Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Instrumentasi dan Ergotronika

PENGUKURAN SUHU DAN TITIK DIDIH AIR

Nama :
NIM
:
Kelas
:
Asisten :

LABORATORIUM INSTRUMENTASI DAN ERGOTRONIKA


JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2016

DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN.............................................................................1
1.1. Latar Belakang.........................................................................1
1.2. Tujuan Praktikum....................................................................2
II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................3
III. METODOLOGI PRAKTIKUM...................................................5
3.1. Tempat dan Waktu.................................................................5
3.2. Alat dan Bahan.......................................................................5
3.3. Diagram Alir...........................................................................5
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................6
4.2. Analisa Data............................................................................6
4.3. Pembahasan............................................................................8
V. PENUTUP.........................................................................................11
5.1. Kesimpulan..............................................................................11
5.2. Saran.........................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................12

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengukuran, pemantauan dan tampilan nilai suhu adalah bagian sistem
yang seringkali dibutuhkan di lingkungan, dalam suatu sistem elektronika,
maupun dalam industri. Namun pembuatan alat ini dilatar belakangi karena sensor
suhu merupakan salah satu sistem yang penting untuk membangun sebuah
Weather Station, yang akan memantau dan memberikan informasi mengenai cuaca
di suatu daerah. Suhu juga merupakan salah satu kunci penting dalam dunia
pertanian atau perkebunan, industri makanan, industri elektronika dan lain-lain.
Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda
dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah termometer. Dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan
indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah
termometer untuk mengukur suhu dengan valid. Pada abad 17 terdapat 30 jenis
skala yang membuat para ilmuan kebingungan. Hal ini memberikan inspirasi
pada Anders

Celcius (1701

1744)

sehingga

pada

tahun

1742

dia

memperkenalkan skala yang digunakan sebagai pedoman pengukuran suhu. Skala


ini diberinama sesuai dengan namanya yaitu Skala Celcius.
Apabila benda didinginkan terus maka suhunya akan semakin dingin dan
partikelnya akan berhenti bergerak, kondisi ini disebut kondisi nol mutlak. Skala
Celcius tidak bisa menjawab masalah ini maka Lord Kelvin (1842 - 1907)
menawarkan skala baru yang diberi nama Kelvin. Skala kelvin dimulai dari 273 K

ketika air membeku dan 373 K ketika air mendidih. Sehingga nol mutlak sama
dengan 0 K atau -273C. Titik didih adalah suhu dimana cairan mendidih, dimana
tekanan uap sebuah zat cair sama dengan tekanan eksternal yang dialami cairan.
Kenaikan titik didih larutan bergantung pada jenis zat terlarutnya. Dalam dunia
industri, kenaikan titik didih sangat diperlukan pemahamannya lebih lanjut,
karena banyak kegiatan industri yang menerapkan ilmu kenaikan titik didih.
1.2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk melatih penggunaan hybrid
recorder dan termometer sebagai alat pengukur suhu dan menghitung efisiensi
pemanasan pada proses yang berlangsung.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu
benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan
energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing
masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat
berupa getaran. Makin tingginya energi atom atom penyusun benda, makin
tinggi suhu benda tersebut. Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat
termometer. Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celcius,
Reamur, Fahrenheit dan Kelvin (Kanginan, 2007).
Suhu dimana cairan mendidih dinamakan titik didih. Jadi, titik didih
adalah temperatur dimana tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer. Selama
gelembung terbentuk dalam cairan, berarti selam cairan mendidih, tekanan uap
sama dengan tekanan atmosfer, karena tekanan uap adalah konstan maka suhu dan
cairan yang mendidih akan tetap sama. Penambahan kecepatan panas yang
diberikan pada cairan yang mendidih hanya menyebabkan terbentuknya
gelembung uap air lebih cepat. Cairan akan lebih cepat mendidih, tapi suhu didih
tidak naik. Jelas bahwa titik didih cairan tergantung dari besarnya tekanan
atmosfer (Brady, 1999).
Pendidihan merupakan hal yang sangat khusus dari penguapan.
Pendidihan adalah pelepasan cairan dari tempat terbuka ke fase uap. Suatu cairan
dikatakan mendidih pada titik didihnya, yaitu bila suhu dimana tekanan uap cairan
sama dengan tekanan atmosfer sekitarnya. Pada titik didih, tekanan uap cairan
cukup besar sehingga atmosfer dapat diatasi hingga gelembung uap dapat

terbentuk dipermukaan cairan yang diikuti penguapan yang terjadi di setiap titik
dalam cairan. Pada umumnya, molekul dapat menguap bila dua persyaratan
dipenuhi, yaitu molekul harus cukup tenaga kinetik dan harus cukup dekat dengan
batas antara cairan-uap (Petrucci, 2000).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM


3.1. Tepat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan diLaboratorium Instrumentasi dan Ergotronika
Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Darussalam
Banda Aceh pada hari Sabtu tanggal 16 April 2016 pukul 12.00 WIB.
3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah hitter, panci, gelas
ukur, hybrid recorder dan termometer.
3.3 Diagram Alir
mulai

Disiapkan hybrid
recorder dan hitter

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Analisa Data
Massa air awal = 500 Ml = 450 gr
Massa air akhir = 415 Ml = 373,5 gr

Dimasukkan air
dalam panci dan
dipanaskan

Massa air meguap = 85 Ml = 76,5 Diukur


gr
suhu air, uap
Thermometer
air, suhu panci dan
Tabel 1. Hasil pengukuran suhu dengan Hybrid Recorder
suhu hitter
T ( Waktu
)
0
3
6
9
12
15

T1
( Air )
28,1
36,5
50,1
65,2
74,1
80,2

T2
( Uap )
25,9
29
31
38,4
40,1
44

T3 ( Panci
T4
)
( Hitter )
27,5
21,4
Selesai
31,5
86,4
44,8
134,9
64,9
146,1
62,6
149,4
60,8
150

Tabel 2. Hasil pengukuran suhu dengan Thermometer


T
( Waktu )
0
3
6
9
12
15

T1
( Air )
29
38
58
72
84
88

Perhitungan menit ke 3 dan menit 0


Efisiensi pemanas =

mc t
100%
P

Hybrid
Recorder

76,5 x 4200 x 8,4


=
100 %
1000

2698920
100%
1000

=269892 %
Perhitungan menit ke 6 dan menit ke 3
m. ct
Efisiensi pemanas =
100%
P

76,5 x 4200 x 13,6


100%
1000

4369680
100%
1000

=436968 %
Perhitungan menit ke 9 dan menit 6

Efisiensi pemanas =

m. ct
100%
P

76,5 x 4200 x 15,1


100%
1000

4851630
100%
1000

=485163%
Perhitungan pada menit ke 12 dan menit ke 9

m. ct
Efisiensi pemanas =
100%
P

76,5 x 4200 x 8,9


100%
1000

2859570
100%
1000

=285957 %
Perhitungan pada menit ke 15 dan menit 12

Efisiensi pemanas =

m. ct
100%
P

76,5 x 4200 x 6,1


=
100%
1000

1959930
100%
1000

=195993 %

20
15
10
5
0
Waktu

Suhu

Gambar 1. Grafik hubungan waktu dengan suhu air


4.2. Pembahasan
Efisiensi pemanasan adalah proses yang dilakukan untuk mengetahui tingkat
persent kalor atau panas yang dipakai pada saat proses pemanasan sedang
berlangsung. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pemanasan ini
diantaranya adalah massa air yang teruap, konduktivitas thermal, jumlah suhu, dan
daya alat pemanas. Banyak alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemanasan
hitter dan alat pemanas lainnya. Sedangkan alat yang digunakan untuk mengukur
panas yaitu termometer dan hybrid recorder. Pada praktikum ini alat yang digunakan
untuk memanaskan adalah hitter dan untuk mengukur suhunya adalah termometer
dan hybrid recorder. Hasil pengukuran dengan menggukan hybrid recorder lebih
akurat dibandingkan dengan menggunakan termometer, tetapi nilai yang diperoleh
dari hybrid recorder harus dikalibrasi terlebih dahulu, sedangkan termometer tidak.

Pada dasarnya merupakan hukum konservasi energi, yaitu:energi tidak dapat


diciptakan maupun dimusnahkan; energi hanya dapat diubah dari satubentuk menjadi
bentuk yang lain. Pengertian yang lebih hakiki tentang hukum pertama
termodinamika menyatakan bahwa jika satu sistem mengalami serangkaian
perubahan yang tidak terbatas kembali kekeadaan semula, maka total perubahan
energi adalah nol. Hal ini menerangkan bahwa energi merupakan fungsi keadaan.
Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini menyatakan bahwa
total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat
seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya. Kalor mengalir
secara alami dari benda yang panas ke benda yang dingin, kalor tidak akan mengalir
secara spontan dari benda dingin ke benda panas. Hukum ketiga termodinamika
terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu
sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi
sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi
benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.
Berdasarkan grafik dari hasil pengamatan dengan mengapati suhu air selama
selama 3 menit sekali. Maka dapat dilihat bahwa pada saat air masih belum ada
perlakuan atau belum dipanaskan ( 0 ) didapat suhu air sebesar 28,1 lalu hitter
dihidupkan dan ditunggu selama 3 menit dan ketika diukur suhu air meningkat
menjadi 36,5 kemudian dipanaskan

lagi selama 6 menit dan suhu air

lebih

meningkat lagi menjadi 50,1. Pernaikan suhu sudah semakin tinggi, tetapi belum ada
tanda-tanda air mendidih dan kemudian dipanaskan lagi hingga 9 menit lalu terlihat.

10

suhu semakin bertambah menjadi 65,4. Terlihat sudah ada gelembung-gelembung


air. Kemudian waktu ditambah 3 menit lagi menjadi 12 menit dan suhupun juga
semakin meningkat menjadi 70,4 pada suhu ini air sudah mendidih tetapi belum
terlalu sempurna. Agar terlihat air mendidih dengan sempurna maka waktu ditambah
3 menit lagi menjadi 15 menit dan airpun mendidih dengan sempurna dengan suhu
80,2 walaupun belum mencapai 100. Berdasarkan pengamatan tersebut dan grafik
di atas dapat dinyatakan bahwa semakin lama waktu pemanasan maka semakin tinggi
pula suhu yang akan dicapai untuk sebuah proses mencapai titik didih. Oleh karena
itu, waktu dan suhu memiliki hubungan yang berbanding lurus seperti yang terdapat
padagrafik.

V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Efisiensi pemanasan adalah proses yang dilakukan untuk mengetahui tingkat
persent kalor yang dipakai pada saat proses pemanasan sedang berlangsung.
2. Faktor yang mempengaruhi efisiensi pemanasan antara lain massa air teruap,
konduktivitas termal, jumlah suhu dan daya alat pemanas.
3. Praktikum ini berhubungan dengan hukum II termodinamika yang berbunyi
total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk
meningkat seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya.
4. Dari hasil pengukuran suhu pada air maka diperoleh suhu 28,1 ; 36,5 ; 50,1 ;
65,2 ; 74,1 dan 80,2.
5. Dari grafik diatas dapat dikatakan bahwa suhu dan waktu berbanding lurus,
dimana setiap penambahan waktu maka suhunya juga meningkat.
5.2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah agar laporan
prakikum lebih memuaskan.

11

DAFTAR PUSTAKA
Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara,
Bandung
Kanginan, Marthen. 2007. Fisika Untuk SMA Kelas X. Erlangga, Jakarta.
Petrucci, Ralph H. 2000. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga,
Jakarta.

12

Anda mungkin juga menyukai