Anda di halaman 1dari 32

Manajemen Risiko Bangunan Runtuh

Tugas Mata Kuliah


Pemulihan Infrastruktur Fisik

Dosen : Teuku Faishal Fathani, S.T., M.T., Ph.D.

Oleh :
Masturido

(13/353711/PMU/07783)

MAGISTER MANAJEMEN BENCANA


SEKOLAH PASACASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

Peristiwa bangunan yang runtuh (ambruk atau runtuh) merupakan fenomena yang
sering terjadi baik di negara maju bahkan negara terbelakang. Fenomena ini disebabkan oleh
beberapa faktor, baik disebabkan oleh faktor manusia (human eror), dan juga faktor alam.
Menurut pandangan aspek keteknikan, bangunan yang runtuh dapat disebut sebagai
kegagalan bangunan, yakni kerusakan yang sedang atau seesai dibangun bahkan sudah
digunakan (Sulistijo, 2014). Salah satu contohnya yang terjadi pada bangunan Rana Plaza,
Savar. Pada tahun 2013, gedung pabrik garmen di Savar, Dhaka, runtuh dan menewaskan
1.045 orang (Kompas, 11/05/2013). Pembangunan gedung Rana Plaza dilaksanakan secara
ilegal tanpa perizinan yang tepat dan secara struktur tidak aman. Selain iu peringatan dari
pihak berwenang akan adanya retakan pada bangunan yang disusul dengan adanya larangan
penggunaan gedung tersebut tidak diindahkan oleh pemilik bangunan tersebut, sehingga
ketika terjadi bencana (runtuh) menimbulkan banyak korban jiwa.
Pada tahun 2011, Selandia Baru juga dikejutkan dengan adanya gempa sedang yang
menyebabkan runtuhnya gedung Catenbury Television (CTV). Runtuhnya gedung ini juga
disertai dengan kebakaran yang menghanguskan gedung. Kejadian tersebut menyebabkan
115 orang tewas bahkan empat diantaranya tidak dapat diidentifikasi karena tingginya suhu
kebakaran gedung. Hasil penyelidikan mengemukakan bahwa ditemukan bukti bahwa
bangunan tersebut dirancang dengan sangat buruk yang dirancang oleh insinyur yang tidak
berpengalaman tentang struktur gedung bertingkat serta besinya tidak dikonstruksikan
dengan benar (Wikipedia.com). Di Indonesia sendiri telah berkali-kali terjadi kejadian
semacam itu, misalnya yang yang terjadi pada jembatan Kutai Kartanegara pada tahun 2011,
runtuhnya jembatan penghubung pusat perbelanjaan grosir Tanah Abang pada tahun 2009
serta yang baru-baru ini terjadi yaitu amblasnya proyek Hambalang. Masih banyak sekali
kejadian runtuhnya bangunan di dunia ini dan penyebabnya bermacama-macam.
Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan bangunan hingga roboh atau runtuh.
Secara garis besar penyebab kegagalan bangunan dapat dibagi dalam dua hal, yaitu yang
dapat diprediksi (predictable) dan yang tidak dapat diprediksi (unpredictable). Yang dapat
diprediksi kebanyakan disebabkan oleh kesalahan manusia (human eror), sedangkan yang
tidak dapat diprediksikan merupakan kehendak Tuhan (Sulistijo, 2014).
Walaupun demikian, para ahli teknik biasanya dalam menyelidiki sebuah bangunan
roboh akan mempelajari keseluruhan sistem dan lingkungannya, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, serta pemeliharaan. Bahkan selain itu terdapat faktor lain yang
1

tidak mungkin dikendalikan oleh manusia (force majeure) juga sering dapat menyebabkan
bangunan menjadi runtuh. Biasanya runtuhnya bangunan ditengarai oleh beberapa kesalahan.
Sulistijo (2014) menyebutkan ada beberapa kesalahan yang mungkin menyebabkan
keruntuhan sebuah bangunan seperti di bawah ini.
1. Kesalahan dalam perencanaan
Pendirian sebuah bangunan memerlukan sebuah perencanaan. Perencanaan
tersebut dimulai dari studi kelayakan, desain arsitektur, hingga desain engineering.
Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh konsultan yang berkompeten di bidangnya.
Penggunaan konsultan yang kurang atau tidak kompeten dapat menyebabkan konsep yang
dibuat tidak baik, sehingga dapat terjadi kesalahan yang fatal dalam rancangannya.
Selanjutnya di kemudian hari desain dan struktur bangunan tidak dapat bertahan
sebagaimana mestinya. Jadi dapat dikatakan bahwa perencanaan yang lemah daoat
menjadi awal penyebab keruntuhan sebuah bangunan.
2. Kesalahan dalam pelaksanaan bangunan
Pada tahap pelaksanaan proyek pembangunan, kegiatannya meliputi tender dan
pembelian, pelaksanaan konstruksi oleh kontraktor atau subkontraktor, serta pengendalian
dan pengawasan atas pelaksanaan fisik oleh konsultan pengawas atau konsultan
manajemen konstruksi. Bisa saja banyak kesalahan atau penyimpangan dalam tahap ini,
contohnya kasus amblesnya salah satu bangunan dalam pelaksanaan proyek Hambalang
(Bogor). Terlepas dari faktor fisik tanah, memang sudah ada indikasi kuat terjadinya
penyimpangan dengan unsur KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme). Penyimpangan ini
membuat pelaksanaan dan spesifikasi bangunan menjadi rendah dari sebagaimana
mestinya (under-spesification), yang terakumulasi menjadikan kualitas dan struktur
bangunan menjadi rendah dan tidak kuat.
3. Kesalahan dalam Pemakaian
Kesalahan dalam pemakaian diakibatkan oleh penggunaan yang tidak sesuai
fungsi gedung tersebut (malfungsi) atau pemakaian yang melebihi kapasitas beban dan
struktur bangunan.

4. Kesalahan dalam perawatan


Perawatan bangunan merupakan proses panjang dan melelahkan. Namun tahap ini
merupakan hal yang sangat penting agar gedung dapat berusia panjang dan tetap
mempunyai nilai ekonomis. Sebaliknya perawatan yang tidak benar dapat menyebabkan
rusak atau runtuhnya bangunan.
5. Kesalahan dalam pemilihan lokasi
Kesalahan dalam pemilihan lokasi bisa timbul karena dua hal. Pertama, daerah
tersebut rawan bencana seperti rawan gempa, gunung api, angin kencang, longsor, banjir
dan kerawanan yang lain. Kedua, secara fisik tanah, lokasi tersebut memiliki lapisan
tanah yang labil (ekspansif), sifat kelistrikan tanah yang tinggi, perbedaan kontur yang
ekstrem. Dalam hal ini sebenarnya daat diantisipasi melalui penyelidikan tanah (soil
investigation) yang cermat dan akurat.
6. Kesalahan dalam pemilihan bahan atau material
Kesalahan dalam pemilihan bahan atau material yang sering terjadi adalah
penggunaan material murah dan tidak bermutu. Misalnya, pemakaian baja ringan dan besi
yang tidak sesuai dengan perhitungan beban, atau beton atau semen yang tidak memenuhi
standar minimal tes beton.
7. Kesalahan dalam penggunaan teknologi
Perkembangan dalam industri konstruksi juga dipengaruhi oleh perkembangan
dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi. Menggunakan teknologi yang
tepat guna dapat mempercepat proses pembangunan sebuah bangunan sekaligus
mengefisienkan dan mengefektifkan biaya-biaya pengeluaran. Sebaliknya penggunaan
teknologi yang salah dan tidak tepat guna justru bisa membuat bangunan menjadi berisiko
fatal.
8. Faktor force majeure
Dalam konteks manajemen properti biasanya ada klausul yang disebut keadaan
luar biasa (force majeure). Kondisi tersebut terjadi ketika ruang dan segala fasilitasnya
rusak total dan hancur diserang angin topan, kebakaran, gempa, perang, huru haradan
kejadian lain yang tidak dapat diduga.
3

Membuka Tabir Kegagalan Bangunan


1. Tinjauan yuridis
Terdapat dua peranti yuridis yang mendefinisikan kegagalan bangunan, yakni
Undang-undang Nomor 18 tahun 1999 tentang jasa Konstruksi dan Peraturan
Pemerintah Nomor 29 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Pada
Undang-undang no 18 tahun 1999 tentang jasa konstruksi pada Bab I Pasal I Ayat 6,
dinyatakan, bahwa kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan, yang setelah
diserahterimakan oleh penyedia jasa kepada pengusaha jasa, menjadi tidak berfungsi
baik secara keseluruhan maupun sebagian dan/atau tidak sesuai dengan ketentuan
yang terantum dalam kontrak kerja konstruksi atau pemanfaatannya yang
menyimpang sebagai akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau pengguna jasa.
Yang dimaksud penyedia jasa, menurut undang-undang tersebut, adalah
perorangan atau badan usaha yang mendapatkan pekerjaan jasa konstruksi berkaitan
dengan kemampuannya untuk menyediakan jasa kepada pengguna jasa. Penyedia jasa
terdiri dari jasa perencanaan konstruksi (konsultan perencana), jasa pengawasan
konstruksi (konsultan pengawas), dan jasa pelaksanaan konstruksi (kontraktor).
Sedangkan pengguna jasa adalah perorangan atau instansi pemerintah atau
badan usaha swasta yang menyerahkan pekerjaan jasa kepada pihak lain, yaitu
penyedia jasa. Umumnya pengguna jasa disebut sebagai pemberi tugas atau pemilik
(owner).
Menyangkut pertanggungjawaban (responsibilities) atau kegagalan bangunan
telah diatur dalam pasal 25, 26, 27, 37, dan 43. Berdasarkan pasal-pasal ini maka
skema alur kegagalan bangunan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar 1. Skema Kegagalan Bangunan Menurut UU No. 18/1999


(Sumber: Tolok Ukur Kegagalan Bangunan, 2007)
Mulai

Berindikasi Gagal Bangunan

TIDAK

Tim Penilai

Bangunan atau Bentuk Fisik Lainnya

Kontrak
YA

Fungsi

Pemanfaatan

YA

YA

KEGAGALAN BANGUNAN

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2009 skema alur


kegagalan bangunan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar 2. Skema Kegagalan Bangunan Menurut PP. Nomor 29/2009


(Sumber: Tolok Ukur Kegagalan Bangunan, 2007)
Mulai

Berindikasi Gagal Bangunan

TIDAK
Tim Penilai

Bangunan atau Bentuk Fisik Lainnya

Keselamatan an kesehatan kerja

Teknis

Manfaat

YA

Pemanfaatan

YA

YA

YA

KEGAGALAN BANGUNAN

Berdasarkan tinjauan yuridis tersebut maka sudah jelas bahwa Indonesia telah
memiliki dasar hukum yang kuat dalam hal pencegahan dan antisipasi dan solusi atas
terjadinya kegagalan bangunan di kemudian hari. Ditambah lagi dengan adanya
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan sejumlah
undang-undang lain sesuai bidang pekerjaan, serta peraturan daerah (Perda) masingmasing provinsi yang terkait dengan pelaksanaan dan persyaratan pembangunan
gedung.
2. Kriteria bangunan gagal
Kriteria kegagalan bangunan dapat disebabkan oleh banyak faktor. Hampir
sama dengan penyebab keruntuhan bangunan yang telah diutarakan sebelumnya,
maka kriteria di sini lebih bersifat normatif dan prosedural. Sulistijo (2014)
mengemukakan bahwa terdapat 5 kriteria kegagalan bangunan secara umum, yaitu:
A. Kriteria Kegagalan Dalam/Disebabkan Perencanaan
a. Data hasil pengukuran (survey) dan penelitian (investigation) tidak akurat.

b. Norma Standar Pedoman dan Manual (NSPM, yang diterbitkan oleh


instansi nasional dan lembaga internasional terkait) yang dipergunakan
dalam analisis perencanaan tidak tepat.
B. Kriteria Kegagalan Dalam/Disebabkan Pelaksanaan Pembangunan
a. Persiapan pembangunan fondasi (clearing, grubbing, grouting, anchoring)
tidak sempurna.
b. Bahan atau material bangunan tidak memenuhi spesifikasi dan kualitas
yang telah ditetapkan.
c. Pemasangan tulangan dan kuantitas-kualitas cara penyusunan tidak sesuai
dengan gambar perencanaan.
d. Peralatan dan fasilitas yang digunakan dalam pelaksanaan tidak memadai.
e. Urutan kegiatan pelaksanaan (sequence of activities) dari bagian bangunan
yang tidak tepat.
C. Kriteria Kegagalan Dalam/Disebabkan Operasi dan Peliharaan
a. Gaya atau beban melebihi gaya atau beban yang ditetap kandalam
perencanaan (design).
b. Pengoperasian bangunan tidak sesuai dengan standard operational
procedure (SOP) yang ditetapkan.
c. Pengoperasian bangunan tidak sesuai dengna SOP pemeliharaan yang
ditetapkan.
D. Kriteria Kegagalan Disebabkan Struktur
Yang termasuk dalam kegagalan struktur ini adalah kegagalan kuat geser
(shear failure), dimana tegangan geser yang timbul karena beban internal maupun
eksternal melebihi kekuatan geser dari konstruksi atau tubuh fondasi dan
bangunan atasnya (upper structure).
E. Kriteria Kegagalan Disebabkan Hal Lain
a. Kejadian yang tidak dapat diperkirakan atau diprediksi sebelumnya akibat
ulah manusia.
b. Terjadi kondisi kahar (force majeure) seperti bencana alam, kebakaran,
peperangan, huru-hara dan lain sebagainya.

3. Tolok ukur kegagalan bangunan


Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) selaku organisasi
yang bertujuan untuk membina dan mengembangkan jasa konstruksi di tanah air,
7

telah mengadakan konvensi penyusunan tolok ukur kegagalan bangunan pada


tanggal 27 Juni 2006 di Jakarta. Setahun kemudian, tepatnya 30 Mei 2007, lembaga
resmi ini menerbitkan sebuah peraturan Nomor 02/LPJK Tahun 2007 tentang
Penetapan dan Pemberlakuan Tolok Ukur Kegagalan Bangunan.
Dalam peraturan tersebut tersebut telah ditetapkan enam bidang pekerjaan di
lingkungan jasa konstruksi sebagai standar wajib terkait tolok ukur kegagalan
bangunan, yaitu;
a. Bidang

pekerjaan

arsitektur,

yaitu

yang

meliputi

arsitektur,

desain

interior,arsitektur lansekap, dan teknik iluminasi.


b. Bidang pekerjaan sipil, yang meliputi teknik sipil, struktur, transportasi, sumber
daya air, bendungan besar, dan geoteknik.
c. Bidang pekerjaan mekanikal, yang meliputi teknik mesin, sistem tata udara dan
fragmentasi, sistem plambing, serta sistem transportasi dalam gedung.
d. Bidang pekerjaan tata lingkungan, yang meliputi teknik lingkungan, serta wilayah
dan perkotaan.
e. Bidang pekerjaan lain-lain, yang meliputi manajemen dan perawatan bangunan.
Bangunan yang telah diserahterimakan akan mengalami penurunan kondisi
bangunan, baik fungsi maupun manfaatnya. Untuk memudahkan penilainnya terhadap
derajat penurunan kondisi bangunan, maka angka yang ditetapkan adalah sebagai
berikut:
-

Angka 1, menunjukkan kondisi bangunan saat serah-terima akhir antara penyedia


jasa dan pengguna jasa, dimana pada saat ini kondisi bangunan memenuhi

persyaratan kontrak pekerjaan, fungsi bangunan, dan manfaat bangunan.


Angka 2, telah terjadi penurunan derajat kondisi bangunan sehingga perlu

penanganan pengembalian kondisi bangunan.


Angka 3, merupakan tolok ukur kegagalan bagunan, dimana kondisi bangunan
sudah tidak bisa berfungsi dan tidak bermanfaat.
Apabila terjadi penurunan fungsi dan manfaat bangunan secara dini (di luar

rencana), maka bisa terjadi kemungkinan adanya kesalahan prosedur dalam operasi
dan pemeliharaan, kesalahan perencanaan, pelaksanaan, dan/atau kesalahan
pengawasan, sehingga perlu investigasi dari Tim Penilai Ahli.
4. Bakuan kompetensi

Bakuan kompetansi wajib, sebagaimana ditetapkan dalam peraturan LPJK,


meliputi enam bidang pekerjaan, yaitu:
a. Bidang pekerjaan arsitektur, yang meliputi ahli arsitek, ahli arsitek lansekap, ahli
desain interior, dan ahli teknik iluminasi.
b. Bidang pekerjaan sipil, yang meliputi ahli teknik sipil, ahli struktur, ahli
transportasi, ahli sumber daya air, ahli bendungan besar, dan ahli geoteknik.
c. Bidang pekerjaan mekanikal, yang meiputi ahli teknik mesin, ahli sistem tata
udara dan fragmentasi, ahli sistem plambing, serta ahli sistem transportasi dalam
gedung.
d. Bidang pekerjaan elektrikal, yang meliputi ahli teknik tenaga listrik.
e. Bidang pekerjaan tata lingkungan, yang meliputi ahli teknik lingkungan, serta ahli
perencanaan wilayah dan perkotaan.
f. Bidang pekerjaan lain-lain, yang meliputi ahli manajemen proyek konstruksi dan
quantity suveyor.
Manajemen Risiko
Risiko, menurut kamus Indonesia yang disusun A. Abas Salim, diartikan sebagai
ketidakpatian (uncertanty) yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss). Sementara
project management istitute Amerika Srikat mendefinikan rrisiko sebagai sesuatu kejadian
(event) dari suatu proses bisnis atau proyek, dimana manusia yang mengelolanya tidak dapat
memperhitungkan dengan pasti dampak maupun besaran yang ditimbulkannya.
Wideman R. Max mendefinisikannya lebih spesifik lagi, dalam bukunya project and
program risk management (1992) menyebutkan, bahwa dalam konteks manajemen proyek,
risiko adalah efek akumulatif dari terjadinya kejadian yang ridak pasti yang bersifat
merugikan dan mempengaruhi tujuan proyek. Jadi, pada dasarnya risiko merupakan suatu
potensi kejadian yang merugikan. Namun demikian, ada dua perkiraan yang seharusnya
dijadikan pertimbangan terhadap risiko tersebut.
Pertama, tingkat kemungkinan risiko tersebut yang dapat terjadi, dimana rentangnya
dari hampir pasti terjadi sampai dengan sangat jarang terjadi. Hal ini sering disebut sebagai
frekuensi kejadian (probability/likely). Kedua, tingkat dampaknya jika risiko tersebut terjadi,
dimana rentangnya dari fatal sampai tidak berarti. Hal ini sering disebut sebagai impact atau
consequencies.

Secara umu manajemen risiko terdiri dari empat tahapan proses, yaitu identifikasi
risiko, analisis risiko, respons risiko, dan monitoring.
Gambar 3. Skema Manajemen Risiko Secara Umum
(sumber: Asyanto, 2009)
Manajemen Risiko Umum

Identifikasi Risiko (konsep)


Analisis Risiko (konsep)
Respon Risiko (konsep)
Monitoring/kontrol (konsep)

Identifikasi risiko merupakan sesuatu yang dapat dilihat dari sumber atau dari
dampaknya secara umum. Sumber tersebut bisa muncul dari eksternal yang terpredisikan
seperti bencana, atau eksternal yang terpredisikan seperti kondisi pasa dan inflasi, atau
internal non-teknis seperti jadwal dan arus-kas, atau masalah teknis seperti rancangan dan
penggunaan teknologi, atau legal seperti kontrak. Sedangkan identifikasi berdasarkan
dampaknya menyangkut kecelakaan kerja, biaya, mutu pekerjaan, atau waktu pekerjaan.
Analisis risiko, yakni menilai level risiko yang telah diidentifikasi, yang kemudian
dijadikan ranking risiko (risk ranking) seperti high, significant, medium, dan low, atau
melalui metode analisis kuantitatif atau kualitatif tertentu.
Respons atau tanggapan risiko terbagi atas beberapa jenis yang dapat dipilih
terhadap risiko yang telah ditetapkan rankingnya. Monitoring risiko, yaitu mengamati
berlangsungnya proses dan mengontrol sejauh mana risiko dapat dikendalikan. Sementara
untuk manajemen risiko khusus, biasanya hanya berlaku untuk bidang tertentu saja.
Bagian atau tahapan ini bisa bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan.
Implementasi manajemen risiko bagi setiap perusahaan tentu tidaklah sama, sesuai
dengan kondisi internal dan eksternal yang mempengaruhinya.

Begitu juga pada

perkembangan dan jenis risiko serta kemampuan menanganinya. Namun yang terpenting
adalah perusahaan kini memandang akan pentingnya penggunaan manajemen risiko

10

sebagai bagian tak terpisahkan dalam pengambilan keputusan penting, guna menghindari
dampak negatif dan mencapai hasil yang positif.
Pentingnya Perawatan
Sulistijo (2014) mengtakan bahwa kegagalan bangunan sering kali terjadi pada saat
pemeliharaan, dimana pekerjaan konstruksi telah selesai dan tidak ditemukan kecacatan,
tetapi kemudian bermasalah karena tidak dirawat dengan benar. Misalnya kasus runtuhnya
Jembatan Mahakam II pada akhir november 2011dan kebakaran Gedung Sekretariat Negara
di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Maret 2013 merupakan contoh buruknya
pengelolaan bangunan, serta belum dianggap pentingnya perawatan atau pemeiharaan
bangunan.
Padahal UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung mengamanatkan, bahwa
pemilik dan pengguna bangunan mempunyai kewajiban sebagai berikut:
a. Memanfaatkan bangunan gedung sesuai fungsinya.
b. Memelihara dan/atau merawat bangunan gedung secara berkala.
c. Melengkapi pedoman/petunjuk pelaksanaan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan
gedung.
d. Melaksanakan pemeriksaan secara berkala atas kelaikan fungsi bangunan gedung.
e. Memperbaiki bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi.
f. Membongkar bangunan gedung yang telah ditetapkan tidak laik fungsi dan tidak
diperbaiki, yang dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatannya, atau tidak memiliki
izin mendirikan bangunan, dengan tidak mengganggu keselamatan dan ketertiban umum
(Pasal 41 Ayat 2).
Sulistijo (2014), juga mengtakan bahwa hakikat perawatan/pemeliharaan bangunan
dimaksudkan sebagai gabungan dari tindakan teknis dan administratif guna mempertahankan
dan memulihkan fungsi bangunan seperti telah direncakanan sebelumnya. Keberhasilan
perawatan ini dipengaruhi oleh empat persyaratan.
Pertama, persyaratan fungsional. Yakni persyaratan yang terkait dengan fungsi
bangunan. Kedua, persyaratan kinerja (performance). Masing-masing bangunan memiliki
persyaratan kinerja bangunan yang sangat spesifik. Kinerja bangunan mencakup banyak
aspek, mulai dari kinerja fisik luar bangunan hingga pada elemen-elemen makanikal dan
elektrik. Ketiga, persyaratan menurut pengguna (user). Biasanya hal ini berkaitan dengan
kenyamanan sebagai ukuran keberhasilan suatu bangunan. Keempat, persyaratan menurut
11

undang-undang/peraturan. Persyaratan ini sebagai persyaratan yang tidak bisa diabaikan,


karena menyangkut regulasi dan legalitas.
Pekerjaan perawatan meliputi perbaikan dan/atau penggantian bagian bangunan,
komponen, bahan bangunan, dan/atau prasarana dan sarana berdasarkan dokumen secara
teknis perawatan bangunan gedung. Dalam hal ini terdapat tiga jenis pekerjaan, yaitu;
rehabilitasi, renovasi, dan restorasi (rekonstruksi).
Rehabilitasi adalah memperbaiki bangunan yang telah rusak sebagian dengan maksud
menggunakan sesuai fungsi tertentu yang tetap, abik arsitektur maupun struktur bangunan
gedung tetap dipertahankan seperti semula, sedang utilitasnya dapat berubah.
Renovasi adalah memperbaiki bangunan yang telah rusak berat sebagian dengan
maskud menggunakan sesuai fungsi tertentu yang dapat tetap atau berubah, baik arsitektur,
struktur maupun utilitas bangunannya.
Restorasi adalah memperbaiki bangunan yang telah rusak berat sebagian dengan
maksud menggunakan untuk fungsi tertentu yang dapat tetap atau berubah dengan tetap
mempertahanan arsitektur bangunannya sedangkan struktur dan utilitas bangunannya dapat
berubah.
Tingkat kerusakan pada bangunan terbagi pada tiga tingkatan, yaitu: ringan, sedang,
dan berat. Kerusakan ini dapat diakibatkan oleh penyusunan/berakhirnya umur bangunan,
atau akibat ulah manusia atau perilaku alam seperti beban fungsi yang berlebihan, kebakaran,
gempa bumi, atau sebab lainnya yang sejenis (Sulistijo, 2014).
Kerusakan ringan adalah kerusakan terutama pada komponen non-struktural, seperti
penutup atap, langit-langit, penutup lantai, dan dinding pengisi. Perawatan untuk tingkat
kerusakan ringan, biaya maksimum yang dapat dikeluarkan adalah 35% dari harga satuan
tertinggi pembangunan gedung baru yang berlaku, untuk tipe/kelas dan lokasi yang sama.
Kerusakan sedang adalah kerusakan pada sebagian komponen non-struktural, dan atau
komponen struktural seperti struktur atap, lantai dan lain-lain. Biaya untuk perawatan
kerusakan tingkat sedang adalah maksimum sebesar 45% dari harga satuan tertinggi
pembangunan bangunan gedung baru yang berlaku, untuk tipe/kelas dan lokasi yang sama.

12

Kerusakan berat adalah kerusakan pada sebagian besar komponen banguan, baik
struktural maupun non-struktural yang apabila setelah diperbaiki masih dapat berfungsi
dengan baik sebagaimana mestinya.
Sehingga dengan adanya pedoman tersebut dimaksudkan sebagai acuan yang
diperlakukan dalam mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan bangunan gedung dalam
rangka proses pemanfaatan bangunan.
Structural Health Monitoring System (SHMS)
Dewasa ini perawatan konstruksi mengalami kemudahan dengan adanya kemajuan
teknologi yang mampu mengantisipasi suatu kerusakan dan dampaknya yang tak tentu tidak
diharapkan. Misalnya, pada struktur gedung dan infrastruktur lainnya seperti jembatan,
bendungan dan terowongan, saat ini dipakai teknologi bernama structural health monitoring
system (SHMS). SHMS dapat didefinisikan sebagai penggunaan teknologi secara in-situ
penginderaan yang tidak merusak, dan menganalisis karakter struktur termasuk respons
struktur untuk mendeteksi perubahan yang mengindikasikan adanya kerusakan atau
penurunan kualitas struktur (Sulistijo, 2014).
Secara umum, penggunaan teknologi SHMS bertujuan untuk menyediakan data-data
yang berkaitan dengan performa bangunan yang nantinya akan digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang berguna untuk membuat suatu
infrastruktur tetap berfungsi dengna baik sesuai umur manfaatnya. Tujuan lainnya adalah
untuk menyediakan data untuk melakukan verifikasi asumsi-asumsi desain, terutama dalam
hal pembebanan, guna memberikan masukan dalam perbaikan serta pembuatan desain
jembatan ke depannya.
SHMS terdiri dari bebebrapa komponen, yaitu:
-

Data Acquisition
Merupakan suatu teknologi penginderaan yang berfungsi untuk mendeteksi
adanya perubahan kondisi pada suatu bangunan dalam bentuk sinyal. Terdiri dari

teknologi sensor dan teknologi instrumentasi.


Power Supply
Berfungsi sebagai penyedia daya (listrik) untuk SHMS agar dapat bekerja.
Data Transmission
Berfungsi untuk mengirimkan informasi melalui pemrosesan data dalam berbagai
format.
Data Storage and Mining
13

Merupakan suatu bentuk manajemen data yang didapat dari kondisi bangunan.
Data Processing-Signal Processing Algorithm
Terdiri dari signal de-noising yang berfungsi untuk menyaring sinyal-sinyal yang

memang diperlukan dan membuang sinyal yang tidak diinginkan.


Data Interpretation-Damage Detection Algorithm
Berfungsi untuk mendeteksi kerusakan dan menyediakan interpretasi dan
penjelasan kesehatan struktur.

Parameter yang diukur oleh teknologi SHMS bergantung pada komponen


infrastruktur bangunan yang dimonitor. Sebagai contoh untuk jembatan, yang diukur adalah
regangan, tegangan, retakan, penurunan, pertressing losses, dan tegangan kabel. Untuk
bendungan, parameter yang diukur adalah tegangna, temperatur, deformasi struktur, gaya
angkat air, aliran air, dan lainnya.
Selain perilaku struktur, parameter lain yang diukur pula adalah pengaruh dari luar,
yang antara lain load effect (seperti angin, gempa bumi, temperatur struktur, beban hidup) an
environmental effect (seperti suhu udara, dan curah hujan).
Cara kerja alat ini dapat dijelaskan seperti di bawah ini:
Struktur dari suatu bangunan akan merespons beban yang diterima dan juga respons
terhadap pengaruh lingkungan, seperti suhu, angin, dan lainnya. Apabila terjadi deformasi
struktur atau suatu perilaku yang berbeda dari kondisi awal yang melebihi ambang batas,
maka akan terjadi peringatan.
Sementaa apabila perilaku suatu bangunan tidak melebihi ambang batas, maka akan
dilakukan perbandingan antara mode awal dengan kondisi yang terjadi saat ini. Perbandingan
tersebut menunjukkan kesehatan bangunan. Jika hasil perbandingan kondisi yang melewatu
indeks tertentu, maka ini mengindikasikan adanya suatu kerusakan. Apabila kerusakannya
melewati batas, maka akan terjadi peringatan.
Selanjutnya, inspeksi manual dapat dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
tingkat kerusakannya, serta lokasinya yang telah ditunjukkan oleh sistem SHMS.
Berdasarkan hasil inspeksi dan evaluasi, maka bisa diputuskan, apakah bangunan tersebut
akan diperbaiki atau dimodifikasi atau direkonstruksi sebagai tindakan pemeliharaan.
Dengan demikian tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan pemeliharaan terhadap
bangunan terutama yang memiliki fungsi publik secara massif. Hal tersebut sudah

14

diamanatkan oleh undang-undang dan juga sudah diberi kemudahan dengan adanya teknologi
yang khusus memfasilitasi para pemilik untuk melakukan pemeliharaan berupa SHMS.

15

Daftar Pustaka
Asiyanto. 2009. Manajemen Risiko untuk Kontraktor. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Harian Kompas, Sabtu, 11 Mei 2013.
_________. 2006. Bakuan Kompetensi. Jakarta: Lemabaga Pengembangan Jasa Konstruksi
(LPJK).
_________. 2007. Tolok Ukur Kegagalan Bangunan/Building failure. Jakarta: Lemabaga
Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK).
Max Widemant. R. 1992. Project and Program Risk Management. Washington.
Sulistijo S.M. 2014. Bangunan yang Runtuh; Kegagalan Bangunan Suatu Konstruksi.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Undang-undang No. 18 Tahun 1999. Tentang Jasa Konstruksi .
Undang-undang No. 28 Tahun 2002. Tentang Bangunan Gedung.
Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000. Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.
Pada dekade 1990-an, dunia konstruksi Indonesia digegerkan oleh dua peristiwa yaitu runtuhnya
jembatan Sarinah di Jakarta dan jembatan Comal di Jawa Tengah. Apapun penyebab masalahnya
yang pasti kondisi struktur bangunan pada saat itu sudah tidak mampu menerima gaya yang terjadi.
Gaya yang terjadi padaa saat keruntuhan itu terjadi belum tentu merupakan beban maksimum yang
telah diterima struktur tersebut.
Salah satu indikasi penyebab keruntuhan jembatan Sarinah adalah terjadinya penurunan kualitas
pada kabel penyangga struktur bangunan jembatan. Penurunan kualitas kabel tersebut bisa
disebabkan pengkaratan dan atau fatik. Fatik bisa terjadi apabila selama penggunaan jembatan
tersebut menyebabkan getaran pada struktur. Getaran yang berlebihan bisa terjadi ketika beban tetap
yang dipikul jembatan mendekati ambang batas, sehingga ketika struktur menerima tambahan beban,
walaupun besaran beban tersebut kecil, menyebabkan struktur bergetar. Kemungkinan lain adalah
sistem tumpuan kabelnya rusak atau pemasangannya kurang sempurna sehingga kondisinya berubah
sesuai dengan fungsi besaran pembebanan dan waktu.
Penyebab keruntuhan jembatan Comal lebih kompleks. Jembatan ini terbentuk dari rangka baja,
terletak di ruas jalan Jalur Pantura Jawa, yang merupakan salah satu ruas jalan yang paling tinggi
menerima pembebaban lalu lintas di Indonesia. Jalur ini termasuk jalur yang sering dilaporkan telah
mengalami pembebanan lalu-lintas berlebih. Banyak hal yang dapat menyebabkan jembatan ini

16

runtuh. Kemungkinan pertama, kondisi ikatan rangka baja telah mengalami penurunan kualitas yang
disebabkan proses pengaratan atau pengenduran pengikat; kedua, kualitas rangka baja menurun
akibat pengaratan; ketiga, rangka atau pengikat rangka baja telah mengalami fatik akibat beban lalu
lintas yang berulang; keempat, terjadi proses penguatan gaya akibat resonansi yang melebihi daya
dukung rangka; dan kelima, kombinan dari berbagai penyebab tersebut. Banyak ahli struktur
menduga, penyebab utama keruntuhan jembatan Comal adalah gejala fatik dan resonansi.
Fatik disebabkan oleh perubahan bentuk akibat berban berulang. Semakin besar beban yang diterima
dan semakin sering pengulangannya, maka semakin cepat terjadinya fatik. Fatik menyebabkan
struktur rangka baja menjadi lebih lemah. Selanjutnya keruntuhan hanya tinggal menunggu waktu.
Pada saat terjadinya keruntuhan terdapat truk besar di atas jembatan. Kemungkinan truk tersebut
sedang berhenti di atas jembatan. Mesin truk yang sedang berhenti menghasilkan getaran yang lebih
kuat dan diperkirakan telah beresonansi dengan getaran jembatan sehingga menimbulkan gaya
resultan yang tidak mampu lagi dipikul oleh rangka jembatan. Sehingga terjadilah peristiwa
keruntuhan tersebut.
Keruntuhan struktur bangunan sipil tidak selalu disebabkan oleh tambahan beban dari para
pengguna bangunan. Kasus-kasus keruntuhan yang pernah dilaporkan antara lain
disebabkan:kelemahan penyangga bangunan, kelemahan pondasi, kelemahan struktur bawah,
kelemahan struktur atas dan kombinasi dari kelemahan-kelemahan tersebut.
Kasus kelemahan penyangga pondasi banyak dilaporkan di Kalimantan dan Sumatera bagian Timur.
Tanah di Pulau Kalimantan terbentuk dari tanah endapan aluvial dan hasil pembusukan tetumbuhan
yang kemudian membentuk tanah humus. Kedalaman tanah lunak dan humus di Kalimnatan bisa
mencapai lebih dari 20 meter. Struktur bangunan timbunan tanah di kalimantan sering menjadi
masalah karena daya dukung tanah dasar yang sangat lemah. Lalu lintas tradisional di Kalimntan
memanfaatkan sungai-sungai yang banyak terdapat di sana. Ketika timbul kebutuhan pembangunan
jalan raya, banyak jembatan yang dibangun. Agar sungai tetap dapat dimanfaatkan untuk lalu-lintas,
elevasi jembatan dari permukaan sungai harus cukup tinggi, sehingga diperlukan oprit jembatan yang
tinggi pula. Timbunan oprit yang tinggi dan proses konstruksi yang tidak cermat menyebabkan tanah
dasar tidak mampu mendukung struktur bangunan timbunan, sehingga oprit jembatan mengalami
keruntuhan.
Kasus kelemahan penyangga pondasi tidak hanya berbahaya bagi timbunan oprit. Timbunan oprit
menyebabkan tekanan tanah lateral yang relatif tinggi dan mendesak pondasi tiang pancang jembatan
sehingga sebagian tiang pancang patah. Kasus ini pernah dilaporkan di ruas jalan Lintas Timur
Sumatera dan beberapa di Kalimantan Selatan. Kasus lain terjadi di ruas jalan Sampit Pangkalan
Bun Kalimantan Tengah, badan jalan berupa timbunan tanah yang membelah rawa tiba-tiba runtuh
dan amblas sedalam 5 meter. Diperkirakan butiran halus tanah timbunan terhanyutkan oleh aliran air
di dalam tanah. Kasus ini diperkirakan sama dengan kasus yang terjadi di Rawa Opa Sulawesi
Tenggara dan di ruas jalan tol Purbaleunyi Purwakarta Jawa Barat. Kasus runtuhnya bendung Situ

17

Gintung bisa saja disebabkan terjadinya perlemahan pada bagian dasar tanggul akibat aliran dalam
tanah.
Kasus kelemahan pondasi banyak dilaporkan terkait dengan kurang cermatnya memprediksi kondisi
tanah lunak seperti kasus di atas; kurang berkualitasnya material pondasi khususnya pada bagian
sambungan pondasi; kurang cermatnya proses pemancangan yang menempatkan ujung pondasi tiang
pancang pada lensa tanah yang tidak stabil; kurang cermatnya penempatan dasar pondasi telapak
atau sumuran yang mudah tergerus aliran sungai. Keruntuhan bangunan akibat penempatan dasar
pondasi yang kurang cermat banyak terjadi di daerah tanah lunak dan di daerah dengan aliran sungai
yang deras. Kasus di daerah tanah lunak berupa penurunan tanah berlebihan dan atau perbedaan
penurunan yang signifikan. Perbedaan penurunan tanah sering dianggap remeh, padahal sangat
berbahaya karena dapat menimbulkan momen puntir yang kekuatannya mungkin tidak mampu
ditahan oleh struktur atas. Struktur bangunan gedung yang mengalami keretakan, dan mungkin
runtuhnya salah satu jembatan yang baru dibangun di Kalimantan Tengah dapat disebabkan oleh
perbedaan penurunan pondasi tersebut.
Keruntuhan akibat kelemahan struktur bawah tidak banyak dilaporkan karena biasanya dianggap
sebagai akibat kelemahan pondasi. Terjadinya perbedaan penurunan pondasi mungkin bukan
disebabkan penempatan ujung atau dasar pondasi yang kurang cermat, tetapi dapat disebabkan tidak
dipasangnya struktur pengikat atau balok yang memadai di atas pondasi sehingga beban dari struktur
atas tidak terdistribusi dengan merata ke pondasi. Kasus ini sering terjadi pada pembangunan
perumahan pribadi, khususnya yang menggunakan pondasi setempat. Kasus serupa sering terjadi
pada pemasangan pondasi terucuk di bawah tanah timbunan. Ikatan antar terucuk yang memadai
tidak dipasang sehingga pondasi terucuk tidak bekerja sebagai satu kesatuan blok massa.
Abutmen bisa dianggap sebagai pondasi jika ia berfungsi sebagai pondasi telapak, atau sebagai
struktur bawah jika ia dibangun di atas pondasi tiang atau sumuran. Keruntuhan abutmen sebagai
struktur bawah jarang terjadi. Yang sering terjadi adalah akibat kelemahan pondasinya.
Kasus yang paling sering ditemukan adalah kasus keruntuhan akibat kualitas struktur atas yang
kurang memadai, khususnya pada struktur bangunan dari beton, komposit, rangka dan campuran
aspal. Pada tahun 1988, suatu struktur bangunan gorong-gorong ukuran 2x2 meter di Kalimantan
Selatan runtuh pada saat perancahnya dibongkar. Setelah diteliti ternyata mutu betonnya sangat
rendah. Dari hasil penelitian lebih lanjut, mutu benton yang rendah tersebut disebabkan oleh
campuran material yang kurang baik dan penggunaan air asin. Banyak dilaporkan lantai beton
jembatan yang retak; kolom, balok, lantai beton dan dinding bangunan gedung yang retak dan
malahan runtuh yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas material dan pelaksanaan pekerjaan.
Banyak ruas jalan yang hancur padahal usianya masih sangat muda. Hasil pembangunan jalan di
Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Kalimantan Selatan pernah hancur karena menggunakan
material batu yang daya lekatnya dengan aspal sangat kurang. Di Lampung, salah satu ruas jalan

18

hancur sebelum digunakan karena penggunaan campuran aspal dingin yang pelaksanaannya kurang
tepat. Pemasangan campuran aspal panas pun yang teknologinya sudah sangat dikuasai, apabila
kurang mendapatkan pengawasan sering menghasilkan lapisan perkerasan jalan yang mudah
mengelupas dan hancur.
Saat ini sedang mode di daerah menggunakan lapisan perkerasan beton sejak terjadinya kelangkaan
aspal yang harganya melangit. Hanya sayang, karena ingin mengejar target panjang jalan yang besar,
tebal lapisan perkerasan beton dirancang hanya 10 cm. Padahal, karena barang publik, pengendalian
lalu lintas jalan paling sulit dilakukan. Sampai saat ini belum dilaporkan bagaimana kinerja jalan
beton tersebut. Tapi sudah dapat terbayangkan apabila terjadi kerusakan akibat kelebihan beban,
fatik, atau pengerutan, akan memerlukan biaya pemeliharaan yang mahal sekali. Pada dekade 1990an, dunia konstruksi Indonesia digegerkan oleh dua peristiwa yaitu runtuhnya jembatan Sarinah di
Jakarta dan jembatan Comal di Jawa Tengah. Apapun penyebab masalahnya yang pasti kondisi
struktur bangunan pada saat itu sudah tidak mampu menerima gaya yang terjadi. Gaya yang terjadi
padaa saat keruntuhan itu terjadi belum tentu merupakan beban maksimum yang telah diterima
struktur tersebut.
Salah satu indikasi penyebab keruntuhan jembatan Sarinah adalah terjadinya penurunan kualitas
pada kabel penyangga struktur bangunan jembatan. Penurunan kualitas kabel tersebut bisa
disebabkan pengkaratan dan atau fatik. Fatik bisa terjadi apabila selama penggunaan jembatan
tersebut menyebabkan getaran pada struktur. Getaran yang berlebihan bisa terjadi ketika beban tetap
yang dipikul jembatan mendekati ambang batas, sehingga ketika struktur menerima tambahan beban,
walaupun besaran beban tersebut kecil, menyebabkan struktur bergetar. Kemungkinan lain adalah
sistem tumpuan kabelnya rusak atau pemasangannya kurang sempurna sehingga kondisinya berubah
sesuai dengan fungsi besaran pembebanan dan waktu.
Penyebab keruntuhan jembatan Comal lebih kompleks. Jembatan ini terbentuk dari rangka baja,
terletak di ruas jalan Jalur Pantura Jawa, yang merupakan salah satu ruas jalan yang paling tinggi
menerima pembebaban lalu lintas di Indonesia. Jalur ini termasuk jalur yang sering dilaporkan telah
mengalami pembebanan lalu-lintas berlebih. Banyak hal yang dapat menyebabkan jembatan ini
runtuh. Kemungkinan pertama, kondisi ikatan rangka baja telah mengalami penurunan kualitas yang
disebabkan proses pengaratan atau pengenduran pengikat; kedua, kualitas rangka baja menurun
akibat pengaratan; ketiga, rangka atau pengikat rangka baja telah mengalami fatik akibat beban lalu
lintas yang berulang; keempat, terjadi proses penguatan gaya akibat resonansi yang melebihi daya
dukung rangka; dan kelima, kombinan dari berbagai penyebab tersebut. Banyak ahli struktur
menduga, penyebab utama keruntuhan jembatan Comal adalah gejala fatik dan resonansi.
Fatik disebabkan oleh perubahan bentuk akibat berban berulang. Semakin besar beban yang diterima
dan semakin sering pengulangannya, maka semakin cepat terjadinya fatik. Fatik menyebabkan
struktur rangka baja menjadi lebih lemah. Selanjutnya keruntuhan hanya tinggal menunggu waktu.
Pada saat terjadinya keruntuhan terdapat truk besar di atas jembatan. Kemungkinan truk tersebut
sedang berhenti di atas jembatan. Mesin truk yang sedang berhenti menghasilkan getaran yang lebih

19

kuat dan diperkirakan telah beresonansi dengan getaran jembatan sehingga menimbulkan gaya
resultan yang tidak mampu lagi dipikul oleh rangka jembatan. Sehingga terjadilah peristiwa
keruntuhan tersebut.
Keruntuhan struktur bangunan sipil tidak selalu disebabkan oleh tambahan beban dari para
pengguna bangunan. Kasus-kasus keruntuhan yang pernah dilaporkan antara lain
disebabkan:kelemahan penyangga bangunan, kelemahan pondasi, kelemahan struktur bawah,
kelemahan struktur atas dan kombinasi dari kelemahan-kelemahan tersebut.
Kasus kelemahan penyangga pondasi banyak dilaporkan di Kalimantan dan Sumatera bagian Timur.
Tanah di Pulau Kalimantan terbentuk dari tanah endapan aluvial dan hasil pembusukan tetumbuhan
yang kemudian membentuk tanah humus. Kedalaman tanah lunak dan humus di Kalimnatan bisa
mencapai lebih dari 20 meter. Struktur bangunan timbunan tanah di kalimantan sering menjadi
masalah karena daya dukung tanah dasar yang sangat lemah. Lalu lintas tradisional di Kalimntan
memanfaatkan sungai-sungai yang banyak terdapat di sana. Ketika timbul kebutuhan pembangunan
jalan raya, banyak jembatan yang dibangun. Agar sungai tetap dapat dimanfaatkan untuk lalu-lintas,
elevasi jembatan dari permukaan sungai harus cukup tinggi, sehingga diperlukan oprit jembatan yang
tinggi pula. Timbunan oprit yang tinggi dan proses konstruksi yang tidak cermat menyebabkan tanah
dasar tidak mampu mendukung struktur bangunan timbunan, sehingga oprit jembatan mengalami
keruntuhan.
Kasus kelemahan penyangga pondasi tidak hanya berbahaya bagi timbunan oprit. Timbunan oprit
menyebabkan tekanan tanah lateral yang relatif tinggi dan mendesak pondasi tiang pancang jembatan
sehingga sebagian tiang pancang patah. Kasus ini pernah dilaporkan di ruas jalan Lintas Timur
Sumatera dan beberapa di Kalimantan Selatan. Kasus lain terjadi di ruas jalan Sampit Pangkalan
Bun Kalimantan Tengah, badan jalan berupa timbunan tanah yang membelah rawa tiba-tiba runtuh
dan amblas sedalam 5 meter. Diperkirakan butiran halus tanah timbunan terhanyutkan oleh aliran air
di dalam tanah. Kasus ini diperkirakan sama dengan kasus yang terjadi di Rawa Opa Sulawesi
Tenggara dan di ruas jalan tol Purbaleunyi Purwakarta Jawa Barat. Kasus runtuhnya bendung Situ
Gintung bisa saja disebabkan terjadinya perlemahan pada bagian dasar tanggul akibat aliran dalam
tanah.
Kasus kelemahan pondasi banyak dilaporkan terkait dengan kurang cermatnya memprediksi kondisi
tanah lunak seperti kasus di atas; kurang berkualitasnya material pondasi khususnya pada bagian
sambungan pondasi; kurang cermatnya proses pemancangan yang menempatkan ujung pondasi tiang
pancang pada lensa tanah yang tidak stabil; kurang cermatnya penempatan dasar pondasi telapak
atau sumuran yang mudah tergerus aliran sungai. Keruntuhan bangunan akibat penempatan dasar
pondasi yang kurang cermat banyak terjadi di daerah tanah lunak dan di daerah dengan aliran sungai
yang deras. Kasus di daerah tanah lunak berupa penurunan tanah berlebihan dan atau perbedaan
penurunan yang signifikan. Perbedaan penurunan tanah sering dianggap remeh, padahal sangat
berbahaya karena dapat menimbulkan momen puntir yang kekuatannya mungkin tidak mampu

20

ditahan oleh struktur atas. Struktur bangunan gedung yang mengalami keretakan, dan mungkin
runtuhnya salah satu jembatan yang baru dibangun di Kalimantan Tengah dapat disebabkan oleh
perbedaan penurunan pondasi tersebut.
Keruntuhan akibat kelemahan struktur bawah tidak banyak dilaporkan karena biasanya dianggap
sebagai akibat kelemahan pondasi. Terjadinya perbedaan penurunan pondasi mungkin bukan
disebabkan penempatan ujung atau dasar pondasi yang kurang cermat, tetapi dapat disebabkan tidak
dipasangnya struktur pengikat atau balok yang memadai di atas pondasi sehingga beban dari struktur
atas tidak terdistribusi dengan merata ke pondasi. Kasus ini sering terjadi pada pembangunan
perumahan pribadi, khususnya yang menggunakan pondasi setempat. Kasus serupa sering terjadi
pada pemasangan pondasi terucuk di bawah tanah timbunan. Ikatan antar terucuk yang memadai
tidak dipasang sehingga pondasi terucuk tidak bekerja sebagai satu kesatuan blok massa.
Abutmen bisa dianggap sebagai pondasi jika ia berfungsi sebagai pondasi telapak, atau sebagai
struktur bawah jika ia dibangun di atas pondasi tiang atau sumuran. Keruntuhan abutmen sebagai
struktur bawah jarang terjadi. Yang sering terjadi adalah akibat kelemahan pondasinya.
Kasus yang paling sering ditemukan adalah kasus keruntuhan akibat kualitas struktur atas yang
kurang memadai, khususnya pada struktur bangunan dari beton, komposit, rangka dan campuran
aspal. Pada tahun 1988, suatu struktur bangunan gorong-gorong ukuran 2x2 meter di Kalimantan
Selatan runtuh pada saat perancahnya dibongkar. Setelah diteliti ternyata mutu betonnya sangat
rendah. Dari hasil penelitian lebih lanjut, mutu benton yang rendah tersebut disebabkan oleh
campuran material yang kurang baik dan penggunaan air asin. Banyak dilaporkan lantai beton
jembatan yang retak; kolom, balok, lantai beton dan dinding bangunan gedung yang retak dan
malahan runtuh yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas material dan pelaksanaan pekerjaan.
Banyak ruas jalan yang hancur padahal usianya masih sangat muda. Hasil pembangunan jalan di
Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Kalimantan Selatan pernah hancur karena menggunakan
material batu yang daya lekatnya dengan aspal sangat kurang. Di Lampung, salah satu ruas jalan
hancur sebelum digunakan karena penggunaan campuran aspal dingin yang pelaksanaannya kurang
tepat. Pemasangan campuran aspal panas pun yang teknologinya sudah sangat dikuasai, apabila
kurang mendapatkan pengawasan sering menghasilkan lapisan perkerasan jalan yang mudah
mengelupas dan hancur.
Saat ini sedang mode di daerah menggunakan lapisan perkerasan beton sejak terjadinya kelangkaan
aspal yang harganya melangit. Hanya sayang, karena ingin mengejar target panjang jalan yang besar,
tebal lapisan perkerasan beton dirancang hanya 10 cm. Padahal, karena barang publik, pengendalian
lalu lintas jalan paling sulit dilakukan. Sampai saat ini belum dilaporkan bagaimana kinerja jalan
beton tersebut. Tapi sudah dapat terbayangkan apabila terjadi kerusakan akibat kelebihan beban,
fatik, atau pengerutan, akan memerlukan biaya pemeliharaan yang mahal sekali.

21

Pertama kata daktail itu artinya kemampuan suatu struktur dalam berdeformasi inelastic tanpa
kehilangan kekuatan yang berarti. Bahasa gaulnya itu, udah digoyang-goyang tapi balik kebentuk
awalnye. Dan kagak kehilangan kemampuan struktur itu buat nahan beban dan laennya.
Struktur daktail adalah struktur yang mampu mengalami simpangan pasca elastis yang besar
secara berulang kali dan bolak-balik akibat gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan
pertama, sambil mempertahankan kekuatan yang cukup, sehingga struktur tetap berdiri, walaupun
sudah berada di ambang keruntuhan.
Faktor daktilitas gedung adalah rasio antara simpangan maksimum pada ambang keruntuhan
dengan sempangan pertama yang terjadi pada pelelehan pertama. Untuk lebih jelasnya bisa diliat
dirumus dibawah ini ini

Dan daktail itu sendiri dibagi menjadi 2. Yakni:


1.

Daktail penuh, suatu tingkat daktilitas struktur gedung, yang tuh strukturnya bisa
menghadapi simpangan pasca-elastiknya sampe di titik ambang keruntuha n, dan nilai faktor
daktilitasnya sampe sebesar 5.3

2.

Daktail parsial, daktail yang tak sampe segede si daktail penuh, dia hanya memiliki faktor
daktilitasnya sebesar 1,0 sampe 5,29,
Nah maka dari itu,dalam perancagan kapasitas ya struktur gedung itu harus memenuhi syarat
strong collomn but week beam. Yang artinye kolom kudu kuat, si balok mah boleh gak sekuat
kolom, hal ini membuat saat terjadi gempa besar, gedung tersebut akan mengalami kerusakan
struktur, namun kolom masih kuat untuk membuat struktur itu berdiri, meskipun si balok udah
pada rusak.

GAYA YANG MUNGKIN TIMBUL PADA BANGUNAN TINGGI

Sistem penahan gaya lateral

22

Pada struktur bangunan tinggi, hal ini penting untuk stabilitas dan kemampuanbya
menahan gaya lateral, baik disebabkan oleh angin atau gempa bumi. Beban angin lebih
terkait pada massa bangunan.

Gaya External

Gaya external adalah gaya yang berasal dari luar bangunan. Gaya yang berasal dari
luar bangunan seperti :

-Gaya angin

-Gempa bumi

Gaya Internal

Gaya internal adalah gaya yang berasal dari dalam bangunan seperti beban bangunan
itu sendiri. Beban yang ada pada bangunan terbagi dua yaitu beban mati dan beban
hidup.

-Beban hidup : berat manusia, lemari, dan benda benda yang dapat dipindahkan.

23

-Beban mati : berat pondasi, kolom, dinding, dan sebagainya.

Mengontrol Kuat Geser 1 Arah

Kerusakan akibat gaya geser 1 arah terjadi pada keadaan dimana mula- mula terjadi
retak miring pada daerah beton tarik (seperti creep), akibat distribusi beban vertikal dari
kolom (Pu kolom) yang diteruskan ke pondasi sehingga menyebabkan bagian dasar
pondasi mengalami tegangan. Akibat tegangan ini, tanah memberikan respon berupa
gaya reaksi vertikal ke atas (gaya geser) sebagai akibat dari adanya gaya aksi tersebut.
Kombinasi beban vertikal Pu kolom (ke bawah) dan gaya geser tekanan tanah ke atas
berlangsung sedemikian rupa hingga sedikit demi sedikit membuat retak miring tadi
semakin menjalar keatas dan membuat daerah beton tekan semakin mengecil.

Dengan semakin mengecilnya daerah beton tekan ini, maka mengakibatkan beton tidak
mampu menahan beban geser tanah yang mendorong ke atas, akibatnya beton tekan
akan mengalami keruntuhan. Berikut ini ilustrasinya :

Gambar 1. Kerusakan Pondasi Akibat Gaya Geser 1 arah

Kerusakan pondasi yang diakibatkan oleh gaya geser 1 arah ini biasanya terjadi jika nilai
perbandingan antara nilai a dan nilai d cukup kecil, dan karena mutu beton yang
digunakan juga kurang baik, sehingga mengurangi kemampuan beton dalam menahan
beban tekan.

24

Gambar 2. Keretakan Pondasi Akibat Gaya Geser 1 arah

Mengontrol Kuat Geser 2 Arah (Punching Shear)


Kuat geser 2 arah atau biasa disebut juga dengan geser pons, dimana akibat gaya
geser ini pondasi mengalami kerusakan di sekeliling kolom dengan jarak kurang lebih
d/2. Berikut ini ilustrasinya :

Gambar 3. Kerusakan Pondasi Akibat Gaya Geser 2 arah

Beban yang bekerja pada pondasi adalah beban dari reaksi tegangan tanah yang
bergerak vertikal ke atas akibat adanya gaya aksi vertikal kebawah (Pu) yang disalurkan
oleh kolom. Tulangan pondasi dihitung berdasarkan momen maksimal yang terjadi pada
pondasi dengan asumsi bahwa pondasi dianggap pelat yang terjepit dibagian tepi- tepi
kolom. Menurut SNI 03-2847-2002, tulangan pondasi telapak berbentuk bujur sangkar
harus disebar merata pada seluruh lebar pondasi.

25

Perhatikan, meskipun terlihat cukup banyak element vertikal tetapi yangberupa kolom
struktur satu, yaitu yang ke dua dari sebelah kanan, yang lain adalah kolom praktis yang
benar-benar praktis tidak memberi perlawanan terhadap gaya lateral gempa.

B. PEMBEBANAN PADA BANGUNAN TINGGI

Penyaluran Beban

Pada bagian diatas telah diketahui gaya yang bekerja pada suatu bangunan. Gaya
tersebut akan mengalami penyaluran beban. Beban-beban tersebut di antaranya:

1.Beban mati:

Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu bangunan yang bersifat tetap,
termasuk segala bagian tambahan, mesin-mesin serta perlengkapan tetap yang
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangunan itu.

2.Beban hidup:

Beban hidup adalah beban yang sifatnya dapat beubah-ubah atau begerak sesuai
dengan penggunaan bangunan (ruangan) yang bukan bagian dari konstruksi bangunan.
Beban hidup dapat menopang pada beban mati yang dapat berubah dalam jangka
waktu pendek sesuai pergerakan atau pemindahan benda dan dapat juga berubah

26

dalam jangka waktu panjang. Adapun jenis beban hidup yang ada pada bangunan
meliputi: manusia, furniture, kendaraan, dan gerakan yang terjadi seperti ledakan.

3.Beban angin:

Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada bangunan atau bagian bangunan
yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban agin diperhitungkan karena
angin besar dapat menekan bangunan dan mempengaruhi kekuatannya. Bila kecepatan
angin di suatu daerah rata-rata konstan, maka hal ini dapat disebut statis. Apabila
perubahannya besar maka termasuk tekanan dinamis. Tekanan dinamis ini dipengaruhi
oleh factor-faktor lingkungan seperti kekasaran dan bentuk kerampingan bangunan, dan
letak bangunan yang berdekatan satu sama lain.

4.Bebangempa:

Beban gempa adalah semua beban static ekivalen yang bekerja pada bangunan atau
bagian bangunan yang menirukan pengaruh dari pergerakan tanah akibat gempa itu.
Pengaruh gempa pada struktur ditentukan berdasarkan analisa dinamik, maka yang
diartikan dalam beban gempa yaitu gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi
oleh tanah akibat gempa itu.

5.Beban additional:

27

Beban additional adalah beban yang memiliki nilai yang lebih besar dari nilai beban mati
atau beban hidup dan merupakan bagian dari struktur yang harus ditinjau. Diantara
beban additional adalah tendon air di atas bangunan, kuda-kuda, tangga, dan lift.

Selain beban yang disebutkan diatas ada juga sifat beban yang ada pada bangunan,
jenis beban tersebut ialah beban vertical dan beban horizontal

1. Beban Vertikal

Pada struktur post and beam, struktur akan memikul beban beban vertikal dan
selanjutnya beban diteruskan ke tanah. Pada struktur jenis ini, balok terletak bebas di
atas kolom. Sehingga pada saat beban menyebabkan momen pada balok, ujung-ujung
balok berotasi di ujung atas kolom. Jadi, sudut yang dibentuk antara ujung balok dan
ujung atas kolom berubah. Kolom tidak mempunyai kemampuan untuk menahan rotasi
ujung balok. Ini berarti tidak ada momen yang dapat diteruskan ke kolom,sehingga
kolom memikul gaya aksial. Apabila suatu struktur rangka kaku mengalami beban
vertikal seperti di atas, beban tersebut juga dipikul oleh balok, diteruskan ke kolom dan
akhirnya diterima oleh tanah. Beban itu menyebabkan balok cenderung berotasi. Tetapi
pada struktur rangka kaku akan terjadi rotasi bebas pada ujung yang mencegah rotasi
bebas balok. Hal ini dikarenakan ujung atas kolom dan balok berhubungan secara kaku.
Hal penting yang terjadi adalah balok tersebut lebih bersifat mendekati balok berujung
jepit, bukan terletak secara sederhana.

Seiring dengn hal tersebut, diperoleh beberapa keuntungan, yaitu bertambahnya


kekakuan, berkurangnya defleksi, dan berkurangnya momen lentur internal. Akibat lain
dari hubungan kaku tersebut adalah bahwa kolom menerima juga momen lentur serta
gaya aksial akibat ujung kolom cenderung memberikan tahanan rotasionalnya. Ini berarti
desain kolom menjadi relatif lebih rumit. Titik hubung kaku berfungsi sebagai satu
28

kesatuan. Artinya, bila titik ujung itu berotasi, maka sudut relatif antara elemen-elemen
yang dihubungkan tidak berubah. Misalnya, bila sudut antara balok dan kolom semula
900, setelah titik hubung berotasi, sudut akan tetap 900. Besar rotasi titik hubung
tergantung pada kekakuan relatif antara balok dan kolom. Bila kolom semakin relatif
kaku terhadap balok, maka kolom lebih mendekati sifat jepit terhadap ujung balok,
sehingga rotasi titik hubung semakin kecil.

Bagaimanapun rotasi selalu terjadi walaupun besarannya relatif kecil. Jadi kondisi ujung
balok pada struktur rangka kaku terletak di antara kondisi ujung jepit (tidak ada rotasi
sama sekali) dan kondisi ujung sendi-sendi (bebas berotasi). Begitu pula halnya dengan
ujung atas kolom. Perilaku yang dijelaskan di atas secara umum berarti bahwa balok
pada sistem rangka kaku yang memikul beban vertikal dapat didesain lebih kecil
daripada balok pada sistem post and beam. Sedangkan kolom pada struktur rangka
kaku harus didesain lebih besar dibandingkan dengan kolom pada struktur post and
beam, karena pada struktur rangka kaku ada kombinasi momen lentur dan gaya aksial.
Sedangkan pada struktur post and beam hanya terjadi gaya aksial. Ukuran relatif kolom
akan semakin dipengaruhi bila tekuk juga ditinjau. Hal ini dikarenakan kolom pada
struktur rangka mempunyai tahanan ujung, sedangkan kolom pada post and beam tidak
mempunyai tahanan ujung. Perbedaan lain antara struktur rangka kaku dan
struktur post and beam sebagai respon terhadap beban vertikal adalah adanya reaksi
horisontal pada struktur rangka kaku. Sementara pada struktur post and beam tidak ada.

Pondasi untuk rangka harus didesain untuk memikul gaya dorong horisontal yang
ditimbulkan oleh beban vertikal. Pada struktur post and beam yang dibebani vertikal,
tidak ada gaya dorong horisontal, jadi tidak ada reaksi horisontal. Dengan demikian,
pondasi struktur post and beamrelatif lebih sederhana dibandingkan pondasi untuk
struktur rangka.

29

Ini merupakan salah satu kerusakan tipikal bangunan-bangunan lama, yang mana
fokusnya masih pada pembebanan vertikal. Perhatikan tembok satu batu saja dengan
ringannya dapat terbelah oleh gempa, juga balok kayu di atas, meskipun masih utuh,
tetapi tidak ada peranannya dalam memikul gaya lateral akibat gempa. Itu merupakan
konstruksi simple beam, sedangkan tembok seperti kolom kantilever, bahkan mungkin
seperti sendi-bebas (tidak stabil terhadap beban lateral).

2. Beban Horisontal

Perilaku struktur post and beam dan struktur rangka terhadap beban horisontal sangat
berbeda. Struktur post and beam dapat dikatakan hampir tidak mempunyai kemampuan
sama sekali untuk memikul beban horisontal. Adanya sedikit kemampuan, pada
umumnya hanyalah karena berat sendiri dari tiang / kolom (post), atau adanya kontribusi
elemen lain, misalnya dinding penutup yang berfungsi sebagai bracing. Tetapi perlu
diingat bahwa kemampuan memikul beban horisontal pada struktur post and beam ini
sangat kecil. Sehingga struktur post and beam tidak dapat digunakan untuk memikul
beban horisontal seperti beban gempa dan angin. Sebaliknya, pada struktur rangka
timbul lentur, gaya geser dan gaya aksial pada semua elemen, balok maupun kolom.
Momen lentur yang diakibatkan oleh beban lateral (angin dan gempa) seringkali
mencapai maksimum pada penampang dekat titik hubung. Dengan demikian, ukuran
elemen struktur di bagian yang dekat dengan titik hubung pada umumnya dibuat besar
atau diperkuat bila gaya lateralnya cukup besar.

Rangka kaku dapat diterapkan pada gedung besar maupun kecil. Secara umum,
semakin tinggi gedung, maka akan semakin besar pula momen dan gaya-gaya pada
setiap elemen struktur. Kolom terbawah pada gedung bertingkat banyak pada umumnya
memikul gaya aksial dan momen lentur terbesar. Bila beban lateral itu sudah sangat
besar, maka umumnya diperlukan kontribusi elemen struktur lainnya untuk memikul,
misalnya dengan menggunakan pengekang (bracing) atau dinding geser (shear walls).
Efek Kondisi Pembebanan Sebagian

30

Seperti yang terjadi pada balok menerus, momen maksimum yang terjadi pada struktur
rangka bukan terjadi pada saat rangka itu dibebani penuh. Melainkan pada saat
dibebani sebagian. Hal ini sangat menyulitkan proses analisisnya. Masalah utamanya
adalah masalah prediksi kondisi beban yang bagaimanakah yang menghasilkan momen
kritis.

31