di sini (Wally
dan Baum, 1998). Kecepatan pengambilan keputusan merupakan tema yang
9

mewarnai suatu organisasi saat ini selain kepuasan terhadap hasil implementasi
(Gerardus dkk, 2008).Seringkali kecepatan dalam pengambilan keputusan sering
dikaitkan dengan intuisi (Daft dan Marcic, 2011), namun tidak bisa hanya dengan
mengandalkan intuisi saja dalam pengambilan keputusan apalagi jika
menyangkut sesuatu yang kompleks. Diperlukan masukan yang baik untuk
membuat intuisi yang beralasan kuat dan baik. Kecepatan menjadi hal yang
penting terutama bagi perusahaan besar, jika perusahaan besar identik dengan
birokrasi yang panjang dan mereka tidak mampu melakukan pengambilan
keputusan dengan cepat, maka hal ini akan berakibat pada performa mereka
(Wally dan Baum, 1998).
Perkembangan teknologi memang dapat dipandang dari dua sisi, di sisi
yang satu perkembangannya memungkinkan perusahaan mudah dalam
mengembangkan dirinya, di sisi yang lain kemudahan ini menjadi suatu
keharusan agar dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Dengan demikian
sebenarnya teknologi tidak memberikan perusahaan suatu pilihan, perusahaan
perlu menggunakannya atau akan tertinggal.
Pentingnya business intelligence ini juga nampak dalam semakin
bertambah banyaknya perusahaan yang mendirikan Business Intelligence
Competency Center (BICC) (Miller dkk, 2006).Gartner Group dkk (2002) dalam
Davis dkk (2006) mendefinisikan BICC sebagai suatu bagian dalam perusahaan
yang khusus mengembangkan strategi business intelligence, mengintepretasi
informasi dan menerapkannya dalam keputusan bisnis. Saat ini memang
perusahaan tidak memandang business intelligence atau teknologi informasi
lainnya sebagai competitive advantage (Carr, 2003), namun business
intelligence dapat menciptakan atau meningkatkan competitive advantage bagi
perusahaan (Thierauf, 2001).
2.2.5. Membangun Business Intelligence bagi Organisasi

Business intelligence saat ini bukanlah hal yang sulit dan memerlukan
banyak sumber daya yang dibutuhkan untuk membangunnya karena adanya
perkembangan teknologi, analisis, dan SDM yang dapat mengoperasikannya
(Vercellis, 2011).Teknologi yang mencakup perangkat keras dan lunak sangat
dibutuhkan dalam melakukan komputasi untuk menghasilkan informasi yang
dibutuhkan.Dengan laju harga teknologi yang semakin terjangkau (Kenny, 2011)
dan revolusi teknologi seperti yang terjadi di China dan India (Silberglitt, 2009),
suatu perusahaan dapat memperoleh teknologi yang dibutuhkan untuk
mendukung business intelligence dengan mudah.Banyaknya perusahaan yang
menerapkan
Rapid
Application
Development
(RAD)
juga
membuat
perkembangan aplikasi yang dilempar ke pasar semakin cepat (Norgaard,
2004).Jika teknologi terus berkembang, demikian juga dengan business
intelligence (Agrawal, 2009).
Analisis, dalam hal ini merupakan model matematika yang digunakan
untuk melakukan komputasi juga mengalami perkembangan yang besar dalam
beberapa dekade terakhir seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Hal
ini memberikan perusahaan banyak opsi untuk membangun sistem yang lebih
cepat dan lebih akurat dalam menghasilkan informasi. Contohnya adalah untuk
menganalisis keputusan yang penuh komplikasi seperti yang dijelaskan pada
faktor yang membuat business intelligence menjadi penting, banyak ditemukan
cara baru seperti penerapan Markov analysis untuk hal ini (DuBrinn, 2008;
Riegelman, 2005). Dalam hal sumber daya manusia pun tidak sulit untuk
mencari orang-orang yang mampu di bidang ini mengingat saat ini generasi
digital sudah mulai masuk sebagai angkatan kerja (Tapscott, 2009).Sumber daya
manusia dalam hal ini bukan saja berperan sebagai operasional, namun juga
sebagai masukan bagi sistem yang ada karena secara kolektif, sumber daya
manusia merupakan pembentuk budaya suatu organisasi.
10

2.2.6. Teknologi Terkait Business Intelligence

Teknologi yang berkembang dan mempengaruhi business intelligence


dapat digilongkan dalam beberapa bagian besar. Dua teknologi terkait data
organisasi yang berkembang pesat adalah ERP (Enterprise Resource Planner)
dan data warehouse.
Teknologi pendukung business intelligence lainnya adalah teknologi yang
memampukan manajemen pengetahuan dan pengambilan keputusan.Teknologi
ini meliputi knowledge management system, data mining, dan analisis bisnis
lainnya.
Teknologi yang mendukung kemampuan presentasi juga menjadi hal yang
memudahkan perkembangan business intelligence. Presentasi membuat
informasi yang ada lebih berharga walau mungkin berisikan hal yang sama
(Sabherwal dan Becerra-Fernandez, 2011). Perkembangan OLAP dan visual
analytics sangat membantu dalam pengambilan keputusan taktis (jangka
pendek), adanya performance dashboard untuk membantu visualisasi banyak
indicator terkait, dan scorecard yang dapat mendukung pengambilan keputusan
strategis (jangka panjang).
2.3.
Collective Intelligence
2.3.1. Pengertian Collective Intelligence

Collective intelligence adalah bagaimana orang-orang yang independen


menyimpulkan sesuatu (Segaran, 2007) dalam kompetisi (Nguyen dan Szalas,
2010) atau kooperasi intelektual untuk mencipta atau berinovasi (Levy,
2009).Collective intelligence menganut semangat dua orang lebih baik dari satu,
sehingga banyak orang secara kolektif dapat menghasilkan solusi yang lebih
baik daripada orang per seorang (Jedrzejowicz, 2009).Secara sederhana, Levy
(2011) mengemukakan bahwa collective intelligence berhubungan dengan dua
hal, yaitu kognitif (intelligence) dan masyarakat atau komunitas (collective).
2.3.2. Pentingnya Collective Intelligence dalam Organisasi

Garrido (2009) menemukan bahwa collective intelligence berhubungan


erat dengan business sustainability, bahkan lebih jauh dengan business
evolvability yang merupakan konsep lebih dalam dari business sustainability.
Terkait dengan tujuan utama business intelligence untuk membantu
membuat keputusan yang efektif, seringkali proses pengambilan keputusan yang
sistematis tidak diperhitungkan (Grunig dan Kuhn, 2009). Ada banyak alasan
yang dapat diajukan, entah keputusan perlu diambil segera, sulitnya bertemu,
dan hal-hal lain yang membuat keputusan yang diambil seringkali diambil
sepihak dan tidak dirundingkan secara menyeluruh oleh pihak-pihak yang
seharusnya terkait.Idealnya, suatu keputusan dikatakan efektif jika melibatkan
dan disetujui oleh semua pihak-pihak terkait (Drucker, 1974).Lebih jauh lagi,
sumber pengambilan keputusan organisasi saat ini tidak hanya berasal dari meja
pucuk pimpinan, namun dari semua pihak dalam organisasi tersebut (Davenport,
2010).Hal ini sebenarnya merupakan bentuk yang mengikuti pola collective
intelligence.Dengan kemajuan teknologi, collective intelligence saat ini bukanlah
sistem yang sulit untuk dilakukan karena teknologi yang ada memudahkan
terjadinya kolaborasi (McAfee, 2009).Hal ini berarti masalah terkait dengan
waktu, keterbatasan tempat, dan hal-hal lain yang berhubungan dapat
terpecahkan dengan membangun sistem collective intelligence yang terintegrasi
dengan sistem business intelligence yang ada sehingga keputusan yang
nantinya diambil dapat lebih baik lagi.Collective intelligence dalam hal ini dapat
menjadi pengintegrasi antar bagian (Schwenk, 1998).Dalam hal ini, collective
intelligence lebih baik digunakan untuk menghasilkan ide baru daripada sebagai
evaluasi (Bonabeau, 2009).
2.3.3. Membangun Collective Intelligence

11

Tidak ada framework yang benar-benar mendeskripsikan bagaimana


sistem berbasiskan collective intelligence dapat diterapkan.Publikasi yang
dikeluarkan hampir seluruhnya membahas metode atau algoritma yang dapat
digunakan dalam membentuk sistem berbasiskan collective intelligence. Tidak
ada suatu framework yang memberikan panduan apa yang perlu dilakukan
dalam mengidentifikasi suatu masalah hingga tahap implementasi collective
intelligence. Namun demikian, ada satu framework yang dibuat oleh Malone dkk
(2009) yang menjelaskan building block apa saja yang terdapat dalam sistem
collective intelligence. Framework ini dibangun oleh Malone dkk (2009) setelah
melakukan penelitian pada hampir 250 situs yang menggunakan collective
intelligence di Internet.
Untuk mengklasifikasikan elemen dalam suatu sistem collective
intelligence, ada dua pasang pertanyaan yang perlu dijawab.Pertama, siapa yang
melakukan pekerjaan dan mengapa mereka melakukannya? Kedua, apa yang
ingin dicapai dan bagaimana melakukannya? Dua pasang pertanyaan tersebut
membuat empat elemen penting yang mendasari sistem collective intelligence
baik dalam organisasi tradisional maupun elektronik, yaitu siapa, mengapa, apa,
dan bagaimana.
Gambar 2-1 Elemen yang Membangun Sistem Collective Intelligence
(Sumber: Malone dkk, 2009)

Pertanyaan siapa yang melakukan aktivitas dapat dijawab dengan dua


bagian besar, yaitu hierarchy dan crowd.Hierarchy menunjuk adanya pemberian
tugas oleh seseorang yang memiliki otoritas, baik diberikan pada orang dalam
atau luar organisasi.Contohnya Linus Torvalds walaupun memperbolehkan
siapapun untuk melakukan perubahan terhadap algoritmanya, namun tetap dia
yang memilih untuk mengikutsertakan perubahan tersebut atau tidak pada versi
Linux berikutnya.Crowd menunjuk pada siapapun dapat memilih untuk
melakukan suatu pekerjaan tanpa ada otoritas yang menyuruhnya.Contohnya
semua orang dapat membuat atau mengubah suatu artikel dalam Wikipedia.
Pertanyaan mengapa melakukan aktivitas dapat dijawab dengan imbalan
apa yang didapatkan oleh pelaku aktivitas. Tiga jawaban dapat digunakan untuk
menjawab pertanyaan ini, yaitu money, love, dan glory.Money merupakan
motivasi yang penting bagi seseorang yang melakukan pekerjaan.Love mengacu
pada motivasi karena senang mengerjakan sesuatu, adanya kesempatan
bersosialisasi dengan yang lain, atau berbagai perasaan nyaman lainnya.Glory
mengacu pada keinginan untuk diakui, misalnya ingin agar namanya
dicantumkan dalam daftar contributor dalam suatu pekerjaan.
Apa yang dikerjakan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu create
dan decide. Create mengacu pada pembuatan sesuatu yang baru entah
sebagian atau seluruhnya. Decide mengacu pada evaluasi dan memilih
12

alternatif, seperti saat Linus Torvalds memilih modul mana yang ingin
dimasukkan dalam versi Linux berikutnya.
Pertanyaan bagaimana dapat dijawab dengan melihat struktur organisasi
dan proses. Hal yang penting dalam hal ini adalah apakah sekelompok individu
yang melakukan create atau decide bekerja secara independen atau ada
hubungan yang erat dalam hal ini. Malone dkk (2009), membuat matriks
menggunakan keempat faktor tersebut: create, decide, independent, dan
dependent.
Tabel 2-1 Variasi How dalam Collective Intelligence
(Sumber: Malone dkk, 2009)
Independent
Dependent
Create
Collection
Collaboration
Decide
Individual Decisions
Group Decisions
Collection terjadi ketika masing-masing anggota dalam kelompok
memberikan kontribusinya dengan menciptakan konten secara terpisah.Misalnya
dalam Kompas Blog, setiap orang melakukan posting konten secara terpisah.
Salah satu hal yang paling sering menandai kategori ini adalah adanya kontes
dimana setiap anggota berlomba untuk menjadi yang terbaik, seperti pada
Google Community dimana tiap-tiap hacker yang tergabung berlomba-lomba
untuk mencari bug Google untuk mendapatkan hadiah berupa kompensasi uang.
Collaboration terjadi ketika anggota suatu kelompok membuat sesuatu
namun ada ketergantungan yang kuat dengan kontribusi dari anggota lainnya.
Contohnya adalah Wikipedia, meskipun ada satu anggota yang membuat suatu
artikel, namun artikel ini perlu dihubungkan dengan artikel yang dibuat oleh
orang lain atau perlu adanya kontribusi dari pihak lain yang melakukan
pembenahan terhadap artikel tersebut.
Group decisions terjadi ketika masukan dari anggota kelompok
dikumpulkan untuk menentukan keputusan yang merepresentasikan kelompok
secara keseluruhan. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, antara
lainvoting, consensus, averaging, dan prediction markets. Contoh dari voting
adalah bagaimana Digg menentukan cerita yang paling menarik dari jumlah vote
yang diberikan oleh anggotanya pada suatu cerita. Voting juga dapat bersifat
implicit seperti bagaimana YouTube memberikan peringkat berdasarkan jumlah
orang yang melihat suatu video.Voting juga dapat bersifat weighted seperti
Google yang memberikan peringkat situstidak saja berdasarkan jumlah linkback
yang mengarah pada suatu situs, namun juga kepopuleran situs tersebut.
Consensus berarti semua anggota setuju terhadap keputusan akhir. Averaging
biasanya dilakukan untuk sesuatu yang terdapat range seperti pemberian rating
film dari angka 1-5, dan keputusan akhir diperoleh dari yang memiliki rating
tertinggi. Prediction markets dilakukan dengan meminta anggota untuk
melakukan prediksi masa depan seperti apa barang yang akan laris di masa
depan, mereka yang berhasil memprediksi biasanya akan diberikan hadiah.
Individual decisions terjadi ketika anggota dari suatu kelompok walaupun
mendapatkan masukan dari yang lain tidak perlu melakukan hal yang sama.
Misalnya anggota YouTube walaupun mendapatkan rekomendasi untuk melihat
suatu video, namun dia tidak ada keharusan untuk melihat video tersebut. Dua
metode yang biasanya digunakan dalam individual decisions adalah markets dan
social networks. Pada markets, terdapat pertukaran formal seperti uang yang
terjadi antar anggota, seperti penjualan yang terjadi pada eBay. Social networks
terjadi ketika pada beberapa anggotanya terbentuk suatu ikatan yang kuat,
seperti pada blogsphere dimana anggota yang satu memberikan link pada blognya kepada blog lain yang dinilai dapat memberikan manfaat yang sama atau
hampir sama dengan blog yang dibuatnya jika ada pembaca yang membaca.

13

Setelah menganalisis kondisi sistem, maka faktor-faktor tersebut dapat


dipetakan kedalam suatu tabel untuk memudahkan pembuatan dan analisis
sistem kedepan (Malone dkk, 2009). Namun dalam framework ini masih belum
menjawab apa saja syarat yang harus dipenuhi sebelum sistem collective
intelligence dapat dijalankan dan bagaimana menentukan pembobotan informasi
yang diperlukan dalam suatu sistem untuk menentukan keputusan.
Tidak ada syarat atau ketentuan baku apa saja yang perlu disiapkan untuk
membuat sistem berbasis collective intelligence, namun satu hal yang pasti
adalah sistem tersebut harus memungkinkan anggotanya untuk dapat saling
berinteraksi. Teknologi saat ini sangat mendukung terciptanya sistem collective
intelligence, apalagi dengan berkembangnya web 2.0 yang memungkinkan
pengguna dapat membuat sendiri kontennya (Beck, 2009).
Tidak ada pula framework yang dapat digunakan untuk menentukan
bagaimana keputusan dapat diambil dan dalam kondisi apa, namun ada
berbagai metode yang dapat digunakan untuk mendapatkan dan menghitung
masukan yang didapat dari anggota (collaborative filtering). Salah satu metode
yang paling banyak digunakan dalam collaborative filtering adalah dengan
menggunakan pembobotan (Segaran, 2007). Metode-metode yang digunakan
dapat dihubungkan dengan how yang berasal dari framework Malone dkk (2009).
2.4.
Sintesis Teori
Collective intelligence menjadi sesuatu yang penting bagi organisasi di era
digital (Segaran, 2007). Collective intelligence sudah ada jauh sebelum Internet
tersedia, namun dengan perkembangan Internet, terbuka kemungkinan baru
untuk mengumpulkan informasi dari ribuan bahkan jutaan orang (Segaran,
2007). Collective intelligence dibangun berdasarkan asumsi bahwa sekelompok
individu memiliki pengetahuan yang lebih banyak dibanding dengan individu
terpandai dalam kelompok tersebut (Surowiecki, 2005).Hal ini kemudian yang
mendasari konsep bahwa kualitas yang dihasilkan dalam collective intelligence
harus lebih baik daripada yang dihasilkan individu (Chen, 2007).
Pengetahuan sebagai aset tak berwujud menjadi penting bagi suatu
organisasi saat ini, sehingga dibutuhkanlah manajemen pengetahuan (Liebowitz
dan Wright, 1999; Gupta dkk, 2000; Boder, 2006). Pengetahuan ini digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan (Davenport dan Prusak, 1998), namun
sebagai seorang individu, seseorang memiliki keterbatasan baik dalam hal
pengetahuan yang dimiliki maupun sebagai pengambil keputusan sehingga
dibutuhkan tim untuk mencapai sesuatu yang lebih baik (Bonabeau, 2009).
Demikian pula value proposition yang dimiliki suatu organisasi tidak jarang yang
mengalami kegagalan (Currie, 2004) sehingga topik resiko kegagalan menjadi
topik yang penting dalam manajemen (Shapira, 1997; Doherty, 2000).Collective
intelligence dari konsumen menjadi penting dalam hal ini untuk membuat value
proposition yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan konsumen (Gillin dan
Schwartzman, 2011).
Collective intelligence juga dapat menjadi metode yang efisien untuk
mencipta dan mengevaluasi ide pada suatu organisasi (Bothos dkk, 2009).
Dengan dukungan teknologi yang tepat, collective intelligence sangat berperan
dalam meningkatkan kinerja tim dalam suatu organisasi (Kim dkk, 2011)
sehingga kesepakatan dalam tim juga dapat dipercepat (Lewis, 2007).
Jika collective intelligence erat kaitannya dengan manajemen informasi
(Boder, 2006), maka perpustakaan merupakan tempat yang paling dekat dengan
kata informasi (Chandra dan Shrivastava, 2003).Saat ini perpustakaan
mengalami tekanan perubahan yang sangat besar (Holman, 1989). Perpustakaan
sebagai jantung suatu institusi (Malhan, 2008), tidak lagi menyandang gelar
tersebut akibat perkembangan teknologi sehingga salah satu dampaknya adalah
dana yang diterima juga semakin menurun (Hernon dan Whitman, 2001; Grimes,
14

1998). Hal ini mengharuskan pustakawan semakin cermat dalam melakukan


pembelian koleksi (Pierce, 1978; Dickstein dan Mills, 2000). Di sisi yang lain,
pustakawan semakin turun jumlahnya (Bowler, 1984; Croneberger, 1989; Osa,
2002), padahal tanggung jawab pustakawan semakin besar yang menuntut
sumber daya yang semakin besar pula. Akibatnya, banyak perpustakaan yang
melakukan outsourcing yang kerap kali membuat kualitas informasi yang
diberikan menurun (Benaud dan Bordeianu, 1998).
Collective intelligence telah banyak digunakan dalam perpustakaan
terutama dalam bentuk crowdsourcing untuk multilingual library (BudziseWeaver dkk, 2012; He, 2012).Wang juga menemukan bahwa penggunaan
collective intelligence penting bagi perpustakaan untuk mencegah terjadinya
redudansi informasi yang tidak memberikan nilai tambah namun menghabiskan
sumber daya lebih (Wang dkk, 2012).Penggunaan collective intelligence dalam
perpustakaan masih lebih banyak mengarah ke crowdsourcing katalog dimana
perpustakaan meminta bantuan penggunanya untuk meningkatkan kualitas data
yang ada (Dunkle, 1996; Johnson, 2012).Collective intelligence juga mulai
digunakan dalam pembentukan academic repository untuk menampung
publikasi akademisi (Thornton, 2000).
Di sisi yang lain, business intelligence dapat menjadi jawaban bagaimana
melakukan kontrol yang baik sehingga dapat mengurangi penggunaan sumber
daya manual dalam melakukan pengukuran dimana business intelligence yang
baik dapat meningkatkan sustainability perusahaan.
3. Desain Studi
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian yang
dilakukan berupa studi kasus dengan Perpustakaan UX sebagai objeknya. Desain
studi penelitian ini membahas mengenai sumber data, metode pengumpulan
data, dan justifikasi.Ringkasan desain studi penelitian dapat dilihat dalam tabel
3.1.
Sebagai salah satu pioneer dalam otomasi sistem, Perpustakaan UX telah
menggunakan otomasi sejak tahun 1989 dan pada tahun 1991 telah
menerapkan sistem katalog digital. Seiring bertambah besarnya perpustakaan
dan layanan yang diberikan, Perpustakaan UX pun menggunakan sistem
informasi perpustakaan yang berbasis web (cloud computing) agar lebih mudah
dalam pengembangan dan pemeliharaannya.Otomasi yang telah dilakukan
mencakup seluruh bisnis prosesnya termasuk pengusulan, pengadaan,
pengolahan, katalog, sirkulasi, referensi, dan pelaporannya walaupun untuk
sistem pengusulan masih terpisah.
Masalah yang ada banyak terjadi seputar proses pengadaan koleksi. Total
buku yang dibeli menggunakan anggaran 2010 adalah sebanyak 1542 buku.
Namun ternyata hingga bulan Juni 2012, sebanyak 495 buku tidak pernah
dipinjam, dan 273 buku hanya pernah sekali dipinjam dan yang meminjam
kebanyakan adalah pengusulnya. Sebanyak 786 buku ini ternyata menghabiskan
lebih dari dua per tiga total anggaran buku pada tahun 2010 di Perpustakaan UX.
Hal ini tentu saja menandakan ketidakefektifan pengadaan dalam membeli
koleksi buku yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Salah satu cara
mengukur apakah informasi yang didapatkan oleh perpustakaan sudah tepat
atau belum adalah dengan mengukur keluarannya, apakah ada yang
membutuhkan informasi tersebut atau tidak. Jika ternyata tidak ada yang
membutuhkan informasi tersebut, dalam ranah perpustakaan akademik berarti
tidak ada mahasiswa atau dosen yang membutuhkan buku yang diolah atau
dibeli. Hal ini merupakan kerugian apalagi jika buku tersebut dibeli dengan
aggaran yang tentu saja ada batasnya.

15

Masalah besar lainnya adalah sistem informasi perpustakaan yang


digunakan saat ini ternyata tidak mampu mengintegrasikan keseluruhan sistem
yang dimiliki. Contohnya sistem pengusulan buku sebagian masih menggunakan
cara manual dan untuk dosen dapat menggunakan sistem tersendiri secara
online namun database yang digunakan tidak satu sehingga diperlukan kerja dua
kali untuk mentransfer data ke program utama. Demikian pula dengan database
layanan khusus dan majalah masih merupakan entitas yang berdiri sendiri
sehingga pengunjung tidak dapat mencari koleksi khusus dan majalah pada
katalog online utama.
Kurangnya sumber daya manusia juga menyebabkan masalah minimnya
pengukuran kerja dalam Perpustakaan UX. Misalnya dalam sirkulasi, dahulu telah
diterapkan standar pelayanan per pengunjung tidak boleh lebih dari satu menit
dengan dihitung menggunakan stopwatch oleh pihak ketiga. Namun hal ini
kemudian tidak dijalankan lagi dikarenakan terlalu membuang sumber daya,
padahal hal ini sangat penting untuk membuat staff tetap siaga. Contoh lainnya
adalah tidak adanya pengukuran untuk dapat mengetahui seperapa cepat
pekerja menyelesaikan suatu pengolahan buku apalagi untuk karyawan yang
sifatnya part-time. Dalam daftar kehadiran part-time terlihat angka yang cukup
tinggi, namun ketika dibandingkan dengan hasilnya maka hasilnya tidaklah
seberapa sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dikarenakan tidak adanya
control yang cukup baik dan tidak adanya pengukuran kinerja yang efisien untuk
mengukur hal-hal seperti ini.
Penelitian ini dilakukan untuk menjawab main research question,
bagaimanakah membuat sistem informasi untuk mendukung efektivitas dan
efisiensi pada sistem informasi Perpustakaan Universitas X? Ukuran efektivitas
yang dimaksud adalah peningkatan akurasi dan integrasi data yang dimiliki.
Ukuran efisiensi yang dimaksud adalah pengurangan sumber daya, pemampatan
birokrasi, dan percepatan proses yang dilakukan. Untuk menjawab main
research question, ada beberapa mini research question:
1. Bagaimana proses bisnis pada Perpustakaan UX saat ini?
Sumber data berasal dari dokumen-dokumen terkait dan wawancara
terhadap kepala perpustakaan dan kepala bagian pengadaan. Dokumendokumen yang dimaksud dapat berupa standar operasional kerja dan BPM
(Business Process Model) yang dikembangkan pihak internal. Metode wawancara
yang digunakan adalah semi structured interview. Wawancara dilakukan
terhadap aktor-aktor utama yang mempengaruhi sistem pengadaan
perpustakaan, yaitu kepala perpustakaan, kepala divisi pengadaan, dan staff
perpustakaan di bagian pengadaan. Penulis juga melakukan observasi untuk
memperkuat data-data yang diperoleh sehingga penulis dapat mengetahui
apakah standar operasional kerja sudah sesuai dengan kenyataan yang
dijalankan. Hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui informasi apa saja yang
dibutuhkan dalam sistem informasi yang dijalankan atau yang akan dibuat.
2. Bagaimana sistem informasi perpustakaan yang digunakan oleh
Perpustakaan UX saat ini?
Sumber data berasal dari analisis dokumentasi pengembangan sistem dan
dari penulis sendiri karena penulis merupakan satu-satunya programmer yang
secara jabatan menangani secara penuh seluruh sistem informasi pada
Perpustakaan UX. Analisis dokumen yang dimaksud dapat berasal dari
dokumentasi dan rencana pengembangan sistem, ERD (Entity Relationship
Diagram), DFD (Data Flow Diagram), dan use-case diagram. Observasi yang
digunakan dalam hal ini menggunakan metode participatory observation karena
tugas peneliti di Perpustakaan UX kesehariannya berkaitan dengan
pengembangan sistem informasi perpustakaan. Data yang didapatkan akan

16

ditampilkan dalam bentuk BPMN (Business Process Modeling and Notation) agar
dapat dipahami dengan mudah.
3. Apa permasalahan yang ada dalam sistem informasi perpustakaan
dihubungkan dengan collective intelligence pada fungsi pengadaan
Perpustakaan UX saat ini?
Sumber data berasal dari wawancara dan melalui observasi (nonparticipatory observation).Wawancara secara internal dilakukan terhadap aktoraktor utama perpustakaan, yaitu kepala perpustakaan, kepala divisi pengadaan,
dan staff bagian pengadaan. Wawancara internal dimaksudkan agar peneliti
dapat melihat gambaran masalah terkait proses pengadaan itu sendiri. Peneliti
juga memerlukan data dari pihak eksternal yaitu pengguna perpustakaan untuk
mengetahui apa kesulitan mereka untuk dapat terintegrasi dalam sistem
informasi perpustakaan yang ada saat ini. Peneliti melakukan wawancara
terhadap mahasiswa, dosen tetap, dosen tidak tetap, dekan, kepala program
studi, dan pengguna luar perpustakaan.Wawancara terhadap dosen perlu
dibedakan karena aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing (dekan atau
kepala program studi atau dosen tetap) berbeda-beda sesuai dengan jabatan
mereka.Wawancara dilakukan secara tidak terstruktur dan dilanjutkan dengan
semi terstruktur. Wawancara secara tidak terstruktur di awal bertujuan agar
peneliti lebih peka terhadap masalah-masalah apa saja yang terjadi dalam
sistem informasi perpustakaan saat ini dan agar peneliti tidak terlalu terkotak
terhadap apa yang menjadi pemikiran awal peneliti. Wawancara dilanjutkan
secara semi terstruktur untuk menggali lebih fokus masalah-masalah apa saja
yang merupakan masalah kunci yang terjadi dalam sistem informasi
perpustakaan terkait fungsi pengadaan yang ada. Wawancara dan observasi
yang dilakukan bertujuan mendapatkan apa permasalahan yang ada dalam
sistem informasi terkait pengadaan yang sesungguhnya. Sebagai tambahan,
digunakan pula dokumen-dokumen terkait kritik dan masukan dari pengguna
untuk mengetahui apa saja masalah yang dapat diidentifikasi oleh pengguna dan
bagaimana tanggapan dari pihak internal untuk menanggapi kritik tersebut.
Verifikasi data dilakukan dengan membandingkan hasil dari wawancara dengan
observasi dan analisis dokumen.
4. Bagaimana desain collective intelligence yang sesuai untuk
mendukung pengambilan keputusan terkait fungsi pengadaan pada
Perpustakaan UX?
Berdasarkan masalah yang ada, dilakukan desain untuk memperbaiki
prosedur dan atau sistem informasi yang ada sehingga dapat menunjang
pengambilan keputusan dengan lebih baik.Desain dilakukan dengan bentuk
narasi, flowchart, dan perbaikan ERD (Entity Relationship Diagram) untuk
menggambarkan desain database yang diperlukan. Dalam hal ini penulis
melakukan analisis terhadap hasil dari empat mini research question
sebelumnya untuk mendapatkan desain yang baik. Analsis yang ada diperkuat
dengan melakukan wawancara terhadap aktor-aktor utama perpustakaan.
Wawancara ini tidak berlangsung satu kali saja namun berkali-kali yang juga
bertujuan sebagai milestone proses pembuatan.
Tabel 3-2 Ringkasan Desain Studi

Research
Question
Bagaimana proses
bisnis pada
Perpustakaan UX
saat ini?

Sumber Data dan


Metode
Pengumpulan
Analisis dokumen:
standar operasional
kerja, BPM (Business
Process Model)

Aspek-Aspek
Praktis
Analisis dokumen:
kurang lebih 6 jam.
Interviu kurang lebih
6 jam dengan metode

Justifikasi
Perpustakaan UX telah
mendapatkan
sertifikasi ISO 9001
dimana dokumendokumen yang ada

17

Interviu: kepala
perpustakaan, 2 kepala
bagian, 3kepala divisi
Observasi (participant
observation)

Bagaimana sistem
informasi
perpustakaan yang
digunakan oleh
Perpustakaan UX
saat ini?

Analisis dokumen:
dokumentasi
pengembangan sistem,
ERP (Entity
Relationship
Diagram), use-case
diagram, DFD (Data
Flow Diagram)
Observasi (participant
observation)

Apa permasalahan
yang ada dalam
sistem informasi di
Perpustakaan UX
saat ini?

Interviu internal:
kepala perpustakaan, 2
kepala bagian dan,
3kepala divisi
Interviu eksternal: 5
dekan fakultas, 5

semi terstruktur.
Interviu dilakukan
secara tatap muka dan
direkam.
Participant
observation yang
dimaksud adalah
peneliti sebagai junior
programmer yang
bekerja di
Perpustakaan UX
sejak Agustus 2011
hingga saat ini.

Analisis dokumen:
kurang lebih 25 jam
Participant
observation: peneliti
sebagai junior
programmer yang
bekerja di
Perpustakaan UX
sejak Agustus 2011
hingga saat ini dimana
tugas keseharian
peneliti adalah
mengembangkan
sistem informasi
Perpustakaan UX.
Peneliti juga
merupakan
programmer tunggal
di Perpustakaan UX.

Interviu kurang lebih


memakan waktu 45
jam secara total.
Interviu dilakukan
secara tidak
terstruktur dilanjutkan
semi terstruktur.

dapat lebih dipercaya.


Interviu dan observasi
dilakukan dengan
tujuan untuk
membandingkan
apakah proses bisnis
yang dimaksud dalam
dokumen telah
dilakukan sesuai
standar atau belum.
Intervie dilakukan
terhadap aktor-aktor
utama dimana
keenamnya memiliki
tugas dan tanggung
jawab masing-masing
terkait fungsinya.
Secara umum
dilakukan untuk
mengetahui proses
bisnis dan aliran
informasi yang terjadi
dalam setiap divisi
Dilakukan
menggunakan analisis
dokumen karena sistem
yang ada semuanya
harus terdokumentasi
dengan baik sesuai
standar yang
diterapkan. Namun
dalam
perkembangannya,
dokumen yang ada
kurang update karena
adanya jeda antara
implementasi dan
penulisan dokumen
sistem baru sehingga
perlu dilakukan
observasi secara
langsung untuk
mendapatkan data yang
terbaru.
Secara umum
dilakukan untuk
mengetahui gambaran
umum dan database
sistem informasi yang
digunakan saat ini.
Metode interviu tidak
terstruktur di awal
wawancara
dimaksudkan agar
peneliti lebih sensitif
terhadap isu-isu
penting dan tidak

18

kepala program studi,


20 mahasiswa internal
pengunjung, 10
mahasiswa eksternal
pengunjung, 15 dosen
tetap, 5 dosen luar
biasa
Analisis dokumen:
berbagai masukan
pengguna
perpustakaan yang
telah diterima
Observasi (participant
observation)

Bagaimana desain
sistemyang sesuai
untuk mendukung
efektivitas dan
efisiensi fungsi
pengadaan pada
Perpustakaan UX?

Interviu: kepala
perpustakaan, 2 kepala
bagian, 3kepala divisi
Observasi (participant
observation)

Untuk pihak eksternal,


peneliti juga bertindak
sebagai agen
Perpustakaan UX
untuk memasarkan
dan mengetahui
kelemahan sistem
informasi
Perpustakaan UX di
mata pengguna dan
menjanjikan hadiah
untuk pengguna yang
memberikan masukan
terbaik.
Analisis dokumen
memakan waktu
kurang lebih 3 jam.
Participant
observation: peneliti
sebagai junior
programmer yang
bekerja di
Perpustakaan UX
sejak Agustus 2011
hingga saat ini dimana
peneliti juga secara
terus menerus
melakukan audit
sistem informasi yang
ada.
Interviu yang
dilakukan memakan
waktu sekitar 60 jam
dengan metode tidak
terstruktur dilanjutkan
semi terstruktur dan
tidak dilakukan dalam
sekali pertemuan saja.
Participant
observation: peneliti
sebagai junior
programmer yang
bekerja di
Perpustakaan UX
sejak Agustus 2011
hingga saat ini dimana
salah satu proyek
peneliti adalah untuk
mengembangkan
sistem pengadaan
yang masih dilakukan
semi manual dan
belum terintegrasi
sepenuhnya.

terlalu mengotakkan
masalah yang ada.
Selain itu, metode ini
juga dimaksudkan
untuk membantu
peneliti
mengidentifikasi
konsep-konsep awal
yang perlu
dikembangkan yang
nantinya akan
ditanyakan secara lebih
spesifik menggunakan
metode semi
terstruktur.
Observasi dan analisis
dokumen yang ada
dimaksudkan sebagai
verifikasi dan
menyediakan informasi
tambahan.
Secara umum
dilakukan untuk
mengetahui
permasalahan yang
sebenarnya terjadi
terkait fungsi
pengadaan.
Metode tidak
terstruktur pada awal
interviu dimaksudkan
agar peneliti dapat
lebih peka terhadap
faktor-faktor apa yang
dibutuhkan dan perlu
dimasukkan dalam
pengembangan sistem.
Metode semi
terstruktur yang
dilakukan kemudian
agar pembahasan dapat
lebih difokuskan sesuai
dengan apa yang
ditemukan.
Observasi dilakukan
sebagai bentuk
verifikasi dan
memberikan bagi
penulis justifikasi
untuk mengembangkan
sistem.
Secara umum
dilakukan untuk
membuat desain yang

19

baik untuk mendukung


business intelligence
terkait fungsi
pengadaan

Adapun rencana pengerjaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel


3.2.Rencana pengerjaan kira-kira memakan waktu empat bulan dimulai dari
tahap pengumpulan data, analisis, dan tahap desain.
Tabel 3-3 Rencana Penelitian
Bulan 1
Bulan 2
Bulan 3
Bulan 4
Aktivitas
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengumpulan
data proses
bisnis
Analisis
proses bisnis
Pengumpulan
data IS
Analisis IS
Analisis
permasalaha
n
Desain solusi
1
Milestone 1
Desain solusi
2
Milestone 2
Desain solusi
3
4. Gambaran Umum Perpustakaan Universitas X
Bab ini membahas mengenai gambaran umum Perpustakaan Universitas X
sekaligus menjawab mini research question satu, dua, tiga, dan empat. Bab ini
akan menjelaskan perihal profil Perpustakaan Universitas X, struktur organisasi,
job description masing-masing bagian, dan sistem informasi yang digunakan
saat ini.
4.1.
Profil Perpustakaan Universitas X
4.1.1. Sejarah Perpustakaan Universitas X

Perpustakaan UX berdiri sebagai bentuk unit penunjang Universitas X yang


juga berdiri lima tahun sebelumnya di jalan yang sama. Koleksi awal berjumlah
696 eksemplar buku, dan 46 judul majalah dalam dan luar negeri. Pada tahun
1992,
Perpustakaan
UX
meresmikan
pemakaian
sistem
informasi
perpustakaannya yang telah dikembangkan sejak tahun 1989 yang diberi nama
SIPUX(Sistem Informasi Perpustakaan Universitas X).
Sejalan dengan perkembangan teknologi terutama Internet, pada tanggal
3 Juni 1995 secara resmi Perpustakaan UX terhubung dengan Internet.Konsep
yang ingin dibangun adalah Perpustakaan Tanpa Dinding (library without walls)
dimana arah perkembangan bukan lagi pada fisik bangunan atau buku namun
juga pada perluasan akses informasi global yang tidak terbatas pada ruang dan
waktu.Perpustakaan UX mengawalinya dengan mengembangkan PetraNet
dimana konsepnya seperti warung Internet (warnet) namun melibatkan
sosialisasi yang hidup di dalamnya seperti social network. Pada tahun 1996,
Perpustakaan UX mulai mengembangkan layanan online bagi penggunanya
20

seperti layanan penelusuran artikel, layanan referensi, pengusulan buku baru,


dan
sebagainya.
Secara
berangsur-angsur,
Perpustakaan
UX
juga
mengembangkan sistem informasinya ke arah web based system, dimana semua
layanannya dapat diakses dan semua platform yang digunakan berbasiskan web.
Sistem ini dikenal sebagai iSIPUX yang merupakan kependekan dari Internet
SIPUX.
Motto baru Perpustakaan UX adalah A Caring Learning Zone yang juga
diturunkan dari visi universitas.Maksudnya adalah Perpustakaan UX tidak hanya
sekedar berperan sebagai pusat informasi saja namun juga ikut membentuk
masyarakat belajar dan mitra profesional bagi masyarakat akademis dan praktisi
tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
4.1.2. Strategi Bisnis dan Prioritas

Ada dua strategi (dalam hal ini adalah prioritas) utama yang dijalankan
Perpustakaan UX, yaitu relevansi koleksi terutama koleksi digital dan layanan
kepada pengguna dan pengadaan fasilitas baru.Startegi tersebut dijalankan agar
Perpustakaan UX dapat tetap kompetitif di bidangnya. Target utama dari
Perpustakaan UX adalah mahasiswa, staff, dosen, dan seluruh civitas academica
Universitas X, namun juga tidak menutup pintu bagi pihak luar sebagai anggota
khusus serta mitra pustaka bagi alumni Universitas X. Koleksi yang dimiliki
Perpustakaan UX adalah buku, VCD, DVD, serta berbagai koleksi digital
menyangkut Kota Surabaya, poster-poster yang dipanjang di Universitas X,
konten perkembangan Universitas X, koleksi tugas anak desain, dan berbagai
koleksi digital lainnya.
Masalah utama yang dihadapi Perpustakaan UX adalah relevansi koleksi
dan layanan yang dimiliki dengan kebutuhan generasi baru yang sudah
mengedepankan IT.Untuk itu, Perpustakaan UX mengembangkan perpustakaan
digital dengan terus melakukan inovasi dalam tiga bidang, yaitu relevansi
koleksi, layanan, dan fasilitas.Tentu saja untuk terus melakukan ketiga inovasi
atau mempertahankan ketiga fungsi tersebut, Perpustakaan UX membutuhkan
sumber daya manusia yang baik pula.
Ada dua metode pendistribusian yang dilakukan Perpustakaan UX, yaitu
pemesanan secara online atau peminjaman langsung. Untuk pemesanan online
dapat dilakukan melalui OPAC, jika bagian sirkulasi telah mendapatkan buku
yang ingin dipinjam maka peminjam akan dihubungi melalui email atau telepon.
Untuk peminjaman langsung dilakukan dengan langsung datang di
perpustakaan, mencari koleksi yang ada dan jika ingin meminjamnya dapat
memberikan buku tersebut pada bagian sirkulasi untuk diproses lebih lanjut.
Ada dua kompetensi dasar yang dirumuskan oleh Perpustakaan UX, yaitu
kompetensi untuk memilih pemasok yang menawarkan harga koleksi lebih
murah dan kompetensi untuk meminta judul buku yang menarik perhatian dari
berbagai sumber.
4.2.
Struktur Organisasi dan Job DescriptionPerpustakaan
Universitas X
4.2.1. Struktur Organisasi

Sudah ada pembagian tugas yang jelas dalam struktur organisasi


Perpustakaan UX, namun demikian masih banyak terjadi perangkapan fungsi di
dalamnya akibat kekurangan sumber daya manusia.Misalnya kepala bidang bisa
menjabat juga sebagai koordinator bagian tertentu yang juga sama-sama berada
di bawahnya.
Secara sederhana, koordinator yang dimaksud dalam struktur organisasi
juga mengerjakan hal yang sama dengan staff, hanya memiliki otoritas dalam
hal penempatan bawahannya. Hak akses dalam sistem informasi antara
koordinator dengan staff-nya juga dalam hal ini tidak dibedakan.Dalam beberapa
bidang, koordinator selain dibantu oleh staff juga dibantu oleh mahasiswa paruh
21

waktu yang juga bekerja dalam Perpustakaan UX yang tidak dimasukkan dalam
struktur organisasi karena tugasnya sudah sangat spesifik.Berikut adalah bagan
organisasi Perpustakaan UX:
Gambar 4-2 Struktur Organisasi Perpustakaan Universitas X
(Sumber: data internal, diolah)

4.2.2. Job Description

Berikut adalah job description hasil dari wawancara dan pengamatan yang
dilakukan pada Perpustakaan UX:
1. Kepala Perpustakaan
a. Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilaksanakan
perpustakaan
b. Memikirkan perencanaan dan stratejik perpustakaan kedepan
c. Memimpin rapat perpustakaan
d. Menghadiri undangan dari luar ataupun dalam atas nama perpustakaan
2. Kepala Sub Bidang Tata Usaha
a. Menangani surat menyurat dan administrasi dokumen lainnya baik untuk
pegawai perpustakaan maupun dari instansi dalam ataupun luar
b. Pengembangan sumber daya manusia dalam perpustakaan
c. Menangani pengadaan yang berhubungan dengan administrasi, perabot,
dan pengadaan lain yang tidak berhubungan dengan koleksi
perpustakaan
d. Menangani perawatan peralatan yang dimiliki perpustakaan
3. Kepala Bidang Pengembangan Koleksi dan Teknologi
Bertanggung jawab atas proses pengembangan koleksi baik digital maupun
fisik (pengadaan dan pengolahan koleksi) serta teknologi yang digunakan
perpustakaan baik dalam software, hardware, dan sistem.
4. Pengadaan Koleksi
a. Menerima usulan buku baik dari jurusan maupun mahasiswa
b. Melakukan pemesanan buku kepada pemasok dan menerima buku yang
baru datang
c. Memberikan stempel, nomor akses, dan barcode pada buku yang baru
datang
d. Membuat laporan pengadaan secara periodic
e. Membetulkan buku yang rusak dan masih dapat dibetulkan secara
internal
5. Pengolahan Koleksi
a. Memasukkan data buku dalam sistem informasi perpustakaan

22

b.

Menghubungi dosen atau jurusan untuk meminta karya mahasiswa yang


dapat dimasukkan dalam koleksi digital
c. Verifikasi hasil kerja mahasiswa paruh waktu yang bekerja dalam divisi
pengolahan koleksi
d. Mengawasi mahasiswa paruh waktu yang bekerja dalam divisi
pengolahan koleksi
e. Membuat permintaan data borang akreditasi
f. Membuat laporan koleksi (jumlah koleksi, daftar koleksi, dan laporan
lainnya) secara periodik
6. Software Development
a. Membuat model, desain, dan manajemen proyek terkait rilis
pengembangan software
b. Memonitor dan menganalisa perkembangan teknologi yang terjadi di luar
terutama yang berhubungan dengan keamanan, sistem operasi bersama,
bahasa pemrograman, perkembangan software platform, dan isu-isu
lainnya untuk menentukan lingkungan dan platform yang tepat untuk
perkembangan proyek selanjutnya
c. Mengatur, mengkoordinasi, dan mengevaluasi perkembangan sistem
terutama yang dibuat oleh mahasiswa skripsi atau kerja praktek yang
mengambil objek perpustakaan
d. Menganalisa kebutuhan pemakai dan membenarkan bug yang banyak
terjadi pasca pengembangan sistem
e. Implementasi sistem
f. Membuat kebijakan dalam hal server dan sistem yang dimiliki
g. Membuat dokumentasi proyek yang dikerjakan agar dapat dikembangkan
oleh programmer atau system analyst lainnya
7. System Development dan Hardware
a. Memperbaiki dan memelihara jaringan dan komputer yang bermasalah
dalam perpustakaan
b. Mengembangkan hardware perpustakaan yang berhubungan dengan
jaringan
c. Bekerja
sama
dengan
bagian
software
development
dalam
mengembangkan sistem informasi perpustakaan
d. Bekerja sama dengan Pusat Komputer dalam hal jaringan dan pengadaan
hardware perpustakaan
8. Kepala Bidang Pendayagunaan Informasi
Bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang mencakup perencanaan,
pengarahan, pengorganisasian, pengawasan, dan pembinaan seluruh bidang
pekerjaan pada bidang pendayagunaan informasi.
9. Layanan Sirkulasi
a. Menjalankan fungsi peminjaman, pengembalian, dan pemesanan koleksi
b. Menjalankan fungsi peminjaman dan pengembalian kunci locker
c. Mengembalikan koleksi yang dipinjam pengguna
d. Bertanggung jawab terhadap keluar masuk pengguna melalui pintu
perpustakaan
e. Membuat laporan sirkulasi dan data pengunjung secara periodik
10.Layanan Khusus dan Majalah
a. Pengadaan serial (majalah dan jurnal)
b. Mengembalikan jurnal dan majalah yang dibaca oleh pengguna ke
tempatnya
c. Menghitung penggunaan majalah dan jurnal
d. Membuat laporan layanan khusus dan majalah secara periodik
11.Layanan Referensi dan Informasi
a. Memberikan layanan terkait database jurnal
23

b.
c.

Menjawab pertanyaan pengguna


Menyelenggarakan
kegiatan
literasi
informasi
bagi
pengguna
perpustakaan sehingga pengguna dapat mencari sendiri atau dibantu
mencari informasi yang diperlukan
d. Pendaftaran keanggotaan mitra pustaka bagi alumni Universitas X
e. Membuatkan izin administrasi kepada perpustakaan lain
12.Promosi dan Kerjasama
a. Mengelola kegiatan promosi perpustakaan untuk meningkatkan citra
perpustakaan di mata masyarakat sekitar dan ikut melakukan kegiatan
pengabdian masyarakat melalui edukasi mengenai perpustakaan
b. Mengelola informasi yang dikeluarkan melalui media online yang dikelola
perpustakaan
c. Menjalin kerjasama dengan pihak eksternal
4.3.
Proses Bisnis pada Perpustakaan Universitas X
Berikut akan dijelaskan proses bisnis yang terjadi pada Perpustakaan UX
menggunakan BPMN (Business Process Model and Notation) yang merupakan
diagram standar untuk pemodelan bisnis proses.
4.3.1. Layanan Khusus dan Majalah

Proses bisnis pada layanan khusus dan majalah memiliki sedikit keunikan.
Hal ini dikarenakan dalam proses bisnisnya terlihat adanya kesamaan dengan
proses pengadaan, pengolahan, dan referensi untuk layanan koleksi lainnya.
Dengan kata lain proses bisnis pada layanan khusus dan majalah adalah seperti
miniatur proses bisnis perpustakaan untuk koleksi namun fungsi-fungsinya tidak
dibagi menjadi tiga divisi yang berbeda. Hal unik lainnya adalah database dan
program yang digunakan dalam layanan ini tidak terhubung dan terpisah dari
yang digunakan untuk layanan lainnya sehingga memberikan kesan eksklusif
untuk layanan ini.
Secara umum, bagian ini bertugas membantu menjelaskan kepada
pengguna yang tidak mengerti bagaimana caranya menggunakan katalog online
untuk mencari koleksi yang mereka inginkan dan yang tidak mengerti prosedur
peminjaman koleksi. Bagian ini juga bertugas untuk membantu pencarian koleksi
jika pengguna mengalami kesulitan dalam menemukan koleksi dan membantu
membukakan pintu lemari jika koleksi yang ingin dipinjam berada dalam lemari
khusus.
Bagian ini juga bertugas untuk melakukan pembelian koleksi khusus dan
penerimaan koleksi khusus dari jurusan. Pembelian koleksi khusus biasanya atas
dasar permintaan dari pihak jurusan atau departemen lain yang terkait. Setelah
disetujui, maka bagian ini akan melakukan pencarian supplier dan melakukan
pemesanan. Setelah jurnal yang dipesan diterima, maka bagian ini akan
melakukan pengolahan dengan memasukkan data koleksi dalam database dan
melakukan kegiatan katalogisasi. Setelah proses katalogisasi selesai, ada dua
kegiatan yang dijalankan beriringan. Pertama, mengirimkan pesan kepada
jurusan atau pihak lain yang mengusulkan koleksi bahwa koleksi yang dipesan
telah tersedia. Kedua, membuat laporan penerimaan koleksi dengan melengkapi
bon dan memasukkan transaksi yang telah terjadi dalam program keuangan
yang disediakan oleh bagian keuangan. Setelah transaksi yang ada divalidasi
dan dana telah diturunkan oleh pihak keuangan, barulah pembayaran kepada
supplier dilakukan.
Keeksklusifan layanan ini bukannya tidak menimbulkan masalah karena
berarti pengguna tidak dapat mencari koleksi terkait layanan khusus dan
majalah dalam katalog online yang tersedia. Pengguna perlu masuk dalam
katalog online khusus yang berbeda untuk mencari koleksi majalah, jurnal, atau
koleksi khusus lainnya yang tentu saja tidak praktis dari sisi penggunaannya.
Gambar 4-3 Proses Bisnis Layanan Khusus dan Majalah
24

(Sumber: data internal, diolah)

4.3.2. Layanan Referensi dan Informasi

Ada tiga fungsi utama yang diemban oleh bagian refernsi dan informasi.
Pertama, memberikan semua informasi terkait dengan penggunaan dan
pencarian informasi oleh pengguna. Mahasiswa atau pengguna lain dapat datang
ke bagian ini untuk meminta penjelasan bagaimana cara menggunakan layanan
yang ada, meminta bantuan mencarikan buku dalam rak, atau bahkan
membantu mencarikan referensi dengan topik tertentu. Pengguna yang
memesan untuk dicarikan referensi tertentu akan dikabari secepatnya melalui
email atau media lain yang disepakati, dan jika tidak menemukan referensi yang
dimaksud, maka bagian ini bertugas untuk mencarikan alternatif lain apa yang
dapat digunakan oleh pengguna. Untuk menjalankan fungsi ini dengan baik,
maka bagian ini juga bertanggung jawab mengumpulkan berbagai koleksi digital
seperti jurnal, e-book, dan sebagainya untuk diorganisasikan dengan baik
sehingga saat membutuhkan data yang dimaksud dapat diakses dengan cepat
dan mudah.
Kedua, layanan untuk memberikan surat rujukan ke instansi luar terkait
dengan instansi. Misalnya mahasiswa ingin meminjam buku dari perpustakaan
lain dimana buku yang ingin dipinjam tidak tersedia di Perpustakaan UX, maka
bagian ini bertugas membuat surat rujukan ke perpustakaan lain dengan
mahasiswa dapat terlebih dahulu mengisi formulir yang telah disediakan dan
menyelesaikan persyaratan administrasi lainnya.
Ketiga, memberikan layanan kepada alumni Universitas X seperti
pembuatan kartu anggota alumni yang dapat digunakan di Perpustakaan UX,
pengaktifan layanan jurnal, dan berbagai layanan lainnya terkait pendaftaran
alumni lainnya.
Gambar 4-4 Proses Bisnis Layanan Referensi dan Informasi
25

(Sumber: data internal, diolah)

4.3.3. Layanan Sirkulasi

Ada beberapa layanan yang diberikan pada bagian sirkulasi. Pertama,


layanan peminjaman locker. Mahasiswa atau pengguna lainnya tidak diizinkan
memasuki area perpustakaan dengan membawa tas, binder, jaket, topi, senjata
tajam, dan berbagai benda terlarang lainnya. Sebagai alternatifnya, mahasiswa
atau pengunjung dapat menitipkan barangnya di dalam locker yang telah
disediakan. Untuk dapat menggunakan layanan ini, pengunjung perlu
memberikan KTP/SIM yang masih berlaku sebagai jaminan dan sebagai gantinya
akan mendapatkan kunci locker. Kunci ini tidak boleh dibawa keluar dari area
Perpustakaan UX. Jika barang yang diperbolehkan dibawa cukup banyak dan
berat (seperti membawa laptop, tablet, dan sebagainya) maka disediakan
peminjaman tas Perpustakaan UX sebagai media untuk membawa barangbarangnya. Setelah selesai, mahasiswa perlu menukarkan kunci locker dengan
jaminan KTP/SIM.
Layanan kedua adalah layanan peminjaman, pengguna perlu datang ke
meja sirkulasi dengan menunjukkan kartu mahasiswa atau kartu dosen atau
kartu kenaggotaan khusus untuk anggota lainnya sambil membawa koleksi yang
ingin dipinjam. Petugas akan memasukkan nomor identitas pengguna dan
melihat status peminjamannya apakah masih dapat melakukan peminjaman
atau dblok karena adanya alas an tertentu. Jika pengguna boleh meminjam,
maka petugas akan memasukkan koleksi apa saja yang ingin dipinjam. Untuk
26

setiap koleksi yang ingin dipinjam, dilakukan pengecekan apakah koleksi


tersebut statusnya boleh dipinjam atau tidak. Setelah semuanya terverifikasi,
maka petugas akan mencetak bukti peminjaman yang harus ditandatangani oleh
pengguna terlebih dahulu sebelu diperbolehkan mengambil koleksi yang ingin
dipinjam.
Layanan ketiga adalah pengembalian, pengguna perlu datang ke meja
sirkulasi. Untuk pengembalian koleksi diperbolehkan untuk dititipkan pada teman
sehingga tidak harus mengembalikan sendiri. Petugas akan menanyakan nomor
anggota pengguna dan akan mengecek status pengguna, apakah ada
keterlambatan pengembalian atau tidak. Jika terdapat keterlambatan, maka
pengguna yang mengembalikan tersebut perlu membayar denda terlebih dahulu
baru bias diputihkan kembali statusnya. Petugas juga akan memeriksa apakah
buku yang dikembalikan memang benar dipinjam atas nama pengguna tersebut.
Setelah selesai, pengguna dapat meninggalkan area tersebut dan buku yang
dikembalikan akan disendirikan dalam rak untuk dikembalikan ke tempatnya
biasanya dua kali dalam sehari.
Layanan keempat adalah perpanjangan koleksi. Untuk mahasiswa harus
datang sendiri ke meja sirkulasi, sedangkan untuk dosen dan anggota khusus
dapat memperpanjang melalui telepon. Petugas akan menanyai nomor anggota
untuk memeriksa apakah ada denda atau tidak dan apakah peminjaman sudah
mencapai batasnya (koleksi dapat diperpanjang maksimal dua kali). Jika ternyata
ada denda, maka pengguna harus membayar denda terlebih dahulu baru boleh
memperpanjang koleksi, namun jika ternyata peminjaman koleksi telah
mencapai batas maka koleksi tersebut harus dikembalikan. Status lainnya
dimana koleksi tidak dapat diperpanjang adalah ketika ada pengguna lain yang
memesan koleksi tersebut.
Layanan kelima adalah pemesanan koleksi dimana pengguna perlu datang
dan mengisi formulir pemesanan. Data yang ada dalam formulir ini kemudian
dimasukkan dalam program yang tersedia sehingga ketika koleksi yang dipesan
sudah kembali, maka program dapat secara otomatis mengirimkan pesan
kepada pemesan bahwa koleksi yang dipesan sudah dikembalikan. Petugas
sendiri tidak akan memasukkan buku yang dipesan ke dalam rak untuk
dikembalikan ke tempatnya, namun akan dimasukkan dalam lemari tersendiri
sehingga ketika pemesan datang untuk mengambil koleksi pesanannya, maka
petugas dapat menyediakan dengan mudah.
Gambar 4-5 Proses Bisnis Layanan Sirkulasi
(Sumber: data internal, diolah)

27

4.3.4. Pengadaan Koleksi

Proses pada bagian pengadaan koleksi dimulai dari adanya usulan atas
koleksi baik secara manual (mahasiswa dan pengguna lain) atau secara online
(untuk dosen). Petugas akan memeriksa koleksi yang diusulkan terlebih dahulu,
apakah sudah dimiliki atau belum. Jika ternyata koleksi yang diusulkan belum
ada, maka koleksi tersebut akan dicatat nama pemesan dan tanggal pemesanan.
Kemudian petugas akan memeriksa ketersediaan koleksi yang dimaksud pada
daftar supplier yang dimiliki yang biasanya sesuai dengan penerbit buku
tersebut. Setelah menemukan supplier yang dimaksud, maka petugas akan
melakukan pemesanan koleksi pada supplier tersebut, kemudian memotong
aggaran terkait pemesan (anggaran departemen, jurusan, atau umum).
Setelah koleksi yang dipesan datang, maka petugas akan memberikan
tagihan koleksi kepada koordinator bagian layanan khusus dan majalah untuk
melakukan pembayaran. Selanjutnya, petugas akan memberikan stempel, nomor
akses buku, dan barcode pada koleksi yang baru datang. Setelah data-data
terkait pengadaan selesai dimasukkan dalam program, maka petugas akan
menekan tombol mutasi pada program yang berarti mengirimkannya pada
bagian pengolahan untuk dikelola lebih lanjut dimana bagian pengadaan sudah
tidak akan bias mengubah data-data terkait koleksi tersebut lagi.
Gambar 4-6 Proses Bisnis Pengadaan Koleksi
(Sumber: data internal, diolah)

28

4.3.5. Pengolahan Koleksi

Proses pengolahan koleksi dibagi menjadi dua bagian besar. Pertama,


proses pengolahan koleksi yang berupa koleksi fisik. Petugas bagian ini akan
mengambil kertas kerja dari bagian pengadaan yang berisi koleksi-koleksi baru
yang sudah diproses awal di bagian pengadaan sekaligus mengambil koleksi fisik
yang dimaksud. Petugas kemudian mulai mengisi deskripsi tentang koleksi
tersebut di program yang telah tersedia, termasuk menentukan lokasi dan nomor
pengklasifikasian koleksi tersebut. Kemudian petugas akan membuatkan label
untuk koleksi tersebut dan jika koleksi tersebut berupa buku maka bagian ini
akan memberikan sampul terhadap buku tersebut. Setelah selesai seluruhnya,
maka petugas akan memeriksa sekali lagi kualitas pengerjaan koleksi dan
kelengkapan data yang dimasukkan untuk kemudian diisi tanggal selesainya
dalam program. Jika tanggal selesai telah diisi, maka koleksi tersebut akan dapat
diakses dalam katalog online Perpustakaan UX. Setelah tanggal selesai diisi,
maka koleksi tersebut akan dipasangi tag RFID dan dimasukkan dalam daftar
buku pemeran untuk kemudian dipilih yang mana yang layak dipajang di bagian
koleksi baru.
Proses pengolahan kedua merupakan pengolahan koleksi digital. Untuk
koleksi digital yang telah tersedia dalam bentuk softcopy, maka petugas akan
melakukan konversi file tersebut ke dalam format PDF. Untuk koleksi yang masih
belum tersedia softcopy namun ingin didigitalisasi, maka perlu di-scan terlebih
dahulu dan disimpan dalam bentuk PDF juga. Setelah file yang ada sudah
menjadi bentuk PDF, maka petugas akan melakukan upload file ke dalam server.
Jika ternyata file yang dimasukkan tidak hanya ada satu, maka petugas perlu
membuat hyperlink antar file sehingga pengguna yang melihat tidak menjadi
bingung. Setelah hyperlink selesai dilakukan, maka petugas akan memasukkan
data-data terkait koleksi tersebut dalam program yang tersedia. Hasil
pengolahan yang dilakukan tidak akan dapat terlihat dalam katalog online utama
hingga hasilnya ditransfer. Setelah proses transfer selesai, maka petugas akan
melakukan pemeriksaan sekali lagi terhadap data-data yang ada di katalog
online untuk memastikan apakah masih ada kesalahan data dan apakah proses
transfer yang dilakukan sudah berjalan dengan sempurna.
Gambar 4-7 Proses Bisnis Pengolahan Koleksi
(Sumber: data internal, diolah)

29

4.3.6. Promosi dan Kerja Sama

Ada tiga fungsi utama yang diemban oleh bagian promosi dan kerjasama.
Pertama adalah bertanggung jawab terhadap seluruh media dan media sosial
yang menggunakan nama Perpustakaan UX seperti pada web universitas, media
Facebook, Twitter, dan sebagainya. Bagian ini bertanggung jawab untuk terus
melakukan update informasi yang ada sekaligus mengajak orang untuk dating
dan tertarik menggunakan layanan perpustakaan.
Kedua, bertanggung jawab membuat poster dan berbagai media lain
untuk suatu acara yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UX. Ketika tema
kegiatan sudah diberitakan, maka bagian ini bertugas untuk membuat proposal
kegiatan beserta dana yang dibutuhkan dan kemudian mengajukannya kepada
kepala perpustakaan. Jika proposal tersebut diterima, maka bagian ini akan
bertugas untuk mencairkan dana yang disetujui dan mulai menjalankan
fungsinya untuk publikasi.
Ketiga, turut serta membuat keberadaan Perpustakaan UX aktif dalam
jejaring perpustakaan yang diikuti. Bagian ini bertugas mencari jejaring
perpustakaan yang dapat meningkatkan nilai Perpustakaan UX, mendaftar dalam
jejaring tersebut, dan turut aktif meramaikan dan berkontribusi positif dalam
jejaring tersebut.
Gambar 4-8 Proses Bisnis Promosi dan Kerja Sama
(Sumber: data internal, diolah)

30

4.3.7. Software Development

Tugas utama bagian software development adalah untuk melakukan


pengembangan sistem informasi yang digunakan oleh Perpustakaan UX.
Pengembangan dimulai dari membuat rencana pengembangan, melakukan
pembuatan program, evaluasi kerja, dan uji coba. Dalam tahap uji coba jika
ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan atau sistem lama masih dirasa
lebih baik, maka dilakukan tahap perencanaan berikutnya untuk mematangkan.
Baru jika dalam tahap uji coba dirasa sistem yang ada lebih baik, maka sistem
tersebut akan diimplementasikan.
Gambar 4-9 Proses Bisnis Software Development
(Sumber: data internal, diolah)

4.3.8. System Development dan Hardware

Tugas utama bagian ini adalah mengembangkan jaringan dan perangkat


keras yang digunakan oleh Perpustakaan UX. Prosesnya dimulai dengan
perencanaan anggaran dan analisis kebutuhan perangkat keras Perpustakaan
UX. Jika anggaran ini disetujui dan telah direalisasikan, maka bagian ini bertugas
mengambil barang yang datang dari bagian komputer. Bagian ini kemudian
bertugas memasang perangkat keras yang ada di lokasi yang telah disepakati
dalam anggaran dan melakukan update data dengan bagian pusat komputer
universitas. Bagian ini kemudian bertugas menganilisis dan memantau semua
perangkat keras yang tersedia, jika kondisinya baik maka dilakukan update data
kondisi masih baik, namun jika kondisnya buruk maka segera dilakukan proses
perbaikan.
Gambar 4-10 Proses Bisnis System Development dan Hardware
(Sumber: data internal, diolah)

4.4.

Sistem Informasi pada Perpustakaan Universitas X

4.4.1. Gambaran Umum

31

Perpustakaan UX menggunakan dua perangkat lunak dua perangkat lunak


secara simultan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Perangkat lunak
NSIPUX merupakan perangkat lunak berbasis desktop yang sebenarnya
merupakan perangkat lunak sistem informasi perpustakaan yang sudah tidak
dikembangkan lagi oleh Perpustakaan UX. Perpustakaan UX masih menggunakan
perangkat lunak ini hanya untuk melakukan proses pengolahan data digital saja
karena pada perangkat lunak yang baru tidak terdapat modul untuk melakukan
pengolahan data digital.
Perangkat lunak yang digunakan oleh Perpustakaan UX saat ini adalah
iSIPUX. iSIPUX merupakan perangkat lunak berbasis web yang memudahkan
operator untuk mengakses perangkat lunak ini dari manapun (menerapkan cloud
computing).Perangkat lunak ini mencakup hampir semua fungsi yang ada dalam
Perpustakaan UX, yang meliputi pengadaan, pengolahan buku, sirkulasi,
referensi, dan administrasi.Fungsi pengolahan data digital memang sengaja tidak
dibuat dalam iSIPUX karena saat pembuatannya teknologi yang mendukung
masih cukup sulit dan berbiaya mahal untuk didapatkan sehingga khusus
pengolahan data digital diputuskan tetap menggunakan perangkat lunak yang
lama. Karena iSIPUX berbasis web dan dapat diakses oleh siapa saja yang
mengetahui alamatnya, maka ditambahkan fitur-fitur keamanan baik dengan
menambahkan third party software seperti SSL (Secure Socket Layer) ataupun
pencegahan dari dalam sistem.
Pengembangan iSIPUX bukan saja dimaksudkan untuk menyediakan fitur
pengolahan dan administrasi dalam Perpustakaan UX, namun terlebih tujuannya
adalah untuk memberikan kemudahan akses bagi pengguna terhadap koleksi
yang dimiliki Perpustakaan UX melalui web.Untuk menyediakan layanan yang
baik bagi penggunanya, Perpustakaan UX menyediakan dua website yang dapat
diakses dari manapun, yaitu web sebagai online catalog dan web sebagai
corporate identity.
Dalam perkembangannya, sistem informasi perpustakaan yang digunakan
oleh Perpustakaan UX telah beberapa kali mengalami pergantian pengembang.
Pengembang yang dimaksud adalah programmer yang bekerja secara full time
pada Perpustakaan UX yang tugas utamanya adalah mengembangkan sistem
informasi perpustakaan pada Perpustakaan UX. Hal ini berakibat pada
pengembangan sistem yang dilakukan terpisah-pisah, apalagi dengan tidak
adanya dokumentasi sistem dan pengembangan program yang baik. Contoh
pengembangan sistem yang dilakukan terpisah-pisah ini contohnya adalah
pengembangan perangkat lunak yang digunakan untuk memperkecil gambar
secara otomatis.Dalam pengolahan data digital, seringkali banyak terdapat
gambar-gambar yang ukurannya sangat besar, agar dapat ditampilkan dengan
baik dalam katalog dan tidak terlalu memakan bandwidth pengguna, maka
gambar-gambar ini harus diperkecil sebagai preview. Jika pengguna tertarik
untuk melihatnya lebih detil, maka pengguna dapat melihat ukuran
sesungguhnya dengan menggunakan link yang disediakan. Untuk mengecilkan
gambar-gambar yang berukuran besar ini sebenarnya dapat ditambahkan fitur
secara langsung dalam perangkat lunak NSIPUX yang digunakan, namun karena
pengembang terdahulu sudah tidak lagi bekerja di Perpustakaan UX dan
pengembang yang baru tidak menguasai sistem terdahulu, akhirnya dibuatlah
perangkat lunak terpisah khusus untuk melakukan pengecilan gambar secara
otomatis.
Kesusahan dalam menghubungkan apa yang dikerjakan oleh pengembang
terdahulu dengan pengembang yang baru memunculkan banyak fitur-fitur yang
dijalankan terpisah yang tidak terintegrasi dalam sistem informasi perpustakaan
utama. Fitur-fitur ini juga mencakup sistem untuk pengusulan buku oleh jurusan,
fitur untuk melakukan quotation automatic retrieval sehingga database
32

quotation yang dimiliki Perpustakaan UX dapat selalu update, fitur untuk


melakukan penjadwalan, dan berbagai fitur lainnya yang tidak terintegrasi dan
terdokumentasi dengan baik.
4.4.2. Database Terkait Fungsi Pengadaan

Database yang digunakan disimpan dalam DBMS (Database Management


System) Oracle 10.2. Pengelolaan server ditangani sendiri oleh Perpustakaan UX
dibawah Divisi System Development dan Hardware.
Database pada Perpustakaan UX ditampilkan dalam bentuk ERD (Entity
Relationship Diagram) seperti yang terlihat pada gambar dibawah.
Gambar 4-11 ERD Database Perpustakaan UX
(Sumber: data internal, diolah)
4.4.3. Rencana Pengembangan

Sistem informasi perpustakaan iSIPUX sudah tidak lagi sesuai dengan


kebutuhan Perpustakaan UX yang semakin kompleks sehingga perlu untuk
mengembangkan sistem informasi yang baru.Rencana pengembangan kedepan
Perpustakaan UX masih tetap menggunakan platform web, namun dengan
menggunakan framework dalam pengembangannya. Masalah yang selama ini
dihadapi adalah logika seorang pengembang dengan pengembang lainnya
seringkali berbeda, sehingga hal ini juga mempengaruhi gaya penulisan
algoritma seorang pengembang. Logika boleh saja berbeda, namun jika gaya
penulisan seorang dengan yang lain berbeda-beda dan masing-masing
pengembang menentukan sendiri nama variabelnya sesuai kehendaknya, maka
dapat menimbulkan masalah jika suatu saat algoritma tersebut ingin diubah dan
dikembangkan lebih jauh oleh pengembang lainnya. Penggunaan framework
diharapkan dapat meminimalisasi masalah ini.Framework yang dipilih dalam
pengembangan kedepan adalah menggunakan Yii.Framework ini dipilih terutama
karena adanya fitur Gii yang memungkinkan pengembang untuk membuat suatu
fitur dengan cepat karena proses coding-nya sebagian besar sudah di-generate
secara otomatis oleh Gii. Walaupun memang dalam prakteknya framework ini
sangat sulit untuk dipelajari dan dipahami karena kurangnya dokumentasi yang
disediakan, namun jika sudah mengerti maka akan mempercepat proses
pengembangan dan baik untuk RAD (Rapid Application Development).
Dalam hal teknologi, Perpustakaan UX juga sedang dalam proses transisi
untuk mengganti barcode yang ada dalam setiap koleksi menjadi RFID (Radio
Frequency Identification). Hal ini juga mengharuskan pembenahan sistem
informasi terutama dalam perangkat lunak yang digunakan oleh Perpustakaan
UX. Harga RFID yang semakin terjangkau membuat Perpustakaan UX memilih
untuk bergeser ke layanan RFID sehingga dapat mempercepat transaksi dan
meningkatkan keamanan.Penggunaan RFID dapat memunculkan layanan baru
seperti self-service dalam peminjaman dan pengembalian buku yang dapat
meningkatkan kepuasan pengguna.
5. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Perpustakaan Universitas
X
5.1.
Analisis Sistem Pengadaan
5.1.1. Identifikasi Masalah dalam Sistem Pengadaan Saat Ini

Hasil analisis yang dilakukan menemukan beberapa masalah dalam sistem


pengadaan saat ini yang dapat mempengaruhi keefektifan dan keefisienan kerja
bagian pengadaan:
a. Sistem informasi pengusulan tidak menyatu dengan sistem informasi
utama yang digunakan dalam Perpustakaan UX. Bukan saja dalam hal
aplikasinya yang berbeda, namun juga dalam hal database dan alamat
URL. Hal ini berdampak pada dua hal, bagi bagian pengadaan sendiri
33

b.

c.

d.

e.

f.

hal ini merupakan ketidakefisienan karena usulan koleksi yang disetujui


di sistem informasi pengusulan harus dimasukkan secara manual
kembali dalam sistem informasi utama perpustakaan untuk dapat
diproses lebih lanjut. Bagi pengguna pun, sistem yang berbeda ini
merupakan ketidakefektifan karena pengguna yang sudah familiar
dengan sistem informasi utama tidak tahu menahu adanya sistem
informasi terpisah ini sehingga tidak jarang pengguna yang masih
menulis usulan dengan cara manual atau tidak mau mengusulkan
karena prosesnya terlalu panjang karena tidak tahu bahwa saat ini
sudah ada aplikasi yang praktis.
Sistem informasi pengusulan hanya dapat digunakan oleh dosen atau
karyawan, sedangkan untuk mahasiswa dan pengguna luar hanya
dapat mengusulkan buku melalui cara manual. Hal ini sedikit banyak
mengurangi keinginan mahasiswa untuk melakukan pengusulan
bahkan mereka yang sering ke perpustakaan dan mengetahui ada
formulir untuk melakukan pengusulan sekalipun. Beberapa alasan yang
diutarakan adalah letak pengambilan formulir adalah di meja sirkulasi
saat pengunjung meminjam buku atau keluar dari area perpustakaan.
Biasanya walaupun mereka melihat ada formulir usulan, mereka tidak
akan menghiraukannya atau malas menulis karena sudah terburu-buru
keluar entah untuk mengikuti kuliah berikutnya atau acara lain. Dari
mahasiswa yang diwawancara, hampir semuanya menyatakan tidak
kepikiran untuk mengambilnya, mengisinya di rumah, dan
memasukkannya ketika ada waktu atau menyatakan akan sangat
kompleks dan membebankan jika mereka melakukan hal tersebut.
Mereka justru membutuhkan formulir pengusulan bukan di area keluar,
namun saat mencari di katalog dan tidak menemukan koleksi yang
mereka inginkan.
Sebenarnya cara manual tidak terlalu menjadi masalah bagi
mahasiswa pengusul yang gemar membaca buku, namun proses
pengusulan manual jauh lebih lama daripada proses pengusulan secara
online. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan mengusulkan buku
secara manual dapat mencapai waktu tunggu enam bulan untuk dapat
diproses dalam tahap selanjutnya sedangkan dengan cara online
dalam satu hari sudah dapat diproses. Dampaknya bisa saja pengguna
yang membutuhkan buku tersebut untuk suatu mata kuliah atau tugas
misalnya, tidak akan dapat mempergunakan buku tersebut di semester
itu.
Mahasiswa yang membutuhkan suatu koleksi dan tahu bahwa koleksi
tersebut akan berguna bagi yang lain juga namun yang tidak tertarik
dengan dunia membaca, lebih memilih untuk tidak melakukan
pengusulan buku walaupun nantinya mahasiswa tersebut dapat
melakukan pengusulan buku secara online. Alasannya sangat
sederhana, yaitu malas dan terlalu meributkan. Alasan lainnya adalah
kadangkala mereka hanya mengerti topik yang sering dicari oleh
mahasiswa karena berhubungan dengan mata kuliah mereka, namun
judulnya mereka tidak tahu sehingga mereka juga kebingungan akan
mengusulkan hal apa.
Respon program di bagian pengadaan sangat lambat. Hanya untuk
membuka halaman utama bagian inventori saja dapat memakan waktu
satu hingga empat menit sehingga menurunkan efisiensi waktu
pengerjaan tugas.
Program untuk membuat beberapa laporan untuk keperluan
pengadaan tidak dapat diakses secara langsung di program utama
34

bagian pengadaan sehingga jika bagian pengadaan membutuhkan


laporan yang dimaksud maka bagian pengadaan perlu mencari terlebih
dahulu dimana alamat untuk mengakses laporan tersebut.
g. Tidak ada sistem otomatis yang melakukan kontrol terhadap anggaran
pembelian koleksi per departemen. Anggaran yang ada diberikan dan
disusun ulang per tahun ajaran. Masalah yang sering terjadi adalah
terlalu banyak memesan koleksi pada semester awal yang tidak
dikontrol dengan baik sehingga pada semester berikutnya
anggarannya sudah habis dan petugas akan kebingungan
mengalokasikan pembelian tersebut pada anggaran lainnya. Hal lain
yang juga sering terjadi adalah hingga masa anggaran akan berakhir,
anggaran yang tersedia masih sangat banyak dan tidak digunakan.
Salah satu mengapa hal ini dapat terjadi adalah karena jurusan tidak
diberitahukan ada berapa sisa anggaran untuk pembelian koleksi
sehingga jurusan mengira bahwa anggarannya sudah habis untuk
pembelian koleksi waktu awal tiap semester.
5.1.2. Usulan Perbaikan Sistem Pengadaan

5.2.

Analisis Sistem Pengolahan

5.2.1. Identifikasi Masalah dalam Sistem Pengolahan Saat Ini

Hasil analisis yang dilakukan menemukan beberapa masalah dalam sistem


pengolahan saat ini yang dapat mempengaruhi keefektifan dan keefisienan kerja
bagian pengolahan:
a. Bagian pemrosesan yang memakan waktu paling lama adalah
menentukan subyek dan nomor katalog koleksi. Untuk mencari subjek
yang tepat, seringkali bagian pengolahan harus berkonsultasi dengan
dosen yang ahli di bidang tersebut dan mencari nomor
pengklasifikasian pada dokumen DDC yang tebalnya mencapai ribuan
halaman yang terbagi dalam lima volume dokumen.
b. Pengambilan gambar buku atau koleksi tidak dijalankan dan tidak ada
fitur memasukkan gambar. Hal ini sebenarnya bertolak belakang
dengan informasi apa saja yang ditampilkan dalam katalog
perpustakaan. Pada katalog seharusnya terdapat kolom untuk
menampilkan gambar, namun isinya selalu picture not found. Akan
lebih baik jika kolom ini dihilangkan saja jika memang tidak ada cover
buku yang akan ditampilkan. Namun berdasarkan penelitian penulis
tentang kepuasan pengguna dalam menggunakan katalog digital,
nampaknya cover buku memainkan peranan yang sangat besar bagi
kemudahan dan ketertarikan pengguna menggunakan layanan katalog
perpustakaan.
c. Pengguna yang mengetahui adanya kesalahan dalam data-data
katalog tidak dapat memberikan respon secara langsung terkait koleksi
tersebut. Akibatnya pengguna malas untuk melaporkan kesalahan
metadata yang ada walaupun mereka mengetahuinya.
d. Respon program yang sangat lambat di bagian pengolahan terutama
bagian pemrosesan yang dapat mengurangi efisiensi kerja bagian
pengolahan. Hanya untuk membuka menu utama fitur pemrosesan,
dapat memakan waktu satu hingga empat menit.
e. Program untuk membuat beberapa laporan untuk keperluan
pengolahan tidak dapat diakses secara langsung di program utama
bagian pengadaan sehingga jika bagian pengolahan membutuhkan
laporan yang dimaksud maka bagian pengolahan perlu mencari
terlebih dahulu dimana alamat untuk mengakses laporan tersebut.
f. Negara pada formulir penerbit berupa kolom isian dan bukan berupa
dropdown menu. Hal ini terlihat minor namun akan berbahaya dan
35

menyulitkan proses tracing jika misalnya suatu saat pengguna ingin


mengetahui penerbit mana saja yang berasal dari suatu negara
tertentu. Dengan struktur yang beruba textfield tentu saja resiko
terjadinya mistyped akan semakin besar.
g. Pengolahan digital yang tidak terintegrasi dengan database utama
tempat katalog berada mengakibatkan update data yang terjadi tidak
dilakukan secara real time. Programmer perlu melakukan sinkronisasi
database tiap beberapa bulan sekali untuk mentransfer data dari
software pengolahan digital ke database utama. Hal ini tentu saja time
consuming dan peluang terjadinya data yang tidak sinkron sangat
besar karena berbicara tentang dua database yang berbeda. Belum
lagi banyaknya kasus dimana pengguna yang pada mulanya
mengijinkan publikasi karya ilmiahnya di katalog digital, secara tibatiba mengajukan permohonan untuk menutup publikasi tersebut dari
Internet karena alasan hak cipta, dituntut perusahaan, dan sebagainya.
Respon bagian pengolahan terhadap hal ini bisa mencapai mingguan
bahkan bulanan. Sebenarnya bagian pengolahan digital tinggal
mengubah status koleksi digitalnya saja menanggapi permintaan ini
dimana waktu yang dibutuhkan tidak akan lebih dari tiga menit, namun
karena database yang ada terpisah otomatis perubahan status yang
ada menunggu hingga terjadinya proses transfer ulang atau jika mau
cepat berarti harus meminta campur tangan programmer untuk
langsung mengubah datanya pada database secara langsung. Dengan
programmer langsung mengubah data pada database secara langsung
(menggunakan perintah query), maka resiko kesalahan operasi akan
semakin besar karena hal ini menuntut kehati-hatian programmer.
Belum lagi adanya beberapa database yang tidak bisa melakukan
perintah commit untuk menanggapi perubahan atau invert untuk
kembali pada kondisi semula sebelum diubah.
h. Penilaian kinerja mahasiswa paruh waktu masih dilakukan secara
manual dalam hal mengolah data digital. Hal ini kerap kali
dimanfaatkan oleh mahasiswa paruh waktu untuk melakukan tindakan
fraud. Pengolahan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu
sepuluh menit bisa saja ditulis pada lembar kerja sebagai dua puluh
menit untuk memperbesar honor. Petugas perpustakaan juga tidak
akan dapat mengecek kebenaran hal ini karena tidak adanya sistem
login yang mencatat apa yang dilakukan mahasiswa paruh waktu
sebenarnya. Pengukuran kinerja dan peningkatan kinerja masingmasing mahasiswa paruh waktu pun tidak dapat dilakukan dengan baik
dan seringkali terjadi bias. Penilaian kinerja saat ini hanya berbasiskan
berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh tiap
mahasiswa, namun penilaian ini terdapat kelemahan. Misalnya seorang
mahasiswa paruh waktu bekerja selama 40 jam dalam seminggu
karena jam kuliahnya yang tidak padat menyelesaikan 40 pekerjaan
dibandingkan dengan mahasiswa lain yang bekerja 20 jam dalam
seminggu namun menyelesaikan 32 pekerjaan, penilaian yang lebih
tinggi adalah pada yang bekerja 40 jam dan menyelesaikan 40
pekerjaan. Padahal jika dihitung dalam akuntansi, maka mahasiswa
yang pertama ini sebenarnya bekerja dengan tidak efisien namun
karena jumlah jamnya banyak maka mendapat penghargaan lebih.
Pula sebenarnya tidak masuk akal jika satu pekerjaan membutuhkan
waktu satu jam, namun dalam pengamatan yang dilakukan, memang
hal demikian terjadi. Hal ini bukan dikarenakan kemampuan mahasiswa
pertama dalam melakukan pemrosesan lebih rendah daripada
36

i.

mahasiswa yang kedua, namun mahasiswa yang pertama berlaku


curang dengan tetap berada dalam perpustakaan untuk memperbesar
jam mereka namun tidak melakukan pekerjaan pengolahan digital
namun melakukan aktivitas lain seperti menonton movie, mengerjakan
tugas kuliahnya, dan lain sebagainya.
Apa yang dilakukan oleh mahasiswa paruh waktu pada bagian
pengolahan digital boleh dikatakan tidak efisien. Hal ini dikarenakan
mereka hanya memberikan semacam watermark dan melakukan link
daftar isi terhadap dokumen digital yang ada. Sebenarnya hal
semacam ini dapat dilakukan otomatis oleh teknologi terkini sehingga
waktu yang dibutuhkan untuk memproses satu koleksi digital dapat
dipersingkat.

5.2.2. Usulan Perbaikan Sistem Pengolahan

5.3.

Analisis Sistem Sirkulasi

5.3.1. Identifikasi Masalah dalam Sistem Sirkulasi Saat Ini

Hasil penelitian yang dilakukan memperlihatkan beberapa masalah yang


berlangsung dalam sistem sirkulasi saat ini yang dapat mempengaruhi
keefektifan dan keefisienan kinerja sistem sirkulasi:
a. Layanan yang diberikan pada konsumen maksimal adalah satu menit,
namun tidak ada sistem yang mengukur hal ini. Dahulu pernah
diterapkan metode untuk mengukur lamanya layanan referensi
menggunakan stop watch, namun kemudian metode ini dihentikan
karena kurangnya sumber daya manusia yang mengukur.
b. Data buku untuk pameran tidak terkoneksi dengan data yang ada di
database. Buku baru oleh bagian pengolahan akan dipajang pada
etalase selama satu minggu, setelah itu buku-buku tersebut tidak
langsung diletakkan pada rak namun diletakkan pada rak sirkulasi.
Dalam database tentu saja status buku ini available, sehingga banyak
pengunjung yang menyanyakan mengapa buku tidak ada di raknya.
Buku-buku tersebut diletakkan dalam rak dengan tujuan jika pengusul
buku tersebut ingin meminjam, maka tidak perlu mencarinya di rak
namun dapat langsung mencarinya pada meja sirkulasi sebagai bentuk
terima kasih perpustakaan karena mau memberikan kontribusi berupa
masukan. Namun seringkali buku-buku ini tidak dipinjam oleh
pengusulnya sehingga terus menumpuk dan tidak dikembalikan.
c. Tidak adanya sistem untuk mendapatkan masukan dari pengguna.
Selama ini masukan yang ada hanya disediakan dalam bentuk kertas di
meja sirkulasi namun tidak pernah ada yang memasukkan saran.
Kemudian perpustakaan berusaha mengganti metode yang ada
dengan kotak satisfied dissatisfied untuk menyederhanakan saran
dan memancing lebih banyak respon pengguna, namun dari penelitian
yang dilakukan penulis seringkali kotak ini dibuat main oleh
pengguna dengan memasukkan
banyak
sekali kartu
yang
menyebabkan hasil kotak ini tidak valid. Namun selama ini hasil
penghitungan kotak ini langsung dinilai apa adanya dan menjadi
laporan bulanan dan tahunan.
d. Sistem absensi atau counter pengunjung tidak terintegrasi dengan
database perpustakaan. Hal ini berimplikasi pada susahnya mengolah
data pengunjung perpustakaan. Misalnya perpustakaan membutuhkan
data kapan saja waktu yang ramai dikunjungi, staf perpustakaan perlu
37

melakukan fetch data secara terpisah yang memerlukan waktu lebih


lama karena harus melakukan proses transfer dan sebagainya. Pula
analisis data hanya bisa dilakukan dalam lingkup yang sempit saja.
Misalnya perpustakaan ingin membuat sistem data mining dimana
menghubungkan jam kunjungan, lama kunjungan, dan peminjaman
buku, hal ini tidak akan dapat dilakukan karena terpisahnya data satu
dengan yang lain.
e. Surat penagihan dan surat pemberitahuan masa pinjaman akan habis
sudah dikirimkan lewat email namun pengiriman ini tidak dicatat dan
tidak diperiksa apakah email tersebut setidaknya sudah terkirim atau
mengalami bounce back. Dalam hal ini, bagian sirkulasi tidak akan
memiliki bukti yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa email
tersebut sudah terkirim secara otomatis karena tidak ada arsipnya.
f. Segala macam pemberitahuan Perpustakaan UX kepada penggunanya
adalah dilakukan melalui email lokal universitas. Padahal menurut
penelitian yang dilakukan, email ini jarang bahkan ada beberapa
pengguna yang tidak pernah membuka email ini. Penelitian yang
dilakukan menunjukkan bahwa semua pengguna yang berupa
karyawan atau dosen melakukan pengecekan email lokal mereka
hampir setiap hari karena memang dituntut demikian. Namun bagi
mahasiswa, pengecekan email ini biasanya dilakukan jika ingin
mengirimkan tugas pada dosen atau bahkan tidak pernah dibuka sama
sekali. Beberapa mahasiswa juga mengaku bahwa mereka sudah lupa
dengan password akun lokal mereka. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa
pengiriman pemberitahuan terhadap mahasiswa melalui email lokal
mereka sangat tidak efektif.
5.3.2. Usulan Perbaikan Sistem Sirkulasi

5.4.

Analisis Sistem Referensi

5.4.1. Identifikasi Masalah dalam Sistem Referensi Saat Ini

Hasil penelitian yang dilakukan berhasil mengidentifikasi beberapa


masalah yang dapat berpengaruh pada keefektifan dan efisiensi sistem referensi
saat ini:
a. Pembuatan surat ke luar institusi dilakukan secara manual dengan
memanfaatkan program Microsoft Word, sebenarnya hal ini terlalu
memakan waktu lama dan pencatatan pemesanan juga dilakukan
secara manual. Pengunjung tidak dapat menunggu surat yang
dipesannya langsung jadi karena prosesnya memakan waktu lama,
pula terdapat resiko bagian referensi melupakan tugasnya ini karena
tertumpuk dengan pekerjaan yang lain.
b. Bagian referensi juga bertanggung jawab atas berita-berita tentang
perpustakaan yang diberikan kepada publik. Bagian ini seringkali
kesusahan dalam melakukan maintenance berita karena terdapat
beberapa situs dan social media yang harus di-update secara
bersamaan. Belum lagi terdapat banyak akun yang harus diperiksa
untuk melihat apakah ada pesan yang masuk atau tidak. Pekerjaan ini
tentunya time consuming dan membuat job description yang lain
semakin menumpuk.
c. Bagian referensi juga bertanggung jawab dalam pertukaran koleksi
yang dimiliki perpustakaan. Bagian ini juga menerima permintaan dari
pengguna
jika
pengguna
membutuhkan
suatu
referensi.
Permasalahannya adalah ketika pengguna menginginkan suatu koleksi,
38

maka bagian referensi akan membuka situs perpustakaan mitra dan


mulai mencari satu per satu apakah perpustakaan mitra mempunyai
koleksi yang dibutuhkan pengguna tersebut. Hal ini tentunya juga time
consuming melihat jumlah permintaan pengguna terhadap suatu
koleksi semakin meningkat dan pengguna juga tidak sebatas pengguna
dari dalam universitas juga.
d. Perpustakaan juga memiliki banyak sekali koleksi electronic book dan
berbagai dokumen elektronik lainnya yang memang hanya
diperuntukkan untuk penggunaan internal saja. Namun tidak ada
database untuk menelusuri koleksi ini sehingga jika pengguna ingin
mencari suatu koleksi, maka pengguna harus mencarinya secara
manual melalui daftar yang dicetak. Daftar ini tidak dicetak
berdasarkan urutan abjad judul atau pengarang, namun tidak
beraturan sesuai dengan nama media penyimpanannya. Pengguna
tentu saja menjadi malas untuk melakukan pencarian karena memakan
waktu dan mungkin apa yang dicarinya akan terlewatkan.
5.4.2. Usulan Perbaikan Sistem Referensi

5.5.
5.6.

Analisis Kebutuhan Sistem


Analisis dan Perancangan Database

5.6.1. Identifikasi Masalah dalam Struktur Database Saat Ini


5.6.2. Usulan Database

5.7.

Konklusi

5.7.1. Konklusi Studi Kasus


5.7.2. Konklusi Model untuk Replikasi

39

DAFTAR PUSTAKA
Ammerman, J. 2011. Library Technology Services at Boston University: An Un-roadmap.
Andaleeb, S.S., dan P.L. Simmonds. 1998. Explaining User Satisfaction with Academic
Libraries: Strategic Implications. College and Research Libraries Volume 59 Issue
2: 156-167.
Bao, X.M. 1998. Challenges and Opportunities: A report of the 1998 Library Survey of
Internet Users at Seton Hall University. College and Research Libraries Volume 59
Issue 6: 534-542.
Beck, T. 2009.Web 2.0: User-Generated Content in Online Communities. GRIN Publishing:
USA.
Bell, S.J., C.C. Kardon. 1998. Making the Library Management Systems Acquisition:
Achieving Resolution of a Tough Decision. College and Research Libraries Volume
59 Issue 4: 347-360.
Benaud, C., dan S. Bordeianu. 1998. Outsourcing Library Operations in Academic
Libraries: An Overview of Issues and Outcomes. Libraries Unlimited: Englewood,
USA.
Bessis, N., E. Assimakopoulou, M.E. Aydin, dan F. Xhafa. 2011. Utilizing Next Generation
Emerging Technologies for Enabling Collective Computational Intelligence in
Disaster Management. Next Generation Data Technologies for Collective
Computational Intelligence: 503-526.
Billings, H. 1998. Libraries, Language, and Change: Defining the Information Present.
College and Research Libraries Volume 59 Issue 3: 212-218.
Blecic, D.D., N.S. Bangalore, J.L. Dorsch, C.L. Henderson, M.H. Koenig, dan A.C. Weller.
1998. Using Transaction Log Analysis to Improve OPAC Retrieval Results. College
and Research Libraries Volume 59 Issue 1: 39-50.
Boder, A. 2006. Collective Intelligence: A Keystone in Knowledge Management. Journal of
Knowledge Management Vol. 10 No. 1 2006: 81-93.
Bonabeau, E. 2009. Decisions 2.0: The Power of Collective Intelligence. MIT Sloan
Management Review Volume 50 Nomor 2: 45-52.
Bothos, E., D. Apostolou, dan G. Mentzas. 2009. Collective Intelligence for Idea
Management with Internet-Based Information Aggregation Markets. Internet
Research Volume 9 Issue 1: 26-41.
Bourne, C.P., dan T.B. Hahn. 2003. A History of Online Information Services 1963-1976.
Massachusetts Institute of Technology: USA.
Bowker, R.R. 1984. The Bowker Annual of Library & Book Trade Information. R.R. Bowker:
USA.
Brancheau, J.C., dan J.C. Wetherbe. 1987. Key Issues in Information Systems
Management. MIS Quarterly Vol 11 Issue 1: 23-45.
Brewer, J. 1998. Post-Masters Residency Programs: Enhancing the Development of New
Professionals and Minority Recruitment in Academic and Research Libraries.
College and Research Libraries Volume 59 Issue 6: 528-537.
Brody, T., S. Kampa, S. Harnad, L. Carr, dan S. Hitchcock. 2003. Digitometric Services for
Open Archives Environments. Research and Advanced Technology for Digital
Libraries 7th European Conference, ECDL 2003, Trondheim, Norway, August 2003
Proceedings: 207-220.
Budzise-Weaver, T., J. Chen, dan M. Mitchell. 2012. Collaboration and Crowdsourcing: The
Cases of Multilingual Digital Libraries. The Electronic Library Volume 30 Issue 2:
220-232.
Burnam, P.D. 1998. Private Liberal Arts Colleges and the Costs of Scientific Journals: A
Perennial Dilemma. College and Research Libraries Volume 59 Issue 5: 406-420.
Buttlar, L., dan R. Garcha. 1998. Catalogers in Academic Libraries: Their Evolving and
Expanding Roles. College and Research Libraries Volume 59 Issue 4: 311-321.
Casey, C. 1998. The Cyberarchive: A Look at the Storage and Preservation of Web Sites.
College and Research Libraries Volume 59 Issue 4: 304-310.
Chandra, R., dan A.P. Shrivastava. 2003. Informkation Preservation and Library
Management. Kalpaz Publications: Delhi, India.

40

Chen, C. 2007. Holistic Sense-Making: Conflicting Opinions, Creative Ideas, and Collective
Intelligence. Library Hi-Tech Volume 25 Issue 3: 311-327.
Clougherty, L., J. Forys, T. Lyles, D. Persson, C. Walters, dan C.W. Hoagland. 1998. The
University of Iowa Libraries Undergraduate User Needs Assessment. College and
Research Libraries Volume 59 Issue 6: 571-583.
Congia, S., M. Gaylord, B. Merchant, dan H. Suleman.2004. Applying SOAP to OAI-PMH.
Research and Advanced Technology for Digital Libraries 8 th European Conference,
ECDL 2004, Bath, UK, September 2004 Proceedings: 411-420.
Croneberger, R.B. 1989. External Influences on Public Library Management in the 21 st
Century. Managing Public Libraries in the 21st Century: 209-215.
Currie, W.L. 2004. Value Creation from the Application Service Provider E-Business Model:
The Experience of Four Firms. Journal of Enterprise Information Management
Volume 17 Issue 2: 117-130.
Czernicki, B. 2009.Next-Generation Business Intelligence Software with Silverlight 3:
Create A Rich , Visual Platform for Real-Time Business Insight. Apress: New York,
USA.
Das, J.P. 1984. Cognitive Deficits in Mental Retardation: A Process Approach. Learning and
Cognition in the Mentally Retarded: 115-128.
Davenport, T.H., dan L. Prusak. 1998. Working Knowledge: How Organizations Manage
What They Know. President and Fellows of Harvard College: USA.
Davenport, T.H. 2010. Helping Organizations Develop Better Judgment. Harvard Business
Review January February 2010: 59.
Delgadillo, R., dan B.P. Lynch. 1999. Future Historians: Their Quest for Information.
College and Research Libraries Volume 60 Issue 3: 245-259.
Dickstein, R., dan V. Mills. 2000. Usability Testing at the University of Arizona Library: How
to Let the Users in on the Design. Information Technology and Libraries Volume 19
Issue 3: 144-151.
Doherty, N.A. 2000. Integrated Risk Management: Techniques and Strategies for
Reducing Risk. McGraw-Hill: USA.
Drucker, P.F. 1974. Management: Task, Responsibilities, Practices. ButterworthHeinemann: Oxford.
DuBrin, A. 2008.Essentials of Management 8th Edition. Cengage Learning: Mason.
Dunkle, C.B. 1996. Outsourcing the Catalog Department: A Meditation Inspired by the
Business and Library Literature.The Journal of Academic Librarianship Vol 22 Issue
1: 33-44.
Evans, E.C., dan C.A. Butler. 2010. Why do Bees Buzz? Fascinating Answers to Questions
about Bees.Rutgers Press: USA.
Ferguson, C.D., dan C.A. Bunge. 1997. The Shape of Services to Come: Values-Based
Reference Service for the Largely Digital Library. College and Research Libraries
Volume 58 Issue 3: 252-265.
Ford, C.E., dan S.P. Harter. 1998. The Downside of Scholarly Electronic Publishing:
Problems in Accessing Electronic Journals through Online Directories and Catalogs.
College and Research Libraries Volume 59 Issue 4: 335-346.
Foulonneau, M., dan F. Andre. 2008. Investigative Study of Standards for Digital
Repositories and Related Services. Amsterdam University Press: Amsterdam.
Fujiwara, Y., Y. Suzuki, Y. Konishi, dan A. Nadamoto. Extracting Different Information from
Multilingual Wikipedia.Web Technologies and Applications: 14th Asia-Pacific Web
Conference, APWeb 2012, Kunming, China, April 2012 Proceedings: 496-503.
Garrido, P. 2009. Business Sustainability and Collective Intelligence.The Learning
Organization Vol. 16 No. 3, 2009: 208-222.
Gerhard, K.H., M.C. Su, dan C.C. Rubens. 1998. An Empirical Examination of Subject
Headings for Womans Studies Core Materials. College and Research Libraries
Volume 59 Issue 2: 129-137.
Gillin, P, dan E. Schwartzman. 2011. Social Marketing to the Business Customer: Listen to
Your B2B Market, Generate Major Account Leads, and Build Client Relationships.
John Wiley & Sons: Hoboken, USA.
Goldberg, T. dan K. Womack. 1999. Application Practices of Recent Academic Library
Appointees. College and Research Libraries Volume 60 Issue 1: 71-77.

41

Greer, R.C., R.J. Grover, dan S.G. Fowler. 2007. Introduction to the Library and
Information Professions. Libraries Unlimited: Westport, USA.
Grimes, D.J. 1998.Academic Library Centrality: User Success through Service, Access,
and Tradition. Association of College and Research Libraries: USA.
Grunig, R., dan R. Kuhn. 2009. Successful Decision-Making: A Systematic Approach to
Complex Problems. Springer-Verlag: Berlin.
Gupta, B., L.S. Iyer, dan J.E. Aronson. 2000. Knowledge Management: Practices and
Challenges. Industrial Management & Data Systems Volume 100 Issue 1: 17-21.
Hariri, N, dan Y. Norouzi. 2011. Determining Evaluation Criteria for Digital Libraries User
Interface: A Review. The Electronic Library Volume 29 Issue 5: 698-722.
Hazarika, T. 2012. Web 2.0 and Library 2.0: A Survey of the University Libraries in NE
India. Eight Convention Planner 2012 Sikkim University Proceedings: 125-137.
He, D. 2012.Multilinguality in Digital Libraries.The Electronic Library Volume 30 Issue 2.
Heckart, R.J. 1998. Machine Help and Human Help in the Emerging Digital Library. College
and Research Libraries Volume 59 Issue 3: 250-259.
Hernon, P., dan E. Altman. 2010. Assesing Service Quality: Satisfying the Expectations of
Library Customers 2nd Edition. American Library Association: USA.
Hernon, P., dan J.R. Whitman. 2001. Delivering Satisfaction and Service Quality: A
Customer-Based Approach for Libraries. American Library Association: USA.
Hightower, C., J. Sih, dan A. Tilghman. 1998. Recommendations for Benchmarking Web
Site Usage among Academic Libraries. 1998. College and Research Libraries
Volume 59 Issue 1: 61-79.
Hirshon, A. 1983.Integrated Library Information Systems in ARL Libraries.OMS Systems
and Procedures Exchange Center January 1983.
Holman, N. 1989.Forces for Change in the Future of Collective Bargaining in Public
Libraries.Managing Public Libraries in 21st Century: 53-66.
Hurd, J.M., D.D. Blecic, dan R. Vishwanatham. 1999. Information Used by Molecular
Biologists: Implications for Library Collections and Services. College and Research
Libraries Volume 60 Issue 1: 31-43.
Iivari, J. 2004. Information Systems as A Design Science. Information Systems
Development Advances in Theory, Practice, and Education: 15-28.
Ilon, L. 2012. How Collective Intelligence Redifines Education. Advances in Collective
Intelligence 2011: 91-102.
Jakobson, G., dan G. Pathak. Correlation Dial Tone Building Internet-Based Distribution
Event Correlation Services.Trends in Distributed Systems: Towards A Universal
Service Market, Third International IFIP/GI Working Conference, USM 2000 Munich
Germany, September 2000, Proceedings: 93-105.
Jedrzejowicz, P. 2009. A-Teams and Their Applications.Computational Collective
Intelligence Semantic Web, Social Networks and Multiagent System First
International Conference, ICCCI 2009, Wroclaw, Poland, October 2009
Proceedings: 36-50.
Johnson, R.E. 2012. Crowdsourcing and Library 2.0.LIBR 287, SJSU.
Jordy, M.L., E.L. McGrath, dan J.B. Rutledge. 1999. Book Reviews As A Tool for Assessing
Publisher Reputation. College and Research Libraries Volume 60 Issue 2: 132-142.
Jurkowski, O.L. 2010.Technology and the School Library: A Comprehensive Guide for
Media Specialists and Other Educators. Scarecrow Press: Maryland.
Kao, M.L. 2001.Cataloging and Classification for Library Technicians. Haworth Press: New
York, USA.
Kato, M. 2009. Womans Right? The Politics of Eugenic Abortion in Modern Japan.
Amsterdam University Press: Amsterdam.
Kerckhove, D.D. 1998. Connected Intelligence: The Arrival of Web Society. Kogan Page:
Indiana.
Kim, P., D. Lee, Y. Lee, C. Huang, dan T. Makany. 2011. Collective Intelligence Ratio:
Measurement of Real-Time Multimodal Interactions in Team Projects. Team
Performance Management Volume 17 Issue 1/2: 41-62.
King, D.L. 1998. Library Home Page Design: A Comparison of Page Layout for Front Ends
to ARL Library Web Sites. College and Research Libraries Volume 59 Issue 5: 457464.

42

Kirkpatrick, T.E. 1998. The Training of Academic Library Staff on Information Technology
within the Libraries of the Minnesota State Colleges and Universities System.
College and Research Libraries Volume 59 Issue 1: 51-59.
Klein, B.D. 2000. Undergraduate versus Graduate Perceptions of Internet Information
Quality.Challenges of Information Technology Management in 21 st Century: 729730.
Kochtanek, T.R., dan J.R. Matthews. 2002. Library Information Systems: From Library
Automation to Distributed Information Access Solutions. Libraries Unlimited:
Westport, USA.
Koontz, C., dan B. Gubbin. 2010. IFLA Public Library Service Guidelines 2 nd Completely
Revised Edition. IFLA Publications: Munchen, Germany.
Koren, M. 2004. Creating Public Paradise: Building Public Libraries in the 21 st Century.
Vereniging van Openbare Bibliotheken: Den Haag.
Kouris-Blazos, A. 2011.Evaluating the Realibility of Nutrition Information.Food & Nutrition:
Food and Health Systems in Australia and New Zealand 3rd Edition: 11-20.
Lancaster, F.W., dan B. Sandore. 1997. Technology and Management in Library and
Information Services. University of Illinois: Champaign, USA.
Lancaster, F.W., dan A. Warner. 2001. Intelligent Technologies in Library and Information
Service Applications. American Society for Information Science and Technology:
New Jersey, USA.
Laube, D., dan R. Zammuto. 2003. Business Driven Information Technology: Answers to
100 Critical Questions for Every Manager. Stanford University Press, Stanford,
USA.
Levy, P. 2011. Toward A Science of Collective Intelligence.Common Knowledge: The
Challenge of Transdisciplinarity: 165-196.
Levy, P. 2009. Toward A Self-Referential Collective Intelligence: Some Philosophical
Background of the IEML Research Program. Computational Collective Intelligence
Semantic Web, Social Networks and Multiagent System First International
Conference, ICCCI 2009, Wroclaw, Poland, October 2009 Proceedings: 22-35.
Lewis, C. 2007. Get Group Agreement Fast.Human Resource Management International
Digest Volume 15 Issue 4: 3-4.
Liebowitz, J., dan K. Wright. 1999. Does Measuring Knowledge Make Cents? Expert
Systems with Application Volume 17 Issue 2: 99-103.
Lih, A. 2009.The Wikipedia Revolution: How A Bunch of Nobodies Created the Worlds
Greatest Encyclopedia. Hyperion: Michigan, USA.
Lindauer, B.G. 1998. Defining and Measuring the Librarys Impact on Campuswide
Outcomes. College and Research Libraries Volume 59 Issue 6: 546-570.
Luca, L., B. Stephen, dan D. Pierpaolo. 2009. Information Foraging Theory as A Form of
Collective Intelligence for Social Search. Computational Collective Intelligence
Semantic Web, Social Networks and Multiagent System First International
Conference, ICCCI 2009, Wroclaw, Poland, October 2009 Proceedings: 63-74.
Ma, J.C., dan S.L. Zhang. 1999. Funds Allocation for Information Resources in Chinas Key
Universities. College and Research Libraries Volume 60 Issue 2: 174-178.
Maleewong, K., C. Anutariya, dan V. Wuwongse. 2009. SAM: Semantic Argumentation
Based Model for Collaborative Knowledge Creation and Sharing System.
Computational Collective Intelligence Semantic Web, Social Networks and
Multiagent System First International Conference, ICCCI 2009, Wroclaw, Poland,
October 2009 Proceedings: 75-86.
Malhan, I.V. 2008.Strategic Planning for Developing Indian University Libraries into
Knowledge Resource and Service Centers.Challenges for South Asian Resources
and Information Services: 120-131.
Malone, T.W., R. Laubacher, dan C. Dellarocas. 2009. Harnessing Crowds: Mapping the
Genome of Collective Intelligence. MIT Sloan School of Management (Working
Paper 4732-09).
Maries, I., dan E. Scarlat. 2011. Enhancing the Computational Collective Intelligence
within Communities of Practice Using Trust and Reputation Models. Transactions
on Computational Collective Intelligence III: 74-95.
Maxwell, N.K. 2006.Sacred Stacks: The Higher Purpose of Libraries and Librarianship.
American Library Association: USA.

43

McAfee, A. 2009.Enterprise 2.0: New Collaborative Tools for Your Organizations Toughest
Challenges. Harvard Business Press: USA.
McGovern, M. 2010. On Collective Unintelligence.On Collective Intelligence: 1-12.
Meisell, F. 2008. Service-Oriented IT-Architectures for Business Intelligence. GRIN Verlag:
USA.
Miller, J.P., dan C.R. Benefiel. Academic Librarians and the Pursuit of Tenure: The Support
Group As A Strategy for Success. College and Research Libraries Volume 59 Issue
3: 260-265.
Montagu, A. 1999.The Natural Superiority of Women 5th Edition. AltaMira Press: Walnut
Creek.
Neville, R., J. Williams III, dan C.C. Hunt. 1998. Faculty-Library Teamwork in Book
Ordering. College and Research Libraries Volume 59 Issue 6: 523-532.
Nguyen, L.A., Szalas, A. 2010. Tableaux with Global Caching for Checking Satisfiability of
A Knowledge Base in the Description Logic SH. Transactions on Computational
Collective Intelligence I: 21-38.
Nguyen, N.T., R.P. Katarzyniak, dan A. Janiak. 2009. New Challenges in computational
Collective Intelligence. Springer-Verlag: Berlin.
Nitecki, D.A. 1996. Changing the Concept and Measure of Service Quality in Academic
Libraries.The Journal of Academic Librarianship Volume 22 Issue 3: 181-190.
Noorgard, M., D. Ensor, T. Gorman, K. Hailey, A. Kolk, J. Lewis, C. McDonald, C. Millsap, J.
Morle, D. Ruthven, G.K. Vaidyanatha. 2004. Oracle Insights: Tales of the Oak
Table. Apress: USA.
Osa, J.O. 2002. The Difficult Patron Situation: Competency-Based Training to Empower
Frontline Staff. Helping the Difficult Library Patron: New Approaches to Examining
and Resolving A Long-Standing and Ongoing Problem: 263.
Oz, E. 2009.Management Information Systems 6th Edition. Course Technology: USA.
Pierce, T.J. 1978. An Empirical Approach to the Allocation of the University Library Book
Budget.Collection Management Volume 2 Issue 1: 39-58.
Poiani, A. 2012.Pragmatic Evolution: Applications of Evolutionary Theory. Cambridge
University Press: Cambridge, UK.
Poll, R., dan P. Boekhorst. 2008. Measuring Quality: Performance Measurement in
Libraries 2nd Edition. Deutsche Nationalibliothek: Neaderlands.
Quigley, M. 2004. Cyberporn Panics: Policing Pre/Pubescent Peeping. Innovations Through
Information Technology Volume 2: 382-393.
Rescher, N. 2006.Epistemetrics.Cambridge University Press: New York, USA.
Richardson, J.V. 1998. Question Master: An Evaluation of a Web-Based Decision Support
System for Use in Reference Environmnets. College and Research Libraries
Volume 59 Issue 1: 29-37.
Rosenzweig, R. 2011. Clio Wired: The Future of the Past in the Digital Age. Columbia
University Press: New York, USA.
Rowley, J. 1998. The Electronic Library. Facet Publishing: London, UK.
Rungsawang, A., A. Taweesiriwate, dan B. Manaskasemsak. 2012. Spam Host Detection
Using Ant Colony Optimization. IT Convergence and Services ITCS 2011 & IRoA
2011: 13-22.
Saffady, W. 1999. Introduction to Automation for Librarians Fourth Edition. American
Library Association: Chicago.
Schwartz, C.A. 1998. Restructuring Serials Management to Generate New Resources and
Services with Commentaries on Restructurings at Three Institutions. College and
Research Libraries Volume 59 Issue 2: 114-127.
Schwenk, C. 1998. Diversity, Eccentricity and Devils Advocacy.Strategic Decisions: 8594.
Seaman, S., C. Krismann, dan F. Hamilton. 1999. An Internal Equity Evaluation System
Based on Merit Measures. College and Research Libraries Volume 60 Issue 1: 7989.
Segaran, T. 2007. Programming Collective Intelligence: Building Smart Web 2.0
Applications. OReilly Media, Inc: Sebastopol.
Shapira, Z. 1995. Risk Taking: A Managerial Perspective. Russel Sage Foundation: New
York, USA.

44

Shelly, G.B., dan H.J. Rosenblatt. 2012. Systems Analysis and Design 9th Edition. Course
Technology: Boston, USA.
Sigelman, C.K., dan E.A. Rider. 2009. Life-Span Human Development 6th Edition.
Wadsworth Cengage Learning: Belmont.
Sompel, H.V., dan C. Lagoze. Notes from the Interoperability Front: A Progress Report on
the Open Archives Initiative. Reasearch and Advanced Technology for Digital
Libraries 6th European Conference, ECDL 2002, Rome, Italy, September 2002
Proceedings: 144-157.
Stahl, B.C. 2008. Information Systems: Critical Perspectives. Routledge: New York, USA.
Stamatoplos, A., dan R. Mackoy. 1998. Effects of Library Instruction on University
Students Satisfaction with the Library: A Longitudinal Study. College and
Research Libraries Volume 59 Issue 4: 322-333.
Stebelman, S., J. Siggins, D. Nutty, dan C. Long. 1999. Improving Library Relations with
the Faculty and University Administrators: The Role of the Faculty Outreach
Librarian. College and Research Libraries Volume 60 Issue 2: 121-130.
Sternberg, R. 1982. Handbook of Human Intelligence. Cambridge University Press: New
York, USA.
Surowiecki, J. 2005. The Wisdom of Crowds. Anchor Books: USA.
Supriyanto, W., dan A. Muhsin. 2008. Teknologi Informasi Perpustakaan: Strategi
Perancangan Perpustakaan Digital. Penerbit Kanisius: Deresan, Indonesia.
Thornton, G.A. 2000. Impact of Electronic Resources on Collection Development, the
Roles of Librarians, and Library Consortia.Library Trends Vol 48 Issue 4: 842-856.
Torres-Salinas, D., dan H.F. Moed. 2009. Library Catalog Analysis As A Tool in Studies of
Social Sciences and Humanities: An Exploratory Study of Published Book Titles in
Economics. Journal of Infometrics Vol 3 Issue 1: 9-26.
Utley, C. 2008. Business Intelligence with Microsoft Office PerformancePoint Server 2007.
McGraw-Hill Prof Med/Tech: USA.
Venkatraman, N. 2005. IT-Enabled Business Transformation: From Automation to Business
Scope Redefinition. Operations Management: A Strategic Approach: 145-163.
Wang, J., F. Ma, M. Chen, dan Y. Rao. 2012. Why and How Sleeping Beauties be
Awakened. The Electronic Library Volume 30 Issue 1: 5-18.
Weintraub, J.P. 2006. Teachings Student to Evaluate the Accuracy of Science Information
on the Internet.Handbook of College Science Teaching: 261-265.
White, G.W., dan G.A. Crawford. 1998. Cost-Benefit Analysis of Electronic Information: A
Case Study. College and Research Libraries Volume 59 Issue 5: 502-509.
Wilson, T. 1995. The Role of the Librarian in the 21 st Century: Library Association Northern
Branch Conference, Longhirst, Northumberland, 17th November 1995.
Withee, K. 2010. Microsoft Business Intelligence for Dummies. Wiley Publishing, Inc:
Hoboken.
Witt, M. 2010. Object Reuse and Exchange (OAI-ORE). Library Technology Reports
Volume 46 Issue 4.
Youngen, G.K. 1998. Citation Patterns to Traditional and Electronic Preprints in the
Published Literature. College and Research Libraries Volume 59 Issue 5: 448-456.
Zhu, Q., dan S.L. Zhang. 1998. Icreasing the Pace of an Integral Library System in China:
Moving toward the Twenty- First Century. College and Research Libraries Volume
59 Issue 2: 168-175.

45