Anda di halaman 1dari 23

PENGARUH PERUBAHAN SUHU TERHADAP MEMBUKA DAN

MENUTUP OPERCULUM BENIH IKAN NILEM

LAPORAN PRAKTIKUM IKTIOLOGI

Perikanan B/ Lab.MSP/ Kelompok 12


Della Fauzia Kundari

NPM. 230110150094

Brian Tri Nur Syafaat

NPM. 230110150102

Abdurrahman Faris

NPM. 230110150154

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016
DAFTAR ISI
BAB

Halaman
DAFTAR TABEL .....................................................................iii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................iii


I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................1
1.2 Tujuan ...................................................................................2
1.3 Manfaat .................................................................................2

II

LANDASAN TEORI
2.1 Ikan Nilem...............................................................................
2.2 Sistem Pernafasan Ikan Nilem................................................
2.3 Suhu.........................................................................................
2.4 Hubungan Suhu dengan Sistem Pernafasan Ikan Nilem.........

III

METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu ...................................................................
3.2 Alat dan Bahan ........................................................................
3.3 Prosedur ..................................................................................

IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Data Kelas .....................................................................
4.2 Pembahasan.............................................................................

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan .............................................................................
5.2 Saran .......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................
LAMPIRAN ................................................................................

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

1. Pergerakan Operkulum Ikan Pada Suhu Kamar 14....................


2. Pergerakan Operkulum Ikan Pada Suhu Panas...............................
3. Pergerakan Operkulum Ikan Pada Suhu Dingin.............................
4.

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

1. Ikan nilem ...............................................................................5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fisiologi Hewan Air merupakan salah satu ilmu dasar yang penting untuk
menjelaskan fungsi tubuh ikan dan hewan akuatik lain pada umumnya. Ikan
adalah hewan berdarah dingin (poikilotermis). Suhu tubuhnya selalu mengikuti
suhu lingkungannya sehingga suhu badannya turun naik bersama-sama dengan
turun naiknya suhu sekitarnya. Ikan berkembang biak dengan cara bertelur. Ikan
betina mengeluarkan telurnya ke dalam air, demikian pula ikan jantan
mengeluarkan spermanya ke dalam air, sehingga pembuahan terjadi di luar tubuh
induknya. Bagi hewan akuatik, suhu media air merupakan faktor pembatas oleh
karena itu perubahan suhu media air akan mempengaruhi kandungan Oksigen
terlarut yang akan berakibat pada laju pernafasan dan laju metabolisme hewan
akuatik

tersebut.

Untuk

membuktikan

bahwa

ikan

merupakan

hewan

poikilotermik maka dilakukan praktikum pengaruh perubahan suhu terhadap


banyaknya buka-tutup operkulum ikan mas.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan
suhu terhadap banyaknya buka-tutup operkulum ikan nilem yang secara tidak
langsung ingin mengetahui laju pernafasan ikan tersebut.

1.3 Manfaat

Manfaat dari praktikum ini adalah untuk lebih memahami laju pernafasan
ikan, untuk membuktikan apakah ikan termasuk hewan poikilotermis yang suhu
tubuhnya mengikuti suhu lingkungannya dengan perubahan suhu media air dan
mengetahui metabolisme pada ikan dengan parameter suhu sehingga dapat di
aplikasikan dalam bidang perikanan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Ikan Nilem
Ikan nilem adalah salah satu komoditas ikan air tawar yang belum banyak di
budidayakan di berbagai wilayah dan saat ini ikan nilem baru banyak
dikembangkan didaerah tasikmalaya. Ikan nilem ini mempunyai cita rasa yang
sangat sepesifik dan gurih disbanding ikan air tawar lainnya karena ikan ini
mengandung sodium glutamat dalam daging yang terbentuk alami yang mungkin
disebkan pengaruh kebiasaan makan pakan alami phito dan zoo plankton
terutama ganggang yang tumbuh akibat pemupukan kolam. Menurut jangkaru
(1989), ikan nilem tahan terhadap penyakit, ikan nilem termasuk dalam kelompok
omnivora, di alam makanannya berupa periphiton dan tumbuhan penempel
dengan demikian ikan nilem dapat berfungsi sebagai pembersih jaring apung.
Potensi lain yang dimiliki ikan nilem sampai saat ini telurnya yang sangat
digemari oleh masyarakat karena cita rasanya yang gurih dan telur ikan nilem ine
telah di ekspor ke Negara lain seperti Singapura, Taiwan, Malaysia dan Hongkong
yang katanya sebagai pengganti kapier dan sebagai bahan pembuat saos. Ikan
nilem juga diolah menjadi dendeng, abon, pepes dan snek ikan (baby fish)
terutama yang mempunyai ukuran 5-7 gram.

Gambar 1. Ikan Nilem


Morfologi Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)
Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik (asli) Indonesia
yang hidup di sungai sungai dan rawa rawa. Ciri ciri ikan nilem hampir
serupa dengan ikan mas. Ciri cirinya yaitu pada sudut sudut mulutnya terdapat
dua pasang sungut sungut peraba. Sirip punggung disokong oleh tiga jari jari
keras dan 12 18 jari jari lunak. Sirip ekor berjagak dua, bentuknya simetris.
Sirip dubur disokong oleh 3 jari jari keras dan 5 jari jari lunak. Sirip perut
disokong oleh 1 jari jari keras dan 13 15 jari jari lunak. Jumlah sisik sisik
gurat sisi ada 33 36 keping, bentuk tubuh ikan nilem agak memenjang dan piph,
ujung mulut runcing dengan moncong (rostral) terlipat, serta bintim hitam besar
pada ekornya merupakan ciri utama ikan nilem. Ikan ini termasuk kelompok
omnivora, makanannya berupa ganggang penempel yang disebut epifition dan
perifition (Djuhanda, 1985).
Klasifikasi Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)
Ikan nilem (Osteochilus hasselti) menurut Saanin (1968) diklasifikasikan
dalam:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Subphylum

: Craniata

Class

: Pisces

Subclass

: Actinopterygi

Ordo

: Ostariophysi

Subordo

: Cyprinoidae

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Osteochilus

Species

: Osteochilus hasselti

Kualitas Air
Ikan nilem akan melakukan pemijahan pada kondisi oksigen berkisar antara
5 6 ppm, karbondioksida bebas yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan
yaitu 1 ppm (Willoughby, 1999). Menurut Susanto (2001) suhu yang optimum
untuk kelangsungan hidup ikan nilem berkisar antara 18 280C, dan untuk pH
berkisar antara 6,7 8,6. Sedangkan menurut PBIAT Muntilan (2007), untuk
kandungan ammonia yang disarankan adalah 0,5 ppm.

2.2 Sistem Pernafasan Ikan Nilem


Proses pernafasan ada 3 tahap:
1. Ventilasi Insang
Pengaliran air ke permukaan lamella insang melalui rongga mulut dan
dikeluarkan melalui opercullum.
2. Difusi O2 dan CO2, antara air dan darah yang terjadi di lamela insang.
3. Pengangkutan O2, dari insang ke lingkungan intrasel dan CO2 dari
lingkungan intrasel ke insang.

Ketersediaan O2 dalam air sangat sedikit, oleh karena itu O2 disebut


sebagai faktor pembatas, karena daya larut O2 dalam air kecil. Apabila
kandungan O2 dalam air rendah maka ikan dan organisme akuatik lain
harus memompa air dalam jumlah tertentu kepermukaan insang untuk
mendapatkan O2 yang cukup agar kecepatan metabolismenya stabil.
Kebutuhan O2 ikan sangat dipengaruhi:
Umur
Semakin tua suatu organisme, laju metabolismenya semakin rendah. Umur
ikan mempengaruhi ukuran ikan, ukuran ikan yang berbeda membutuhkan O2
yang berbeda. Semakin besar ukuran ikan, jumlah konsumsi O2 per mg berat
badan semakin rendah.
Aktivitas
Ikan yang aktif membutuhkan O2 lebih banyak dibanding ikan yang pasif.
Kondisi Perairan (terutama kelarutan O2).
Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh:
1. Suhu bila suhu tinggi, maka kelarutan oksigen rendah.
2. Salinitas bila salinitas tinggi, maka kelarutan oksigen rendah
3. Air laut mengandung O2 lebih rendah dibanding air tawar pada temperatur
yang sama.

2.3 Suhu
Suhu adalah suatu besaran untuk menyatakan ukuran derajat panas atau
dinginnya suatu benda. Sebagai gambaran tentang suhu adalah saat mandi

menggunakan air hangat. Untuk mendapatkan air hangat tersebut kita mencampur
air dingin dengan air panas. Ketika tangan kita menyentuh air yang dingin, maka
kita mengatakan suhu air tersebut dingin. Ketika tangan kita menyentuh air yang
panas maka kita katakan suhu air tersebut panas. Ukuran derajat panas dan dingin
suatu benda tersebut dinyatakan dengan besaran suhu. Suhu termasuk besaran
pokok. Alat untuk untuk mengukur besarnya suhu suatu benda adalah termometer.
Termometer yang umum digunakan adalah termometer zat cair dengan
pengisi pipa kapilernya adalah raksa atau alkohol. Pertimbangan dipilihnya raksa
sebagai pengisi pipa kapiler termometer adalah sebagai berikut:
1. raksa tidak membasahi dinding kaca,
2. raksa merupakan penghantar panas yang baik,
3. kalor jenis raksa rendah akibatnya dengan perubahan panas yang kecil
cukup dapat mengubah suhunya,
4. jangkauan ukur raksa lebar karena titik bekunya -39 C dan titik didihnya
357C.
Pengukuran suhu yang sangat rendah biasanya menggunakan termometer
alkohol. Alkohol memiliki titik beku yang sangat rendah, yaitu -114C. Namun
demikian, termometer alkohol tidak dapat digunakan untuk mengukur suhu benda
yang tinggi sebab titik didihnya hanya 78C. Pada pembuatan termometer terlebih
dahulu ditetapkan titik tetap atas dan titik tetap bawah. Titik tetap termometer
tersebut diukur pada tekanan 1 atmosfer. Di antara kedua titik tetap tersebut dibuat
skala suhu. Penetapan titik tetap bawah adalah suhu ketika es melebur dan
penetapan titik tetap atas adalah suhu saat air mendidih.
Berikut ini adalah penetapan titik tetap pada skala termometer.

10

a. Termometer Celcius
Titik tetap bawah diberi angka 0 dan titik tetap atas diberi angka 100. Diantara
titik tetap bawah dan titik tetap atas dibagi 100 skala.
b. Termometer Reaumur
Titik tetap bawah diberi angka 0 dan titik tetap atas diberi angka 80. Di antara titik
tetap bawah dan titik tetap atas dibagi menjadi 80 skala.
c. Termometer Fahrenheit
Titik tetap bawah diberi angka 32 dan titik tetap atas diberi angka 212. Suhu es
yang dicampur dengan garam ditetapkan sebagai 0F. Di antara titik tetap bawah
dan titik tetap atas dibagi 180 skala.
d. Termometer Kelvin
Pada termometer Kelvin, titik terbawah diberi angka nol. Titik ini disebut suhu
mutlak, yaitu suhu terkecil yang dimiliki benda ketika energi total partikel benda
tersebut nol. Kelvin menetapkan suhu es melebur dengan angka 273 dan suhu air
mendidih dengan angka 373. Rentang titik tetap bawah dan titik tetap atas
termometer Kelvin dibagi 100 skala.

2.4 Hubungan Suhu dengan Sistem Pernafasan Ikan Nilem


Frekuensi membuka serta menutupnya operculum pada ikan mas terjadi
lebih sering pada setiap kenaikan suhu, serta penurunan suhu dari suhu kamar
hingga suhu dibawah kamar (250C 230C) semakin sering ikan itu membuka serta
menutup mulutnya hal ini dapat kita simpulkan bahwa bila suhu meningkat, maka
laju metabolisme ikan akan meningkat sehingga gerakan membuka dan
menutupnya operculum ikan akan lebih cepat daripada suhu awal kamar, serta

11

sebaliknya pula jika suhu menurun maka semakin jarang pula ikan itu membuka
serta menutup mulutnya. Pada peristiwa temperature dibawah suhu kamar maka
tingkat frekuensi membuka dan menutupnya operculum akan semakin lambat dari
pada suhu kamar. Dengan adanya penurunan temperature, maka terjadi penurunan
metabolisme pada ikan yang mengakibatkan kebutuhan O menurun, sehingga
gerakannya melambat. Penurun O juga dapat menyebabkan kelarutan O di
lingkungannya meningkat. Dalam tubuh ikan suhunya bisa berkisar 1
dibandingkan temperature linkungannya (Nikolsky, 1927). Maka dari itu,
perubahan yang mendadak dari temperature lingkungan akan sangat berpengaruh
pada ikan itu sendiri.
Dalam suhu kamar kebutuhan oksigen lebih optimal sehingga gerakan
membuka serta menutupnya operculum stabil. Kenaikan suhu pada suatu
peraiaran menyebabkan kelarutan oksigen (DO) Dissolve Oksigen di peraiaran
tersebut akan menurun, sehingga akan kebutuhan organisme air terhadap oksigen
semakin bertambah dengan pergerakan operculum yang semakin cepat. Penurunan
suhu pada suatu perairan dapat menyebabkan kelarutan oksigen dalam perairan itu
meningkat sehingga kebutuhan organisme dalam air terhadap oksigen semakin
berkurang, hal ini menyebabkan jarangnya frekuensi membuka serta menutupnya
overculum pada ikan tersebut makin lambat. Terdapat hubungan antara
peningkatan temperature dengan laju metabolisme biasanya 2 3 kali lebih cepat
pada setiap peningkatan suhu 10 C, aklimasi pada ikan dilakukan agar ikan tidak
mengalami stress pada saat berlangsungnya pengamtan tersebut.

12

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu

: Senin, 12 Oktober 2015

Tempat: Laboratorium MSP Universitas Padjadjaran


3.2 Alat dan Bahan
Alat

: - Beaker Glass untuk ikan yang akan diamati


- Wadah Plastik sebagai tempat ikan sebelum dan setelah diamati
- Water Bath sebagai penangas air
- Termometer Hg / alcohol untuk mengukur suhu air
- Hand Counter untuk menghitung bukaan operculum
- Timer / Stopwatch untuk mengamati waktu

Bahan : - Benih ikan nilem sebanyak 3 ekor untuk diamati kecepatan buka
tutup operculumnya
- Stok ar panas untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan
- Es untuk indikator penurunan suhu pada air
3.3 Prosedur Penelitian
Disiapkan sebuah beaker glass 1000 ml sebagai wadah perlakuan dan dua
wadah plastik sebagai tempat ikan yang belum dan sudah diamati.
Diambil sebanyak 3 ekor benih ikan nilem dari akuarium stok, lalu
masukkan ke dalam salah satu wadah plastik yang telah diberi media air.

13

Disiapkan sebuah beaker glass 1 Diisi beaker glass dengan air secukupnya
( volumenya ), lalu diukur suhunya dengan termometer dan dicatat
Diamati ikan dengan tiga perlakuan yaitu :
a. T1 = untuk suhu kamar ( 27 0,5 C )
b. T2 = untuk suhu 3 C di bawah suhu kamar
c. T3 = untuk suhu 3 C di atas suhu kamar
Dimasukkan satu persatu ikan uji ke dalam beaker glass yang sudah
diketahui suhunya (perlakuan a) kemudian dihitung banyaknya membuka
dan menutup operculum ikan tersebut selama satu menit dengna
menggunakan hand counter dan stopwatch sebagai penunjuk waktu dan
diulang sebanyak tiga kali untuk masing-masing ikan. Data yang diperoleh
dicatat pada kertas lembar kerja yang telah disediakan.
Setelah selesai dengan ikan uji pertama dilanjutkan dengan ikan uji
beruktnya sampai ke tiga ikan tersebut teramati. Ikan yang telah diamati
dimasukkan ke dalam wadah plastik lain yang telah disediakan
Setelah selesai dengan perlakuan a, dilanjutkan dengan perlakuan b dengan
mengatur suhu air pada beaker glass agar sesuai dengan suhu yang
diinginkan dengan cara menambah air dingin

sedikit demi sedikit.

Diusahakan pada saat pengamatan berlangsung suhu air turun pada kisaran
tokeransi 0,5 C. Pengamatan selanjutnya sama seperti pada pengamatan
Setelah selesai dengan perlakuan b, dilanjutkan dengan perlakuan c dengan
mengatur suhu air pada beaker glass agar sesuai dengan suhu yang
diinginkan dengan cara menambah air panas dari water bath sedikit demi
sedikit. Diusahakan pada saat pengamatan berlangsung suhu air turun pada
kisaran tokeransi 0,5 C. Pengamatan selanjutnya sama seperti pada
Dicatat hasil pengamatan pada tabel.

14

15

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Tabel 1. Pergerakan Operkulum Ikan Pada Suhu Kamar

Kelompok

Rata-rata Suhu Normal (T1)


Ikan 1

Ikan 2

Ikan 3

204

236

257

174

205

237

223

222

228

203

186

208

198

246

228

233

233

232

188

246

100

307

218

262

207

221

220

10

229

230

232

11

235

255

152

12

220

192

191

13

203

251

253

14

174

197

179

15

213

225

230

16

222

209

188

17

183

204

212

18

199

214

206

19

236

245

261

16

20

235

214

189

21

232

238

243

22

246

233

192

23

206

195

270

Rata-rata

216

222

216

Tabel 2. Pergerakan Operkulum Ikan Pada Suhu Panas

Kelompok

Rata-rata Suhu Panas (T2)


Ikan 1

Ikan 2

Ikan 3

273

268

300

281

329

305

280

291

286

259

263

268

276

275

282

266

266

260

285

330

271

392

359

361

240

246

253

10

295

303

301

11

254

224

275

12

302

327

350

13

229

243

250

14

166

194

174

15

252

258

259

17

16

188

191

217

17

239

263

302

18

277

260

248

19

263

280

280

20

291

240

242

21

226

243

271

22

292

261

257

23

207

192

277

Rata-rata

262

265

273

Tabel 3. Pergerakan Operkulum Ikan Pada Suhu Dingin


Kelompo

Rata-rata Suhu Dingin (T3)

Ikan 1

Ikan 2

Ikan 3

178

218

237

215

185

131

227

209

215

156

162

162

213

167

167

189

186

185

190

244

169

226

241

257

135

177

164

10

198

199

210

11

180

199

220

18

12

222

244

247

13

157

161

173

14

150

154

194

15

159

168

170

16

166

170

196

17

158

163

173

18

211

202

179

19

157

170

176

20

196

212

183

21

173

178

198

22

198

183

195

23

181

107

220

Rata-rata

184

187

192

4.2 Pembahasan
Data diatas adalah data yang didapat dari hasil praktikum tentang Pengaruh
Suhu Terhadap Buka-Tutupnya Operkulum ikan yang diambil pada saat suhu
kamar, suhu panas dan suhu dingin. Data diatas menunjukan pengaruh suhu
terhadap buka-tutup operculum ikan nilem pada suhu kamar (27C), suhu panas
yaitu suhu kamar ditambah 3C (30C), dan pada suhu dingin yaitu suhu kamar
dikurangi 3C (24C).
Setelah melaksanakan praktikum, hasil dari kelompok kami menunjukan
angka rata-rata dari ikan 1 pada suhu kamar adalah sebanyak 220 kali pergerakan,
pada ikan ke 2 sebanyak 192 kali pergerakan dan pada ikan ke 3 sebanyak 191
kali pergerakan per menitnya. Pada suhu panas, ikan 1 melakukan pergerakan

19

operculum rata-rata sebanyak 302, ikan 2 sebanyak 327 dan ikan 3 sebanyak 350
per menitnya. Dan pada suhu dingin, diperoleh pergerakan operculum rata-rata
ikan 1 sebanyak 222, ikan 2 sebanyak 244 dan ikan 3 sebanyak 247 per menitnya.
Dari data yang kelompok kami dapatkan, data tersebut tidak sesuai dengan teori
yang ada, karena seharusnya semakin panas suhu air, maka pergerakan operculum
ikan seharusnya lebih cepat, begitu juga sebaliknya, pada saat suhu diturunkan,
pergerakan operculum seharusnya berkurang. Tetapi, pada data yang kami dapat
pada praktikum ini, suhu kamar yang suhunya lebih panas dibanding suhu dingin,
pergerakan operculumnya malah lebih sedikit.
Kesalahan yang ada pada kelompok kami adalah ketika melakukan
perhitungan pergerakan operculum yang menggunakan click counter, click
counter kami pada saat menghitung pergerakan operculum pada suhu kamar
sempat berhenti pada saat hitungan tertentu, sehingga membuat angka pergerakan
operculum pada suhu kamar ini bahkan lebih sedikit dibandingkan dengan
pergerakan operculum pada saat suhu dingin. Karena pada saat suhu lebih panas,
jumlah DO dalam air tersebut berkurang, yang menyebabkan ikan berusaha lebih
giat dalam mendapat oksigen dalam air tersebut yang sudah berkurang. Selain itu,
pada saat suhu bertambah, metabolism justru naik yang menyebabkan ikan akan
lebih aktif termasuk pergerakan operkulumnya.
Data diatas menunjukan bahwa sampel ikan kami terlihat lebih banyak
melakukan pergerakan operkulumnya dibandingkan dengan rata-rata pergerakan
operculum kelas. Dapat dilihat bahwa hampir semua ikan pada semua keadaan
suhu menunjukan angka pergerakan operculum lebih banyak dibandingkan
dengan pergerakan rata-rata kelas. Sampel ikan kami yang melakukan paling
banyak pergerakan operculum adalah sampel ikan ketiga pada suhu 30C (suhu
panas) yaitu sebanyak 350 kali dalam satu menitnya. Dan sampel ikan kami juga
melakukan pergerakan operculum terbanyak kedua setelah sampel ikan pada
kelompok 8. Pergerakan operculum yang berbeda antara ikan satu dengan yang
lainnya ini mungkin disebabkan karena beberapa factor, yaitu factor keaktifan dan
ukuran ikan.
20

Keaktifan ikan mempengaruhi banyaknya pergerakan operculum yang


dilakukan ikan, saat ikan bergerak aktif (misalnya dalam keadaan tegang pada saat
baru ditangkap), ikan lebih banyak mengkonsumsi oksigen, sehingga harus
mengambil oksigen lebih banyak dibandingkan dengan ikan yang lebih pasif,
dengan begitu, pergerakan operculum ikan yang aktif lebih banyak dibandingkan
ikan yang lebih pasif. Kedua adalah ukuran ikan, ikan yang ukurannya lebih besar
membutuhkan oksigen lebih banyak dari pada ikan yang lebih kecil, dengan
demikian, pergerakan operkulumnya pun lebih banyak dibandingkan ikan yang
lebih kecil.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

21

1. Semakin suhu dinaikan maka gerakan operculum ikan akan semakin


meningkat. Begitupula sebaliknya, semakin semakin suhu diturunkan maka
gerakan operculum akan semakin menurun atau lambat.
2. Suhu sangat berperan penting dalam mengatur segala aktivitas biologis
organisme.
3. Ketika ikan sedang dalam keadaan stress maka akan mempengaruhi
bukaan operculum, dimana bukaan operculum ikan akan menjadi lebih cepat
daripada biasanya.
5.2 Saran
Pada praktikum ini, diperlukan ketelitian mata dalam melihat hasil
pengamatan dan kelincahan praktikan dalam mengoperasikan alat. Selain itu,
sebaiknya menggunakan benih ikan yang ukurannya lebih besar agar
praktikan lebih mudah melihat gerakan operculum ikan dan sebaiknya adanya AC
yang aktif saat praktikum agar suhu ruangan lebih stabil dan penurunan atau
penambahan suhu air lebih lama.

22

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Suhu dan Pengukrannya diakses di http://fisikazone.com/suhudan-pengukurannya/ (diakses pada 24 Ok4tober 2016)
Djuhanda dan Tatang. 1981. Dunia Ikan. Armico, Bandung.
http://blogs.unpad.ac.id/alfarico/2012/03/15/sistem-pernafasan-ikan.html
Hamparan Dunia Ilmu, Time Life. 2000. Binatang Air. Tira Pustaka: Jakarta.
Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan Air. Program Studi Perikanan Universitas
Padjadjaran
Rusadi.
2011.
Tehnik
Budidaya
Ikan
Nilem.
Diambil
dari
http://budidarma.com/2011/10/teknik-budidaya-ikan-nilem.html
(diakses
pada 24 Ok4tober 2016)
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Cetakan I. Bina Cipta,
Jakarta.
Affandi R dkk. 2002. Fisiologi Hewan Air. Unri Press. Riau
Ikhtiology, Rahardjo,. M.F dkk, Bandung : Lubuk Agung, 2011
Sutandar, Z. 1992. Petunjuk Praktikum Ikhtiologi. Fakultas Pertanian.
Universitas Padjadjaran. Bandung
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdlqoriaturro-25751
http://www.scribd.com/doc/35386449/Laporan-Praktikum-Pengaruh-SuhuTerhadap-Gerak-Operkulum-Pada-Ikan

23

LAMPIRAN

Lampiran 1. Termometer

Lampiran 2. Ikan nilem

Lampiran 3. Toples berisi ikan

Lampiran 4. Beaker glass

Lampiran 5. Toples

24