Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Seni merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan bakat dan

mencurahkan isi hati,dan seni juga bisa menjadi identitas suatu daerah,untuk itu
seni juga berguna bagi sebagian besar manusia.
Tujuan dan fungsi kehadiran karya seni tentunya dalam tahapan
penciptaan karya (creative process) menjadi tumpuan utama yang memberikan
arah sasaran kemana sebuah karya seni nantinya akan dibawa. Didukung oleh
niat (rasa & karsa) maka tujuan dan fungsi karya seni menjadi pengawal proses
kreatif penciptaan karya seni sampai jadi dan berfungsi optimal sesuai dengan
tujuan utama penciptaannya. Sedangkan ide dan konsep merupakan pemicu dan
pemikiran kerja bagaimana tujuan harus diciptakan. Sebagai unsur pemicu, ide
seorang seniman merupakan hasil dari banyak hal. Diantaranya dapat berupa
observasi secara mendalam tentang karya dan fungsinya sehingga diperlukan
suatu upaya eksploratif berbekal pengetahuan, ketrampilan, dan rasa estetis yang
akan diujicobakan dalam kegiatan trial & error untuk mendapatkan hasil bentuk
yang diharapkan. Namun demikian perlu dicermati bahwa penciptaan karya seni
yang ekspresif berbeda nuansa ide konsepnya dengan karya seni yang bersifat seni
terapan (applied arts). Kalau pelaksanaan ide konsep pada seni ekspresif lebih
dominan aspek rasa estetis dan emosi personal dari sang seniman, maka pada seni
terapan lebih mengedepankan aspek rasa estetis mendukung fungsi dan tujuan
utama penciptaan karya seninya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Louis
Sullivan dengan credo bentuk mengikuti fungsinya, (form follows function).
Sedangkan nilai filosofis suatu karya seni bisa diamati manakala sebuah karya
seni itu hadir sesuai tujuan dan fungsinya dan memiliki penampilan yang
memenuhi kriteria estetis kreatif sebagai pengejawantahan bentuk jadi dari ide
dan konsep kreatifnya. Kadang nilai filosofis setiap karya seni tidak secara serta
merta dapat dipersepsi dengan panca indera kita saja. Tetapi harus melalui proses

analisis dan perenungan yang mendalam serta didukung oleh rasa keingintahuan
yang besar untuk menyibak makna dan content yang tersirat dari sebuah karya
seni.
Seni itu luas bisa mengembangkan imajinasi seseorang bahkan seni itu ada
pada kehidupan manusia sehari hari. Tidak diperkenalkan pun banyak dari kita
sudah mengetahui dan mengenal apa itu kesenian. Baik kesenian dari daerah kita
sendiri maupun dari daerah lain, sebenarnya jarang orang yang tidak mengenal
seni (non-seni) mungkin mereka gengsi karena menganggap seni itu kuno dan
membosankan, padahal justru kebudayaan itu yang banyak di minati oleh orang
asing.disaat sebagian orang meninggalkan budaya-budaya seni maka di saat itu
juga banyak dari orang-orang asing (luar negeri) berlomba-lomba mempelajari
seni yang ada di indonesia untuk diperkenalkan ke daerah asal mereka tinggal dan
dilestarikan.setelah seni itu berkembang didaerah atau di Negara tersebut orang
Indonesia baru menyadari betapa penting dan berhaganya sebuah seni itu.belajar
dari situlah sekarang seni sekarang dikit demi sedikit sudah dikembangkan di
dalam negeri.dengan demikian seni harus diturun temurunkan ke anak cucu kita
supaya tidak punah ditelan oleh zaman.
Tetapi semua aspek kehidupan kita tidak bisa terlepas dari yang namanya
seni. Setiap manusia dilahirkan mempunyai darah seni. Mungkin sedikit orang
yang mau mempergunakan seni yang ada dalam dirinya untuk melakukan
aktivitasnya, tanpa disadari kita beraktivitas apapun dan dimanapun kita telah
melakukan aktivitas seni. Jadi orang non-seni itu dipandang dari cara
menikmatinya atau penikmat. Orang non-seni tidak melakukan seni secara sadar,
namun mereka telah ikut melakukan aktivitas seninya. Sedangkan orang seni
adalah orang yang melakukan seninya secara sadar karena mereka berusaha untuk
melakukan seni dan segala aktivitas pembaharuan di bidang seni, seperti
menciptakan suatu bentuk seni yang mengandung nilai estetika dan melakukan
pelestariannya.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka dalam

penulisan makalah ini penulis akan membahas permasalahan sebagai berikut :


1.
2.
3.
4.

1.3

Apa Pengertian Seni


Apa Pengertian Seni Musik
Apa Saja Genre Musik yang Terdapat dalam Musik Populer
Bagaimana Seni Musik dalam Pandangan Islam

Maksud dan Tujuan Penulisan


Adapun maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah

satu tugas dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Fakultas Farmasi,
Universitas Jenderal Achmad Yani.
Selain memiliki maksud, penulis pun memiliki tujuan dalam menulis
makalah ini. Adapun beberapa tujuannya yaitu:
1. Menambah pengetahuan penulis tentang seni khususnya seni musik
2. Menambah wawasan bagi para pembaca tentang seni khususnya seni
musik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Seni
Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu

merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi
dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan
manusia yang mengandung unsur keindahan.
Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Bahwa masingmasing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya
atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari
memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu.
Seni selalu berhubungan dengan budaya. Budaya berasal dari bahasa
Sansekerta (Buddayah), dan bentuk jamaknya adalah Budi dan Daya. Budi:
artinya akal, pikiran, nalar. Daya: artinya usaha, upaya, Ikhtiar. Jadi kebudayaan
adalah segala akal pikiran dalam berupaya atau berusaha untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.
Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masingmasing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya
atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari
memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan
suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi
lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau
perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian,
banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa
garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat
simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar
merah yang bermaksud cinta).
Adapun pengertian seni menurut beberapa ahli sebagai berikut:
4

1. Alexander Baum Garton


Seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif
menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.
2. Aristoteles
Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya
tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.
3. Immanuel Kant
Seni adalah sebuah impian karena rumus rumus tidak dapat
mengihtiarkan kenyataan.
4. Ki Hajar Dewantara
Seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan
persasaan indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia
yang dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.
5. Leo Tolstoy
Seni adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan
kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan
pelukis.
6. Sudarmaji
Seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis
dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan
gelap terang.

2.1.1

Bentuk-Bentuk Seni

Suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan
ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan,
sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu.
Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa
lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan
tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermakna kematian
dan mawar merah yang berarti cinta). Seni menurut media yang digunakan terbagi
3 yaitu :
1. Seni yang dapat dinikmati melalui media pendengaran atau (audio art),
misalnya seni musik,seni suara, dan seni sastra seperti puisi dan pantun
2. Seni yang dinikmati dengan media penglihatan (Visual art)) misalnya
lukisan, poster,seni bangunan, seni gerak beladiri dan sebagainya.
3. Seni yang dinikmati melalui media penglihatan dan pendengaran
(audio visual art) misalnya pertunjukan musik, pagelaran wayang,film

2.2

Pengertian Seni Musik


Sebagai salah satu bagian dari seni, pengertian seni musik secara umum,

merupakan suatu kumpulan atau susunan bunyi atau nada, yang mempunyai ritme
tertentu, serta mengandung isi atau nilai perasaan tertentu.
Ada beberapa pengertian musik, yang diberikan atau hasil pemikiran para
ahli, diantaranya ialah:
1. Musik adalah urutan bunyi-bunyian yang logis tetapi bukan logika dari
suatu argumentasi, musik adalah suatu himpunan teratur dari vitalitas,
suatu

impian

di

mana

bunyi-bunyian

bersatu

padu

dan

mengkristalisasi. (Irwin Edman, filusuf Amerika)


2. Musik adalah bahasa dunia, ia tidak perlu diterjemahkan, dalam musik
berbicara dari jiwa kepada jiwa. (Alferd Aurbach, Universitas
California)
3. Seni musik (instrument art) adalah bidang seni yang berhubungan
dengan alat-alat musik dan irama yang keluar dari alat musik tersebut.

Bidang ini membahas cara menggunakan instrument musik, masingmasing alat musik mempunyai nada tertentu di samping itu seni musik
juga membahas cara membuat not dan bermacam aliran musik,
misalnya musik vokal dan musik instrument.
4. Seni musik dapat disatukan dengan seni vokal. Seni instrument adalah
seni suara yang diperdengarkan melalui media alat-alat musik,
sedangkan seni vokal adalah melagukan syair yang hanya dinyanyikan
dengan perantara oral (suara saja) tanpa iringan instrument musik).
Melihat pengertian musik tersebut, membawa kita pada pengertian musik
yang lebih menjurus namun bersifat umum, dalam arti bahwa seni musik
merupakan salah satu karya seni.
Pada tingkat peradaban manusia yang masih rendah, seni musik telah
diinterpretasikan sedemikian rupa pada hampir seluruh aspek kehidupan,
masyarakat

primitif

memanfaatkan

musik

tidak

hanya

sekedar

sarana

entertainment semata, tetapi mereka mempergunakannya juga sebagai alat untuk


upacara ritual keagamaan, adat kebiasaan bahkan sebagai alat komunikasi dalam
kehidupan sosial. Apresiasi mereka menunjukkan bahwa musik mempunyai peran
yang cukup urgen dalam kehidupan manusia.
Salah satu peran yang cukup menonjol pada seni musik yaitu sebagai
mediator. Pada konteks ini seni musik merupakan bahasa universal yang
diekspresikan lewat simbol-simbol estetis. Sebagai alat komunikasi musik
menjelma secara substansial menjadi sarana aktivitas interaktif antara musisi dan
audiencenya (pendengar). Pada tingkat inilah seni musik menunjukkan peran yang
cukup luas yang mencakup kehidupan sosial, budaya, politik, ekonomi dan
kehidupan religius (keagamaan).

2.3

Genre yang Terdapat Pada Seni Musik

Genre

musik

merupakan

pengelompokan

musik

sesuai

dengan

kemiripannya satu sama lain. Dibawah ini ada beberapa genre musik yang
terdapat pada musik populer, diantaranya :
1. Musik Pop
Musik pop istilah awalnya berasal dari singkatan populer, adalah
sebuah genre musik dari musik populer yang berasal dalam bentuk modern
pada 1950-an, yang berasal dari rock and roll.
2. Musik Rock
Musik rock atau musik cadas adalah genre musik populer yang mulai
diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50an. Akarnya berasal dari
rhythm and blues, music country dari tahun 40 dan 50an serta berbagai
pengaruh lainnya. Selanjutnya, musik rock juga mengambil gaya dari
berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk music), jazz dan
musik klasik.
3. Musik Jazz
Jazz merupakan jenis musik yang tumbuh dari penggabungan
Blues, Ragtime dan musik Eropa, terutama musik band. Beberapa
subgenre jazz adalah Dixieland, Swing, Bebop, Hard Bop, Cool Jazz,
Jazz Fussion, Smooth Jazz, dan Cafjazz. Aliran musikini juga yang
berasal dari Amerika Serikat pada awal abad ke-20.

4. Musik Kroncong
Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele
dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang
menggunakan instrumen musik keroncong, flute dan merupakan salah
satu musik rakyat Indonesia yang berkembang sejak Abad XIX.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Pandangan Islam Tentang Musik


Berkaitan dengan hukum menyanyikan lagu, para ulama berbeda pendapat

dalam

menghukuminya,

sebagian

mengharamkan

dan

sebagian

lagi

menghalalkannya dengan berpegang kepada dalilnya masing-masing. Dalil-dalil


9

yang mengharamkan nyanyian disandarkan pada QS. Luqman: 6 yang artinya:


Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak
berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa
pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh
adzab yang menghinakan. (QS. Luqmn: 6)
Di samping dalil yang disandarkan pada Al-Quran, terdapat beberapa
dalil yang disandarkan pada beberapa Hadits yaitu: Hadits Abu Malik Al-Asyari
ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku
golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-maazif).
Dan Hadits dari Ibnu Masud ra, Rasulullah Saw bersabda: Nyanyian itu bisa
menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.
Sedangkan dalil-dalil yang menghalalkan nyanyian di antaranya di
dasarkan pada QS. Al-Maidah: 87 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu
dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang
yang melampaui batas. (QS. al-Midah: 87). Hukum halalnya menyanyikan lagu
juga disandarkan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori yang berbunyi :






Artinya: Saat itu di hadapan Aisyah radliallahu anha terdapat dua budak
perempuan hasil tawanan kaum Anshar dalam perang Buats sedang bernyanyi.
Maka Abu Bakar berkata; Seruling-seruling syetan. Dia mengucapkannya dua
kali. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Biarkanlah wahai Abu
Bakar. Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan hari raya kita adalah
hari ini. (HR. Bukhari, Hadits No: 3638)
Dalam hadits yang lain riwayat Ahmad disebutkan:
10





Artinya: Umar Radliyallahuanhu melawati Hassan saat tengah bersyair di
masjid kemudian Umar berkata; Di masjid Rasulullah Shallallahualaihi
wasallam syair disenandungkan? Hassan berkata; Saya pernah bersyair dan di
dalam masjid ada orang yang lebih baik darimu (yaitu Nabi Shallallahu alaihi wa
Salam). (HR. Ahmad, Hadits No. 20927)
Uraian tentang dalil-dalil tersebut di atas (dan dalil-dalil lainnya)
menunjukkan bahwa kedua pendapat baik yang mengharamkan maupun yang
menghalalkan memperlihatkan adanya kontradiksi (taarudh) antara satu dalil
dengan dalil lainnya. Untuk menyikapi kontradiksi ini diperlukan telaah atas
kaidah-kaidah ushul fiqih yang sudah populer di kalangan jumhur ulama dalam
rangka menyikapi secara arif beberapa dalil yang tampak kontadiktif tersebut.
Imam asy-Syafii (dalam asy-Syaukani) menyatakan bahwa tidak dibenarkan dari
Nabi Saw ada dua hadits shahih yang saling bertentangan, di mana salah satunya
menafikan apa yang ditetapkan yang lainnya, kecuali dua hadits ini dapat
dipahami salah satunya berupa hukum khusus sedang lainnya hukum umum, atau
salah satunya global (ijmal) sedang lainnya adalah penjelasan (tafsir).
Pertentangan hanya terjadi jika terjadi nasakh (penghapusan hukum), meskipun
mujtahid belum menjumpai nasakh itu.
Menyikapi kontradiksi antara kedua kelompok dalil hadits di atas,
keduanya

seyogyanya

dikompromikan,

dengan

tidak

bermaksud

mengkesampingkan salah satunya. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, kedua


dalil yang kontradiktif di atas keduanya dapat diberikan tempat dan
penginterpretasian yang proporsional. Keputusan ini dapat dianggap lebih
tawazun daripada harus mengakomodir salah satu kelompok dalil tetapi diiringi
dengan menyingkirkan kelompok dalil yang lain. Berkaitan dengan hal ini, Syaikh
Dr. Muhamad Husain Abdullah mengambil suatu diktum fiqih: Mengamalkan
dua dalil walau pun hanya dari satu segi pengertian lebih utama daripada

11

meninggalkan salah satunya. (Al-amal bi ad-dalilaini walaw min wajhin


awl min ihmali ahadihima).
Pengambilan diktum fiqih ini menurut an-Nahbani (1953) didasarkan pada
sebuah alasan bahwa: suatu dalil itu pada dasarnya adalah untuk diamalkan dan
bukan untuk ditanggalkan (Al-ashlu fi ad-dalil al-imal l al-ihmal).
Dari kedua dalil tentang hukum nyanyian di atas, baik yang
mengharamkan maupun menghalalkan dapat ditarik sebuah konklusi bahwa dalil
yang mengharamkan masih berkisar pada hukum umum (ijmal) nyanyian.
Sedangkan dalil yang membolehkan terfokus pada hukum khusus atau
pengecualian (tkahsis), yakni nyanyian dibolehkan sesuai dengan tempat, kondisi,
atau peristiwa tertentu yang dibolehkan oleh syara, seperti pada hari raya.
Dengan ungkapan lain, bahwa dalil yang mengharamkan nyanyian merujuk
kepada keharaman nyanyian secara mutlak. Sementara itu, dalil yang
menghalalkan merujuk kepada bolehnya nyanyian didasarkan pada keharusan
adanya batasan atau kriteria yang membolehkannya (muqayyad).
Dengan demikian dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan
secara moderat bahwa nyayian itu ada yang diharamkan dan ada pula yang
dihalalkan (baca: dibolehkan), sebuah nyanyian dihukumi haram apabila di dalam
nyanyian itu terkandung unsur-unsur kemaksiatan atau kemunkaran, baik dalam
bentuk perkataan (qouliyah), perbuatan (filiyah), atau dalam bentuk sarana (asyy), misalnya dalam praktek nyanyian itu disertai dengan minuman-minuman
keras (khamr), zina, penampakan aurat, campur baur pria-wanita (ikhtilath), atau
pesan-pesan

dalam

mempropagandakan

syairnya
ajakan

bertentangan
berpacaran,

dengan

mendorong

syara,
pergaulan

misalnya
bebas,

mempropagandakan sekulerisme, liberalisme dan sebagainya.


Sedangkan nyanyian yang dihukumi halal adalah nyanyian yang
mengandung kriteria bersih dari unsur-unsur kemaksiatan atau kemunkaran,
misalnya syair-syair yang mengandung pujian atas sifat-sifat Allah SWT,
memotivasi untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW, mengajak bertaubat

12

kembali ke jalan Allah SWT dari perbuatan-perbuatan maksiat, mendorong orang


untuk menuntut ilmu, menceritakan keagungan Allah dalam penciptaan alam
semesta, dan sebagainya.
Secara tekstual (nash) terdapat satu jenis alat musik yang dengan jelas
diterangkan kebolehannya, yaitu alat musik berupa rebana (ad-duff atau alghirbal) berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebagai
berikut:







Artinya: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami dan Al
Khalil bin Amru keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus
dari Khalid bin Ilyas dari Rabiah bin Abu Abdurrahman dari Al Qasim dari
Aisyah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Umumkanlah
pernikahan ini, dan tabuhlah rebana. (HR. Ibnu Majah, Hadits No. 1885)
Selain alat musik berupa rebana, seperti gitar, piano, drum, gamelan dan
sebagainya, ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya. Pendapat ulama
tentang alat musik rebana itu terbelah menjadi dua kelompok, yakni ada sebagian
ulama yang mengharamkan dan ada sebagian pula yang membolehkannya. Bagi
kelompok hadits yang mengharamkan alat musik seperti seruling, gendang, dan
sejenisnya menurut Syaikh al-Albani adalah dhaif. Menurut al-Albani dalam
kitabnya Dhaif al-Adab al-Mufrad menyetujui pendapat Ibnu Hazm dalam AlMuhalla bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah Munqathi.
Sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hazm (dalam al-Baghdadi, 1991): Jika
belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita
perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat
musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa memainkan alat musik jenis
apapun hukum dasarnya adalah mubah (dibolehkan). Kecuali jika ada dalil
13

tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah
haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya,
yaitu mubah.
Selanjutnya mengenai hukum mendengarkan musik, Islam memandang
bahwa mendengarkan musik hukumnya adalah mubah, baik itu berupa musik
yang dikombinasikan dengan nyanyian (vokal), mendengar secara langsung
melalui pertunjukan atau konser sepanjang tidak ada unsur kemaksiatan dan
kemunkaran yang terkandung di dalamnya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau
kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi
penampakan aurat, maka hukumnya adalah haram. Akan tetapi jika tidak terdapat
unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan
Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang

mengandung unsur keindahan.


Seni musik merupakan suatu kumpulan atau susunan bunyi atau nada,
yang mempunyai ritme tertentu, serta mengandung isi atau nilai perasaan tertentu.
14

Secara moderat bahwa nyayian itu ada yang diharamkan dan ada pula yang
dihalalkan (baca: dibolehkan), sebuah nyanyian dihukumi haram apabila di dalam
nyanyian itu terkandung unsur-unsur kemaksiatan atau kemunkaran, baik dalam
bentuk perkataan (qouliyah), perbuatan (filiyah), atau dalam bentuk sarana (asyy), misalnya dalam praktek nyanyian itu disertai dengan minuman-minuman
keras (khamr), zina, penampakan aurat, campur baur pria-wanita (ikhtilath), atau
pesan-pesan

dalam

mempropagandakan

syairnya
ajakan

bertentangan
berpacaran,

dengan

mendorong

syara,
pergaulan

misalnya
bebas,

mempropagandakan sekulerisme, liberalisme dan sebagainya.


Sedangkan nyanyian yang dihukumi halal adalah nyanyian yang
mengandung kriteria bersih dari unsur-unsur kemaksiatan atau kemunkaran,
misalnya syair-syair yang mengandung pujian atas sifat-sifat Allah SWT,
memotivasi untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW, mengajak bertaubat
kembali ke jalan Allah SWT dari perbuatan-perbuatan maksiat, mendorong orang
untuk menuntut ilmu, menceritakan keagungan Allah dalam penciptaan alam
semesta, dan sebagainya.
Memainkan alat musik jenis apapun hukum dasarnya adalah mubah
(dibolehkan). Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat
itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang
mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah.
Selanjutnya mengenai hukum mendengarkan musik, Islam memandang
bahwa mendengarkan musik hukumnya adalah mubah, baik itu berupa musik
yang dikombinasikan dengan nyanyian (vokal), mendengar secara langsung
melalui pertunjukan atau konser sepanjang tidak ada unsur kemaksiatan dan
kemunkaran yang terkandung di dalamnya.

4.2

Saran

15

Sebagai seorang muslim kita harus terus berkarya dan berinovasi dalam
pengetahuan, teknologi maupun seni dan tetap dalam batas-batasan Islam. Selain
itu, kita jangan dengan mudah mengonsumsi hal-hal yang baru yang datang dari
luar. Sebaiknya, kita harus memilah dan memilihnya terlebih dahulu agar kita
tidak terbawa ke dalam kemaksiatan dan tetap dalam koridor Islam.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://sosbud.kompasiana.com/2013/03/12/seni-musik-dalam-pandangan2.
3.
4.
5.

islam-536407.html
http://dodi26.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Seni
http://id.wikipedia.org/wiki/Musik
http://waterfres.blogspot.com/2013/09/kumpulan-contoh-makalah-tentangseni.html

16

17