Anda di halaman 1dari 11

ADA APA DENGAN TARAWIH????

1.
2.
3.
4.
5.

TARAWIH 11 rekaat apa 23 rekaat?


apakah tarawih lebih utama berjamaah apa sendiri sendiri?
pelaksanaan tarawih berurutan 2 rekaat salam kemudian ditutup witir, apa 4 rekaat salam berurutan
kemudian ditutup witir?
Tarawih lebih afdhol dilaksanakan sepertiga awal malam, pertengahan malam atau sepertiga malam
terakhir?
Dalam mengambil hokum urutan prioritas adalah
Pertama ALLAH,
Kedua RASULULLAH,
Ketiga SAHABAT,
Keempat TABIIN, dan TABIUTTABIIN.

DENGAN SEMANGAT MENGKAJI ILMU, Mudah mudahan kita mendapat ilmu yang bermanfaat!

1.

Kita coba kaji dari pertanyaan pertama, TARAWIH 11 rekaat apa 23 rekaat?

Dalil 23 rekaat.
Shalat Tarawih 23 Rakaat di Masa Umar
Dalam Musnad Ali bin Al Jad terdapat riwayat sebagai berikut.
:

Telah menceritakan kepada kami Ali, bahwa Ibnu Abi Dzib dari Yazid bin Khoshifah dari As Saib bin Yazid, ia
berkata, Mereka melaksanakan qiyam lail di masa Umar di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat. Ketika itu
mereka membaca 200 ayat Al Quran. (HR. Ali bin Al Jad dalam musnadnya, 1/413)
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[4]
Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa riwayat di atas terdapat illah yaitu karena terdapat Yazid bin
Khoshifah. Dalam riwayat Ahmad, beliau menyatakan bahwa Yazid itu munkarul hadits. Namun pernyataan ini
tertolak dengan beberapa alasan:
1.
Imam Ahmad sendiri menyatakan Yazid itu tsiqoh dalam riwayat lain.
2.
Ulama pakar hadits lainnya menyatakan bahwa Yazid itu tsiqoh. Ulama yang berpendapat seperti itu
adalah Ahmad, Abu Hatim dan An Nasai. Begitu pula yang menyatakan tsiqoh adalah Yahya bin Main dan
Ibnu Saad. Al Hafizh Ibnu Hajar pun menyatakan tsiqoh dalam At Taqrib.
3.
Perlu diketahui bahwa Yazid bin Khoshifah adalah perowi yang dipakai oleh Al Jamaah (banyak periwayat
hadits).
4.

Imam Ahmad rahimahullah dan sebagian ulama di banyak keadaan kadang menggunakan istilah munkar
untuk riwayat yang bersendirian dan bukan dimaksudkan untuk dhoifnya hadits.[5]
Hadits di atas juga memiliki jalur yang sama dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (2/496).
Riwayat riwayat di atas memiliki beberapa penguat di antaranya:
Pertama: Riwayat Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya (4/260).


Dari Daud bin Qois dan selainnya, dari Muhammad bin Yusuf, dari As Saib bin Yazid, ia berkata bahwa Umar
pernah mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, Ubay bin Kaab dan Tamim Ad Daari yang menjadi imam

dengan mengerjakan shalat 21 rakaat. Ketika itu mereka membaca 200 ayat. Shalat tersebut baru bubar ketika
menjelang fajar.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.[6]
Kedua: Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Waki, dari Malik bin Anas, dari Yahya bin Said, ia berkata, Umar bin Al
Khottob pernah memerintah seseorang shalat dengan mereka sebanyak 20 rakaat.
Yahya bin Said adalah seorang tabiin. Sehingga riwayat ini termasuk mursal (artinya tabiin berkata langsung dari
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tanpa menyebut sahabat).[7]
Setelah membawakan beberapa riwayat penguat (yang sengaja penulis menyebutkan beberapa saja), Syaikh
Musthofa Al Adawi hafizhohullah lantas mengatakan, Riwayat penguat ini semakin menguatkan riwayat shalat
tarawih 20 rakaat.[8]
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa perbuatan sahabat di zaman Umar bin Khottob bervariasi, kadang mereka
melaksanakan 11 rakaat, kadang pula berdasarkan riwayat yang shahih- melaksanakan 23 rakaat. Lalu bagaimana
menyikapi riwayat semacam ini? Jawabnya, tidak ada masalah dalam menyikapi dua riwayat tersebut. Kita bisa
katakan bahwa kadangkala mereka melaksanakan 11 rakaat, dan kadangkala mereka melaksanakan 23 rakaat
dilihat dari kondisi mereka masing-masing.
Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro mengatakan,


Dan mungkin saja kita menggabungkan dua riwayat (yang membicarakan 11 rakaat dan 23 rakaat, -pen), kita
katakan bahwa dulu para sahabat terkadang melakukan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat. Di kesempatan lain,
mereka lakukan 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.[9]
Begitu pula Ibnu Hajar Al Asqolani juga menjelaskan hal yang serupa. Beliau rahimahullah mengatakan,



Kompromi antara riwayat (yang menyebutkan 11 dan 23 rakaat) amat memungkinkan dengan kita katakan bahwa
mereka melaksanakan shalat tarawih tersebut dilihat dari kondisinya. Kita bisa memahami bahwa perbedaan (jumlah
rakaat tersebut) dikarenakan kadangkala bacaan tiap rakaatnya panjang dan kadangkala pendek. Ketika bacaan
tersebut dipanjangkan, maka jumlah rakaatnya semakin sedikit. Demikian sebaliknya. Inilah yang ditegaskan oleh
Ad Dawudi dan ulama lainnya.[10]
Beberapa Atsar Penguat
Pertama: Atsar Atho (seorang tabiin) yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Abdul Malik, dari Atho, ia berkata, Aku pernah menemukan
manusia ketika itu melaksanakan shalat malam 23 rakaat dan sudah termasuk witir di dalamnya.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[11]
Kedua: Atsar dari Ibnu Abi Mulaikah yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Waki dari Nafi bin Umar, ia berkata, Ibnu Abi Mulaikah shalat bersama kami di
bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[12]
Ketiga: Atsar dari Ali bin Robiah yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Dakin, dari Said bin Ubaid, ia berkata bahwa Ali bi Robiah pernah
shalat bersama mereka di Ramadhan sebanyak 5 kali duduk istirahat (artinya: 5 x 4 = 20 rakaat), kemudian beliau
berwitir dengan 3 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[13]
Keempat: Atsar dari Abdurrahman bin Al Aswad yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Hafsh, dari Al Hasan bin Ubaidillah, ia berkata bahwa dulu Abdurrahman bin Al
Aswad shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 40 rakaat, lalu beliau berwitir dengan 7 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[14]
Kelima: Atsar tentang shalat tarawih di zaman Umar bin Abdil Aziz yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni
Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Daud bin Qois, ia berkata, Aku mendapati orang-orang di
Madinah di zaman Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman melaksanakan shalat malam sebanyak 36 rakaat
dan berwitir dengan 3 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[15]
Perkataan Para Ulama Mengenai Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani,


Dari Az Zafaroniy, dari Imam Asy Syafii, beliau berkata, Aku melihat manusia di Madinah melaksanakan shalat
malam sebanyak 39 rakaat dan di Makkah sebanyak 23 rakaat. Dan sama sekali hal ini tidak ada kesempitan
(artinya: boleh saja melakukan seperti itu, -pen). [16]
Ibnu Abdil Barr mengatakan,

Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah
(yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit rakaat. Siapa yang
mau juga boleh mengerjakan banyak.[17]
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,







.









.

.




Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan bilangan
tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan
atau bulan lainnya lebih dari 13 rakaat. Akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan rakaat yang panjang. Tatkala
Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Kaab ditunjuk sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20
rakaat kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga rakaat. Namun ketika itu bacaan setiap rakaat lebih ringan

dengan diganti rakaat yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada
melakukan satu rakaat dengan bacaan yang begitu panjang.
Sebagian salaf pun ada yang melaksanakan shalat malam sampai 40 rakaat, lalu mereka berwitir dengan 3 rakaat.
Ada lagi ulama yang melaksanakan shalat malam dengan 36 rakaat dan berwitir dengan 3 rakaat.
Semua jumlah rakaat di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai
macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan
kondisi para jamaah. Kalau jamaah kemungkinan senang dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka lebih bagus
melakukan shalat malam dengan 10 rakaat ditambah dengan witir 3 rakaat, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh
Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu,
demikianlah yang terbaik.
Namun apabila para jamaah tidak mampu melaksanakan rakaat-rakaat yang panjang, maka melaksanakan shalat
malam dengan 20 rakaat itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama.
Shalat malam dengan 20 rakaat adalah jalan pertengahan antara jumlah rakaat shalat malam yang sepuluh dan
yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 rakaat atau lebih, itu juga
diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal
ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan
bilangan tertentu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11
rakaat, maka sungguh dia telah keliru.[18]
Al Kasaani mengatakan, Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami
oleh Ubay bin Kaab radhiyallahu Taala anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 rakaat. Tidak ada seorang pun
yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma atau kesepakatan para sahabat.
Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, Shalat tarawih dengan 20 rakaat inilah yang menjadi amalan para sahabat
dan tabiin.
Ibnu Abidin mengatakan, Shalat tarawih dengan 20 rakaat inilah yang dilakukan di timur dan barat.
Ali As Sanhuriy mengatakan, Jumlah 20 rakaat inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan
hingga sekarang ini di berbagai negeri.
Al Hanabilah mengatakan, Shalat tarawih 20 rakaat inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga
hal ini menjadi ijma atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.[19]

11 REKAAT
Diantara kita banyak yang belum mengetahui dalil shalat Tarawih 11 dilakukan secara berjamaah, begitu pula
diantara kita masih banyak yang mempertanyakan dalilnya, berkut dalil-dalil yang menybutkan shalat Tarawih 11
dilakukan secara berjamaah :
Abu Dzar menceritakan,


. :

:

:

: :

Kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada bulan ramadhan. Beliau tidak pernah
mengimami shalat malam sama sekali, hingga ramadhan tinggal 7 hari. Pada H-7 beliau mengimami kami shalat
malam, hingga berlalu sepertiga malam. Kemudian pada H-6, beliau tidak mengimami kami. Hingga pada malam H5, beliau mengimami kami shalat malam hingga berlalu setengah malam. Kamipun meminta beliau, Wahai
Rasulullah, bagaimana jika kita tambah shalat tarawih hingga akhir malam? Kemudian beliau bersabda,
Barangsiapa yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka dia mendapat pahala shalat tahajud
semalam suntuk. Kemudian H-4, beliau tidak mengimami jamaah tarawih, hingga H-3, beliau kumpulkan semua
istrinya dan para sahabat. Kemudian beliau mengimami kami hingga akhir malam, sampai kami khawatir tidak
mendapatkan sahur. Selanjutnya, beliau tidak lagi mengimami kami hingga ramadhan berakhir. (HR. Nasai dan Ibn
Majah)













Urwah bahwa Aisyah radliallahu anha mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti
beliau dan shalat dibelakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada
malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan Beliau. Dan pada waktu
paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang
yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar untuk
shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah
hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap
kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: Amma badu, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu
keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian
tidak mampu. [HR. Bukhari dan Muslim]



:


Jabir bin Abdillah berkata : Rosulullah SAW pernah sholat bersama kami di bulan romadlon (sebanyak) Delapan
rekaat dan witir, maka pada hari berikutnya kami kumpul di masjid dan mengharap beliau keluar tapi beliau tidak
keluar hingga masuk waktu pagi kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata : Ya Rosulullah, tadi malam
kami berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mau sholat bersama kami. Lalu beliau bersabda :
Sesungguhnya aku khawatir (sholat ini) diwajibkan atas kamu sekalian. [HR. Thabrani, Ibn Hiban dan Ibn
Khuzaymah]
Namun demikian, yang lebih utama adalah seperti yang dijelaskan hadits ini:
















Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membuat satu ruangan. Busr berkata, Aku
menduga Zaid bin Tsabit berkata, Membuat tikar pada bulan Ramadan, lalu beliau melaksakan shalat malam di

(kamar atau tikar) tersebut dalam beberapa malam. Kemudian para sahabat mengikuti shalat beliau. Ketika
mengetahui apa yang mereka lakukan beliau pun berdiam di rumah, setelah itu beliau keluar seraya berkata kepada
mereka: Sungguh aku telah mengetahui sebagaimana aku lihat apa yang kalian lakukan. Wahai manusia, shalatlah
kalian di rumah-rumah kalian, sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang
dilakukannya di rumahnya, kecuali shalat fardlu. [HR. Bukhari]

Cara Shalat Tarawih 11 Rakaat


Ketika mengerjakan salat tarawih 11 rakaat, apa yang harus dilakukan? Bagaimana tata caranya? Apakah kita
menggunakan pola 4 rakaat sekali salam? Ataukah dua rakaat sekali salam? Mengenai hal ini, semuanya benar
karena merujuk pada dua riwayat berbeda.
Mereka yang melaksanakan salat empat rakaat sekali salam merujuk pada pernyataan Ibunda Aisyah, Nabi
shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 rakaat, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang
rakaatnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 rakaat lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan
panjang rakaatnya . (H.R. Bukhari).
Adapun yang berkeyakinan salat dua rakaat sekali salam, merujuk pada sabda Rasulullah, Shalat malam adalah dua
rakaat dua rakaat. (H.R. Bukhari). Dengan demikian, kedua macam cara pengerjaan sholat tarawih ini insya Allah
semuanya sah

3. apakah tarawih lebih utama berjamaah apa sendiri sendiri?

Penutup
Demikian sajian kami tentang shalat tarawih bahwa sebenarnya tidak ada masalah dalam kuantitas rakaat, baik 11
atau 23 rakaat tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Sehingga
tidaklah tepat jika shalat tarawih 23 rakaat dikatakan bidah. Lihat saja sejak masa sahabat dan tabiain mereka pun
melaksanakan shalat malam lebih dari 11 rakaat.
Dari sini juga tidaklah tepat jika seseorang bubar terlebih dahulu pada shalat imam padahal masih 8 rakaat karena ia
berkeyakinan bahwa shalat malam hanya 11 rakaat sehingga ia tidak mau mengikuti shalat imam yang 23 rakaat.
Jika memang shalat imam itu thumaninah, maka bermakmum di belakangnya adalah pilihan yang tepat. Jika

seseorang bubar dulu sebelum imam selesai, sungguh ia telah kehilangan pahala yang teramat besar sebagaimana
disebutkan dalam hadits,



Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam
penuh.[28] Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut
menyelesaikan bersama imam, meskipun itu 23 rakaat. Itulah yang lebih tepat selama shalat 23 rakaat itu
thumaninah. Jika shalatnya terlalu cepat, sebaiknya cari jamaah yang lebih thumaninah dalam kondisi seperti itu.
Wallahu alam bish showab. Semoga Allah menjadikan amalan ini ikhlas karena-Nya.
Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat.

DARI URAIAN DIATAS setidaknya ada sedikit kesimpulan bahwa


1. solat tarawih yang 23 rekaat itu adalah sebuah amalan solat malam (qiiyamul lail)
para sahabat pada zaman umar bin khothob .
Adapun dengan sebelas rekaat itu terjadi semasa rosulullah masih hidup.
2. Pelaksanaan 23 rekaat ada muatan pendapat bahwa dijaman rosulullah solatnya
panjang, sehingga banyak sahabat yang merasa terlalu lama berdirinya, agar sama
sama bisa menghidupkan malam dibulan romadhon maka solat di kerjakan 23 rekaat
,sehingga waktu istirahat akan lebih banyak.
Shalat Tarawih 23 Rakaat di Masa Umar
Dalam Musnad Ali bin Al Jad terdapat riwayat sebagai berikut.
1.
:

Telah menceritakan kepada kami Ali, bahwa Ibnu Abi Dzib dari Yazid bin Khoshifah dari As Saib bin Yazid, ia
berkata, Mereka melaksanakan qiyam lail di masa Umar di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat. Ketika itu
mereka membaca 200 ayat Al Quran. (HR. Ali bin Al Jad dalam musnadnya, 1/413)
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[4]
Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa riwayat di atas terdapat illah yaitu karena terdapat Yazid bin
Khoshifah. Dalam riwayat Ahmad, beliau menyatakan bahwa Yazid itu munkarul hadits. Namun pernyataan ini
tertolak dengan beberapa alasan:
1. Imam Ahmad sendiri menyatakan Yazid itu tsiqoh dalam riwayat lain.
2. Ulama pakar hadits lainnya menyatakan bahwa Yazid itu tsiqoh. Ulama yang berpendapat seperti itu
adalah Ahmad, Abu Hatim dan An Nasai. Begitu pula yang menyatakan tsiqoh adalah Yahya bin Main
dan Ibnu Saad. Al Hafizh Ibnu Hajar pun menyatakan tsiqoh dalam At Taqrib.
3. Perlu diketahui bahwa Yazid bin Khoshifah adalah perowi yang dipakai oleh Al Jamaah (banyak periwayat
hadits).

4.

Imam Ahmad rahimahullah dan sebagian ulama di banyak keadaan kadang menggunakan istilah munkar
untuk riwayat yang bersendirian dan bukan dimaksudkan untuk dhoifnya hadits.[5]
Hadits di atas juga memiliki jalur yang sama dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro (2/496).
Riwayat riwayat di atas memiliki beberapa penguat di antaranya:
Pertama: Riwayat Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya (4/260).


Dari Daud bin Qois dan selainnya, dari Muhammad bin Yusuf, dari As Saib bin Yazid, ia berkata bahwa Umar
pernah mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, Ubay bin Kaab dan Tamim Ad Daari yang menjadi imam
dengan mengerjakan shalat 21 rakaat. Ketika itu mereka membaca 200 ayat. Shalat tersebut baru bubar ketika
menjelang fajar.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.[6]
Kedua: Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Waki, dari Malik bin Anas, dari Yahya bin Said, ia berkata, Umar bin Al
Khottob pernah memerintah seseorang shalat dengan mereka sebanyak 20 rakaat.
Yahya bin Said adalah seorang tabiin. Sehingga riwayat ini termasuk mursal (artinya tabiin berkata langsung dari
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tanpa menyebut sahabat).[7]
Setelah membawakan beberapa riwayat penguat (yang sengaja penulis menyebutkan beberapa saja), Syaikh
Musthofa Al Adawi hafizhohullah lantas mengatakan, Riwayat penguat ini semakin menguatkan riwayat shalat
tarawih 20 rakaat.[8]
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa perbuatan sahabat di zaman Umar bin Khottob bervariasi, kadang mereka
melaksanakan 11 rakaat, kadang pula berdasarkan riwayat yang shahih- melaksanakan 23 rakaat. Lalu bagaimana
menyikapi riwayat semacam ini? Jawabnya, tidak ada masalah dalam menyikapi dua riwayat tersebut. Kita bisa
katakan bahwa kadangkala mereka melaksanakan 11 rakaat, dan kadangkala mereka melaksanakan 23 rakaat
dilihat dari kondisi mereka masing-masing.
Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro mengatakan,


Dan mungkin saja kita menggabungkan dua riwayat (yang membicarakan 11 rakaat dan 23 rakaat, -pen), kita
katakan bahwa dulu para sahabat terkadang melakukan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat. Di kesempatan lain,
mereka lakukan 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.[9]
Begitu pula Ibnu Hajar Al Asqolani juga menjelaskan hal yang serupa. Beliau rahimahullah mengatakan,



Kompromi antara riwayat (yang menyebutkan 11 dan 23 rakaat) amat memungkinkan dengan kita katakan bahwa
mereka melaksanakan shalat tarawih tersebut dilihat dari kondisinya. Kita bisa memahami bahwa perbedaan (jumlah
rakaat tersebut) dikarenakan kadangkala bacaan tiap rakaatnya panjang dan kadangkala pendek. Ketika bacaan
tersebut dipanjangkan, maka jumlah rakaatnya semakin sedikit. Demikian sebaliknya. Inilah yang ditegaskan oleh
Ad Dawudi dan ulama lainnya.[10]
Beberapa Atsar Penguat
Pertama: Atsar Atho (seorang tabiin) yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Abdul Malik, dari Atho, ia berkata, Aku pernah menemukan
manusia ketika itu melaksanakan shalat malam 23 rakaat dan sudah termasuk witir di dalamnya.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[11]
Kedua: Atsar dari Ibnu Abi Mulaikah yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Waki dari Nafi bin Umar, ia berkata, Ibnu Abi Mulaikah shalat bersama kami di
bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[12]
Ketiga: Atsar dari Ali bin Robiah yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Al Fadhl bin Dakin, dari Said bin Ubaid, ia berkata bahwa Ali bi Robiah pernah
shalat bersama mereka di Ramadhan sebanyak 5 kali duduk istirahat (artinya: 5 x 4 = 20 rakaat), kemudian beliau
berwitir dengan 3 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[13]
Keempat: Atsar dari Abdurrahman bin Al Aswad yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Hafsh, dari Al Hasan bin Ubaidillah, ia berkata bahwa dulu Abdurrahman bin Al
Aswad shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 40 rakaat, lalu beliau berwitir dengan 7 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[14]
Kelima: Atsar tentang shalat tarawih di zaman Umar bin Abdil Aziz yang dikeluarkan dalam Mushonnaf Ibni
Abi Syaibah (2/163).

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Daud bin Qois, ia berkata, Aku mendapati orang-orang di
Madinah di zaman Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman melaksanakan shalat malam sebanyak 36 rakaat
dan berwitir dengan 3 rakaat.
Syaikh Musthofa Al Adawi mengatakan bahwa riwayat ini shahih.[15]
Perkataan Para Ulama Mengenai Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani,


Dari Az Zafaroniy, dari Imam Asy Syafii, beliau berkata, Aku melihat manusia di Madinah melaksanakan shalat
malam sebanyak 39 rakaat dan di Makkah sebanyak 23 rakaat. Dan sama sekali hal ini tidak ada kesempitan
(artinya: boleh saja melakukan seperti itu, -pen). [16]
Ibnu Abdil Barr mengatakan,

Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah rakaat tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah
(yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit rakaat. Siapa yang
mau juga boleh mengerjakan banyak.[17]
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,











.

.




Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan bilangan
tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan
atau bulan lainnya lebih dari 13 rakaat. Akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan rakaat yang panjang. Tatkala
Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Kaab ditunjuk sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20
rakaat kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga rakaat. Namun ketika itu bacaan setiap rakaat lebih ringan
dengan diganti rakaat yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada
melakukan satu rakaat dengan bacaan yang begitu panjang.
Sebagian salaf pun ada yang melaksanakan shalat malam sampai 40 rakaat, lalu mereka berwitir dengan 3 rakaat.
Ada lagi ulama yang melaksanakan shalat malam dengan 36 rakaat dan berwitir dengan 3 rakaat.
Semua jumlah rakaat di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai
macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan
kondisi para jamaah. Kalau jamaah kemungkinan senang dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka lebih bagus
melakukan shalat malam dengan 10 rakaat ditambah dengan witir 3 rakaat, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh
Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu,
demikianlah yang terbaik.
Namun apabila para jamaah tidak mampu melaksanakan rakaat-rakaat yang panjang, maka melaksanakan shalat
malam dengan 20 rakaat itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama.
Shalat malam dengan 20 rakaat adalah jalan pertengahan antara jumlah rakaat shalat malam yang sepuluh dan
yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 rakaat atau lebih, itu juga
diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal
ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.
Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan
bilangan tertentu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11
rakaat, maka sungguh dia telah keliru.[18]
Al Kasaani mengatakan, Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami
oleh Ubay bin Kaab radhiyallahu Taala anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 rakaat. Tidak ada seorang pun
yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma atau kesepakatan para sahabat.
Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, Shalat tarawih dengan 20 rakaat inilah yang menjadi amalan para sahabat
dan tabiin.
Ibnu Abidin mengatakan, Shalat tarawih dengan 20 rakaat inilah yang dilakukan di timur dan barat.
Ali As Sanhuriy mengatakan, Jumlah 20 rakaat inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan
hingga sekarang ini di berbagai negeri.
Al Hanabilah mengatakan, Shalat tarawih 20 rakaat inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga
hal ini menjadi ijma atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.[19]

3. Pelaksanaan tarawih dimasa hidup rosulullah adalah 4,4,3 merujuk pada dalil dari
aisyah.
4. Pelaksanaan solat tarawih dilaksanakan secara berjamaah, tetapi lebih afdol
dirumah.
5. Solat tarawih lebih afdhol selesai diakhir malam,
6. Adalah satu kekeliruan ketika imam melaksanakan solat belum selesai makmum
sudah meninggalkan imam dalam solat.