Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut WHO sehat

adalah

keadaan

keseimbangan

yang

sempurna baik fisik, mental dan social, tidak hanya bebas dari
penyakit dan kelemahan. Menurut UU Kesehatan RI no. 23 tahun
1992, sehat adalah keadaan sejahtera tubuh, jiwa, social yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan
ekonomis.
Sakit adalah ketidakseimbangan fungsi normal tubuh manusia,
termasuk sejumlah system biologis dan kondisi penyesuaian.
Kesehatan jiwa adalah satu kondisi sehat emosional psikologis,
dan

social

yang

terlihat

dari

hubungan

interpersonal

yang

memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang


positif, dan kestabilan emosionl (Videbeck, 2008)
Gangguan jiwa didefenisikan sebagai suatu

sindrom

atau

perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan
dikaitakan dengan adanya distress (misalnya gejala nyeri) atau
disabilitas (kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting)
(Videbeck, 2008)
Ancaman atau kebutuhan yang tidak terpenuhi mengakibatkan
seseorang stress berat membuat orang marah bahkan kehilangan
kontrol kesadaran diri, misalnya: memaki-maki orang di sekitarnya,
membantingbanting barang, menciderai diri sendiri dan orang lain,
bahkan membakar rumah, mobil dan sepeda montor. Umumnya klien
dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa ke rumah sakit jiwa.
Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan
dan pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi.
Perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/ orang
lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan
alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga.
Penanganan yang dilakukan oleh keluarga belum memadai sehingga
selama

perawatan

klien

seyogyanya

sekeluarga

mendapat

pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen


perilaku kekerasan).
Asuhan keperawatan yang diberikan di rumah sakit jiwa
terhadap

perilaku

kekerasan

perlu

ditingkatkan

serta

dengan

perawatan intensif di rumah sakit umum. Asuhan keperawatan


perilaku kekerasan (MPK) yaitu asuhan keperawatan yang bertujuan
melatih klien mengontrol perilaku kekerasannya dan pendidikan
kesehatan tentang MPK pada keluarga. Seluruh asuhan keperawatan
ini dapat dituangkan menjadi pendekatan proses keperawatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Perilaku Kekerasan?
2. Apa saja tanda dan gejala dari Perilaku Kekerasan?
3. Apa saja etiologi dari Perilaku Kekerasan?
4. Apa saja Rentang respon Perilaku Kekerasan?
5. Apa saja Mekanisme koping dari Perilaku Kekerasan?
6. Apa saja Perilaku dari Perilaku Kekerasan?
7. apa saja Pengobatan medic dari Perilaku Kekerasan?
8. Bagaimana proses asuhan keperwatan dari perilaku kekersan
C. Tujuan Masalah
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui konsep medis dan asuhan keperawatan
perilaku kekerasan
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui
b. Untuk mengetahui
c. Untuk mengetahui
d. Untuk mengetahui
e. Untuk mengetahui
f. Untuk mengetahui
g. Untuk mengetahui
h. Untuk mengetahui
D. Sistematika

pengertian dari Perilaku Kekerasan


gejala dari Perilaku Kekerasan
etiologi dari Perilaku Kekerasan
Rentang respon Perilaku Kekerasan
Mekanisme koping dari Perilaku Kekerasan
Perilaku dari Perilaku Kekerasan
Pengobatan medic dari Perilaku Kekerasan
asuhan keperwatan dari perilaku kekersan

Untuk menghindari luas masalah maka dalam penyusunan


makalah

ini

kelompok

mengkhususkan

pembahasan

tentang

penatalaksanaan pada pasien dengan perilaku kekerasan. Asuhan


keperawatan ini hanya menerapkan proses keperawatan melalui
tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, implementasi, dan evaluasi
pada kasus perilaku kekerasan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik
kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering juga disebut gaduh
gelisah atau amuk dimana seseorang marah berspon terhadap suatu
stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (yosep, 2010)
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri
sediri, orang lain dan lingkungan ( sturt dan sundeen,1998 )
Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu individu
beresiko menimbulkan bahaya langsung pada dirinya sendiri ataupun
orang lain ( Carpenito,2000 )
Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan
untuk

melukai

seseorang,

baik

secara

fisik

maupun

psikologis.Berdasarkan definisi ini, perilaku kekerasan dapat di


lakukan secara verbal di arahkan pada diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan.Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu
perilaku kekrasan saat sedang berlangsung atau perilaku kekerasan
terdahulu

(riwayat

perilaku

kekerasan).(Keliat,

Keperawatan

kesehatan jiwa komunitas, 2012)


Perilaku kekerasan merupakan respon terhadap stressor yang di
hadapi oleh seseorang yang di tunjukan dengan perilaku actual
melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri orang lain maupun
lingkungan

secara

verbal

maupun

nonverbal,

bertujuan

untuk

melukai orang lain secara fisik maupun psikologis (Menurut Berkowizt


dalam buku Yosep 2011).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seorang
individu mengalami perilaku yang dapat melukai secara fisik baik
terhadap diri sendiri atau orang lain ( Menurut Towsend dalam buku
Yosep 2011).

Perilaku

kekerasan

adalah

suatu

keadaan

dimana

klien

mengalami perilaku yang dapat membahayakan di klien sendiri,


lingkungan

termasuk

orang

lain

dan

barang-barang

(Menurut

Maramis dalam buku Yosep 2011).

B. Tanda dan Gejala


Menurut Fitria (2009)

tanda dan gejala perilaku kekerasan

diantaranya adalah :
1. Fisik
mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang
mengatup, wajah memerah dan tegang serta postur tubuh kaku.
1. Verbal
mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, bicara
dengan nada keras, kasar dan ketus.
2. Perilaku
Menyerang orang lain, melukai diri sendiri, atau orang lain,
merusak lingkungan, amuk atau agresif.
3. Emosi
tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu,
dendam, jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk
ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.
4. Intelektual
mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan
tidak jarang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme.
5. Spiritual
merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak
bermoral dan kreatifitas terhambat.
6. Sosial
menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan
sindiran.
7. Perhatian
bolos, melarikan diri dan melakukan penyimpangan seksual.
C. Etiologi
1. Faktor predisposisi
a. Teori biologi
Beardasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya
pemberian stimulus elektris ringan pada hipotalamus ternyata
menimbulkan prilaku agresif, dimana jika terjadi kerusakan
fungsi limbic (untuk emosi dan perilaku) lobus frontal (untuk
4

pemikiran rasional), lobius temporal (untuk interprestasi indra


penciuman dan memori) akan menimbulakn mata terbuka
lebar, pupil berdilatasi, dan hendak menyerang objek yang
ada disekitarnya.
1) Neurologic factor
beragam komponen

dari

sistem

saraf

seperti

synap,

neurotransmitter, dendrit, axon terminalis mempunyai peran


memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan
yamg akan mempengaruhi sifat agresif. Sistem limbik sangat
terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan
dan respons agresif.
2) Genetic factor
adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi
potensi perilaku agresif. Menurut riset Kazuo Murakami (2007)
dalam gen manusia terdapat dormant (potensi) agresif yang
sedang tidur dan akan bangun jika terstimulasi oleh faktor
eksternal. Menurut penelitian genetik tipe karkotype XYY,
pada umumnya dimiliki oleh penghuni pelaku tindak kriminal
serta orang-orang yang tersangkut hukum akibat perilaku
agresif.
3) Cyrcardian Rhytm
(irama sirkardian tubuh), memegang peranan pada individu.
Menurut

penelitian

pada

jam-jam

tertentu

manusia

menghalangi peningkatan cortisol terutama pada jam-jam


sibuk

seperti

menjelang

masuk

kerja

dan

menjelang

berakhirnya pkerjaan sekitar jam 9 dan jam 13. Pada jam


tertentu orang lebih mudah terstimulasi untul bersikap agresif.
4) Biochemistry faktor
(Faktor biokimia tubuh) seperti neurotransmiter di otak
(epinephrin,

norepinephrin,

dopamin,

asetikolin,

dan

serotonin) sangat berperan dalam penyampaian informasi


melalui sistem persyarafan dalam tubuh, adanya stimulus dari
luar tubuh yang di anggap mengancam atau membahayakan
akan dihantar melalui implus neurotransmitter ke otak dan
meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon
androgen dan norephinephrin serta penurunan serotonin dan
5

GABA pada cairan cerebospinal vertebra dapat menjadi faktor


predisposisi terjadinya perilaku agresif.
5) Brain Area dirsorder
gangguan pada sistem imbik dan lobus temporal, sindrom
otak organik, tumor otak, trauma otak, penyakit ensepalitis,
epilesi ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku
agresif dan tindak kekerasan.
b. Faktor psikologis
1) Teori Psikoanalisa
Agresif dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh
kembang seseorang (life span hystori). Teori ini menjelaskan
bahwa adanya ketidakpusan fase oral antara usia 0-2 tahun
dimana

anak

tidak

mendapatkan

kasih

sayang

dan

pemenuhan kebutuhan air susu yang cukup cendurung


mengembangkan

sikap

agresif

dan

bermusuhan

setelah

dewasa sebagai kompesasi adanya ketidakpercayaan pada


lingkungannya. Tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman
dapat

mengakibatkan

tidak

berkembangnya

ego

dan

membuat konsep diri yang rendah.Perilaku agresif dan tindak


kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap
rasa ketidakberdayaanya dan rendahnya harga diri pelaku
tindak kekerasan.
2) Imitation, modeling, and information processing theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam
lingkungan yang menolelir kekerasan.Adanya contoh, model
dan perilaku yang ditiru dari madia atau lingkungan sekitar
memungkinkan individu meniru perilaku tersebut. Dalam
suatu penelitian beberapa anak dikumpulkan untuk menonton
tayangan pamukulan pada boneka dengan raward positif
(makin

keras

pukulanya

akan

diberi

coklat),

anak

lain

menonton tayangan cara mengasihii dan mencium boneka


tersebut dengan reward positif pula (makin baik belainya
mendapat hadiah coklat). Setelah anak-anak keluar dan diberi
boneka ternyata masing-masing anak berperilaku sesuai
dengan tontonan yang pernah dialaminya.
3) Learning Theory
6

Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap


lingkungan terdekatnya.Ia mengamati bagaimana respon ayah
saat

menerima

kekecewaan

dan

mengamati

bagaimana

respons ibu saat marah. Ia juga belajar bahwa dengan


agresifitas

lingkungan

sekitar

menjadi

peduli,

bertanya,

menanggapi, dan menganggap bahwa dirinya eksis dan patut


untuk diperhitungkan.
(Yosep, 2011)
1. Faktor presipitasi
Menurut Yosep (2011) Faktor-faktor yang dapat mencetuskan
perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan:
a. Ekspresi diri, ingin menunjukan eksistensi diri atau simbol
solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola,
geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.
b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi
sosial ekonomi.
c. kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuati dalam keluarga
serta tidak membisakan dialog untuk memecahkan masalah
cenderung

melakukan

kekerasan

dalam

menyelesaikan

konflik.
d. ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan
ketidakmampuan menempatkan dirinya sebagai seorang yang
dewasa.
e. adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan
obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya
pada saat menghadapi rasa frustasi.
f. kematian anggota keluarga yang

terpenting,

kehilangan

pekerjaan, perubahan tahap perkembangan, atau perubahan


tahap perkembangan keluarga.
D. Rentang respon
Respon adaptif
Respon maladaptif
Asertif

Frustasi

Pasif

Agresif

Amuk

Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif


maladaptif. Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai
berikut:
1. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan
atau keinginan. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan
kecemasan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan
kemarahan.
2. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai
perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang
lain.
3. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih
dapat dikontrol oleh individu. Orang agresif biasanya tidak mau
mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat bahwa setiap orang
harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan
mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
4. Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat
disertai kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat
merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.Pasif adalah
respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan
yang dialami.
E. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada
penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah
langsung

dan

mekanisme

pertahanan

yang

digunakan

untuk

melindungi diri.
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul
karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai
pada klien marah untuk melindungi diri antara lain:
1. Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau
keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda
yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap
rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut
mencoba merayu, mencumbunya.
2. Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya
di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami
hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang
8

sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain


seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya,
tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa
marah.
3. Represi

Mencegah

pikiran

yang

menyakitkan

atau

membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak


yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan
tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil
bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan
dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan
akhirnya ia dapat melupakannya.
4. Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya
bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti
yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya
Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat
hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya.
Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.
5. Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya

bila

diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang


berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya
seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan
orang tersebut dengan kasar.
F. Perilaku
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
1. Menyatakan secara asertif (assertiveness)Perilaku yang sering
ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu
dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah
cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu
dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang
lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku ini
dapat juga untuk pengembangan diri klien.
2. Menyerang atau menghindar (fight of flight)Pada keadaan ini
respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom
beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan
9

darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi


HCl meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine dan
saliva

meningkat,

konstipasi,

kewaspadaan

juga

meningkat

diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal,


tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.
3. Perilaku kekerasan. Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan
kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan
4. Memberontak (acting out). Perilaku yang muncul biasanya disertai
akibat konflik perilaku acting out untuk menarik perhatian orang
lain.
G. Pengobatan medik
1. Farmakoterapi
a) Obat anti psikosis, phenotizin (CPZ/HLP)
b) Obat anti depresi, amitriptyline
c) Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam
d) Obat anti insomnia, phneobarbital
2. Terapi modalitas
a. Terapi keluarga
Berfokus pada keluarga dimana keluarga

membantu

mengatasi masalah klien dengan memberikan perhatian:


a. BHSP
b. Jangan memancing emosi klien
c. Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan
keluarga
d. Anjurkan pada klien untuk mengemukakan masalah yang
dialami
e. Jika klien melakukan kesalahan jangan langsung memvonis
f. Memberikan kesempatan pada klien dalam mengemukakan
pendapat
g. Hindari penggunaan kata-kata yang menyinggung perasaan
klien
h. Mendengarkan keluhan klien
i. Membantu memecahkan masalah yang dialami oleh klien
j. Jika terjadi PK yang dilakukan adalah:
1) Bawa klien ketempat yang tenang dan aman
2) Hindari benda tajam
3) Lakukan fiksasi sementara
4) Rujuk ke pelayanan kesehatan
3. Terapi kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, ketrampilan
social atau aktivitas lai dengan berdiskusi dan bermain untuk

10

mengembalikan kesadaran klien karena masalah sebagian


orang merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain.
4. Terapi music
Dengan music klien terhibur, rilek dan bermain untuk
mengembalikan kesadaran klien.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian perilaku kekerasan merupakan salah satu respon
terhadap stressor yang di hadapi oleh seseorang.Respons ini dapat
menimbulkan kerugian baik pada diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan.Melihat

dampak

dari

kerugian

yang

di

timbulkan,

penanganan pasien perilaku kekerasan perlu di lakukan secara tepat


dan cepat oleh tenaga yang professional(Wati, 2010).
Kaji Faktor predisposisi dan presipitasi, serta kondisi klien
sekarang. Kaji riwayat keluarga dan masalah yang dihadapi klien.
Jelaskan tanda dan geala klien pada tahap marah, krisis atau
perilaku kekerasan, dan kemungkinan bunuh diri.Muka merah,
tergang,

pandangan

mata

tajam,

mondar

mandir,

memukul,

memaksa, irritable, sensitive dan agresif.


Fokus pengkajian pada pasien dengan perilaku kekerasan
meliputi :
1. Pengumpulan data
11

Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial


dan psiritual.
a. Aspek biologis
Respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem syaraf
otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan
darah meningkat, taki kardi, muka merah, pupil menebal,
pengeluaran urine meningkat. Paad gejala yang sama dengan
kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan
otot seperti rahang terkatuk tangan di kepel, tubuh kaku dan
reflek cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang di keluarkan
saat marah bertambah.
b. Aspek emosional
Individu yang marah karena tidak nyaman, merasa tidak
berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain,
ngamuk,

bermusuhan

dan

sakit

hati,

menyalahkan

dan

menuntut.
c. Aspek intelektual
Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan
melalui proses intelektual, peran pasca indra sangat penting
untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya di olah
dalam proses intelaktual sebagai suatu pengalaman. Perawat
perlu mengkaji cara pasien marah, mengidentifikasi penyebab
kemarahan bagai mana informasi di proses, di klarifikasi dan di
integrasikan.
d. Aspek social
Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep, rasa percaya, dan
ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan
orang lain. Klien sering kali menyalurkan kemarahan dengan
mengkritik tingkah laku orang lain sehingga orang lain merasa
sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan
disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan
individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak
mengikuti aturan.
e. Aspek spiritual
Kepercayaan nilai moral mempengaruhi hubungan individu
dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang
12

dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang di manifestasikan


dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji
individu

secara

komprehensif

meliputi

aspek

fisik,

emosi,

intelektual, sosial dan spiritual yang secara singkat dapat


dilukiskan sebagai berikut; aspek fisik terdiri dari muka merah,
pandangan tajam, napas pendek, dan cepat, berkeringat sakit
fisik, penyalahgunaan zat, tekanan darah meningkat
Aspek emosi: tidak adekuat, tidak aman, debdam, jengkel.
Aspek intelektual : mendominasi bawel , sarkasme, berdebat,
meremehkan. Aspek sosial : menarik diri, penolakan, kekerasan,
ejekan, humor.
Perawat perlu

memahami

dan

membedakan

berbagai

perilaku yang ditampilkan klien. Hal ini dapat di analisa


dariperbandingan berikut
(Yosep, 2011)
Pohon Masalah
Efek

Mencederai diri sendiri, orang lain dan

lingkungan

Core Promblem

Causal

Perilaku kekerasan

Harga diri rendah

B. Diagnosa
Perilaku kekerasan
C. Intervensi
1. TUK 1 Membina hubungan saling percaya
a.
Criteria hasil
1) Klien mau membalas salam
2) Klien mau menjabat tangan
3) Klien mau menyebutkan nama
4) Klien mau tersenyumklien mau kontak mata
13

b.

5) Klien mengetahui nama perawat


6) Menyediakan waktu untuk kontrak
Intervensi
1) Beri salam/panggil nama klien
2) Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan
3) Jelaskan maksud hubungan interaksi
4) Jelaskan tentang kontrak yang akan di buat
5) Beri rasa aman dan sikap empati
6) Lakukan kontrak singkat tapi sering
c. Rasional
Hubungan saling percaya merupakan landasan utama untuk

hubungan selanjutnya
2. TUK 2 Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
a. Criteria hasil
1) Klien dapat mengungkapkan perasaannya
2) Klien
dapat
mengungkapkan
penyebab

perasaan

jengkel/kesal (dari diri sendiri, dari lingkungan/orang lain)


b. Intervensi
1) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
2) Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab jengkel/kesal
c. Rasional
Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat
membantu

mengurangi

stress

dan

penyebab

perasaan

jengkel/kesal
3. TUK 3 Mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
a. Criteria hasil
1) Klien dapat mengungkapkan perasaan saat marah/jengkel
2) Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda jengkel/kesal yang
dialami
b. Intervensi
1) Anjurkan klien mengungkapkan apa yang di alami saat
marah/jengkel
2) Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien
3) Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesal yang
dialami klien
c. Rasional
1) Untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasa saat jengkel
2) Untuk mengetahui tanda-tanda klien jengkel/kesal
3) Menarik kesimpulan bersama klien supaya klien mengetahui
4. TUK
a.

secara gari besar tanda-tanda marah/kesal


4 Mengidentifikasi perilaku kekekerasan

yang

biasa

dilakukan.
Criteria hasil

14

1) Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa


dilakukan
2) Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang
biasa di lakukan
3) Klien dapat mengetahui
b.

cara

yang

biasa

dapat

menyesuaikan masalah atau tidak


Intervensi
1) Anjurkan klien untuk mengungkapakan perilaku kekerasan
yang biasa di lakukan klien
2) Bantu klien bermain peran

sesuai

dengan

perilaku

kekerasan yang biasa di lakukan


3) Bicarakan dengan klien apakah ada cara yang klien lakukan
c.

untuk masalahnya selesai ?


Rasional
1) Mengekplorasi perasaan klien terhadap perilaku kekerasan
yang biasa dilakukan
2) Untuk mengetahui perilaku kekerasan yang biasa di lakukan
dan dengan bantuan perawat bias membedakan perilaku
konstruktif dan destruktif
3) Dapat membantu klien dalam menentukan cara yang dapat

menyelesaikan masalah
5. TUK 5 Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
a. Criteria hasil
Klien dapat menjelaskan akaibat dari cara yang di gunakan
klien
b.
Intervensi
1) Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan klien
2) Bersama klien klien menyimpulkan akibat cara yang
c.

digunakan oleh klien


Rasional
1) Membantu klien untuk menilai perilaku kekerasan yang
dilakukan
2) Dengan mengetahui akibat perilaku kekerasan diharapkan
klien dapat merubah perilaku destruktif yang dilakukannya

menjadi perilaku yang kontruktif


6. TUK 6 Mengidentifikasi cara kontruktif dalam merospon terhadap
kemarahan
a. Criteria hasil
Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan
b.

secara konstruktif
Intervensi
15

1) Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru


yang sehat?
2) Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat
Cara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal/memukul
bantal/kasur

atau

memerlukan tenag
Secara verbal :

olah

raga

katakana

atau

pekerjaan

bahwa

anda

yang

sedang

kesal/tersinggung atau jengkel( saya kesal ada berkata


seperti itu;saya marah karena mama tidak memenuhi

keinginan say
Secara social; lakukan dalam kelompok cara-cara marah
yang seha; latihan ansentif, latihan manajemen perilaku

c.

kekerasan
Secara spiritual : anjurkan klien sembahyang, berdoa

atau ibadah lain


Rasional
1) Agar klien dapat

mempelajari

cara

yang

lain

yang

kontruktif
2) Mengidentifikasi cara yang kontruktif dalam merespon
terhadap kemarahan dapat membantu klien menemukan
cara

yang

baik

untuk

mengurangi

sehingga klien tida stress lagi


3) Reinforcement positif dapat

kejengkelannya

memotivasi

klien

dan

meningkatkan harga dirinyaberdiskusi dengan klien untuk


memilih car yang lain yang sesuai dengan kemampuan
klien
7. TUK 7 Dapat mendemostrasikan cara mengontrol perilaku
kekerasan
a. Criteria hasil
1) Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol kekerasan
secara :
fisik
a) Fisk 1 : Tarik nafas dalam
b) Fisik 2 : Memukul bantal atau kasur
c) Social/verbal,
a. Meminta dengan baik
b. Menolak dengan baik
c. Mengungkapkan perasaan dengan baik
spiritual
16

d) Mengajarkan klien untuk shalat,ibadah


a. Ucapkan astagfirullah
b. Berwuduh
e) Minum Obat : menggunakan prinsip 5 benar
1. benar nama pasien
2. Benar nama obat
3. Benar cara minum obat
4. Benar waktu minum obat
5. Benar dosis obat
b. Intervensi
a. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien
b. Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih
c.Beri inforcement positif atau keberhasilan klien menstimulasi
cara tersebut
d. Anjurkan klien untuk menggukan cara yang telah dipelajari
saat jengkel/marah
c. Rasional
1. Memberikan stimulasi kepada klien untuk menilai respon
perilaku kekerasan secara cepat
2. Membantu klien dalam membuat keputusan terhadap cara
yang telah dipilihnya dengan melihat manfaatnya
3. Pujian meningkatkan motiva dan harga diri klien
4. Agar klien dapat melaksanakan cara yang dipilihnya jika ia
sedang kesal
PENGKAJIAN KEPERAWATAN JIWA
RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Ruang Rawat

: Flamboyan

Tanggal Dirawat

23 Maret 2016
Tanggal Pengkajian : 30-03-2016

RM No

042553
I. Identitas
Inisial
Umur

: Ny. V
: 22 tahun

Informasi : pasien
II. ALASAN MASUK DAN FAKTOR PENCETUS
Klien sering mengamuk dirumah
17

Faktor pencetusnya, klien trauma akibat. Klien menjadi korban kekerasan


dalam rumah tangga
III. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa masa lalu :
Iya
Tidak
2. Pengobatan sebelumya :
Berhasil
Kurang berhasil
Tidak berhasil
3.

Pelaku/usia Korban/usia Saksi/usia


Aniaya fisik
Aniaya seksual
Penolakan
Kekerasan dalam keluarga

Tindakan kriminal
Jelaskan no 1,2,3 :
1. Klien pernah mengalami gangguan jiwa akibat kekerasan dalam
rumah tangga
2. Pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena pasien tidak
minum obat
3. Klien mengalami kekerasan dalam rumah tangga di usia 15 tahun

karena dipukul oleh suaminya.


Masalah keperawatan : Perilaku kekerasan
4. Apakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa :
Iya
Tidak
Hubungan keluarga

Gejala

pengobatan/petawatan
Adik kandung

Depresi

Riwayat

berhasil
Masalah keperawatan : Isolasi sosial
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenagkan :
Klien bekerja di kafe sebagai pelayan
Masalah keperawatan : Tidak ada
IV.

FISIK
1. Tanda Vital : TD : 100/70 mmgh, N : 80
2. Ukuran
: TB : 152 Kg, BB : 50 Kg
3. Keluhan Fisik :
Iya
Tidak

X/M, P : 20

X/M

Jelaskan :
V.

Masalah keperawatan : Tidak ada


PSIKOSOSIAL
1. Genogram

41

?
18

28

Ket :

26

22

16

: laki laki
: Perempuan
: Meninggal
: Klien

Jelaskan :
- Dalam keluarga klien anak ketiga dari lima bersaudara
- Dalam keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa seperti
klien adalah anak ke 4
- Dalam keluarga klien ibu sebagai pengambil keputusan
- Masalah keperawatannya perilaku kekerasan
2. Konsep diri
a. Gambaran diri :- klien menyukai dengan keadaan fisiknya
sekarang
-klien mengatakan tubuhnya sempurna
b. Identitas :
- Klien mengatakan status dan posisi klien sebelum dirawat
baik-baik
- klien meyadari dirinya sebagai wanita
- kepuasan klien terhadap status dan posisinya ditempat kerja
klien merasa tidak puas disebabkan karena merasa tidak
dihargai.
c. Peran : kemampuan dalam melaksakan tugas atau peran baik
d. Ideal diri :
- klien berharap dirinya tetap sehat
-klien berharap mendapat suami yang lebih baik
- klien berharap dilingkungan keluarganya dan masyarakat
dapat diterima dengan baik
e.

Harga diri : - klien merasa malu dengan orang-orang


disekitarnya

Masalah keperawatan : harga diri rendah


3. Hubungan Sosial :
a. Orang yang berarti : Ayah klien
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat : tidak ada
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : tidak ada
Masalah keperawatan : tidak ada
4. Spritual
a. Nilai dan keyakinan : klien mengatakan dirinya islam
muhammadiah
b. Kegiatan ibadah :
- klien menjalankan solat kadang-kadang
-klien menjalankan solat tidak menggunakan mukena
19

Masalah keperawatan :
VI.
STATUS MENTAL
1. Penampilan :

Tidak rapi

Penggunaan pakain

Cara berpakain tidak sesuai biasanya


Jelaskan: penampilan klien rapi dan menggunakan pakaian pada
tempatnya
Masalah keperawatan : Tidak ada
2. Pembicaraan :
Cepat
Inkiheren

Keras

Gagap

Apatis

lambat

Membisu
Tidak mampu memulaipembicaraan

longhorea

Echolalia
Jelaskan : klien berbicara keras
Masalah keperawatan : Resiko Perilaku kekerasan
3. Aktivitas motorik :

lesu

Agitas

Tegang
Tik

Gelisah

Grimasen

Tremor

Kompulsif
Jelaskan : klien tegang disebabkan karena saat pengkajian, klien
tengah bertengkar dengan ibunya
Masalah keperawatan : Perilaku kekerasan
4. Alam perasaan :
Sedih
Ketakutan

Putus asa

Khawatir
Gembira berlebihan
Jelaskan : klien mudah marah
Masalah keperawatan : perilaku kekerasan
5. Afek :
Datar
Tumpul
labil

Tidak

sesuai
Jelaskan : klien labil : klien mudah tersinggung jika ada yang
mengan
ggunya
Masalah keperawatan : perilaku kekerasan
6. Interaksi selama wawancara :
Bermusuhan
koperatif Curiga
Defensif

Tidak

Kontak mata kurang


Mudah tersinggung

Jelaskan :- klien kooperatif


- Klien mau mendengarkan penjelasan dari perawat
Masalah keperawatan : Tidak ada
7. Persepsi :
Pendengaran
Penglihatan
Perabaan
Pengecapan
Penciuman
20

Jelaskan : baik
Masalah keperawatan : Tidak ada
8. Proses pikir :
Sirkumentasial

Tangesial

Kehilangan Asosiasi

Bloking

Fligt of ideas

Neologisme
Pengulangan pembicaraan
Jelaskan : fligt of ideas : - Pembicaraannya sering meloncat dari satu
topik ke topik yang lainnya, masih ada
hubungan yang tidak logis dan tidak sampai
tujuan
Neologisme : - Pembicaraanya kadang tidak masuk
akal (keras kepala), selalu mendengar kata-katanya
Masalah keperawatan : Resiko kekerasan
9. Isi pikir :
Obsesi
Fobia

Hipokandria
Pikiran magis

Depersonalisasi ide yang terkait


Waham
Agama

Somatik

Kebesaran

Curiga
Jelaskan
yang

Nihilistik
Sisip pikir
Siar pikir
Kontrol pikir
: ide yang terkait : keyakinan klien terhadap kejadian

terjadidilingkungan

keluarga

bermakna

dan

terkait

pada

kesalahan ibunya
Masalah keperawatan: Resiko kekerasan
10. Tingkat kesadaran :
Bingung
Sedasi
Stupor
Disorientasi
:
Waktu
Tempat
Orang
Jelaskan : orientasi waktu, tempat dan orang cukup jelas
Masalah keperawatan :
11. Memori :
Gangguan daya ingat juangka panjang
Gangguan daya ingat juangka pendek
Gangguan daya ingat saat ini
Konfabulasi
Jelaskan : tidak ada masalah
Masalah keperawatan: tidak ada
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung :
Mudah beralih
Tidak mampu berkonsentrasi
Tidak mampu berhitung secara
sederhana
Jelaskan: klien mampu berhitung
Masalah keperawatan: Tidak ada
13. Kemampuan penilaian :
Gangguan ringan
Gangguan
bermakna
Jelaskan : tidak ada masalah
21

Masalah keperawatan: Tidak ada


14. Daya tilik diri :
Mengingkari penyakit yang diderita
Menyalahkan hal-hal diluar dirinya
Jelaskan : Klien menyalahkan hal-hal diluar dirinya : klien
menyalahkan semua masalah terjadi karena ibunya
Masalah keperawatan : resiko kekerasan
VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1. Makan :

Bantuan minimal

Bantuan total

Jelaskan : klien mandiri


Masalah keperawatan: Tidak ada
2. BAB/BAK :

Bantuan minimal

Bantuan total

Jelaskan : Mandiri
Masalah keperawatan: Tidak ada
3. Mandi :

Bantuan minimal

Bantuan total

Jelaskan: Mandiri
Masalah keperawatan: Tidak ada
4. Berpakaian/berhias :

Bantuan minimal

Bantuan total

Jelaskan: Mandiri
Masalah keperawatan: Tidak ada
5. Istrahat dan tidur :

Tidur siang

Tidur malam

Kegiatan sebelum tidur dan sesudah tidur


Jelaskan: - Tidur siang tidak menentu
- Tidur malam jam 19.00 malam setelah minum obat
Masalah keperawatan: Tidak ada
6. Penggunaan obat :

Bantuan minimal

Bantuan total

Jelaskan: Mandiri
Masalah keperawatan: Tidak ada
7. Pemeliharaan kesehatan
Perawatan lanjutan :

Ya

Sistem pendukung :
Jelaskan:
Masalah keperawatan:

Tidak

Ya

Tidak

Tidak ada

8. Kegiatan didalam rumah


Mempersiapkan makan

Ya

Tidak

22

Menjaga kerapian rumah


Mencuci pakaian

Ya

Pengaturan keuangan

Tidak

Ya
:

Tidak
Ya

Tidak

Jelaskan: klien mengatakan yang mengatur keuangan ibunya


Masalah keperawatan:
9. Kegiatan diluar rumah
Belanja

Transportasi :

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Lain-lain

Ya

Tidak

Jelaskan:
Masalah keperawatan: Tidak ada
VIII. MEKANISME KOPING
Adaptif

Maladaptif

Bicara dengan orang lain

Minum alkohol

Mampu menyelesaikan masalah


lambat/berlebihan
Teknik relaksasi

Reaksi
Bekerja berlebihan

Aktivitas konstruktif

Menghindar

Olah raga

Mencederai diri

Lain-lainnya

Lain-lainnya

Jelaskan: klien merokok


Masalah keperawatan:
IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik :
Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik :
Masalah dengan pendidikan:
Masalah dengan perumahan, spesifik:
23

Masalah ekonomi, spesifik:


Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik:
Jelaskan: ibu klien mengatakan anaknya sering mengacam dirinya
dirumah jika keinginannya dirumah tidak dipenuhi
Masalah keperawatan: Perilaku kekerasan

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


Penyakit jiwa

Sistem pendukung

Faktor predisposisi

Penyakit fisik

Koping

Obat-obatan

Lain-lainnya:
Jelaskan: klien mampu menjawab pertanyaan dengan benar
Masalah keperawatan: Tidak ada
XI. ASPEK MEDIK
Diagnosa medik : Skizofrenia residual
Terapi medik : cpz 100 mg 3x1
Hlp 5 mg 2x1
Thp 2 mg 3x1
Diaz 5 mg 2x1
XII. DAFTAR MASALAH KEPERWATAN
1. Perilaku kekerasan
2. Harga diri rendah
3. Resiko mencederai diri sediri,orang lain dan lingkungan

24

ANALISA DATA
Data
Data subyektif:
- Ibu klien mengatakan klien sering mengamuk di

Masalah
Resiko Perilaku
kekerasan

rumah
- Klien mengatakan sering mengancam ibunya
jika keinginananya tidak terpenuhi
Data obyektif :
-Pembicaraan keras
-Kontak mata tajam
-Klien mudah marah
-Klien tampak merokok
Data subyektif:
- Klien mengatakan malu dengan oarng orang di

Harga diri rendah

sekitarnya
- Klien mengatakan jika dilingkungan keluarga
dan dimasyarakat ingin diterima dengan baik
Data obyektif :
-Alam perasaan sedih
-Klien hanya mau berbicara pada perawat
-Keadaan ekonomi klien terbatas
-Klien hanya besekolah sampai SMP
-Klien bekerja sebagai pelayan Cafe
Data subyektif:
- Ibu klien mengatakan klien sering mengamuk di
rumah
- Klien mengatakan sering mengancam ibunya

Resiko mencederai
diri sediri,orang lain
dan lingkungan

jika keinginananya tidak terpenuhi


-Klien mengatakan sering mengancam teman
temanya yang malas
Data obyektrif
-Pembicaraan keras
-Kontak mata tajam
25

-Klien mudah marah


POHON MASALAH
Efek
Core problem

Mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Resiko perilaku kekerasan

Causal

Harga diri rendah

XIII. DAFTAR PRIORITAS DIAGNOSA MASALAH


1. Resiko Perilaku kekerasan
2. Harga diri rendah
3. Mencederai diri sediri,orang lain dan lingkungan

26

STRATEGI PELAKSANAAN ( SP 1 )
RESIKO PERILAKU KEKERASAN
Hari/Tanggal

: Selasa 29 Maret 2016

Pertemuan : ke 2
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien :
Data Subjektif : Klien mengatakan benci dan kesal pada seseorang
Klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang jesal atau marah
Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainya
Data objektif : Mata merah, wajah agak merah
Nada suara tinggi dan keras
Bicara menguasai
Ekspresi wajah saat membicarakan orang
2. Diagnosa keperawatan : Resiko Perilaku kekerasan
3. Tujuan :
a) Membina hubungan saling percaya
b) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
c) Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan
d) Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekrasan yang biasa di
lakukakn
e) Klien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukan
f) Klien dapat menyebutkan/mengontrol perilaku kekerasan secara
fisik 1 (tarik napas dalam)
4. Tindakan :
a) Bina hubungan saling percaya :
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Berjabat tangan
3) Menjelaskan tujuan intervensi
4) Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
b) Diskuskan bersama klien jika terjadi perilaku kekerasan saat ini
dan yang lalu
c) Diskusikan bersama klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
1) Diskusikan tanda dan gejalah perilaku kekerasan secara fisik
2) Diskusikan tanda dan gejalah perilaku kekerasan secara verbal
3) Diskusikan tanda dan gejalah perilaku kekerasan secara sosial

27

4) Diskusikan tanda dan gejalah perilaku kekerasan secara


spritual
d) Diskusikan bersama

pasien

perilaku

kekerasan

yang

biasa

dilakukan pada saat marah :


1) Verbal terhadap diri sendiri
2) Verbal terhadap orang lain
3) Verbal terhadap lingkungan
e) Diskusikan bersama pasien akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukan
f) Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan
secara :
1) fisik 1 ( tarik napas dalam )
B. Strategi pelaksanaan
1. Fase orientasi
a) Salam terapeutik
selamat pagi ibu, perkealkan nama saya nur agni sahran, biasa
di panggil akni, saya perawat dinruangan flamboyan, nama ibu
siapa ? biasa di panggil siapa ?
b) Evaluasi validasi
bagaimana perasaan ibu saat pengkajian ?
c) Kontrak
1) Topik : baiklah ibu kita akan bercakap cakap hari ini tentang
penyebab perasaan marah ibu ?
2) Waktu : Berapa lama ibu mau bercakap cakap ? Bagaimana
kalau 15 menit ? Mau jam berapa ibu mau ? ya baiklah kalau
jam 10 saja ?
oh,, iya bu mau jam 10 sebanyak 10 menit ya..
3) Tempat : tempatnya didalam ruangan ya bu sampai ketemu
nanti ketemu,, Assalamalaikum
2. Fase kerja
Apa yang menyebabkan ibu marah ? bagaimana sebelumnya ibu
pernah marah ? terus apa ? samakah dengan sekarang ? apakah
ada penyebab lain yang membuat ibu marah ?
Pada saat penyebab marah itu ada seperti ibu strees karena
pekerjaan atau masalah uang ( misalnya ini penyebab marah pasien
), apa ibu rasakan ?
Apakah ibu merasakn kesal kemudian dada berdebar debar, mata
melotot, rahang tertutup rapat, dan tangan mengepal ?
Setelah itu apa yang ibu lakukan ? oh i u marah marah,
membanting pintu, memecahkan barang barang, apakah dengan
28

cara itu stress ibu busa hilang ? iya atau tidak. Apa kerugian cara
ibu lakukan tadi ? maukah ibu belajar mengungkapkan kemarahan
tanpa menimbulkan kerugia ?
Ada berapa cara untuk mengontrol kemarahan ibu, salah satunya
adalah dengan cara fisik 1 dan 2. Jadi melalui kegiatan fisik
disalurkan rasa marah marah
Ada berapa carah, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu ?
Begini ibu, kalau tanda tanda marah tadi sudah ibu rasakan maka
ibu boleh berdiri dan tarik dari hidung dan perlahan lahan keluarkan
lewat mulut seperti mengeluarkan kemarahan . Ayo ibu teknik ini
dilakukan secara berulangulang sampai marahnya hilang ya bu.
Ayomibu coballagi, tarik napas dari hidung, bagus,,, tahan ya
perlahn lahan keluarkan melalui mulut yaa,, bagus kali i u sudah
bisa melakukanya. Bagaimana Perasaanya ?
Nah sebaiknya latihan ini ibu seara rutin, sehingga kita sewaktu
waktu rasa marah itu muncul, ibu sudah terbiasa melakukanya.
3. Fase terminasi
1). Evaluasi subejektif
bagaimana perasaan ibu setelah berbincang bincang tentang
mengontrol kemarah ibu ?
2). Evaluasi objektif
coba sebutkan kembali siap nama saya ? dan apa penyebab dari
kemarah ibu. Apa tanda tanda dari ibu marah, apa yang terjadi
setelah ibu marah ? sebutkan cara cara mengotrol perilaku
kekerasan.
3). Rencana tidak lanjud
jika kemarahan itu, tolong ibu praktekan cara yang sudah saya
ajarkan, dan masukan dalam jadwal harian ibu
4. Kontrak yang akan datang
1). Topik : Baiklah ibu pertemuan kita tutup sampai disini, besok
saya datang lagi untuk memastikan apakah ibu sudah bisa
latihan mengoontrol marah denga cara fisik 1
2). Waktu : waktunya mau jam berapa ibu ? bagaimana kalau jam
09.00 yaa..
Apa ibu bersedia ?
3). Tempatya : Diruang perawatan ibu saja yaa..
Sampai nanti ya bu, assalamalaiku
DOKUMENTASI KEPERAWATAN
29

N
o
1

Hari/
tanggal/j
am
Selasa
29/03/201
6

Tindakan
keperawatan
1. BHSP
2. Mengidentifikasi
penyebab perilaku
kekerasan
3. Mengidentifikasi
tanda tanda
perilaku kekerasan
4. Menyeutkan jenis
jenis perilaku
kekerasan
5. Menyebutkan cara
cara mengontrol
perilaku kekerasan
6. Mengajarkan klien
latihan cara fisik 1
perilaku kekerasan
latihan nafas
dalam

Evaluasi
S : - Klien mengatakan
namanya nur vina biasa di
panggil vina
- klien mangatakan hanya
mau berbicara selama 10
menit
- klien mengatakan mudah
marah jika keinginanaya
tidak terpenuhi
- klien sering mengancam
ibunya jika tidak diberi
uang
- klien mengatakan hanya
rokok yang membuat
perasaanya nyaman
- klien mengatakan
setujununtuk melakuakan
cara mengontrol marah
dengan tarik napas dalam
- klien mengatakan mau
mengontrol marah setiap
jam 05.00 subuh ketika
bangun, jam 09.00 pagi
kemudian jam 13.00 siang
O : - Pembicaraan agak keras
- Kontak mata +
- Bicara sambil merokok
A : - Klien dapat mengontrol
marah dengan cara fisik
1 tarik napas dalam.
P : - Perawat : mengajarkan
mengontrol marah secara
fisik 2 memukul bantal
dan kasur
- Klien : memasukan
jadwal kegiatan harian
tarik napas dalam setiap
jam 05.00 dan 13.00
30

STRATEGI PELAKSANAAN (SP 2)


RESIKO PERLAKU KEKERASAN
Hari/Tanggal

: Rabu 30 Maret 2016

Pertemuan : Ke 3
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data subyektif :
- Klien mengatakan nurvina, senang dipanggil vina
- Klien mengatakan mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi
- Klien sering mengancam ingin membunuh ibunya jika tidak diberi
-

uang
Klien mengatakan hanya rokok yang membuat perasaanya nyaman
Klien mengatakan mau latihan mengontrol marah dengan cara
tarik nafas dalam

Data obyektif
-

Suara agak keras


Kontak mata tajam
Bicara sambil merokok

2. Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku kekerasan
3. Tujuan
Mengontrol marah dengan cara fisik 2 yaitu memukul bantal atau
kasur
4. Tindakan
1. Mengevaluasi kembali latihan mengontrol marah dengan cara fisik 1
latihan nafas dalam
2. Mengajarkan klien cara mengontrol marah dengan cara fisik 2 yaitu
memukul bantal/ kasur
B. Strategi Pelaksanaan
31

1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi ibu,,,sesuai dengan janji saya
kemarin saya akan datang lagi pagi ini
b. Evaluasi/validasi
Bagaimana paeasaan ibu hari ini? Adakah hal yang menyebabkan
ibu marah?
c. Kontrak
- Topik : Baiklah sekarang kita akan belajar mengontrol perasaan
-

marah dengan kegiatan fisik cara ke-2


Waktu : sesuai dengan janji kita akan berbincang-bincang sekitar

15 menit tepat jam 09.30 yaa bu...


Tempat : tempatnya di ruangan ini yaa ibu.. Sampai ketemu
nanti,,, Assalamualaikum

2. Fase Kerja
Kalau ada yang menyebabkan ibu marah dan muncul perasaan kesal,
berdebar-debar, mata melotot, selain nafas dalam ibu dapat melakukan
pukul bantal atau kasur
Sekarang mari kita latihan memukul bantal/kasur, mana tempat tidur
ibu? Jadi nti klu ibu kesal dan ingin marah, langsung ke tempat tidur
lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul bantal/kasur
Nah...cara inipun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan
marah kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya.
3. Fase terminasi
a. Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan ibu setelah latihan cara menyalurkan marah
tadi?
b. Evaluaa isi obyektif
ada berapa cara yang sudah kita latih? Coba ibu sebutkan lagi?
Bagus...
c. Rencana tindak lanjut
Nanti kita masukkan ke dalam jadwal kegiatan hari-hari ibu, pukul
kasur dan bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bagun
tidur? Baik, jadi jam 05.00 pagi yaa setiap ibu bangun sholat subuh
dan jam 13.00 setelah minum obat siang.
d. Kontrak yang akan datang

32

Topik : baiklah ibu pertemuan kita cukup sampai disini, besok saya
datang lagi untuk memastikan apakah ibu sudah melakukan latihan
mengontrol marah dengan cara fisik 2
Waktu : ibu maunya waktu prakteknya jam berapa ? bagaimana
kalau jam 00.09 wita. Apakah ib u bersedia ?
Tempat : tempatnya seperti biasa yaa diruangan perawatan ibu
sendiri. Sampai nanti ya bu, assalamlaikum

DOKUMENTASI KEPERAWATAN
Hari/
tgl/ jam
Rabu,
30/03/20
16

Tindakan
keperawatan
Mengevaluasi
kembali latihan
mengontrol
marah fisik 1 :
tarik nafas dalam
Mengajarkan cara
mengontrol
marah dengan
cara fisik 2 :
memukul kasur
dan bantal

Evaluasi
S : - Klien mengatakan marah
kepada temanya yang BAB dan
tidak menyiramnya
- Klien mengatakan marah
kepada teman temanya yang
malas
- Klein mengatakan hanya mau
bicara selama 15 menit
- Klien mengatakan minta
diajarkan cara mengontrol
marahdengan memukul bantal
dan kasur
- Klien mengatakan jika marah
akan lansung memukul bantal
dan kasur untuk melampiaskan
marahnya
O : - Pandangan tajam
- Klien tampak berteriak
- Klien mengungkapkan
keluhanya kepada perawat
- Klien menjawap pertanyaan
perawata dengan suara keras
A : Klien dapat mengontrol marah
dengan cara fisik 2 : memukul
bantal dan kasur
P : Perawat :- Mengajarkan cara
mengontrol marah
dengan cara verbal
33

Menganjurkan klien
amemasukan dalam
jadwal harian
Klien : Memasukan dalam
jadwal harian pukul
bantal dan kasur setiap
jam 009.00 s/d 13.00,
19.00
-

STRATEGI PELAKSANAAN 3
RESIKO PERILAKU KEKERASAN
Hari/Tanggal

: Kamis 31 Maret 2016

Pertemuan : ke 4
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data subyektif
- Klien mengatakan marah kepada temannya yang BAB karena tidak
menyiramnya
- Klien mengatakan marahi teman-temannya yang malas
- Klien minta diajarkan cara mengontrol marah dengn memukul
kasur/bantal
- Klien mengatakan nanti jika marah klien akan langsung memukul
kasur/bantal untuk melampiaskan marahnya.
- Pandangan tajam, klien Nampak berteriak, klien menggungkapkan
keluhannya pada perawat, klien menjawab pertanyaan dengan
benar
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku kekerasan
34

3. Tujuan
Mengontrol rasa marah dengan cara latihan verbal diantaranya :
- Meminta dengan baik
- Menolk dengan baik
- Mengungkapkan perasaan dengan baik
4. Tindakan
1. Mengevaluasi kembali jadwal harian cara mengontrol dua cara fisik
2. Mengontrol rasa marah dengan cara latihan secara verbal,
diantaranya:
- Meminta dengan baik
- Menolak dengan baik
- Mengungkapkan perasaan dengan baik
B. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orientasi
a. Salam terapeutik
assalamualaikum ibu vina,, sesuai dengan janji saya kemarin
sekarang kita ketemu lagi

b. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan ibu hari ini? Bagaimana ibu apakah sudah
melakukan latihan nafas dalam dan pukul kasur/bantal?? Apa
yang dirasakan setelah melakukn latihan secara teratur??
c. Kontrak
- Topik : bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara
-

untuk mencegah marah??


Tempat : dimana enaknya

Bagaimana klu ditempat yang sama??


Waktu : berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang?

kita

berbincang-bincang?

Bagaimana kalau 15 menit?


Sampai ketemu nanti yaa bu,,,
2. Fase Kerja
sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah,
kalau marah sudah disalurkan melalui tehnik nafas dalam atau pukul
kasur/bantal, dan sudah legah maka kita perlu bicara dengan orang
yang membuat kita marah. Ada 3 cara ibu.
1. Meminta dengan baik tanpa marah dengnn nada suar yang
rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar. Kemarin ibu
35

bilang penyebab marahnya karena tidak diberi uang oleh ibu saat
meminta. Coba minta dengan baik : Bu..saya perlu uang untuk
membeli rokok Nanti bisa dicoba disini untuk meminta baju,
minta obat dan lain-lain. Coba ibu praktekkan, bagus bu..
2. Menolak dengan baik, bila ada yang meminta dan ibu tdak ingin
melakukannya

karena

sedang

ada

kegiatan,.

Coba

ibu

praktekkan!!! Bagus
3. Mengungkapkkan perasaan kesa, jika diperlakukan orang lain
membuat kesal ibu dapat mengatakan : saja jadi ingn marah
karena perkataanmu itu. Coba praktekkan!!! Bagus.
3. Fase Terminasi
1. Evaluasi
a. Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang
cara mengontrol marah dengn bicara yang dekat??
b. Evaluasi obyektif
Coba ibu sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita
pelajari
Bagus sekalii, sekarang mari kita masukkan kedalam jadwal.
Berapa kali sehari ibu mau latihan bicara dengan baik?? Bisa kita
buat jadwalnya??
2. Rencana tindak lanjut
Nanti kita akan bicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah
ibu yaitu dengan cara ibadah, ibu setuju?? Mau dinama ibu? Disini
lagi? Baik sampai nanti yaa,,,,
3. Kontrak
-

Topik : baiklah ibu pertemuan kali ini cukup sampai disini.


Besok saya akan datang memastikan lagi apakah ibu sudah

bisa mengontol marah dengan cara fisik 1 dan 2


Waktu : ibu maunya praktekkan jam berapa? Bagaimana kalau

jam 09.00lagi yaa ibu,, apakah ibu bersedia??


Tempat : tempatnya seperti biasa tetap diruang perawatan ibu.
Sampai nanti yaaAssalamualaikum

36

DOKUMENTASI KEPERAWATAN
Hari/tgl/Ja
m
Jumat
01 April
2016
09.00

Tindakan

Evaluasi

keperawatan
Mengevaluasi

S : - Klien mengatakan sudah

jadwal

latihan memukul bantal

harian klien cara

dan kasur di kamar jam

mengontrol marah

05.00 subuh
- Klien mengatakan setiap

kembali

dengan

cara

fisik : tarik nafas


dalam

dan

memukul

kasur

dan bantal
Mengajarkan

cara

mengontrol marah
dengan
verbal :

sosial

jam 09.00 pagi dia akan


latihan
- Klien mengtakan meminta
sesuatu

tidak

perlu

marah marah tapi klien


harus

bicara

dengan

suara yang pelan dan


sopan
- Klien mengatakan jika ada
37

- Meminta

dengan

baik
- Menolak

dengan

klien

baik
- Mengungkapkan
perasaan

yang menyuruhnya dan

dengan

baik

tidak

harus

mau

menolaknya

dengan baik
- Klien mengatakan
kesal

klien

kepada

jikan

temanya

klien

harus

mengungkapkan
perasaanya dengan baik
O : - Klien kooperatif
- Klien terlihat tenang
A : Klien dapat mengontrol
marah dengan cara sisoal
verbal
P : Perawat : mengajarkan cara
mengontrol

marah

dengan cara spritual


mengucapkan
astagfirullahalazim,
berwudhu,

beribadah

atau shalat 5 waktu


Klien
:
memasukan
jadwal

harian

cara

mengontrol

marah

secara

verbal

sosial

kedalam catatan harian


STRATEGI PELAKSANAAN 4
RESIKO PERILAKU KEKERASAN
Hari/tanggal: Sabtu 02 April 2016
Pertemuan : Ke 6
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
Data subyektif :
- Klien mengatakan sudah latih memukul bantal di kamar jam
-

05.00 wita
Klien mengatakan setiap jam 09.00 wita pagi dia akan latihan
38

Klien mengatakan kalau dia meminta sesuatu tidak perlu marah-

marah tapi klien harus berbicara dengan suara pelan dan sopan
Klien mengatakan jika ada yang menyuruhnya klien harus

menolak dengan baik


Klien mengatakan jika

kesal

pada

temannya

klien

harus

mengungkapkan dengan baik


Data obyektif :
- Klien kooperatif
- Klien Nampak tenang
- Klien memasukan kedalam jadwal harian
2. Diagnose keperawatan : Resiko perilaku kekerasan
3. Tujuan :
a. Mengontrol marah dengan cara spiritual
1) Mengucapkan istigfar (astagfirullah)
2) Berwuduh
3) Berdoa sesuai keyakinan masing-masing (shalat)
4. Tindakan
a. Mengevaluasi kembali jadwal harian klien dengan

cara

mengontrol marah dengan cara 2 fisik dan secara social/verbal


b. Mengontrol marah denagn cara spiritual
1) Mengucapkan istigfar
2) Mengambil wuduh
3) Berdoa sesuai keyakinan masing-masing dan shalat 5 waktu
B. Stategi pelaksanaan
1. Fase orientasi
a) Salam terapeutik
assalamu allaikum selamat pagi ibu, sesuai dengan janji saya
kemarin saya dating lagi
b) Evaluasi/validasi
bagaimana perasaan ibu hari ini? Latihan apa yang sudah
dilakukan ? apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara
teratur ? bagus sekali, bagaimana rasa marahnya?
c) Kontrak
1) Topic
bagaimana kalau hari ini kita latihan cara lain untuk mencegah
marah yaitu dengan cara spiritual yaitu berdoa dan shalat
2) Waktu
berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau 20 menit ?
3) Tempat

39

dimana enaknya kita berbincang-bincang ? bagaimana kalau di


tempat tidur ibu ?
2. Fase kerja
Coba ceritakan kegiatan ibadah yang bisa ibu lakukan ? Bagus. Baik
mana yang mau ibu coba ?
Nah, kalau ibu sedang marah cobah ibu langsung duduk dan tarik
nafas dalam jika tidak redah juga marahnya rebahkan badan agar
rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wuduh dan shalat.
Coba ibu sebutkan sahalt 5 waktu ? bagus mau coba yang mana ?
coba swbutkan caranya (untuk umat muslim), iya bagus,,,
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
1. Evaluasi subyektif : bagaimana ibu perasaannya setelah kita
bercakap-cakap tentang cara yang ke empat ini ?
2. Evaluasi obyektif : coba ibu sebutkan lagi cara ibadah yang
dapat ibu lakukan bila ibu merasa marah ?
b. Rencana tindak lanjut
Setelah ini coba lakukan jadwal shalat sesuai jadwal yang telah
kita buat tadi
Besok kita ketemu lagi yaa ibu, nanti kita bicarakan yang ketika
mengontrol rasa marah yaitu dengan patuh minum obat.
4. Kontrak
a. Topik
Baiklah ibu sampai disini pertemuan kita hari ini. Besok kita akan
membicarakan

cara

penggunaan

obat

yang

benar

untuk

mengontrol rasa marah ibu, setuju ibu? Iya bagus


b. Waktu
Waktunya ibu mau berapa lama ? bagaimana kalau 20 menit lagi
yaa
c. Tempat
Tempat seperti biasa disini saja yaa bu.

40

DOKUMENTASI KEPERAWATAN
Hari/Tangg

Tindakan
Evaluasi
al
keperawatan
Jam
Sabtu,
02- 1. mengevalusi kembali S : - klien mengatakan sudah
04-2016

jadwal harian klien


2.Melatih
mengontrol
perilaku

latihan

menyampaikan

sesuatu yang baik pada

kekerasan

temanya
- Klien

dengan cara spritual

mengatakan

sudah latihan fisik 1


dan
O:
A:

secara

sosial

verbal jam 09.00 pagi


Klien mengatakan suah

shalat magrib kemarin


- Klien kooperatif
- Klien terlihat tenang
- Kontak mata baik
Mengontrol
perilaku

kekerasan

dengan

cara

spritual tercapai
P: Perawat : lanjutkan cara
mengontrol

marah

dengan

minum

obat

cara

dengan

cara

5
41

benar
Klien:Memasukkan latihan
mengontrol

marah

secara spritual kedalam


jadwal harian

STRATEGI PELAKSANAAN 5
RESIKO PERILAKU KEKERASAN
Hari/tanggal: Senin 04 April 2016
Pertemuan : Ke 7
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
Data subyektif :
- Klien mengatakan sudah menyiapkan sesuatau yang baik pada
-

temannya
Klien mengatakan sudah latihan fisik 1 dan 2, secara social verbal

jam 09.00 wita


Klien mengatakan kemarin klien shalat magrib

Data obyektif :
- Klien kooperatif
- Kontak mata baik
- Klien selalu melihat catatan jadwal hariannya
2. Diagnosa keperawatan : Resiko perilaku kekerasan
3. Tujuan :
a. Melatih klien mengontrol perilaku kekersan dengan cara minum
obat dengan prinsip 5 benar obat
b. Menganjurkan klien memasukan kedalam jadwal kegiatan harian
B. Stategi pelaksanaan
42

1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik
Assalamu allaikum selamat pagi ibu, sesuai dengan janji saya
kemarin hari ini kita bertemu lagi
b. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan ibu, sudah dilakukan latihan tarik nafas
dalam,pukul kasur bantal, bicara yang baik serta shalat ? bagus
seklai ib.. apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara
teratur ? coba kita lihat kegiatannya
c. Kontrak
1. Topik
Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan

latihan tentang

cara minum obat yang benar untuk mengontrol rasa marah?


2. Waktu
Berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau 15 menit ?
4) Tempat
Dimana enaknya kita berbincang-bincang ? bagaimana kalau di
tempat tidur ibu ?
2. Fase kerja
Ibu sudah dapat obat dari dokter ?
Berapa macam obat yang ibu minum? Warnanya apa-apa saja ?
bagus,,,
Jam berapa ibu minum obat? Bagus
Obatnya ada tiga macam ibu, yaitu warna orange namanya cpz
gunanya agar pikiran tenang, yang putih namanya THP agar rileks,
dan yang merah jambu namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa
marah berkurang. Semuanya ini harus ibu minum 3x sehari yaitu jam
7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam
3. Fase terminasi
a. Evaluasi
1) Evaluasi subyektif : bagaimana

perasaannya

ibu

setelah

bercakap-cakap tentang cara minum obat yang benar ?


2) Evaluasi obyektif : coba ibu sebutkan lagi jenis obat yang ibu
minum ? bagaiman cara minum obat yang benar?
b. Rencana tindak lanjut
Baik ibu, hari senin kita ketemu lagi untuk melihat sejauh mana
ibu melaksanakan kegiatan dan sejauh mana dapat mencegah rasa
marah.
c. Kontrak
43

1) Topik
Baiklah ibu sampai disini pertemuan kita hari ini. Hari senin kita
latihan lagi mengontrol marah dari awal yaa, kita mengevaluasi
kembalu semua materi yang ibu pelajari.
2) Waktu
Waktunya ibu mau berapa lama ? bagaimana kalau 20 menit lagi
yaa
3) Tempat
Tempat seperti biasa disini saja yaa bu.

CATATAN PERKEMBANGAN

N
o
1.

Hari/tangga
l/
jam
Senin
04/04/2016
10.00 pagi

Implementasi

Evaluasi

1. Mengevaluasi
jadwal

kegiatan

harian klien
2. Melatih

klien

mengontrol perilaku
kekerasan
cara

mengatakan

lupa

nama obat
klien mengatakan

lupa

fungsi obatnya
klien
mengatakan

dengan

minum

dengan

S:
- klien

obat

prinsip

seharian dia tidur.


O:
-

benar obat yaitu


- benar
nama
-

pasien
benar nama obat
benar
cara

minum obat
benar
waktu

kembali

mengenai

fungsi nama obatnya


A : melatih klien mengontrol
perilaku

minum obat
- benar dosis obat
3. menganjurkan klien

dengan
obat

kekerasan
cara

minum

dengan

prinsip

lima benar obat , di

memasukan
kedalam

kontak mata baik


klien kooperatif
klien bersedia belajar

ulang kembali beasok

jadwal
P

P:

mengulang

kembali
44

kegiatan

harian

klien

melatih

klien

mengontrol

perilaku

kekerasan

dengan

cara

minum

denagn

obat

prinsip

benar obat.
K: motivasi klien untuk
belajar

perilaku

kekerasan

dengan

cara
dengan

minum

obat

prinsip

benar akan di ulang


besok hari.

BAB III
PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
Perilaku kekerasan atau tindak kekerasan merupakan ungkapan
perasaan marah dan bermusuhan sebagai respon terhadap
kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang mengakibatkan
hilangnya kontrol diri dimana individu bisa berperilaku menyerang
atau melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan diri
sendiri, orang lain dan lingkungan
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas saran yang dapat kami buat yaitu
untuk lebih memperdalam lagi tentang asuhan keperawatan dengan
resiko perilaku kekerasan dan perilaku kekerasan karena dalam
makalah kami tentunya masih banyak kekurangannya.

45

DAFTAR PUSTAKA

Direja, A. H. (2011). Buku ajar keperawatan jiwa. Yogyakarta: Nuha


medika.
Keliat, B. A. (2012). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas. jakarta: EGC.
Keliat, B. A. (2012). Model praktik keperawatan profesional jiwa. jakarta:
EGC.
Wati, F. K. (2010). Buku ajar keperawatan jiwa. jakarta: Salemba Medika.
Yosep, I. (2011). Keperawatan Jiwa. jakarta: revita aditama.

46