Anda di halaman 1dari 18

KEWARGANEGARAAN

PELAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA BELUM MEMADAI

OLEH :
LUSIANA M SIBARANI
P07534015024

POLTEKKES KEMENKES MEDAN


JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
tentang Pelayanan Kesehatan di Indonesia Belum Memadai ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada
Bapak Ismajadi selaku Dosen mata kuliah Kewarganegaraan Poltekkes Kemenkes
Medan yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai kewarganegaraan, dan juga masalah
pelayanan kesehatan yang belum memadai di Indonesi. Saya juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah saya buat, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perbatasan merupakan kawasan batas atau daerah jalur pemisah antara unit unit politik (Negara), daerah dekat batas. Negara yang mengalami perbatasan
selalu berkutat dengan masalah kemiskinan dan keterbelakangan, misalnya antara
Negara Indonesia dengan Malaysia ,di Tanjung Datu yang secara tidak langsung
terkait sengketa tumpang tindih.
Pada daerah perbatasan ada beberapa kendala yang ditemui, misalnya
kurangnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah
tersebut. Sehingga masyarakat disana merasa kurang diperhatikan oleh
pemerintah, kemudian akan menimbulkan dampak yang membuat masyarakat
yang ada di perbatasan lebih memilih untuk melakukan transaksi apapun di
Negara tetangga. Dan akhirnya Negara tetangga akan mengakui bahwa mereka
adalah warganya sehingga akan menimbulkan konflik antarnegara.
Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan warga masyarakat terutama
yang ada di perbatasan. Selain itu, sebaiknya pemerintah mengadakan programprogram yang dapat mensejahterakan masyarakat terutama yang ada di
perbatasan, misalnya melalui program pendidikan nonformal yang telah banyak
menebar dana untuk memperdayakan masyarakat di perdesaan, seperti program
kursus kewirausahaan desa, pendidikan hidup, desa vokasi, keaksaraan fungsional

dan sejenisnya yang terkait langsung dengan upaya peningkatan kesejahteraan


melalui usaha ekonomi produktif. Selain itu, masyarakat perbatasan juga
memerlukan perhatian lebih dari pemerintah, terutama dibidang kesehatan.
Karena pelayanan kesehatan

di daerah perbatasan untuk sekarang ini masih

sangat sedikit.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut
1. Bagaimana jenis jenis pelayanan di Indonesia ?
2. Apa saja permasalahan kesehatan di perbatasan ?
3. Bagaimana solusi mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di
daerah perbatasan ?
4. Bagaimana peran mahasiswa, sebagai generasi muda, terhadap
permasalahan kesehatan diperbatasan dalam usaha membela Negara ?
1.3 TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah
1. Mahasiswa dapat mengetahui permasalahan kesehatan di daerah
perbatasan.
2. Mahasiswa dapat memberikan solusi dari permasalahan tersebut.
3. Menumbuhkan semangat mahasiswa untuk menolong sesama dalam
usaha bela Negara.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PELAYANAN KESEHATAN

Di Indonesia banyak pelayanan-pelayanan kesehatan yang telah diberikan


oleh pemerintah. Pelayanan tersebut ditujukan kepada masyarakat Indonesia,
terutama penduduk miskin. Begitu juga kepada penduduk didaerah perbatasan
Negara yang masih dalam kawasan Indonesia.
2.1.1. ASKES
Asuransi kesehatan merupakan cara mengatasi resiko dan
ketidakpastian

peristiwa

sakit

serta

implikasi

biaya-biaya

yang

diakibatkannya. Asuransi kesehatan mengubah peristiwa tak pasti dan sulit


diramalkan menjadi peristiwa yang pasti dan terencana. Asuransi
membantu mengurangi resiko perorangan ke resiko sekolompok orang
dengan cara perangkuman resiko (risk polling). Untuk merubah peristiwa
yang tidak dapat diprediksi, anggota membayar sejumlah uang yang
relative kecil namun teratur (disebut premi) kepada lembaga asuransi.
2.1.2. JAMKESMAS
Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan
kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini
diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka
mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat
miskin.

Pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat

miskin menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh


Pemerintah

Pusat

dan

Pemerintah

Daerah.

Pemerintah

Propinsi/Kabupaten/Kota berkewajiban memberikan kontribusi sehingga

menghasilkan pelayanan yang optimal. Penyelenggaraan pelayanan


kesehatan masyarakat miskin mengacu pada prinsip-prinsip:
1. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata
peningkatan derajat kesehatan masyarakat miskin.
2. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medik
yang cost effective dan rasional.
3. Pelayanan Terstruktur, berjenjang dengan Portabilitas dan ekuitas.
4. Transparan dan akuntabel.
Tujuan dari Jamkesmas dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Tujuan umum yaitu

Terselenggaranya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap


seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat
kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan sehinga tercapai


derajat

Kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien bagi seluruh peserta
Jamkesmas

b. Tujuan khususnya yaitu

Memberikan kemudahan dan askes pelayanan kesehatan kepada


peserta di seluruh jaringan PPK Jamkesmas

Mendorong peningkatan pelayanan kesehatan yang terstandar bagi


peserta, tidak berlebihan sehingga terkendali mutu dan biayanya

Terselenggaranya

pengelolaan

keuangan

yang

transparan

dan

akuntabel

Meningkatkan cakupan masyarakat dan tidak mampu yang mendapat


pelayanan kesehatan di puskesmas serta jaringannya dan di Rumah
Sakit,

Serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat


miskin.
Sasaran program Jamkesmas ini adalah masyarakat miskin tidak

mampu diseluruh Indonesia, termasuk daerah perbatasan, dan yang tidak


termasuk sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya, masyarakat
miskin dan tidak mampu yang ditetapkan oleh bupati/walikota sesuai
kuota, gelandangan, pengemis, anak terlantar, peserta program keluarga
harapan (PKH), masyarakat miskin penghuni lapas, panti sosial, rutan dan
korban bencana alam pasca bencana .
2.2. PERMASALAHAN KESEHATAN DI PERBATASAN
Pelayanan kesehatan yang telah diberikan pemerintah di daerah
perbatasan dapat dikatakan kurang memadai. Terlebih lagi, penduduk di daerah7

daerah ini juga merupakan masyarakat miskin yang tidak mempunyai ekonomi
yang cukup.
Masalah utama dalam pelayanan kesehatan di daerah terpencil,
perbatasan dan kepulauan antara lain kondisi geografis yang sulit dengan iklim
yang sering berubah, status kesehatan masyarakat yang rendah, beban ganda
penyakit, keterbatasan sumber daya manusia serta kurang tersedianya sarana
dan prasarana pendukung. Seperti yang terjadi pada perbatasan antara
Indonesia dengan Malaysia yaitu Entikong, sebuah kecamatan di Kabupaten
Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia. Entikong memiliki jalur perbatasan darat
dengan negara Malaysia, khususnya Serawak, sehingga jalur darat sering disebut
jalur sutera, karena bisa dilewati langsung oleh bus baik dari Indonesia maupun
dari Malaysia, tanpa harus menyebari sungai maupun laut. Tak heran jika jalur itu
dipakai TKI yang berasal dari Jawa dan Sumatera, untuk masuk ke Malaysia.
Luas Entikong 506,89 km2, dengan jumlah penduduk 13.346 jiwa, terdiri
dari Suku Dayak, Melayu, Jawa, Batak, Padang, dan lain-lain. Mayoritas mereka
memeluk agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Islam dan Konghuchu.
Kondisi masyarakat di desa-desa dalam wilayah kecamatan Entikong sangat
memprihatinkan. Selain sarana transportasi yang sulit, masalah kesehatan dan
pendidikan, menjadi titik rawan yang mendesak untuk segera diatasi. Di dusun
Palapasang, misalnya, kondisi sanitasi sangat buruk, ditambah tidak adanya
pelayanan kesehatan, akan menjadi faktor pemicu munculnya wabah penyakit,
seperti muntaber (pernah terjadi pada tahun 1980, yang membunuh separuh
penghuni desa), dan penyakit kulit akut. Kondisi di desa-desa lain, hampir sama

buruknya. Di desa Palapasang, pernah berdiri semacam pusat kesehatan


masyarakat, namun kemudian ditinggalkan oleh tenaga medis, bahkan bidan pun
tidak bersedia mengisi pos kesehatan tersebut. Kondisi itu tentunya tak bisa
dibiarkan berlarut-larut. Pusat kesehatan masyarakat harus kembali dihidupkan,
bahkan direhabilitasi secara menyeluruh.
Medan yang sulit, dan sarana transportasi yang terbatas, serta jarak tempuh
yang jauh, memang tidak mudah menarik investor untuk membangun semua
sarana kesehatan tersebut. Bahkan, sangat sulit untuk membujuk tenaga medis
agar bersedia bekerja secara tetap di desa terpencil itu. Di sinilah peran kerja
sama pemerintah dan LSM/NPO sangat dibutuhkan. Masyarakat di dusun-dusun
Kecamatan Entikong, mayoritas adalah petani, berladang, dan buruh perkebunan.
Kondisi ekonomi mereka sangat lemah, dan diperparah dengan sarana jalan yang
nyaris tak layak. Sebagian hanya bisa ditempuh lewat jalur air, dan sebagian lagi
jalan kaki. Mereka sangat terisolir. Kondisi inilah yang memicu lemahnya
pembangunan kesehatan masyarakat oleh pemerintah Republik Indonesia.
2.3. HUBUNGAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN USAHA BELA
NEGARA
Kesadaran bela negara hakikatnya adalah kesediaan berbakti pada
negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu
sangat luas, bentuk sikap batin yang bersifat abstrak dalam melindungi dan
mempertahankan karena kecintaan kepada Negara dan Bangsa, juga berupa
kegiatan-kegiatan berproduksi dalam meraih kesejahteraan bangsa agar mencapai
Ketahanan Nasional yang tinggi, sampai pada bentuk mengangkat senjata dalam

melindungi Kedaulatan Bangsa dan Negara. Oleh karena itu, Bela Negara tidaklah
harus dalam bentuk Memanggul senjata saja , akan tetapi juga akan berupa
kegiatan-kegiatan produktif di dalam semua profesi dan sektor kehidupan bangsa.
Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal
ancaman nyata musuh bersenjata.
Namun peran warga negara dalam pembelaan negara memiliki tingkat
kewajiban yang berbeda sesuai dengan kedudukan dan tugasnya masing-masing.
Persoalan kita sekarang adalah bagaimana wujud penyelenggaraan keikutsertaan
warga negara dalam usaha pembelaan negara? Menurut Pasal 9 Ayat (2) UU RI
Nomor 3/2002 Tentang Pertahanan Negara, keikutsertaan warga negara dalam
usaha pembelaan negara diselenggarakan melalui:
a. Pendidikan Kewarganegaraan
b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib
c. Pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara suka rela atau
secara wajib
d. Pengabdian sesuai dengan profesi.
Hubungan yang jelas terlihat terkait dengan masalah yang di sebutkan
sebelumnya, yakni pembangunan pelayanan kesehatan yang memadai merupakan
salah satu bentuk upaya bela negara. Upaya ini berupa pengabdian sesuai
dengan profesi sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat. Salah satu celah
yang harus segera ditangani sebagai wujud bela negara tidak hanya persoalan
korupsi, harga barang yang meroket, atau terorisme saja. Keterbatasan dan

10

kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah tertinggal menjadi suatu hal


yang mengancam tegaknya NKRI dan eksistensi negara. Sementara itu, sudah
menjadi kewajiban warga negara Indonesia untuk berperan aktif dalam
memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun
peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut.
Seperti halnya ancaman, maka segala akibat yang timbul akibat kurangnya
perhatian terhadap daerah perbatasan merupakan panggilan wajib yang harus
dipenuhi oleh setiap warga negaranya. Terutama segenap warga negara yang
memiliki peranan penting untuk menunaikan kewajiban dalam pembelaan negara
sesuai kedudukan dan profesinya masing-masing. Unsur utamanya adalah
lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sesuai bentuk dan sifat ancaman
yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lain dari kekuatan bangsa.
Rakyat sebagai salah satu unsur mutlak suatu negara, memiliki peranan yang
sangat penting dalam melaksanakan pembangunan berbagai aspek kehidupan.
Untuk itu setiap warga negara memiliki jaminan hukum untuk melaksanakan hak
dan kewajibannya yang diberikan negara.
2.4. SOLUSI PERMASALAHAN KESEHATAN DI PERBATASAN
Semakin banyaknya penduduk didaerah perbatasan negara yang minim
akan pelayanan kesehatan menyebabkan banyak penderita penyakit menular yang
sangat membahayakan, baik untuk diri sendiri atau lingkungan disekitarnya.
Banyak hal yang harus dilakukan agar pelayanan kesehatan di darah
perbatasan Negara dapat berjalan dengan baik. Dimulai dari kesadaran pribadi
hingga kebijakan pemerintah yang tidak memberatkan penduduknya.

11

Pembangunan kesehatan masyarakat mutlak menjadi prioritas utama,


sebelum melangkah pada pembangungan pendidikan, dan pembangunan ekonomi.
Pembangunan kesehatan masyarakat dimulai dari membangun kesadaran
masyarakat untuk hidup sehat. Untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga penyuluh
kesehatan yang memiliki kemampuan pendekatan masyarakat dengan baik.
Karena menyadarkan masyarakat untuk hidup sehat, setelah bertahun-tahun
menggantungkan kesehatannya pada pengobatan tradisional, tidak mudah.
Ditambah dengan memberikan penyuluhan tentang sanitasi, jika sarana
sanitasinya ternyata belum memadai.
Langkah selanjutnya adalah memperbaiki sarana sanitasi. Tidak hanya
membangun sarana air bersih, serta WC Umum, tetapi juga merombak jamban
rumah yang tak sehat, dan membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah
sembarangan. Untuk itu, perlu dibangun tempat penampungan sampah sementara,
dan selanjutnya adalah alat pengolahan sampah untuk dijadikan pupuk. Program
pemberdayaan sampah menjadi pupuk akan menjadi salah satu solusi sulitnya
memperoleh pupuk di dusun-dusun perbatasan.
Pembangunan kesehatan masyarakat ini, tentu membutuhkan waktu untuk
mencapai target masyarakat sadar sehat, tanpa harus membebani mereka dengan
aturan-aturan baku tentang kesehatan.
Selain penyuluhan dan membangun kesadaran hidup sehat, langkahlangkah pemeriksaan kesehatan dan pengobatan juga menjadi bagian penting pada
fase pembangunan kesehatan masyarakat ini. Sebab, pada langkah ini kepercayaan
masyarakat pada tenaga medis yang sempat hilang, akan terbangun kembali.

12

Implementasinya memang perlu kerja keras. Pemeriksaan kesehatan dan


pengobatan keliling sangat menyita tenaga dan waktu, karena sarana dan
prasarana yang tidak memadai. Namun, metode ini cukup efektif karena
kesempatan berkomunikasi ini dapat dijadikan sarana penyuluhan, terutama
menyangkut kesehatan balita. Dari makanan murah dan bergizi, pentingnya
menjaga kesehatan gigi anak-anak, manfaat imunisasi bagi bayi, hingga
kebersihan rumah.
Sebagai upaya antisipasi dari meningkatnya masalah kesehatan dan
penyakit, pemerintah perlu meningkatan kemampuan fasilitas kesehatan. Untuk
itu, dukungan pemerintah pusat sangat diharapkan. Dengan upaya percepatan
pembangunan sektor kesehatan di DTPK (daerah tertinggal perbatasan dan
kepulauan), kemudian dilanjutkan dengan aksi peningkatan aksesibilitas dan
kualitas pelayanan kesehatan dengan biaya dari alokasi APBD, APBN, hingga
bantuan luar negeri. Dengan meningkatkan infrastruktur kesehatan seperti
pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kesehatan, pengadaan dan
penempatan

tenaga kesehatan terlatih,

serta peningkatan

pemberdayaan

masyarakat, diharap membantu memperbaiki kondisi buruk tersebut


Keterpaduan program yang sinergis antara program-program kesehatan
dan dukungan lintas sektor termasuk pemerintah daerah perlu dikomunikasikan
dan dikoordinasikan. Dinas kesehatan bersama LSM, saling membantu dalam
penyediakan alat-alat ataupun obat-obatan yang diperlukan. Jika perlu TNI dan
Polri membantu dalam pendistribusian obat-obatan pada keadaan darurat.
Sehingga adanya kerjasama antara pemerintah dengan unsur-unsur keamanan

13

Republik Indonesia dalam menjalankan aktivitas didaerah perbatasan. Karena


mereka yang harus bertanggung jawab atas keamanan dan kedaulatan masyarakat,
terlebih di daerah perbatasan Negara.
Dengan adanya pembangunan pusat kesehatan masyarakat sebagai
pelayanan kesehatan terpadu, dari klinik gigi, mata, kebidanan, dan pelayanan
kesehatan umum, menjadi titik utama perhatian. Ditunjang dengan adanya Pos
Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu Plus) yang hadir di kampung-kampung
setiap sebulan sekali, dan dilakukan secara berjadwal. Posyandu ini tidak hanya
melayani pemeriksaan kesehatan, imunisasi, dan gizi anak-anak Balita serta ibu
hamil saja, tetapi juga pelayanan kesehatan masyarakat umum, seperti
pemeriksaan gigi, pengobatan penyakit ringan (influenza, gangguan pernapasan
ringan, dan lain-lain).
Untuk melaksanakan pelayanan kesehatan terpadu ini, tentu dibutuhkan
tenaga-tenaga medis dan bantuan dokter yang memadai. Namun, karena medan di
dusun-dusun perbatasan yang sulit dan jauh, sangat sulit mengharapkan efekifnya
kerja para tim medis didaerah ini. Oleh karena itu, bagi para tenaga medis yang
mau bekerja di perbatasan, diharapkan mendapatkan insentif yang menarik dari
pihak pemerintah. Dari jaminan ijin praktek di kota terdekat bagi dokter, insentif
pendapatan tambahan, serta jaminan karir yang menjanjikan bagi tenaga para
medisnya.

14

2.5 PERAN GENERASI MUDA DALAM MENGATASI PERMASALAHAN


Banyak organisasi kepemudaan yang turut berpartisipasi dan ikut serta
dalam kegiatan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Peran
pemuda sangat strategis karena mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum muda.
Selain sebagai generasi penerus bangsa, kaum muda yang memiliki usia produktif
memiliki semangat yang besar untuk melakukan perbaikan negaranya, terutama
masalah kesehatan. Untuk menjadi sehat tidak cukup dilakukan lewat menjaga
kesehatan diri sendiri saja, melainkan melibatkan berbagai pihak.
Dengan visi Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat, diharapkan
adanya kepedulian pemuda dalam mengatasi permasalahn kesehatan, terutama
daerah perbatasan yang sangat rawan akan kenasionalismeannya. Sesuai dengan
UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam pasal 9 disebutkan bahwa
pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan masyarakat yang optimal. Oleh karena itu, masyarakat secara luas,
termasuk kaum muda, tidak hanya sebagai objek melainkan subjek pembangunan
kesehatan, terutama di daerah perbatasan tersebut.
Sebagai pemuda generasi penerus bangsa berusaha untuk mengatasi
permasalah pelayanan kesehatan didaerah perbatasan yang dimulai dengan
mengetahui berbagai masalahnya. Dan diharapkan setiap elemen masyarakat,
terutama kalangan pelajar dan mahasiswa, dapat mengatasinya. Kemudian
dilanjutkan dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi penduduk didaerah
tersebut.

15

Kita dapat membantu pemerintah dan elemen terkait dalam meningkatkan


pelayanan kesehatannya dengan melakukan penyuluhan langsung akan pentingnya
kesehatan kepada penduduk setempat. Selain itu, para pemuda, sebagai tim
relawan, dapat membantu tim medis dalam menjalankan pelayanan kesehatan
yang memadai.

16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelayanan kesehatan masyarakat di daerah perbatasan Negara masih belum
cukup memadai, meskipun nyatanya pemerintah telah memberikan berbagai
pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama penduduk miskin. Hal ini
disebabkan banyak faktor, yang salah satunya adalah sarana dan prasarana yang
tidak mendukung pelaksanaannya. Sebagai generasi muda, mahasiswa diharapkan
memiliki semangat tinggi untuk membantu pemerintah dan lembaga-lembaga
terkait dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik di daerah perbatasan,
seperti memberikan penyuluhan hingga ikut serta dalam pelaksanaanya
3.2 Saran
Sebagai generasi muda yang memiliki semangat tinggi, diharapkan dapat
berusaha untuk mengatasi permasalah pelayanan kesehatan didaerah perbatasan.
Dari mengetahui berbagai masalahnya, mengatasinya, kemudian melakukan halhal yang berguna bagi penduduk didaerah tersebut.

17

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2011/03/31/brk,20110331324141,id.html
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/12/13/72871
http://bataviase.co.id/node/142340
http://kampungtki.com/baca/10704
http://www.rricirebon.info/component/content/article/53-kesra/530-tigapermasalahan-dalam-penanganan-kesehatan-di-perbatasan-prop-jabar.html
http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=88
http://buk.depkes.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=188:pertemuan-forum-komunikasi-lintasprogram-pelayanan-kesehatan-daerah-tertinggal-perbatasan-dan-kepulauandtpk&catid=111:dasar&Itemid=136
http://www.indonesiango.org/en/national/special-reports/1521-potret-kemiskinandi-perbatasan-indonesia-malaysia
http://giovani-wawan.blogspot.com/2009/05/isu-dan-permasalahan-daerahperbatasan.html
http://kerockan.blogspot.com/2011/05/jenis-pelayanan-kesehatan-diindonesia.html

18