Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Egi Patria

NPM

: 230110150148

Kelas

: Perikanan B

Kelompok : 22

1.1.

Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut

dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter


penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk
konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air.
Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang
bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah
tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu
menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air
untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air.
Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping paramter lain
sepertiBOD dan COD.
Di dalam air, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan komponenkomponen kimia menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki
kemampuan untuk beroksida dengan zat pencemar seperti komponen organik
sehingga zat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga diperlukan oleh
mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam proses metabolisme.
Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat dalam menguraikan
kandungan dalam air. Jika reaksi penguraian komponen kimia dalam air terus berlaku,
maka kadar oksigen pun akan menurun. Pada klimaksnya, oksigen yang tersedia tidak

cukup untuk menguraikan komponen kimia tersebut. Keadaan yang demikian


merupakan pencemaran berat pada air.

1.2.

Konsumsi Oksigen pada ikan mas


Bernafas adalah pengambilan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.

Pertukaran gas oksigen dan karbondioksida dapat berlangsung melalui proses difusi.
Oksigen merupakan unsur penting bagi kelangsungan hidup organisme. Oksigen
dibutuhkan untuk proses oksidasi bahan-bahan makanan dalam tubuh hewan agar
dihasilkan energi untuk aktivitas hidupnya. Energi berupa ATP yang prosesnya
disebut metabolisme aerobik. Pengambilan oksigen untuk metabolisme dan
pengeluaan CO2 sebagai sampah metabolic dilakukan dengan mekanisme yang
menggunakan system respiratori (Kimball,1992).
Konsumsi oksigen pada setiap jenis ikan berbeda-beda. konsumsi oksigen
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, ukuran tubuh, aktivitas yang
dilakukannya. (Djuhanda,1981). Konsumsi oksigen pada tiap organisme berbedabeda tergantung pada aktivitas, jenis kelamin, ukuran tubuh, temperatur dan hormon.
(Hurkat dan Marthur, 1976).Faktor lain yang menyebabkan perbedaan konsumsi
oksigen terlarut adalah nutrisi dan usia. Semakin besar bobot ikan maka semakin
banyak pula konsumsi oksigennya., begitu juga sebaliknya. Semakin banyak
konsumsi oksigen semakin besar laju metabolismenya.( Gordon ,1972)
konsumsi O2 dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Intensitas dari metabolisme oksidatif dalam sel.
2. Kecepatan pertukaran yang mengontrol perpindahan air disekitar insang yang
berdifusi melewatinya.

3. Faktor internal yaitu kecepatan sirkulasi darah dan volume darah yang dibawa
menuju insang.
4. Afinitas oksigen dari haemoglobin. (lagler, 1977)
semakin tinggi temperatur maka semakin sedikit O 2terlarut dan bertambah
besar konsumsi oksigen. Pengaruh temperatur ini terjadi karena kenaikan temperatur
akan menaikkan metabolisme. Pada umumnya hewan poikiloterm metabolisme
dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan, pada suhu rendah metabolisme turun
dan metabolisme akan meningkat pada suhu lingkungan yang meningkat.
(singh,1997)
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh
tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan
respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan
yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005).
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya
oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan
karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang
diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan
tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi
oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain
temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas (Tobin, 2005).
Laju konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer
Scholander. Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang akan
diukur laju konsumsi oksigennya.

Mikrorespirometer dipakai untuk mengukur konsumsi oksigen hewan yang


berukuran kecil seperti serangga atau laba-laba. Alat ini terdiri atas syringe, kran 3
arah, tabung spesimen, dan tabung kapiler berskala.
Metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya oksigen
yang terlarut di dalam air (Anonim, wikipedia.org). Dalam metode ini, kadar Oksigen
dalam air ditentukan dengan cara titrasi. Titrasi merupakan penambahan suatu larutan
yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan lain yang tidak
diketahui konsentrasinya secara bertahap sampai terjadi kesetimbangan (Chang,
1996).
Oksigen diperlukan oleh semua organisme karena berfungsi sebagai akseptor
hydrogen dan akseptor electron terakhir pada pernafasan sel. Tanpa oksigen produksi
energi pada organisme yang aerob akan berhenti.
Karbondioksida merupakan salah satu sampah metabolisme terbesar yang
berasal dari oksidasi hidrat arang, protein dan lemak. Gas yang bersifat asam ini harus
dibuang dari dalam tubuh organisme. Hewan bernafas dengan mengambil O2 darri
lingkungan dan hasil CO2 dilepas ke lingkungan. (Djamhur winatasasmita, 1985)
Pada hewan berukuran besar terdapat alat pernapasan yang sesuai dengan
lingkungannya. Alat pernapasan adalah alat atau bagian tubuh temapt O2 dapat
berdifusi masuk dfan sebaliknya, CO2 dapat berdifusi keluar. Alat respirasio pada
hewan bervariasi antara hewan yang satu dengan hewan yang lainnya., ada yang
berupa paru-paru, insang, kulit, trakea dan paru-paru buku. Beberapa organisme yang
belum mempunyai alat khusus, sehingga oksigen berdifusi langsung dari lingkungan
kedalam tubuh.