Anda di halaman 1dari 17

BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Transkultural Keperawatan
Dosen Pembimbing :
Hiryadi, Ns., M.Kep., Sp.Kom

OLEH :
Lilis Khalisah
NPM 15142013090

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN B


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH BANJARMASIN TAHUN 2015-2016

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami sampaikan rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha


Kuasa, karena berkat rahmat dan petunjuk-Nya lah penulisan makalah ini dapat
terselesaikan.
Makalah ini disajikan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah
Transkultural Keperawatan dengan judul Budaya yang Berhubungan dengan
Kesehatan yang dibimbing oleh Bapak Hiryadi, Ns., M.Kep., Sp.Kom. Mudah
mudahan makalah ini dapat membantu para pembaca untuk memahami tentang
bagaimana budaya yang berhubungan dengan kesehatan.
Penulis menyadari sepenuhnya makalah ini belum memuat bahan makalah
secara lengkap dan mendalam. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik yang
sifatnya membangun agar sekiranya dapat memenuhi kesempurnaan tugas ini.

Banjarmasin, Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang
B. Rumusan masalah
C. Tujuan penulisan

1
2
2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebudayaan
B. Jenis Kebudayaan di Indonesia
C. Aspek-aspek budaya yang Mempengaruhi Kesehatan dan Perilaku

3
4

Kesehatan
4
D. Manfaat Petugas Kesehatan Mempelajari Kebudayaan
5
E. Contoh Budaya yang Berhubungan dengan Kesehatan serta Dampaknya6
F. Peran Perawat dalam Menghadapi Aneka Budaya
9
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

13

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan
kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai
makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat
nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu
manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang
banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal
perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan
yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan
norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu
tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan
sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat
dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses
berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif
maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya,
sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat
bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka.
Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap
kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya
mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang
1

proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau


budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kebudayaan?
2. Apa saja jenis-jenis kebudayaan di Indonesia?
3. Apa saja aspek-aspek budaya yang mempengaruhi kesehatan dan perilaku
kesehatan?
4. Apa saja manfaat petugas kesehatan mempelajari kebudayaan?
5. Bagaimana contoh dari budaya yang berhubungan dengan kesehatan serta
dampaknya?
6. Bagaimana peran perawat dalam menghadapi aneka budaya?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui budaya
yang berhubungan dengan kesehatan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui dan memahami pengertian dari kebudayaan
b. Mengetahui dan memahami jenis-jenis kebudayaan di Indonesia
c. Mengetahui dan memahami aspek-aspek budaya yang mempengaruhi
kesehatan dan perilaku kesehatan
d. Mengetahui dan memahami manfaat petugas kesehatan mempelajari
kebudayaan
e. Mengetahui dan memahami contoh dari budaya yang berhubungan
dengan kesehatan serta dampaknya
f. Mengetahui dan memahami peran perawat dalam menghadapi aneka
budaya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebudayaan
Secara sederhana kebuadayaan dapat diartikan sebagai hasil dari cipta,
karsa, dan rasa. Sebenarnya budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi
atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari
kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.

Koentjaraningrat (2002) mendefinisikan kebudayaan adalah seluruh


kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang
harus didapatkannya dengan belajar dan semuanya tersusun dalam kehidupan
masyarakat. Asalkan sesuatu yang dilakukan manusia memerlukan belajar
maka hal itu bisa dikategorikan sebagai budaya.
Taylor dalam bukunya Primitive Culture, memberikan definisi
kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung
ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan kesenian, moral, hukum,
adat-istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat
manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Herskovits, Budaya sebagai hasil karya manusia sebagai
bagian dari lingkungannya (culture is the human-made part of the
environment). Artinya segala sesuatu yang merupakan hasil dari perbuatan
manusia, baik hasil itu abstrak maupun nyata, asalkan merupakan proses untuk
terlibat dalam lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial, maka bisa
disebut budaya.

B. Jenis-jenis kebudayaan di Indonesia


1. Kebudayaan Modern
Kebudayaan modern biasanya berasal dari manca negara datang di
Indonesia merupakan budaya/ kesenian import. Budaya modern akting,
penampilan, dan kemampuan meragakan diri didasari sifat komersial.
Budaya modern lebih mengesampingkan

norma , gaya menjadi idola

masyarakat dan merupakan target sasaran Contoh : film, musik jazz.


2. Kebudayaan Tradisional
Bersumber dan berkembang dari daerah setempat. Penampilan
mengutamakan norma dengan mengedepankan intuisi bahkan bersifat
bimbingan dan petunjuk tentang kehidupan manusia. Kebudayaan
tradisional kurang mengutamakan komersial dan sering dilandasi sifat
kekeluargaan. Contoh : Ketoprak, wayang orang, keroncong, ludruk.
3. Budaya Campuran

Budaya campuran pada hakekatnya merupakan campuran budaya


modern dengan budaya tradisional yang berkembang dengan cara asimilasi
ataupun defusi. Kebudayaan campuran sudah memperhitungkan komersiel
tapi masih mengindahkan norma dan adat setempat. Contoh : Musik
dangdut, orkes gambus, campur sari.
C. Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku
Kesehatan
Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan al:
1. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi didalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat.
2. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan.
3. Sikap ethnosentris
Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika
4.
5.
6.
7.

dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain.


Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Pengaruh norma
Pengaruh nilai
Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses
sosialisasi terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap
kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang
biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya

setelah dewasa.
8. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan
Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku
kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa
yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor
yang

terlibat/berpengaruh

pada

perubahan,

dan

berusaha

untuk

memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebut.


D. Manfaat Bagi Petugas Kesehatan Mempelajari Kebudayaan

1. Didalam semua religi atau agama, ada kepercayaan tertentu yang berkaitan
dengan kesehatan, gizi, dll. Misal : orang yang beragama Islam : tidak
makan babi, sehingga dalam rangka memperbaiki status gizi, seorang
petugas kesehatan dapat menganjurkan makanan lain yang bergizi yang
tidak bertentangan dengan agamanya.
2. Dengan mempelajari organisasi masyarakat, maka petugas kesehatan akan
mengetahui organisasi apa saja yang ada di masyarakat, kelompok mana
yang berkuasa, kelompok mana yang menjadi panutan, dan tokoh mana
yang disegani. Sehingga dapat dijadikan strategi pendekatan yang lebih
tepat dalam upaya mengubah perilaku kesehatan masyarakat.
3. Petugas kesehatan juga perlu mengetahui pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan. Dengan mengetahui pengetahuan masyarakat maka petugas
kesehatan akan mengetahui mana yang perlu ditingkatkan, diubah dan
pengetahuan mana yang perlu dilestarikan dalam memperbaiki status
kesehatan.
4. Petugas kesehatan juga perlu mempelajari bahasa lokal agar lebih mudah
berkomunikasi, menambah rasa kedekatan, rasa kepemilikan bersama dan
rasa persaudaraan. Selain itu perlu juga mempelajari tentang kesenian
dimasyarakat setempat. Karena petugas kesehatan dapat memanfaatkan
kesenian yang ada dimasyarakat untuk menyampaikan pesan kesehatan.
5. Sistem mata pencaharian juga perlu dipelajari karena sistem mata
pencaharian ada kaitannya dengan pola penyakit yang diderita oleh
masyarakat tersebut.
6. Teknologi dan peralatan masyarakat setempat . Masyarakat akan lebih
mudah menerima pesan yang disampaikan petugas jika petugas
menggunakan teknologi dan peralatan yang dikenal masyarakat.
E. Contoh Budaya yang Berhubungan dengan Kesehatan dan Dampaknya
1. Kerokan Saat Masuk Angin
Kebudayaan-kebudayaan ini dapat dilihat dalam kehidupan seharihari seperti halnya jika salah seorang anggota keluarga menderita suatu
penyakit (misal demam karena masuk angin) hal yang pertama dilakukan
sebelum pergi ke dokter pastilah mencoba untuk menyembuhkannya.
Misal dengan kerokan. Ini adalah ciri dari sebuah kebudayaan yang

sangaterat hubungannya dengan kesehatan. Dimana anggapan masyarakat


mengenai demam karenamasuk angin ini akan hilang apabila angin di
dalam tubuh keluar. Maka kerokan adalah hal yang paling masuk akal bagi
mereka dan tanpa mereka ketahui pula bahwa kerokan ini memilikidampak
yang negatif bagi tubuh kita. Karena pori-pori dalam tubuh akan terbuka
dan terluka. Namun dibalik efeknya yang negatif ini tidak bisa kita
pungkiri

bahwa

jasanya

sangat

besar,karena

terbukti

dapat

menyembuhkan.Akibat hal inilah banyak masyarakat yang cenderung


memegang kokoh prinsip ini. Dimana angin yang terlalu banyak di dalam
tubuh hanya dapat dikeluarkan dengan kerokan yang bertujuan membuka
pori-pori dan mengeluarkan udara yang mengumpul di dalam tubuh.
2. Kebudayaan Ibu Bersalin
Salah satu contoh budaya dalam masyarakat adalah budaya yang
dianut ketika si ibu akan melahirkan/bersalin. Pada beberapa masyarakat
tradisional di Indonesia kita bisa melihat konsepsi budaya yang terwujud
dalam perilaku berkaitan dengan kebudayaan ibu bersalin yang berbeda,
dengan konsepsi kesehatan modern. Beberapa hal yang dilakukan oleh
masyarakat pada ibu bersalin:
a. Minum rendaman air rumput Fatimah akan merangsang mulas.
Memang, rumput Fatimah bisa membuat mulas pada ibu hamil, tapi
apa kandungannya belum diteliti secara medis. Rumput fatimah atau
biasa disebut Labisia pumila ini, berdasarkan kajian atas obat-obatan
tradisional di Sabah, Malaysia, tahun 1998, dikatakan mengandung
hormon oksitosin yang dapat membantu menimbulkan kontraksi.
Tapi, apa kandungan dan seberapa takarannya belum diteliti secara
medis. Jadi, harus dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum
meminumnya. Karena, rumput ini hanya boleh diminum bila
pembukaannya sudah mencapai 3-5 cm, letak kepala bayi sudah
masuk panggul, mulut rahim sudah lembek atau tipis, dan posisi
ubun-ubun kecilnya normal. Jika letak ari-arinya di bawah atau
bayinya sungsang, tak boleh minum rumput ini karena sangat bahaya.
Terlebih jika pembukaannya belum ada, tapi si ibu justru dirangsang

mulas pakai rumput ini, bisa-bisa janinnya malah naik ke atas dan
membuat sesak nafas si ibu. Mau tak mau, akhirnya dilakukan jalan
operasi.
b. Meluarnya lendir semacam keputihan yang agak banyak menjelang
persalinan, akan membantu melicinkan saluran kelahiran hingga bayi
lebih mudah keluar.
Ini tak benar! Keluarnya cairan keputihan pada usia hamil tua justru
tak normal, apalagi disertai gatal, bau, dan berwarna. Jika terjadi,
segera konsultasikan ke dokter. Ingat, bayi akan keluar lewat saluran
lahir. Jika vagina terinfeksi, bisa mengakibatkan radang selaput mata
pada bayi. Harus diketahui pula, yang membuat persalinan lancar
bukan keputihan, melainkan air ketuban. Itulah mengapa, bila air
ketuban pecah duluan, persalinan jadi seret.
c. Minum minyak kelapa memudahkan persalinan.
Minyak kelapa, memang konotasinya bikin lancar dan licin. Namun
dalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama sekali dalam
melancarkan persalinan. Mungkin secara psikologis, ibu hamil
menyakini, dengan minum dua sendok minyak kelapa dapat
memperlancar persalinannya. Jika itu demi ketenangan psikologisnya,
maka diperbolehkan, karena minyak kelapa bukan racun.
d. Minum madu dan telur dapat menambah tenaga untuk persalinan.
Madu tak boleh sembarangan dikonsumsi ibu hamil. Jika BB-nya
cukup, sebaiknya jangan minum madu karena bisa mengakibatkan
overweight. Bukankah madu termasuk karbonhidrat yang paling
tinggi kalorinya? Jadi, madu boleh diminum hanya jika BB-nya
kurang. Begitu BB naik dari batas yang ditentukan, sebaiknya segera
hentikan. Demikian juga dengan telur, pada dasarnya selama telur itu
matang maka tidak akan berbahaya bagi kehamilan. Hal ini
disebabkan karena telur banyak mengandung protein yang dapat
menambah kalori tubuh.
e. Makan duren, tape, dan nanas bisa membahayakan persalinan.
Ini benar karena bisa mengakibatkan perndarahan atau keguguran.
Duren mengandung alkohol, jadi panas ke tubuh. Begitu juga tape

serta aneka masakan yang menggunakan arak, sebaiknya dihindari.


Buah nanas juga, karena bisa mengakibatkan keguguran.
f. Makan daun kemangi membuat ari-ari lengket, hingga mempersulit
persalinan.
Yang membuat lengket ari-ari bukan daun kemangi, melainkan ibu
yang pernah mengalami dua kali kuret atau punya banyak anak, misal
empat anak. Ari-ari lengket bisa berakibat fatal karena kandungan
harus diangkat. Ibu yang pernah mengalami kuret sebaiknya
melakukan persalinan di RS besar. Hingga, bila terjadi sesuatu dapat
ditangani segera.
F. Peran Perawat dalam Menghadapi Aneka Budaya
Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh
orang lain terhadap seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu system.
Peran perawat dipengaruhi oleh keadaan social baik dari dalam maupun
dari luar profesi keperawatan dan bersifat konstan.
Doheny (1982) mengudentifikasi beberapa elemen peran perawat
professional meliputi:
1. Care giver
Sebagai pelaku atau pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat
memberikan pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak
langsung kepada klien, menggunakan pendekatan proses keperawatan
yang meliputi : melakukan pengkajian dalam upaya mengumpulkan
data dan evaluasi yang benar, menegakkan diagnosis keperawatan
berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan
sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah
atau cara pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan
sesuai dengan rencana yang ada, dan melakukan evaluasi berdasarkan
respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukannya.
Dalam memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan, perawat
memperhatikan individu sebagai makhluk yang holistic dan unik.Peran
utamanya adalah memberikan asuhan keperawatan kepada klien yang
meliputi intervensi atau tindakan keperawatan, observasi, pendidikan

kesehatan,

dan

menjalankan

tindakan

medis

sesuai

dengan

pendelegasian yang diberikan.


2. Client advocate
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung
antar klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan
kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan membantu klien
memahami semua informasi dan upeya kesehatan yang diberikan oleh
tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional.
Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai
narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan
terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam
menjalankan peran sebagai advokat, perawat harus dapat melindungi
dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan
keperawatan.
Selain itu, perawat juga harus dapat mempertahankan dan
melindungi hak-hak klien, antara lain :
a. Hak atas informasi ; pasien berhak memperoleh informasi
mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit/
sarana pelayanan kesehatan tempat klien menjalani perawatan
b. Hak mendapat informasi yang meliputi antara lain; penyakit yang
dideritanya, tindakan medic apa yang hendak dilakukan, alternative
lain beserta resikonya, dan lain-lain
3. Counsellor
Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola
interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya. Adanya pula interaksi
ini merupakan dasar dalam merencanakan metode untuk meningkatkan
kemampuan adaptasinya. Memberikan konseling/ bimbingan kepada
klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai
prioritas. Konseling diberikan kepada individu/keluarga dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan penglaman yang lalu,
pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan, mengubah
perilaku hidup kearah perilaku hidup sehat.

4. Educator
Sebagai pendidik klien perawat membantu klien meningkatkan
kesehatannya malalui pemberian pengetahuan yang terkait dengan
keperawatan

dan

tindakan

medic

yang

diterima

sehingga

klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang


diketahuinya. Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan
pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi,
kadar kesehatan, dan lain sebagainya.
5. Collaborator
Perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan keluarga
dalam menentukan rencan maupun pelaksanaan asuhan keperawtan
guna memenuhi kebutuhan kesehatan klien.
6. Coordinator
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang
ada, baik materi maupun kemampuan klien secara terkoordinasi
sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan maupun tumpang
tindih. Dalam menjalankan peran sebagai coordinator perawat dapat
melakukan

hal-hal

berikut:

mengoordinasi

seluruh

pelayanan

keperawatan, mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas,


mengembangkan system pelayanan keperawatan dan memberikan
informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan keperawatan
pada sarana kesehatan
7. Change agent
Sebagai pembaru, perawat mengadakan inovasi dalam cara
berpikir, bersikap, bertingkah laku, dan meningkatkan keterampilan
klien/keluarga agar menjadi sehat. Elemen ini mencakup perencanaan,
kerjasama, perubahan yang sistematis dalam berhubungan dengan
klien dan cara memberikan keperawatan kepada klien.
8. Consultan
Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan
klien terhadap informasi tentang tujuan keperawatan yang diberikan,
peran ini dapat dikatakan perawat adalah sumber informasi yang
berkaitan dengan kondisi spesifik lain. Untuk menghadapi berbagai

10

fenomena kebudayaan yang ada di masyarakat, maka perawat dalam


menjalankan perannya harus dapat memahami tahapan pengembangan
kompetensi budaya, yaitu:
Pertama:
a. Pahami bahwa budaya bersifat dinamis dan merupakan proses
kumulatif dan berkelanjutan serta dipelajari dan dibagi dengan
orang lain.
b. Perilaku dan nilai budaya di tunjukkan oleh masyarakat
c. Budaya bersifat kreatif dan sangat bermakana dalam hidup.
d. Secara simbolis terlihat dari bahasa dan interaksi
e. Budaya menjadi acuan dalam berpikir dan bertindak
Kedua:
a. Menjadi peduli dengan budaya sendiri dan proses pemikiran yang
terjadi pada perawat juga terjadi pada yang lain, tetapi dalam
bentuk atau arti berbeda.
b. Bias dan nilai budaya ditafsirkan secara internal
c. Nilai budaya tidak selalu tampak kecuali jika mereka berbagi
secara sosial dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga:
a. Menjadi sadar dan peduli dengan budaya orang lain trerutama klien
yang diasuh oleh perawat sendiri
b. Budaya menggambarkan keyakinan bahwa banyak ragam budaya
yang ada sudah sesuai dengan budayanya masing-masing
c. Penting untuk membangun sikap saling menghargai perbedaan
budaya dan apresiasi keamanan budaya
d. Mengembangkan kemampuan untuk bekerja dengan yang lain
dalam konteks budaya, diluar penilaian etnosentris

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebudayaan adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang
teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar dan
semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Terdapat beberapa jenis
budaya di Indonesia diantaranya budaya modern, tradisional dan campuran.

11

Selain itu juga terdapat banyak aspek budaya yang mempengaruhi kesehatan
dan perilaku kesehatan.
Beberapa contoh budaya yang berkembang dimasyarakat diantaranya
kerokan saat masuk angin dan budaya yang berkembang pada ibu bersalin.
Peran perawat dalam menghadapi aneka budaya diantaranya adalah sebagai
care giver, advocate, counselor, educator, collabulator, coordinator, change
agent dan consultan
B. Saran
Diharapkan

petugas

kesehatan

agar

lebih

sering

melakukan

penyuluhan-penyuluhan mengenai kesehatan agar meluruskan budaya yang


dapat membahayakan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Citerawati, Yetty Wira. Aspek Sosiobudaya dan Kesehatan. Di 17:15.
http://listpdf.com/as/aspek-sosial-budaya-terhadap-kesehatan-pdf.html
Doheny, M. O., & Cook, C. B,. & Stopper, M. C. (1982). The discipline of
nursing: an introduction. University of Michigan: R. J. Brady Co.
Foster, George M. 1973. Applied Anthropology. Boston: Little, Brown and
Company.
Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Renika Cipta.
Riyadi, Agus. Makalah Aspek Budaya Berhubungan dengan Kesehatan
Ibu.Selasa,

15

Januari

2013.

Di

http://nyareelmo.blogspot.co.id/2013/01/makalah-aspek-budayaberhubungan-dengan.html
12

19:20.

Rohmi, Siti. Makalah Pengaruh Sosial Budaya Masyarakat Terhadap


Kesehatan.

10

April

2013.

Di

http://sitirohmie.blogspot.co.id/2013/04/makalah-pengaruh-sosialbudaya.html

13

16:20.

Anda mungkin juga menyukai