Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM BIOKIMIA
I.

JUDUL
Urin

II.

TUJUAN
1. Mengidentifikasi urin baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif
2. Menentukan kadar glukosa dalam urin secara semi kuantitatif dan

kuantitatif
III.
DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
a. Data Pengamatan
No Cara Kerja
1. Sifat-Sifat Urin
Mencatat hal-hal di bawah
ini:
a. Volume (ml),
warna, bau, dan

Hasil Pengamatan
Urin
Pria
Pengamatan
Dewasa
Warna
Kuning
Volume
270 ml
Bau
Menyengat

Wanita

Dewasa
Kuning
Kuning
48 ml
14 ml
Menyegat Tidak
begitu

kejernihan.
b. pH urin
Kejernihan
pH
2.

Bayi

Jernih
5

Jernih
5

menyengat
Jernih
7

Garam-Garam
Ammonium
a. Menambahkan
NaOH 0.5 M pada
2 ml urin sampai
basa.
b. Dipanaskan
(perhatikan bau
yang timbul dan
uji uap yang
terbentuk dengan
kertas saring yang

Bayi : Uap Nessler : putih, ada sedikit ppt


Wanita : Uap Nessler : kekuningan, ppt

banyak
Pria : Uap Nessler : putih, tidak ada ppt

3.

ditetesi Nessler
Tes Benedict
a. Mencampurkan 2,5
ml pereaksi
benedict dengan 4
tetes urin.
b. Memanaskan
selama 3 menit
pada penangas air
mendidih
c. Mengulangi

Urin
Reagen

Pria

Wanita

Bayi

Benedict
Glukosa

Dewasa
Biru
Bening

Dewasa
Biru
Bening

Biru
Bening

0,5 %
Glukosa

Bening

Bening

Bening

1%
Glukosa

J Bening

Bening

Bening

1,5 %

langkah (a) dengan


mengganti larutan

4.

benedict dengan :
- Glukosa 0,5 %
- Gukosa 1,5 %
- Glukosa 1 %
Penentuan kadar glukosa
dalam urin
a. Memasukkan 10

Benedict : Biru
Na2CO3 = Kristal putih
- Urin Pria menjadi hijau keputihan dan

ml larutan
benedict, 2 butir
batu didih, 6 gr
Na2CO3 kemudian

distirer
b. Memanaskan
sampai mendidih
c. Titrasi dengan
glukosa 0,5 %
sampai terbentuk
endapan, mencatat
volume

terdapat ppt putih


V1 glukosa 0,5 % = 19 ml
V2 glukosa 0,5 % = 14 ml
V urin pria =14 ml
Urin wanita menjadi biru dan terdapat ppt
putih
V1 glukosa 0,5 % = 20 ml
V2 glukosa 0,5 % = 14 ml
V urin wanita =18 ml
Urin Bayi menjadi biru dan terdapat ppt putih
V1 glukosa 0,5 % = 50 ml
V2 glukosa 0,5 % = 100 ml
V urin bayi = 4 ml

d. Mengulangi
langkah a-c,
menghitung
volume glukosa
0,5 %
e. Mengulangi
langkah a-c dengan
mengganti glukosa
0,5 % dengan urim
b.Perhitungan
Penentuan kadar glukosa dalam urin
% Glukosa =

x 0,5 %

Urin Pria % Glukosa =

Urin Wanita % Glukosa =

Urin Bayi % Glukosa =

IV.

x 0,5 % = 0,42 %
x 0,5 % = 0,52 %
x 0,5 % = 0,026 %

PEMBAHASAN

Percobaan yang berjudul Urin ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi


urin baik secara kualitatif maupun kuantitatif dan menentukan kadar gukosa dalam
urin secara semi kuantitatif dan kuantitatif.
Urin merupakan keluaran akhir yang dihasilkan ginjal sebagai akibat
kelebihan urine dari penyaringan unsur-unsur plasma . Urine atau urin merupakan
cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh
melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul

sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan
tubuh. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih,
akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra .Proses pembentukan urin di dalam
ginjal melalui tiga tahapan yaitu filtrasi (penyaringan), reabsorpsi (penyerapan
kembali), dan augmentasi (penambahan) .
Secara umum urin berwarna kuning. Urin yang didiamkan agak lama akan
berwarna kuning keruh. Urin berbau khas yaitu berbau ammonia. Ph urin berkisar
antara 4,8 7,5 dan akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein serta
urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin
yakni 1,002 1,035 g/ml Komposisi urin terdiri dari 95% air dan mengandung zat
terlarut. Di dalam urin terkandung bermacam macam zat, antara lain (1) zat sisa
pembongkaran protein seperti urea, asam ureat, dan amoniak, (2) zat warna empedu
yang memberikan warna kuning pada urin, (3) garam, terutama NaCl, dan (4) zat
zat yang berlebihan dikomsumsi, misalnya vitamin C, dan obat obatan serta juga
kelebihan zat yang yang diproduksi sendiri oleh tubuh misalnya hormon.
Jika urin mengandung gula, berarti tubulus ginjal tidak menyerap kembali
gula dengan sempurna. Hal ini dapat diakibatkan oleh kerusakan tubulus ginjal. Dapat
pula karena kadar gula dalam darah terlalu tinggi atau melebihi batas normal
sehingga tubulus ginjal tidak dapat menyerap kembali semua gula yang ada pada
filtrat glomerulus. Kadar gula yang tinggi diakibatkan oleh proses pengubahan gula
menjadi glikogen terlambat, kerena produksi hormon insulin terhambat. Orang yang
demikian menderita penyakit kencing manis (diabetes melitus). Zat warna makanan
juga dikeluarkan melalui ginjal dan sering memberi warna pada urin. Bahan
pengawet atau pewarna membuat ginjal bekerja keras sehingga dapat merusak ginjal.
Adanya insektisida pada makanan karena pencemaran atau terlalu banyak
mengkonsumsi obat obatan juga dapat merusak ginjal.
Tes Benedict dapat digunakan untuk menentukan kadar glukosa dalam urin
secara kuantitatif. Glukosa akan mereduksi larutan Cu-kompleks menjadi Cu2O.
Kemudian Cu2O dengan akan diubah Rhodanida menjadi endapan putih CuCNS
Untuk mengetahui atau mengidetifikasi senyawa-senyawa yang terkandung
dalam urin dapat dilakukan dengan analisis urin antara lain sebagai berikut :
A.

Sifat-Sifat Urin

Tes ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisika dari urin pria dan wanita
dewasa, serta bayi. Untuk mengetahui sifat-sifat urin, dilakukan analisis urin secara

fisik yang meliputi warna, bau, kejernihan, volume dan pH urin. Dalam percobaan
ini digunakan urin pria, wanita dan bayi. Urin yang digunakan adalah urin yang
pertama kali dikeluarkan pada pagi hari. Urin tersebut kemudian diamati sifat
fisiknya. Urin yang diperoleh adalah 270 ml untuk urin pria, 48 ml untuk urin wanita
dan 14 ml untuk urin bayi. Warna dari ketiga sampel urin ini sama-sama kuning
jernih. Warna kuning pada urin disebabkan oleh urobilin dan urobrom. Kemudian
untuk analisis bau urin terdapat perbedaan antara urun orang dewasa dengan urin
bayi. Urin orang dewasa berbau lebih menyengat jika dibandingkan dengan urin bayi.
Adanya perbedaan bau ini mungkin disebabkan oleh perbedaan jenis makanan yang
dikonsumsi, sebab sampel urin bayi yang dipakai hanya mengkonsumsi ASI saja.
Selain itu, bau pesing yang terdapat di urin disebabkan oleh urin yang dibiarkan lama
tanpa pengawet atau reaksi oleh bakteri yang mengubah urin. Bau ammonia ini
dikarenakan ammonium yang menghasilkan NH4+ terjadi di dalam sel yaitu
perubahan glutamin menjadi glutamate yang dikatalisis oleh enzim glutaminase yang
terjadi di dalam sel tubulus renalis. Glutamat dehydrogenase mengkatalis perubahan
glutamate menjadi - ketoglutarat.
Reaksi : Glutamin glutarat + NH4+
Glutarat - ketoglutarat + NH4+

B.

Garam-garam Amonium

Di dalam urin, ekskresi ammonium dilakukan oleh sel tubulus ginjal untuk
mengatur keseimbangan asam-asam dan penghambatan kation. Pelepasan ammonia
dikatalisis oleh enzim glutamenaserena. Kandungan ammonia dalam urin dipengaruhi
oleh lamanya penyimpanan urin. Percobaan ini didasarkan pada presentase garam
ammonium dalam urin. Tes ini termasuk dalam analisis secara kualitatif karena tidak
termasuk angka kalkulasi.
Pada percobaan ini, mula-mula menambahkan NaOH pada sampel urin berada
dalam suasana basa, yang dicek dengan kertas lakmus. Fungsi penambahan NaOH
adalah untuk membuat urin menjadi lebih bersih dan saat dipanaskan akan
membentuk ammonia (NH3) atau senyawa urea. Saat dipanaskan akan timbul uap
(gas) yang baunya menyengat (seperti bau ammonia), kemudian menguji urin tersebut
dengan kertas saring yang ditetesi dengan larutan Nessler. Tes positif ditunjukkan
dengan perubahan kertas saring dari putih menjadi jingga. Pada sampel urin yang
dianalisis, tidak ada yang menunjukkan perubahan warna kertas saring menjadi

jingga. Harga pada sampel urin wanita warnanya kekuningan. Hal tersebut bisa
mengindikasikan adanya garam ammonia pada urin sebagai berikut:
(aq)

+ OH-(aq)

NH3 (aq) + H2O (l)

Gas NH3 berasal dari garam-garam ammonium dalam urin dan keratin. Urin bereaksi
dengan adanya alkali dalam urin. Reaksi:

Gas NH3 ditunjukkan pada reaksi pembentukan NH4OH.

Reaksi NH3 dengan Nessler

Sedangkan pada urin pria dan bayi tidak menunjukkan perubahan warna
kertas saring dari putih menjadi jingga. Hal ini menunjukkan tidak adanya garam
ammonium dalam urin mereka.
C.

Tes Benedict
Tes Benedict bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kandungan glukosa

pada urin secara kualitatif sehingga tidak dapat menunjukkan glukosa secara akurat.
Pada percobaan ini dilakukan penambahan 2,5 mL benedict dengan 4 tetes sampel
urin. Kemudian campuran ini dipanaskan hingga terjadi perubahan. Dari percobaan
diperoleh hasil pengamatan warna biru pada semua sampel. Penentuan kandungan
glukosa pada urin secara kualitatif dapat dilakukan dengan cara membandingkan
warna sampel urin dari warna pada table penafsiran sebagai berikut:
WARNA
Biru/ hijaukeruh
Hijau/
kuningkehijauan

PENILAIAN
+

KADAR
<0,5 %

Kuning/
kuningkehijauan
Jingga
Merah

++

0,5 % - 1,0 %

+++
++++

1,0 % - 2,0 %
>2,0 %

Maka dapat disimpulkan bahwa ketiga sampel urin negative mengandung glukosa
karena hasil uji cobanya menunjukkan warna biru. Pada uji benedict yang terjadi dari
CuSO4, Na sitrat, Na karbonat. Na sitrat akan mencegah terbentuk endapan Cu(OH)2.
Alkali berguna mengubah glukosa menjadi endapan yang reaktif dan dapat mereduksi
Cu2+ menjadi Cu+ bersama OH- membentuk CuOH yang berwarna kuning menjadi
Cu2O melalui pemanasan. Semakin tinggi kadar Cu2O yang terbentuk maka semakin
jelas warna yang terjadi. Warna merah berasal Cu2O yang menunjukkan kandungan
glukosa dalam urin >2,0 %. Namun dalam percobaan, tidak ada sampel urin yang
menunjukkan warna merah. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

D.

Penentuan Glukosa dalam Urin


Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar glukosa dalam urin secara

kuantitatif. Glukosa merupakan salah satu jenis monosakarida yang memiliki gugus
keton. Dalam tubuh, glukosa disimpan/diedarkan ke seluruh tubuh melalui darah.
Pengaturan kadar glukosa dalam darah diatur oleh ginjal dari dipengaruhi oleh kinerja
hormone insulin.
Mula-mula mencampurkan 10 mL larutan benedict, 2 butir batu didih dan 6
gram Na2CO3.10H2O kemudian melakukan stirrer dan pemanasan. Saat dipanaskan,
Kristal Na2CO3.10H2O melarut. Campuran ini ditittrasi dengan glukosa 0,5 % dan
mencatat volume (V1). Kemudian mengulangi langkah pencampuran hingga titrasi
menggunakan glukosa 0,5 % dan mencatat volume (V2). Selanjutnya mengulangi lagi

langkah pencampuran dengan mengganti glukosa 0,5 % dengan urin pria, bayi dan
wanita, dan mencatat volume urin yang diperlukan untuk membentuk endapan. Kadar
glukosa dapat dihitung melalui rumus sebagai berikut:

%glukosa =

x 0,5 %

Dimana :V rata-rata glukosa =


Dari perhitungan yang dilakukandiperoleh :
1. Kadar glukosa dalam urin bayi
2. Kadar glukosa dalam urin wanita
3. Kadar glukosa dalam urin pria

: 0,026 %
: 0,52 %
: 0,42 %