Anda di halaman 1dari 10

MESIN RING SPINNING

Pendahuluan
Mesin ring spinning merupakan sistem pemintalan konvensional dan
bertujuan untuk mengubah sliver roving menjadi benang dengan cara melakukan
peregangan, pemberian antihan dan penggulungan. Peregangan dilakukan oleh
pasangan rol peregang karena adanya perbedaan kecepatan permukaan antara
rol peregang depan, rol peregang tengah dan rol peregang belakang. Antihan
dibuat karena adanya putaran traveller pada ring yang mengelilingi spinndel dan
pemberian antihan didasarkan atas pemakaian benang tersebut dan harus cukup
kuat untuk diproses lebih lanjut. Penggulungan benang pada bobin terjadi karena
traveller berputar lebih lambat dari putaran bobin.
1. Prinsip Kerja Mesin Ring Spinning
Bahan baku pada mesin spinning adalah sliver hasil mesin roving yang
ditempatkan pada rak bobin. Gulungan roving pada bobin satu persatu dipasang
pada tempat penggantung dan diatur supaya isi bobin tidak sama sehingga
habisnya tidak bersamaan. Ujung-ujung roving dilakukan pengantar (3) supaya
mudah ditarik dan tidak putus seperti terlihat pada Gambar 1.
Pada saat penyuapan roving sedang berlangsung. Gulungan roving pada
bobin turut berputar untuk menghindarkan terjadinya regangan palsu. Dari
pengantar (3) roving dilalukan pada terompet pengantar (4) yang bergerak ke kiri
dan ke kanan. Gerakan ini masih terbatas pada daerah peregangan dengan
maksud untuk mengarahkan penyuapan supaya tidak terjadi pengausan
setempat pada rol peregang.
Dari terompet pengantar (4) roving disuapkan ke daerah peregangan (5)
yang diterima oleh pasangan rol belakang. Dari peregangan rol belakang roving
diteruskan ke pegangan rol tengah dengan kecepatan permukaan yang lebih
besar, dan roving diregangkan sehingga antihannya terbuka kembali, dan serat
seratnya menjadi sejajar.

Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

Gambar 1. Skema Mesin Ring Spinning


Keterangan :
1) Rak bobin
2) Penggantung (bobin holder)
3) Pengantar
4) Terompet pengantar (traverse guide)
5) Rol peregang
6) Cradle
7) Penghisap (pneumafil)
8) Ekor babi
9) Pengontrol baloning
10) Penyekat (separator)
11) Traveller
12) Ring
13) Spindel
14) Tin Roller

Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

Biasanya pada rol pasangan rol tengah dipasang sepasang apron, dan
fungsinya antara lain sebagai pengantar serat-serat dan memperkecil jarak titik
jepit terhadap rol depan. Di atas dan di bawah rol peregang ini dipasang
pembersih (8), sehingga serat dan debu yang menempel pada rol dapat dicegah.
Setelah kapas keluar dari rol peregangan depan akan terhisap oleh pengisap (7).
Kapas yang keluar dari rol depan masih sejajar, dan dengan perantaraan
pengantar ekor babi (9) terus melewati traveller(10) ring yang terputarkan oleh
spindel. Karena adanya putaran traveller pada ring mengelilingi spindel,
terbentuklah antihan pada benang dan benang telah cukup kuat untuk digulung
pada bobbin. Putaran spindle yang sangat cepat mengakibatkan traveller juga
terbawa berputar dengan cepat pada ring mengelilingi spindel yang
menimbulkan gaya centrifugal yang besar. Dibandingkan dengan berat benang
antara rol depan sampai bobin, maka gaya centrifugal dapat mengakibatkan
timbulnya bayangan benang berputar seperti balon yang biasa disebut baloning.
Untuk menjaga kebersihan dari traveller, pada dekat ring biasanya dipasang
baja pelat kecil disebut pisau, gunanya untuk menahan serat-serat yang terbawa
dan menyangkut pada traveller. Bilamana bobin yang digunakan panjang (9),
maka baloning yang terjadi sangat besar. Untuk mencegah dan membatasi
besarnya baloning biasa dibantu dengan antinode ring. Disamping antinode ring
untuk membersihkan pemisahan antara baloning pada spindle satu dengan
spindel lainnya juga diberi penyekat (14), sebab apabila baloning bergesekan
dengan arah yang berlawanan akan menimbulkan bulu benang atau mungkin
akan saling menyangkut dan benang dapat putus.
Setelah benang diberi antihan benang terus digulung pada bobin. Pada awal
penggulungan pada pangkal bobin, bentuk gulungan benangnya harus khusus
dan untuk ini digunakan suatu peralatan yang disebut Cam Screw. Setelah
pembentukan pangkal gulungan selesai, kemudian disusul penggulungan yang
sebenarnya sehingga gulungan benang pada bobin menjadi penuh. Pada mesin
spinning terjadinya penggulungan benang pada bobin karena traveller berputar
lebih lambat dari putaran bobin. Lapisan gulungan roving di mesin flyer sejajar
poros bobin, sedang lapisan gulungan benang di mesin Ring Spinning arahnya
miring terhadap bobin.
Gerakan naik dari ring rail lebih lambat daripada gerakan turun, dan pada
waktu ring rail naik terjadi penggulungan benang yang sebenarnya, sedang pada
Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

waktu ring rail turun terjadi gulungan bersilang sebagai pembatas lapisan
gulungan yang satu terhadap lapisan gulungan yang berikutnya.

2. Bagian-Bagian Mesin Ring Spinning


Pada hakikatnya mesin Ring Spinning dapat dibagi menjadi tiga bagian :
- Bagian penyuapan
- Bagian peregangan
- Bagian penggulungan
a. Bagian Penyuapan
Bagian penyuapan terdiri dari :
1) Rak bobin (1), berfungsi untuk menempatkan penggantung (bobin holder)
yang jumlahnya sama dengan jumlah spindel yang terdapat pada satu frame
2) Penggantung (2) dimana gulungan roving hasil mesin flyer terpasang dan
dapat
berputar dengan mudah pada penggantungnya pada saat roving ditarik oleh
pasangan rol peregang serta topi penutup gulungan roving, untuk mencegah
menempelnya serat-serat yang beterbangan pada roving
3) Pengantar (3) yang dilalui oleh roving sebelum disuapkan ke pasangan rol
peregang belakang. Hal ini dilakukan agar penguluran roving dari
gulungannya
dapat lancar.
4) Terompet pengantar (traverse guide) (4), bergerak ke kanan dan ke kiri yang
berfungsi untuk mengatur penyuapan roving agar keausan rol peregang
merata.
b. Bagian Peregangan
Bagian peregangan ini terdiri dari :
1) Tiga pasangan rol peregang (5) yang diperlengkapi dengan per penekan yang
fungsinya untuk dapat memberikan tekanan pada rol peregang atas terhadap
rol peregang bawah, sehingga dperoleh garis jepit yang diharapkan. Akibat
adanya tarikan-tarikan pasangan rol peregang ada sebagian serat yang putus
Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

menjadi serat-serat pendek maka pada rol atas dipasang pembersih yang
gunanya untuk membersihkan serat-serat yang menempel pada rol atas. Pada
rol peregang tengah dipasang Apron yang berfungsi untuk mengantarkan
serat-serat ke pasangan rol depan. Dengan perantaraan apron tersebut, maka
kecepatan serat yang pendek juga selalu mengikuti kecepatan permukaan rol
tengah.
2) Cradle (6), berfungsi untuk memegang rol atas dan dilengkapi dengan beban
penekan rol sistem per.
3) Penghisap (pneumafil) (7), berfungsi untuk menghisap serat yang keluar dari
pasangan rol peregang depan apabila ada benang yang putus.
c. Bagian Penggulungan
Bagian penggulungan terdiri dari :
1) Ekor babi (8) berfungsi agar bentuk balon simetris terhadap spindel, sehingga
benang tidak bergesekan dengan ujung spindel. 2) Traveller (11) yang
dipasang pada ring (12) dan berfungsi sebagai pengantar benang 3) Spindel
(13), sebagai tempat bobin spindel berikut bobin diputarkan oleh dan,
bergerak naik turun pada saat penggulungan benang sedang berlangsung.
4) Pengontrol balooning (9) yang fungsinya untuk membatasi kemungkinan
membesarnya baloning
5) Penyekat (separator) (10), untuk membatasi baloning agar tidak saling
terkena satu sama lain, sehingga tidak mengakibatkan benang putus.
6) Tin roll (14) sebagai poros utama mesin ring spinning, dan juga untuk
memutarkan spindel dengan perantaraan pita (spindel tape) yang
ditegangkan oleh peregang jocky pulley.
3. Proses Peregangan
Peregangan yang terjadi antara pasangan rol peregang belakang dan rol
peregang tengah disebut break draft (preliminary draft). Selanjutnya oleh
pasangan rol tengah diteruskan ke pasangan rol depan yang mempunyai
kecepatan permukaan yang lebih besar daripada rol tengah, sehingga terjadi
proses peregangan yang sebenarnya. Peregangan yang terjadi di daerah ini
disebut main draft, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 2.

Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

Gambar 2. Skema Bagian Peregangan

4. Proses Pengantihan (Twisting)


Pemberian antihan ini pada prinsipnya dilakukan dengan memutar satu ujung
dari untaian serat, sedang ujung yang lainnya tetap diam. Pada proses
pemintalan pemberian antihan dilakukan oleh spindel dan traveller sebagai
pemutar ujung untaian serat yang keluar dari rol peregang depan, sedangkan
ujung yang lainnya tetap dipegang atau dijepit oleh rol peregang depan.
Banyaknya antihan yang diberikan pada benang tergantung kepada
perbandingan banyaknya putaran dari mata pintal dengan panjangnya benang
yang dikeluarkan dari rol depan untuk waktu yang sama. Apabila suatu untaian
dari serat-serat diputar mengelilingi sumbu panjangnya, maka serat-serat
komponennya dapat dianggap akan menempati kedudukan sebagai spiral
sempurna atau tidak sempurna. Bentuk spiral yang tidak sempurna tergantung
kepada kesamaan(uniformity) serta keteraturan (regularity) dari susunan seratserat pada untaian serat yang akan diberi twist tersebut.

Banyaknya antihan yang diberikan pada benang dirumuskan sebagai berikut :

Dimana :
TPI = Twist per inch
C = Konstanta antihan atautwist multiplier

Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

Ne1 = Nomor dari benang untuk sistem tidak langsung


Apabila untaian tersebut akan mengalami tegangan dan perpanjangan
(stretching), seperti halnya kalau suatu per ditarik, sepanjang tidak terjadi
pergeseran atau slip antara serat. Apabila tegangan ini menyebabkan adanya
perpanjangan atau mulur, maka serat-serat yang menempati kedudukan yang
paling luar akan mendesak kedalam, sehingga mengakibatkan penampang dari
untaian serat tersebut akan menciut/mengecil.
Jadi, banyaknya antihan yang harus diberikan pada benang merupakan
masalah yang harus kita pertimbangkan, baik ditinjau dari segi teknis
(operasionil) maupun ekonomi. Arah antihan pada benang ada dua macam
tergantung dari arah putaran spindelnya. Kedua arah antihan tersebut disebut
arah Z (kanan) atau S (kiri), seperti terlihat pada gambar 3.

Gambar 3. Prinsip Pemberian Antihan


5. Proses Penggulungan Benang pada Bobin (Builder motion)
Proses penggulungan benang pada mesin ring spinning adalah sebagai berikut :
a. Pada mesin ring spinning pengantar benang naik turun, bobin berputar tetap
pada tempatnya.
b. Penggulungan terjadi karena adanya perbedaan kecepatan antara putaran
spindel (Nsp) dengan putaran traveller (Ntr) sehingga jumlah gulungan benang
g = Nsp Ntr.
Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

c. Sistem penggulungan benang mesin ring spinning adalah konis.

Gambar 4. Bentuk Gulungan pada Mesin Ring Spinning


Traveller merupakan pengantar benang pada mesin ring spinning yang
dipasang pada ring rail, turut bergerak naik turun bersama-sama dengan ring
railnya. Peralatan yang mengatur gerakan naik turunnya ring disebut builder
motion. Untuk membentuk gulungan benang pada bobin di mesin ring spinning
terbagi dalam tahap yaitu :
1) Pembentukan gulungan benang pada pangkal bobin
2) Pembentukan gulungan benang setelah gulungan pangkal bobin
6. Bentuk Gulungan Benang pada Bobin
Pada prakteknya di mesin spinning, sering terjadi bentuk gulungan yang
tidak normal, hal ini mungkin terjadi kesalahan dalam melakukan penggulungan
benang. Kesalahan tersebut dapat disebabkan oleh pengaruh mesin atau
kesalahan operator dalam melayani mesin.
Kesalahan yang disebabkan pengaruh mesin mungkin karena penyetelan
yang kurang betul,

sedangkan kesalahan yang disebabkan oleh operator

karena terlambat menyambung. Berikut bentuk-bentuk gulungan benang pada


bobin

Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

Gambar 5. Macam Bentuk Gulungan Benang pada Bobin


Pada gambar 5. terlihat macam bentuk gulungan benang pada bobin.
a. Bentuk gulungan yang normal. Isi gulungan tergantung panjang bobin dan
diameter ring. Gulungan tidak mudah rusak dan tidak sulit sewaktu dikelos di
mesin kelos (winder).
b. Bentuk gulungan benang yang tidak normal karena dalam proses benang
sering putus dan penyambungannya sering terlambat.
c. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena bagian bawahnya besar.
d. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena bagian atasnya besar.
e. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena terlalu kurus.
f. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena terlalu gemuk.
g. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena bagian atas membesar.
h. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena bagian bawah membesar.
i. Bentuk gulungan benang normal, tetapi tidak penuh.
j. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena bagian bawahnya kosong.
k. Bentuk gulungan benang tidak normal, karena bagian tengah ada benang
yang tidak tergulung.
7. Pengendalian Mutu
Pengendalian yang dilakukan terhadap benang sebagai hasil dari mesin ring
spinning untuk menentukan mutu benang antara lain :
a. Nomor benang
b. Kekuatan Benang
c. Twist per Inch (TPI)
d. Ketidakrataan Benang
Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

e. Putus Benang
f. Grade Benang

Teknologi Pemintalan III Mesin Ring Spinning

10