Anda di halaman 1dari 7

IX.

Pembahasan
Pembuatan larutan pengemulsi (fasa gerak)
Pada percobaan ini bertujuan untuk pembuatan larutan pengemulsi atau eluen yang
digunakan sebagai fase gerak. Mula-mula 25 mL n-butanol ditambahkan 6 mL asam asetat
glasial dan 25 mL aquades menghasilkan larutan tidak berwarna. Pada proses ini terjadi reaksi
esterifikasi dengan reaksi sebagai berikut:
O

CH3-CH2-CH2-CH2-C-OCH3

CH3-CH2-CH2-CH2-OH +

H 3C

OH

+ H2O

Ketiga larutan yang bercampur ini disebut eluen yang akan berfungsi sebagai fasa gerak
dalam kromatografi lapis tipis, eluen ini bercampur dan menjadi dua lapisan, yaitu lapisan atas
dan bawah. Kemudian campuran tersebut dimasukkan dalam lemari kromatografi (chamber).
Kemudian chamber yang telah berisi larutan tersebut ditutup dengan kaca sehingga suasana
dalam chamber tersebut menjadi jenuh akan uap dari larutan tersebut. Tujuan penjenuhan
chamber ini adalah untuk menjadikan eluen memenuhi chamber dan fungsinya sebagai fasa
gerak dalam kromatografi berjalan dengan baik. Prinsip kromatografi adalah adanya perbedaan
distribusi antara fasa gerak dan diam. Eluen ini digunakan sebagai fasa geraknya. Jika eluen
tidak memenuhi chamber, maka distribusi daripada fasa diam tidak akan dapat berjalan sehingga
kromatografi gagal dan hasil yang diperoleh tidak teliti. Padahal dalam kromatografi bertujuan
untuk menentukan senyawa apa yang terdapat dalam sampel dengan ditandai adanya
bercak/noda yang menunjukkan suatu senyawa. Tiap senyawa memiliki distribusi yang berbedabeda dalam suatu fasa gerak.
Pemilihan eluen sangat penting karena jika eluen yang digunakan memiliki konsentrasi
yang tidak sesuai dengan sampel yang akan dipisahkan, maka kromatografi dapat tidak berjalan.
Jika eluen terlalu polar akan menyebabkan seluruh noda yang ditotolkan pada kertas naik sampai
batas atas tanpa mengalami pemisahan, jika eluen kurang polar, maka noda yang ditotolkan tidak
akan bergerak sama sekali.
2. Menentukan komponen asam amino
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi asam amino yang terdapat dalam
sampel. Untuk tujuan identifikasi tersebut, maka digunakan beberapa standar larutan yang

mengandung asam amino yaitu Glysin berupa larutan tidak berwarna, Alanin berupa larutan
tidak berwarna, dan Sistein (larutan jernih, ada endapan putih keruh). Lysin diberi label A,
Alanin diberi label B dan Sistein diberi label C. Mula-mula adalah persiapan, kertas
kromatografi berukuran 4 x 10 cm diberi batas atas 0,5 cm dan batas bawah 1 cm. Kemudian
memberi tanda titik A, B, C dan S dengan pensil sebagai titik menotolkan larutan. Masingmasing titik ditotoli larutan yaitu :
Titik A : Larutan Glysin
Titik B : Larutan Alanin
Titik C : Larutan Systein
Titik S : Larutan Sampel
Masing-masing titik berjarak 1 cm dan penotolan menggunakan pipa kapiler. Diameter
noda pada totolan tidak melebihi diameter 0,4 cm. Setiap penotolan, noda totolan dikeringkan
terlebih dahulu sebelum ditotolkan lagi. Tujuan dilakukannya penotolan secara berulang kali
supaya noda totolan tampak lebih jelas. Pada titik A dilakukan 3 tetes, pada titik B dilakukan 2
tetes, pada titik C dilakukan 2 tetes dan pada titik S dilakukan 2 tetes. Setiap totolan pada titik A,
B, C, dan D menghasilkan noda-noda tak berwarna pada kertas kromatografi. Totolan pada titik
A, B, C, dan D ini bertindak sebagai fasa diam yang akan dielusi oleh eluen yang telah dibuat
pada percobaan pertama dalam chamber.
Setelah persiapan kertas kromatografi telah selesai, kertas kromatografi digantung dan
diberi tali ke dalam gelas dengan hati-hati ke dalam chamber / lemari kromatografi dan bagian
tepi pelat tidak menyentuh dinding chamber hingga bagian bawah kertas kromatografi tercelup
eluen tetapi tidak sampai menyentuh batas bawah. Selanjutnya chamber ditutup kembali dengan
kaca supaya terjadi elusi oleh eluen (fasa gerak). Berikutnya adalah mengamati proses
kromatografi, yaitu terjadinya perambatan eluen pada kertas saring hingga mencapai batas atas.
Setelah eluen mencapai batas atas plat KLT, maka kertas saring dikeluarkan. Hasil dari proses
kromatografi ini adalah kertas saring yang telah basah oleh perambatan eluen. Namun, warna
kertas saring tetap putih dan belum timbul noda/bercak. Berikutnya, larutan disemprot dengan
ninhidrin yaitu larutan untuk mengidentifikasi adanya asam amino dengan menunjukkan

perubahan warna menjadi ungu. Terbentuknya noda berwarna ungu ini disebabkan karena
terjadinya reaksi antara hidrat dari triketon siklik (ninhidrin) dengan asam amino. Berikut adalah
reaksinya:
O
C

C
C
O

OH

OH
+

C
NH3+

COO

N
O-

Plat KLT yang telah bernoda dikeringkan dalam oven untuk memperoleh noda-noda bercak asam
amino dengan ditandai adanya noda berwarna yang timbul secara jelas pada suatu jarak yang
ditempuh oleh eluen.
Setelah dikeringkan dalam oven, distribusi larutan berjalan lurus dan baik. Pada titik A
(totolan larutan glisin), muncul noda berwarna jingga dengan jarak noda 0,6 cm dari batas
bawah. Pada titik B (totolan larutan alanin), muncul noda berwarna kuning kejinggaan dengan
jarak noda 1 cm dari batas bawah dan pada titik C (totolan larutan systein), muncul noda
berwarna jingga dengan jarak noda 0,2 cm dari batas bawah. Untuk titik S yang merupakan
totolan sampel (sampel S) yang dianalisis kandungan asam aminonya muncul noda berwarna
jingga dengan jarak noda 0,6 cm dari batas bawah. Kemudian noda tersebut diberi tanda
menggunakan pensil sehingga dapat dihitung harga Rf untuk masing-masing asam amino
standart dan sampel 1 menggunakan perhitungan di bawah ini:
Rf

jarak yang ditempuh oleh senyawa


jarak yang ditempuh oleh pelarut

Dari perhitungan nilai Rf, diperoleh nilai yaitu pada titik A (larutan glysin), Rf = 0,0705 ;
pada titik B (larutan Alanin) Rf = 0,1176 ; pada titik C (larutan sistein) Rf = 0,0235, dan pada
titik S (larutan sampel) Rf = 0,0705. Rf Sampel S memiliki nilai yang sama dengan Rf A yaitu
larutan glysine Dari nilai Rf tersebut maka dapat dianalisis bahwa sampel S mengandung asam
amino glysin karena memiliki nilai yang serupa dengan nilai Rf dari larutan gLysin.

X.

KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat
disimpulkan bahwa dari nilai Rf sampel yaitu 0,0705 maka komponen asam amino yang
terkandung pada sampel adalah asam amino glysin, dimana nilai Rf sampel sama dengan
nilai Rf larutan asam amino standart A yaitu glysin dengan nila Rf 0,0705.

I.
1.

JAWABAN PERTANYAAN
Apakah keuntungan dan kerugian dari metode pemisahan dengan kromatografi kertas ?
Jawab:
Dalam kromatografi kertas fase diamnya adalah kertas serap yang beragam.
Sedangkan fase geraknya adalah pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.

Keuntungan:
a. Kromatografi kertas dua arah dapat digunakan dalam pemisahan substansi
b.
c.
d.
e.

yang memiliki nilai Rf yang serupa.


Peralatan yang diperlukansedikit dan sederhana
Biayanya murah
Waktuanalisiscepat
Dayapisahcukupbaik.

Kerugian:
Pelarut yang digunakan harus sesuai dengan sampel yang akan digunakan.
Misalkan ketika menggunakan pelarut polar, molekul-molekul polar akan
memiliki interaksi yang tinggi untuk molekul-molekul air dan kurang untuk
pelarut yang non polar. Sehingga cenderung untuk larut dalam lapisan air sekitar
serat lebih besar daripada pelarut yang bergerak. Karena molekul-molekul ini
membutuhkan waktu untuk larut dalam fase diam dan kurang dalam fase gerak,
molekul tidak akan bergerak dengan cepat pada kertas.

2.

Apakah metode kromatografi kertas dapat digunakan untuk analisa kuantitatif ?


Jawab:

Ya dapat digunakan, karena dalam hasil kromatografinya didapatkan jarak eluen


yang bergerak dan juga jarak noda yang bergerak. Sehingga dapat dihitung harga Rf
yang ada yang akan menjadi data kuantitatif dari analisa tersebut. Dimana harga Rf
dapat dihitung menggunakan rumus:
Rf

3.

jarak yang ditempuh oleh senyawa


jarak yang ditempuh oleh pelarut

Faktor apa saja yang mempengaruhi nilai Rf ?


Jawab:
Rf merupakan nilai dari jarak relatif terhadap pelarut, dimana harga Rf dihitung
dari jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi jarak yang ditempuh oleh eluen (fase
gerak) untuk setiap senyawa. Faktor yang mempengaruhi harga Rf yaitu:
1. Pelarut
Disebabkan

pentingnyakoefesienpartisi,

makaperubahan-perubahan

yang

sangatkecildalamkomposisipelarutdapatmenyebabkanperubahanperubahanhargaRf
2. Suhu
Perubahandalamsuhumerubahkoefesienpartisidanjugakecepatanaliran
3. Ukurandaribejana
Volume
daribejanamempengaruhihomogenitasdariatmosferjadimempengaruhikecepatanpe
nguapandarikomponen-komponenpelarutdarikertas.
adatendensiperambatanlebih

Jikabejanabesardigunakan,

lama,

sepertiperubahan-

perubahankomposisipelarutsepanjangkeras,
makakoefesienpartisiakanberubahjuga.
Duafaktoryaitupenguapandankomposisimempengaruhiharga Rf.
4. Jenis kertas
Pengaruhutamakertaspadaharga-hargaRftimbuldariperubahan ion
yang

berbedauntukmacam-macamkertas.

kertasmempengaruhikecepatanaliran
jugamempengaruhipadakeseimbanganpartisi.
5. Sifatdaricampuran

danserapan,
Kertasdan

Berbagaisenyawamengalamipartisidiantara
samadarifasetetapdanbergerak.

volume-volume

yang

DAFTAR PUSTAKA
Day, R. A. Jrdan Underwood, A. L., 2002, Analisis Kimia Kualitatif, Edisikeenam.
Jakarta:Erlangga.
Lehninger.A.L, 1995. Dasar-DasarBiokimia. Jakarta:Erlangga.
Poedjadi, A., 1994, Dasar-dasarBiokimia. Jakarta: UI-Press.
Tim. 2012. PetunjukPraktikumBiokimia. Surabaya: UnesaUniPress.
Winarno, F. G., 1992. Kimia PangandanGizi. Jakarta :PenerbitGramedia.