Anda di halaman 1dari 2

Nama : Tommy Akasia Laksana Putra

NIM

: G1A114028

Prodi : PSPD A

KB Dalam Pandangan Islam
KB dalam arti sebuah program nasional untuk membatasi jumlah populasi
penduduk, hukumnya haram. Tidak boleh ada suatu undang-undang atau peraturan
pemerintah yang membatasi jumlah anak dalam sebuah keluarga. KB sebagai
program nasional tidak dibenarkan secara syara’ karena bertentangan dengan
Aqidah Islam, yakni ayat-ayat yang menjelaskan jaminan rezeki dari Allah untuk
seluruh makhluknya. Allah SWT berfirman :
“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang
memberi rizkinya.” (QS Huud [11] : 6)
Syariat Islam telah menetapkan memiliki banyak anak
disunahkan. Anas ra. Menuturkan Rasulullah SAW bersabda:

sebagai

hal

yang

“Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku
akan membanggakan banyaknya kalian dihadapan para Nabi pada Hari Kiamat”.
(HR.Ahmad)
Dari segi tinjauan fakta, teori Malthus batil karena tidak sesuai dengan kenyataan.
Produksi pangan dunia bukan kurang, melainkan cukup, bahkan lebih dari cukup
untuk memberi makan seluruh populasi manusia di dunia. Pada bulan Mei tahun
1990, FAO (Food and Agricultural Organization) mengumumkan hasil studinya,
bahwa produksi pangan dunia ternyata mengalami surplus 10 % untuk dapat
mencukupi seluruh populasi penduduk dunia. Teori ini juga ditolak dari segi politik
dan ekonomi global. Karena ketidakcukupan barang dan jasa tidak disebabkan
jumlah populasi yang terlalu banyak sehingga kurangnya produksi pangan,
melainkan disebabkan adanya ketidakadilan dalam distribusi barang dan jasa. Ini
terjadi karena pemaksaan ideologi kapitalisme oleh Barat (negara-negara penjajah)
atas Dunia Ketiga, termasuk Dunia Islam. Sebanyak 80 % barang dan jasa dunia,
dinikmati oleh negara-negara kapitalis yang jumlah penduduknya hanya sekitar 25
% penduduk dunia.
Namun dalam Islam, KB dalam arti pengaturan kelahiran yang dijalankan oleh
individu (bukan dijalankan karena program negara) untuk mencegah kelahiran
dengan berbagai cara dan sarana, hukumnya mubah, bagaimana pun juga motifnya

Kaidah fiqih menyebutkan : Adh-dhararu yuzaal (Segala bentuk bahaya haruslah dihilangkan). niscaya kami akan melakukan pengebirian” (Muttafaq ‘alaih. seperti vasektomi atau tubektomi. Maka izinkanlah aku untuk melakukan pengibiria. kondom. Hadits ini menunjukkan kebolehan mencegah kehamilan. kemudian berkata : Wahai Rasulullah. Penggunaan alat kontrasepsi ini adalah salah satu cara untuk mencegah kehamilan.” . tetapi hendaklah engkau berpuasa. Dalam redaksi lain: “Utsman ibn Mazh’un pernah datang menjumpai Rasulullah SAW. Seandainya itu diizinkan. Selain itu kebolehan pengaturan kelahiran khusus pada pencegahan kehamilan yang temporal (sementara).Dalil kebolehannya antara lain hadits dari sahabat Jabir RA yang berkata:“Dahulu kami melakukan ‘azl [senggama terputus] pada masa Rasulullah SAW sementara AlQur`an pada saat itu masih turun. Adapun pencegahan kehamilan yang permanen (sterilisasi). Namun kebolehan ini agar tidak menimbulkan bahaya (dharar). dan jenis KB lain. dari Sa’ad bin Abi Waqash RA). “Rasulullah SAW telah menolak ‘Utsman bin Mazh’un untuk hidup membujang (tabattul). sebagai teknik mencegah kehamilan secara permanen yang ada saat itu. hukumnya haram. Sebab Nabi SAW telah melarang pengebirian (alikhtisha`). Jadi penggunaan obat-obatan dan operasi yang bertujuan untuk mencegah kehamilan secara permanen agar memutuskan keturunan adalah haram kecuali ada indikasi lain yang akan membuat dharar/bahaya jika tidak dilakukan. suntik KB.” (HR Bukhari) Hukum ‘Azl ini dapat diterapkan pada penggunaan obat KB untuk mencegah kehamilan. sesungguhnya aku seorang lelaki yang sangat berat untuk hidup membujang. misalnya dengan pil KB. Rasulullah bersabda : Tidak.