Anda di halaman 1dari 2

Mengapa wanita dijadikan sasaran?

1. Polo, seorang Masoni, berkata , ”Ketahuilah, kita tidak akan bisa


menang dari agama ini ( Islam ), kecuali bila di dalam barisan kita
ada kaum wanitanya. Meskipun hanya sehari, kemenangan pasti
berada di pihak kita.”
2. Pada tahun 1899, para peserta muktamar Polonia berkata, ”Kita
harus berhasil menggaet kaum wanita. Oleh karena itu, pada saat
apapun, bila ada uluran tangan dari mereka, maka saat itu
pulalah kemenangan berada di pihak tentara kita.”
3. Seorang presiden bernama Burgibah berkata, ”Kita harus
menjadikan wanita sebagai sasaran pertama. Lalu, merekalah
sebagai perantara langkah kita. Karena itu, agama harus
dijauhkan.”
4. Termuat di dalam selebaran rahasia, “Tidak ada jalan yang tepat,
kecuali bila gadis-gadis remaja muslimah kita jadikan umpan
demi untuk perjuangan bangsa ini. Karena dengan cara tersebut,
mereka akan lupa daratan dan lengah. Hipnotis dari rangsangan
tubuh sangat mempengaruhi kekuatan (iman).”
5. Glastoff, seorang Inggris yang ekstrim berkata, ”Timur tidak akan
pernah mempunyai peradaban yang rusak (tak bermoral), kecuali
bila kaum wanitanya melepaskan jilbab, dan Al-Qur’an yang
merupakan pedoman hidupnya juga dijatuhkan. Minuman keras,
narkotika, dan perbuatan-perbuatan maksiat serta kemungkaran
harus pula dimasukkan kepada mereka, sehingga lenyaplah
kekuatan spiritual Islam dalm diri mereka.”
6. Seorang pimpinan kolonialis berkata, “Hanya ada dua hal yang
dapat menghancurkan persatuan umat Muhammad, dan itu lebih
baik daripada seribu meriam, yakni kesenangan kepada harta
(materi) dan pelampiasan hawa nafsu. Itulah yang akan
menenggelamkan mereka.”
7. Seorang missionaris berpendapat bahwa aktifitas seorang ibu
dalam mendidik anak-anaknya, baik dari tingakh laku, perbuatan
maupun ucapan untuk anak yang berusia sampai sepuluh tahun
merupakan hal yang sangat penting. Wanita adalah unsur
pertamayang membentengi aqidah Islam. Oleh karena itu, ikatan
missionaris hendaknya memberikan perhatian khusus kepada
kegiatan para muslimah, mengingat mereka merupakan sarana
untuk mempercepat program kristenisasidi negara-negara Islam.
Sebaiknya Anda merenungi kembali ayat Allah SWT dibawah ini.
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu
berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang
dahulu.” (al-Ahzab;33)
Komentar Cendikiawan Barat tentang Wanita
Karier
1. Seorang filosof Atheis, Bertrand Russel, berkata, “Sungguh,
suatu keluarga akan terus-menerus mengalami keretakan bila
si ibu disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan umum yang
sebenarnya prialah yang berhak mengerjakannya. Wanita yang
bekerja akan berubah segala gerak-gerik dari sikapnya,
terpengaruh oleh miliu pria, sehingga bila dirinya merasakan
adanya perubahan ekonomi yang semakin membaik, ia tidak
lagi segan untuk terus mengejar harta sebanyak-banyaknya,
dan rela membiarkan pendidikan anak-anaknya terlantar.”
2. Any Rood, seoarng berkebangsaan Inggris berkata, “Alangkah
nikmatnya bila negara kita seperti negaranya umat Islam, ynag
didalamnya terdapat kesibukan, kesucian , dan kebersihan.
Negeri Inggris ini sangat aib, karena mempekerjakan wanitanya
sebagai santapan perilaku yang bejat dalam pekerjaannya
dengan pria. Mengapa kita tidak berusaha merubah semua
unsur negatif ini, agar anak-anak wanita kita dapat
mengerjakan suatu pekerjaan dirumah yang memang sesuai
dengan tabiatnya? Mengapa kita tidak mencegah mereka ikut
campur dalam pekerjaan pria, demi menjaga kesucian dan
kehormatannya.’
3. Hitler dan Mussolini menganugrahkan hadiah besar kepada
wanita yang mau meninggalkan pekerjaannya diluar rumah,
lalu kembali menangani pekerjaan yang ada dalam rumah
masing-masing. Tidakkah tersentuh hati anda dengan
perbuatan Hitler dan Mussolini tersebut, padahal mereka
berdua adalah dedengkot Atheis?
4. Dr.Solivan berkata, “ Faktor utama yang menyebabkan
keresahan dan kerusakan dalam masyarakat Eropa sedemikian
cepatnya, adalah karena wanitanya tidak lagi memperhatikan
kepentingan pendidikan keluarga. Mereka bekerja keras
mencari uang didalam suatu pabrik, kantor atau instansi-
instansi pemerintah, padahal pekerjaan itu seharusnya
dikerjakan oleh pria.