Anda di halaman 1dari 4

OSTEOMIELITIS

Osteomielitis merupakan inflamasi yang terjadi pada sumsum tulang. Secara klinis
osteomielitis disebut juga suatu infeksi tulang yang dimulai dari kavitas medula dan sistem
Havers, melibatkan tulang kanselus kemudian menyebar ke dalam tulang kortikal dan akhirnya
mencapai periosteum tulang. Invasi bakteri ke tulang kanselus, yang dikarenakan oleh inflamasi
dan oedema pada rongga sumsum tulang, sebagai akibatnya terjadi tekanan yang berlebihan pada
pembuluh darah sehingga terjadi gangguan suplai darah di dalam tulang. Terjadinya kegagalan
mikrosirkulasi pada tulang kanselus merupakan faktor utama terjadinya osteomielitis, karena
daerah yang terlibat menjadi iskemia, tulang menjadi nekrose dan akhirnya terjadi sequester
yang merupakan tanda umum dari osteomielitis. Osteomielitis lebih banyak dijumpai pada
mandibula daripada maksila. Alasan utamanya adalah karena suplai darah pada maksila lebih
banyak dan darah didapatkan dari beberapa arteri, dimana darah didapat dari saluran pembuluh
darah yang kompleks. Suplai darah utama pada mandibula hanya berasal dari arteri alveolaris
inferior dan tulang kortikal mandibula lebih tebal sehingga mencegah penetrasi dari pembuluh
darah ke dalam periosteal tulang dan tulang kanselus mandibula lebih mudah mengalami iskemik
jika terinfeksi.
Epidemiologi
Di negara-negara berkembang osteomielitis masih merupakan masalah dalam
bidangorthopedi. Di Indonesia osteomielitis masih merupakan masalah karena tingkat higienis
yang masihrendah, diagnosis yang terlambat, angka kejadian tuberkulosis yang masih tinggi,
pengobatanosteomielitis memerlukan waktu lama dan biaya yang tinggi, serta banyak pasien
dengan frakturterbuka yang datang terlambat dan sudah menjadi osteomielitis.
Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra ,tulang pelvis, tulang
tengkorak dan mandibula. Mikroorganisme bisa mencapai tulang dan sendi baik melalui trauma
langsung padakulit misalnya akibat tusukan kecil, luka bacok, laserasi, fraktur terbuka atau
karena operasi atausecara tidak langsung melalui aliran darah dari bagian lain misalnya hidung
atau mulut, traktusrespiratorius, usus atau traktus genitourinarius

Etiologi
Penyebab paling sering adalah staphylococcus aerus (70% - 80%). Organisme penyebab
yang lain adalah salmonela streptococcus dan pneumococcus (Overdoff, 2002:571). Luka
tekanan, trauma jaringan lunak, nekrosis yang berhubungan dengan keganasan dan terapi radiasi
serta luka bakar dapat menyebabkan atau memperparah proses infeksi tulang. Infeksi telinga dan
sinus serta gigi yang berdarah merupakan akibat dari osteomyelitis pada rahang bawah dan
tulang tengkorak. Faktur compound, prosedur operasi dan luka tusuk yang dapat melukai tulang
pokok sering menyebabkan traumatik osteomyelitis. Osteomyelitis sering ditemukan pada orang
yang lebih tua karena faktor penyebabnya berhubungan dengan penuaan
Beberapa faktor etiologi terjadinya osteomielitis, seperti luka karena trauma, radiasi dan
bahan-bahan kimia, dapat menyebabkan inflamasi pada rongga medula tulang, meskipun
osteomielitis akut dan kronis sekunder secara umum disebutkan dalam bidang medis dan pustaka
kedokteran gigi, yang sebenarnya infeksi pada tulang disebabkan oleh mikroorganisme piogenik.
Osteomielitis pada sendi temporomandibula adalah kondisi yang sangat jarang dan kebanyakan
timbul bersamaan dengan osteomielitis di lokasi lain pada mandibula sebagai akibat dari
penyebaran lokal infeksi tulang. Osteomielitis pada sendi temporomandibula tanpa keterlibatan
bagian tulang yang lain lebih jarang terjadi dan jarang dilaporkan. Osteomielitis pada sendi
temporomandibula kronis dapat menyebabkan terjadinya ankilosis pada sendi temporomandibula
dan

dapat

mengganggu

pergerakan

mandibula

terhadap

maksila

sehingga

sendi

temporomandibula tidak dapat dibuka dan ditutup. Ankilosis yang terjadi oleh karena
osteomielitis kronis pada sendi temporomandibula dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa.
Apabila terjadi pada anak-anak maka akan mengganggu pertumbuhan dari rahang anak yang
mengakibatkan terjadinya hipoplasia mandibula pada sisi yang terkena. Ketika sendi
temporomandibula terkena ankilosis oleh karena osteomielitis kronis ada beberapa cara
perawatan yang dapat dilakukan yaitu secara konservatif atau terapi secara bedah, interpositional
graft dan total joint replacement.
Patofisiologi
Osteomyelitis paling sering disebabkan oleh staphylococcus aureus. Organisme penyebab
yang lain yaitu salmonella, streptococcus, dan pneumococcus. Metafisis tulang terkena dan

seluruh tulang mungkin terkena. Tulang terinfeksi oleh bakteri melalui 3 jalur : hematogen,
melalui infeksi di dekatnya atau scara langsung selama pembedahan. Reaksi inflamasi awal
menyebabkan trombosis, iskemia dan nekrosis tulang. Pus mungkin menyebar ke bawah ke
dalam rongga medula atau menyebabkan abses superiosteal. Suquestra tulang yang mati
terbentuk. Pembentukan tulang baru dibawah perioteum yang terangkan diatas dan disekitar
jaringan granulasi, berlubang oleh sinus-sinus yang memungkinkan pus keluar.
Manifestasi Klinis
Gejala umum akut seperti demam, toksemia, dehidrasi, pada tempat tulang yang terkena
panas dan nyeri, berdenyut karena nanah yang tertekan kemudian terdapat tanda-tanda abses
dengan pembengkakan
Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan Laboratorium

2.

Darah
Leukosti meningkat > 30.000 , LED meningkat
Titer antibody anti-Staphylococcus
Kultur darah => etiologi bakteri
CRP meningkat
Feses => diperiksa dan dikultur bila dicurigai Salmonella
Biopsi
Pemeriksaan Radiologi

10 hari pertama => tidak dapat terlihat kelainan radiologi, tapi terdapat
pembengkakan jaringan lunak

> 10 hari => gambaran destruksi tulang : rarefaksi tulang yang bersifat difus
disertai pembentukan tulang baru di bawah periosteum yang terangkat.

3.

USG => melihat efusi pada sendi.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan sasaran awal adalah untuk mengontrol dan memusnahkan proses infeksi

1. Imobilisasi area yang sakit : lakukan rendam salin noral hangat selama 20 menit beberapa
kali sehari.
2. Kultur darah : lakukan smear cairan abses untuk mengindentifikasi organisme dan
memilih antibiotik.
3. Terapi antibiotik intravena sepanjang waktu.
4. Berikan antibiotik peroral jika infeksi tampak dapat terkontrol : teruskan selama 3 bulan.
5. Bedah debridement tulang jika tidak berespon terhadap antibiotik pertahankan terapi
antibiotik tambahan.
Referensi