Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Standarisasi merupakan spesifikasi yang disepakati bersama oleh semua
pihak terkait dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keamanan serta
keselamatan. Tujuan dari standarisasi yaitu untuk menjaga konsistensi produk,
memberikan

perlindungan

kepada

konsumen,

menciptakan

persaingan

perdagangan. Standarisasi bisa terdapat pada bahan mentah ataupun suatu produk
olahan, seperti standarisasi pada daging ayam, daging sapi, telur maupun susu.
Telur merupakan salah satu produksi ayam sebagai pangan yang kaya akan
kandungan protein, lemak, mineral dan vitamin yang baik bagi tubuh. Kandungan
telur yang kaya akan protein yang membuat telur mudah rusak saat pengolahan
ataupun setelah pengolahan, hal inilah standarisasi untuk telur sangat penting
setelah pengolahan ataupun standarisasi sebelum pengolahan. Standarisasi
sebelum pengolahan penting untuk meningkatkan palatabilitas masyarakat pada
telur itu sendiri, sehingga dapat bersaing dipasar-pasar. Selain telur adapula
daging ayam sebagai salah satu produksi ayam.
Daging ayam merupakan pangan hewani yang kaya zat zat gizi terutama
protein, vitamin dan mineral yang bermanfaat untuk pertumbuhan, perkembangan
dan kesehatan serta merupakan salah satu bahan konsumsi masyarakat yang cukup
tinggi permintaanya. Penanganan daging ayam perlu dilakukan dengan cepat agar
tidak cepat rusak atau membusuk, hal paling penting penangan yaitu pada ayam
hidup, pengkarkasan, pascapanen dan pendistribusian. Sehingga hal ini dapat
menjamin daging ayam yang aman dan sehat. Daging yang dikonsumsi oleh

masyarakat bukan hanya daging ayam saja melainkan daging sapi juga banyak
diminati oleh masyarakat sekarang.
Daging sapi merupakan komoditi hasil peternakan yang penting sebagai
bahan pangan bagi manusia. Kebutuhan daging sapi semakin meningkat karena
semakin meningkatnya peternakan sapi potong di indonesia. Penanganan di
industri yaitu dimulai dari pemotongan atau penyembelihan sampai ke produk
yang siap untuk dipasarkan. Penanganan pasca panen yang baik dapat
memberikan jaminan mutu daging yang dihasilkan, penanganan dilakukan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Selain dari telur, daging ayam dan daging
sapi adapula susu yang merupakan sumber gizi yang banyak diminati oleh
masyarakat.
Susu dan produk olahan susu merupakan pangan yang tinggi kandungan
gizinya yang ditinjau dari kandungan protein, lemak, mineral dan beberapa
vitamin. Susu dan produk susu olahannya juga merupakan salah satu media yang
baik sebagai pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya bagi keseahatan
manusia. Oleh sebab itu standarisasi pada susu sangat penting untuk menjaga
keamanan dari suatu produk agar aman dan sehat untuk dikonsumsi. Hal inilah
yang melatarbelakangi dilakukannya praktikum mengenai standarisasi mutu pada
daging ayam, telur, daging sapi, susu dan produk olahannya.

Tujuan dan Kegunaan


Tujuan dilakukannya praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan
mengenai Standarisai karkas ayam pedaging, telur, daging sapi, susu dan produk
pengolahannya yaitu untuk mengindentifikasi syarat mutu antara karkas keras dan
beku, mengidentifikasi syarat mutu daging, mutu produk minuman susu
fermentasi berperisa, mengidentifikasi daging dan telur berdasarkan tingkatan
mutu serta mengaplikasikan atau menjadi acuan standarisasi mutu karkas ayam
pedaging, telur, daging sapi, susu dan produk olahan susu.
Kegunaan dilakukannya praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan
mengenai Standarisai karkas ayam pedaging, telur, daging sapi, susu dan produk
pengolahannya yaitu agar mahasiswa dapat mengindentifikasi syarat mutu antara
karkas keras dan beku, mengidentifikasi syarat mutu daging, mutu produk
minuman susu fermentasi berperisa, mengidentifikasi daging dan telur
berdasarkan tingkatan mutu serta mengaplikasikan atau menjadi acuan
standarisasi mutu karkas ayam pedaging, telur, daging sapi, susu dan produk
olahan susu.

METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai Standarisasi
Mutu Karkas Ayam Pedaging, Standarisasi Mutu Telur, Standarisasi Mutu Daging
Sapi, dan Standarisasi Mutu Susu dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22
oktober 2016 di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan,
Universitas Hasanuddin, Makassar.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum Pengawasan Mutu Industri
Peternakan mengenai Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging, Telur, Daging
Sapi, Susu dan produk olahan susu yaitu jangka sorong, talangan, mistar, wadah
tempat telur, dan sendok
Bahan yang digunakan pada praktikum Pengawasan Mutu Industri
Peternakan mengenai Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging, , Telur, Daging
Sapi, Susu dan produk olahan susu yaitu karkas ayam pedaging, telur ayam ras,
telur ayam buras, daging sapi, dan susu fermentasi.
Prosedur Kerja
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging
Mengamati preparat karkas ayam secara saksama. Mencocokkan hasil
pengamatan dengan dasar teori berdasarkan SNI. Memberikan penilaian
berdasarkan tingkatannya. Mengisi lembar penilaian dilanjutkan dengan uji skala/
organ oleptik. Menyimpulkan hasil yang diperoleh.

Standarisasi Mutu Telur Konsumsi


Mengamati preparat pada setiap jenis telur secara seksama, mencocokan
dengan hasil pengamatan dengan dasar teori berdasarkan SNI, memberikan
penilaian berdasarkan tingkatannya, mengisi lembar penilaian dilanjutkan dengan
uji skala/organoleptik dan menyimpulkan hasil yang diperoleh.
Standarisasi Mutu Daging Sapi
Mengamati preparat daging secara seksama, mencocokkan dengan hasil
pengamatan dengan dasar teori berdasarkan SNI, kemudian memberikan penilaian
berdasarkan tingkatannya, mengisi lembar penilaian dilanjutkan dengan uji
skala/organoleptik, dan menyimpulkan hasil yang diperoleh.
Standarisasi Mutu Susu dan Produk Olahan Susu
Melakukan pengujian secar organoleptik dengan indera, mencocokkan
hasil pengamatan dengan dasar teori berdasarkan SNI, memberikan penilaian
dengan terlebih dahulu membuat uji scoring, kemudian mengisi lembar penilaian
berdasarkan penilaian uji scoring dan menyimpulkan hasil yang diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Standarisasi Mutu Susu dan Produk Olahan Susu
Berdasarkan praktikum pengawasan mutu industri peternakan di dapatkan
persyaratan tingkat mutu minuman susu fermentasi berperisa dilihat pada tabel 1
yaitu sebagai berikut:

No
.
A.
B.
C.
D.

Tabel 1. Persyaratan Tingkat Mutu Minuman Susu Fermentasi Berperisa


Persyaratan
Tanpa Perlakuan Dengan Perlakuan
Kriteria Uji
Panas Setelah
Panas Setelah
Fermentasi
Fermentasi
Keadaan:
Penampakan
Cair
Cair
Bau
Normal/khas
Normal/khas
Rasa
Asam/Khas
Asam/Khas
Homogenitas
Homogenitas
Homogenitas
Sumber : Data Hasil Praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan, 2016.

Berdasarkan hasil praktikum, keadaan penampakan pada susu yang


diamati adalah cair. Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad (2002) dalam
Munthe (2013) yang menyatakan bahwa susu adalah cairan dari kelenjar susu
yang diperoleh dengan cara pemerahan sapi selama masa laktasi tanpa adanya
penambahan atau pengurangan komponen apapun pada cairan tersebut. Secara
kimiawi susu tersusun atas dua komponen utama, yaitu air yang berjumlah sekitar
87% dan bahan padat yang berjumlah sekitar 13%. Di dalam bahan padat susu
terdapat berbagai senyawa kimia, baik yang tergolong senyawa zat gizi makro
(makronutrien) seperti lemak, protein dan karbohidrat, maupun senyawa zat gizi
miro (mikro nutrien) seperti vitamin dan mineral serta beberapa senyawa lainnya.

Berdasarkan hasil praktikum, keadaan bau dan rasa pada susu yang
diamati adalah berbau normal atau khas susu dan berasa asam atau khas. Citarasa
susu dipengaruhi oleh kadar lemak, protein, dan mineral yang terdapat pada susu.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sumudhita (1989) dalam Diastari dan Kadek
(2013) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi bau dan rasa susu
adalah pemberian pakan, macam bahan pakan yang diberikan, persiapan sapi yang
akan diperah. Pada akhir masa laktasi, kadar protein dan mineral sangat tinggi,
sehingga rasa susu yang dihasilkan sedikit asin. Susu murni mempunyai rasa
sedikit manis ini disebabkan oleh laktosa dan kadar Cl yang rendah. Jika terjadi
penyimpangan terhadap bau susu maka dapat terjadi perubahan.
Berdasarkan hasil praktikum, keadaan homogenitas pada susu yang
diamati yaitu homogen. Tujuan dilakukannya proses homogenisasi pada susu
adalah untuk meperkecil butiran lemak agar susu bisa lebih bersatu. Hal ini sesuai
dengan pendapat Koswara (2009) yang menyatakan bahwa tujuan utama proses
homogenisasi pada pengolahan susu adalah untuk memecahkan butiran-butiran
lemak yang sebelumnya berukuran 5 mikron menjadi 2 mikron atau kurang.
Dengan cara ini susu dapat disimpan selama 48 jam tanpa terjadi pemisahan krim
pada susu.

Standarisasi Mutu Karkas Daging Sapi


Berdasarkan praktikum pengawasan mutu industri peternakan di dapatkan
persyaratan tingkat mutu daging sapi dilihat pada tabel 2 yaitu sebagai berikut:
Tabel 2. Persyaratan Tingkat Mutu Daging
No
.
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Uji
Warna Daging
Warna Lemak
Marbling
Tekstur
Ketebalan Lemak

Tingkat Mutu
II
6
6
6

III

5 mm

Sumber : Data Hasil Praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan, 2016.

Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai


standarisasi mutu daging sapi diperoleh hasil yaitu daging sapi memiliki skor
warna daging tingkat II (merah kegelapan) yaitu 6. Hal ini sesuai dengan pendapat
Saragih (2011) yang menyatakan bahwa daging segar jika dipotong mula-mula
berwarna ungu tapi lama kelamaan permukaan daging berubah berwarna merah
dan akhirnya menjadi coklat. Terbentuknya warna coklat ini sering digunakan
sebagai petunjuk menurunnya Sifat fisiologi daging.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
standarisasi mutu daging sapi diperoleh hasil yaitu daging sapi memiliki skor
warna lemak tingkat II (putih kekuningan) yaitu 6, skor ini menandakan kualitas
daging tidak terlalu bagus. Hal ini sesuai dengan pendapat Lupoyo (2014) yang
menyatakan bahwa menurut SNI 3932:2008 Mutu Karkas dan Daging Sapi,

kondisi fisik daging sapi yang termasuk kategori baik yaitu memiliki warna
daging merah terang, warna lemak putih dan intensitas marbling banyak.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
standarisasi mutu daging sapi diperoleh hasil yaitu daging sapi memiliki skor
marbling tingkat II yaitu 6, lemak marbling ini juga turut mempengaruhi warna
daging. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeparno (2005) dalam Lupoyo (2014)
yang menyatakan bahwa menurut lemak marbling atau biasanya disebut lemak
intramuskuler terdapat di dalam jaringan ikat perimiseal diantara fasikuli atau
ikatan serabut otot. Lemak marbling termasuk faktor yang ikut menentukan
kualitas karkas dan mempengaruhi warna daging (hue) menjadi lebih terang,
tetapi tidak mempengaruhi myoglobin.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
standarisasi mutu daging sapi diperoleh hasil yaitu daging sapi memiliki skor
tekstur tingkat I yaitu halus, Tekstur daging kemungkinan besar merupakan
penentu yang paling penting pada kualitas daging Hal ini sesuai dengan pendapat
Soeparno (2005) dalam Merthayasa, dkk. (2015) yang menyatakan bahwa faktor
yang mempengaruhi tekstur daging digolongkan menjadi faktor antemortem
seperti genetik dan termasuk bangsa, spesies dan fisiologi, faktor umur,
managemen, jenis kelamin dan stress. Faktor postmortem antara lain meliputi
metode pelayuan (chilling), refrigerasi dan pembekuan termasuk faktor lama dan
temperatur penyimpanan serta metode pengolahan termasuk metode pemasakan
dan penambahan bahan pengempuk. Jadi tekstur bisa bervariasi diantaranya

spesies, bangsa, ternak dalam spesies yang sama, potongan karkas dan diantara
otot serta otot yang sama.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
standarisasi mutu daging sapi diperoleh hasil yaitu daging sapi memiliki ketebalan
lemak tingkat II (5-7 mm) yaitu 5 mm. Ketebalan lemak dari sapi tergantung pada
bangsa (breed) dari sapi itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soeparno
(2005) dalam Yosita, dkk. (2012) bahwa perbedaan breed sapi mempunyai
dampak pada besarnya proporsi lemak dibandingkan proporsi daging dan tulang.
Bila proporsi salah satu komponen karkas tinggi maka proporsi komponen lainnya
akan lebih rendah. Secara genetik, Bos Taurus menghasilkan proporsi lemak yang
lebih banyak pada daerah subkutan, sedikit lemak intermuskuler dan lemak
internal dibandingkan Bos Indicus.
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging
Berdasarkan praktikum pengawasan mutu industri peternakan di dapatkan
persyaratan tingkat mutu daging ayam dilihat pada tabel 3 yaitu sebagai berikut:
No
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tabel 3. Persyaratan Tingkat Mutu Karkas Ayam Pedaging


Tingkat Mutu
Faktor
I
II
Konfirmasi

Perdagingan

Perlemakan

Keutuhan

Perubahan Warna

Kebersihan

III

Sumber : Data Hasil Praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan, 2016.

Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai


Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging diperoleh hasil yaitu karkas ayam

pedaging segar memiliki konformasi tingat I yaitu sempurna. Konformasi


merupakan ada tidaknya kelainan bentuk karkas dari tulang terutama pada bagian
dada dan paha. Hal ini sesuai dengan pendapat Shai (2002) dalam Matulessy, dkk.
(2010) yang menyatakan bahwa konformasi karkas adalah keseimbangan dari
perkembangan bagian-bagian karkas, atau perbandingan antara daging dengan
tulang, jadi merupakan suatu ukuran untuk menilai kualitas daging secara
langsung. Jumlah daging yang dihasilkan sangat ditentukan oleh derajat
kegemukan dan jumlah daging pada paha dan dada.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging diperoleh hasil yaitu karkas ayam
pedaging segar memiliki perdagingan pada tingkat II yaitu ketebalan dagingnya
sedang. Ketebalan daging di ukur pada dada, paha, dan punggung. Ketebalan
daging tentunya sangat dipengaruhi oleh berat ayam broiler. Hal ini sesuai dengan
pendapat Muharlien (1995) dalam Matulessy, dkk. (2010) yang menyatakan
bahwa nilai karkas dipengaruhi oleh berat karkas dan jumlah daging yang
dihasilkan, jumlah daging yang dihasilkan sangat ditentukan oleh derajat
kegemukan dan jumlah daging pada paha dan dada.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging diperoleh hasil yaitu karkas ayam
pedaging segar memiliki perlemakan pada tingkatan I yaitu cukup, perlemakan
dinilai dengan melihat penyebaran dan jumlah lemak di pangkal leher (pectoral)
dan rongga perut (abdominal). Perlemakan pada daging juga berpengaruh
terhadap harga jual. Hal ini sesuai dengan pendapat Alan (2001) dalam Matulessy,

dkk. (2010) yang menyatakan bahwa pada saat penjualan karkas yang diamati
besar/gemuk, dapat juga disebabkan tebal dan penyebaran lemak yang merata
pada daerah di bawah kulit dan punggung yang juga mempengaruhi berat karkas.
Tebal lemak punggung atau subcutan sangat mempengaruhi bobot dan kualitas
karkas.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging diperoleh hasil yaitu karkas ayam
pedaging segar memiliki keutuhan pada tingkatan II yaitu tulang sempurna, kulit
boleh sobek sedikit tetapi tidak pada bagian dada, hal ini dapat disebabkan karena
letak pelabuhan karantina karkas penjual dari tempat penjualan, sehingga
memungkinkan kerusakan pemuatan akibat penumpukan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Maaniaan (2009) dalam Matulessy, dkk. (2010) yang menyatakan bahwa
penanganan daging dan daging unggas beku dalam pengemas plastik hampa udara
secara kasar seperti dijatuhkan, dilempar, ditumpuk dan ditekan dapat
menyebabkan kerusakan fisik pengemas plastik tersebut sehingga mempengaruhi
penampilan daging yang kurang bagus dan umur penyimpanan yang relatif
pendek.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging diperoleh hasil yaitu karkas ayam
pedaging segar memiliki perubahan warna pada tingkat II yaitu boleh ada memar
sedikit tetapi tidak pada bagian dada dan tidak frozen burn, perubahan warna pada
daging dapat di minimalkan dengan menggunkan pembungkus pada saat
penyimpanan beku. Hal ini sesuai dengan pendapat Matulessy, dkk. (2010) yang

menyatakan bahwa perubahan warna daging dan daging unggas beku yang terjadi
dalam ruang penyimpanan beku, seperti warna keputihputihan memudar dan
coklat kekuningan, dapat diminimalkan dengan menggunakan pembungkus
freezer-type dan dengan mengeluarkan udara saat pengemasan.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Karkas Ayam Pedaging diperoleh hasil yaitu karkas ayam
pedaging segar memiliki kebersihan pada tingkat II yaitu boleh ada bulu jarum
sedikit yang menyebar tetapi tidak ada pada bagian dada. Hal ini sesuai dengan
pendapat Shai (2002) dalam Matulessy, dkk. (2010) yang menyatakan bahwa
menyatakan bahwa karkas atau bagian karkas akan memiliki penampilan bersih
terutama pada dada dan kaki harus bebas dari bulu.
Standarisai Mutu Telur Konsumsi
Berdasarkan praktikum pengawasan mutu industri peternakan di dapatkan
persyaratan tingkat mutu telur konsumsi dilihat pada tabel 4 yaitu sebagai berikut:

No

Tabel 4. Standarisasi Mutu Telur Konsumsi


Tingkat Mutu
I
II
Faktor
Telur
Telur
Telur Telur
Ayam Ayam Ayam Ayam
Ras
Buras
Ras
Buras

Kerabang

1. Keutuhan

2. Bentuk

3. Kelincinan

4. Kebersihan

Kantung Udara

1. Kedalaman
2. Kebebasan

bergerak

III
Telur
Ayam
Ras

Telur
Ayam
Buras

Keadaan Putih Telur


1. Kebersihan
2. Kekentalan
Keadaan Kuning
Telur
1. Bentuk
2. Posisi
3. Banyaknya batasBatas
4. Kebersihan
Bau

Sumber : Data Hasil Praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan, 2016.

Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai


Standarisasi Mutu Telur diperoleh hasil yaitu telur ayam ras, baik dari segi
kerabang, kantung udara, keadaan albumen, dan keadaan yolk berada pada
tingkatan mutu I dan berbau khas, sedangkan telur ayam buras memiliki hasil
penilaian tingkatan mutu yang beragam. Untuk kerabang dan kantung udara,
berada pada tingkatan mutu I, sedangkan untuk keadaan albumen pada tingkat II
dan keadaan yolk pada tingkat III serta berbau khas. Kualitas telur tentunya jug
sangat dipengaruhi oleh bangsa (rasa yam). Hal ini sesuai dengan pendapat North
dan Bell (1990) dalam Matulessy, dkk. (2010) yang menyatakan bahwa Kualitas
telur adalah istilah umum yang mengacu pada beberapa standar yang menentukan
baik kualitas internal maupun eksternal. Kualitas eksternal difokuskan pada
kebersihan kulit, tekstur, bentuk, warna kulit dan keutuhan telur.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Telur diperoleh hasil yaitu telur ayam ras, dari segi kerabang
berada pada tingkatan mutu I. Telur ayam buras untuk penilaian kerabang juga
berada pada tingkatan mutu I. Kerabang merupakan penilaian eksternal untuk

kualitas telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Prasetya, dkk. (2014) yang
menyatakan bahwa kualitas telur adalah istilah umum yang mengacu pada
beberapa standar yang menentukan baik kualitas internal maupun eksternal.
Kualitas eksternal difokuskan pada kebersihan kulit, tekstur, bentuk, warna kulit
dan keutuhan telur.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Telur diperoleh hasil yaitu telur ayam ras, dari segi kantung
udara, berada pada tingkatan mutu I sedangkan telur ayam buras juga berada pada
tingkatan mutu I. Mutu atau kualitas telur dipengaruhi juga oleh adanya
kantong telur yang terdapat pada bagian tumpul pada ujung telur. Hal ini sesuai
dengan pendapat Gary, dkk. (2009) dalam Tugiyanti dan N.Iriyanti (2012) yang
menyatak bahwa semakin lama penyimpanan semakin besar ukuran kantong
telur, karena penguapan air akan menyebabkan penempelan membran luar
pada kerabang, dan membran dalam menempel pada albumen.
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
Standarisasi Mutu Telur diperoleh hasil yaitu telur ayam ras, dari segi keadaan
albumen berada pada tingkatan mutu I, sedangkan telur ayam buras memiliki hasil
penilaian tingkatan mutu untuk keadaan albumen pada tingkat II. Ini
menunjukkan telur ayam ras merupakan telur ayam ras segar. Hal ini sesuai
dengan pendapat Hiroko (2014) yang menyatakan bahwa telur ayam ras segar
adalah telur yang tidak mengalami proses pendinginan dan tidak mengalami
penanganan pengawetan serta tidak menunjukan tanda-tanda pertumbuhan embrio
yang jelas, yolk belum tercampur dengan albumen, utuh, dan bersih.

Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai


Standarisasi Mutu Telur diperoleh hasil yaitu telur ayam ras, dari segi keadaan
yolk berada pada tingkatan mutu I, sedangkan telur ayam buras memiliki hasil
penilaian tingkatan mutu keadaan yolk pada tingkat III. Ini artinya terjadi
penurunan kualitas pada telur ayam buras. Hal ini sesuai dengan pendapat North
dan Bell (1990) dalam Prasetya, dkk. (2014) yang menyatakan bahwa penurunan
kualitas interior dapat diketahui dengan meneropong rongga udara (air cell) dan
dapat juga dengan memecah telur untuk diperiksa kondisi kuning telur, putih telur,
warna kuning telur, posisi kuning telur, haugh unit (HU) dan ada tidaknya noda
bintik darah.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Pengawasan Mutu Industri Peternakan mengenai
standarisasi mutu susu, daging ayam, daging sapi dan telur diperoleh hasil yaitu
mutu susu fermentasi, daging ayam, daging sapid an telur telah memenuhi standar
mutu yang telah ditetapkan.
Saran
Perlunya keterlibatan berbagai macam pihak dalam pengembangan
standarisasi mutu ini kedepan. Juga sebaiknya dilakukan penyuluhan kepada
masyarakat agar masyarakat mampu membedakan produk yang bermutu.

Laporan Praktikum
Pengawasan Mutu Industri Peternakan

PRAKTIKUM
PENGAWASAN MUTU INDUSTRI PETERNAKAN

Nama
Nim
Waktu
Kelompok
Asisten

Oleh
: Ruhul Izza Aras
: I111 14 336
: Sabtu, 22 Oktober 2016
: I (Satu)
: Rifadha Hafid

LABORATORIUM
PENGAWASAN MUTU INDUSTRI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIIN
MAKASSAR
2016