Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN TEORI DAN KEBIJAKAN
2.1

Tinjauan Teori
Semakin pesat perkembangan sebuah kota maka semakin kompleks
aktivitas yang dilakukan di kawasan perkotaan tersebut. Selain itu fungsi
elemen perkotaan juga semakin bertambah karena dipengaruhi oleh
tingkat aktivitas yang tinggi tersebut dan kebutuhan akan transportasi
semakin meningkat.

2.1.1 Sistem Transportasi
Transportasi merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat
fasilitas tertentu beserta arus dan sistem kontrol sehinga memungkinkan
orang ataupun barang mampu berpindah dari tempat asal menuju tempat
tujuan secara efesien dalam setiap waktunya dalam mendukung aktivitas
manusia. Sistem sendiri merupakan gabungan beberapa objek atau
komplek yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sedangkan sistem
transportasi sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling
berkaitan dan saling mendukung dalam kegiatan perpindahan baik itu
berupa perpindahan orang maupun barang. Sistem transportasi secara
menyeluruh (makro) dapat dipecahkan menjadi beberapa sistem yang
lebih kecil (mikro), masing-masingnya saling terkait dan saling
mempengaruhi. Sistem transportasi mikro terdiri dari:
a Sistem Kegiatan
Pola ruang tata guna lahan yang terdiri kegiatan ekonomi, sosial
ataupun kegiatan lainnya pada suatu kawasan yang dapat
menyebabkan tarikan ataupun bangkitan pergerakan dalam usaha
memenuhi kebutuhan manusia. Sistem ini berbanding lurus dengan
jenis dan intensitasnya tata guna lahan tersebut karena semakin
besar jenis dan intensitas dari tata guna lahan tersebut maka
memberikan dampak yang besar terhadap permintaan tranportasi
dari ataupun menuju kawasan tersebut.
b Sistem Jaringan Sarana Prasarana Transportasi
Pergerakan yang disebabkan oleh kegiatan yang tidak dalam satu
kawasan akan memiliki dampak pada kebutuhan moda transportasi
dan prasarana tempat moda tersebut bergerak. Moda transportasi
yang dimaksud yaitu angkutan umum maupun angkutan pribadi
sedangkan prasarana transportasi yaitu berupa jaringan jalan raya,
rel kereta api, stasiun, pelabuhan, bandara ataupun terminal. Pada
sistem jaringan ini berkaitan dengan kapasitas pelayanan.
c Sistem Pergerakan Lalu Lintas
Adanya interaksi antara sistem kegiatan dan sistem jaringan yang
menyebabkan pergerakan dengan menggunakan moda ataupun
tanpa moda. Sistem mendukung terwujudnya pergerakan yang
nyaman dan aman dan dapat diatur oleh teknik atau manajemen lalu
lintas.
d Sistem Kelembagaan

2. sistem transportasi kawasan perkotaan harus direncanakan dengan baik agar kegiatan transportasi tersebut berjalan harmonis. Polantas serta masyarakat. Perencanaan transportasi didefinisikan sebagai suatu proses yang bertujuan untuk mengembangkan sistem transportasi yang memungkinkan manusia dan barang untuk bergerak atau berpindah tempat dengan aman.Sistem yang mengatur sistem kegiatan. sebenarnya terdapat faktor "cepat" dalam kegiatan transportasi agar nantinya terjadi menjadi efektif dan efesien. Perencanaan transportasi juga merupakan proses yang dinamis dan harus tanggap terhadap perubahan aktivitas yang ada diperkotaan. Modal yang dikeluarkan untuk menerapkan sistem transportasi sangat besar sehingga dibutuhkan perencanaan tata guna lahan. nyaman dan murah (Pignataro. keadaan ekonnomi. lembaga. DLLAJ. Sistem ini meliputi individu. intansi pemerintah ataupun intansi swasta yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dan mempunya peran masing-masing. kelompok. Berdasarkan dari gambar sistem transportasi dari Tamin (2000) . tata guna lahan serta pola arus lalu lintas. jaringan serta pergerakan agar nantinya dapat memberikan pelayanan yang harmonis dan teratur. Udara).1..  Sistem Kegiatan Bappenas. Gambar . Perencanaan tata guna lahan biasanya pokok masalah ataupun isu penyediaan transportasi tersebut. Atau dengan kata lain bahwa investasi terkait dengan sistem transportasi perkotaan sangat besar sehingga dibutuhkan perencanaan transportasi yang baik sebagai penunjangnya.2 Interaksi Tata Guna Lahan dan Transportasi Secara pemahaman sebenarnya transportasi merupakan derived demand karena adanya suatu tata guna lahan. 1973). Selain aman. nyaman serta murah. Pemerintah Daerah. sistem jaringan (sarana dan prasarana) yang bertujuan menciptakan pergerakan yang efektif dan efesien dalam kawasan perkotaan. Bappeda Tingkat I dan II. Sistem Transportasi Mikro Sumber: Tamin (2000) Seperti yang telah dikemukakan. Pemerintah Kota  Sistem Jaringan Departemen Perhubungan (Darat. Laut. PU Bina Marga  Sistem Pergerakan Organda.

Adapun pembagian klasifikasi jalan berdasarkan fungsinya dapat melihat tabel berikut ini. 2. Tabel 2.  Berdasarkan Jenis Orang Pergerakan berdasarkan jenis orang dipengaruhi oleh atribut sosioekonomi (tingkat pendapatan. pendidikan. kolektor. Klasifikasi Jalan Sistem Jalan Peran Syarat Arteri Primer  Menghubungkan antar provinsi  Minimum 60 km/h  Lebar jalan 11 meter atau kabupaten (regional)  Harus ada median jalan  Harus ada prasarana jalan seperti rambu.3 Klasifikasi Fungsi Jalan Berdasarkan Undang-undang No. atau daya tarik dari suatu tata guna lahan. maka jalan dapat diklasifikasikan menjadi dua klasifikasi yaitu berdasarkan fungsi ataupun wewenang. kepemilikan kendaraan. 38 terkait dengan jalan.1.  Berdasarkan Tujuan Pergerakan Biasanya pergerakan masyarakat kawasan perkotaan ke tempat kerja. ukuran dan struktur rumah tangga). Klasifikasi pergerakan menurut Tamin (2000) dalam Waloejo (2013) dibagi menjadi tiga. Sistem kegiatan ini juga mempengaruhi karakteristik pergerakan. Hiller (1993) mengatakan bahwa pergerakan yang terjadi menuju atau berasal dari suatu area terbangun. dan kepentingan sosial ataupun rekreasi.  Berdasarkan Waktu Pergerakan berdasarkan waktu dapat dikategorikan peak hour ataupun non peak hour. lampu lalu lintas. marka. lokal dan lingkungan.. Selain itu juga dapat bergantung pada intensitas bangkitan yang disebabkan oleh adanya suatu tata guna lahan tersebut. Sedangkan menurut wewenang adalah sebagai berikut. lampu penerangan jalan . yaitu berdasarkan tujuan pergerakan. akan sangat tergantung dari tingkat tarikan. Jalan berdasarkan fungsi dapat berupa jalan arteri. i Jalan nasional dikelola oleh Pemerintah Pusat ii Jalan propinsi dikelola oleh Pemerintah Propinsi iii Jalan kabupaten dikelola oleh Pemerintah Kabupaten iv Jalan Lingkungan dikelola oleh Kelurahan. perbelanjaan. intensitas pergerakan ataupun tingkat mobilitas yang dari suatu kawasan ataupun sebaliknya. berdasarkan waktu dan berdasarkan jenis orang.tersebut dapat dikatakan bahwa jika sistem kegiatan (tata guna lahan) mengalami perubahan maka akan sangat berdampak pada sistem jaringan (sarana dan prasarana) terkait dengan penyediaan kapasitas.

5 meter fungsi regional  Menghubungkan kota orde III  Menghubunkan kota orde III dan persil kawasan Arteri  Menghubungkan pusat kota  Minumum 40 km/h Sekunder  Lebar jalan 11 meter dengan pusat BWP  Menghubungkan pusat BWP  Harus ada prasarana jalan seperti rambu. Aksesbilitas ada suatu ukuran kenyamanan yang dimana lokasi tata guna lahan berinteraksi satu dengan yang lain dan bagaimana mudah dan susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi.1. . dengan marka. Menghubungkan Orde I dan II  Minimum 40 km/h  Menghubungkan Orde II dan III  Lebar Jalan 9 meter  Harus ada prasarana jalan seperti rambu. Klasifikasi tingkat aksesbilitas. lampu lalu lintas. lampu penerangan jalan Kolektor  Menghubungkan pusat BWP  Minimum 20 km/h Sekunder  Lebar jalan 9 meter dan subpusat BWP memiliki  Menghubungkan kawasan  Harus prasarana jalan yang sekunder I dan sekunder II  Menghubungkan kawasan cukup sekunder II dan III Lokal  Menghubungkan pusat kota  Minimum 10 km/h Sekunder (sekunder I dan perumahan)  Lebar jalan 6.5 meter  Menghubungkan pusat BWK (sekunder II) dan perumahan atau sub BWP dengan perumahan Sumber: Pedoman Konstruksi Bangunan Kolektor Primer 2. Sedangkan mobilitas merupakan suatu ukuran kemampuan seseorang untuk bergerak yang biasanya dinyatakan dalam kemampuannya membayar biaya transportasi. marka.4 Konsep Aksesbilitas dan Mobilitas Aksesbilitas merupakan konsep gabungan pengaturan tata guna lahan secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya. maka mobilitas orang ke tempat tersebut juga tinggi selama biaya aksesbilitas ke tempat tersebut mampu dipenuhi. lampu penerangan jalan Lokal Primer  Menghubungkan kota orde I  Minumum 20 km/h dan II dengan persil kawasan  Lebar jalan 6. lampu lalu lintas. jika aksesbilitas ke suatu tempat tinggi.

2. karena orang lebih cenderung menggunakan variabel waktu tempuh sebagai ukuran aksesibilitas. d. Tol Surabaya – Mojokerto. dll. Pembangunan beberapa ruas jalan baru (Jl. Penetapan wewenang pembinaan jalan yang ditekankan pada pengelolaan dan alokasi anggaran. Saat ini jarak merupakan suatu variabel yang tidak begitu cocok. Bengawan). Sistem Transportasi Jalan Raya a. JL. namun perencanaan harus meninjau payung hukum dan kebijakan yang menaungi diatasnya. Pandegiling) untuk memperlancar lalu lintas di jalur tengah dan jembatan (Gajah Mada. penyempurnaan Jl.2 Tinjauan Kebijakan Dalam sebuah perencanaan tidak serta merta merencanakan begitu saja. perencanaan sistem transportasi di Kecamatan Tambaksari dibagi menjadi 2 (dua). Pembangunan ruas jalan utama Barat-Timur dimaksudkan untuk menghubungkan wilayah Barat dan Timur kota yang terbelah oleh Kali Surabaya dan rel kereta api serta untuk mengurangi beban lalu lintas di tengah kota.2. Beberapa fly over dan jembatan yang direncanakan adalah : Fly over Dolog yang menghubungkan jalan Ahmad Yani dan Jemur Andayani serta disesuaikan dengan rencana pertemuan jalan Tol Surabaya-Mojokerto dengan jalan A. Pembangunan beberapa fly over (Jemur Handayani. sekaligus menurunkan kepadatan lalu lintas. Begitu juga dengan perencanaan transportasi di Kecamatan Tambaksari. Kebijaksanaan transportasi jalan raya adalah: Menetapkan hirarki jalan menurut fungsinya dengan maksud mengurangi beban lalu lintas dalam kota pada jalan arteri. b. .Jauh Jarak Dekat Kondisi Prasarana Aksesbilitas rendah Aksesbilitas menengah Sangat jelek Aksesbilitas menengah Aksesbilitas tinggi Sangat baik Dari tabel diatas menunjukkan suatu tempat dikatakan ”aksesibel” jika sangat dekat dengan tempat lainnya.Timur di dalam kota Surabaya. dan ”tidak aksesibel” jika berjauhan. 2. Tol Surabaya – Gresik). dokumen-dokumen perencanaan sebagai pedoman dalam perencanaan kawasan tersebut. Konsep ini sangat sederhana di mana hubungan transportasi dinyatakan dalam jarak (km). Salah satu arah penganangan sistem jaringan jalan. Lingkar Timur. untuk meningkatkan kapasitas dan memperlancar arus lalu lintas dari Timur ke Barat kota. Yani. antara lain: A.1 RTRW Kota Surabaya Tahun 2013-2023 Menurut RTRW Kota Surabaya. c. yakni pembangunan jaringan jalan dan bangunan pelengkap berupa jembatan atau fly over sepanjang sumbu Barat .

Dalam RTRW Kota Surabaya. Dharmahusada disistematikakan secara terhirarki menurut undang-undang jalan yang ada didasarkan pada. Solo. Bandung sampai Jakarta) sedang Stasiun Kereta Api Pasar Turi adalah sebagai stasiun kedua yang melayani wilayah Barat (Semarang sampai Jakarta lewat Utara Pulau Jawa). Lalu lintas di jalanjalan utama yang ada pada kawasan perencanaan bergerak 2 (dua) arah dengan adanya jalur pemisah kecuali pada jalan lokal : bolak balik 2 (dua) arah tanpa ada jalur pemisah. Sebagai rencana jangka panjang perlu dipikirkan pula kemungkinan dilakukannya pembangunan Double Track (jalan kereta api kembar) dari Stasiun Waru sampai Stasiun Gubeng untuk meningkatkan frekuensi pelayanan dengan angkutan kereta api terutama angkutan regional. Menyediakan pelayanan bis kota ke stasiun kereta api. c. Selatan (Malang-Blitar). Menyediakan fasilitas-fasilitas untuk pergantian kendaraan pada stasiun kereta api yang strategis (Stasiun Pasar Turi). Fly over yang menghubungkan jalan Kenjeran dan jalan Kapasan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di jalan Kenjeran-jalan Kapasan dan jalan Sidotopo serta menunjang akses menuju jembatan Suramadu. b.2. antara lain:      Kecenderungan perkembangan pola jaringan jalan pada kawasan perencanaan cenderung membentuk pola linier Utara–Selatan dan Timur–Barat dengan kombinasi grid didalamnya. Jembatan Darmokali melintasi Kalimas bertemu dengan jalan Bengawan sebagai pengembangan jembatan BAT. Dharmahusada Rencana sistem jaringan pergerakan di UP. dan Barat (Yogya. Kebijaksanaan sistem transportasi Kereta Api yaitu sebagai berikut : a. Meningkatkan/menambah frekuensi pelayanan dengan kereta api. Sistem Transportasi Kereta Api Kecamatan Tambaksari dilewati oleh jalur kereta api yang berasal dari stasiun gubeng. Pihak PERUMKA telah menetapkan Stasiun Gubeng dimantapkan fungsinya sebagai stasiun utama yang melayani kota-kota di sebelah Timur (Pasuruan sampai Banyuwangi).2 RDTRK UP. B. Fly over di jalan Pandegiling melintasi jalan Darmo menuju jalan Sulawesi dan fly over melintasi jalan Diponegoro menuju Banyu Urip. 2. RTRW Kota Surabaya RDTRK terkait RTRK terkait Studi Integrated Transportation Program .Jembatan di jalan Gajah Mada untuk memperbesar arus lalu lintas dari Selatan ke Barat kota dan pembangunan jembatan di jalan Wiyung untuk menampung arus dari Barat ke Selatan dan sebaliknya .

Dharmahusada. Segmen jalan Bung Tomo – Ngagel Jaya Selatan. Menambah jumlah halte pemberhentian pada lintasan trayek padat. Perempatan Kenjeran. Berdasarkan RDTRK UP Dharmahusada. dalam rangka mengurangi kepadatan lalu-lintas yang semakin meningkat. Dalam UP Dharmahusada. direkomendasikan untuk mengembangkan system off street terbatas pada jalan jalan dalam klasifikasi . Untuk mengatasi hal tersebut pada kawasan perencanaan diberikan solusi antara lain yaitu pemanfaatan area bagian bawah tol tengah kota untuk area parkir atau dengan konsepsi Rail Front City. khususnya rekomendasikan dalam klasifikasi sebagai berikut :      di atas. Kertajaya & Kertajaya Indah Arteri Sekunder. guna lebih mendukung eksistensinya terkait posisinya yang strategis yaitu pada ruas inner ring road kota Surabaya (Ruas jalan Nginden sd Karangasem. dengan melakukan pengendalian (peremajaan) terhadap jumlah armada angkutan kota. Jalan Kapas Krampung. berikut rekomendasi sistem pergerakan angkutan umum. Sedangkan untuk sistem perparkiran di UP. terdapat satu sub terminal. meliputi : Segmen jalan Kenjeran Kolektor Primer. Untuk dapat meningkatkan fungsi terminal Bratang yang terkesan Under Utilized. Ruas jalan Nginden-Menur-Manyar Karangmenjangan-Dharmahusada-Kedungsroko-Pacarkeling-Residen Sudirman-Tambaksari. klokeltor primer dan sekunder. yaitu : Terminal Bratang. meliputi .Sehubungan dengan 4 (empat) kebijakan pengembangan sistem pergerakan. Mengintrodusi sistem angkutan massal sejenis busway pada ruas jalan lingkar dalam (inner ring road). akses ke Jembatan Suramadu). meliputi . arteri primer-sekunder. meliputi . ke depan direkomendasikan program pengembangan Transit Point yang disinergikan dengan fasilitas Jasa Perniagaan. . Ruas jalan Sulawesi. Serta mengembangkan program pengendalian akses terbatas keluar masuk persil (blok sistem) pada system jaringan arteri-kolektor primer dan sekunder. Adanya rencana pembangunan tol tengah kota dan Double Track Rail dalam perencanaan sistem transportasi kereta api yang cenderung berperan sebagai edges yang membelah kawasan perencanaan sehingga menyebabkan terjadinya lost space. Kolektor Sekunder. maka jalan raya di Arteri Primer. antara lain:    Untuk tetap mengikuti sistem trayek yang telah ditetapkan oleh Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Terminal Bratang direkomendasikan untuk di bangun kembali sebagai sebuah fasilitas terminal transit yang terpadu dengan fasilitas Jasa Perniagaan. Ruas jalan Ngagel Jaya – Raya Pucanganom Timur –Dharmawangsa – Tambangoyo – Karangasem sd.

2.2. beberapa strategi pengembangan jaringan jalan arteri kota Surabaya yang bersinggungan langsung dengan kecamatan Tambaksari.2. sedangkan rencana jalan middle ring road yang sebagian telah dibangun perlu dipercepat penyelesaiannya sesuai rencana. pergerakan arus kendaraan antar kota dan arus lalu lintas dalam kota harus dibuat terpisah. Dalam kawasan kota Surabaya. cukup sampai di Terminal Tambak Oso Wilangun. dengan tahun perencanaan 2018 (RTRW Kota Surabaya. 2013). yaitu:  Fungsi utama dari ring road yang ada saat ini diarahkan menjadi outer ring road di masa yang akan datang. RENCANA JARINGAN JALAN Ada 8 prioritas utama pengembangan sistem transportasi Kota Surabaya di masa mendatang: . khususnya di jalur tengah kota. selanjutnya dilayani oleh angkutan kota menuju Kota Surabaya. sehingga fungsinya untuk mengurangi kepadatan lalu lintas pada jalur tengah kota dapat dirasakan manfaatnya. dari arah selatan yang menggunakan kendaraan angkutan umum penumpang antar kota cukup sampai di terminal Purabaya.  Jalan-jalan yang mendukung transportasi umum perkotaan harus direncanakan. Dalam studi ini strategi pengembangan jaringan jalan arteri untuk kawasan Gerbangkertasusila dipisahkan atas dua area yaitu arahan untuk wilayah inti urban (Surabaya Metropolitan Area/SMA) dan hinterlandnya (di luar SMA). Jemur Andayani ke Jalan Tol Waru-Gempol .3 Arahan dari ARSD (Artery Road System Development) Arterial Road System Development merupakan studi pengembangan sistem transportasi untuk wilayah Gerbangkertasusila.Jalan penghubung JL.  Pola grid pattern akan diaplikasikan dalam penyebaran aksesibilitas dari jalan-jalan kota. yang garis besarnya adalah: A. Sebagai contoh arus lalu lintas angkutan barang dan arus lalu lintas penumpang dibuat terpisah.  Pembatasan arus kendaraan penumpang dari dan ke Surabaya. demikian juga arus kendaraan penumpang dari wilayah utara Surabaya.  Arus lalu lintas harus bisa dibuat secara terpisah.2. seperti Light Rail Transit (LRT) dan jalur khusus bus yang bisa diaplikasikan secara bersama dalam suatu ruang jalan yang sama.  “Unit-unit kota” dan ruang untuk jaringan jalan yang lebih leluasa akan dirancang guna mengembangkan lingkungan perkotaan. disusun arahan sistem transporasi.4 SURABAYA INTEGRATED TRANSPORT NETWORK PLANNING (SITNP) Dilandasi pada urgensi permasalahan transportasi yang dihadapi Kota Surabaya.

Akan ada 22 stasiun pemberhentian sepanjang 11. . RENCANA SISTEM JARINGAN TRANSPORTASI ANGKUTAN PERKOTAAN Rencana ini dimaksudkan untuk memperbaiki sistem transportasi angkutan umum di Kota Surabaya dengan titik berat pada angkutan kota mikrolet dan bus kota dengan cara perencanaan pengaturan rute mikrolet dan bus kota yang efektif di wilayah Kota Surabaya. Pasar Kembang Jalan layang Jl. Program jangka panjang ini akan menjadi suatu perencanaan yang berkesinambungan bila program jangka pendek yang dipilih adalah alternatif I dan II. Kalianak dan Jl.6 km pada rute ini.9 km yang sebagian besar direncanakan berupa struktur ‘elevated’ dan akan melewati pusat Kota Surabaya. JALUR KHUSUS BUS JALUR BARAT LAUT-TIMUR Jalur khusus bus yang diajukan ini dimulai dari terminal Tambak Oso wilangun dan melintas sepanjang alinyemen Jl. Panjang lajur khusus bus ini sepanjang 9.Pengembangan Jl.Pengembangan Jl. Raya Gubeng Pelebaran pada titik-titik penting pada ruas jalan tol SurabayaGempol . yang ditunjang oleh jaringan bus kota yang sudah diterapkan. Darmo Pengembangan Jl.  TAHAPAN PEMBENAHAN Sistem operasi mikrolet dan bus Kota Surabaya tergolong sitem paratransit yang tidak selayaknya masih difungsikan sebagai angkutan umum utama kota.2 km dan terdiri atas 6 stasiun pemberhentian. JALUR KERETA API METRO BARAT-TIMUR Jalur kereta api Metro yang diajukan melintas dari pusat Kota Darmo satelit di barat ke Terminal ITS di dekat Laguna Indah di Surabaya Timur.-     Jalan layang Jl. Pandegiling-Jl. Gresik. Akan ada 25 buah stasiun pemberhentian dengan berbagai tipe sepanjang 18. Pandegiling-Jl. Sulawesi Jalan layang Jl. maka sistem ini diajukan sebagai alternatif bagi pengguna angkutan umum bus yang saat ini sudah ada. Gunungsari . Dharmahusada-Jl. Gresik JALUR KERETA API METRO UTARA-SELATAN Jalur kereta api Metro yang diajukan dimulai dari Pelabuhan Tanjung perak ke daerah Purabaya di selatan Kota Surabaya. menengah dan panjang. Kalianak/Jl. Pada jangka pendek dan menengah disajikan pilihan alternatif sedangkan pada jangka panjang direncanakan penerapan sistem Mass Rapit Transit dengan jalan pembangunan jaringan LRT dan regional rail wilayah Gerbangkertasusila. Untuk itu diusulkan pembenahan yang dibagi menjadi 3 tahap penerapan program yaitu jangka pendek. PELAYANAN KERETA API UNTUK KAWASAN SUB URBAN Berdasarkan identifikasi potensi yang cukup tinggi untuk pengembangan pelayanan kereta api untuk komuter sub urban antara Sidoarjo-Surabaya Kota. B.

        PENERAPAN JANGKA PENDEK Perbaikan sistem angkutan umum yang dilakukan pada jangka pendek ini adalah memilih kebijakan serta melaksanakan sistem yang akan diterapkan. PENERAPAN JANGKA MENENGAH Perbaikan Sistem Berkala: Pada tahap ini dilakukan evaluasi yang dilakukan DLLAJR. maka persaingan antar rute akan tetap ada apabila perjanjian dengan pemerintah kurang detail. selain itu disarankan pula perubahan moda angkutan kota mikrolet menjadi bus kota pada alternatif II pada rute-rute yang dinyatakan sebagai rute utama. yang terdiri atas evaluasi . Akan tetapi karena rutenya masih banyak tumpang tindih. Penerapan lajur khusus bus kota dapat diaplikasikan pada trayek/rute-rute utama yang melayani wilayah UtaraSelatan Surabaya dari Waru sampai Tanjung Perak. Alternatif III: Sistem pemberangkatan yang disarankan sistem headway. yang disajikan dalam 3 alternatif. Penerapan Lajur Khusus Bus: Langkah ini merupakan solusi peningkatan paling murah untuk menurunkan travel time penumpang angkutan umum khususnya yang menggunakan bus kota. Alternatif I: Alternatif ini dibuat dalam rangka pembenahan angkutan umum di Kota Surabaya untuk rute-rute utama dan cabang yang dilayani oleh angkutan umum jenis bus serta mempunyai jadwal keberangkatan (time table) yang tetap dan teratur.  Kesesuaian antar demand dengan supply  Kebutuhan penambahan fasilitas pendukung  Kebutuhan modifikasi atau penambahan trayek-trayek cabang dan ranting Dari hasil evaluasi tersebut selanjutnya dilakukan perbaikan sistem yang sifatnya perbaikan kecil dan merupakan program tahunan. Dengan konsep ini lokasi-lokasi rawan macet akan sedikit teratasi karena semua kendaraan berjalan sesuai time table. dengan prioritas utama jalan Raya Darmo sampai jalan Rajawali. Fasilitas Pemberhentian Bus: Konsep keterpaduan diterapkan untuk menunjang perbaikan mobilitas penguna jasa angkutan umum. Alternatif II: Disarankan pada alternatif II dilaksanakan penjadwalan keberangkatan angkutan umum. Pada konsep ini fasilitas pemberhentian bus dipadukan dengan fasilitas zebra cross bersimpul atau jembatan penyeberangan. . Apapun alternatif yang dipilih oleh Bappeko Surabaya. maka konsultan menyarankan agar prioritas utama adalah para pemilik angkutan umum yang lama adalah merupakan pemeran utama dari badan usaha pelayanan jasa angkutan umum tersebut.

Pandegiling – Jl. Banyu Urip – Jl. Raya Darmo – Jl. Raya Tandes – Segi Delapan Darmo.  Mass Rapid Transit Sistem:  Rute Utara – Selatan: Purabaya – Ahmad Yani – Wonokromo – Jl.  Rute Barat – Timur : Bunderan ITS – Jl. Surabaya – Lamongan. dan Surabaya – Gresik. Gemblongan – Jl.Porong  Pembangunan double track Wonokromo – Krian  Pembangunan double track Pasarturi – Kandangan – tambak  Pembangunan jalur penghubung Gubeng – Pasarturi (fly over)  Pembangunan persilangan tidak sebidang pada beberapa jalan  Pembangunan stasiun-stasiun : Waru – tambak Osowilangun – Tugu Pahlawan – Kertajaya –Jemursari. Jembatan Merah – Jl.  Kereta Api Commuter: Kereta api ini merupakan alat transportasi untuk melayani pergerakan ulang alik antara Surabaya dengan kota sekitarnya dalam kawasan Gerbangkertosusila. Basuki Rahmad – Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Kertajaya Indah – Jl. Konsep tersebut didukung perbaikan prasarana yang meliputi :  Pembangunan double track Wonokromo – Sidoarjo . Pahlawan–Jl. . Tunjungan – Jl. Veteran – Jl. Surabaya – Mojokerto. PROGRAM JANGKA PANJANG Program ini bertujuan memperbaiki sistem angkutan umum melalui pengadaan angkutan umum yang bersifat masal berupa Mass Rapid Transit dengan jenis LRT dan Kereta Api Commuter. Sulawesi – JL. Tg. Perak Timur/ Barat. Manyar Kertoarjo – Jl. Rajawali – Jl. Rute kereta api ulang alik yang diaplikasikan adalah Surabaya – Porong. Kertajaya – Jl.