Anda di halaman 1dari 15

FUNGSI PELAKSANAAN (ACTUATING)

PENGERTIAN PENGGERAKAN/ PELAKSANAAN/ PEMBIMBINGAN


Fungsi Actuating dari beberapa buku diantaranya terkandung : motivating
(memotivasi,)

directing

(memberi

arahan),

influencing

(mempengaruhi),

commanding (memberikan perintah), implementation (pelaksanaan). Istilah tersebut


dianggap

sama

sebagai

penggerakan,

pelaksanaan

dan

pembimbingan

kegiatan/program. (A.A Muninjaya, 2004)


Fungsi ini merupakan fungsi pengerak semua kegiatan program atau di
tetapkan pada fungsi pengorganisasian, dan dirumuskan dalam fungsi perencanaan.
Pada fungsi pelaksanakan ini lebih menekankan bagaimana pimpinan menggerakkan
dan mengarahkan semua sumber daya, serta berbagai aktivitas yang saling terkait
serta bersifat komplek untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Seorang
pemimpin organisasi dalam melaksanakan fungsi aktuasi, harus memadukan berbagai
aktivitas, sehingga diperlukan keterampilan khusus agar berhasil mencapai tujuan.
(A.A Muninjaya, 2004)

TUJUAN FUNGSI PENGGERAKAN DAN PELAKSANAAN


1. Menciptakan kerjasama yang lebih efisien.
2. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf
3.

Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan

4. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan


motivasi, prestasi. (A.A Muninjaya, 2004)

KLASIFIKASI

TINGKATAN

MANAJER

DAN

KETERAMPILAN

YANG

DIMILIKI
1. Firt Line Managers (Manajer Level bawah)
Disebut juga lower managers, bertanggung jawab pada operasional kegiatan
staf. contoh : mandor, supervisor (A.A Muninjaya, 2004)
2. Midele managers (Manajer Lebel Menengah)
Manajer yang levelnya ditengah dalam hiereki organisasi. Bertanggung jawab
mensupervisi "manajer" dibawahnya dan bertanggung jawab pada manajer di
atasnya atau senior. (A.A Muninjaya, 2004)
3. Top Managers (Manajer Level Atas)
Manajer yang bertanggung jawab terhadap kinerja manajemen secara
keseluruhan (sering disebut sebagai eksekutif) (nama jabatanya CEO, vice
Peresident) (A.A Muninjaya, 2004)

PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN YANG PERLU DIKUASAI OLEH


PEMIMPIN ORGANISASI
1. Motivasi (motivation)
Menurut Stoner J.A., Freeman dan D.R Gilbert Jr. (1995) mendefinisikan
motivasi sebagai faktor yang mempengaruhi, menyalurkan, dan memelihara
perilaku individu. (A.A Muninjaya, 2004)

Menurut Schermerhorn J.R (1996) mendefinisikan motivasi sebagai suatu


kekuatan dari dalam individu yang memengaruhi tingkatan, arahan dan kegigihan
dalam menunjukkan upaya pekeriaan. (A.A Muninjaya, 2004)
Pekerjaan motivasi akan berhasil jika tujuan yang dimiliki organisasi dengan
tujuan per individu atau kelompok dalam organisasi dapat selaras. Karena tupjan
ini sulit diselaraskan terutama tujuan pgrindividu atau kelompok. Dimana tujuan
individu terkait dengan kebutuhan perindividu atau kelompok. Oleh karena itu
untuk mempelajari motivasi harus dipahami tentang kebutuhan per individu. (A.A
Muninjaya, 2004)
Dengan mempelajari motivasi, pemimpin akan mengetahui sifat karakteristik
berbagai hal yang mendasari perilaku kerja. Melalui motivasi kepada karyawan
yang tepat dan paham akan keselarasan kebutuhan perindividu, maka staf akan
berusaha menunjukkan kinerja yang optimal. (A.A Muninjaya, 2004)
Teori motivasi salah satunya yaitu Teori Hierarki Kebutuhan. Seorang pelapor
yang memperkenalkan Teori tentang Perilaku Manusia adalah Abraham H.
Maslow. (A.A Muninjaya, 2004)

Sumber Gambar: A.A Muninjaya, 2004


Teorinya membahas tentang jenjang kebutuhan manusia (Hierarchy of Needs) untuk :
1) Keseimbangan faali (Physiological needs)
Kebutuhan untuk melangsungkan hidup (makan, tidur dan lainnya)
2) Rasa aman dan tenteram (safety needs)
Kepastian untuk hidupyang bebas dari ancaman dan bahaya yang
didalamnya termasuk daari sudut ekonomi dan social.
3) Diterima oleh lingkungan sosialnya (social needs)
Kebutuhan sebagai mahluk sosial, seperti pertemanan, pengakuan sebagai
anggota kelompok, dicintai, disayangi
4) Diakui/dihargai (self esteem needs)

Kebutuhan akan status sosial, kehormatan, gengsi, sukses.


5) Menunjukkan kemampuan diri (actualization needs)
Kebutuhan ingin berprakarsa, gagasan, mengeluarkan idea. (A.A Muninjaya,
2004)
2.

Komunikasi (communication)
Menurut Dian Wijayanto (2012), Komunikasi adalah merupakan proses

transfer pemahaman sesuatu yang berarti. Menurut Schermerhorn, J.R (1996),


komunikasi merupakan proses antarpribadi yang meliputi pengiriman dan
penerimaan simbol yang memiliki makna. Tujuan utama dari Komunikasi adalah
untuk menimbulkan saling pengertian, bukan persetujuan. (A.A Muninjaya, 2004)
Peranan Komunikasi Dalam Manajemen
1. Menyempurnakan pekerjaan manajemen
2. Dengan komunikasi diperoleh berbagai keterangan yang jika diolah
dengan baik dapat membantu pimpinan dalam mengambil keputusan,
sehingga pekerjaan dapat disempurnakan.
3. Menimbulkan suasana kerja yang menguntungkan.
4. Dengan komunikasi akan dapat dibina suasana yang baik antaran
pimpinan dan staf atau antara staf. (A.A Muninjaya, 2004)
Tugas utama pemimpin organisasi yaitu harus mampu mengembangkan dan
memelihara komunikasi. Dia harus bertindak sebagai pusat informasi, yaitu harus
aktif, mencari semua informasi yang dibutuhkan dan menyalurkannya kepada staf
yang berkepentingan. (A.A Muninjaya, 2004)

3.

Kepemimpinan (leadership)
Menurut Georgy R. Terry, kepemimpinan adalah hubungan yang tercipta dari

adanya pengaruh yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang-orang lain sehingga
orang lain tersebut secara sukarela mau dan bersedia bekerja sama untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. (A.A Muninjaya, 2004)
Pemimpin

menurut

(Griffin,

2004)

adalah

individu

yang

mampu

memengaruhi perilaku orang lain tanpa harus mengandalkan kekerasan. Dan


pemimpin adalah orang yang menjalankan kepemimpinan. Kepemimpinan akan
muncul bila seseorang karena sifar-sifatnya dan perilakunya yang dimilikinya
mempunyai kemampuan untuk mendorong orang lain guna berpikir, bersikap dan
berbuat seseuai dengan yang diinginkan. (A.A Muninjaya, 2004)
Kepetmmpinan/Leadershif menurut Ordway Tead, dalam bukunya "The Art of
Leadershif, adalah segala macam kegiatan untuk mempengaruhi orang agar mencapai
tujuan yang dicita-citakan dengan perasaan senang dan sadar bekerjasama. (A.A
Muninjaya, 2004)
Unsur-unsur kepemimpinan
Kepemimpinan hanya akan muncul jika ditemukan sekurang-kurangnya
unsur pokok sebagai berikut (Azrul azwar, l996):
1) Adanya pemimpin
Unsur pertama dari kepemimpinan adalah adanya pemimpin yakni seseorang
yang mendorong dan atau mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain,

sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan menguntungkan untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2) Adanya pengikut
Seseorang atau sekelompok orang yang mendapat dorongan atau pengaruh
sehingga bersedia dan dapat melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
3) Adanya sifat dan ataupun perilaku tertentu
Adanya sifat ataupun perilaku tertentu yang dimiliki oleh pemimpin yang
dapat dimanfaatkan untuk mendorong ataupun mempengaruhi seseorang atau
sekelompok orang.
4) Adanya situasi dan kondisi tertentu
Adanya situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan terlaksananya
kepemimpinan. Situasi dan kondisi yang dimaksud dibedakan atas dua macam.
Pertama, situasi dan kondisi yang terdapat di dalam organisasi. Kedua, situasi dan
kondisi yang terdapat di luar organisasi yakni lingkungan secara keseluruhan.
Teori Lahirnya Pemimpin
1) Teori orang besar dan Teori bakat
Teori klasik kepemimpinan. Seorang pemimpin itu dilahirkan, bakat pemimpin
diperoleh sejak lahir. Seorang pemimpin hanya lahir dari garis keturunan pemimpin,
orang biasa tidak bisa. (A.A Muninjaya, 2004)
2) Teori Situasi

Teori ini menjelaskan bahwa kepemimpinan merupakan sebuah proses untuk


memengaruhi kelompok pada situasi (waktu dan ligkungan) tertentu untuk mencapai
tujuan bersama dengan cara yang memuaskan. Seseorang dapat menjadi pemimpin
jika orang tersebut mau belajar dan bekerja keras, pemimpin diciptakan bukan
dilahirkan. (A.A Muninjaya, 2004)
3) Teori Ekologi
Seseorang memang dapat dibentuk untuk menjadi pemimpin, tetapi untuk
menjadi pemimpin yang baik memang ada-bakat-bakat tertentu yang terdapat pada
diri seseorang yang diperoleh dari alam. (A.A Muninjaya, 2004)
Macam Gaya Kepemimpinan
1) Kepemimpinan Diktator (dictatorial leaderskif)
Gayanya dengan menimbulkan ketakutan dan ancaman hukuman. Bawahan
hanya sebagai pekerja saja. (A.A Muninjaya, 2004)
2) Kepemimpinan Autokratis (autocratic leadership
Hampirsama dengan gaya kepemimpinan dictator, tapi bobotnya kurang.
Segala keputusan ditangan pemimpin. Kritik tidak diterima dari bawahan. (A.A
Muninjaya, 2004)
3) Kepemimpinan Demokratis (democratic leaderskif)
Adanya peran serta bawahan dalam pengambilan keutusan, dilakukan secara
musyawarah. (A.A Muninjaya, 2004)
4) Kepemimpinan Santai (laissez-faire leaderskif)

Peranan pimpinan hampir tidak terlihat, karena keputusan diserahkan kepada


bawahan. (A.A Muninjaya, 2004)
Gaya kepemimpinan terbaik adalah yang tepat diterapkan sesuai dengan
situasi dan kondisi yang diharapkan (Fred Fiedler, *967). Situasi dan kondisi
dibedakan atas 3 unsur utama:
1) Hubungan pemimpin dengan bawahan
Untuk menerapkan gaya kepemimpinan, harus diketahui hubungan
atasan dan bawahan baik/ tidak, percaya/ loyal
2) Struktur Tugas
Pengaturan tugas antar karyawan baik atau tidak, serta tugas cukup
dijelaskan atau tidak
3) Derajat kekuasaan yang dimiliki pimpinan
Seberapa jauh wewenang yang dimiliki peimpinan dan apakah
wewenang tersebut didukung peraturan dan pimpinan

4.

Pengarahan (directing)
Pengarahan menurut Luther Gillick, adalah upaya pengambilan keputusan

secara berkesinambungan dan terus menerus yang terwujud dalam bentuk adanya
perintah ataupun petunjuk guna dipakai sebagai pedoman dalam organisasi. (A.A
Muninjaya, 2004)

Pengarahan menurut Joseph L. Massie adalah upaya mewujudkan keputusan,


rencana dan program dalam bentuk kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. (A.A Muninjaya, 2004)
Pengarahan adalah memberikan bimbingan serta mengendalikan para pekerja
dalam melakukan tugas guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (A.A
Muninjaya, 2004)
Tujuannya Pengarahan
Tujuannya Pengarahan yaitu untuk mencegah agar karyawan jangan sampai
melakukan penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan rencana. (A.A
Muninjaya, 2004)
Manfaat Pengarahan
Para pekerja mendapat informasi yang tepat tentang segala sesuatu yang akan
dikerjakannya, para pekerja akan terhindar dari kemungkinan berbuat salah dan
dengan demikian tujuan akan lebih mudah tercapai, para pekerja akan selalu
berhadapan dengan proses belajar mengajar sehingga pengetahuan, keterampilan dan
keaktivitasan akan meningkat, dan para pekerja akan berada dalam suasana yang
menguntungkan yakni terciptanya hubungan pimpinan dan bawahan yang baik. (A.A
Muninjaya, 2004)
Syaratnya Pengarahan
1) Kesatuan perintah

Perintah atau petunjuk yang diberikan harus terpelihara kesatuannya, karena


perintah yang simpang siur akan dapat membangunkan karyawan. (A.A Muninjaya,
2004)
2) Informasi yang lengkap
Perintah atau petunjuk harus lengkap dengan segala keterangan yang
diperlukan (comprehensive information). Keterangan disebut dengan nama petunjuk
pelaksanaan. (A.A Muninjaya, 2004)
3) Hubungan langsung dengan karyawan.
Perintah atau petunjuk yang diberikan dapat diterima langsung oleh karyawan
(direct relationship). (A.A Muninjaya, 2004)
4) Suasana informal
Suasana yang informal (informal situation) dapat membantu sehingga tidak
dirasakan sebagai beban yang terlalu berat. (A.A Muninjaya, 2004)
Teknik Pengarahan
1) Teknik konsultasi
Misalnya

pertemuan

atau

rapat

yang

khusus.

Caranya

pemimpin

menyampaikan pengarahannya untuk kemudian dibahas secara bersama. (A.A


Muninjaya, 2004)
2) Teknik demokratis
Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada karyawan untuk mengajukan
pendapat dan saran. (A.A Muninjaya, 2004)
3) Teknik Otokratis

Pimpinan menetapkan segalanya, sedangkan karyawan hanya melaksanakan


saja. pendidikan karyawan masih terbatas (A.A Muninjaya, 2004)
4) Teknik Bebas dan Teratur
Di sini pengarahan dilaksanakan tidak terlalu ketat. Biasanya berhadapan
dengan karyawan yang memiliki pengetahuan, keterampilan serta pengalaman yang
cukup Semua teknik ini mengandung aspek positif dan aspek negatif, tergantung dari
penerapannya yang tepat menurut situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi. (A.A
Muninjaya, 2004)
Cara-Cara Pengarahan
Pada umumnya, pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan
maksud agar mereka bersedia bekerja dengan sebaik mungkin, dan diharapkan tidak
menyimpang dari prinsip-prinsip di muka. Adapun cara-ara pengarahan yang
dilakukan dapat berupa:
1. Orientasi merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu
agar supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik. Biasanya, orientasi ini
diberikan kepada pegawai baru dengan tujuan untuk mengadakan pengenalan dan
memberikan pengerian atas berbagai masalah yang dihadapinya. Pegawai lama
yang pernah menjalani masa orientasi tidak selalu ingat atau paham tentang
masalah-masalah yang pernah dihadapinya. Suatu ketika mereka bisa lupa, lalai,
atau sebab-sebab lain yang membuat mereka kurang mengerti lagi. Dengan

demikian orientasi ini perlu diberikan kepada pegawai-pegawai lama agar mereka
tetap memahami akan perananya. Informasi yang diberikan dalam orientasi dapat
berupa diantara lain, :
1) Tugas itu sendiri
2) Tugas lain yang ada hubungannya
3) Ruang lingkup tugas
4) Tujuan dari tugas
5) Delegasi wewenang
6) Cara melaporkan dan cara mengukur prestasi kerja
7) Hubungan antara masing-masing tenaga kerja, Dst.
2. Perintah
Perintah merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang-orang yang
berada dibawahnya untuk melakukan atau mengulang suatu kegiatan tertentu
pada keadaan tertentu. Jadi, perintah itu berasal dari atasan, dan ditujukan
kepada para bawahan atau dapat dikatakan bahwa arus perintah ini mengalir
dari atas ke bawah. Perintah tidak dapat diberikan kepada orang lain yang
memiliki kedudukan sejajar atau orang lain yang berada di bagian lain.
Adapun perintah yang dapat berupa :
1) Perintah umum dan khusus
Penggunaan perintah ini sangat bergantung pada preferensi manajer,
kemampuan untuk meramalkan keadaan serta tanggapan yang
diberikan oleh bawahan. Perintah umum memiliki sifat yang luas,
serta perintah khusus bersifat lebih mendetail.
2) Perintah lisan dan tertulis
Kemampuan bawahan untuk menerima

perintah

sangata

mempengaruhi apakan perintah harus diberikan secara tertulis atau


lisan saja. Perintah tertulis memberikan kemungkinan waktu yang
lebih lama untuk memahaminya, sehingga dapat menghindari adanya

salah tafsir. Sebaliknya, perintah lisan akan lebih cepat diberikan


walaupun mengandung resiko lebih besar. Biasanya perintah lisan ini
hanya diberikan untuk tugas-tugas yang relatif mudah.
3) Perintah formal dan informal
Perintah formal merupakan perintah yang diberikan kepada
bawahan sesuai dengan tugas/aktivitas yang telah ditetapkan dalam
organisasi. Sedangkan perintah informal lebih banyak mengandung
saran atau dapat pula berupa bujukan dan ajakan.
Contoh perintah informal antara lain dapat berupa kata-kata:
apakah tidak lebih baik bilamana saudara menggunakan cara lain.
marilah kita mulai mengerjakan pekerjaan ini lebih dulu, dan
sebagainya.
Perintah formal yang banyak dipakai dibidang militer bersifat kurang
fleksibel dibandingkan dengan perintah informal.
3. Delegasi wewenang
Pendelegasian wewenang bersifat lebih umum jika dibandingkan
dengan pemberian perintah. Dalam pendelegasian wewenang ini, pemimpin
melimpahkan sebagian dari wewenang yang dimilikinya kepada bawahan.
Kesulitan-kesulitan akan muncul bilamana tugas-tugas akan diberikan kepada
bawahan itu tidak jelas, misalnya kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan wewenang.
Ini dapat menimbulkan keengganan bawahan untuk mengambil suatu tindakan.
Sebagai contoh, seorang Kepala Bagian Pembelian mengadakan perjanjian pembelian
dengan pihak penyedia (supplier) dengan wewenang yang kurang jelas itu, ia akan

menanyakan kepada pimpinan, yang jawabannya belum tentu memuaskan. Hal ini
dapat diatasi dengan membuat suatu bagan wewenang untuk menyetujui perjanjian.

SUMBER
A.A. Gde, Muninjaya. (2004). Manajemen Kesehatan. Jakarta: EGC Azwar,
Azrul, (1996). Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Binarupa Aksara