Anda di halaman 1dari 15

TEORI MENDISIPLINKAN SISWA

Masalah kedisiplinan siswa dalam mentaati sebuah aturan yang ada di sekolah selalu
menjadi keluhan, tidak hanya dari penegak kedisiplinan sekolah dan kesiswaan, namun juga
hampir semua pendidik yang ada di sebuah sekolah. Terutama jika yang melanggar
kedisiplinan adalah anak tertentu dan itu-itu saja. Mereka menganggap peserta didik tersebut
tidak pernah bisa “diomongi”, tidak pernah menghiraukan kata-kata guru. Jika sudah
demikian guru BK menjadi senjata terakhir untuk melawan para peserta didik yang sudah
punya stempel tukang melanggar tata tertib dari para pendidik. Karena masih ada beberapa
sekolah yang meng-image-kan bahwa BK adalah polisi sekolah.

Masalah kediplinan siswa ini secara keilmuwan memang guru BK yang banyak
memiliki ilmu untuk menanganinya, namun ilmu tersebut bukan hanya guru BK yang mampu

(3) membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah. perilaku sosial dan etika belajar/kerja. Maman Rachman (1999) mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah : (1) memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang. Tips dan Trik mendisiplinkan siswa mentaati aturan secara mandiri: . meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metode pendisiplinannya. Hyman dan Pamela A. sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaankebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya. Yang dimaksud dengan aturan sekolah (school rule) tersebut. Menurut Wikipedia (1993) bahwa disiplin sekolah “refers to students complying with a code of behavior often known as the school rules”. Snock dalam bukunya “Dangerous School” (1999). Pengertian disiplin sekolah kadangkala diterapkan pula untuk memberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap aturan. siapapun bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari baik oleh guru lebih-lebih oleh orang tua. seperti aturan tentang standar berpakaian (standards of clothing). Oleh karena itu dalam tulisan ini kami ingin berbagi sedikit pengalaman yang kami miliki dan sejauh yang pernah kami terapkan masih sangat efektif dalam membantu para siswa untuk mampu disiplin diri secara mandiri. (2) mendorong siswa melakukan yang baik dan benar.menerapkannya. Berkenaan dengan tujuan disiplin sekolah. ketepatan waktu. sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik (physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychological maltreatment).

Maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah sambil tersenyum. tanyakan mengapa siswa tersebut melanggar aturan? Pahami faktor-faktor apa yang membuat mereka tidak mentaati aturan yang dibuat oleh sekolah. Bukankah kita juga sering mendengar jawaban para siswa kita yang mengatakan bahwa aturan itu dibuat untuk dilanggar. 2. mereka pasti memiliki alasan mengapa mereka melanggar aturan tersebut. kurang berempati. Dan jika hal tersebut terjadi dan dialami oleh beberapa guru dan selalu menjadi topik pembicaraan baik di forum informal maupun di forum rapat. Yang sering terjadi selama ini adalah kita sebagai guru terkesan sebagai pihak yang selalu mendominasi pembicaraan. Ketika seorang siswa melanggar sebuah aturan sekolah. Cari solusi bersama siswa Setelah faktor yang membuat siswa melanggar aturan sudah ditemukan maka langkah selanjutnya adalah mencari solusi terbaik bersama siswa. . Karena tidak akan pernah ada keberhasilan dalam sebuah pendidikan jika tidak dilandasi dengan kasih sayang. anak akan bersikap agresif ketika sikap pendidik cenderung kasar. menyudutkan siswa dengan kesalahan yang telah ia perbuat dan terkesan mendikte para siswa tentang apa yang harus mereka lakukan. Karena masalah ketidakdisiplinan siswa tersebut di luar kendali siswa. keras.1. dan rasa menerima siswa dengan penuh kasih sayang. Jika faktor lingkungan yang menjadikan siswa tersebut tidak mentaati aturan maka pemecahan permasalahannya memang harus melibatkan lingkungan terkait. Klarifikasi Sebelum melakukan klarifikasi sebaiknya kita menyiapkan diri terlebih dahulu dengan sikap yang positif. Benarkah demikian? Jika hal tersebut yang terjadi maka hal yang perlu dilakukan adalah bahas bersama siswa mengapa kita perlu disiplin diri. Sebaliknya. Hal ini dimungkinkan karena pada hakikatnya anak cenderung lebih patuh kepada pendidik yang bersikap baik dan sabar. Inilah kunci awal dalam keberhasilan pendidikan dan penanaman kedisiplinan siswa yang justru sering kita lupakan. bangun rasa empati yang tinggi. dan kurang wibawa karena yang bereaksi dalam otak anak hanyalah otak reptil yang berfungsi untuk mempertahankan diri karena merasa tidak aman dan terancam sehingga akan berdampak terhadap kegagalan penanaman kedisiplinan di sekolah. Namun tidak sedikit pula siswa yang melanggar aturan dikarenakan faktor dari dalam diri sendiri. Ketika ternyata siswa tersebut tidak mematuhi apa yang kita perintahkan maka akan semakin menambah rasa kesal dalam hati karena sudah capek-capek berbicara tidak sedikitpun dihiraukan oleh anak sehingga menambah sikap negatif terhadap siswa yang bersangkutan. maka dengan sendirinya akan terdapat stempel pada siswa tersebut sebagai “siswa nakal”.

setiap siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya. . dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang yang berlaku di sekolahnya. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. dan ulil amri di antara kamu. Maka ada langkah jitu yang bisa kita lakukan jika menghadapi tipe siswa seperti itu. berarti ia taat kepada Allah. Tidak jarang pula ada siswa yang terkesan agresif dan selalu bisa mengelak terhadap apa yang kita sarankan. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya).Pada prinsipnya usia remaja memang memiliki sifat kritis dalam memandang dan memikirkan sesuatu. berarti ia durhaka kepadaku”. dan mengefektifkan pencapaian tujuan sekolah. apa kira-kira yang akan terjadi? Jelas. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Contoh tanyakan kepada siswa tersebut apa yang terjadi jika ada pemain sepak bola yang mengambil bola dengan tangannya (bukan digiring dengan kaki) dan dibawa lari untuk dilemparkan ke gawang lawan. siswa tersebut tidak akan mampu mengelak dari jawaban akan terjadi pelanggaran. atau mungkin bahkan akan dikeroyok oleh penonton karena sudah membuat kacau pertandingan. diantaranya adalah agar kehidupan di sekolah menjadi tertib. dan barang siapa yang durhaka terhadap amirku. Untuk menghadapi siswa seperti itu pasti akan menguras tenaga dan emosi kita.a. apa yang terjadi jika bumi ini tidak disiplin dan tidak mau lagi berputar? Atau bagaimana jika paru-paru kita malas untuk mengikuti aturan Allah. Jadi jelas bahwa perintah untuk patuh terhadap aturan adalah merupakan perintah agama.” (Qs. berarti ia taat kepadaku. berarti ia durhaka kepada Allah. taatilah Allah dan Rasul(Nya). Berikan sebuah gambaran nyata apa yang terjadi jika dalam kehidupan ini tidak ada kedisiplinan. an-Nisâ` [4]: 59) dan didukung hadis sahih yang telah disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah r. pernah bersabda:“Barang siapa yang taat kepadaku. bosan menghirup oksigen dan ingin sekali-kali menghirup karbon dioksida? Dan jantung kita juga malas untuk berdetak lagi? Demikian juga keberadaan aturan di sekolah. kena kartu dari wasit. Sekolah membuat aturan pasti punya tujuan yang baik. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh seorang pemain sepak bola? Dan biarkan siswa tersebut yang membuat kesimpulan sendiri apa pentingnya sebuah peraturan dalam sebuah pertandingan sepak bola? Dan masih banyak contoh lain yang bisa kita tanyakan ke siswa kita. Di dalam sebuah ayat di Al Qur’an disebutkan “Wahai orang-orang yang beriman. Dan barang siapa yang taat kepada amirku. barang siapa yang durhaka kepadaku. teratur.

kami ingin sampaikan kesimpulan bahwa dalam menghadapi siswa yang melanggar kedisiplinan diperlukan kesabaran dari guru. dan penuh kasih sayang. kita doakan agar mereka memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dan menjadi pribadi yang positif. melainkan juga merugikan masyarakat luas. apapun yang manusia usahakan tetap Allah pula yang menentukan hasilnya. agar mereka dijauhkan dari perbuatan-perbuatan tercela. Oleh karena itu untuk mendukung usaha kita dalam mendidik para siswa agar menjadi pribadi yang berkarakter sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional maka perlu kita iringi dengan doa. Doakan Tidak dapat kita pungkiri pula bahwa ada kekuatan yang jauh lebih dibalik kekuatan kita. Kita doakan agar kalbu (akal dan jiwa) para siswa kita agar kaya akan kebaikan. lakukan pendisiplinan secara positif. dari hati. Pada akhir tulisan ini. Dan yang tidak kalah penting adalah kekuatan dari doa kita yang akan mengubah para siswa kita menjadi pribadi yang lebih baik.3. kalau pun harus memberi konsekuensi berikan konsekuensi yang logis dan dapat diterima oleh siswa. . yang bukan hanya merugikan diri sendiri. Bahkan.

Pendekatan ini menekankan pentingnya konsekuensi positif dan negatif dalam mengendalikan perilaku. Modifikasi perilaku telah berhasil diaplikasikan dalam beberapa lingkungan pengajaran di berbagai sekolah. sejalan dengan prinsip-prinsip perilaku. Fokus tersebut juga membantu kita sebagai guru untuk menetapkan tujuan yang jelas dalam memodifikasi perilaku buruk siswa tersebut.Pendekatan terhadap displin di dalam kelas dalam pembahasan kali ini adalah teknik modifikasi perilaku. pengawasan harus berfokus se-spesifik mungkin terhadap perilaku yang akan dirubah. Namun ada satu hal yang perlu diingat dengan istilah “efek riak ombak” dimana terkadang memuji seorang siswa yang berperilaku baik akan . dalam pendekatan ini. saya harapkan dapat memanfaatkan semua strategi pendisiplinan melalui dampak dari usaha mereka dalam menguatkan motivasi para siswa. akan tetapi. apa dan bagaimanapun bentuk lingkungannya berbeda satu dengan yang lain. katakanlah. dua puluh kali selama dua jam pelajaran atau hanya tiga kali? Fokus sedemikian akan mengurangi perhatian terhadap makna yang ada dibalik perilaku dan mencoba mencegah spekulasi tentang motif dan kepribadian siswa yang bersangkutan. Berikan penguat motivasi terhadap perilaku yang kita inginkan. yang merupakan aplikasi dari prinsip teori perilaku. Misalkan ada seorang siswa mengganggu suasana kelas dengan berbicara dalam bahasa kasar. Ketertarikan dan penghargaan bervariasi sesuai dengan sifat dasar masingmasing anak dan situasi yang menyertainya. Para guru. sehingga teknik ini membutuhkan beberapa strategi berbeda dalam mempengaruhi perilaku dalam lingkungan sekolah masing-masing. Terkadang sebuah lirikan mata atau senyuman sekilas bisa menjadi penguat motivasi yang sangat efektif. berikut penjelasannya: Mengawasi.

akan tetapi. Perjanjian perilaku adalah kesepakatan untuk memberikan penghargaan kepada para siswa dalam caracara spesifik jika mereka menunjukkan perilaku yang diharapkan. Menghukum seorang siswa yang berperilaku buruk belum tentu bisa mempengaruhi siswa lain untuk berperilaku baik. Karena terbukti penegakan disiplin dengan . dan kalian boleh melakukan apa yang kaliian inginkan. bahkan sangat mungkin akan mengundang siswasiswa lain untuk berperilaku buruk pula. Ciptakan perjanjian perilaku dengan siswa.com/2012/11/caramendisiplinkan-siswa-dengan-teknik. hal sebaliknya belum tentu akan memiliki dampak yang sama. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Sebagai contoh “kerjakan lima soal dengan benar. Perjanjian perilaku bisa dibuat secara tertulis atau dinyatakan secara verbal dan bisa dibuat untuk beberapa tugas tertentu atau untuk beberapa mata pelajaran.html#ixzz4Oy7NOpSM Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah dengan menghukum siswa.mempengaruhi siswa yang berperilaku buruk untuk berubah. Read more: http://educationesia.blogspot.

Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan. atau waktu istirahat dan bermain dipotong . Dengan demikian harga diri siswa terjaga dan siswa menjadi makin bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Siswa terlambat masuk sekolah ? solusinya dia terkena konsekensi pulang lebih telat dari yang lainnya. bicarakan hal ini dengan orang tua siswa. dari memotong jam istirahat sampai meminta mereka masuk sekolah di hari Sabtu atau Minggu saat teman -temannya libur. banyak tindakan yang bisa dilakukan. Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Padahal saat sekolah mau menerapkan konsekuensi atas siswa yang terlambat. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. karena mungkin masalah timbul bukan karena si anak tapi karena masalah orang tua. Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Siswa juga menjadi sadar bahwa konsekuensi bertujuan untuk penyadaran dengan mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka . Mari kita mengenali apa itu hukuman dan konsekuensi .hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadar an akan perbaikan perilaku. Jangan sampai disitu saja.

Bisa dijatuhkan berlipat-lipat derajatnya terutama bagi siswa yang sering melanggar peraturan. apabila hati guru sedang senang maka siswa terlambat pun tidak akan dikunci diluar. Menjadikan siswa sebagai pihak yang tidak punya hak tawar menawar dan tidak berdaya. 2. 3. Guru cenderung memberi cap buruk bagi anak yang sering melanggar. Anda bisa mengatakan “Kevin kamu memilih untuk ribut pada saat bu guru sedang menerangkan maka silahkan duduk di luar selama . Guru menjadi pihak yang sangat berkuasa. Konsekuensi 1. Jenisnya tergantung guru. 5. dengan memberi cap jelek akan melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang berperilaku buruk untuk selama-lamanya. Jadi sifatnya memaksa. semua pihak harus setuju. Tidak boleh ada pihak yang tidak setuju. Sifatnya selalu berupa ancaman 6.Hukuman 1. Ingat “Power tends to corrupt” 2. Dijatuhkan saat ada perbuatan yang terjadi dan berdasarkan pada aturan yang telah disepakati. 4. 4. 3. Menghindari memberi cap pada anak. Membuat siswa bertanggung jawab pada pilihannya. Sesuai dengan perilaku pelanggaran yang siswa lakukan.

Di lingkungan internal sekolah pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering ditemukan yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi.5. pencurian dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya. pemalakan. keterlibatan dalam narkoba. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan. tukang ribut! Sana keluar…. Bandingkan dengan perkataan ini “Kevin. Dengan demikian anda menempatkan harga diri anak pada peringkat pertama. gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya. yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri. nyontek. seperti : kasus bolos. tetapi juga merugikan masyarakat umum. . dasar kamu anak tidak tahu peraturan.Tentu saja. seperti: kehidupan sex bebas. dan di sinilah arti penting disiplin sekolah.! Membicarakan tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. perkelahian.…. semua itu membutuhkan upaya pencegahan dan penanggulangganya.

2. kurikulum yang tidak terlalu kaku. terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin. sebagai berikut : 1. Sehubungan dengan permasalahan di atas. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa . dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin. keluarga dan sekolah. dalam . 3. antara lain faktor lingkungan. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa. kurang teratur. dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya. Brown dan Brown mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin. teladan. guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda. siswa yang berasal dari keluarga yang broken home. Dalam kaitan ini. tidak atau kurang fleksibel. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya. mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula. perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap. 4. kondisi sekolah yang kurang menyenangkan. Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya. seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa.Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru. terutama disiplin diri. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah.

Kebutuhan untuk berorganisasi. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya. Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi. siswa dengan guru.kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal. 4. setiap siswa akan tahu dan . Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. 2. dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar mengajar. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. 3. Rasa hormat terhadap orang lain. Selanjutnya. Brown dan Brown mengemukakan pula tentang pentingnya disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut : 1. Upaya untuk menanamkan kerja sama. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat. Rasa hormat terhadap otoritas/ kewenangan. baik antara siswa. baik di kelas maupun di luar kelas. maupun siswa dengan lingkungannya. jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi. 2. baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya. 3. misalnya kedudukannya sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah. disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang kedudukannya. agar tidak terjadi pelanggaranpelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin. disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan kerjasama. bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum.

Melalui disiplin siswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya. Memperkenalkan contoh perilaku tidak disiplin. dengan memberikan contoh perilaku yang tidak disiplin diharapkan siswa dapat menghindarinya atau dapat membedakan mana perilaku disiplin dan yang tidak disiplin. dalam kehidupan selalu dijumpai hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. 5. serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.memahami tentang hak dan kewajibannya. . 6. Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan.

a. b. Secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua faktor baik yang bersumber dari dalam diri siswa maupun yang bersumber dari luar diri siswa. a. Menurut Singgih D. Gurnasa (1982:82) mengatakan bahwa yang mempengaruhi kepatuhan siswa adalah: 1. 3. Yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri antara lain Kesehatan siswa Ketidakmampuan anak dalam mengikuti pelajaran disekolah Kemampuan intellectual yang dimiliki oleh anak Yang bersumber dari luar diri siswa yakni antara lain Keadaan keluarga yang meliputi Suasana keluarga Cara orang tua menanamkan disiplin kepada anaknya Harapan dari orang tua Bimbingan yang diberikan oleh orang tua Keadaan Sekolah .Kepatuhan siswa di sekolah maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. c. 2. Faktor-faktor yang menyebabkan siswa melanggar tata tertib sekolah tersebut berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lainnya. b.

Gaya kepemimpinan guru c. Sesuai dengan pendapat Arikunto (1993:119) bahwa kepatuhan merupakan suatu masalah yang penting. Gaya kepemimpinan kepala sekolah b. b. disebabkan oleh beberapa faktor seperti: Faktor guru Faktor lingkungan Faktor peraturan yang berlaku Faktor sangsi terhadap pelanggarannya Menurut Ametembun dalam Yusniati (1996 : 56) faktor-faktor yang mempengaruhi siswa terhadap tata tertib sekolah adalah a. Lingkungan sekolah Dengan demikian dapat disimpulkan kepatuhan siswa dalam melaksanakan tata tertib di sekolah dapat timbul baik dari dalam diri siswa atau karena pengaruh orang lain atau lingkungan siswa itu sendiri.Erna 2002 :25) Menurut Soemanto (1982:146) pelanggaran tata tertib sekolah a.Hubungan anak dengan sekolah dapat dilihat dalam hubungannya dengan anak lain dan guru yang menyebabkan ia tidak senang sekolah. tanpa adanya kesadaran akan keharusan melaksanakan aturan yang sudah ditentukan sebelumnya mencapai targel maksimal pengajaran tidak mungkin dapat . d. (Yunita. c.