Anda di halaman 1dari 23

A.

TUJUAN
1. Mempelajari perkembangan embrio katak mulai zigot sampai bentuk
larva.
2. Mempelajari tipe dan pola perkembangan embrio katak.
3. Mempelajari pembentukan bakal organ katak yang berasal dari setiap
lapisan embrional.
B. DASAR TEORI
Katak merupakan hewan vetebrata yang termasuk dalam kelas
amphibi. Kelompok ampibi ini merupakan jenis hewan ovivar. Katak
jantan dan katak betina tidak memiliki alat kelamin luar. Pembuahan
katak terjadi di luar tubuh. Pada saat kawin katak jantan dan katak betina
akan melakukan ampleksus, yaitu katak jantan akan menempel pada
punggung katak betina dan menekan perut katak betina. Kemudian katak
betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air dengan menyemprotkan selsel gametnya keluar tubuh (Frandson, 1992).
Setiap ovum yang keluar akan dilapisi selaput telur (membrane
vitelin). Sebelumnya ovum katak yang telah matang dan berjumlah
sepsang akan ditampung oleh suatu corong. Perjalanan ovun dilanjutkan
melalui oviduk. Dekat pangkal oviduk pada katak betina dewasa, terdapat
kantung yang mengembung yang disebut kantung telur (uterus). Oviduk
katak betina terpisah dengan ureter. Oviduknya berkelok-kelok dan
bermuara pada kantong kloaka (Campbell, 2002).
Embriogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan
embrio. Proses ini merupakan tahapan perkembangan sel setelah
mengalami

pembuahan

atau

fertilisasi.

Embriogenesis

meliputi

pembelahan sel dan pengaturan di tingkat sel. Sel pada embriogenesis


disebut sebagai sel embriogenik.Secara umum, sel embriogenik tumbuh
dan berkembang melalui beberapa fase (Setiawan, 2002).
Amphibia mempunyai ciri-ciri yang tubuh diselubungi oleh kulit
berlendir, ia merupakan tipe hewan-hewan berdarah dingin (poikiloterm),
mempuyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan yaitu dua serambi dan
satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat
selaput renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya dan kakinya
berfungsi untuk melompat dan berenang, matanya mempunyai selaput
tambahan yang disebut membran niktitans yang sangat berfungsi waktu

menyelam, pernafasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah


dewasa alat pernafasannya berupa paru-paru dan kulit yang hidungnya
mempunyai katup yang mencegah air masuk kedalam rongga mulut ketika
menyelam, dan berkembang biak dengan cara melepaskan telurnya dan
dibuahi oleh yang jantan diluar tubuh induknya atau pembuahan eksternal
(Djuhanda, 1982).
Sel telur mempunyai dua kutub, yaitu kutub animal dan kutub
vegetal. Pada kodok atau katak, kedua kutub ini dapat dibedakan, karena
kutub animal berpigmen dan pada kutub vagetal ada kuning telur (yolk).
Pada sel telur mamalia, tempat benda kutub dilepaskan merupakan kutub
animal. Pada sel telur ayam yang sedang berkembang didalam ovarium,
kutub animal adalah ditempat oosit bertaut dengan jaringan ovarium.
Kedua kutub tersebut mempunyai hubungan definitif dengan susunan
tubuh embrio dikemudian hari. Pada amfioxus, kutub animal menjadi
bagian ventro-anterior embrio, sedangkan pada kodok atau katak menjadi
bagian anterior embrio (Sukra, 2000).
Fertilisasi diikuti oleh tiga tahapan berturut-turutyang mulai
membangun tubuh hewan itu. Pertama, pembelahan sel jenis khusus, yang
disebut dengan pembelahan (cleavage), menciptakan embrio multiseluler,
atau blastula, dari zygot. Tahapan kedua gastrulasi, menghasilkan embrio
berlapis tiga yang disebut sebagai gastrula. Tahapan ketiga, yang disebut
organogenesis, membangkitkan organ rudimenter yang akan tumbuh
menjadi struktur dewasa (Campbell, 2004).
Telur katak memiliki dua kutub, kutub anima berpigmen hitam,
sedangkan kutub vegetatif tidak berpigmen. Ciri telur yang telah
difertilisasi adalah adanya daerah kelabu yang berbentuk sabit. Hal ini
akibat penetrasi sperma, sehingga pigmen di tempat yang berlawanan
bergeser ke arah masuknya sperma. Kurang lebih sepertiga dari pigmen
menjadi berkurang, dan tampak bagian ini lebih pucat warnanya. Zigot
yang terbentuk, memasuki tahap I pembelahan. Tipe pembelahannya
holoblastik, yaitu pembelahannya menyeluruh dari kurub anima ke kutub
vegetatif. Pembelahan I dengan meridional yang arah pembelahannya tepat
pada garis tengah sabit kelabu, menghasilkan 2 blastomer. Pembelahan ke

II meridional tetapi arahnya 90 terhadap bidang pembelahan 1,


menghasilkan 4 blastomer. Pembelahan III, horizontal tegak lurus terhadap
bidang pembelahan I dan II menghasilkan 8 blastomer yang tidak sama
besar, yaitu 4 mikromer dan 4 makromer. Mulai pembelahan III dan
seterusnya akan menghasilkan blastomer yang tidak sama besar.
Pembelahan IV, meridional secara bersamaan, terbentuk 16 blastomer.
Pembelahan V, horizontal di atas dan di bawah bidang pembelahan III,
menghasilkan 32 blastomer. Setelah pembelahan embrio memasuki tahap
blastula (Tenzer, dkk., 2001).
Embrio tahap blastula memiliki rongga yang letaknya mengarah ke
kutub anima. Rongga tersebut dinamakan blastosoel. Lapisan atap
blastosoel lebih tipis daripada alasnya, karena atap blastosoel hanya
tersusun 2-4 lapisan mikromer, sedangakan alasnya adalah makromer (selsel yolk) yang lebih banyak jumlah lapisannya. Setelah tahap blastula
embrio memasuki tahap gastrula (Tenzer, dkk., 2001).
Pembelahan secara terus menerus menghasilkan sebuah bola sel
padat yang disebut morula. Pada tahap ini mengacu pada permukaan
berlobus pada embrio. Suatu rongga yang penuh cairan yang disebut
balstosel (blastocoel) terbentuk didalam morula, dan menghasilkan
tahapan perkembangan bola berlubang yang disebut blastula. Pada bulu
babi, blastosel itu terletak ditengah blastula, sedangkan pada katak, karena
pembelahan yang tidak sama, blastosel berada dibagian belahan animal
(Campbell, 1999).
Gastrula dibentuk dari serangkaian proses gerakan sel, dengan
hasil akhir berupa 3 lapisan embrional, yaitu ektoderm, mesoderm dan
endoderm. Dengan adanya gerakan sel ini, sel-sel yang awalnya berada di
permukaan akan berpindah ke bagian dalam dari blastula. Pelekukan
terjadi di daerah batasan antara mikromer dengan makromer, yang
selanjutnya menjadi bibir dorsal blastoporus, (merupakan tahapan yang
menuju tahap gastrula awal) dan berakibat terjadi invaginasi sehingga selsel yang berada di luar bermigrasi ke dalam. Akibat terjadinya invaginasi
terbentuk rongga yang semakin lama semakin besar, rongga tersebut
merupakan bakal arkhenteron. Rongga arkhenteron semakin membesar

sehingga akan mendesak blastosoel yang semakin lama rongganya


mengecil (merupakan gastrula akhir) (Tenzer, dkk., 2001).
Setelah gastrulasi adalah tahap pembentukan neurula. Pada tahap
ini terjadi proses perubahan bentuk fisik dan terjadi pula proses saling
menginduksi diantara lapisan embrional. Keping neural terbentuk setelah
adanya induksi dari bakal notokorda, selanjutnya tepi kiri kanannya
melipat membentuk lipatan neural sedangkan bagian tengahnya melekuk
disebut parit neural. Disamping tumbuh memanjang, bagian kiri dan
kanan lipatan neural akan bertemu sehingga akan membentuk bumbung
neural yang memiliki saluran neural (neurosol). Pembentukan macammacam organ terjadi setelah tahap neurulasi. Organ terbentuk dari lapisan
ektoderm, mesoderm dan endoderm. Perkembangan bakal organ dapat
diamati pada embrio katak tahap tunas ekor (Tenzer, dkk., 2001).
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat:
Mikroskop cahaya; mikroskop stereo
2. Bahan:
Sediaan sayatan embrio katak; model perkembangan embrio katak
D. PROSEDUR KERJA
1. Pengamatan dari model perkembangan embrio katak
menyiapkan model
perkembangan embrio
katak
mengamati satu per satu
model perkembangan
embrio katak

mencatat hal-hal yang


perlu diperhatikan

mendokumentasikan
model perkembangan
embrio katak

2. Pengamatan dari sediaan sayatan embrio katak

menyiapkan sediaan
sayatan pada bidang
pandang mikroskop

mengamati sediaan
sayatan per bagian

mendokumentasikan hasil
pengamatan dari
mikroskop

F. PEMBAHASAN
Pembelahan (mitosis) sel embrio sangat khas dan berbeda dari proses
mitosis sel dewasa. Proses pembelahan sel embrio sangat cepat dan tanpa istirahat
(interfase). Dengan demikian sel-sel hasil pembelahan (blastomer) tidak sempat
tumbuh, sehingga blastomer menjadi berukuran kecil-kecil. Pada stadium
pembelahan ini total volume blastomer relatif tidak berbeda dengan volume sel
semula (zigot) (Surjono, dkk., 2001).
Pasca fertilisasi, zigot mulai membuat suatu organisme multiseluler,
dimulai dengan proses pembelahan mitosis membagi volume telur menjadi
banyak sel-sel kecil. Sel-sel pada tahap pembelahan ini disebut blastomer
(Sudarwati, 1990).
Ciri khas stadium pembelahan adalah bahwa pembelahan berlangsung
tanpa istirahat, dan rasio inti sitoplasma bertambah kecil. Pembelahan blastomer
terdiri atas pembelahan inti (kariokinesis) yang kemudian diikuti oleh pembelahan
sel (sitokinesis), dan alur pembelahannya sama dengan bidang metafase dari fase

mitosis yang telah dialaminya. Pada suatu waktu tertentu, embrio yang aktif
membelah akan membuat suatu rongga tengah (rongga blastula) dan memasuki
stadium blastula (Sudarwati, 1990).
Tipe telur katak adalah telolesithal, sehingga pembelahannya adalah
holoblastik radian unekual (Lestari dkk., 2013). Blastomer yang dihasilkan tidak
sama besar. Setelah telur katak difertilisasi, maka terbentuklah daerah yang
berwarna lebih muda atau kelabu yang disebut daerah kelabu atau grey crescent
(Gambar 1) yang bentuknya seperti bulan sabit. Hal ini terjadi karena ada pigmen
yang terbawa masuk dengan masuknya sperma, sehingga lapisan pigmen yang
berada bertentangan dengan tempat masuknya sperma akan bergeser ke atas
(Yatim, 1994).

Gambar 1. Grey cressent (Ciptono, 2008).

Gambar 2. Telur katak sebelum pembelahan (hasil praktikum A: peraga; B: mikroskop).

Gambar 3. (A-B). Pembelahan pertama melalui bidang meridional mulai dari kutub animal ke
arah kutub vegetal. Karena yolk terkumpul di kutub vegetal, pembelahan kedua sudah
mulai di kutub animal ketika pembelahan pertama belum selesai. Pembelahan kedua
juga melalui bidang meridional yang tegak lurus pembelahan pertama. (C)
Pembelahan ketiga lewat bidang equatorial lebih ke arah kutub animal latitudinal. (DH) Akhirnya pada belahan yang vegetal akan mempunyai sedikit blastomer dan
berukuran lebih besar daripada animal. (H) Irisan melintang dari embrio tingkat mid
blastula (Sumber: Gilbert, 2000).

Pada Gambar 4 telah terjadi proses pembelahan pertama, yaitu


pembelahan meridional melalui kutub animal dan vegetal dan membelah daerah
kelabu. Gray crescent terbagi menjadi 2 bagian yang sama besar. Dua buah
blastomer yang terbentuk memiliki bagian polus animalis dan polus vegetativus.
Ketika pembelahan pertama belum selesai pembelahan kedua sudah dimulai. Pada
pembelahan kedua, pembelahan lewat bidang meridian juga, tapi tegak lurus pada
bidang pembelahan pertama (lihat Gambar 4) (Yatim, 1994).

Gambar 4. Pembelahan pertama (A: dikutip dari Ciptono, 2008; B: berdasarkan hasil praktikum
dari mikroskop; C: berdasarkan hasil praktikum dari alat peraga).

Gambar 5. Pembelahan kedua (A: dikutip dari Ciptono, 2008; B: berdasarkan hasil praktikum).

Pada pembelahan ketiga pembelahan terjadi secara ekuator dan lebih


kearah kutub anima, sehingga blastomer yang dihasilkan tidak sama besar, yaitu 4
mikromer di daerah anima dan 4 makromer di daerah vegetative(Yatim, 1994).
Mikromer (sel-sel blastomer yang berukuran kecil) berpigment tebal, sedangkan
makromer (yang berukuran lebih besar) berpigment tipis saja. Tampak adanya
inisiasi calon blastocel (Ciptono 2008).

Gambar 6. Pembelahan ketiga (A: dikutip dari Ciptono, 2008; B: berdasarkan hasil praktikum
dari mikroskop; C: berdasarkan hasil praktikum dari alat peraga).

Pembelahan keempat lewat bidang-bidang meridional simultan saling


tegak lurus melalui kutub anima dan vegetal. Karena pembelahan di kutub anima
lebih cepat, maka di kutub anima terbentuk 8 sel dan kutub vegetal masih 4 sel
dan terjadi segregasi plasma benih (germ plasm). Setelah itu terjadi pembelahan

kelima terjadi secara latitudinal sebanyak dua kali di dorsal dan ventral dari
pembelahan ketiga. Hasil pembelahan berupa 18 sel mikromer dan 16 sel
makromer. Embrio terdiri atas 16-64 blastomer berbentuk morula (Lestari dkk.,
2013).

Gambar 7. (A) Pembelahan pertama. (B) Pembelahan Kedua. (C) Pembelahan Keempat (Gilbert,
2000).

Gambar 8. Pembelahan keempat (A) dan kelima (B) ( Ciptono, 2008).

Gambar 8. Morula (A: dikutip dari Ciptono, 2008; B: hasil praktikum).

Setelah embrio terdiri dari 128 blastomer akan mempunyai blastocoels dan
pada tahap ini disebut blastula, karena embrio sudah mulai berongga (Lestari dkk.,
2013). Stadium blastula ini bertahan sampai embrio tersusun atas 10.000-15.000
blastomer, dimana proses blastrulasi mulai terjadi (Surjono, dkk., 2001).
Blastocoels pada kata mempunyai dua fungsi yaitu menyediakan tempat untuk
migrasi sel pada tahap gastrulasi dan mencegah supaya sel-sel yang dibawah
blastocoel tidak bergabung dengan yang di atasnya. Pada tahap blastula
pertengahan akan mulai mengaktifkan gen baru pada sel-sel yang akan
berdiferensiasi. Sel-sel pada tahap blastula pertengahan mulai mempunyai
kemampuan untuk pergerakan. Hal tersebut merupakan persiapan pada tahap
gastrulasi, dimana embrio banyak melakukan gerakan morfogenik (Lestari dkk.,
2013).

Gambar 9. Blastula (A: dikutip dari Ciptono, 2008; B: berdasarkan hasil praktikum dari
mikroskop; C: berdasarkan hasil praktikum dari alat peraga).

Tahapan setelah blastulasi adalah tahap gastrulasi. Gastrulasi adalah proses


perubahan blastula menjadi gastrula. Dalam gastrulasi sel masih terus membelah
dan memperbanyak diri. Selain terjadi perbanyakan sel, di dalam gastrulasi juga
terjadi berbagai gerakan untuk mengatur dan menyusun deretan sesuai dengan
bentuk dan susunan tubuh dari individu spesies masing-masing. Pembentukan
lapisan lembaga pada katak terjadi melalui tiga gerakan morfogenik utama, yaitu:
a. Epiboli, yaitu meluasnya mikromer dari kutub animal ke kutub vegetal.
b. Invaginasi sel-sel botol

Gastrulasi tidak dimulai di kutub vegetal, tetapi di daerah marginal, dimana selsel endodermnya lebih sedikit mengandung yolk. Gastrulasi dimulai pada
daerah bakal dorsal embrio tepat dibawah ekuator di daerah grey cresent. Selsel berinvaginasi membentuk celah blastoporus. Selanjutnya sel-sel tersebut
berubah bentuk menjadi sel-sel botol. Sel-sel botol akan masuk ke dalam
embrio sambil sel tersebut tetap menempel pada sel-sel permukaan. Proses
invaginasi merupakan permulaan dibentuknya arkenteron (Gilbert, 2010).
c. Involusi pada bibir blastoporus
Tahap selanjutnya dari gastrulasi meliputi involusi sel-sel daerah marginal, dan
sel-sel daerah animal berepiboli dan konvergensi di blastoporus. Ketika migrasi
sel-sel marginal masih berlangsung dan membentuk bobir dorsal blastoporus,
sel-sel tersebut membelok masuk (involusi) dan berjalan sepanjang permukaan
dalam dari sel-sel belahan animal (atap blastocoel). Hal tersebut menyebabkan
sel-sel yang menyusun bibir dorsal blastoporus selalu berganti. Sel-sel yang
pertama kali menyusun bibir dorsal blastoporus dan masuk ke dalam embrio
merupakan endoderm bakal faring dari usus depan (termasuk sel-sel botol).
Sel-sel yang berinvolusi selanjutnya adalah sel-sel bakal lempeng prekorda.
Selanjutnya melalui bibir dorsal blastoporus, sel-sel bakal kordamesoderm
akan berinvolusi. Sel-sel tersebut membentuk nokord. Sejalan dengan
masuknya sel-sel ke dalam embrio, blastosoel bergeser kea rah berlawanan
dengan bibir dorsal blastoporus. Selain itu, bibir dorsal blastoporus meluas ke
lateral dan ventral, hal ini menyebabkan terbentuknya bibir lateral dan bibir
ventral blastoporus sehingga blastoporus menjadi berbentuk cincin yang
mengelilingi sel-sel endoderm yang tetap di luar pada daerah vegetal, yang
disebut sumbat yolk. Akhirnya sel-sel endoderm seluruhnya akan mengelilingi
embrio, sedangkan mesoderm terletak diantaranya.

Gambar 10. Gastrulasi awan (hasil praktikum).

Gambar 11. Tahapan gastrulasi (hasil praktikum).

Gambar 12. Pergerakan sel selama gastrulasi katak (Gilbert, 2010).

d. Konvergensi-ekstensi mesoderm dorsal


Terjadinya involusi dimulai pada bagian dorsal, sel-sel yang mulai
berinvolusi adalah endoderm faring yang dilanjutkan dengan sel-sel
mesoderm kepala. Jaringan tersebuta akan bermigrasi kea rah anterior di
bawah permukaan ectoderm. Selanjutnya jaringan yang merupakan bakal

notochord dan somit akan masuk ke dalam embrio melalui bibir dorsal
blastoporus. Sejalan dengan pembentukan bibir dorsal blastorus yang
meluas kea rah dorsallateral, lateral dan ventral, sel-sel bakal mesoderm
jantung, mesoderm ginjal dan mesoderm ventral akan masuk ke dalam
embrio (Gilbert, 2000). Sesaat sebelum involusi melalui bibir blastoporus
beberapa lapis sel akan berinterkalasi secara radial membentuk satu
lapisan yang tipis dan luas, sedangkan sel-sel permukaan meluas dengan
jalan membelah dan menyebar. Ketika sel-sel bagian dalam mncapai bibir
blastoporus mereka berinvolusi ke dalam embrio dan akan memulai
interkalasi tipe kedua yang menyababkan konvergensi ekstensi sepanjang
sumbu mediolateral yang bersama dengan sel-sel mesodermal membentuk
pita kecil yang panjang. Selama gastrulasi, tudung animal dan sel-sel
NIMZ (non involution marginal zone) meluas dengan jalan epiboli untuk
melapisi bagian luar embrio. Bagian dorsal NIMZ meluas lebih cepat ke
blastoporus daripada bagian ventral sehingga bibir blastoporus bergerak ke
bagian ventral. Masuknya sel-sel mesoderm melalui bibir dorsal
blastoporus menyebabkan terjadinya mesoderm dorsal. Mesoderm lainnya
akan masuk ke embrio melalui bibir lateral dan ventral blastoporus
membentuk mantel mesoderm. Endoderm yang berasala dari NIMZ super
visial akan menjadi atap arkenteron sedangkan sel-sel
membentuk dasar arkenteron.

Gambar 13. Epiboli ectoderm (Sumber: Gilbert, 2010)

vegetal akan

Gambar 13. (a) sel-sel IMZ memipih dan akan menjadi dinding arkenteron. (b) interkalasi radial
(Gilbert, 2010).

e. Pembentukan aksis
Telur yang belum terfertilisasi sampai blastula mempunyai aksis sebagai
kutub animal yang nantinya akan menjadi ectoderm dan kutub vegetal
yang nantinya akan menjadi endoderm. Mesoderm berasal dari sel-sel
bagian dalam di daerah equator. Adanya gerakan morfogenetik selama
gatrulasi menyebabkan sumbu berubah, berputar 900 ke arah berlawanan
jarum jam. Akibatnya jika diorientasikan pada sumbu tegak, maka kutub
animal menjadi bagian dorsal embrio, sedangkan kutub vegetalnya
menjadi bagian ventral (Lestari dkk., 2013).
Pembentukan aksis anterior posterior berhubugan dengan aksis dorsal
ventral. Ketika aksis dorsal terbentuk yaitu arah berlawanan arah dengan
masuknya sperma, sedangkan involusi mesoderm menyebabkan aksis
anterior terbentuk. Mesoderm yang pertama kali berinvolusi pada bibir
dorsal blastoporus akan menginduksi ectoderm di atasnya akan
membentuk otak (Lestari dkk., 2013)
Tahapan selanjutnya pada erkembangan katak adalah neurulasi atau
pembentukan bumbung neural Nelsen (1952), menyatakan bahwa tahap awal
neurulasi pada katak terjadi ketika endoderm dan ectoderm belum menyelesaikan
migrasinya secara sempurna, seperti yang dilihat pada pengamatan melalui
mikroskop, masih belum terdapat gastrosoel yang sempurna, dan bibir dorsal
ukurannya mengecil akibat migrasi sel, terjadi induksi primer notokord pada
ektoderm neural. Kemudian terjadi penebalan neuroectoderm sebagai calon otak
di bagian anterior. Penebalan itu berbentuk keping sehingga disebut keping neural
(neural plate), tepi neural plate menebal dan mengarah ke atas membentuk neural

fold atau lipatan neural yang mengapit neural groove (parit neural). pembentukan
alur saraf ini dikaitkan dengan gerakan ke atas dan median dari lapisan epidermis,
melekat pada margin lateral lempeng saraf, seperti margin ini melipat ke dalam
untuk membentuk lipatan saraf. Perubahan posisi di mesoderm juga terjadi pada
saat ini, untuk bagian atas yang membentuk pergeseran somit sebelah lateral dari
daerah notochordal ke posisi antara tabung saraf membentuk dan epidermis luar.
migrasi mesodermal ini memungkinkan tabung saraf mengembang masuk ke
bawah untuk menghubungi wilayah notochordal. Juga, perubahan dalam posisi
mesoderm somitic. Nelsen (1952) menambahkan bahwa fusi neural tube dimulai
dari wilayah batang anterior lalu berlangsung secara kontinyu ke arah anterior dan
posterior.

Gambar: Neurulasi katak menunjukkan adanya neural fold dan neural


groove (Sumber: Barth, 1949)
Proses neurulasi ini menurut Barth (1949) berlangsung setelah 36-58 jam.
Neural tube memisahkan diri dari ektoderm, dan terbentuk neural crest. Sehingga
pada praktium, dapat diamati adanya bumbung neural, neural crest, somit, dan
notokord pada model perkembangan embrio katak. Setelah penutupan lipatan

neural berakhir dan terbentuk bumbung neural yang sempurna terjadi formasi
mesoderm dan terbentuk embrio tahap awal dan terjadi diferensiasi struktur
seperti kepala yang berbeda dari tubuh dan awal pembentukan ekor. Ciptono
(2008) menambahkan seiring dengan neurulasi blastoporus mengecil dan Bentuk
embrio tidak lagi bundar melainkan agak lonjong. Ekor vertebrata muncul dari
suatu massa dari jaringan, dikenal berbagai sebagai tunas ekor. Selanjutnya, pada
bagian anterior dari arah penutupan neural tube pertama akan berdifirensiasi
menjadi 3 bagian yakni prosensefalon, mesensefalon dan rombensefalon,
sedangkan bagian posteriornya akan membentuk spinal cord. Pada pengamatan,
tahap pembentukan awal tail bud, bagian kepala atau anterior embrio tidak begitu
jelas bagian-bagian otaknya karena preparat telah rusak, namun tunas ekor terlihat
jelas, begitu pula arkenteron yang telah memanjang sehingga dapat terlihat bagian
fore-gut, mid-gut, dan hind-gut dari embrio.

Gambar: Potongan embrio pada tahap tail-bud (Sumber: Campbell et al.,


2014)

Sementara itu, sel pial neural atau neural crest melakukan migrasi ke
berbagai bagian embrio, dan membentuk sel pigmen kulit, beberapa tulang dan
otot tengkorak, geligi, medulla kelenjar adrenal dan komponen peripheral sistem
saraf, seperti ganglion sensoris dan simpatis (Campbell et al., 2004).
Pada irisan embrio berseri, embrio telah bertambah panjang ekornya,
begitu pula pengkhususan organ (diferensiasi) nampak semakin jelas. Dari irisan
seri tersebut dapat dilihat bagian apa saja yang telah berkembang dan di bagian
mana bagian tersebut dibentuk (posterior atau anterior) pada embrio serta dapat
diketahui lapisan embrio yang merupakan asal organ tersebut. Organ yang terlihat
adalah mata, otak (prosensefalon, mesensefalon dan rombensefalon) sepanjang
irisan pertama hingga irisan ke-21, adhesive gland, faring, jantung, otic capsule,
somit yang pertama kali dijumpai pada irisan ke 16, spinal cord pada irisan ke 21
hingga irisan paling posterior tubuh, notochord, ekor/tail, liver divertikulum,
yolky endoderm, dan hind gut.
1. Perkembangan Ektoderm
Ektoderm adalah bagian pertama dari embrio yang mengalami induksi atau
yang disebut induksi primer, hal ini berkaitan dengan proses neurulasi, selain
membentuk sistem saraf pusat, ectoderm juga melapisi bagian luar tubuh embrio
sebagai pelindung (epidermis), pada katak dewasa, kulit merupakan salah satu
bagian penting dalam proses respirasi. Ektoderm juga merupakan bakal dari alat
indra, salah satunya adalah mata. Pembentukan mata diawali dengan induksi dari
bagian calon otak yaitu diencephalon. Dari bagian itu tumbuh sepasang tonjolan
(evaginasi) ke lateral. Evaginasi makin mendekati epidermal. Karena induksi
evaginasi itu, epidermal menebal membentuk placoda lensa. Antara evaginasi dan
placoda lensa saling berinteraksi (Suhandoyo dan Ciptono, 2009).

Gambar Perkembangan Ektoderm (Sumber: Gilbert, 2003)


2. Perkembangan Mesoderm
Mesoderm terbagi atas intermediate mesoderm, kordamesoderm, paraxial
mesoderm, serta lateral mesoderm. Mesoderm intermediate menghasilkan sistem
urogenital, ginjal, gonad, dan sistem saluran masing-masing. Ginjal pada embrio
bertipe pronefros yang diamati pada irisan embrio ke 23-26. Sementara itu sistem
genitalna belum berkembang. Sementara itu, mesoderm korda akan membentuk
struktur notokord.
Paraxial mesoderm membentuk somites (pertama kali dijumpai pada irisan
ke 16) yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi sclerotome (kartilago),
myotome (otot rangka), serta dermatome (dermis). Di kedua sisi tubuh terdapat
mesoderm lateral yang terpisah oleh coelom (ronga) menjadi mesoderm
horizontal ke dorsal somatik (parietal) yang mendasari ektoderm, dan mesoderm
splanchnic ventral (visceral), yang berada di atas endoderm. Sistem sirkulasi
meliputi jantung, darah, dan pembuluh darah berkembang dari mesoderm lateral

yakni dari bagian mesoderm splanchnic kemudian menjadi mesoderm kardiogenik


dan terus berkembang menjadi jantung yang sempurna (Gilbert, 2003). Jantung
merupakan organ fungsional pada embrio.

Gambar diferensiasi mesoderm (Sumber: Gilbert, 2003)


3. Perkembangan Endoderm
Endoderm membangun struktur pencernaan serta respirasi embrio. Pada
pengamatan terletak pada irisan ke 15 20. Keduanya bertemu di sebuah ruang
yang disebut faring yang terletak di anterior tubuh, epitelnya kemudian akan
berdiferensiasi menjadi amandel dan tiroid, timus, dan kelenjar paratiroid.
Sebagai endoderm mencubit di menuju pusat embrio, yang foregut dan daerah
hindgut terbentuk. Pada awalnya, akhir lisan diblokir oleh daerah ektoderm
disebut lempeng lisan, atau stomodeum. (Gilbert, 2003). Pada pengamatan,
stomodeum pertama terlihat pada irisan ke 4 sedangkan faring pada irisan ke tujuh
hingga irisan kedua puluh dua.
Liver diverticulum ditemukan pada irisan ke 22-23 .Divertikulum hati
adalah tabung endoderm yang memanjang keluar dari foregut ke mesenkim
sekitarnya. mesenkim menginduksi endoderm ini untuk berkembang biak, untuk
cabang, dan membentuk epitel kelenjar hati. Sebagian dari divertikulum hati
(yang wilayah paling dekat dengan tabung pencernaan) terus berfungsi sebagai
saluran drainase hati, dan cabang dari saluran ini menghasilkan kantong empedu
(Gilbert, 2003). Perkembangan lebih lanjut adalah diferensiasi pancreas dan hati
yang tidak ditemui pada irisan seri, hal ini karena belum cukup umur diferensiasi.
G. Kesimpulan

1. Embrio katak berkembang dari zigot, kemudian melakukan blastulasi


membentuk blastosol dan embrio memasuki tahapan blastula, lalu tahap
gastrula dengan proses gastrulasi, dan proses neurulasi yang menghasilkan
neurula lalu terjadi pembentukan organ (organogenesis) dan morfogenesis
sehingga terbentuk larva. Selama perkembangannya terjadi gerakan
morfogenetik, diferensiasi, dan induksi yang bertujuan membentuk organorgan yang sempurna.
2. Pembelahan (mitosis) sel embrio sangat khas dan berbeda dari proses mitosis
sel dewasa. Proses pembelahan sel embrio sangat cepat dan tanpa istirahat
(interfase). Tipe telur katak adalah telolesithal, sehingga pembelahannya
adalah holoblastik radian unekual. Pola pembelahan katak secara berurutan
hingga tahap blastula adalah meridional, meridional yang arahnya 90 derajat
pembelahan sebelumnya, horizontal tegak lurus dengan bidang pembelahan,
meridional bersamaan terbentuk 16 blastomer, dan horizontal di bawah
bidang pembelahan 3 yang membentuk 32 blastomer.
3. Lapisan embrional yang terdiri dari ectoderm, mesoderm, dan endoderm,
mengalami determinasi melalui diferensiasi sel yang telah berada pada
tempatnya. Ektoderm membentuk sistem saraf pusat, epidermis dan bakal
dari alat indra. Mesoderm berkembang menjadi: sistem urogenital, ginjal,
gonad, dan sistem saluran masing-masing, notokord, sclerotome (kartilago),
myotome (otot rangka), serta dermatome (dermis), jantung, darah, dan
pembuluh darah. Sedangkan endoderm akan membangun struktur sistem
pencernaann dan respirasi
H. Tugas/ Evaluasi
1. Pada telur katak terdapat daerah kelabu. Jelaskan bagaimana terbentuknya
daerah kelabu tersebut?
Telur katak difertilisasi, maka terbentuklah daerah yang berwarna lebih muda
atau kelabu yang disebut daerah kelabu atau grey crescent yang bentuknya
seperti bulan sabit. Hal ini terjadi karena ada pigmen yang terbawa masuk
dengan masuknya sperma, sehingga lapisan pigmen yang berada bertentangan
dengan tempat masuknya sperma akan bergeser ke atas.

2. Jelaskan perbedaan antara gastrulasi awal dan gastrulasi akhir pada


perkembangan embrio katak

Gastrulasi awal : terdapat pelekukan yang terjadi dari daerah batasan antara
mikromer dan makromer menjadi bibir dorsal blastoporus dan berakibat
invaginasi sehigga sel-sel yang berada diluar bermigrasi ke dalam.
Gastrulasi akhir : terbentuknya 3 lapisan embrional yakni ektoderm,
endoderm dan mesoderm.
3. Bagaimana cara mengenali :
a) Wilayah otak
:
Melihat pada bagian ektodermis dimana terdapat tahap bumbung neural
yang kemudian menjadi otak. Selain itu juga dilihat pada potongan
transveral melalui nefrotom tahap bumbung neural.
b) Wilayah bakal mata :
Melihat wilayah bagian ektoderm khususnya pada
penebalan dari
epidermis. Selain itu juga dapat dilihat pada pembentukkan bumbung neural
yang telah berdiferensiasi menjadi otak depan. Dimana wilayah tersebut
memiliki penonjolan yang akan menjadi vesikula optik.
.
c) Wilayah bakal hidung
:
Melihat pada potongan transversal melalui lubang hidung, dimana terdapat
bagian epideris, prosenchenpalon dan olfactory pit
Daftar Pustaka
Barth, Lester G. 1949. Embryology. New York: the Dryen Press
Campbell, Neil A; Reece; Mitchell L. G. 2004. Biologi edisi kelima jilid 3.
Jakarta: Erlangga
Campbell, Neil A; Reece; Urry; Cain; Wasserman; Minorsky; Jackson. 2014.
Biology 10th edition. New York: Pearson Education
Campbell. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Campbell. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Ciptono. 2008. Embriologi Hewan: Tahap-Tahap Perkembangan Embrio Katak.
Ciptono. 2008. Perkembangan Katak. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Direktorat Jendral Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta
Djuhanda., Tatang. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan 1. Amrico, Bandung.
Eugenia, M., Pino D., Salazar, M. J. 2015. Early Development Of The Glass rogs
Hyalinobatrachium Fleischmanni And Espadarana Callistomma
(Anura:Centrolenidae) From Cleavage To Tadpole Hatching. Equador:
Amphibian & Reptile Conservation 8(1) [Special Section]: 89106 (e88).
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada
University Press.

Gilbert, S. F. 2000. Developmental Biology 6th edition. Sunderland: Sinauner


Associates Inc.
Gilbert, S. F. 2003. Developmental Biology 6th edition. Sunderland: Sinauner
Associates Inc.
Gilbert, S. F. 2010. Developmental Biology 8th edition. Sunderland: Sinauner
Associates Inc.
Indralaya: Universitas Sriwijaya.
Lestari, Umie, Tenzer, Amy, Handayani, Nursasi, Gofur, Abdul. 2013. Srtuktur
dan Perkembangan Hewan II. Malang: Universitas Negeri Malang.
Nelsen, Olin E. 1952. Comparative Embriology of Vertebrates. New York: Mc
Graw Hill Book Company
Pino, E.M. 2006. A Comparative Analysis Of Frog Early Development (online).
Setiawan, Arum. 2002. Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Hewan II.
Sudarwati, Sri. 1990. Dasar-Dasar Struktur dan Perkembangan Hewan.
Bandung: ITB.
Suhandoyo dan Ciptono. 2009. Materi E-learning: Reproduksi Embriologi
Hewan.

(Online)

http://besmart.uny.ac.id/file.php/142/Materi_ELearning_REH_Bagian_XI
_2009.pdf. diakses 22 Oktober 2016
Sukra, Yuhara, (2000), Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio : Benih Masa Depan,
Surjono. dkk. 2001. Buku Materi Pokok Perkembangan Hewan. Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
www.pnas.org_cgi_doi_10.1073_pnas.0705092104 (diakses tanggal 23
Oktober 2016)
Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embyologi. Bandung: Tarsito.
Yogyakarta: FMIPA UNY

Anda mungkin juga menyukai