Anda di halaman 1dari 24

PRAKTIKUM ANALISIS INSTRUMEN FARMASI

LABORATORIUM KIMIA FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS INSTRUMEN
“PENENTUAN KADAR GLUKOSA DALAM PATI
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS”

OLEH :
KELOMPOK VII
A.Iva Septiani

15.01.310

Angriani

15.01.262

Dian Ekasafitri D

15.01.319

Ely Cahyani Kadir

15.01.327

Enny Wardani Natu

15.01.324

Wana Purnasari

15.01.271
Asisten :

Yeusy R. P.

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Karbohidrat banyak terdapat di alam, diantaranya dalam bentuk
pati, kapas, gula pasir, dan kayu. Karbohidrat adalah polihidroksi dari
aldehida atau keton. Nama karbohidrat atau ‘hidrat dari karbon’ adalah
istilah yang dilontarkan pada masa awal dipelajarinya kimia karbohidrat.
Banyak dari senyawa ini mempunyau bobot molekul kelipatan CH 2O,
misalnya C6H12O6 dan C5H10O5.
Karbohidrat

digolongkan

menjadi

monosakarida,

disakarida,

dan polisakarida. Polimer karbohidrat di dalam kandungan buah perlu
dikonversi menjadi gula sederhana, melalui suatu proses yang disebut
dengan hidrolisis. Hidrolisis meliputi proses pemecahan polisakarida
menjadi

monomer

gula

penyusunnya.

Proses

hidrolisis

asam

menggunakan senyawa asam sebagai katalis, baik asam lemah maupun
asam kuat.
Salah

satu

contoh

monosakarida

ialah

glukosa.

Glukosa

merupakan senyawa penting di alam karena perannya yang penting
dalam proses biologis.Glukosa merupakan molekul paling sederhana hasil
hidrolisis dari semuakarbohidrat dalam tubuh sebelum proses oksidasi.
Glukosa dapat mereduksi ion kupri menjadi kupro sehingga reaksi ini
dapat digunakan sebagai dasar di dalam penentuan glukosa dan
dilakukan dengan berbagai metode antara lain: Luff Schrool, MunsonWalker, Lane-Eynon, dan Somogy-Nelson.
Metode yang digunakan dalam percobaan ini menggunakan
metode spektrofotometri UV-Vis. Dimana Spektrofotometri Sinar Tampak
(UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada
panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang
gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible) mempunyai
panjang gelombang 400-750 nm. Absorbansi diukur pada panjang
gelombang tertentu dengan spektrofotometer. Dengan menggunakan

I.2. Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini adalah untuk mengidentifikasi amilum yang terhidrolisis dengan asam dengan alat spektrofotometer UV-Vis.2. Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah penetapan kadar glukosa dengan metode spektrofotometri Uv-Vis. I. 1.2. Berdasarkan teori di atas maka dilakukanlah percobaan ini. Maksud dan Tujuan 1. Maksud Percobaan Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara hidrolisis amilum dengan alat spektrofometer UV-Vis.3.1..2. .larutan standar maka konsentrasi glukosa dapat diketahui.

Analisis kualitatif karbohidrat umumnya didasarkan atas reaksi-reaksi warna yang dipengaruhi oleh produk-produk hasil penguraian gula dalam asam-asam kuat dengan berbagai senyawa organik. kentang. selulosa dan hemiselulosa. Beberapa analisis kualitatif karbohidrat yang sering dilakukan adalah uji Molish. D.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umum II.. jagung. berwujud bubuk putih. Reaksi dengan asam-asam kuat seperti asam sulfat. uji Seliwanof. uji Antrone. Didalam pati tersusun atas dua macam karbohidrat. Susunan atom-atom tersebut dan ikatannya membedakan karbohidrat satu dengan yang lainnya.. 2015).1 Glukosa dalam Pati Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air. dan uji Fenol (Kusbandari. sehingga ada karbohidrat yang masuk kelompok struktur sederhana seperti monosakarida dan disakarida dan dengan struktur kompleks atau polisakarida seperti pati. dan lain-lain. Karbohidrat adalah komponen bahan pangan yang tersusun oleh 3 unsur utama.1. tawar dan tidak berbau. Glukosa adalah pusat dari metabolisme dan merupakan bahan bakar . yaitu karbon (C). Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. dalam komposisi yang berbeda-beda (Rahmayanti. glikogen. 2010). hidroklorat dan fosfat pada karbohidrat menghasilkan pembentukan produk terurai yang berwarna. sifat mereduksi dari gugus karbonil dan sifat oksidasi dari gugusan hidroksil yang berdekatan. hidrogen (H) dan oksigen (O). ubi jalar. Glukosa merupakan monosakarida berkarbon enam (heksosa) yang digunakan sebagai sumber dasar energi oleh kebanyakan sel heterotrofik. A. amilosa dan amilopektin. Pati dapat dibuat dari tumbuhan singkong (ubi kayu). sagu.

dkk. karena prosesnya lebih spesifik. D. 2006). isomaltosa. . Hidrolisis secara enzimatis lebih menguntungkan dibandingkan hidrolisis asam. Gula lain dalam makanan (terutama fruktosa dan galaktosa) diubah menjadi glukosa atau zat antara dalam metabolisme glukosa (Stansfield.. kondisi prosesnya dapat dikontrol. Gambar 1. dan kerusakan warna dapat diminimalkan (Rahmayanti. asam atau gabungan keduanya.1.. Glukosa I. sedangkan hidrolisis secara enzimatis memutus rantai pati secara spesifik pada percabangan tertentu. 2010). biaya pemurnian lebih murah. 2010). maltosa dan glukosa (Rahmayanti. D. Hidrolisis pati merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi bagian-bagian penyusunnya yang lebih sederhana seperti dekstrin.universal bagi sel manusia serta sebagai sumber karbon untuk sintesis sebagian sneyawa lainnya. Hidrolisis secara asam memutus rantai pati secara acak. Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dengan hidrolisis secara asam.2 Hidrolisis Pati Hidrolisis adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya. Proses hidrolisis pati menjadi glukosa dapat menggunakan katalis enzim.

Amilum jagung mengandung 28% amilosa dan 72% Amilopektin Amilum jagung berupa serbuk halus. yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin. 2013). sehingga molekul amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang (Muksin. daun..4-glikosidik dan sebagian lagi ikatan 1. Amilopektin juga terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai ikatan 1.6-glikosidik ini menyebabkan terjadinya cabang. dalam air ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum yang terdapat pada makanan kita oleh enzim amilase. Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang keduaduanya adalah polimer dari glukosa. amilum diubah menjadi maltosa dalam bentuk β – maltose (Sugiarto. Adanya ikatan 1. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amilase.6-glikosidik. Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa.1.4-glikosidik.3 Amilum Amilum atau dalam bahasa sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi. F. Amylum II.4.1.4 Spektrofotometri 2. memiliki luas permukaan yang besar.II.1 Pengertian Spektrofotometri Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy relatif jika energy .1. batang dan biji-bijian. 2012). jadi molekulnya merupakan rantai terbuka. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Amilosa terdiriatas 250-300 unit D-glukosa yang terikat dengan ikatan α 1. I.. Gambar 2.

read out disebut . yang dapat dieksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak. direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi panjang gelombang. diperlukan eksitasinya (Wunas. Secara sederhana instrument spektrofotometeri yang spektrofotometer terdiri dari : Sumber cahaya – monokromatis – sel sampel – detector. Elektron dalam satu ikatan kovalen tunggal erat ikatannya dan radiasi dengan energy tinggi. hasil yang diperoleh cukup akurat.2011) Keuntungan utama metode spektrofotometri adalah bahwa metode ini memberikan cara sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Panjang gelombang pada waktu absorbsi terjadi tergantung pada bagaimana erat elektron terikat di dalam molekul. Suatu daerah akan diabsorbsi oleh atom atau molekul dan panjang gelombang cahaya yang diabsorbsi dapat menunjukan struktur senyawa yang diteliti. Kelebihan spektrofotometer dengan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih di deteksi dan cara ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma.2007). Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek pada panjang gelombang tertentu (Gandjar. grating atau celah optis. baik yang dipakai bersama atau tidak.4.tersebut ditransmisikan. 2. dimana angka yang terbaca langsung dicatat oleh detector dan tercetak dalam bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan (Harini. 2012). Selain itu. Oleh karena itu mereka mengandung electron.. Spektrum elektromagnetik meliputi suatu daerah panjang gelombang yang luas dari sinar gamma gelombang pendek berenergi tinggi sampai pada panjang gelombang mikro (Marzuki A. 2012) Spektrum absorbsi dalam daerah-daerah ultra ungu dan sinar tampak umumnya terdiri dari satu atau beberapa pita absorbsi yang lebar.2 Prinsip Kerja Spektrofotometri Spektrum elektromagnetik dibagi dalam beberapa daerah cahaya. atau panjang gelombang pendek.1.

b. Kuvet biasanya terbuat dari kuarsa atau gelas. VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Sel sampel berfungsi sebagai tempat meletakan sampel a.Fungsi masing-masing bagian : 1. Sumber sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai macam rentang panjang gelombang. UV. Hal ini disebabkan yang terbuat dari kaca dan plastik dapat menyerap UV sehingga penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak (VIS). Untuk sampel dalam bentuk larutan dimasukan ke dalam sel natrium klorida. dengan adanya pendispersi hanya satu jenis cahaya atau cahaya dengan panjang gelombang tunggal yang mengenai sel sampel. 3. Sel ini akan dipecahkan untuk mengambil kembali larutan yang . untuk sampel cair dan padat (dalam bentuk pasta) biasanya dioleskan pada dua lempeng natrium klorida. Kuvet biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm. Pada gambar di atas hanya cahaya hijau yang melewati pintu keluar. 2. Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monokromatis. IR. Pada gambar di atas disebut sebagai pendispersi atau penyebar cahaya. namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika memiliki kualitas yang lebih baik.

4. sampel harus jernih dan tidak keruh e) Dalam penggunaan spektrofotometri uv-vis.Photocell. konsentrasi spesies yang menyerap (c). maka akan diperoleh persamaan : . Detektor panas 5. sampel harus berwarna. Dioda foto. Macam-macam detector yaitu Detektor foto (Photo detector). Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya menjadi arus listrik. Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. pernyataan ini dapat dituliskan : -dI = kIcdb bila diintergralkan maka diperoleh persamaan ini : I = I0 e-kbc dan bila persamaan di atas diubah menjadi logaritma basis 10. jika sampel yang dimiliki sangat sedikit dan harganya mahal. misalnya CdS. dan dengan ketebalan lapisan larutan (db). maka penurunan intesitas sinar (dl) karena melewati lapisan larutan tersebut berbanding langsung dengan intensitas radiasi (I). Phototube. Secara matematis.dianalisis. Hantaran foto. Read out merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat listrik yang berasal dari detector. Jika sinar monokromatik dilewatkan melalui suatu lapisan larutan dengan ketebalan (db). Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam spektrofotometri adalah : a) Pada saat pengenceran alat alat pengenceran harus betul-betul bersih tanpa adanya zat pengotor b) Dalam penggunaan alat-alat harus betul-betul steril c) Jumlah zat yang dipakai harus sesuai dengan yang telah ditentukan d) Dalam penggunaan spektrofotometri uv.

303 = a . dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel. dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau Hukum Beer. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah atau sangat tinggi. hal ini dapat diatur dengan . Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko. Tetapi tergantung pada suhu.3 Hukum Lambeert-Beer Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T). Serapan oleh kuvet. namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik. 2.2. berbunyi: “Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet. Adanya serapan oleh pelarut. Faktor-faktor menggunakan yang sering menyebabkan kesalahan dalam spektrofotometer dalam mengukur konsentrasi suatu analit: 1. 2012).I = I0 10-kbc dimana : k/2. inframerah dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan”. dan panjang gelombang radiasi (Harini.1. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa. yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat pembentuk warna. struktur molekul. maka persamaan di atas dapat diubah menjadi persamaan : Log I0/I = abc atau A = abc (Hukum Lambert-Beer) Dimana : A= Absorban b = tebal kuvet (cm) a= absorptivitas c = konsentrasi Bila Absorbansi (A) dihubungkan dengan Transmittan (T) = I/I0 maka dapat diperoleh A=log 1/T . 3. 2. pelarut. tebal kuvet.

2. misalnya larutan berwarna merah akan menyerap radiasi maksimum pada daerah warna hijau. Absorbansi maksimum dari larutan berwarna terjadi pada daerah warna yang berlawanan dengan warna yang diamati.pengaturan konsentrasi.4 Warna Komplementer Apabila radiasi atau cahaya putih dilewatkan melalui larutan yang berwarna maka radiasi dengan panjang gelombang tertentu akan diserap secara selektif dan radiasi sinar lainnya akan diteruskan. Dengan kata lain warna yang diserap adalah warna komplementer dari warna yang diamati (Karinda.2013). sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan). .1. 2.

2 Uraian Bahan 1. tidak berwarna. tidak berbau. asap dan bau hilang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air. berasap. III. hal. Kegunaan : Sebagai pelarut 2. hal. tidak mempunyai rasa. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.46 Pemerian : Cairan. 474) Nama resmi : AQUA DESTILLATA Nama lain : Air suling RM/BM : H2O / 18. Asam Klorida (FI Ed. 53) Nama resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM Nama lain : Asam Klorida RM/BM : HCl / 36. Aquadest (FI Ed.II. Kegunaan : Sebagai katalisator . Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. tidak berwarna. bau merangsang.02 Pemerian : Cairan jernih. III.

33 Pemerian : Serbuk hablur. larut dalam etanol. III. 662) Nama resmi : PHENOLPHTHALEINUM Nama lain : Fenolftalein RM/BM : C20H14O4 / 318. putih atau putih kekuningan lemah. Kegunaan : Sebagai indikator 4. stabil di udara. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. sangat mudah larut dalam air mendidih.3. Fenolftalein (FI Ed. hal. Glukosa (FI Ed. tidak berbau. Kelarutan : Mudah larut dalam air. 268) Nama resmi : GLUCOSUM Nama lain : Glukosa RM/BM : C6H12O6 / 198. agak sukar larut dalam . hal. tidak berbau.17 Pemerian : Hablur tidak berwarna. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air. IV. rasa manis. sebuk halus atu butiran putih. agak sukar larut dalam eter.

etanol (95%) mendidih. sukar larut dalam etanol (95%).00 Pemerian : Bentuk batang. rapuh dan menunjukkan susunan hablur. Kegunaan : Sebagai blanko 5. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Segera menyerap karbondioksida. 412) Nama resmi : NATRII HYDROXYUM Nama lain : Natrium Hidroksida RM/BM : NaOH / 40. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam airdan dalam etanol (95%) P. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. hal. Kegunaan : Sebagai katalisator . Natrium Hidroksida (FI Ed. Sangat alkalis dan korosif. III. mudah melelh basah. massa hablur atau keeping. putih. butiran. kering keras.

tabung reaksi. reagen benedift. HCl 2N. glukosa murni. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. NaOH 2%. 4%.1 Alat dan Bahan III. tissue gulung dan water bath.1 Alat Alat yang digunakan berupa : Batang pengaduk. gelas ukur.1. indikator fenolftalin 1%. g. III. neraca analitik. 8% dan 10% e. labu tentukur. 1 mL aquadest sebagai blanko. Disiapkan 6 tabung reaksi masing-masing diisi dengan 1 mL larutan glukosa standart di atas dan satu tabung reaksi dengan f.BAB III METODE KERJA III.2 Prosedur kerja 1. kertas saring. Dibuat 5 pengenceran dengan konsentrasi 2%. karet pengisap.2 Bahan Bahan yang digunakan berupa :aquadest. 6%. Dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 mL. Ditimbang seksama 10 mg glukosa anhidrat c. h.1. III. pipet tetes. pipet volume. dilarutkan dan diencerkan dengan etanol hingga tanda batas d. gelas kimia. . i. Ditambahkan 1 mL reagen benedift dan panaskan Didinginkan dalam gelas kimia yang berisi air dingin Ditambahkan 7 mL aquadest Dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. FeCl 3. larutan pati 4%. Pembuatan Larutan Glukosa Standart a. spektrofotometer.

j. l. Ditambahkan 15 mL larutan HCl 2 N d. 55-58 Diukur pHnya Dinetralkan dengan penambahan NaOH 2% Didinginkan dalam air mengalir Dicukupkan hingga 100 mL Dipipet 1 mL larutan pati lalu dimasukkan dalam tabung reaksi Ditambahkan 1 mL reagen benedift dan panaskan Didinginkan dalam gelas kimia yang berisi air dingin Ditambahkan 5 mL aquadest Dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. m. Hidrolisis Pati Non-Enzimatis a. Dipipet 50 mL larutan pati 4% c. n. k. . h. g. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan b. Ditambahkan 3 tetes indikator fenolftalin 1% pada menit ke f. Dipanaskan selama 60 menit e.2. i.

4 x x= −270.9=511. Hasil Penimbangan Sampel Glukosa Pati Berat (gram) 0.1 Hasil Percobaan Tabel 1.227 10 Sampel IV.4 x 1.227=271.9−511.462 0.4 x=−0.5292 .4 x 1.673=511.434 0.9−511.0117 Tabel 2 Hasil Pengamatan Pada Spektrofotometri UV-Vis Panjang Gelombang Makasimal (nm) Konsentrasi (ppm) Absorbansi Faktor Pengencera n (ml) Larutan Gukosa standar 737 20 40 60 80 100 0.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.227−271.391 0.2 Perhitungan dan Grafik Hasil Spektrofotometri UV-Vis 1.0110 4.401 0.671 511.384 10 10 10 10 10 Larutan hidrolisis pati nonenzim 718 4000 1.281 y=a+bx y=271. Perhitungan Kadar R2 = 0.4 x −270.

000843 2.3 Pembahasan Spektrofotometri UV-Vis adalah suatu metode analisi dengan menggunakan campuran spektrofotometri UV dan Visibel.48 IV.000008432 x 100 kadar=0.1 L x 0.4 0.3828 ppm kadar =3.0117 gram 3.49x + 271.3828 mg/¿ L kadar= Kadar x Vsampel x FP x 100 Berat sampel mg x 0.38 0.96 R² = 0.42 0.511.28 Linear (Konsentrasi (ppm)) 20 0 0. Grafik Hasil Spektrofotometri UV-Vis Konsentrasi (ppm) 120 100 Konsentrasi (ppm) 80 60 40 f(x) = .7 mg kadar=0.5292=3.antilog−0.033828 mg x 100 4011.1 L x 100 4.44 0.46 0. Pengukuran menggunakan alat spektrofotometri UV-Vis ini didasarkan pada hubungan antara berkas radiasi elektromagnetik yang ditransmisikan (diteruskan) .3828 kadar= kadar= 0.

Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dengan hidrolisis secara asam. Pemilihan spektrofotometer UV-Vis karena merupakan analisis instrumen yang tidak rumit. dan glukosa. serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. senyawa asam salisilat yang akan dianalisis memiliki kromofor pada strukturnya berupa ikatan rangkap terkonjugasi dan juga merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. maltosa. Percobaan ini diawali dengan hidrolisis. Maka hidrolisis pati merupakan proses pemecahan molekul amilum menjadi bagian-bagian penyusunnya yang lebih sederhana seperti dekstrin. isomaltosa. Hidro artinya air dan lisis artinya pemecahan atau penguraian. Proses hidrolisis pati menjadi sirup glukosa dapat menggunakan katalis enzim. Adapun alasan glukosa dapat dianalisis dengan spektrofotometer UV–VIS ialah karena glukosa memiliki gugus autokrom (-OH) sehingga bisa menyerap sinar UV dan sinar tampak. Kenaikan suhu akan mempercepat reaksi hidrolisis karena dalam suhu panas ikatan antar molekul dalam pati akan mudah putus. sedangkan hidrolisis secara enzimatis memutus rantai pati secara spesifik pada percabangan tertentu. Sedangkan penggunaan asam yang terlalu berlebihan akan mempengaruhi hasil akhir dan menyebabkan garam yang dihasilkan akan lebih banyak dan mempengaruhi analisa glukosa Percobaan ini dilakukan hidrolisis pati nonenzim dengan cara sebanyak 50 ml larutan pati 4% ditambahkan 15 ml larutan HCl 2N. Waktu pemanasan yang terlalu lama akan menimbulkan karbon. asam atau gabungan keduanya. waktu dan konsentrasi katalis. selektif. Penambahan HCl bertujuan untuk memecah molekul pti menjadi molekul- . Selain itu.atau yang diabsorpsi dengan tebalnya cuplikan dan konsentrasi dari komponen penyerap. Faktor-faktor yang mempengaruhi hidrolisis pati antara lain suhu. Hidrolisis secara asam memutus rantai pati secara acak.

Alasan penambahan reagen Benedict untuk kadar glukosa secara visual karena larutan dengan penambahan reagen ini akan terbentuk endapan merah bata dalam larutan berwarna biru jika sampel sudah dipanaskan hal ini menandakan bahwa sampel mengandung glukosa tinggi. Kemudian diambil 1 ml kemudian ditambahkan reagen Benedict. Kemudian pada menit ke 55-58 di tambahkan indikator fenoftalein. Sedangkan pada uji Barfoed yang memiliki prinsip berupa mekanisme Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata yang kemudian warna biru tua akan muncul sebagai setelah penambahan fosfomolibdat. Kemudian ditambahkan larutan NaOH 0. Selanjutnya dipanaskan untuk mempercepat pemecahan molekul karena pati akan mudah pecah dengan penasan secara terus-menerus. Selanjutnya sampel sampel ditambahkan 5 ml aqua destillata kemudian diukur panjang gelombangnya dan diperolah panjang gelombang . sedangakan sampel yang sudah dipanaskan tapi tidak mengalami tidak terdapat endapan merah bata menunjukkan bahwa kadar glukosanya rendah. Untuk reagen Benedict yang didasarkan pada gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas yang akan mereduksi ion Cu2+ dalam suasana alkalis. Adapun glukosa (monosakarida) akan bereaksi dengan reagent Molisch dan α-naphthol yang akan membentuk cincin yang berwarna ungu kemerah-merahan. Selanjutnya pH larutan diukur untuk mengecek kadar keasaman atau kebasaan larutan karena larutan glukosa harus bersifat netral. yang mengendap sebagai Cu2O (kupro oksida) yang akan memberikan warna merah bata.1 N hingga diperoleh larutan yang netral.molekul yang lebih kecil. Jika larutan sudah netral maka volume dicukupkan hingga 100 ml. menjadi Cu+. Indikator fenoftalein dipakai dalam penentuan senyawa asam yang ditandai dengan perubahan warna dari bening menjadi merah muda.

. sedangakan sampel yang sudah dipanaskan tapi tidak mengalami tidak terdapat endapan merah bata menunjukkan bahwa kadar glukosanya rendah. dan 100 ppm. Selain itu. 60 ppm. Alasan penambahan reagen Benedict untuk kadar glukosa secara visual karena larutan dengan penambahan reagen ini akan terbentuk endapan merah bata dalam larutan berwarna biru jika sampel sudah dipanaskan hal ini menandakan bahwa sampel mengandung glukosa tinggi.3828 ppm atau 3. 80 ppm.227.3828 mg/L dengan persen kadar 0. Larutan glukosa kemudian dibuat seri pengencern 20 ppm. 40 ppm. Selanjutnya sampel sampel ditambahkan 7 ml aqua destillata kemudian diukur panjang gelombangnya dan diperolah panjang gelombang maksimum glukasa standar adalah 737 nm dengan kadar 3. Pemilihan aqua destillata sebagai pelarut karena glukosa mudah larut dalam air dan sangat mudah larut dalam air mendidih. Tiap konsentransi diambil 1 ml kemudian ditambahkan reagen Benedict.maksimum glukasa standar adalah 718 nm dengan konsentrasi 4000 ppm dan absorbansi 1. pada percobaan ini dibuat larutan glukosa standar dari 10 mg glukosa yang dilarutkan dengan 100 ml aqua destillata yang setara dengan 100 ppm.000843%.

1 Kesimpulan Dari hasil percobaan penetepan kadar glukosa dalam pati dapat disimpulkan bahwa kadar glukosa adalah 3.2 Saran Sebaiknya dilakukan metode penetapan kadar glukosa dalam pati lainnya seperti metode luff Schoorl yaitu suatu metode atau cara penentuan monosakarida dengan cara kimiawi atau metode Dinitro Salicylic Acid (DNS) untuk analisa kuantitatif gula reduksi.BAB V PENUTUP V. V.000843%.3828 ppm atau 3.3828 mg/L dengan persen kadar 0. .

G.2013. Optimasi Variasi Kosentrasi Ragi dan Waktu Fermentasi Pada Pembuatan Alkohol Dari Buah Mengkudu (Morinda citriafolia Linn). Program Studi Farmasi. 425. Jurusan Pendidikan Kimia. 1979.. 2007.DAFTAR PUSTAKA Dirjen POM. Fakultas MIPA Universits Negeri Gorontalo Rahmayanti. Aplikasi Metode Spektrofotometri Visibel Untuk Mengukur Kadar Curcuminoid Pada Ramping Kunyit (Curcuma Domestica). Jurnal Ilmiah Farmasi. Analisis Kualitatif Kandungan Sakarida dalam Tepung dan Pati Umbi Ganyong (Canna edulis Ker. 2012.. Yogyakarta Karinda. Universitas Ahmad Dahlan : Yogyakarta. Skripsi : Pemodelan dan Optimasi Hidrolisa Pati Menjadi Glukosa dengan Metode Artificial Neural Network-Genetic Algorithm (ANN-GA). Dua Satu Press: Makassar Muksin. B. M. Farmakope Indonesia Edisi III. B. A. I. PT Salemba Medika : Jakarta. (2007). Kusbandari.). 2015.G. . W. D. 2013. Kimia Analisis Farmasi. Asnah. Farmakologi Dasar dan Klinik. dan Rohman. Univesitas Diponegoro : Semarang.. 2012. 419. FMIPA UNSRAT Manado. Katzung. Perbandingan Hasil Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometri dan Iodometri. Gandjar. Harini.. 2 (1). Kimia Farmasi Analisis. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST) Periode III. A. F. Marzuki. Depkes RI : Jakarta. Hal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.

blogspot. Makalah Tentang Pembahasan Amilum.al. et. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif (Revisi Kedua). 2012. Y dan Susanti.. Biologi Molekuler dan Sel.Stansfield. Penerbit Erlangga : Jakarta. Wunas. 2011.id/2012/10/makalah-pembahasan-mengenaiamilum. 2006. Makassar : Laboratorium Kimia Farmasi Fakultas Farmasi UNHAS . I.html Diakses pada tanggal 11 Oktober 2016 pada jam 22:21 WITA. http://icuksugiarto.co. Sugiarto.